Datu Dalu Dan Sang Maima

Alkisah Rakyat ~ Di dataran Tinggi Toba, di Jalan antara Siborong-borong menuju Dolok Sanggul, ada sebuah kampung yang bernama Sipultak.


Menurut yang empunya cerita sekitar abad yang ke-14 di tempat ini memerintah seorang penguasa yang bernama DATU PONGPANGBALASASARIBU. Ia termasuk marga Borbor dan beristerikan Siboru Hombing. Dari perkawinan ini lahir dua orang putera yang dinamakannya DATU PULUNGANTUA dan DATU DALU.

Sesudah ia dewasa dan berumah tangga Datu Pulungantua mempunyai seorang anak laki-laki yang dinamakannya SAHANG MAIMA atau SANG MAIMA.

Ketika Datu Pongpangbalasaribu meninggal dunia, antara Datu Paulungantua dan Datu Dalutimbul sengketa. Mereka berselisih mengenai siapa yang akan menggantikan ayahnya sebagai penguasa dan bagaimana membagi harta pusaka. Perselisihan ini begitu hebat sehingga nyaris menimbulkan pertempuran berdarah. Mujurlah sengketa itu diketengahi oleh anggota-anggota keluarga dari pihak perempuan Mereka adalah keturunan Raja Nartasaon dari Uluan dan keturunan TUAN SORBADIBANUA, salah seorang cucu Si Raja Batak, dari Balige yang datang menadamaikan keduanya.

Berkat campur tangan ini dicapailah kat sepakat yang menggantikan ayahnya sebagai penguasa Sipultak adalah Datu Pulungantua. Datu Dalu mewarisi sebagian besar dari sawah dan ladang almarhum ayahnya, serta diizinkan mendirikan sebuah kampung yang lain kira-kira 1 km  dari Sipultak. Di sini ia menjadi penguasa mutlak, bebas dari dari pangaruh saudaranya. Kepada Datu Dalu diserhkan pula satu-satunya tombak meninggalan ayahnya un tuk disimpan.

Tombak pusaka ini konon bukan tombak sembarang tombak. Ia mempunyai kekuatan gaib sehingga dianggap senjata suci. Semua binantang, baik yang jinak maupun yang buas lari terbirik-birit bila melihatnya. Dalam bahasa Batak ia dinamakan "Hujur Jambar Baho" yang berarti "tombak yang merupakan bagian dari warisan." Senjata ini juga dijuluki "Hujur na so boi mago," artinya "tombak yang tidak boleh hilang."  Konon tombak itu berasal dari negeri Siam. Ia merupakan hadiah perkawinan seorang puteri bangsawan. ketika GURU TETEABULAN, leluhur marga Luntung dan Borbor, salah seorang putera si Raja Batak, mempersunting seorang puteri Raja Siam di negeri itu, selalu gagal mendapat panen yang baik, karena ladang dan kebunnya setiap kali dirusak oleh seekor babi besar. Binatang itu selalu datang malam hari, tidak pernah pada siang bolong. Bila diintai, babi itu cepat-cepat menghilang ke dalam hutan rimba dan sedikitpun tidak meninggalkan jejak.

Setiap malam penduduk kampung bergantian berjaga-jaga. Namun usaha untuk melukai atau membunuh binatang trkutuk itu selalu gagal. Tampak-tampaknya ia tidak dapat didekati lagi pula kebal terhadap peluru maupun senjata tajam. Kalaupum ia kena dengan tepat, rasanya seolah-olah mengenai tembok batu saja.

Akhirnya Sang Maima terpaka menemui pamannya untuk minta dipinjami tombak sakti itu. Tampaknya inilah satu-satuny senjata yang dapat membunuh binatang perusak itu.   Mula-mula Datu Dalu enggan memenuhi permintaan kemanakannya.Sebagai alasan dikatakannya, bahwa babi dapat begitu saja diusir dengan tongkat,batu, bahkan dengan teriakan. Bukankah menggelikan untuk menggunakan senjata suci hanya untuk mengusur babi!

Namun, setelah Sang Maima menceritakan kegagalan-kegagalan yang dialaminya bersama orang-orang sekampungnya sebab yang dihadapi bukanlah babi biasa! Datu Dalu akhirnya bersedia meminjamkan senjata ampuh itu. Tetapi ia memesankan dengan sungguh-sungguh, supaya senjata suci itu dijaga dengan baik agar tidak sampai hilang. Ingat nama julukan tombak itu, katanya, "Hujur no so boi mago", atau "Tombak yang tidak boleh hilang.....!"   

Sang Maima langsung berangkat ke ladangnya membawa senjata istimewanya itu. Dicarinya bagian dimana padinya masih tumbuh lebat. Ia tahu, inilah pasti yang akan mendapat giliran dirusak babi itu. Ia bersembunyi di balik semak-semak, sekalipun hari masih siang. Dinantikannya kedatangan musuhnya dengan sabar.

Ketika hari mulai gelap, tiba-tiba kedengaran bunyi menderu seolah-olah angin ribut sedang mendekat. Suatu bentuk yang hitam besar kelihatan datang dari jauh. Itulah rupanya binatang yang dinantikan Sang Maima!

Babi itu langsung menuju ladang yang masih utuh dekat tempat persembu yian Sang Maima. Setibanya ditengah-tengah padi itu, binatang itu mulai menerjang dan berguling-guling keana kemari, sehingga batang-batang padi dan buahnya rusak binasa. Dengkur yang dikeluarkan babi itu cocok dengan besar badannya.

Karena gelapnya Sang Maima tidak dapat membedakan di sebelah mana mencong binatang itu berada dan disebelah mana ekornya. Babi itu bertambah dekat juga ke tempat ia bersembunyi. Kewtika jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja lagi, Sang Maima membidikkan tombaknya, lalu menghunjamkannya sekuat tenaga pada binatang itu. Senjata ampuh itu tepat mengenai kepalanya!.

Dengan hean sekali Sang Maima melihat ujung tombak itu lekat pada kepala babi itu, sedang tangkainya patah dan tinggal di genggamannya. Sang Maima mengejar binatang itu yang cepat-cepat lari menerobos semak dan hutan. Untunglah darah berceceran dan lekat pada daun dan dahan, sehingga agak mudah mengikutinya. Tetapi tiba-tiba binatang itu hilang dalam sebuah lubang, mungkin jalan masuk ke tempat persembunyiannya.

Sang Maima turun ke dalam lubang itu beberapa langkah, tapi tertegun karena begitu gelap sehingga ia tidak dapat melihat apa-apa. Karena itu diputuskannya untuk pulang saja dan kembali lagi keesokan harinya bila hari terang.

Pagi-pagi benar Sang Maima mencari pamannya untuk melaporkan apa yang terjadi.

Mendengar bahwa tombak warisan itu patah dan ujungnya hilang, tak terkatakan bagaimana marahnyaDatu Dalu. Dengan suara keras dipeitahkannya Sang Maima untuk segera mencari tombak itu. Bila ia tidak berhasil menemukannya, Datu Dalu mengacam akan mengumumkan perang pada kemanakannya. lalu ia membalik membelakangi kemanakannya, pertanda bahwa ia tidak mau bicara lagi dengan Sang Maima!

Pemuda itu kemudian mengadakan musyawarah dengan seluruh keluarganya, baik yang dari sebelah bapak, maupun yang dari sebelah ibunya.

Pendek kata, musyawarah memutuskan bahwa untuk memelihara kehormatannya sebagai laki-laki keturunan Datu Pulungantua, Sang Maima harus turun ke Dunia Bawah untuk mencari tomak itu. Diputuskan pula bahwa seluruh kerabatnya harus menyediakan segala sesuatu untuk keprluan pencarian itu.

Maka ramailah orang masuk hutan mencari pohon enau. Ijuknya diperlukan untuk dijalin menjadi tali yang kokoh. Sesudah siap, tali itu panjang sekali , sebab ujungnya harus mencapai perut bumi! Tali itu dibawa  kedekat lubang tempat babi itu menghilang, dan sebuah ujungnya diikatkan pada batang kayu besar.

Sementara itu Datu Dalu memerintahkan kepada ibu dan saudara perempuan Sang Maima untuk datang bekerja di rumahnya. Tampaknya keduanya dijadikannya sandera, sampai tombak itu kembali kepadanya.

Dengan disaksikan oleh semua keluarganya Sang Maima memulai perjalanannya ke Dunia Bawah. Ia meluncur sambil berpegang pada tali ijuk yang diturunkan dari mulut lubang yang gelap itu. Lama ia meluncur, begitu lamanya seolah-olah ia mendekati perut bumi.

Sesampainya di bawah, diberinya isyarat dengan menarik-narik tali itu bahwa ia sudah sampai. Secara bergantian para kerabatnya berjaga-jaga dekat lubang itu, supaya tali itu tidak diputuskan oleh tangan-tangan jahil.

Sekarang Sang Maima berada di dunia jembalang, setang, jin, kelembai ( Kelembai adalah hantu serupa raksasa perempuan berambut merah.) dan roh-roh jahat lainnya. Sekalipun ia pemberani, hatinya kecut juga bila timbul pikiran bahwa ia tidak mungkin akan keluar hidup-hidup dari dunia yang ngeri ini. Bila bau manusia tercium oleh makhluk-makhluk dan roh-roh jahat itu, Sang Maima tentu langsung akan diterkam, dikoyak-koyak dan dilahap! Memikirkan ini nafasnya tersengal-sengal dan peluhnya bercucuran.

Namun, sekalipun diganggu oleh pikiran yang mengecutkan itu, Sang Maima tidak berniat membatalkan perjalanannya dan kembali ke dunai atas tanah. Kembali tanpa membawa tombak itu berarti menanggung malu besar dan akan mengorbankan peperangan melawan pamannya yang bengis dan tidak kenal damai. Salah seorang di antara mereka pastilah akan tewas. Dan bila pamannya yang mati, kematian itu bukanlah suatu kemenangan bagi Sang Maima, Dalam hati kecilnya diakuinya bahwa dialah yang bersalah, karena melanggar amanat pamannya. Ini memperbulat tekad pemuda itu untuk meneruskan perjalanannya yang tak tentu ujung itu, apapun yang akan dihadapinya.

Yang ditakutkan Sang Maima benar-benar terjadi! Baru beberapa langkah ia maju, ia langsung dikepung oleh 7 (tujuh) setan betina yang bersenjata lengkap. Rambutnya yang bergerai acak-acakan, seringnya yang kejam serta tawanya yang melengking membuat bulu kuduk Sang Maima berdiri! Rupanya bau manusia begitu sedap bagi setang-setan itu, sehingga Sang Maima terus dirangkul dan diciumi. Di antara setan-setan itu bahkan ada yang menggigit dagingnya.

Mereka membawanya ke parapian. Disini mereka menari-nari dengan riuh dan gembira, karena akan menyembelihnya. Dengan kayu dan senjata -senjata tajam setan-setan itu melukai Sang Maima . Tetapi berapapun parahnya likanya, bila ditampar Sang Maima dengan tapak tangannya, lukanya sembuh kembali.

Melihat bahwa Sang Maima adalah seorang datu atau dukun besar, setan-setan itu menghentikan siksaannya. Mereka bertanya, apakah ia dapat menyembuhkan seorang nenek yang sedang sakit. Ketika Sang Maima menjawab 'sanggup', setang-setan itu berjanji akan mengembalikannya ke dunianya, bila ia benar-benar berhasil menyebuhkan si sakit itu. Selain dari itu, kata mereka, Sang Maima boleh nanti memilih salah seorang di antara mereka sebagai isterinya.

Sang Maima dibawa ke tempat dimana nenek itu terbaring. Alangkah kagetnya pemuda itu, ketika nenek itu ternyata sakit oleh suatu luka yang besare dikepalanya dan bahwa di dsalam luka itu tertancap ujung tombak yang hilang itu! Rupanya yang merusak padi dan ladangnya selama ini adalah nenek segala setan ini; ia setiap kali muncul di dunia dengan menjelma sebagai seekor babi besar!

Sang Maima mengatakan kepada setan-setan itu bahwa luka itu disebabkan oleh sembiku. Ia mengetahui bahwa si sakit  segera akan sembuh bila kepala tombak itu dikeluarkannya.Tetapi Sang Maima tidak mau langsung mengeluarkannya, sebab setan-setan itu tidak dapat dipercaya. Sekalipun mereka sudah berjanji akan mengizinkannya pergi bila ia berhasil menyembuhkan nenek mereka yang sakit, janji setan ialah janji yang tidak dapat dipercaya. Ini diketahuinya selama ia tinggal dalam lingkungan makhluk-makhluk yang buas itu. Melihat tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan mereka Sanf Maima tahu, bahwa sifat-sifat buruk yang terdapat pada manusia berasal dari setan-setang itu. Makhluk-makhluk Dunia Bawa itu memang kasar, tidk tahu berterima kasih. Mereka tidak mengenal keadilan, sebab di dalam dunianya berlaku hukum "siapa kuat, dialah yang berkuasa."

Dalam merawat nenek setan itu Sang Maima mengusahakan agar ia selamat mungkin sembuh agarpenyakitnya berlarut-larut dan ia terus menderita. ementara itu ia dapat memikirkan caranya meninggalkan dunia ini dengan selamat.

Dalam pada itu Sang Maima terus dicaci-maki disin dir-sindir dan ditakut-takuti oleh para penjaganya.

"Aku ingin membuat pergedel dari daging betinnya," kata yang satu.

"Daging tapak tangannya pasti empuk, asin dan enak," kata yang lain.

"Tulang-tulang jarinya tentulah rapuh dan sedap dikunyah," kata yang satu lagi.

Karena jengkel mendengar gangguan-gangguan terhadap "dukunnya," nenek setan pada suatu hari menghardik mereka dan mengatakan.

"Jangan ganggu juga dia! Aku sekarang merasa lebih sehat. Kawinkan dia dengan salah satu diantara kalian bertujuh!"

Perintah nenek setan itu adalah hukum yang tidak boleh dilanggar. Sang Maima terpaksa memilih salah satu setan betina untuk jadi isterinya, lalu ia dikawinkan.

Dari isterinya Sang Maima belajar berbagai ilmu sihir. Umpamanya bagaimana mengubah dirinya menjadi burung, babi, harimau atau burung hantu tanpa diketahui orang lain. Sekarang ia juga dapat menghilangkan dirinya. Dan dengan kekerasan kemauannya ia dapat menyuruh orang lain mengerjakan apa yang diinginkannya atau menyuruhnya mengikuti kemana ia pergi.

Dengan bertambahnya ilmunya, Sang Maima memutuskan untuk segera kembali ke dunia. Namun kesempatan yang baik belum kunjung datang. Ujung tombak itu sudah dikeluarkannya dan digantinya dengan sekerat kulit bambu tanpa diketahui siapapun.

Pada suatu malam, selagi hujan lebat turun dan setan-setan itu sibuk menjahit, sebuah jarum yang digunakannya jatuh ke tingkat bawah, yaitu lantai dasar dunia bawah tanah. Sang maima diperintahkan untuk mencari jarum itu dan membawanya kembali keatas.

Dilantai dasar itu setan-setan itu rupanya memelihara babi-babi yang dikebiri. Ini merupakan salah satu makanan kegemaran mereka.

Sang Maima turun ke bawah. Sesudah menemukan jarum itu, beberapa buah jaurm jatuh lagi, sehingga Sang Maima terpaksa lagi turun untuk mencarinya.Karena berulang kali harus turun-naik, Sang Maima minta izin untuk tinggal saja di bawah menantikan jarum yang mungkin akan jatuh lagi. Ini dibolehkan. Tetapi mencari jarum yang begitu kecil diantara babi-babi yang berkaliaran memang bukan pekerjaan mudah.

Karena kecapekan, setan-setan itu akhirnya tertidur. Inilah kesempatan yang baik untuk melarikan dirinya dari Dunia Bawah, pikir Sang Maima.

Untuk mengelabui setan-setan itu rokok daunnya yang masih menyala, diikatkannya pada ujung ekor seekor babi. Karena binatang itu terus mengibas-ngibaskan ekornya, api rokok itu tidak padam-padam. Sang Maima berhasil pula menangkap seekor borong-borong, sebangsa kumbang hitam. Ini diikatkannya pada ekor babi yang lain, sehingga binatang itu terus mendengung.

Cepat-cepat pemuda itu berlari membawa tombaknya menuju tali penyelamatnya. Sebelum mencapai tali itu, disana-sini ditegakkannya batang-batang pisang yang sudah dipersiapkannya lebih dulu. Bentuknya menyerupai manusia dan gunanya untuk menyesatkan dan mengalbui setan-setan itu. Diharapkannya pengejar-pengejarnya nanti akan terkicuh dan berhenti karena menyangka bahwa batang-batang pisang itu manusia yang dapat dimakannya. Inilah siasat Sang Maima untuk mendahului pengejar-pengejarnya.

Lama sesudah Sang Maima berangkat setan-setan itu menyangka bahwa tawaran mereka masih berada di lantai bawah. Mereka melihat api rokoknya dan mendengar dengungan kumbang yang disangkanya  bunyi yang berasal dari Sang Maima.

Tetapi ada yang tidak diperhitungkan Sang maima. Nenek setan tiba-tiba datang kumatnya dan berteriak-teriak kesakitan! Semua perawatnya datang berlarian. Mereka sibuk memanggil dan mencari Sang Maima, tetapi pemuda itu sementara itu sudah hampir sampai diatas tanah.

Begitu setang-setang itu mengetahui bahwa tawarannya kabur, mereka ramai-ramai mengejarnya. Sebagaimana diperhitungkannya, batang-batang pisang berbentuk manusia itu sangat membantu Sang Maima. Setiap kali setang-setang itu melihatnya, mereka berhenti untuk memeluk dan menciumnya, sebab disangkanya manusia mangsanya. Maka banyaklah mereka kehilangan waktu.

Sesampainya di tali penyelamat, ternayata buronan mereka sudah sampai di atas dan sibuk memotong ujung tali itu. Akhirnya tali itu putus dan para pengejar Sang Maima jatuh tunggang-langgang ke bawah.

Hanya satu saja diantaranya yang sempat sampai diatas, yaitu isteri Sang Maima. Ia memohonkan dengan sangat supaya boleh terus mendampingi Sang Maima seperti di Dunia Bawah selama ini. Sang Maima tidak keberatan, terutama karena ia begitu banyak mendapat ilmu sihir yang sangat berguna.

Menurut legenda Batak, setan isteri Sang Maima itu adalah leluhur setan-setan gunung yang disebut orang Batak "homang."

Sang Maima langsung menuju rumah pamannya untuk mengembalikan tombak warisan itu. Kemudian di depan orang-orang sekampungnya diceritakannya pengalamannya yang dahsyat sejak ia memasuki Dunia Bawah. Pertemuannya dengan setan-setan betina, pertemuannya dengan nenek setan yang ternyata adalah perusak ladang dan kebunnya, yang menjelma sebagai babi besar. Kemudian tipu-muslihatnya dan berhasilnya ia melepaskan diri dari cengkeraman maut, ketika ia memanjat tali penyelamat dan meninggalkan para pengejarnya.

Semua yang mendengar ceritanya sangat terbaru. Perempuan-perempuan mengeluarkan air mata karena kasihan mendengar penderitaan Sang Maima. Mereka menepuk-nepuk bahunya dan mengelus-elus kepalanya sambil berkata.

"Ah, putera raja kami yang baik, Datu Pulungantua, hanya nasiblah rupanya yang mempertemukan kita kembali."

Ibu dan kakak Sang Maima yang dibebaskan Datu Dalu, begitu ia menerima tombak itu kembali, memeluk dan menciuminya untuk melepaskan rindu mereka.

Kemudian Datu Dalu yang dalam hati kecilnya sebenarnya menginginkan kematian kemanakannya, supaya ia dapat berkuasa sendiri, berteriak.

"Sediakan sirih, telur ayam dan beras! Aku ingin menyambut anakku yang gagah berani ini!"

Sesudah yang dimintanya disediakan dan sirih diedarkan, mulailah Datu Dalu melancarkan pidatonya yang bunyinya sebagai berikut.

"Anakku, Sang Maima, ketika kudengar bahwa kau berhasil membawa tombak pusaka itu kembali, hatiku begitu lega dan gembira. Sedianya aku ingin menyembelih kerbau dan mengadakan pesta besar untuk menyambut kedatanganmu. Tetapi aku tidk begitu sehat, sehingga tidak mungkin mengadakan pesta. Namun yakinlah, bahwa suatu hari ini akan kuadakan juga. Sebagaimana kau ketahui tombak ini diterima leluhur kita Datu Teteabulan sebagai hadiah kawin dari mertuanya di Siam. Jadi mengertilah kau, mengapa aku begitu marah, ketika kudengar bahwa senjata pusaka itu sudah hilang. Aku berharap kau mau melupakan dan memaafkan kemarahanku. Kepada Yang Maha Kuasa kupohonkan semoga tondimu (semangat) sudah kembali ke dalam badanmu. Horas!".

Beberapa orang di antara yang hadir juga mengucapkan sepatah dua patah kata, yang dibalas Sang Maima sebagai berikut.

"Paman dan semua kerabatku, aku mengucapkan terima kasih atas semua kata-kata muluk yang disampaikan kepadaku dan atas sambutan luar biasa yang kuterima. Dari pihakku sendiri aku akan berusaha untuk melupakan apa yang telah terjadi. Aku sudah berhasil melaksanakan tugas yang diberikan Paman kepadaku. Mudah-mudahan kita semua akan selalu dalam keadaan sehat dan berbahagia. Hanya itulah yang dapat kusampaikan. Horas!"

Sesudah Sang Maima kembali ketengah-tengah kerabat dan sahabatnya, pengikut-pengikutnya maupun para pengikut Datu Dalu merasakan bahwa hubungan antara Paman dan kemanakan tidaklah sebaik yang kelihatan pada lahirnya. Perkembangan dari perang dingin menjadi perang terbuka nampaknya hanya soal waktu saja. Dalam pada itu pada masing-masing pihak ada saja yang memanaskan suasana. Kepada Sang Maima umpamanya ada yang menyampaikan, bahwa tindakan pamannya memaksanya mencari tombak itu, benarbenar kejam. Bagaimana seandainya Sang Maima tidak dapat melepaskan dirinya dari setang-setan itu! Juga tindakan Datu Dalu menyandera Ibu dan kakak Sang Maima dan memperlakukan mereka sebagai budak di rumahnya, benar-benar melewati batas.

Tukang-tukang fitnah di kalangan Datu Dalu sendiri menghasut rajanya dengan mengatakan, bahwa bila pesta besar yang dijanjikannya diadakan juga, ini kesempatan baik bagi pengikut-pengikut Sang Maima untuk membunuhnya.

Paman dan kemanakan, sekalipun dihasut oleh mereka yang ingin melihat mereka bersengketa, tetap berhubungan seperti biasa satu sama lain. Tetapi masing-masing dalam keadaan waspada. Mereka menghindarkan berjalan sendirian, karena khawatir akan diserang mendadak oleh lawannya. Bila dalam suatu pertemuan mereka kebetulan duduk berdampingan mereka bicara biasa saja. Tetapi para penghasut tahu, bahwa besok lusa perang terbuka antara mereka akan meledak. Mereka yakin bahwa fitnah yang disebar-sebarkan itu pasti akan berakibat juga.

Sebagai orang Timur paman dan kemanakan segan berterus terang membicarakan persoalan antara mereka. Mereka tetap tutup mulut, apalagi karena "informasi" yang mereka terima konon bersifat "rahasia sekali!"

Kebun Sang Maima yang selalu dilalui Datu Dalu bila ia pergi ke sawahnya, pemuda itu antara lain bertanam pisang. Pisangnya tumbuh dengan baik dan daunnya lebar-lebat.

Pada suatu hari, ketika Datu Dalu lewat lagi dikebun itu, hujan tiba-tiba turun dengan lebat sekali. Tanpa berpikir panjang Datu Dalu mengambil beberapa helai daun pisang untuk melindingi dirinya terhadap air hujan. Tentu saja ia tidak mungkin minta izin lebih dulu itu. Sang Maima pun berbuat seolah-olah tidak terjadi sesuatu, ketika hal itu disampaikan kepadanya.

Suatu hari Sang Maima datang ke bengkel besi pamannya membawa sepotong besi. Ia ingin membuatkan beberapa buah parang pada pamannya yang ahli menempa besi. Datu Dalu bersedia membuat apa yang diminta kemanakannya. Beberapa hari kemudian besi itu dipanaskannya dalam api. Ketika ia tertidur, besi itu lebur, sehingga tidak bisa dipakai lagi.

Ketika hal ini disampaikan kepada Sang Maima, ia menuntut supaya besinya dikembalikan kepadanya dalam keadaan semula. JUga supaya daun-daun pisang yang dulu dipakai pamannya, dikembalikan ketempat semula. Kedua tutuntan Sang Maima dianggap Datu Dalu sebagai ultimatum yang tidak pantas. Dengan tenang disuruh sampaikannya bahwa ia siap sedia menghadapi Sang Maima, bila pemuda itu mengingatkan perang tanmding! Lalu meledaklah perang antara paman dan kemanakan.

Sang Maima mula-mula mengubah dirinya menjadi "erha," semacam burung, lalu menghabiskan padi pamannya yang sedsng masak di ladang. Melihat ini Datu Dalu menyuruh tancapkan di ladangnya tongkat-tongkat yang dilumuri getah panangkap burung. Tetapi yang tertangkap bukannya Sang Maima, tetapi burung-burng lain yang mau makan padi.

Kemudian Sang Maima menjelma menjadi harimau dan mengobrak-abrik ternak milik pamannya . Untuk mengakhiri keganasan harimau itu Datu Dalu memerintahkan menggali lubang-lubang perangkap dan memasang perangkap besi di berbagai tempat. Namun yang menjadi korban bukannya harimau itu, tetapi orang-orang dari kampung Datu Dalu sendiri.

Sang Maima menghilangkan dirinya dan menyerang benteng Datu Dalu dari segala jurusan. Datu Dalu membalas dengan menurunkan hujan beracun yang bisa membunuh. Tetapi yang mati ialah banyak diantara anak buah Datu Dalu sendiri.

Akhirnya Sang Maima minta bantuan kepada setan betina yang menjadi isterinya untuk menimbulkan kebakaran-kebakaran di dalam benteng Datu Dalu. 

Tetapi sang paman memasang jala-jala dan "parsili" (batang-batang pisang berbentuk manusia) untuk mengusir setan itu.

Karena perang yang kejam dan berlarut-larut itu sebagian besdar penduduk kedua kampung tewas.
Sekarang perang meningkat menjadi perlombaan menimbulkan penyakit dengan menggunakan ilmu sihir dan tenaga dalam.

Siang dan malam Sang Maima duduk bertapa dibawah sebatang pohon beringin besar. Ia memohonkan kepada jin dan setan unutk membuat anggota-anggota rumah tangga Datu Dalu sakit. Ia membuat boneka -boneka yang melambangkan orang-orang yang hendak disakitinya, kebanyakan perempuan. Beberapa ekor kodok disuruhnya membuat gerakan -gerakan aneh dan gila gilaan. Dengan kekuatan batinnya gerakan dan tingkah laku gila-gilaan itu dilakukan pula oleh anggota-anggota rumah tangga Datu Dalu. Mereka mdenari-nari, menangis, tertawa-tawa dan berteriak-teriak serupa  orang gila. Mereka yang terkena "sijundai" ini tidak sadar, bahwa mereka berbuat aneh.

Datu Dalu yang terkenal sebagai dukun besar, mengobati mereka dengan air limau purut. Sambil mengucapkan mantranya air limau itu direnjiskannya pada tangan dan rambut mereka. Jeritan-jeritan dan tingkah -laku yang gila-gilaan itu berhenti dan mereka tenang kembali.

Jika Datu Dalu hingga sekarang hanya bersikap bertahan, sekarang tibalah gilirannya untuk menyerang. Serangannya dibukanya dengan mengirim 7 batang alu terbang ke pemukiman Sang Maima. Selagi melayang, alu-alu itu menimbulkan dengungan serupa bunyi sekawan lebah yang sedang pindah sehingga kedengaran oleh Sang Maima. Mujurlah tidak terlambat. Ia masih sempat mengirm 7 kipas terbang menyongsong serangan alu-alu itu. Pertemuan, senjata-senjata ampuh kedua belah pihak terjadi diudara antara pemukiman mereka yang berperang. Begitu hebat benturannya, sehingga kedua kampung goncang seolah - olah dihantam gempa.

Datu Dalu selanjutnya mengirim 7 obor yang menyala untuk membakar kampung kemanakannya. Tetapi Sang Maims mrmpertahankan dirinya dengan mencetuskan angin puting beliung, sehingga semua obor itu padam.

Dari caranya mereka berperang dan memprlihatkan keahliannya tahulah anak buah masing-masing, bahwa keduanya sama kuat dan sakti.

Sekarang Datu Dalu mengirimkan senjatanya terakhir yang paling ampuh; duakali 7 lesung kayu yang dapat meledak dengan hebat. Selagi seluruh penduduk kampungnya tidur nyenyak, Sang Maima diberitahukan panglimanya tentang ancaman baru ini. Segera Sang Maima menyuruh kosongkan kampungnya, lalu mengirim dua kali 7 piring porselin antik besar yang mempunyai tenaga ledakan yang hebat. Tetapi senjata-senjata terbang kedus belah pihak ternyata tidak berbenturan, tapi saling berpapasan sehingga tidak meledak di udara. Sekarang bahaya pemusnahan yang mengacam kedua kampung tidak terelakkan lagi; piring-piring terbang Sang Maima meledak ditengah-tengah kampung Datu Dalu, sedang lesung-lesung besar Satu Dalu meledak ditengah-tengah kampung Sang Maima. Begitu hebatnya ledakan-ledakan itu, sehingga di kedua kampung terbentuk lubang-lubang besar dan dalam, yang kemudian mejnadi danau-danau kecil.

Kampung Datu Dalu sekarang bernama Ambar Sipinggan, sedang kampung Sang Maima disebut Ambar Lobu Tala atau Ambar Silosung. Hingga sekarang kedua danau masih dikunjungi keturunan -keturunan Datu Dalu dan Sang Maima.

Menurut para keturunan Sang Maima nyawa leluhurnya diselamatkan oleh babi-babi yang dikebiri itu. Itulah sebabnya sebagian dari marga itu menganggap daging babi pantang untuk dimakan. Bila mereka  memakannya juga, mereka konon diserang oleh semacam penyakit kulit. Lagi pula sebagian dari marga itu memeluk agama Islam.

Peperangan antara Sang Maima dan Datu Dalu pastilah hebat sekali, hebat dan tak ampun. Ini dapat diketahui dari kisah-kisah lama. Antara lain diceritakan, bahwa bila orang dahulu kala mencampur air dari Ambar Sipinggan dengan air dari Ambar Silosung, air campuran itu begitu lama bergolak mencari jalan keluar, sehingga wadahnya akhirnya hancur berantakan. Bila sebagai wadah digunakan tabung bambu, tabung itu langsung pecah, sehingga airnya berpisah lagi.

Bila dua buah batu, yang satu berasal dari Ambar Sipinggan, yang sebuah lagi dari Ambar Silosung, diletakkan berdampingan, keduanya begitu lama berbenturan sampaki salah satu hancur berantakan. Konon benturan itu adalh akibat dari tenaga batin. Datu Dalu dan Sang Maima, sekalipun keduanya sudah berabad-abad yang lalu meninggalk.

Diantara keturunan-keturunan Sang Maima pada zaman dahulu terdapat ahli-ahli bintang yang pandai meramal. Yang paling terkenal diantaranya ialah NAMORA PANDE BOSI,dengan kedua puteranya Si BAITANG dan SI LANGKITANG,para leluhur marga Lubis di Tapanuli Selatan.

Sumber : Lima Legenda Sumatera Utara oleh Is. Daulay

Belum ada Komentar untuk "Datu Dalu Dan Sang Maima"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel