Sipakpak Kunal Dan Nagai Sori

Alkisah Rakyat ~ Pulau Raja ialah sebuah kota kecil di kabupaten Asahan. Dahulu kala kota ini lebih besar dan ramai. Menurut yang empunya cerita kira-kira pada abad yang ke-17 disini memerintah seorang raja yang bernama "RAJA MARGOLANG."


Hubungan Raja Margolang dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya baik sekali. Bahkan dengan Raja Haroharo, yang bersemayam di Porsea, dekat Balige, ia mempunyai hubungan kekeluargaan. Saudaranya yang perempuan adalah permaisuri Raja Haroharo.

Pada suatu hari Raja Margolang mengadakan pesta besar diistananya untuk merayakan kelahiran seorang puterinya. Di sepanjang jalan dan di depan rumah didirikan gaba-gaba. Panggung-panggung dibangun di depan istana untuk tempat pertunjukan permainan rakyat dan aneka ragam bunyi-bunyian. Seluruh negeri bergembira. Para pemuka daerah-daerah sekitar Pulau Raja diundang ke peralatan besar itu.

Juga Raja Haroharo dan Permaisurinya tidak ketinggalan menyemarakan pesta itu. Bersama mereka ikut puteranya yang masih kecil, "NAGA SORAI," dan sejumlah menteri dan pembesar negeri.

Sebagaiamana biasa pada pesta-pesta kerajaan, pada jamuan agung yang diadakan untuk para tamu, kedua belah pihak memberikan kata-kata sambutan.

Dalam pidatonya Raja Haroharo mengingatkan bahwa antara kedua keluarga raja sejak dulu terjalin hubungan yang erat dan mesra. Mereka selalu berkiriman berita dan bingkisan sebagai tanda persahabatan dan kekeluargaan. Peralatan kedua keluarga selalu disemarakkan oleh utusan-utusan kerajaan yang diundang. Pada akhir pidatonya Raja Haroharo mengharapkan semoga Raja Margolang berkenan mengawinkan puterinya itu kelak dengan putera Haroharo, Naga Sorai.

Dalam kata sambutannya Raja Margolang  menekankan bahwa sejak dahulu kala Raja Haroharo bersahabat dengan dia dan setia padanya, baik dalam waktu susah maupun dalam waktu senang. Hubungan akrab antara kedua kerajaan dipererat lagi karena adanya tukar-menukar barang dagangan antara keduanya. Garam ke Haroharo. Sebaliknya Pulai  Raja menimpor kuda, ternak lainnya dan budak dari Haroharo.

Raja Margolang selanjutnya menunjuk pada keberuntungan rakyat yang tinggal di pesisir Danau Toba. Mereka selalu diberkati iklim yang baik dan air yang jernih. Tidak mengherankan penduduk daerah ini selalu dalam keadaan sehat dan mempunyai otak yang cerdas. Dipunjinya watak rakyat KHaroharo yang jujur dan selalu berterus terang. Pada akhir sambutannya Raja Margolang mengharapkan agar pada waktu yang akan datang para menteri dan pembesar kerajaannya akan lebih banyak berkesemapatan istirahat di Danau Toba untuk menyegarkan rohani dan jasmani mereka.

Sebelum Raja haroharo kembali ke Porsea, disepakati bahwa Nagai Sori kelak akan mempersunting puteri Raja Margolang. Dengan begitu hubungan kekekluargaan antara kedua kerajaan akan bertambah akrab lagi. Sebagai emas kawin Nagai Sori kelak akan membawa sebentuk cincin emas dan sebuah batu keemasan.

Ketika sampai waktunya Nagai Sori akan dikawinkan, ibundanya berkata kepadanya.

"Ananda, puteri Raja Margolang sekarang sudah besar. Jumpailah calon mertuamu, kakandaku itu, dan pinang puterinya. Ayahandamu sendiri tidak dapat menyertaimu, sebab kesehatannya agak terganggu, sedang perjalanan begitu jauh."

"Bunda, ananda tidak mengenal calon mertua ananda, begitu pula permaisurinya. Ananda khawatir mereka tidak bersedia menerima ananda nanti.

Permaisuri Haroharo mengeluarkan sebuah cincin emas dan batu keemasan, dan meletakkannya di depan Nagai Sori. Kemudian dimintanya suaminya bicara.

"Ananda," demikian Raja haroharo, "ketika ananda masih kecil, ananda kami bawa menghadiri pesta besar yang diadakan Raja margolang untuk merayakan kelahiran puterinya. Ketika itu kami sepakat, bahwa bila puterinya itu sudah dewasa, ananda akan mempersuntingnya. Disepakati pula bahwa ananda akan membawa dan memperlihatkan cincin dan batu keemasan ini, bila ananda datang meminang> Ananda akan diterima di istana bila barang-barang ini ananda perhatikan. Cincin dan batu ini mempunyai tenaga gaib. Jangan ceritakan rahasianya kepada siapapun, nanti ananda dibunuh dan dirampok orang dalam perjalanan."

Lalu dijelaskan baginda khasiat cincin dan batu itu. Dalam bahasa Batak cincin itu dinamakan "tintin tumbuk" yang berarti cincin yang cocok. Keistimewaaannya ialah bahwa cincin itu cocok dipakai pada semua jari, siapa pun pemakainya. Batu itu disebut dalam bahasa Batak "pungga haomasan." Besarnya seperti kotak korek apai. Khasiatnya, semua makhluk hidup yang menjilatnya tidak akan pernah merasa haus, betapapun panasnya hari atau jauhnya orang berjalan. Jadi batu itu sangat berguna bagi orang yang bekerja keras atau melakukan perjalanan jauh.

Sesudah baginda menjelaskan semuanya dan khasiat kedua barang ajaib itu diuji, dipanggillah seorang ahli nujum. Ia harus "melihat langkah" Nagai Sori artinya menentukan hari dan waktu yang paling baik untuk memulai perjalanannya.

Yang akan mengiringkan Nagai Sori ialah beberapa pembesar negera dan anggota keluarga serta budak-budak. Seorang budak pilihan, SIPAKPAK KUNAL, yang akan menjadi pengawal, serta seorang penunjuk jalan melengkapi rombongan.

Sesudah segala persiapan rampung, pada hari dan waktu yang ditetapkan berangkatlah rombongan dari istana. Raja Haroharo mengantarkan rombongan sampai di batas kerajaannya.

Perjalanan yang jauh itu dilakukan sepanjang Sungai Asahan yang berasal dari Danau Toba di Porsea. Terkadang mereka melalui hutan belantara dan mengikuti jalan-jalan setapak. Semuanya berlangsung dengan aman tanpa sesuatu gangguan.

Setibanya dekat Pulau Raja, rombongan bermalam dalam perahu di pinggir sungai. Malam itu Siapakah Kunal, budak pengawal rombongan, tidak bisa tidur. Matanya merenung gemerlapan bintang-bintang di langit dan kegelapan belantara yang mengelilingi mereka. Ia gelisah karena diganggu pikiran-pikiran buruk. Ia ingin berontak, supaya tidak trus-menerus menjadi budak. Ia ingin merdeka dan menjadi raja. Sambil memejamkan matanya ia melamun.

"Menurut cerita ayahku, dahulu dia seorang raja yang sangat berkuasa. Leluhurnya ialah Sahangmataniari.ku hampir-hampir tak mengenal ayahku, sebab ketika ia mati, umurku belum sampai 10 tahun."

"Ketika ayah masih hidup, ia selalu mengatakan bahwa ia keturunan bangsawan dari marga Borbor. Ia menceritakan bahwa antara daerah kekuasaannya dan kerajaan Haroharo terjadi sengketa yang menimbulkan peperangan. Anggota-anggota keluarga ayah sebagian besar menyingkir ke arah Timur. Tinggal ayahku sendirian dibantu oleh marga Aritonang melawan musuh yang kuat. Ayah harus berjuang untuk mempertahankan haknya. Ia terus menolak untuk berdamai dengan syarat-syarat yang sangat menghinanya. Namun ia harus menyerah menghadapi musuh yang lebih kuat dan lebih besar jumlahnya. Ia ditangkap, lalu dijadikan budak."

"Ibu menceritakan sebelum ia meninggal bahwa ayah matidibunuh. Musuh-musuh ayah ingin menyembunyikan sebabnya ayah menjadi budak. Tetapi aku mengetahuinya juga."

"Juga ibuku masih muda sekali ketika ia meninggal. Konon ia diracuni orang."

"Alangkah kejamnya!" teriak Sipakpak Kunal tiba-tiba sambl meninju pendayungnya dengan marah.
Seluruh rombongan tersentak bangun dan saling bertanya, "Bunyi apa itu?"

"Aku bermimpi berkelahi dengan harimau," jawab Sipakpak Kunal menjelaska, sambil berbaring lagi.

Sesudah yang lain-lainntertidur kembali, Sipakpak Kunal meneruskan lamunannya dan berkata pada dirinya sendiri.

"Sekarang umurku sudah hampir 40 tahun dan aku masih belum kawin. Aku tak punya uang, tak punya apa-apa. Aku serupa kerbau yang setiap hari menarik gerobak tuannya dan harus banting tulang untuk tuannya."

"Apa sebenarnya perbedsaan antara diriku dengan Nagai Sori? Tidak ada, sedikit pun tidak ada! Hanya dalam soal pendidikan. Dia dididik untuk mengenai undsang-undang, untk sanggup bertindak sendiri, untuk memimpin dan meemrintah. Aku diajar menjemur dan menumbuk padi, memasak, memelihara kuda, memncing dan harus selalu hormat dan patuh. Hanya karena ayahku kalah perang aku sekarang menjadi budak."

"Dalam perahu ini akulah yang paling kuat,. Dengan tinju dan ototku yang keras siapa saja bisa kuhancurkan! Nah, sekarang baiklah kulemparkan mereka semua ke dalam sungai supaya hatiku puas, dan aku akan ganti pakaian. Akulah sekarang yang menjadi anak raja. Aku akan memakai pakaian Nagai Sori dan meminang puteri Raja Margolang. Tapi siapa yang mau menjadi saksi, bila akau harus buktikan bahwa aku Nagai Sori? Apalah Raja Margolang akan percaya?"

"Alangkah hebatnya rencanaku!"

Tiba-tiba Sipakpak Kunal tertawa terbahak-bahak. Dipeluknya seorang tukang dayung yang disangkanya puteri yang akan dikawininya. Tawanya yang keras membangunkan semua anggota rombongan. Masih setengah mengantuk mereka memandang Sipakpak Kunal dan bertanya, "Teriakan apa itu?"

"Aku melihat ikan besar yang mau menyerang perahu kita. Kupukul dengan pendayung ini sambil berteriak keras-keras, lalu ia menghilang!"   "Untunglah kau waspada" kata Nagai Soi. Karena belum puas tidur, semua anggota rombongan terlena lagi. Tak lama kemudian semuanya mendengkur kembali.

Menjelang fajar Sipakpak Kunal melepaskan tali penambat perahu dan perahu itu dikayuhnya ketengah sungai. Anatara seperempat jam anggota rombongan yang masih tidur nyenyak itu dilemparkannya seorang demi seorang ke dalam air. Setiap kali seseorang sudah masuk sungai, perahu itu cepat-cepay didaynungnya ke hulu, sehingga tidak terkejar oleh orang itu yang hanyut ke hilir.

Untunglah semua anggota rombongan pandai berenang, sehingga dapat mencapai daratan dengan selamat. Ketika matahari terbit, Nagai Sori terbangun. Melihat Sipakpak kUnal sendirian ia bertanya, "Mana kawan-kawan kita?"

"Sudah kelemparakan kedalam  air!" jawab Sipakpak Kunal singkat. Lalu diletkakannya dua belah pedang tajam dan berkilat antara mereka sambil berkata,

"Sekarang kita harus berduel memperebutkan puteri!"

"Apa? Berduel? Memperebutkan puteri? Kau tidak ada urusan dengan puteri. Ia anak calon mertuaku!"

"Diam!" teriak Sipakpak Kunal. "Jangan bicara juga, nanti kupulaskan batang lehermu! Sebenarnya kau dapat kubunuh selagi kau tidur tadi, tapi aku tidak mau. Kita sama-sama berdarah bangsawan, sebab itu aku tidak mau menikammu dari belakang. Sekarang ambil pedang ini, kau kutantang berkelahi. Nyawamu atau nyawaku! Dan puteri taruhannya!"

"Beri aku waktu berpikir," jawab Nagai Sori sambuil menyapu-nyapu matanya. "Aku tidak takut perang tanding dengan kau, sekalipun badanmu lebih besar, kau lebih sehat dan lebih pandai berkelahi. Aku lebih suka mati sebagai ksatria daripada begitu saja menyerah. Tapi, marilah kita bicarakan persoalan ini dengan tenang. Duduklah lebih dekat kesini, simpan pedang itu. Percayalah, aku tidak akan menyerangmu secara curung. Kita tidak pernah bermusuhan."

Sebagaimana biasa mereka duduk bersama-sama makan sirih. kemudian Sipakpak Kunal mulai menceritakan apa yang dipikirkannya malam itu. Mendengar kisah budaknya, tahulah Nagai Sori bahwa tidak ada yang dapat menghalanginya menjalankan rencananya yang nekat-nekatan. mata Sipakpak Kunal memancarkan sinar fanatik yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Lalu ia berkata dengan nada ksatria.

"Baiklah, kalau tekadmu sudah bulat, aku bersumpah akan membantumu melaksanakan cita-citamu. Sejak saat ini kita bertukar nama dan pakaian sebagaimana yang kau inginkan. Kau menjadi Nagai Sori dan aku Sipakpak Kunal. Kau 'kan tahu, puteri Raja Margolang hanya kulihat ketika aku masih anakpanak. Jadi tak mungkin aku cinta padanya. Orang tuankulah yang mengatakan bahwa dia calon isteriku, lain tidak. Dan kami pun belum pernah benar-benar bertemu sebagaimana lazimnya pada permulaan pertaringan. Kau rupanya cinta padanya, megapa aku akan menghalang-halangimu untuk menjadikannya isterimu! Tapi aku sangat menyayangkan bahwa kawan-kawan kita kau perlakukan begitu kejam, hanya supaya mereka tidak dapat menjadi saksi dari kejahatanmu.Sekiranya kau lebih dulu mempercayakan rencanamu kepadaku, kekejaman ini tak perlu kau lakukan. Tapi syukur, karena mereka semuanya tidak bersalah, tidak seorangpun mati diterkam buaya. Semuanya selamat sampai di darat. Lihat, itu yang penghabisan kau lemparkan, yang berdiri di tebing itu dan memandangi kita!".

Selesai mereka bertukar pakaian, pelayaran pun diteruskan. Nagai Sori yang sekarang berperan sebagai budak, harus mendayung perahu.etapi karena tidak biasa mengerjakannya, perahu itu berputar-putar di tempatnya. Terpaksalah Sipakpak Kunal, "anak raja" yang baru menjelma itu, mengambil pendayung untuk mengayuh perahu ke tujuannya.

Sesampainya di kerajaan Raja Margolang, mereka tidak berhenti di dermaga yang biasa disinggahi. Mereka khawatir rakyat Raja Margolang akan heran melihat seorang yang berpakaian "anak raja" mendayaung perahu, sedang budaknya duduk berpangku tangan. Sebab itu mereka mencari tempat yang sunyi untuk uturun ke darat.

Seluruh badan Nagai Sori dilumuri semacam getah kayu, kemudian ditaburi arang. Sekarang rupanya sama hitamnya dengan seorang Habsyi atau Negro. Pakaiannya disana sini dilumuri lumpur, sehingga tampangnya sekarang serupa budak.

Menjelang tengah hari keduanya sampai di istana Raja Margolang. Kedatangan mereka disambut oleh Menteri Dalam Negeri. Tidak lama kemudian Raja Margolang dan Permaisurinya berkenan menerima mereka. Sesudah mengucapkan selamat datang, Raja Margolang berkata.

"Ananda Nagai Sori, kami sebenarnya sudah lama menantikan kedatangan anda."

"Hasil panen kami tahun ini luar biasa banyaknya, mertuaku," demikian jawaban Sipakpak Kunal yang sekaranag berlagak sebagai Nagai Sori. "Lama kami baru selesai dengan menunai, menjemur dan menumbuk padi."

Nagai Sori yang sekarang berperan sebagai Sipakpak Kunal, duduk dengan takzim di belakang "tuannya" Ketika didengarnya jawaban yang tidak pada tempatnya itu, ia pun bersiap-siap mohon bicara dengan lebih dulu melakukan sembah. Dirapatykannya kedua tapak tangannya, diangkatnya 7 kali ke atas kepalanya sebagaimana dilakukan bila hendak bicara dengan seorang raja. kemudian, sambil membungkuk iapun bicara dengan hormat dua kata."

"Tuanku Syah Alam, ampun beribu-ribu ampun! Mohon patik mengucapkan sepatah dua kata."

"Bicaralah!" ujar Raja Margolang yang dalam hatinya heran melihat sikap budak yang beradat itu.

"Tuanku, ampun beribu-ribu ampun! Lambatnya kedatangan menantu Tuanku disebabkan oleh lamanya adinda Tuanku, Permaisuri Haroharo, gerin(sakit). Sekian persembahan patik." 
   
"Bagus! Bagus!" teriak Sipakpak Kunal yang berlagak sebagai Nagai Sori. "Budak ini, mertuaku, lebih banyak pengakamannya dan lebih pintar bicara daripada aku. Namanya Sipakpak Kunal!"

Tidak lama kemudian kepala rumah tangga istana memberitahukan bahwa santapan siang sudah tersedia.

Raja, Permaisuri, tamunya dan beberapa orang menteri berangkat ke ruang makan untuk santap siang bersama. Sewaktu santapan berlangsung, Raja Margolang mendengarkan laporan tentang kesehatan adiknya, Permaisuri Haroharo dan keadaan dalam negeri kerajaan iparnya.

Selesai santap, sidang kerajaan diteruskan di balai ruang, dihadiri oleh semua kerabat Raja dan para pembesar kerajaan.

"Coba beriathukan," demikian sabda Baginda kepada Nagai Sori palsu alias Sipakpak Kunal, "apa sebenarnya hajat ananda datang kesini."

"Mertuaku," jawab Sipakapak Kunal, "aku dikirim ibuku untuk meminang anak tuanku yang sekarang sudah dewasa."

Para hadirin berpandangan dengan heran mendengar pilihan kata-kata yang tidak sesuai dengan adat- istiadat kerajaan itu. Namun Raja Haroharo seolah-olah tidak peduli. Ia bertanya lagi.

"Apakah Baginda Raja Haroharo tidak emmpunyai pembesar-pembesar kerajaan yang patut diutus untuk menyampaikan hasrat Baginda kepada kami, sesuai dengan adat-istiadat lama? Mengapa ananda sendiri yang harus menyampaikannya?"

Nagai Sori yang sejak tadi duduk dengan tak lazimnya dibelakang "tuannya,"sekarang mohon bicara karena khawatir "tuannya" akan salah bicara lagi.

"Tuanku Syah Alam, ampun bdribu-ribu ampun." katanya sesudah melakukan sembah sebagaimana mestinya, "dalam rombongan ananda sebenarnya ikut 7 orang pembesar kerajaan Haroharo. Tetapi malang tak dapat ditolak, mereka mendapat musibah dan menemui ajalnya ketika mereka berenang- renang dekat air terjun Lompatan Harimau. Dekian persembahan patik."

"Pintar sekali kau bicara!" kata Sipakpak Kunal. "Dia tidak pernah berdusta, mertuaku! Ia budak yang sangat setia dan terpercaya."

"Baiklah," jawab Raja margolang dengan tenang, sekalipun dalam hatinya jengkel mendengar kata-kata calon menantunya yang tak beradat itu. "Kami tidak mungkin memutuskan begitu saja. Menteri- menteriku akan mengadakan penyelidikan lebih jauh." Kata-kata ini diucapkannya sambul memandang kekanan dan k ekiri kepada menteri-menteri yang bersangkutan.

Mendengar titah baginda, Sipakpak Kunal mulai menyingsingkan lengan bajunya seolah-olah ingin memperlihatkan otot-ototnya yang kuat dan kesiap sediaannya untuk bertempur. Lalu ia berkata dengan nada keras.    "Kalau tunanganku cinta padaku, aku sekarang juga mau kawin."

"Saya harap anda agak tenang dan tidak terburu nafsu," kata Menteri Pertahanan memperingatkan. "Ini musyawarah kerajaan!"  "Tunangan anda tidak akan lari!" bentuk Perdana Menteri pula.

"Tuanku Syah Alam," kata Nagai Sori yang sebenarnya, sesudaj menyembah selayaknya, "ampun beribu ampnu! Menurut adinda Tuanku yang mulai, kedatangan ananda Nagai Sori hanyalah untuk memnuhui suatu persetujuan suci yang diadakan, ketika kedua ananda masih kecil. Cincin emas dan batu keemasan yang disepakati akan diserahkan sendiri oleh adinda Tuanku, bila adinda Tuanku sudah pulih benar kesehatannya. Sekian persembahan patik."

"Benar!" teriak Sipakpak Kunal sambul menunjuk "budaknya." "Tepat sekali perkataan budakku!". Ia langsung berdiri dan menuju ke tempat kediaman tuan puteri yang disertai oleh dayang-dayang, penyanyi=penyanyi dan budak-budk perempuan.

Sesudah Sipakpak Kunal berangkat, ruang rapat sunyi- senyap, sampai akhirnya Permaisuri Raja margolang memecah kesunyian dengan ucapannya.
"Menantu Tuanku serupa benar dengan adinda Tuanku, ibundanya. Bila ia datang kesini, semua orang diperintahnya, termasuk patik sendiri. bahkan pada kunjungan nya yang terakhir beberapa orang pegawai istana dipukulinya sampai luka-luka, sebab mereka terlampau lamban menurut pendapatnya."

Dewan Penasihat Raja haroharo selanjutnya menasihati Baginda untuk secepatnya melangsungkan perkawinan itu. Bila perkawinan itu ditunda-tunda, kata mereka, akan timbul berbagai kesulitan. Cinta calon mempelai laki-laki tampaknya begitu berkobar-kobar, sehingga ada kemungkinan ia membuat onar, bila keinginannya tidak segera dipenuhi. Tampaknya ia sanggup membunuh orang, membakar rumah atau melarikan tuan puteri bila ia kalap.

Raja Haroharo mendengarkan nasihat itu. sesuadah hari perkawinan ditetapkan, dikirimlah undangan kepada raja-raja sekitarnya.

Pesta perkawinan "anak raja" palsu Sipakpak Kunal dimeriahkan oleh orkes Batak maupun Melayu, sedang beberapa kelompok ronggeng tidak ketinggalan menghangatkan suasana. Keramaian berlangsung dengan meriah dan menggembirakan. Hanya Raja Haroharo dan Permaisurinya yang berhalangan hadir pada pesta "puteranya" itu.

Tidak lama sesudah Sipakpak Kunal dan pyuteri Raja dikawinkan, terjadilah hal-hal yang aneh. Bila Raja margolang dan menantunya berikut budaknya pergi berburu atau ke sungai untuk emnangkap ikan, sering Sipakpak Kunal mengatakan bahwa ia ingin membuat alu dari batang-batang kayu kecil yang tumbu dimana-mana. Ia sanggup menumbuk padi sebanyak 2 sampai 3 karung sehari, ceritanya. Bila dilihatnya pohon enau, ia ingin memanjatnya dan membuatkan nira untuk dihadiahkan kepada ibu mertuanya. Suatu hari raja Margolang sangat kehausan gdalan perjalanan. Ia ingin minum air kelapa muda yang kelihatan bergantungan pada batangnya. Baginda memerintahkan budak menantunya untuk menurunkah beberapa buah kelapa. Tetapu karena Nagai Sori tidak pernah memanjat batang kelapa, maka sesudah dicobanya naik, ia terpaksa menghentikan usahanya. Maka dengan sigap Sipakpak Kunal memanjat beberapa batang kelapa dan memilih buah-buah yang baik untuk minuman Baginda. Bila Sipakpak Kunal melihatsarang lebah, ia menyatakan ingin kembali malam hari ke tempat itu untuk mengumpulkan madu. Selain dari itu Sipakpak Kunal sering melagak kepada Baginda, bahwa ia sangat berpengalaman menangkap ikan, baik dengan pancing maupun dengan jala.

Raja Margolang tentu saja heran mendengar bualan menantunya. Sering diperingatkannya budak yang berlagak sebagai Nagai Sori itu untuk tidak lagi membagga-banggakan pekerjaan-pekerjaan itu.
Dalam kerajaannya, katanya, pekerjaan begitu adalah pekerjaan rakyat jelata.

Setiap kali Baginda memperingatkan menantunya, sadarlah Sipakpak Kunal bahwa ia bukannya lagi seorang budak, tetapi "anak raja", menantu RajaMargolang.

Jika Sipakpak Kunal sering membangga-banggakan prestasinya, Nagai Sori sebaliknya dengan merendah mengemukakan hal-hal yang penting bagi kemajuan rakyat Pulau Raja. Dikatakannya bahwa ia ada melihat rumah-rumah rakyat yang tidak berdinding, sedang disana - sini nbanyak tumbuh pohon-pohon kayu besar yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Pohon-pohon itu dapat menghasikan papan untuk dinding atau lantai rumah, juga untuk tiang-tiang yang kokoh. Daerah -daerah gersang yang dilihatnya disana-sini dapat diubah menjadi tanah perladangan atau persawahan yang baik, bila sungai-sungai fi dekatnya dibendung dan airnya disalurkan ke tempat-tempat itu. Peternakan, katanya dapat ditingkatkan dengan jalan mendatangkan bibit kuda, kerbau dan sapi yang baik dari Tanah Batak.

Tetapi Raja Margolang menghentikan pembicaraan Nagai Sori. Seorang budak tidaklah pantas mengemukakan hal-hal seperti itu kepada Raja. Namun kepada Permaisurinya Baginda menceritakan apa-apa yang diusulkan budak menantunya, sehingga sangat mengherankannya, justru karena datangnya dari seorang budak.

Sebaliknya pula Permaisuri menceritakan, bahwa bila budak menantunya itu menjaga padi, tidak seekor pun ayam atau burung datang mengganggu. Juga kepala rumah tangga istana melaporkan, bahwa semua kuda yang diurus budak yang baru itu, bertambah lama bertambah gemuk, sehat dan jinak. Padahal rumput yang diberinya tidak sebanyak yang diberikan sebelumnya. Dalam hubungan ini seluruh pegawai istana berbisik-bisik, bahwa budak baru itu mempunyai batu ajaib yang sewaktu-waktu dijilatlkannya pada kuda-kuda istana.

Pada suatu malam, sedang Raja margolang, Permaisuri dan Sipakpak Kunal dan isterinya santap, kedengaran Nagai Sori berdendang sambil bekerja dikandang-kandang. Nyanyiannya diiringi irama ketolan-ketokan kayu pada dinding kandang. Jelas kedengaran di istana apa yang dinyanyikannya. "Sipakpak Kunal ada di istana. Nagai Sori ada dikandang..."

Nyanyian ini berlangsung berulang-ulang. Semua yang di istana saling berpandangan tanpa mengucapkan apa yang dipikirkan masing-masing. Akhirnya Nagai Sori palsu alias Sipakpak Kunal menghardik dengan  keras.

"Hentikan nyanyian itu, kalau tidak, kau kugantung!"

Peristiwa - peristiwa aneh yang berhubungan dengan suaminya serta budak suaminya sangat menarik perhatian puteri. Lama-kelamaan timbul kecurigaannya. Diam-diam disuruhnya beberpa orang dayangnya memperhatikan tingkah-laku budak itu. Dan setiap hari ia mendapat laporan bahwa budak itu mempunyai sebuahcincin emas dan batu keemasan. Tapi baramg-barang itu selalu menghilang bila orang mendekatinya.

Pada suatu hari Nagai Sori asyik bermain suling di sebuah pondok sambil menjaga padi dan kuda-kuda di istana. Cincin dan batunya diletakkannya disampingnya selagi ia memainkan sulingnya sambil berbaring dengan santai.

Karena hari itu Sipakpak Kunal sedanf pergi berburu, puteri iseng-iseng berjalan-jalan ke arah pondok itu. Perlahan-lahan pondok itu dihampirinya danbelakang, sambil berbuat seolah-olah ia sedang menangkap kupu-kupu. Dengan penuh perhatian didengarkannya alunan bunyi merdu yang keluar dari pondok itu. Setelah dekat, kelihatan olehnya cincin dan batu yang diceritakan dayang-dayangnya dengan jelas.

Ketika "budak" itu selesai memainkan sulimngnya, puteri menghambur ke dalam pondok itu dan memeluk Ngai Sori. Dengan air mata berlinangan sehingga membasahi pipi Nagai Sori, puteri berkata dengan terharu.

"Kaulah yang sebenarnya putera bibiku, Permaisuri Haroharo!"

Nagai Sori yang sangat terperanjat dipeluk puteri dengan cara yang begitu mesra, tidak dapat berbuat lain daripada mengaku.

"Ya, memang  akulah Nagai Sori, tunanganmu yang sebenarnya. Tapi aku sudah bersumpah tidak akan membukakan rahasia Sipakpak Kunal, budakku itu.!"

Lalu diceritakannya apa yang terjadi di perahu menjelang rombongannya tiba di Pulau Raja. Aelesai bercerita, ia terdiam sejurus sambil berpikir. Akhirnya, dengan muka yang berseri-seri, ia melanjutkan.

"Kalau begitu mari kita lari ke Siak Seri Indera Pura untuk memulai hidup baru..!"

Seperti sudah diceritakan, anggota-anggota rombongan Nagai Sori yang dilenparkan Sipakpak Kunal ke dalam air semunay selamat sampai di darat. Beberapa orang kembali ke Haroharo, sedang sebagian tinggal di Simelungun. Ada pula yang meneruskan perjalanannya ke pUklau Raja. Pada kesempatan yang baik mereka membisikkab kepada beberapa menteri kerajaan, bahwa menantu Raja Margolang itu tidak lain dari Sipakpak Kunal, budak Nagai Sori, yang khianat.

Bisikan ini sampai juga ketelinga Sipakpak Kunal. Atas nama Raja diperintahkannya untuk menangkap dan memotong kepala semua mereka yang menyebarkan bisikan -bisikan berbisa itu.

Sesudah Raja Margolang meninggal, Sipakpak Kunal mengangkat dirinya menjadi Raja. Dikeluarkannya larangan bagi semua orang dari marga Haroharo untuk memasuki kerajaannya. Ia khawatir rahasia pengkhianatannya terbuka. Sekalipun begitu desas-desus mengenai dirinya tetap berkembang di Pulau Raja dan sekitarnya.

Juga anggota-anggota rombongan yang menetap di Simelungun menceritakan apa yang terjadi dalam perjalanan mereka yang nahas. Kisah itu hidup terus turun temurun dan sekarang masih diceritakan penduduk-penduduk asli daerah Tanah Jawa di Simelungun.

Mereka yang tiba kembali di Haroharo tentu saja melaporkan kepada rajanya bencana yang menimpa mereka. bagaimana nasib putera Baginda, Nagai Sori, tidak dapat mereka ceritakan.

Sesudah mengadakan mesyawarah dengan pembesar-pembesarnya, Baginda memutuskan untuk meninggalkan daerah kekuasaannya bersama rakyatnya dan mengangkat senjata melawan budak pengkhianat Sipakpak Kunal. dalam peperangan yang brkecamuk Sipakpak Kunal konon tidak terkalahkan, karena mewarisi tentara yang besar dan kuat dari almarhum mertunya Raja Margolang.

Ketika Raja Haroharo mendengar, bahwa Nagai Sori dan puteri sudah menghilang dari Pulau Raja, Baginda menghentikan pertempuran Baginda berangkat ke selatan mencari puteranya, sedang rakyatnyadiperintahkannya untuk memncar dalam usaha pencarian itu.

Dimana keturunan marga Haroharo sekarang tinggal tidak diketahui. Yang pasti ialah bahwa keluarga Kerajaan Marbau, Raja Lela, berasal dari marga Aritonang yang rapat hubungan kekeluargaannya dengan marga Haroharo.

Sementara itu Nagai Sori dan puteri Margolang selamat sampai di Siak Seri Indrapura. Konon berkat darah bangsawannya, juga dengan khasiat cincin dan batu ajaibnya Nagai Sori akhirnya menjadi raja yang sangat berkuasa di daerah itu. 

Sumber : Lima Legenda Sumatera Utara oleh Is. Daulay

Belum ada Komentar untuk "Sipakpak Kunal Dan Nagai Sori"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel