Cerita Raja Narasaon

Alkisah Rakyat ~ Kira-kira pada abad ke-14 di Sibisa, sebuah kampung dekat Prapat, memerintah seorang raja yang bernama "Datu Pejel". Isterinya salah seorang dari puteri Guru Teteabulan, yang bernama "Siboru Bidinglaut".


Dari perkawinan mereka lahir seorang anak laki-laki yang dinamakan 'NARASAON". Nama ini diberikana karena ia menderita suatu penyakit kulit yang tak kunjung sembuh. Penyakit itu bertambah lama bertambah parah. Seluruh kulit Narasaon mulai menyerupai kulit kasar seekor kodok besar.

Datu Pejel yang terkenal sebagai dukun yang tangguh, sangat khawatir melihat penyakit anaknya. Sekalipun diobatinya, penyakit itu tetap kambuh. Tampaknya tidak ada harapan untuk menyembuhkan Narasaon. Sekalipun Datu Pejel berusaha memperdalam ilmunya, penyakit itu tak kunjung hilang.

Datu Pejel bertambah khawatir lagi. Nama baiknya akan hilang sama sekali, bila umum mengetahui bahwa ia,seorang dukun besar, gagal mengobati anaknya sendiri. Sebab itu ia berusaha menyembunyikan penyakit itu dari mata orang banyak. Narasaon dilarangnya keluar rumah dan disuruhnya memakai pekaian yang menutupi seluruh tubuhnya.

Kesulitan besar timbul, ketika didengarnya bahwa "Boru Tulang" Narasaon yang paling tua, yaitu puteri pamannya, saudara ibunya, sudah besar, sedang Narasaon sendiri pun hampir dewasa. Alangkah memalukan bila Narasaon meminang "Boru Tulangnya" dan ditolak karena penyakit kulitnya!

Penolakan ini akan mengakibatkan pula bahwa gadis -gadis lain dari keluarga baik-baik di daerah itu juga akan menolak Narasaon, bila ia meminang mereka. Masalah yang pelik ini sangat mengganggu pikiran Datu Pejek. Semalam-malaman ia tidak bisa tidur. Yang lebih menyusahkan lagi ialah kemungkinan bahwa anaknya tidak akan kawin seumur hidupnya dan meninggal tanpa keturunan. Alangkah besarnya aib yang akan menimpanya dan isterinya!

Setelah lama mempertimbangkan keadaannya, akhirnya Datu Pejel memutuskan untuk membunuh anaknya.. Hal ini disampaikannya kepada isterinya. Sebagai ibu yang melahirkan Narasaon, Siboru Bidinglaut tentu saja terperanjat. Ia menolak rencana suaminya. Namun, bagaimanapun ia bermohon,Datu Pejel tidak mau mengubah rencananya. Bukanlah ia sendiri pun lebih suka mati daripada hidup terus dengan arang tercoreng di dahinya! Tidak, Narasaon harus disingkirkan....

Pada suatu malam, selagi Narasaon tidur nyenyak, beberapa orang diam-diam memasuki kamarnya dn menangkapnya. Mulutnya disumpal, sehingga ia tidak bisa berteriak. Ia diikat, dimasukkan ke dalam sebuah peti yang dikunci  rapat, lalu dibawa keluar rumah. Di sebuah hutan dekat Sibisa peti itu dimasukkan ke dalam lubang yang sudah disediakan, lalu ditimbuni dengan tanah.

Datu Pejel yang ikut serta menguburkan anaknya sekarang tidak dapat menahan kesedihan hatinya.Sebelum pergi, diucapkannya kata-kata perpisahan.

"Anakku Narasaon, sekarang kau kuserahkan kepangkuan bumi. Semoga Yang Maha Kuasa melindungimu. Aku bermohon kepada-Nya semoga ia melimpahkan kasih-Nya kepadamu. Semoga disembukan-Nya penyakitmu dan kau dikembalikan-Nya kepada kami, orang tuamu, dsalam keadaan sehat!"

Sesudah Datu Pejel menyingkirkan anaknya dan menegenai Narasaon tidak kedengaran apa-apa lagi, suami-isteri menganggap anaknya benar-benar sudah meninggal. Sekarang Siboru Bidinglaut sangat kehilangan dan merasa bersalah ikut membantu membunuh anak tunggalnya. Hatinya begitu sedih, sehingga ia siang malam menangis dan tidak bisa tidur maupun makan.

Melihat keadaan isterinya, Datu Pejel berusaha menghiburnya. Tetapi karena tidak berhasil, hatinya sendiri pun hancur oleh penyesalan yang tidak putus-putusnya.

"Wahai anakku sayang," demikian ratap Siboru Bidinglaut, "mengapa kautinggalkan ibumu? Ambillah aku dan bawa aku ke kuburmu. Mengapa aku ikut membunuhmu, anakku? Sejak kau pergi, di dunia ini tidak ada kesenanganku lagi. Kesdihan dan penyesalan akan menyeretku ke kubur. Lihatlah keadaanku, kasihanilah ibumu ! Cepatlah jemput aku, aku tidak mau hidup lagi."

Begitu ratapan Siboru Bidinglaut sambil mengulurkan kedua lengannya. Bila suaminya berada di dekatnya, ia mengamuk serupa orang yang kemasukan setan. Dipaksanya suaminya menunjukkan tempat dimana anaknya dikubur.

Ratap tangis Siboru Bidinglaut, ternyata brhasil juga. Di suatu tempat di Dunia Atas Tinggal 7 bidadari yang mendengar ratapan perempuan yang malang itu. Mereka kasihan padanya dan memutuskan untuk menolongnya dan mengembalikan Narasaon.

Sesudah mengenakan pakaian terbangnya, ketujuh bidadari melayang ke tempat di mana Narasaon terkubur. Petinya mereka buka, Narasaon dikeluarkan dan dihidupkannya kembali. Lama bidadari-bidadari itu tinggal di bumi mengurus Narasaon. Setiap hari mereka membawanya ke Pansur Napitu (Tujuh Pancuran) yang mereka buat.

"Istilah Batak untuk bidadari itu ialah "Boru ni Bataraguru, na tinggal di lumban Debata di ginjang", yang berartiny "Puteri-puteri Bataraguru yang tinggal di dunia atas." Menurut mitologi Batak ada 3 (tiga) dunia, yaitu Dunia Atas tempat tinggal bidadari-bidadari dan Bataraguru. Dunia kedua ialah Bumi kita, tempat tinggal manusia, sedang dunia ketiga ialah Dunia Bawah tempat kediaman setan dan roh-roh jahat lainnya ( Kisah Sang Maima).

Disini mereka mandi-mandi dan bermain-main dengan pemuda itu.

Sesudah Narasaon kuat kembali, pada suatu hari bidadari-bidadari itu berkata.

"Wahai pemuda yang baik, kami ingin kembali ke Dunia Atas dan sekarang mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Engkau  sudah sehat dan kuat kembali, sehingga selesailah tugas kami. Kembalilah segera kepada ibumu sebab ia nyaris mati karena dirundung kesedihan. Siang malam ia menangis...." Narasaon menjawab.

"O, puteri-puteri budiman, aku mengucapkan terma kasih banyak atas bantuan dan rawatan kalian yang penuh kasih sayang. Tapi sebelum kita berpisah masih ada suatu permintaanku." "Sebutkan apa yang kauinginkan," ujar bidadari itu.

"Bila mungkinaku minta disembuhkan sama sekali dari penyakit kulitku ini. Selama aku belum sembuh benar besok lusa aku akan dibunuh ayahku lagi," kata Narasaon.

"Permintaanmu dikabulkan!" kata ketujuh bidadari sambil melayang ke Dunia Atas. Mereka menghilang di balik awan yang gemerlapan.

Dalam sekejap mata kulit Narasaon yang sakit terkelupas, digantikan kulit lain yang mulus. Narasaon menjadi manusia yang normal kembali. Kulit lama itu disimpannya untuk menjadi bukti bila kelak ada yang meragukan, bahwa ia benar-benar Narasaon yang sudah mati.

Setibanya di rumah diceritakannya kepada orang tuanya apa yang terjadi.

Karena gembiranya bahwa anaknya yang hilang sudah kembali, apalagi dalam keadaan sehat benar. Datu Pejel mengadakan pesta besar. Puluhan kerbau dan sapi disembelih untuk menjamu tamu-tamu yang datang berduyun-duyun. Mereka ingin melihat pemuda yang hidup kembali itu.

Pesta besar itu tentu saja diramaikan oleh tortor dan gendang.

Para keturunan Narasaon sekarang menamakanya Raja Narasaon. Ia adalah leluhur merga-marga Manurung, Sitorus, Sirait, Butar-Butar dan Pane.

Sebagian besar anggota marga-marga itu tinggal di Uluan, yang lain-lain di Dipirok, Angkola, Tano Rambe, Hualu, Simelungun, Asahan, Labuan Bilik.

Penduduk daerah Lumban Julu, termasuk kampung Sibisa, dahulu kala pada waktu -waktu tertentu mengadakan pesta adat untuk memperingati penyelamatan Narasaon oleh ketujuh bidadari itu. Pesta ini biasanya diadakan pada waktu orang turun ke sawah dekat Pansur Naoitu yang dianggap sebagai tempat suci. Maka dimohonkanlah agar sawah-sawah menghasilkan panen yang baik dan supaya ternak berkembang biak.

Konon sewaktu keramaian berlangsung mencullah dari orang banyak tujuh orang gadis dan tujuh orang pemuda dari marga-marga tersebut diatas untuk  "Manortor" dengan meriah. Sebelum tortor itu dimulai maka sesuai dengan kebiasaan, seseorang mengucapkan ajakan "manortor" yang bunyinya kira-kira sebagai berikut :

"Bunyikanlah gendang Narasaon yang dipuji-puji, Raja yang tidak dapat dibantah, ayang ayahnya Datu Pejel yang memarah sifatnya."

Sambil menari gadis-gadis itu menyanyikan sebuah lagu bidadari yang merdu, yang bunyinya kira-kira sebagai berikut :

"Kami menghormati ketujuh pancuran. Sewaktu melakukan persembahan, menari tujuh puteri dam tujuh putera kami. Sesudah melakukan persembahan, kami sehat dan makmur. Ternak berkembang biak dan panen pun melimpah."

Untuk menghormati leluhur mereka keturunan Raja Narasaon didirikan pada tanggal 17 April 1937, sebuah perkumpulan yang dinamakan "Perkumpulan Yayasan Studi Raja Narasaon." Pengurus besarnya berkedudukkan di Pematang Siantar. 

Sumber : Lima Legenda Sumatera Utara oleh Is. Daulay

Belum ada Komentar untuk "Cerita Raja Narasaon"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel