Kancil Mencuri Timun, Cerita Rakyat Jawa Timur

Alkisah Rakyat ~ Pagi yang cerah, matahari bersinar dengan indahnya. Pak Tani bernagkat ke sawah dengan riang gembira sembari memanggul cangkul.


“Aku akan memeriksa kebun timunku, barangkali besok sudah bisa dipanen,” demikian gumam Pak Tani.

Tetapi.... sesampainya di kebun timun... Alangkah kagetnya Pak Tani. Buah timun dikebunnya banyak yang rusak.

“Aduh ! Siapa yang merusak kebun timunku ini. Mengapa harus dirusak, kalau mau ambil boleh saja tinggal ambil aku bukan petani yang pelit.”

Dengan hati muram, Pak Tani pulang ke rumah. Ia menduga-duga hewan apakah yang suka buah mentimun.

“Ha.....pasti! Kancil,” gumam Pak tani. Pak tani mencari akal untuk menjebak Kancil lalu ia membuat orang-orangan yang diberi perekat yang sangat kuat.

Menjelang sore orang-orangan itu sudah selesai dan dibawa ke tengah kebun timun untuk di pasang.

“Aku tahu Kancil hewan yang cerdik. Ia akan mengejek orang-orangan ini... tapi rasakan nantinya,” pikir pak tani.

Benar saja, malam harinya Kancil mendatangi di kebun itu. Ia tertawa sinis melihat adanya orang-orangan itu.

“Cuma orang-orangan, siapa yang takut?”

Lalu Kancil melintasi orang-orangan itu. Dan kini dia makan buah timun yang muda-muda. Ternyata tidak banyak yang dimakan Kancil, hanya tiga buah timun ia sudah merasa kenyang. Ia juga tidak merusak buah timun yang lain.

Puas makan timun, Kancil lalu menghampri orang-orangan, sifat jailnya kambuh, ia pukul orang-orangan itu dengan kaki depannya.

“Aduh ! Kenapa kok melekat !” pekik Kancil kaget !

“Hai orang-orangan itu hanya diam saja. Kancil memukulkan kaki depannya yang satu lagi.

“Plak !” kini kedua kaki depannya melekat erat di baju orang-orangan. Perekat yang di pasang di baju orang-orangan itu sangat kuat. Kancil tak bisa melepaskan diri, semalaman ia menangis.

Pagi harinya, Pak Tani datang membawa pentung. “Ha ini dia biang keroknya, Kutangkap kau !”

“Cil kau boleh makan timunku tapi jangan kau rusakkan buah yang lain.”

 “Ampun Pak Tani bukan aku yang merusak buah timunmu. Aku Cuma memakan dua atau tiga buah saja, kok!”

Pak tani tak percaya omongan Kancil, ia ikat leher si Kancil dan diseret pulang ke rumah.

Di rumah Pak Tani, Kancil diletakkan di dalam kurungan ayam. 

“Batu ini cukup berat, tak mungkin kau bisa meloloskan diri, aku akan pergi ke pasar untuk beli bambu sate.”

“Ampun Pak Tani aku jangan di sate !” rengek si Kancil.

Pak Tani pergi ke pasar, pada saat itu ada seekor Anjing mendatangi kurungan si Kancil.

“Cil, kenapa kau dikurung begitu?” Tanya si Anjing.

“Lho ? Apa kau tidak tahu Njing?” Kancil balas bertanya.

“Katakan ada apa cil?”

“Begini Njing, aku ini akan diambil menantu oleh Pak Tani. Makanya sekarang Pak tani pergi ke pasar untuk membelikan baju dan makanan yang lezat - lezat untukku.” 

“Wah kau nggak pantas cil. Tubuhmu kan kecil lebih baik aku saja yang menggantikanmu jadi menantu Pak Tani.”

“How.....kok enak, sudah sana pergilah anjing !”

Anjing tiba-tiba menggereng marah. “Kancil, kalau kau tak mau kugantikan sekarang juga batu di atas kurungan akan kudorong dan lehermu akan kugigit sampai putus !”

“Wah jangan begitu dong!” Mau apa tidak?”

“Baik.....baik, terpaksa aku turuti kemauanmu.”

Anjing mendorong batu hingga jatuh kurungan di buka, Kancil keluar sedangkan Anjing masuk ke dalam kurungan.

“Selamat jadi menantu Pak Tani tuan Anjing....!” kata Kancil sembari berlari kencang.

Sesaat kemudian Pak Tani datang. Ia kaget bukan kepalang melihat Kancil yang berada di kurungan berubah menjadi seekor Anjing.

“Hormat pada calon mertua,” kata Anjing,” Kancil memberikan haknya sebagai calon menantu Pak Tani kepada saya si Anjing yang gagah perkasa.”

“Terus......mana si Kancil ?” tanya pak tani

“Sudah pergi ke hutan Pak Tani !”

“Kamu mau jadi menantuku?”

“Benar Pak Tani... jawab Anjing dengan gembira.

“Sekarang keluarlah dari kurungan, lalu duduklah yang manis dan pejamkan matamu, aku akan memanggil putriku di dalam rumah.

Anjing menunggu dengan hati yang berdebar. Pak Tani muncul kembali, tapi bukan dengan putrinya, melainkan dengan pentungan.

“Nih hadiah untukmu!” teriak pak tani, sembari memukul kepala dan punggung si Anjing itu.

“Ampuuuun......!”

Anjing menjerit dan melarikan diri sambil membawa dendam, karena merasa di tipu oleh si Kancil. “Awas kau ya Kancil, jika ketemu langsung kugigit kau !”

Kancil sudah sedari tadi berlari kencang, namun karena jalannya lambat maka dalam beberapa saat saja anjing sudah bisa menyusul di belakangnya.

“Wah..... gawat, anjing sudah berada di belakangku,” kata si Kancil dalam hati. “Aku harus sengaja bersembunyi.”

Anjing sangat marah karena di tipu oleh Kancil, setelah dipukuli Pak Tani, anjing lari mengejar si Kancil.

“Hai Kancil kurang ajar, tunggu aku, kugigit kakimu !”

“Lho...? Kok marah, kau sendiri kan yang minta di ambil untuk menjadi menantu Pak Tani?” sahut si Kancil sembari mempercepat larinya. Begitulah akal bulusnya si Kancil selalu membuat suatu taktik agar dirinya bisa selamat dari kecelakaan.

Oleh 
Yudhistira Ikranegara

Belum ada Komentar untuk "Kancil Mencuri Timun, Cerita Rakyat Jawa Timur"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel