Jefar Seorang Penulis Imajinasi

Contoh Naskah Film Pendek durasi 30 menit

15 min read

Skenario Film Pendek Cinta Terlarang

Dalam postingan kali ini, saya akan membagikan contoh naskah film pendek durasi 30 menit, semoga bisa menjadi referensi Anda yang membutuhkan.

Baiklah, inilah…

Contoh naskah film pendek durasi 30 menit

Sinopsis

“Masih Diusahakan” menceritakan tentang kehidupan keluarga seorang kuli panggul dan masyarakat di sekitar pelabuhan yang hidupnya masih berada dibawa garis kemiskinan. Dengan berbagai permasalahan yang sangat umum dialami oleh masyarakat   miskin.   Keadaan   seperti   inilah   yang dimanfaatkan oleh para calon kandidat pemimpin daerah untuk mengambil hati para masyarakat melalui orasi-orasi mereka yang konon katanya “pro rakyat”. Namun itu semua hanya janji manis belaka, karena pada akhirnya kehidupan mereka MASIH DIUSAHAKAN untuk hidup sejahtera oleh para pejabat setempat.

Skenario Film

Scene 1. Ext. Rumah kuli angkut. (pagi) (3 detik) Camera establish rumah kuli angkut secara keseluruhan Sound effect: bunyi ayam berkokok dan kicau burung

Cut to:

 

 

 

Scene 2. Ext. Rumah kuli angkut. (pagi) (5 detik)

 

Cast : Bapak

 

Kuli angkut mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk bekerja di Pelabuhan

Camera long shot from rumah kuli angkut move to close up bapak yang sedang mempersiapkan peralatan untuk berangkat bekerja di pelabuhan. Cut to:

 

 

Scene 3. Int. Rumah kuli angkut. (pagi) (5 detik)

 

Cast: Bapak

 

Camera fade in and long shot to: bapak yang berjalan masuk ke dalam rumah

Cut to:

 

 

 

Scene 4. Int. Rumah kuli angkut. (pagi) (5 detik)

 

Cast :Istri

 

istri sedang mempersiapkan makan pagi di meja makan. Camera close up to: istri yang sedang menata meja makan

Camera move to long shot to meja makan dan close up to makanan. Cut to:

 

 

Scene 5. Int. Rumah kuli angkut. (pagi) (5 detik)

 

Cast : anak

 

Kamera close up ke pintu kamar, kemudian anak keluar dari kamar

 

Kamera move to long shoot anak berjalan ke meja makan.

 

anak sedang sarapan di meja dengan memakai seragam sekolah. Cut to:

 

 

Scene 6. Int. Rumah kuli angkut. (pagi) (7 detik)

 

Cast : anak dan bapak

 

Kamera close up anak, move to close up anak. Dialog:

Anak : bapak, buku tulis ina sudah habis.

 

Camera move to bapak, big close up. Cut to:

 

 

Scene 7. Int. Rumah kuli angkut. (pagi) (7 detik)

 

Cast  : anak dan ibu

 

Camera move and close up ibu

 

Ibu        : pakai saja dulu sisa buku tulismu tahun kemarin, masih bisa dipakai kan?

Camera big close up anak yang tertunduk lesu. Cut to:

 

 

Scene 8. Int. Rumah kuli angkut. (pagi) (5 detik)

 

Camera long shot to ibu yang keluar rumah

 

 

 

Scene 9. Int. Rumah kuli angkut. (pagi) (5 detik)

 

Camera close up to bapak wajah bapak

 

Dialog:

 

Bapak : (menghela nafas panjang) sudah, nanti kalau bapak ada rezeki pasti akan bapak belikan….

Cut to:

 

 

 

Scene 10. Int. Rumah kuli angkut. (pagi) (3 detik) Camera long shot pada bapak dan anak yang sedang makan Voice over : bunyi bel sepeda parjo dari arah luar.

Cut to:

 

 

 

Scene 11. Ext. Di depan rumah. (pagi) (5 detik)

 

Kamera  close  up  parjo  yang  sedang  duduk  di  sepedanya  sambil membunyikan bel sepeda.

Dialog:

 

 

Parjo :met, cepet met, nanti kita gak dapet bagian ngangkut… Cut to:

 

 

Scene 12. Ext. Di depan rumah. (pagi) (5 detik)

 

Cast: istri

 

Cast: Bapak, parjo, istri

 

Kamera shot ibu yang sedang menyapu halaman

 

Dialog :

 

Ibu: pak, si parjo sudah datang pak… Cut to:

 

 

Scene 13. Ext. Di depan rumah. (pagi) (6 detik)

 

Cast: istri, bapak, parjo

 

Camera fade in bapak dari dalam rumah

 

Dialog:

 

Bapak: iya bu’…. bapak berangkat bu… assalamualaikum

 

Istri: hati-hati pak,waalaikumsalam… Cut to:

 

 

Scene 14. Ext. Di depan rumah. (pagi) (3 detik)

 

Cast: parjo dan bapak

 

Camera long shot move to fade out bapak dan parjo dari arah belakang yang berangkat menuju pelabuhan.

Cut to:

 

 

 

Scene 15. Ext. jalan kampung (pagi) (3 detik)

 

Cast: parjo dan bapak

 

Camera statis parjo dan bapak mendekati camera dari arah depan

 

Cut to:

 

 

 

Scene 16. Ext. jalan kampung. (pagi) (3 detik)

 

Cast: parjo dan bapak

 

Camera statis parjo dan bapak mendekati camera dari arah samping

 

Cut to:

 

 

Scene 17. Ext. jalan kampung. (pagi) (3 detik)

 

Cast: parjo dan bapak

 

Camera statis parjo dan bapak menjauhi camera ke depan

 

Cut to:

 

 

 

Scene  18.  Ext.  Di  pematang  tambak  garam  di  samping  baling-baling penggerak turbin. (pagi) (5 detik)

Cast: Bapak dan parjo

 

Bapak dan parjo mengayuh sepeda tuanya di antara tambak garam dengan sebuah tas kain lusuh yang digantungkan di sepedanya. Cuaca terik dengan beberapa baling-baling yang bergerak.

Camera long shot pada keduanya

 

Cut to:

 

 

 

Scene 19: Ext. Pinggir jalan. (pagi) (5 detik)

 

Sound effect: suara deru mobil dan motor di jalan raya

 

Cast: Bapak dan parjo

 

Camera long shot pada bapak yang sedang berbicara

 

Bapak :  sepertinya  kita  sudah  ditakdirkan  jadi  orang  miskin  yah jo..???

Camera move to close up to parjo yang terheran dengan pertanyaan bapak

 

Cut to:

 

 

 

Scene 20: Ext. Pinggir jalan. (pagi) (8 detik)

 

Cast: Bapak dan parjo

 

Sound effect: suara deru mobil dan motor di jalan raya

 

Camera longshot to parjo

 

Dialog:

 

Parjo : yah, mau bagaiman lagi jo, orang miskin yang akan tetap miskin kok di Negeri ini

Camera move to long shot to bapak

 

Dialog:

 

Bapak : mana sekarang si ani minta uang buat beli buku sekolah, mumet ndasku…

Cut to:

 

 

Scene 21 : Ext. tempat parikir pelabuhan (pagi) (5 detik) Sound effect bunyi kapal yang berangkat, keramaian orang. Cast: Bapak dan parjo

Camera long shot to bapak move to parjo yang akan memasuki pelabuhan sambil berbincang-bincang namun tanpa suara.

Cut to:

 

 

 

Scene 22:Ext. pelabuhan (pagi) (3 detik)

 

Sound effect bunyi kapal yang berangkat, keramaian orang. Camera establish pelabuhan termasuk kapal, take all.

Cut to:

 

 

 

Scene 23. Ext. pelabuhan (pagi) (8 detik)

 

Cast : mandor

 

Camera long shoot pada mandor yang sedang sibuk menghitung upah para kuli angkut dengan kalkutor dan buku keuangannya di dekat kapal yang sedang bongkar muat.

Camera move to close up mandor

 

Dialog:

 

Mandor : to, gus, yo, man, kalau sudah, kau ambil upahnya di ruanganku yah…

Camera move to long shot mandor yang berjalan menjauhi kapal. Cut to:

 

 

Scene 23. Ext. pelabuhan (pagi) (10 detik)

 

Camera  move  to  statis  long  shot  pada  bapak  yang  sedang  berjalan mendekati mandor

Bapak : pak, belum ada barang masuk? Camera move to close up to mandor

Mandor: sudah ada dua truk pupuk masuk dari tadi subuh, kau sih tak datang subuh-subuh…

Camera move to close up to mandor

 

Bapak : wah, berarti saya ketinggalan… Camera move to close up to mandor

 

 

Mandor: tunggu saja dulu, nanti siang ada satu truk beras miskin yang datang (sambil melihat buku jadwal).

Cut to:

 

 

 

Scene 24. Ext. pelabuhan (pagi) (3 detik)

 

Camera move to long shot, camera statis mandor yang segera berlalu dari bapak.

Cut to:

 

 

 

Scene 25. Ext. pelabuhan (pagi) (3 detik)

 

Camera move to close up to bapak yang sudah mulai terlihat lelah, move to statis long shot to bapak berjalan menuju kerumunan teman-temannya di emperan bangunan.

 

 

Scene 26. Ext. pelabuhan (pagi) (3 detik)

 

Camera statis long shot from front, shot bapak yang sedang berjalan menemui teman-temannya.

Baca Juga  Contoh Naskah Drama Komedi Singkat (Buatan Sendiri)

Camera move to long shot teman-teman kuli yang sedang beristirahat di emperan bangunan.

Cut to:

 

 

 

Scene 27. Ext. pelabuhan (pagi) (5 detik)

 

Camera long shot pada kuli angkut yang sedang berbincang-bincang dan beristirahat.

Cut to:

 

 

 

Scene 28. Ext. Pelabuhan (siang) (5 detik)

 

Cast : Calon kepala daerah, Asisten Pribadi

 

Calon kepala daerah menunggu mobil jemputan dengan ditemani asisten pribadinya. Calon kepala daerah menggunakan kaca mata hitam dan pakaian yang serba glamour. Sang asisten memegangkan payung untuk melindungi calon kepala daerah dari terik matahari.

 

 

Scene 29. Ext. Pelabuhan (siang) (10 detik)

 

Cast : Calon kepala daerah, Asisten Pribadi

 

Camera  close  up  to  calon  kepala  daerah  yang  sedang  repot  dengan gadgetnya, dengan wajah sinis karena kepanasan.

Dialog:

 

Calon KD: intan, si parman sudah kamu telpon? Lama sekali orang itu, kepanasan saya di sini.

Aspri : sudah bu, parman sedang ada dalam perjalanan katanya.

 

Calon KD: ah, lama sekali orang itu, bisa hitam saya kalau lama-lama berdiri di sini.

Camera move to close up calon kepala daerah. Langsung move to close up

 

to aspri yang sudah tampak kesal dengan omelan si calon kepala daerah. Cut to:

 

 

Scene 30 : Ext. Pelabuhan (siang) (10 detik)

 

Cast : bapak, parjo dan cipto

 

Camera long shot kuli yang sedang duduk-duduk santai di samping gedung pelabuhan, camera move to close up to cipto

Cipto: Jo, jo, jo… Noh calon kepala daerah yang mau jadi pemimpin

 

kampung kita.

 

Camera move to close up parjo yang ingin melihat wajah calon kepala daerah.

Parjo: mana mana to?

 

Cut to:

 

 

 

Scene 31 : Ext. Pelabuhan (siang) (5 detik)

 

Camera long shot from back to bapak yang meninggalkan kumpulan kuli menuju perahu bongkar muat yang baru saja datang

Dialog:

 

Bapak: sudahlah, untuk apa kalian sibuk memikirkan calon kepala daerahitu, belum tentu juga dia yang bakal menjadi pemimpin di kampung kita…

Cut to:

 

 

Scene 32 : Ext. Pelabuhan (siang) (7 detik)

 

Sound effect: suara kapal yang baru datang.

 

Camera long shot to kuli angkut from front, move to long shot from back statis.

Para kuli angkut berjalan menyerbu truk pengangkut beras miskin yang

 

baru datang. Cut to:

 

 

Scene 33 : Ext. Di atas truk beras di pelabuhan (siang) (5 detik)

 

Cast : Bapak, Parjo dan cipto, dan kuli angkut lain

 

Camera longshot to semua kuli angkut di atas truk, move to close up to masing-masing kuli angkut.

kuli angkut mengangkut beras dari truk ke dalam kapal.

 

 

 

Scene 34 : Ext. Di atas truk beras pelabuhan (siang) (5 detik)

 

Cast : Bapak dan kuli angkut lain

 

Camera take from the bottom, long shot.

 

Bapak turun dari truk dan diikuti kuli angkut lainnya

 

Cut to:

 

 

 

Scene 35 : Ext. Di pinggir tepi pelabuhan (siang) (5 detik)

 

cast: bapak

 

camera long shot from back bapak yang berjalan menuju bapak mandor yang sedang berdiri di pinggir pelabuhan.

 

 

Scene 36 : Ext. Di pinggir tepi pelabuhan (siang) (8 detik)

 

Cast : bapak, mandor

 

Camera long shot bapak from front, move to long shot bapak dan mandor. Move to close up tangan bapak yang menerima uang.

Bapak mendekati mandor, lalu mengambil upah kerjanya. Dialog:

Mandor      : iki met, 20 ton berarti 50.000

 

Bapak       : kok hanya 50.000 ribu pak? Bukannya 80.000 ribu?

 

Mandor      :  akhir-akhir  lagi  seret  met,  lagi  sepi  barang,  jadi ongkos kerjanya turun

 

 

Cut to:

 

 

 

Scene 37 : Ext. di pelabuhan (sore) (8 detik)

 

Cast : bapak, parjo

 

Camera long shot to bapak yang mendekati parjo, kemudian long shot keduanya

Dialog:

 

Bapak : Jo, saya balik duluan yah, badan rasanya sakit semua

 

Camera close up to parjo

 

Parjo : oh iya met, awakku se’ kejar setoran iki, utang numpuk di

 

warung bu saliman… Cut to:

 

 

Scene 38 : Ext. Di pelabuhan (sore) (5 detik)

 

Cast: bapak

 

Camera establish pelabuhan lalu long shot bapak yang mengayuh sepeda keluar dari pelabuhan dari samping statis, move to fade out from back.

 

 

Scene 39 : Ext. dijalan raya (sore) (5 detik)

 

Cast : bapak

 

Camera long shot statis bapak yang mengayuh sepeda

 

Bapak mengayuh sepeda diantara ramainya jalan raya

 

Camera long shot statis move to close up dari samping bapak

 

Bapak menoleh pada sebuah baleho salah satu calon kepala daerah yang dilihatnya tadi siang di pelabuhan sambil tetap berjalan….

Cut to:

 

 

 

Scene 40 : Ext. belokan ke jalan kampung (sore) (5 detik)

 

Cast : bapak

 

Camera long shot statis dari depan, move to close up statis samping dan move to long shotfrom back.

Cut to:

 

 

Scene 40 : Ext. belokan ke jalan kampung (sore) (5 detik)

 

Cast: bapak

 

Camera establish jalan kampung dan kondisi sekitar, close up itik atau ayam, long shot bapak yang naik sepeda

Cut to:

 

 

 

Scene 41 : Ext. di depan rumah (sore) (5 detik)

 

Cast : bapak

 

Camera long shot from front bapak yang masuk ke pekarangan rumah. Bapak tiba di depan rumahnya.

Camera Long shoot bapak yang duduk sebentar di kursi rumahnya, move to

 

close up wajah bapak yang sangat lelah. Cut to:

 

 

Scene 42 : Int. Di dalam rumah (sore) (5 detik)

 

Cast : bapak

 

Camera long shot statis to bapak yang keluar dari kamar.

 

Kuli  angkut  baru  selesai  shalat,  memakai  sarung.  Kemudian  menemui istri yang di berada di dalam dapur.

Camera move to long shot from back to bapak

 

Cut to:

 

 

 

Scene 43 : Int. Di dapur (10 detik)

 

Cast : bapak, istri

 

Camera long shot to bapak dan ibu, move to close up bapak

 

Bapak

:

bu’, ini upah kerja ku hari ini, barang kali cukup untuk membeli buku asep dengan melunasi sedikit hutang kita di warung bu salamah. Semoga saja uang untuk ini masih cukup untuk makan kita beberapa hari ke depan. Akhir-

akhir ini jarang ada barang yang masuk pelabuhan.

Camera move to close up to ibu

Istri

:

Ya sudahlah pak, insya allah uang ini bisa cukup. Sudah

 

bapak sekarang istirahat saja dulu.

Cut to:

 

 

Scene 44 : Ext. Rumah Ketua RT (siang) (5 detik)

 

Camera establish rumah pak RT, move to close up to papan Ketua RT.

 

 

 

Scene 45 : Ext. Rumah Ketua RT (siang) (5 detik)

 

Camera long shot to kepala daerah dan asisten yang berjalan menuju rumah ketua RT, move to long shot from front, move to close up tangan yang mengetuk pintu

Cast : Calon kepala daerah, asisten

 

 

 

Scene 46 : Ext. Rumah Ketua RT (siang) (5 detik)

 

Camera long shot to, move to close up to ketua RT yang membuka pintu move to close up calon kepala daerah dan asisten di depan pintu from in.

 

 

Scene 47 : Ext. Rumah Ketua RT (siang) (25 detik)

 

Cast: kepala daerah, asisten, Ketua RT

Camera long shot to kepala daerah, asisten Ketua RT di teras rumah. Camera move to close up to asisten.

 

Asisten

:

Pak, kedatangan kami kemari ingin menawarkan beberapa proyek  yang  akan  kami  jalankan  ketika  kami  telah terpilih mejadi legislatif dari daerah pilihan yang bapak pimpin. Bapak memiliki peran sangat besar dalam

menentukan kemenangan calon kami di Pemilu kali ini.

Camera move to close up to calon kepala daerah

Calon kepala

daerah

:

Dan   perlu   bapak   ketahui,   segala   sesuatunya   ada imbalannya, jadi bapak tidak perlu khawatir.

Pak RT

:

Wah, saya jadi tidak enak hati ini

Camera move to close up asisten

Asisten

:

Tidak  apa  pak,  bukankah  hal  seperti  ini  sudah  biasa

 

terjadi di negara seperti indonesi ini??? Hahahaha

Baca Juga  Contoh Skenario Film Pendek Durasi 3 Menit

Cut to:

 

 

Scene 48 : Ext. Rumah Ketua RT (siang) (10 detik)

 

Cast : kepala daerah, asisten, Ketua RT

 

Camera long shot dari berbagai sisi berbeda pada ketiga orang tersebut yang terlibat percakapan yang sangat asik, sampai akhirnya mencapai kata sepakat

Camera move to close up to tangan yang saling berjabatan tangan, tanda persetujuan tercapai.

 

 

Scene 49. Int. Balai Desa (siang) (5 detik)

 

Camera close up to papan nama balai desa move to establish gedung balai desa.

Cut to:

 

 

 

Scene 50. Int. Balai Desa (siang) (5 detik)

 

Cast : Calon kepala desa, asisten, Pak RT, Penjaga warung, Bapak, Istri

Camera long shot to ruangan yang dipenuhi warga kampung

 

Cut to:

 

 

 

Scene 51. Int. Balai Desa (siang) (5 detik)

 

Cast : Calon kepala desa, asisten, Pak RT, Penjaga warung, Bapak, Istri

Camera close up to tiap-tiap warga kampung

 

Cut to:

 

 

 

Scene 52. Int. Balai Desa (siang) (60 detik)

 

Cast : Calon kepala desa, asisten, Pak RT, Penjaga warung, Bapak, Istri

Semua warga kampung berkumpul di balai desa untuk mendengarkan orasi

 

dari calon kepala desa.

 

Camera long shot to ketua RT yang sedang membuka acara di depan warga, camera move to long shot semua hadirin yang datang. Camera move to long shot dan close ketua RT yang mulai berpidato dengan menggebu- gebu.

Dialog:

 

 

Ketua RT: Asalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Ketua RT: Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

 

 

Scene 53. Int. Balai Desa (siang) (5 detik)

 

Cast : Calon kepala desa

 

Camera close up to calon kepala desa move to long shot to calon kepala daerah yang sedang berjalan menuju podium untuk berorasi

Cut to:

 

 

 

Scene 54. Int. Balai Desa (siang) (2 menit)

 

Cast: Calon Kepala Desa

 

Camera close up pada kepala daerah yang melakukan pidato dan orasi kepada warga sekitar

Dialog:

 

Calon kepala daerah:………………………..

 

Camera move to long shot warga yang mendengarkan pidato calon kepala daerah.

Camera close up pada calon kepala daerah. Dialog:

Calon kepala daerah: sekian pidato dari saya, silahkan kepada para warga yang akan bertanya mengenai visi dan misi yang telah saya sampaikan tadi.

Cut to:

 

 

 

Scene 55, 56, 57, 58, 59, 60. Int. Balai Desa (siang) (1 menit)

 

Cast: semua warga desa

 

Camera long shot warga yang mengajukan pertanyaan lalu move to close up wajah dan tangan.

Warga mengajukan berbagai macam pertanyaan kepada calon kepala daerah

 

mengenai visi misi yang dipaparkan. (pertanyaan kondisional)

 

 

 

Scene 61. Ext. Balai Desa (pagi) (5 detik)

 

Camera long shot to balai desa, move to close up to baleho tentang pemilu, move to long shot warga yang sedang melakukan pemilihan.

Cast : semua warga kampung

 

 

Semua warga kampung melakukan pemilihan

 

 

 

Scene 62. Ixt. Balai Desa (pagi) (8 detik)

 

Camera close up to ibu salamah yang pergi bersama dengan istri kuli angkut, move to long shot yang berjalan meninggalkan balai desa.

Cast : ibu salamah dan istri kuli angkut

 

Dialog:

 

Salamah : tadi coblos siapa bu?

 

Istri kuli angkut: saya mah pilih yang paling nyangkut di hati

 

Salamah : kalau saya sih pilih yang ngasih uang paling banyak sama saya, kemaren saya dapet uang dari pak RT, katanya sih dari bu shinta, ya sudah saya pilih bu shinta atuh…

 

 

Scene 63. Ext. Balai Desa (pagi) (5 detik)

 

Camera long shot to balai desa, move to close up to baleho kemenangan calon kepala daerah

 

 

Scene 64. Ext. Balai Desa (pagi) (5 detik)

 

Cast: semua warga, kepala daerah terpilih, pejabat berwenang

 

Camera longshot to  peserta rapat, move to close up kepala daerah terpilih

Berisi tentang pengambilan sumpah jabatan.

 

 

 

Scene 65. Ext. Pelabuhan (siang) (15 detik)

 

Cast : bapak,  parjo, cipto

 

Camera establish pelabuhan move to long shot 3 kuli, move to close up kuli angkut

Membicarakan tentang kepala daerahyang baru terpilih

 

Dialog:

 

Cipto: wah, si ibu cantik itu sudah terpilih jadi kepala daerah kita Parjo: gimana gak mau kepilih, lah dia sebelum hari pencoblosan aja udah bagi-bagi duit

Camera close up to parjo, move to close up bapak

 

Bapak: hus, jangan ngomong sembarangan

 

Camera close up to parjo

 

 

Parjo: sembarangan gimana? Jelas-jelas istriku dapet cepek

 

Camera close up to cipto

 

Cipto: bener met, si laela istri pak RT malah dapet kalung emas baru buat mempengaruhi warga sini

Camera close up to bapak move to long shot lalu bapak pergi

 

Bapak: sudahlah, buat apa kita memikirkan wakil ketua kita yang seperti itu, hidup kita seperti ini saja belum ada yang memikirkan, kita malah repot-repot memikirkan kehidupan orang macam itu, sudah tidak aneh di negeri ini kejadian seperti itu.

Cut to:

 

 

 

Scene 66. Ext. warung Bu Salamah (sore) (30 detik)

 

Camera long shot to ibu yang berjalan di jalan kampung, menuju warung bu salamah. Camera move to close up from front istri,

Dialog:

 

Istri: bu, rawit dengan bawang putihnya yah… Camera close up to bu salamah:

Bu salamah: mau hutang atau lunas, hutang sama saya sekarang udah ada bunga nya 5% perminggu. Termasuk hutang-hutangmu yang kemaren-kemaren yah, bunga 5% perminggu. Kapan mu bayar?

Camera close up to istri yang terlihat kaget

 

Istri: secepatnya saya bayar bu, kalau ada rezeki…

 

Camera close up to bu salamah yang sedang menimbang-nimbang cabe rawit dan bawang putih

Bu salamah: rezeki rezeki, rezeki mah dicari, bukan ditunggu atuh…

 

Camera close up to istri

 

Istri: iya bu’ saya usahakan, secepatnya saya ganti hutang-hutangnya, Camera close up to bu salamah\

Bu salamah: jangan lupa bunganya juga, nih rawit dengan bawang

 

putihnya, 5000 semuanya

 

Camera close up to tangan istri yang memberikan uang pembayaran yang sudah lecek, camera move to long shot istri from back pergi dari warung, move to long shot statis samping.

Camera move to bu salamah, close up

 

 

Bu salamah: jadi orang kok tetep aja miskin dari jaman suharto sampe jaman sby, tetep aja ngutang mulu.

Cut to:

 

 

 

Scene 67. Int. Rumah bapak (malam) (10 detik)

 

Cast: bapak, istri, anak

 

Sedang makan malam dengan menu tempe dan kecap saja dengan penerangan lampu yang sudah redup.

Camera long shot ruang makan move to close up menu makan malam move to

 

close up to wajah bapak, istri dan anak. Cut to:

 

 

Scene 68. Int. Rumah bapak (malam) (10 detik)

 

Cast : anak

 

Anak mengambil surat peringatan dari sekolah

 

Camera close up to anak yang makan, lalu long shot anak yang masuk ke dalam kamar, close up anak di dalam kamar yang mengambil amplop putih, move to long shot from back, move to long shot from front dari depan meja makan.

 

 

Scene 69. Int. Rumah bapak (malam) (5 detik)

 

Cast : Kuli angkut, istri, anak

 

Camera longshot to anak yang membicarakan mengenai masalah keuangan sekolah yang harus dibayar agar dapat bisa ikut ujian kenaikan kelas. Camera close up to amplop putih yang diberikan anak kepada bapak, camera move to close up wajah bapak dan istri, camera move to close up surat

Cut to:

 

 

 

Scene 70. Int. Rumah bapak (malam) (15 detik)

 

Cast : kuli angkut dan istri

 

Istri sedang memegang banyak nota tagihan dan membicarakan masalah keuangan keluarga mereka yang semakin terhimpit

Camera long shot to ibu yang duduk di pinggir ranjang dengan memegang nota tagihan pembayaran. Camera move to close up to nota-nota tagihan.

 

 

Baca Juga  Contoh Skenario Film Pendek lucu 2 Orang (18++)

Dialog: bagaimana ini pak? Keuangan kita semakin sulit, hutang-hutang kita semakin menumpuk, tagihan air, listrik, uang sewa rumah masih belum sempat kita bayar, sekarang si ani minta uang bayaran sekolah? Uang dari mana kita bisa membayar uang sebanyak itu pak?

camera  move to close  up  anak  di  luar  kamar  yang  mendengarkan

 

pembicaraan ibu voice over :

ibu: sekarang ani minta uang bayaran sekolah? Uang dari mana kita bisa membayar uang sebanyak itu pak?

Bapak: bapak juga memikirkan itu bu’, bagaimana caranya kita bisa membayar uang tagihan sebanyak itu. Besok bapak coba pinjam pak mandor di pelabuhan saja bu, semoga saja pak Nyoto bisa membantu….

Camera move to long shot bapak yang menenangkan istri

 

 

 

Scene 71. Int. Kantor Mandor (Siang) (10 detik)

 

Cast : Mandor, Bapak

 

Camera longshot bapak yang berjalan menuju ruang mandor from front, camera longshot bapak from back, camera long shot from front di depan mandor. Camera move to close up mandor.

Mandor: ada apa met? Tumben masuk ruangan saya… Camera close up to bapak

Bapak: begini pak, saya sedang mengalami masalah keuangan, apa saya bisa pinjam uang sebanyak 1.5 juta…???

Camera close up mandor:

 

Mandor:  wah,  kalau  segitu  saya  mah  belum  ada  met.  Kamu  kan  tahu sendiri kalau sekarang juga sedang sedikit barang masuk.

Camera long shot Kuli angkut keluar dari ruangan

 

Cut to:

 

 

 

Scene 72. Int. Rumah Bapak (sore) (5 detik)

 

Camera establish rumah kuli angkut, move to long shot kamar anak, long shot dan close up anak yang sedang sakit

Cast: anak

 

Anak sedang sakit karena terbebani dengan urusan keuangan keluarganya.

 

 

Scene 73. Int. Rumah Bapak (sore) (5 detik)

 

Camera long shot pintu kamar, kemudian ibu masuk, long shot ibu yang membawa baskom untuk mengkompres anaknya yang sedang demam

Cast: anak dan ibu

 

Camera long shot ibu yang sedang mengkompres anak yang sakit

 

Ibu: cepat sembuh yah ndok

 

 

 

Scene 74. ext. Rumah Bapak (sore) (5 detik)

 

Camera long shot bapak yang baru datang dari pelabuhan, move to long shot statis bapak yang memarkir sepeda sampai duduk istirahat di kursi teras.

Cast : bapak

 

 

 

Scene 75. Int. Rumah Bapak (sore) (15 detik)

 

Camera long shot bapak yang sedang beristirahat di teras rumah move to longshot ibu yang keluar dari rumah.

Voice over suara ibu: pak, si ani sakit, badannya demam tinggi

 

Camera close up wajah bapak yang menoleh ke arah ibu, close up wajah ibu

Dialog:

 

Bapak: bagaimana keadaanya sekarang? (sambil berjalan masuk ke dalam rumah)

Camera long shot bapak dan istri.

 

 

 

Scene 76. Int. Rumah Bapak (sore) (10 detik)

 

Camera long shot anak, bapak dan istri

 

Camera close up bapak

 

Dialog:

 

Bapak akan membawanya ke puskesmas sekarang bu

 

Ibu: tapi kita dapat uang dari mana pak untuk membayar dokter dan membeli obat?

Bapak: sudahlah, itu urusan nanti, yang jelas ani harus ditangani segera

Camera long shot bapak anak dan istri

 

 

Scene 77. ext. jalan (sore) (5 detik)

 

Cast : bapak, anak

 

Camera long shot pada bapak yang membonceng anaknya yang sedang sakit, camera close up wajah bapak yang panik, move to wajah anak yang sudah pucat. Camera long shot pada keduanya from back and statis.

kuli angkut membawa anaknya ke puskesmas

 

 

 

Scene 78. Ext. puskesmas (sore) (5 detik)

 

Camera establish puskesmas, camera move to long shot bapak dan anak yang baru sampai di puskesmas

 

 

Scene 79. Ext. puskesmas (sore) (5 detik)

 

Camera long shot ruang puskesmas,  move to close up dokter sedang memeriksa anak. Camera move to close up bapak yang semakin cemas

 

 

Scene 80. Ext. puskesmas (sore) (15 detik)

 

Camera long shot to meja dokter, camera close up to dokter.

 

Dokter:  maaf  pak,  dari  hasil  pemeriksaan  saya  tadi  anak  bapak sepertinya mengalami gangguan pada livernya

Camera close up wajah bapak: Bapak: liver?

Camera long shot to mereka berdua:

 

Saya tidak tahu pasti sejak kapan penyakit liver ini mulai berkembang, yang jelas sudah cukup lama, namun maaf pak, puskesmas tidak bisa melayani dan merawat anak bapak karena kami kekurangan peralatan, sudah lama puskesmas mengajukan permohonan peralatan kepada kepala daerah yang baru, namun belum ada tindakan pak. Kalau bapak mau, puskesmas bisa buatkan surat rujukan untuk bapak pergi ke rumah sakit pusat

 

 

Scene 81. Ext. puskesmas (sore) (25 detik)

 

Camera long shot bapak dan anak yang keluar dari ruangan. Move to camera close up saat bapak dan anak mulai menaiki sepeda, move to longs shot plang puskesmas yang sudah mulai rusak dan kotor. Move to

 

 

long shot bapak anak di perjalanan. Camera close up wajah bapak yang sangat sedih.

Voice over dokter:

 

Kalau bapak bersedia, kami dari puskesmas bisa membantu membuatkan surat rujukan untuk bapak pergi ke rumah sakit di kota. Namun, untuk masalah biaya kami tidak dapat membantu apa-apa. Karena penanganan penyakit liver sangatlah susah, dan biaya nya pun juga pasti sangat mahal. Untuk sementara, kami hanya bisa memberikan obat penghilang rasa sakit untuk anak bapak.

 

 

Scene 82, 83, 84, 85, 86. Int. Di rumah kuli angkut (malam) (@8 detik)

 

Cast : bapak, istri dan anak

 

Keluarga merawat anaknya di rumah karena tidak dapat membawanya ke rumah sakit karena tidak mampu membayar pengobatan.

(scene berulang)

 

 

 

Scene 87. Ext. pemakaman. (sore) (10 detik)

 

Cast: bapak

 

Camera long shot to bapak yang berjalan menuju makam, tangan kanan membawa bunga. Camera close up to batu nisan, long shot to bapak. Close up bapak yang berbicara.

Dialog:

 

Bapak: maafkan bapakmu ini nak, maafkan bapak, gara-gara bapak kamu seperti ini, maafkan bapak yang tidak bisa merawatmu dan menjagamu….

 

 

Scene 88. Int. Rumah Kepala daerah terpilih (pagi) (20 detik)

 

Camera long shot pada rumah kepala daerah, lalu close up pada plang di

 

pagar yang bertuliskan “rumah ini disita oleh KPK”

 

 

 

Scene 89. Int. Warung makan (pagi) (10 detik)

 

Cast : parjo, bu salamah, bu saniman, cipto

 

Camera long shot warung, lalu close up bu saniman.

 

Bu saniman: nih lihat koran hari ini, tiga bulan diangkat langsung bertingkah. Kepala daerah yang baru itu ditangkap KPK karena sudah

 

 

menyelundupkan dana untuk pengadaan barang-barang kesehatan di puskesmas.

Camera close up to parjo

 

Parjo: mangkanya jadi pemimpin itu jangan kalap dunia, baru jadi kepala daerah sudah biru matanya melihat uang-uang setumpuk.

Camera close up to cipto:

 

Cipto: bukan hanya kerena korupsi saja, dia juga ditangkap karena waktu kampanye si ibu’ bagi-bagi uang, istilah kerennya mah money politik.

bu salamah: hahahaha… kalau masalah money politik saya mah juga dapat pembagian uang itu, lumayan dapat 200 ribu…

bu saniman: tapi saya kasian dengan keluarga pak slamet, kasian mereka harus kehilangan anak mereka gara-gara puskesmas gak mampu mengobati penyakit liver si ani.

Cipto: Itu mah semua gara-gara si ibu’ yang korupsi dana puskesmas

 

atuh…

 

Camera move to close up to koran, close up to headline. Close up to foto ibu kepala daerah yang ditangkap KPK.

 

 

Scene 90. Ext. Baleho Kampanye (siang) (10 detik)

 

Voice over: suara kepala daerah terpilih saat melakukan kampanye dan membacakan visi misinya. Kemudian ada efek pemberian cap stempel yang bertuliskan “Masih Diusahakan”.

Camera :Close Up pada setiap tulisan visi misi, move to Close Up pada tangan yang menstempel baleho tesebut, big close up to stempel “masih diusahakan” yang berwarna merah.

 

 

Scene 91. Closing (10 detik)

 

Camera close up pada tulisan “masih diusahakan”

 

Sound effect:-

Demikian artikel tentang contoh naskah film pendek durasi 30 menit semoga bermanfaat

Jefar Seorang Penulis Imajinasi
WhatsApp chat