Jefar Seorang Penulis Imajinasi

Contoh Skenario Film FTV (Drama Keluarga)

26 min read

Baiklah, kali ini saya akan membagikan Contoh Skenario Film FTV yang pernah diproduksi oleh MNC Pictures dan telah ditayangkan di MNC TV.

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa saya bisa mendapatkan skenario ini? Yaps, saya dulu di tahun 2012 pernah ikut jadi kru film sebagai pencatat adegan di MNC Pictures (Freelance).

Contoh Skenario Film FTV yang akan saya bagikan ini adalah program Layar Kemilau MNCTV yang tayang siang hari, lupa tepatnya tanggal berapa. Intinya Contoh Skenario Film FTV yang saya bagikan ini masuk dalam kategori naskah skenario film ftv drama religi.

Teknis Penulisan Contoh Skenario Film FTV

Untuk teknisnya, seharusnya skenario ini ditulis menggunakan font Courier New dengan ukuran font 12 point. Tapi berhubung di ketik di wordpress, maka fontnya sama dengan ketikan lainnya.

Memiliki jumlah adegan sebanyak 54 scene dengan menghabiskan 55 halaman di kertas ukuran Letter. Jika diasumsikan 1 lembar kertas itu memakan waktu 1 menit, maka 55 halaman artinya memiliki durasi lama 55 menit.

Kenapa tidak 60 menit? padahal biasanya ftv itu berdurasi 1 jam? Ya, karena memang seperti itu. Jadi nanti akan ditambah durasi waktu tayang iklan dalam sepanjang ftv tersebut ditayangkan. Maka genaplah durasi lamanya 1 jam.

Anda juga diperbolehkan untuk mendownload Contoh Skenario Film FTV ini. Link download ada di akhir artikel ini.

Oke baiklah, daripada panjang kali lebar, mending simak baca seksama Contoh Skenario Film FTV di bawah ini.

Contoh Skenario Film FTV

Layar Kemilau MNCTV

Anakku Bukan Monster

Cerita/Skenario Dwi Priyo Hariyanto

FADE IN

  1. EXT. JALAN KAMPUNG – SIANG

2 sepeda BMX melesat disebuah jalan perkampungan diiringi oleh sorak-sorai anak-anak seusia Antini.

Antini adalah seorang cewe berumur 8 tahun dengan rambut keriting/kribo dengan penampilan tomboy, kulitnya berwarna gelap, ia menaiki sepeda BMX yang lagi beradu dengan Odi.

Crowded

(teriak)

Buruan Antiniiii…!!

Cepat Antiniii! jangan sampe kalah.

Flash to

2. Montage

– EXT. JALAN KAMPUNG (LAIN TEMPAT) – SIANG

Antini dengan Odi saling menggenjot sepedanya menyusuri jalanan kampung, menerabas selokan, masuk ke area kebun dan keluar lagi dijalanan kampung.

Saat melintasi sebuah jalan tiba-tiba seorang warga kampung (Pak Hasan) keluar dari halaman rumah kearah jalan. Pak Hasan sontak kaget dan buru-buru bergerak kebelakang begitu melihat Antini melesat dengan sepedanya, hal itu membuat bang Ipin  terjatuh kebelakang.

Pak hasan

(kesal teriak)

Heyyyy! dasar bocah semprul!

CUT TO:

– EXT. HALAMAN RUMAH WARGA – SIANG

Antini membelokkan sepedanya melewati halaman samping rumah mpok Minah, Odi berupaya mengejarnya.

Mpok Minah yang lagi mengambil jemuran selimut/jarit dijemuran samping rumah.

Tiba-tiba Antini menerobos jemuran, hal itu membuat mpok Minah kaget.

Mpok minah

(kaget)

Aaaa…ah!

Antini melesat dengan sepeda BMX-nya menerobos sebuah sprei yang dijemur hingga robek, mpok Minah jadi mencak-mencak sembari berkacak pinggang.

Mpok minah (CONT’D)

(kesal, teriak)

Hey…Hey…!! Jangan kabur lho…

Was yee…Aye kagak terima!

CUT TO:

– EXT. JALAN KAMPUNG (LAIN TEMPAT) – SIANG

Antini sama Odi masih kejar-kejaran dengan sepeda BMX-nya menyusuri jalan perkampungan. kali ini keduanya melewati jalanan yang agak sempit.

Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul seorang tukang sayur (mang Jaja) keliling dengan gerobaknya.

Antini dengan PD-nya menggenjot sepedanya, hal itu membuat si tukang sayur terkaget-kaget dan langsung mendorong gerobaknya minggir tapi apesnya gerobaknya justru masuk selokan.

Si tukang sayur sontak ngomel-ngomel kearah Antini yang sudah pergi dengan sepedanya.

Mang jaja

(marah)

Dasar anak setaan!

Awas mamang laporin ya…!

Smash judul cerita

AKU BUKAN MONSTER

DISSOLVE TO:

3. EXT/INT. RUMAH HARTONO – SIANG

Establish perkampungan tempat tinggal Hartono dan keluarganya.

Teriakan omelan dan cacian, mang Jaja, mpok Minah dan Pak Ipin pada Hartono karena ulah anaknya.

Mang jaja

(emosi)

Pokoknya saya minta ganti rugi! Lihat ini, dagangan saya berantakan gara-gara ulah Antini…

CUT TO:

Si tukang sayur memperlihatkan isi dagangannya yang kotor oleh lumpur selokan.

Mpok Minah sama Pak Ipin ikut menimpali…

Mpok minah

(emosi)

Apalagi aye, sprei yang lagi aye jemur robek…gara-gara anak…!

Pak ipin

(kesal)

Saya juga! Saya minta uang kaget!

Saya jatuh gara-gara Antini!

Pak Ipin nampak memengangi pinggangnya yang sakit.

Hartono jadi emosional menanggapi laporan warga kampung tsb, sebaliknya Widya…ia berusaha menenangkan warga.

Hartono

(emosi, geram)

Ini anak, bikin masalah aja kerjaanya

Pak! Bu! Soal ganti rugi, biar istri saya yang urus…saya mau cari anak saya!

Hartono sontak bergerak pergi namun Widya buru-buru menahannya dengan memegangi lengannya.

Widya

Sudah pak, jangan emosi…

Antini masih anak-anak…

Hartono jadi emosional seraya memandangi istrinya.

HARTONO

(emosi)

Bikin masalah kayak begini ibu bilang masih anak-anak?

Apa laporan dari mang Jaja, mpok Minah sama Pak Hasan belum cukup? Hah…!!

(tegas, geram)

Antini harus dikasih pelajaran, bu!

Dengan emosional Hartono menepis tangan istrinya dan bergegas pergi. Widya berusaha memohon.

WIDYA

Pak, jangan Pak…!!

Hartono tidak memperdulikan, ia tetap bergerak pergi.

Sementara Mang Jaja, mpok Minah sama Pak Hasan kembali meminta ganti rugi.

CROWDED

Pegimane ni…sprei aye pasti diganti pan?

Pokoknya dagangan saya harus diganti hari ini juga…

Saya juga bu Widya…!!

Widya nampak kebingungan menghadapi mereka, terlebih perhatiannya masih tertuju ke arah kepergian suaminya.

CUT TO:

4. EXT. free – siang

Antini bersorak dengan teman-temannya begitu bisa memenangi taruhan dengan Odi. Sambil memegangi uang taruhan ia berjingkrak-jingkrak, sementara Odi nampak cemberut.

Antini lantas menghampiri Asep, salah seorang temannya yang kakinya cacad/pake kruh. Uang hasil taruhan lantas diberikan pada Asep.

Antini

Sep, ini buat tambahan beli buku ya…

Asep

Terima kasih ya, Tin!

ANTINI

Sama-sama…

HARTONO (O.S.)

(teriak, emosi)

Antiniiii…!!

Sebuah teriakan mengejutkan Antini karena ia hafal suara tsb milik bapaknya. Teman-teman Antini sontak pada kabur begitu melihat Hartono dengan wajah garang.

ANTINI

(ketakutan)

Iya Pak!

Telinga Antini langsung dijewer oleh Hartono.

HARTONO

(emosi)

Kamu bener-bener bandel ya? Tiap hari kerjaanmu bikin masalah aja…ayo pulaaang!!

ANTINI

(meringis kesakitan)

Iya pak…iya…

Hartono seketika menarik Antini pulang sambil menjewer telinganya.

Asep melihat kepergian Antini dengan rasa iba, sementara temen lainnya juga melihat dari balik semak-semak tempat persembunyian mereka.

CUT TO:

5. EXT. KAMAR MANDI – siang

SFX: terdengar guyuran air dari dalam kamar mandi.

HARTONO (O.S.)

(emosi)

Susah sekali kamu dibilangi!

Tiap hari bikin masalah, tiap hari bikin onar…mau kamu itu apa, hah?

Widya berdiri didepan kamar mandi sembari memohon pada suaminya agar menyudahi menghukum Antini dengan mengguyur air didalam kamar mandi.

Bola mata Widya nampak berkaca-kaca.

Kembali terdengar guyuran air.

ANTINI (O.S.)

(sambil terisak)

Ampun Pak…ampun…!!

WiDYA

(memohon)

Pak…sudah pak…sudah!

Kembali terdengar guyuran air.

HARTONO (O.S.)

(emosi)

Nyesel punya anak kamu…!!

Bukannya bikin orang tua senang, tapi malah bikin orang tua sengsara…!!

Widya kembali menggedor pintu kamar mandi seraya meminta suaminya menghentikan aksinya menghukum Antini.

WiDYA

Sudah pak…sudah…!!

Pintu kamar mandi akhirnya dibuka, Hartono memandangi Widya dengan kesal.

HARTONO

(geram)

Kalo tahu anakmu jadinya kayak begitu, itu anak sudah aku minta digugurin waktu dikandungan!

Hartono lantas bergerak pergi.

Insert

Bik Nah, pembantu rumah melihat kejadian itu dari arah dapur. Ia nampak iba dan kasihan.

Widya buru-buru masuk kekamar mandi kemudian mengambil handuk dan mengusapi badan Antini yang nampak basah kuyub sambil terisak. Widya berbicara dengan nada keibuan.

WIDYA

Kenapa kamu bikin masalah lagi Antini? Kenapa?

ANTINI

(sambil terisak)

Antini mau nolong Asep bu…karena itu Antini terima tantangan Odi taruhan balap sepeda!

Widya seketika mendekap putrinya tsb dengan iba…

WIDYA

Oalah anakku…anakku…

DISSOLVE TO:

6. int. rumah HARTONO – malam

Hartono nampak sibuk dimeja kerjanya, memberesi sebuah berkas pekerjaan.

INTERCUT

Widya sedang mengaduk kopi dimeja makan ketika Antini datang menghampiri dengan nada ragu.

ANTINI

Bu, boleh nggak Antini yang bawakan kopi itu buat bapak…

Antini mau minta maaf sama bapak bu, biar bapak nggak marah-marah lagi sama Antini.

Widya tersenyum.

WIDYA

Jelas boleh dong sayang…

Tapi hati-hati ya…

ANTINI

Iya bu…

Antini menyambut senang seraya bergerak mengambil kopi dalam mug tsb.

CUT TO BACK

Hartono masih sibuk dimeja kerjanya. Hapenya tiba-tiba berdering, Hartono segera menerimanya.

HARTONO

Iya Pak…bentar pak…putus-putus ni…

Hartono seketika berdiri dan bergeser kearah jendela kamarnya yang dibuka. Posisi Hartono menghadap keluar jendela kamar.

HARTONO (CONT’D)

Iya pak, bagaimana?

POV. Pintu kamar kerja Hartono dibuka dari luar, Antini bergerak masuk sambil membawakan kopi buat bapaknya. Kopi tsb terlihat masih panas, Antini sendiri memasuki ruang kerja bapaknya dengan perasaan grogi.

HARTONO (CONT’D)

Baik pak…ini lagi saya kerjakan Pak iya…iya…pasti Pak…

Antini bergerak kemeja kerja Hartono, kemudian memindahkan cangkir kopi dari nampan yang dibawanya. Tangan Antini nampak bergetar karena takut salah.

HARTONO (CONT’D)

Baik pak…jam tujuh tepat nanti saya sudah ada ditempat meeting…

Tiba-tiba cangkir yang dipegang Antini tumpah dan tumpahannya mengenai berkas-berkas yang ada dimeja Hartono (slow motion)

Antini sontak jadi panik.

ANTINI

(panik, takut)

Aduuh, gimana ini!!

Antini buru-buru membersihkan tumpahan kopi pada berkas kerjaan Hartono dengan bajunya, tapi pada saat bersamaan Hartono mengakhiri pembicarannya via telepon kemudian berbalik.

DEK! Hartono tersentak kaget begitu tahu berkas pekerjaannya basah oleh tumpahan kopi.

HARTONO

Kamu apakan kerjaan bapak?

ANTINI

(takut, panik)

Ketumpahan kopi Pak!

Emosi Hartono sontak meledak, Antini nampak ketakutan.

HARTONO

Apa?! Dasar anak pembawa sial!

Kerjaannya bikin kacau aja!

In FRAME

Widya buru-buru masuk ke ruang kerja Hartono.

WIDYA

Ada apa pak?

HARTONO

(marah)

Kamu ini gimana sih Wid? Ngapain kamu suruh Antini nganter kopi keruang kerjaku? Bukankah aku sudah ingetin kamu berkali-kali, jangan pernah ijinkan Antini masuk ruang kerjaku…bisa bikin berantakan kerjaanku!

Sekarang terbukti kan?!

WIDYA

Maaf Pak, Antini berniat baik!

Dia pengen minta maaf sama bapak soal kejadian siang tadi, karena itu dia minta nganterin kopi itu ke bapak…

Hartono sontak memperlihatkan berkas dalam map yang kotor/basah ketumpahan kopi pada Widya.

HARTONO

(emosi)

Kamu tahu nggak, satu jam lagi bapak harus serahkan berkas-berkas ini ke Pak Wijaya buat meeting sama klien! Kalo berkasnya berantakan begini gimana?

Kacau semuanya!

Hartono menggebrak meja dengan emosional, hal itu mengejutkan Widya dan Antini.

Hartono lantas berbalik pergi sambil membawa berkas pekerjaannya dengan nada kesal.

Widya seketika memeluk Antini yang nampak ketakutan.

ANTINI

Maafin Antini bu…

Antini tidak sengaja…

WiDYA

Ibu ngerti…

Setitik air mata meleleh dipelupuk mata Widya.

DISSOLVE TO:

7. INT. KAMAR TIDUR ANTINI – MALAM

Widya berusaha menidurkan Antini dikamarnya, namun Antini rupanya masih terbawa oleh peristiwa yang barusan terjadi, Antini merasa bersalah karena numpahin kopi diberkas pekerjaan bapaknya.

ANTINI

Bu, kira-kira bapak dimarahi sama pak Wijaya nggak ya bu?

Widya berusaha menghibur Antini.

WiDYA

Mudah-mudahan saja nggak An, lagian kamu kan tidak sengaja numpahin kopi! Berdoa saja ya, biar nggak terjadi apa-apa sama bapak…

ANTINI

Iya bu…

WIDYA

Ayo buruan tidur, besok sekolah lagi!

Widya lantas mengecup kening Antini

CUT TO:

8. EXT/INT. RUMAH HARTONO – MALAM

Hartono terlihat pulang dengan mengendarai motornya, Widya yang menunggu diserambi segera menyambut dengan perasaan cemas.

WIDYA

Bagaimana pak? Nggak ada masalah kan?

Hartono bergerak masuk kedalam rumah sembari ngomel-ngomel.

HARTONO

(kesal)

Nggak ada masalah gimana? Sudah tahu berkas penting itu berantakan, masih juga kamu nanya nggak ada masalah?

WIDYA

Maafkan Antini Pak…

Hartono menghentikan langkahnya dan berbalik memandangi Widya dengan sorot tajam.

HARTONO

(marah)

Untuk keberapa kali, hah?

Ini sudah puluhan kali Antini bikin kacau kerjaanku, Widya!

Bahkan semenjak anak itu lahir, sepertinya kerjaanku selalu ditimpa masalah…jadi nggak salah kan, kalo aku bilang anakmu itu pembawa sial!

WIDYA

Astaqfirulahalazim…!

HARTONO

(marah)

Ibu mau bela Antini, hah?

Dengar ya Wid, gara-gara ulah anakmu tadi…bapak dimutasi kekantor cabang, itu artinya…karier bapak bukannya naik, tapi malah turun, tau nggak!

Hartono lantas bergerak kearah kamarnya dengan langkah kesal.

Widya menghela nafas berat seraya mengguman dalam hati.

WIDYA (V.O.)

Ya Allah, apa yang salah pada Antini? Kenapa dia selalu disalahkan bapaknya?

INSERT

Bik Nah rupanya melihat kejadian itu dari celah kamarnya. Bik Nah merasa iba pada Widya.

Baca Juga  Contoh Naskah Skenario Drama Pengorbanan Cinta

CUT TO:

9. Ext. taman/situ – siang

Hartono sama Ferdy berbincang sembari menyusuri tepian situ, keduanya mengenakan pakaian kerja.

Rona muka Hartono nampak kusut.

Ferdy

Aku bukannya mempengaruhi kamu, Har…tapi setidaknya kamu harus berbuat sesuatu.

Pasti ada sesuatu yang tidak beres, sampai kamu mengalami masalah dan kesialan berkali-kali…

Hartono sejenak menghentikan langkahnya, menghela nafas berat.

HARTONO

Soal itu sudah pernah aku tanyakan pada orang pintar!

Kenapa aku selalu ditimpa masalah dan kesialan?

FERDY

Dia bilang apa?

HARTONO

Dia bilang penyebabnya adalah anak pertamaku, Antini

Katanya ada aura negatif yang bersarang ditubuh anakku…

FERDY

Kamu percaya?

HARTONO

Gimana nggak percaya kalo kenyataannya, Antini kerjaannya bikin masalah, tingkahnya berlebihan! Dan ujung-ujungnya, kerjaanku jadi berantakan!

Ferdy mengiyakan.

FERDY

Orang pintar itu ngasih solusi apa sama kamu?

HARTONO

Dia bilang, masalah dirumah tanggaku akan berakhir kalo aku punya anak laki-laki, karena dengan hadirnya anak laki-laki…bisa menetralisir aura negatif yang ada ditubuh kakaknya…

Dan itu kayaknya tidak mungkin.

Hartono bergerak kearah bangku, Ferdy menyusulnya.

FERDY

Maksudmu tidak mungkin gimana?

HARTONO

Widya tidak bisa hamil lagi, Fer!

Rahimnya harus diambil karena Widya pernah kena kanker rahim!

Ferdy sontak menggeleng.

FERDY

Kenapa kamu tidak menikah lagi, kalo menurutmu itu memang solusinya agar kamu punya anak lagi, biar kamu terbebas dari kesialan yang kamu alami terus?

HARTONO

Aku bukan type laki-laki yang suka kawin cerai. Apalagi aku sama Widya pernah punya komitmen sebelum menikah…hanya kematian yang memisahkan kita

Ferdy lagi-lagi menggeleng.

FERDY

Pelik juga masalahmu.

Hartono masih terdiam, pandangannya menerawang jauh.

CUT TO:

10. Ext. halaman rumah HARTONO  – siang/sore

Sambil membantu Widya merawat bung-bunga koleksinya, Bik Nah mencoba ngasih solusi buat Widya soal permasalahan Antini.

Bik nah

Maaf bu, bibi bukannya ikut campur… bibi hanya kasihan dan prihatin kalo lihat Antini dimarahi dan dihajar oleh bapak tiap kali dia bikin masalah…

Apa tidak sebaiknya, ibu ikutin  petuah dari orang-orang tua dulu…

Widya menghentikan kesibukannya dan balik memandangi bik Nah.

WiDYA

Maksud bibi gimana?

BIK NAH

Sebelumnya saya minta maaf dulu lho bu… kalo menurut orang tua dulu, Antini itu harus diruwat…

Widya mengernyitkan dahinya.

WIDYA

Diruwat?

BIK NAH

Iya bu…itu tradisi jawa yang tujuannya agar anak tunggal atau yang disebut anak ontang-anting, dijauhkan dari marabahaya dan pengaruh buruk…

Apalagi ibu sama bapak masih terbilang keturunan orang jawa.

Widya sejenak terdiam seolah berusaha memahami saran Bik Nah.

Kegalauan menjejali benak Widya, namun kemudian…

WIDYA

Maaf bi…saya bukannya tidak percaya dengan tradisi ruwatan, tapi saya lebih meyakini, kalo kita bisa menerima dan menyayangi anak kita sepenuh hati, pastinya masalah kayak begini tidak pernah terjadi…

BIK NAH

Iya bu…

WIDYA

Bibi tahu sendiri kan, Bapak begitu meyakini omongan orang pintar yang katanya Antini pembawa masalah, padahal semua masalah yang terjadi didunia ini kan cobaan dari Allah?

BIK NAH

Iya bu…

Widya menghela nafas berat kemudian melanjutkan kesibukannya lagi.

CUT TO

11. Int. rumah hartono. Ruang tengah – sore

MONTAGE.

Antini yang sedang main perang-perangan dengan menggunakan mainan pesawat terbang, ia pegangi pesawat tsb kemudian bergerak mengitari ruangan kesana-kemarilayaknya pesawat tsb bisa terbang beneran.

AnTINI

Ngeeeeng…!!! Tembaaaak…!!

Teettteetteetteeet…!!!

Ketika Antini bergerak memainkan pesawatnya diatas bufet, tangannya menyenggol tropy hingga jatuh dan menimbulkan suara. PYAAAR!!

WIDYA (O.S.)

Antiniiii…!!

Widya seketika keluar dari kamar dan mendapati tropy tsb tergeletak dilantai dengan kondisi patah.

WIDYA (CONT’D)

Masya allah, ini tropy kesayangan bapak kenapa bisa jatuh begini?

ANTINI

Antini nggak sengaja nyenggol bu…

WIDYA

Ibu kan sudah bilang, kalo main-main hati-hati…jangan sampai merusak barang-barang kesukaan bapakmu…

ANTINI

Maaf bu…

INSERT

Hartono terlihat pulang dengan mengendarai motornya.

Mendengar suara motor Hartono, Widya buru-buru meminta Antini main lainnya.

WIDYA

Bapak pulang tuh…sana buruan main lainnya, ibu beresin ini…

Antini mengiyakan, Antini bergerak kearah pesawat tv, sementara Widya buru-buru menaruh tropy yang patah tsb kedalam laci lemari.

IN FRAME

Hartono bergerak masuk kedalam rumah.

WIDYA (CONT’D)

Sudah pulang Pak?

HARTONO

Ada yang harus bapak beresin dirumah, tadi lupa laptop nggak dibawa…jadinya ya begini, mondar-mandir dari rumah kekantor…

Hartono mengeluh seraya bergerak kearah ruang kerjanya.

WIDYA

Ibu bikinkan kopi ya pak?

Hartono mengiyakan kemudian menghilang dibalik kamar kerjanya.

CUT TO:

12. NT/EXT. ruang kerja hartono – sore

Hartono membuka laptop dan menyalakannya, setelah itu Hartono sibuk membuka-buka file dalam laptop.

Tiba-tiba terdengar suara Antini main game,

SFX: suara permainan PS/game (saat itu Antini main game balap mobil)

ANTINI (O.S.)

Ayo…ayo…kejar terus kejaaar!

Hartono seketika merasa terganggu dengan suara permainan PS tsb.

HARTONO

(kesal)

Haduuuh, ini anak kalo nggak bikin gaduh kenapa sih?

Hartono seketika berdiri dan bergerak keluar ruang kerjanya.

CUT TO:

Begitu Hartono keluar ruang kerjanya, Antini terlihat asyik bermain PS dengan posisi membelakangi Hartono.

HARTONO (CONT’D)

(marah)

Antiniii !

Antini terkesiap mendengar suara bapaknya, ia sontak mengkeret.

ANTINI

Iya pak!

HARTONO

(marah)

Kamu kalo nggak bikin gaduh kenapa sih? Nggak tahu apa, bapak lagi pusing mikirin kerjaan?

ANTINI

Maaf Pak…

IN FRAME

Widya keluar dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi panas.

WIDYA

Sudahlah Pak, biarin Antini main dirumah. Bukannya bapak minta begitu kan, biar nggak bikin masalah lagi diluar?

HARTONO

(kesal)

Kamu ini gimana sih, Wid? Sudah tahu kan, bapak pulang dalam rangka apa? Mana bisa bapak kerja kalo dengar suara gaduh begini?

Ini malah ngebelain Antini.

(pada Antini)

Mending kamu main keluar sana!

Antini masih terdiam ditempatnya, sejenak ia melirik kearah ibunya.

HARTONO (CONT’D)

(menbentak)

Cepat main keluar sanaaaaa!!

Antini

(gelagapan, takut)

Iiiya pak…!

Antini sontak bergegas pergi.

Hartono ngedumel sembari bergerak masuk kedalam kamar.

HARTONO

Haduuuh, tiap hari suruh marah-marah…gimana kerjaan nggak berantakan!

Hartono menghilang dibalik pintu kamar kerjanya, ia bahkan menutup pintunya dengan kesal.

Widya menanggapi sikap suaminya dengan gelengan.

CUT TO:

13. EXT. tanah kosong – siang

Temen-temen Antini sedang main bola ditanah kosong, mereka bertanding dengan geng-nya Odi.

Kedatangan Antini seketika disambut teman-temannya.

Andre CS

Itu Antini…

(teriak)

Antiniii…ayo ikutan main.

Teman-teman lainnya juga bersikap serupa, Antini menyambut gembira biarpun cuma dia satu-satunya anak cewe.

Odi rupanya tidak terima dan langsung protes.

Odi

Hey…hey…enak aja ngajak Antini ikutan main, Antini kan cewe…

ANDRE

Emang ada aturannya, cewe nggak boleh main bola?

ODI

Lihat aja di teve, kalo pemainnya cowo…ya cowo semua…

Antini akhirnya ikut berbicara dengan merangsek kearah Odi.

ANTINI

Bilang aja kamu takut kalah kalo aku ikut main, Di!

ODI

Heh, siapa takut!

Oke…kita buktiin!

Jawaban Odi disambut Andre cs dengan senang.

Antini langsung gabung dengan teman-temannya, lawannya adalah gengnya Odi. Mereka saling berebut bola, geng-nya Antini rupanya bisa memasukan bola…Antini cs menyambut dengan suka cita, Odi rupanya tidak suka…

Permainan bola kembali dilanjutkan, ketika Andre, teman Antini mengiring bola kearah gawang lawan…tiba-tiba Odi menghalanginya dengan kakinya, hingga membuat Andre terjatuh seraya mengaduh kesakitan.

Antini tidak terima, ia langsung melabrak Odi.

ANTINI

Kamu kok curang begitu, Di?

Odi

Namanya juga main bola, siapa yang bisa ngira kalo kakinya yang ketendang…

ANTINI

Alasan kamu! Kamu tuh sengaja nendang kakinya Andre…

ODI

Kalo iya emang kenapa?

Berani lo lawan gue?

Antini sontak mendorong tubuh Odi, Odi terjatuh dan buru-buru bangun. Kedua anak itu seketika terlibat perkelahian, sementara anak-anak yang lain jadi penonton.

Ketika Antini terdesak, tangan Antini meraba-raba tempat disekitarnya hingga menemukan batu. Antini lantas memukulkan batu tsb ke kepala Andre, kepala Andre keluar darah, Andre jatuh pingsan.

Semua anak yang menonton jadi histeris.

CUT TO:

14. INT. rUMAH HARTONO .ruang Kerja – sore

SFX: terdengar suara ketukan pintu dari arah depan.

Hartono yang masih sibuk dengan diruang kerjanya merasa terganggu.

HARTONO

Ada apalagi ini!

(teriak)

Widyaaaa, lihat itu didepan ada siapa!

WIDYA (O.S.)

Iya pak…iya…

Hartono kembali bekerja sembari ngedumel.

HARTONO

Haaah, sehari aja nggak ada masalah kenapa sih?

INTERCUT

15. INT/EXT. rumah HARTONO – sore

Begitu pintu dibuka, Widya dibuat terkejut oleh keberadaan bu Lastri dengan wajah emosi sambil menggandeng Odi yang terlihat terluka dikepalanya.

WIDYA

Ada apa bu Lastri?

Lastri

(ketus)

Mana suamimu?

WIDYA

Ada didalam bu, lagi kerja…

LASTRI

(marah, keras)

Panggil suamimu, Saya minta pertanggung jawaban!

INSERT

Hartono rupanya sempat mendengar suara bu Lastri yang menanyakan soal dirinya.

WIDYA (O.S.)

Memangnya ada masalah apa bu?

LASTRI (O.S.)

Lihat ini…

Gara-gara Antini, kepalanya Odi jadi luka kayak begini…

HARTONO

Ada masalah apalagi ini?

Hartono seketika bergerak kedepan.

CUT TO BACK

Hartono keluar rumah dan mendapati bu Lastri dengan anaknya Odi yang kepalanya berdarah.

HARTONO (CONT’D)

Ada apa bu lastri…

Bu lastri

(kesal)

Saya mau minta pertanggung jawaban pak! Antini sudah bikin kepala anak saya luka begini! Odi bilang, kepalanya dipukul Antini pake batu waktu main bola…

Emosi Hartono seketika meledak.

HARTONO

(geram, emosi)

Ini anak!

(pada Widya)

Wid, kamu bawa Odi berobat kerumah sakit, Antini biar bapak yang urus!

Hartono seketika bergerak pergi hendak mencari Antini,

Widya jadi cemas karena sudah bisa menduga Antini akan dihajar suaminya lagi.

WIDYA

Tapi Pak…

HARTONO

Cepat bawa Odi kerumah sakiiiit!

Banyak tanya lagi…

Widya mengiyakan, Hartono kembali bergegas pergi.

FLASH TO

16. EXT. JALANAN KAMPUNG – SORE

MONTAGE.

Hartono menyusuri jalanan kampung mencari Antini, nanya pada orang namun Antini tidak ditemukan.

CUT TO:

17. EXT. HALAMAN BELAKANG RUMAH HARTONO – SORE

Bik Nah sedang membuang sampah dibak sampah ketika Antini tiba-tiba muncul dari balik semak-semak.

ANTINI

Bik, bapak sudah berangkat lagi belum?

BIK NAH

Aduh Non…enon bikin masalah apalagi to? justru bapak lagi nyari-nyari non Antini…

ANTINI

Antini ngebela diri bik, abis Odi mainnya curang…

Bik Nah jadi kebingungan sendiri.

BIK NAH

Haduuh piye iki? Sudah sana, buruan sembunyi…

ANTINI

Iya bik…

Antini seketika masuk kedalam rumah, bik Nah menanggapi dengan gelengan.

CUT TO:

18. Int. rUMAH HARTONO – sore/senja

Hartono terlihat pulang, ia langsung memanggil pembantunya.

HARTONO

Bik Antini sudah pulang belum? kemana? Kok sepi?

Bik Nah keluar dari belakang.

BIK NAH

(gelapagan)

Ehm…ee…anu Pak…anu

HARTONO

(membentak)

Bibi jangan bohong ya, bilang terus terang…Antini sudah pulang apa belum?

Bik Nah jadi ketakutan begitu dibentak oleh Hartono.

BIK NAH

(gelagapan)

Ehm…ee…a…a…ada dikamarnya Pak!

Hartono menghela nafas berat, geram.

Hartono seketika bergerak kekamar Antini.

CUT TO:

19. InT/EXT. kamar antini – sore/senja

Antini yang sembunyi disamping lemari nampak ketakutan, sementara bapaknya memanggil-manggil.

HARTONO

(geram)

Antini ! Antiniii…!!

Antini masih sembunyi ditempatnya, sementara Hartono membuka lemari dan tidak menemukan Antini didalam.

HARTONO (CONT’D)

(geram, emosi)

Bapak hitung sampai tiga kali ya… kalo sampe nggak keluar juga, jangan harap bapak kasih ampun sama kamu!

Antini masih diam membisu ditempat persembunyiannya.

HARTONO (CONT’D)

(geram, emosi)

Nggak keluar juga kamu…!

Baik…bapak hitung ya…satu…dua…

Antini tiba-tiba keluar dari persembunyianya sembari meminta maaf.

AnTINI

(ketakutan)

Ampun Pak…jangan pukul Antini Pak! Jangan hukum Antini! Antini lakukan itu karena Odi berbuat curang pak!

Emosi Hartono makin meledak.

HARTONO

Kamu pikir ngobatin Odi kerumah sakit itu nggak pake uang, hah?!

Hartono tiba-tiba menarik lengan Antini.

Hartono (CONT’D)

Ayo ikut bapak!

Ayooo…!

Hartono menarik lengan Antini keluar dari kamarnya kemudian bergerak kearah rumah.

CUT TO:

20. EXT/INT. gudang belakang rumah – sore/senja

Hartono masih menarik lengan Antini kearah gudang yang berada dibelakang rumah, semetara Antini berusaha memohon ampunan.

ANTINI

(memohon)

Ampun Pak…ampun! Antini ngaku salah! Ampuuuun…

HARTONO

(emosi)

Kamu memang tidak bisa dibilangi ya… sampai malu bapak sama orang-orang kampung gara-gara ulah kamu!

Begitu sampai didepan gudang dan membuka pintunya, Hartono meminta Antini masuk kedalam.

HARTONO (CONT’D)

Masuk sana!

ANTINI

(memohon)

Ampun Pak! Ampuuun!

HARTONO

(membentak)

Bapak bilang masuuuuk!!

Antini segera masuk kedalam gudang, Hartono seketika menguncinya dari luar.

Antini masih merengek dari dalam gudang.

ANTINI

Pak, jangan tinggalkan Antini Pak!

Antini takut sendiriaaan!

Paaaak…ampuni Antini!

Hartono tidak memperdulikan, tangis Antini akhirnya pecah.

Baca Juga  JAKA TARUB

CUT TO:

21. INT. rumaH HARTONO .ruang Tengah – senja

Hartono kembali kedalam rumah ketika Widya terlihat baru pulang dari rumah sakit, mengantar Odi berobat.

Widya nampak mencemaskan Antini.

WIDYA

Antini mana pak?

HARTONO

Bapak hukum digudang! Biarkan dia disana sampai besok pagi…

WIDYA

Bapak kok setega itu sama anak sendiri!

Hartono berbalik dan memandangi istrinya dengan emosional.

HARTONO

(marah)

Ibu bilang tega?

Itu anak kalo nggak dikasih hukuman, selamanya dia nggak akan ngerti…kalo ulahnya itu bikin susah orang lain!

Harusnya ibu ngerti, bukannya malah ngebelain !

POV. (CU) pada hp Hartono yang tergeletak dimeja dan berdering.

Hartono seketika bergerak mengambil dan menerimanya.

HARTONO (CONT’D)

Halo…iya pak…

Pak wijaya (O.S.)

(marah)

Pak Hartono ini bagaimana, niat kerja apa nggak? Ditungguin dari tadi belum juga balik kekantor!

HARTONO

Maaf pak…ada…

PAK WIJAYA (O.S.)

Kamu tahu kan, file yang saya butuhkan itu penting banget buat meeting dengan klien?

Widya rupanya memperhatikan suaminya menerima telepon tsb dengan seksama, terlebih terdengar samar-samar suara Pak Wijaya emosional.

HARTONO

Iya Pak…saya mohon maaf, sekarang juga saya kesana pak.

PAK WIJAYA (O.S.)

Tidak perlu! Hari ini juga kamu saya pecat!

DEK! Hartono terkesiap mendengarnya.

Terdengar nada telepon diputus, Hartono jadi emosi dan melampiaskan kekesalannya dengan memukul/menendang/membanting barang yang ada disekitarnya.

HARTONO

(marah)

Kacau…! Kacau semuanya!

WIDYA

(kaget, heran)

Apa yang terjadi pak?

HARTONO

(memandang Widya tajam)

Dengar ya Wid! Gara-gara ngurusi ulah anak kesayanganmu itu, bapak dipecat dari kantor!

DEK! Kali ini ganti Widya yang kaget.

Hartono lantas bergerak kearah ruang kerjanya dengan emosional.

DISSOLVE TO:

22. EXT/INT. gudANG BELAKANG RUMAH – pagi

Pintu gudang dibuka gemboknya oleh Widya, begitu pintu terbuka…Antini nampak meringkuk disudut gudang dengan wajah kusut.

WIDYA

Antini…

Widya seketika menghampiri Antini dan memeluknya sembari berusaha menenangkan putri semata wayangnya tsb.

WIDYA (CONT’D)

Maafkan bapak ya An…

Bapak tidak bermaksud menyakitimu, bapak hanya ingin memberi pelajaran sama kamu, biar kamu nggak bandel…

Antini hanya membisu, setitik air mata meleleh dipelupuk matanya.

CUT TO:

23. MONTAGE

– EXT. SEBUAH KANTOR – SIANG

Hartono keluar dari sebuah kantor dengan wajah murung lantaran tidak ada lowongan.

(CU) pada tulisan yang menempel dipintu kaca, “Maaf, tidak ada lowongan pekerjaan.”.

CUT TO:

– EXT. TROTOAR JALAN – SIANG

Hartono terlihat menyusuri trotoar yang nampak ramai sambil menenteng berkas/map lamaran pekerjaan.

INSERT

Dari arah berlawanan ia berpapasan dengan seseorang, tiba-tiba saat keduanya berpapasan tangan orang tak dikenal tsb dengan cepat menarik dompet disaku celana Hartono dengan pura-pura menyenggolnya.

Hartono baru menyadari kalo kecopetan ketika baru melangkah beberapa meter dan meraba dompet disaku celananya.

CUT TO:

– INT. FRONT OFFICE – SIANG

Seoang petugas front office memberi info pada Hartono yang tidak lolos seleksi penerimaan karyawan.

CUT TO:

24. EXT. Rumah HARTONO – malam

Widya menunggu kepulangan suaminya dengan melihat kearah jalan, namun Hartono tidak kunjung terlihat pulang.

WIDYA (V.O.)

Pergi kemana suamiku?

Kenapa sampai malam begini belum pulang?

Widya berusaha meneleponnya, namun hp Hartono tidak aktif.

Antini tiba-tiba muncul dari arah belakang.

ANTINI

Bapak belum pulang ya bu?

WIDYA

(tersenyum)

Belum sayang…doakan saja, bapak cepat dapat kerjaan ya…

ANTINI

Gara-gara Antini ya bu, bapak dipecat dari kantornya…

Widya buru-buru menetralisir.

WIDYA

Siapa bilang? Mungkin perusahaan ditempat bapak kerja dulu lagi terbelit masalah, jadi ada pengurangan karyawan.

Ayo buruan tidur, ibu temeni ya…

Antini mengiyakan, keduanya lantas bergerak masuk kedalam rumah.

CUT TO:

25. InT. cafe/kedai kopi – malam

Hartono duduk sendirian disalah satu kursi kedai kopi/cafe sambil menghisap rokoknya. Kebingungan menjejali benaknya.

Dari seberang tempat duduknya, seorang perempuan (Sisca) rupanya juga sedang sendirian.

Siska memperhatikan Hartono dengan seksama, Sisca lantas bergerak menghampiri Hartono dan menyalakan korek api saat Hartonp hendak menyalakan rokoknya.

HARTONO

Terima kasih…

Sisca

Boleh saya duduk sini?

HARTONO

Silahkan…

Sisca lantas mengambil tempat duduk disamping Hartono.

SISCA

Saya perhatikan, anda sering nongkrong ditempat ini…dan sepertinya anda lagi kebingungan bung?

HARTONO

Gimana nggak bingung kalo hidup saya selalu dirundung kesialan.

SISCA

Maksud bung?

HARTONO

Saya baru dipecat dari kerjaan saya dan saya sudah berusaha nyari kerjaan lain, tapi tidak berhasil.

Ini semua gara-gara anak saya?

SISCA

Maksud anda?

HARTONO

Anak saya itu pembawa sial, semenjak dia lahir…saya selalu dirundung masalah dan masalah.

Sisca tiba-tiba ketawa menanggapi.

SISCA

Jangan percaya tahayul bung!

HARTONO

Tapi kenyataanya seperti itu!

Sisca tersenyum penuh arti.

SISCA

Saya bisa buktikan, kalo penyebabnya bukan anak anda!

Saya akan kasih anda kerjaan dengan imbalan yang tinggi, bila anda mau!

Hartono rupanya terusik.

HARTONO

Anda serius?

Sisca tersenyum.

SISCA

Kenapa tidak.

Flash to

  • 26. EXT. pantai – teNGAH MALAM

Sebuah perahu nampak merapat dipantai yang terlihat sepi, penumpang perahu tsb seketika memberikan barang yang terbungkus karung pada Hartono yang menunggu dipantai.

Setelah itu Hartono membawanya dengan motornya.

CUT TO:

  • 27. EXT. jalan RAYA – teNGAH MALAM

Hartono mengendarai motornya dengan membawa barang yang diketahui sebagai “narkoba”. Hartono menjalani pekerjaannya sebagai kurir narkoba.

DISSOLVE TO:

  • 28. Ext. Free – tengah MALAM

Hartono menemui Sisca yang sudah menungguinya disuatu tempat, setelah memindahkan barang tsb ke mobil Sisca, Sisca memberinya imbalan dengan segebok uang dalam amplop.

SISCA

Ingat bung! Jaga mulut dan tindakan anda, kalo sampai bocor ke polisi… nyawa taruhannya!

Hartono mengiyakan kemudian pergi dengan motornya.

DISSOLVE TO:

  • 29. Ext/INT. rumah HARTONO. Ruang tengah – pagi

Establish rumah Hartono

Widya sempat kaget ketika dibangunkan Antini karena dirinya ketiduran dikursi ruang tengah setelah semalam menunggu Hartono yang tidak kunjung pulang.

ANTINI

Bu…bangun bu !

Widya terbangun dari tidurnya…

WIDYA

Jam berapa ini, An?

ANTINI

Jam setengah enam bu…

Widya menguap seraya berusaha duduk.

WIDYA

Bapakmu sudah pulang belum?

Antini menggeleng.

ANTINI

Belum bu…

Widya nampak kecewa, namun Widya berusaha tersenyum.

WIDYA

Mungkin bapak nginap dirumah temannya, An! Bisa jadi kan, ban motor bapak kempes ditengah jalan, atau bapak tidak mau membangunkan ibu tengah malam.

ANTINI

Mungkin juga bu…

WIDYA

Ya sudah, sana buruan mandi.

Antini mengiyakan kemudian bergerak pergi.

Widya jadi bertanya-tanya dalam hati.

WIDYA (V.O.)

Pergi kemana suamiku?

Cut TO:

  • 30. INT/EXT. rUMAH HARTONO – siang

Antini sedang main PS dengan serunya ditemani Widya.

INSERT

Hartono terlihat pulang dengan motornya.

Widya yang mendengar suara motor seketika meminta Antini menghentikan permainannya.

WIDYA

An, bapak pulang tuh… berhenti dulu ya mainnya…

ANTINI

Lagi asyik-asyiknya bu…

WIDYA

Kemarin janji sendiri, nggak mau bikin bapak marah gara-gara denger suara gaduh kalo kamu lagi main game…

Antini akhirnya mengakhiri permainnya dengan nada kecewa.

ANTINI

Iya…iya…

Antini lantas mematikan PS-nya.

IN FRAME

Hartono masuk kedalam rumah, Widya menyambutnya.

WIDYA

Kok baru pulang Pa? Semalam Papa nginap dimana?

HARTONO

Dirumah teman, kebetulan ada tawaran kerjaan diluar kota…

WIDYA

Syukurlah kalo begitu…

HARTONO

Makanya siapin baju bapak…

Ntar bapak harus balik lagi.

WIDYA

Iya…iya… tapi nanti malam bapak pulang kan?

HARTONO

Bapak nggak bisa janji bu, banyak yang harus bapak urus ditempat kerja yang baru…

Sejenak Hartono melihat kearah Antini yang masih duduk didepan pesawat tv, Antini seketika menunduk dipandangai bapaknya dengan sorot dingin.

Hartono lantas bergerak kearah ruang kerjanya, Antini sempat memperhatikan bapaknya namun ia hanya melihat punggung bapaknya dan kemudian menghilang dibalik pintu.

CUT TO:

  • 31. MONTAGE

– EXT. FREE – MALAM

Hartono mengambil “narkoba” yang terbungkus rapi dan dimasukkan kedalam jaketnya, setelah itu Hartono pergi dengan motornya.

CUT TO:

– EXT. SERAMBI RUMAH HARTONO – MALAM

Widya menunggu kepulangan suaminya.

Antini muncul dari belakang dan menanyakan bapaknya.

ANTINI

Bapak tidak pulang lagi ya bu?

WIDYA

(menggeleng)

Entahlah, An…

Rona muka Widya nampak gusar.

CUT TO:

– EXT. SPBU – MALAM

Hartono menemui Sisca diarea parkiran SPBU, Hartono memberikan bungkusan berisi narkoba pada Sisca dengan masuk kedalam mobil. Sisca lantas memberinya imbalan via amplop.

Hartono lantas bergerak pergi.

CUT TO:

  • 32. EXT. pos ronda – malam

Beberapa warga kampung terlihat sedang main gaple/kartu dipos ronda ketika Hartono terlihat datang dengan motornya.

HARTONO

Lagi jaga ni bang…

Mang jaja

Iya ni, baru pulang kerja pak Har?

Hartono mengiyakan, tiba-tiba Hartono mengeluarkan uang ratusan beberapa lembar kemudian memberikannya pada warga yang jaga.

HARTONO

Bang, buat beli makanan ya…

Maaf saya nggak bisa nemenin…

CROWDED

Terima kasih pak Har…

Hartono lantas pergi dengan motornya, warga langsung kasih komentar.

MANG JAJA

Tumben pak Har, bagi-bagi uang?

Pak ipin

Habis dapat rejeki gede kali mang…

MANG JAJA

Bisa jadi, orang kalo lagi beruntung kayak begitu nyak…

Padahal belum lama aya dengar Pak Har baru dipecat dari tempat kerjanya, sekarang uda dapat kerjaan baru.

PAK IPIN

Itu yang namanya nasib mang!

Mang Jaja mengiyakan.

CUT TO:

  • 33. EXT. jalan kampung – pagi

Mang Jaja, tukang sayur rupanya menceritakan kedermawanan Pak Hartono pada ibu-ibu yang lagi belanja.

Diantara yang belanja terlihat bik Nah.

Ibu 1

Mamang jangan bercanda atuh, gimana mungkin Pak Hartono berubah jadi dermawan?

Mang JAJA

Mpok teh kagak percaya…tanya sama warga yang tiap malem ikutan ronda.

Hampir tiap malem Pak Har ngasih uang sama warga yang ikutan jaga bu…

IBU 2

Oh ya? Berarti bisnisnya pak Hartono kenceng juga nyak!

(menoleh pada bik Nah)

Bik, kerja dimana pak Har kok tiba-tiba banyak duit?

Bik Nah gelagapan menjawab.

BIK NAH

Maaf bu, saya tidak tahu…

IBU 1

Kamu teh kumaha atuh bik…masak kerjaan majikan kagak tau?

Bik Nah jadi serba salah.

CUT TO:

  • 35. EXT/INT. rUMAH HARTONO – siang

Widya sempat kaget, antara percaya dan tidak ketika bik Nah menceritan soal rumor yang beredar dikampungnya soal ulah suaminya yang selingkuh dengan perempuan lain.

WIDYA

Kamu dengar begitu bik?

BIK NAH

Iya bu…

Widya tersentak kaget, perasannya jadi campur aduk…antara percaya dan tidak.

WIDYA

Bapak sebenarnya kerja apaan sih? Kok tiba-tiba punya banyak duit?

Widya masih dijejali nada tanya.

DISSOLVE TO:

  • 36. INT/ext. rumah HARTONO. Ruang kerja – siang

Hartono sedang membungkus narkoba kedalam plastik, tiba-tiba pintu ruang kerjanya dibuka oleh Widya yang membawakan kopi.

Hartono sempat kaget dan hal itu membuat narkoba yang dibungkusnya jatuh tercecer.

Hartono sontak membentak Widya sembari mengambil barang-barang yang jatuh tsb.

HARTONO

(marah, cemas)

Bisa nggak sih, ketuk pintu dulu kalo mau masuk?

WIDYA

Bukannya biasanya nggak pernah ketuk pintu…

HARTONO

Mulai hari ini, ketuk pintu dulu kalo mau masuk, ngerti!

Widya jadi curiga seraya memperhatikan butiran sabu-sabu yang tercecer.

WIDYA

Itu apa pak?

HARTONO

Sudah kamu nggak usah ikut campur..

Ini urusan kerjaan.

Widaya tiba-tiba merebut barang yang dipegang Hartono hingga kemudian barang itu kembali jatuh berantakan.

Hartono jadi emosional.

HARTONO (CONT’D)

Kamu bisa dibilangi nggak sih?

Widya mencium sabu-sabu/pil ekstasi yang sempat direbutnya, widya tersentak kaget begitu tahu barang yang dipegangnya adalah narkoba.

WIDYA

Jadi…bapak kerja beginian!

HARTONO

(ketus)

Kalo iya emang kenapa?

Gara-gara anak sialan itu, bapak susah nyari kerjaan…

Cuma jadi kurir narkoba yang bisa bapak lakukan, itupun bukan pekerjaan yg dengan mudahnya turun dari langit.

Widya menggeleng…

INSERT

Antini terlihat baru pulang sekolah, ia memasuki halaman rumah.

WIDYA

Sebaiknya tinggalin Pak.

Lebih baik kita hidup miskin daripada makan dari hasil beginian!

BRAAAAK! Hartono menggebrak meja makan dan membuat Widya tersentak kaget.

Emosi Hartono sontak meledak…

HARTONO

(emosi)

Kamu ngerti nggak sih?

Cuma dengan kerja beginian, hasilnya banyak!

Dan lagi aku pengen buktiin omonganmu…kalo Antini bukan penyebab dari masalah kita selama ini!

WIDYA

Tapi kerjaan yang bapak ambil itu salah!

Emosi Hartono meledak.

HARTONO

(mengancam)

Widya, jangan ajari aku…bagaimana caranya nyari duit yang bener!

Pokoknya kalo kamu nggak setuju dengan apa yang bapak lakukan!

Pergi dari rumah sini!

Aku sudah capek dengan semuanya ini!

DEK ! Widya terkesiap mendengar ancaman suaminya, begitu juga dengan Antini yang mendengarkan dari pintu samping.

Hartono lantas bergerak pergi dengan emosional.

DISSOLVE TO:

  • 37. EXT/INT. RUMAH KAKEK BARJO – SIANG
Baca Juga  Contoh Skenario Film Pendek Cinta Terlarang

Delman (kereta kuda) yang dinaiki Widya, Antini dan Bik Nak memasuki halaman rumah kakek Barjo (orang tua Widya).

Kakek Barjo menyambut dengan senang kedatangan cucunya tsb.

Kakek barjo

Ndak nyangka…cucu kakek ternyata sudah sebesar ini…

Kakek Barjo memeluk Antini dan mencium kedua pipinya.

AnTINI

Kek, Antini boleh main kan kek?

Pengen lihat sawah sama kerbau kek…

(pada Widya)

Boleh kan bu?

WIDYA

Ya sudah, tapi mainnya jangan jauh-jauh ya…kamu kan belum hafal daerah sini.

Antini mengiyakan kemudian bergegas pergi.

Perhatian kakek lantas tertuju pada Widya.

KAKEK BARJO

Piye kabarmu nduk?

WIDYA

Baik pak…

Wajah Widya nampak murung.

KAKEK BARJO

Sudah ndak perlu dipikir…manusia itu cuma bisa menjalani hidup…semuanya gusti pengeran yang ngatur…

WIDYA

Iya pak…

KAKEK BARJO

Ayo masuk…

Widya lantas bergerak masuk kedalam rumah diikuti Kakek Barjo.

CUT TO:

  • 38. INT. CLUB MALAM – MALAM

Hartono sedang mengadakan pesta dengan beberapa purel disebuah club malam.

POV. Hartono rupanya tidak menyadari kalo sikap royalnya pada uang membuat reserse berpakaian preman diam-diam mengawasinya.

Hp Hartono terdengar berbunyi, Hartono segera menerimanya.

HARTONO

Iya Sis… oke…aku meluncur kesana.

Hartono lantas bergerak pergi setelah menenggak minuman.

Reserse Polisi yang tadi mengawasi, ikut menyusul Hartono.

CUT TO:

  • 39. EXT. area parkir club malam – malam

Hartono bergerak kearah motornya, saat hendak menghidupakan motornya. Hartono rupanya melihat reserse yang menguntitnya keluar dari club.

HARTONO

Sialan!

Hartono lantas berbicara via hanfree phone pada Sisca.

HARTONO (CONT’D)

Sisca, batalin! Nggak aman!

Hartono lantas pergi dengan motornya.

CUT TO:

  • 40. EXT/int. rumah hartono – malam

Motor Hartono buru-buru memasukkan motornya kedalam rumah, setelah itu ia menutup pintunya.

Dari balik kelambu, Hartono mengintip keluar…

Didepan jalan rumahnya terlihat seseorang (polisi) mengawasinya, namun kemudian polisi preman tsb bergerak pergi.

Hartono menghela nafas berat.

HARTONO

Hah, kayaknya uda nggak aman tinggal disini!

CUT TO:

  • 41. EXT. serambi rumah kakek hartono – malam

Kakek Barjo berbicara dengan Widya diserambi rumah, sementara Antini nampak tertidur di paha Widya, Widya mengusap rambut Antini.

KAKEK BARJO

Yang dibilang bik nak soal ruwatan itu tidak salah, Wid!

Bapak juga tidak memaksa kamu, kalo kamu memang punya keyakinan lain.

Tidak semua orang jawa harus meruwat anaknya…

Tapi kalo kamu ijinkan, bapak pengen meruwat Antini, karena menurut bapak…ruwatan itu sebenarnya sebuah do’a yang dipanjatkan melalui upacara  tradisi…

Widya masih terdiam…

KAKEK BARJO (CONT’D)

Selain itu, bapak juga pengen memberi hiburan pada warga desa sini dengan pagelaran wayang kulit yang menjadi ritual sebuah ruwatan.

Widya masih terdiam.

KAKEK BARJO (CONT’D)

Bagaimana Wid?

WIDYA

Kalo menurut bapak itu yang terbaik buat Antini, silahkan Pak!

Kakek Barjo tersenyum.

CUT TO:

  • 42. EXT. free – malam

Sisca melampiaskan kemarahannya pada Hartono karena dirinya sudah mulai di incar oleh polisi.

SISCA

Bagaimana polisi sampe tahu?

Bukankah aku sudah ingetin kamu, jangan bertindah gegabah…karena tindakanmu itu bisa menimbulkan kecurigaan!

HARTONO

Maaf Sis…

SISCA

Kamu tunggu kabar aja dari aku!

Sisca lantas bergerak pergi dengan mobilnya.

Kegusaran menjejali benak Hartono.

CUT TO

  • 43. EXT. jalan desa – siang

Langkah Antini menyusuri jalanan desa terusik begitu mendengar ada orang marah-marah dari arah kebun mangga.

Pemilik kebun (O.S.)

(marah)

Dasar pencuri! Uda ketahuan nyuri, masih ngeles juga…kamu pikir pohon mangga ini punya moyang kamu apa?

Antini seketika bergerak kearah suara tsb karena pengen tahu.

CUT TO:

  • 44. EXT. SAMPING KEBUN MANGGA – siang

Seorang pengemis tua renta nampak diomeli oleh pemilik kebun, si pemilik kebun nampak memegangi buah mangga.

Pengemis tua

Bener neng, nenek nggak nyuri…

Nenek tadi nemu dibawah pohon mangga sebelah sana…nenek ambil karena nenek lapar…

PEMILIK KEBUN

(marah)

Jangan banyak alasan kamu!

Apapun yang ada dikebun sini, itu bukan milikmu, jadi kamu nggak berhak ngambil seenaknya apalagi tanpa ijin!

Pergi sana kamu… pergiiii!

Si nenek tua bergerak pergi, si pemilik kebun memperhatikannya dengan nada nyinyir.

INSERT

Antini yang melihat hal itu dari balik semak-semak dari geram melihat ulah si pemilik kebun.

ANTINI

Kelewatan, masak sama pengemis tua nggak kasihan.

Antini lantas keluar dari balik semak-semak, kemudian bergerak menyusul si Nenek.

ANTINI (CONT’D)

Nek…nenek…

Si nenek berbalik.

PeNGEMIS TUA

Ada apa cu ?

Antini mengeluarkan uang dari sakunya, kemudian memberikannya pada nenek tsb.

ANTINI

Ini buat nenek, katanya nenek belum makan…

PENGEMIS TUA

Terima kasih ya cu, nenek doakan cucu jadi anak yang pintar…

Antini mengiyakan, kemudian bergegas pergi.

CUT TO:

  • 45. EXT. kebun mangga – siang

Dari balik rimbunan semak-semak, melesat batu-batu yang dilempar dan diarahkan ke buah mangga yang masih muda dan menggantung pada pohon.

Buah-buah mangga yang masih muda itu sontak pada berjatuhan.

POV. Pemilik kebun yang berada tidak jauh dari pohon yang buahnya jatuh, jadi kesal.

PEMILIK KEBUN

(teriak)

Hey…hey…siapa yang lempari buah manggaku? Siapaaa?

Awaaas ya…

CUT TO:

Dari balik persembunyiannya, Antini berusaha menahan tawanya.

ANTINI

Makanya, jadi orang jangan pelit-pelit!

DISSOLVE TO:

  • 46. EXT. HALAMAN RUMAH KAKEK BARJO – SIANG/SORE

Prosesi ruwatan dirumah kakek Barjo. Antini menjalani prosesi ruwatan dengan adat jawa dengan dimandikan air kembang tujuh warna, tempat ruwatan tsb dihiasi oleh janur.

InSERT

Dalang memainkan wayang kulit yang menceritakan tentang cerita ruwatan, dimana seorang anak manusia yang dikejar-kejar oleh Betorokolo hingga kemudian si anak manusia tsb bisa diselamatkan oleh dewa dari langit.

Note: narasi mengikuti monolog Pak Dalang saja mas.

DISSOLVE TO:

  • 47. INT. ruMAH KAKEK BARJO .kamar Tidur

Widya sedang berdo’a usai menjalani sholat.

WIDYA (V.O.)

Ya Tuhan, hanya do’a yang bisa aku panjatkan demi kebaikan Antini…

Karena menurutku, sumber masalah dikeluargaku bukan pada Antini, tapi pada suamiku yang terlalu percaya pada keyakinannya yang dipegang selama ini…

Sebagai orang timur, aku harus menghormati tradisi leluhur…selama itu tidak menyimpang dari ajaranmu ya Tuhan!

DISSOLVE TO:

  • 48. EXT. HALAMAN RUMAH KAKEK BARJO – SIANG/SORE

Pagelaran wayang kulit dengan cerita MUEWOKOLO masih berlangsung sengit oleh sesi perang antara Betorokolo dengan Dewa Penyelamat.

Antini nampak senang melihat pertunjukan itu begitu juga dengan penonton lainnya.

CUT TO:

  • 49. EXT/int. ruMAH HARTONO – siang

Dua orang polisi dengan pakaian preman mendatangi rumah Hartono, mendobrak masuk kedalam dan mencari data yang berkaitan dengan Hartono dan keluarganya.

POLISI 1

Sepertinya sasaran sudah tidak tinggal lagi disini.

POLISI 2

Iya…

Polisi akhirnya menemukan nomor hp Widya dari buku telepon yang ada dilaci meja.

CUT TO:

  • 50. EXT. FREE – malam

Hartono berusaha menghubungi Sisca via telponya berkali-kali, namun telepon tsb sudah masuk.

Ketika bisa dihubungi, Hartono nampak emosional.

HARTONO

Sisca, kenapa sampai detik ini aku tidak dapat kabar?

SISCA (O.S.)

Maaf Har, kayaknya kerjasama kita harus berakhir…

Hartono tersentak kaget.

SISCA (CONT’D)

Aku tidak mungkin mengorbankan jaringanku, gara-gara identitasmu sudah diketahui oleh polisi.

Sisca tiba-tiba mematikan teleponnya.

HARTONO

Sisca…hallo…halo…

Hanya terdengar nada putus.

Hartono jadi meradang karena merasa dicampakkan.

CUT TO:

  • 51. int. SERAMBI RUMAH kakek barjo – sore

Antini mau mengambil foto dirinya dengan bapaknya yang terbingkai dalam frame diatas lemari, namun foto tsb justru jatuh dan menimbulkan suara gaduh.

PYAAAR!

Widya sama Kakek Barjo sontak keluar dari dalam.

WIDYA

Antini, ada apa?

Sambil memungut foto yang pecah Antini menjawab.

ANTINI

Antini kangen bapak bu…!!

Widya sama Kakek Barjo jadi terharu.

Widya seketika mendekati Antini.

WIDYA

Berdoa saja ya nak, biar bapak baik-baik saja…

ANTINI

Iya bu…

SFX: terdengar hp Widya berdering.

Widya segera mengambil hpnya yang tergeletak dimeja dan menerimanya.

WIDYA

Halo…iya benar saya sendiri…

Polisi (O.S.)

Kami kepolisian bu…

Kami temukan data telepon ibu dirumah..

DEK! Widya tersentak kaget.

WIDYA

Memangnya apa yang terjadi pak?

Saya tidak tahu kemana perginya suami saya…

POLISI (O.S.)

Pak Hartono diduga terlibat dalam jaringan pengedaran narkoba…

Widya kembali dibuat kaget dan shock.

POLISI (O.S.) (CONT’D)

Sampai detik ini, kamu terus mencari pak Hartono.

WIDYA

Saya tidak tahu kemana perginya suami saya pak!

POLISI (O.S.)

Tolong kabari kami kalo suami ibu menghubungi ibu, karena info dari pak Hartono kami butuhkan buat menggulung jaringan induknya.

Widya mengiyakan, setelah itu Widya mematikan hpnya.

Air mata Widya seketika tumpah, hal itu membuat bingung Antini dan Kakek Barjo.

WIDYA

Apa yang terjadi bu? Kenapa ibu menangis?

Widya hanya memeluk Antini, kakek Barjo jadi iba melihatnya.

FLASH TO

  • 52. MONTAGE

– EXT. TROTOAR JALAN – SIANG

Ketika Hartono menyusuri sebuah trotoar, 2 orang polisi preman  mengawasi dari kejauhan.

Hartono sontak berusaha kabur begitu tahu dikuntit oleh 2 orang polisi preman.

CUT TO:

– EXT. AREA KAKI LIMA – SIANG

Terjadi aksi kejar-kejaran antara Hartono dengan 2 orang polisi preman.

Cut TO:

– EXT. BANGUNAN KOSONG – SIANG

Hartono sembunyi disebuah bangunan tua/kosong, sementara 2 orang polisi preman masih mencarinya.

Ditengah kepanikan Hartono, tiba-tiba ia merasa bersalah pada Antini dan Istrinya. Hartono berdo’a.

HARTONO (V.O.)

Ya Tuhan, beri kesempatan aku buat menemui anak istriku ya Tuhan…

Aku khilaf…

DISSOLVE TO:

  • 53. EXT. halamAN RUMAH KAKEK BARJO – siang/sore

Antini sedang main dihalaman rumah ketika sebuah motor yang dikendarai Hartono memasuki halaman rumah.

Begitu melepas helmnya, Hartono langsung menyapa Antini

HARTONO

Antini…

ANTINI

(menyambut senang)

Bapak…

Tiba-tiba Widya melarang Antini menemui Hartono.

WIDYA

Jangan temui dia, Antini…

Dia tidak pantas jadi bapakmu…

HARTONO

(memohon)

Maafkan aku Wid, aku ngaku salah…

Aku mohon, beri kesempatan buat menebus kesalahanku…

WIDYA

(tegas, kesal)

Kalo kamu mau nebus kesalahan, serahkan dirimu pada polisi mas… aku tidak ingin keluargaku terbawa-bawa gara-gara ulahmu.

Hartono tertunduk.

ANTINI

(memohon)

Bu, maafin bapak bu…

Antini tidak ingin kehilangan bapak lagi…

WIDYA

(tegas)

Tidak Antini…dia harus pergi dari sini!

Hartono akhirnya bergerak pergi dengan mengendarai motornya.

ANTINI

(teriak)

Bapaaaak! Paaaak!

Hartono pergi dengan motornya, Antini jadi kesal pada ibunya.

ANTINI (CONT’D)

Ibu jahat…!!

Antini langsung lari kedalam rumah.

Kegalauan menjejali benak Widya, perasaannya campur aduk. Tapi bagaimanapun juga Widya tetap tidak bisa menerima suaminya lagi.

CUT TO:

  • 54. EXT. jalan raya – sore

Hartono mengendarai motornya menyusuri jalan raya, tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil mengejarnya dan berniat menabrak Hartono.

Hartono berusaha menghindar, namun kemudian mobil yang mengejarnya bisa menabrak motor Hartono dan membuat motornya jatuh ke jurang/menabrak pohon dipinggir jalan.

DISSOLVE TO:

  • 55. EXT. serambi RUMAH kakek barjo – sore

Widya dikejutkan oleh kedatangan seorang polisi dirumahnya.

WIDYA

Ada apa ya Pak?

Polisi

Maaf bu, Pak Hartono ditemukan tewas dijalan!

DEK! Widya terkesiap…

WIDYA

Siapa yang membunuhnya pak?

POLISI

Polisi masih menyelidiki kasus ini bu, tapi kemungkinan jaringan mafia narkoba yang pernah diikutin Pak Hartono sebagai pelakunya…

Tangis Widya seketika tumpah.

DISSOLVE TO:

  • 56 . EXT. area pemakaman – siang/sore

Widya, Antini, Kakek Barjo dan Bik Nah masih tinggal dimakam Hartono usai pemakaman.

Ketiganya berdo’a buat Hartono.

WIDYA (V.O.)

…rasanya sulit untuk memaafkan bapak, apalagi kalo mengingat kejadian dimasa lalu…

Setitik air mata meleleh dipelupuk Widya.

ANTINI (V.O.)

Pak, Antini tahu…bapak tidak suka sama Antini, bapak membenci Antini seperti monster…tapi Antini sayang sama bapak…Antini hanya kesal kalo bapak menyakiti ibu…

WIDYA (V.O.)

Ibu harus bisa maafkan bapak, biar bapak bisa tenang dialam sana…

ANTINI (V.O.)

Maafkan Antini ya pak…Antini uda sering bikin bapak jengkel…

Widya menyeka air matanya.

DISSOLVE TO:

Mereka lantas meninggalkan pemakaman setelah menaburkan bunga dipusara Hartono. Stop motion

SELESAI

Demikian contoh skenario film ftv yang bisa saya bagikan.

Download Skenario

Anda dapat mendownload Naskah skenario ini, link nya ada di bawah ini :

DOWNLOAD SKENARIO FILM FTV

Untuk informasi tambahan, istilah teknis penulisan skenario yang sering dipake, antara lain Cut To, Dissolve, Flash to.

Untuk lebih jelasnya mengenai istilah yang sering digunakan dalam penulisan skenario, silahkan klik

Baca juga : Istilah teknis penulisan skenario film

Silahkan jika ada pertanyaan atau kritik dan saran. Maka komen saja dalam kolom komentar. Saya akan menjelaskan semampu saya.

Terimakasih, semoga bermanfaat.

Jefar Seorang Penulis Imajinasi
WhatsApp chat