Cerita Si Buyung Besar

Alkisah Rakyat ~ Pada zaman dahulu kala penduduk pantai pun masih jarang kepercayaannya tahyul pun masih kuat, tingallah sepasang sami isteri yang hidup rukun dan damai. Mereka bercocok tanam dan mempunyai seorang anak yang diberi nama si Buyung Besar. Pertumbuhan anak ini jauh berbeda dari anak-anak yang lain kerena badannya lekas tumbuh besar. Itulah sebabnya dia diberi nama demikian itu.Sehari-harian anak ini bermain-main dia tas pohon dan mempunayi sebuah kapak kecil yang amat disayanginya. Dengan kapak kecil itulah san anak bermain-main diatas pohon itu. Takada sebatang pohon pun yang tak kena kapaknya. Sambil menetak-netakkan kapaknya, si Buyung Besar bernyanyi dan lucu kedengarannya.


"Tak ada paksa dicari-cari; ada paksa dibuang-buang." Begitulah dia bernyanyi setiap hari dan baru turun dari atas pohon itu setelah dipanggil ibunya untuk makan.Sehabis makan, segera kembali lagi naik ke atas pohon lainnya, sambil menetak-netak itu lama kelamaan ayahnya jadi heran dan bertanya.

"Apa arti nyanyianmu itu Buyung Besar?" kata ayahnya. "Ayah dengar setiap hari engkau menyanyikan yang itu-itu juga." Sang anak tidak mendengarakan kata-kata ayahnya dan terus menetakkan kapaknya sambil menyanyi. Segera ibunya memanggilnya makan karena sudah tengah hari. Si anak pun turun lalu pergi makan bersama dengan orang tuanya. Seperti biasa sehabis makan, ia pergi lagi ke atasohon lalu menyanyikan lagunya.

Pada suatu hari sang ayah berpikir tentang maksud nyanyian anaknya itu. Hal itu ditanyakan kepada isterinya dan dijawab isterinya, "Manalah aku tahu." Sang suami berniat menyerahkan si anak kepada Datuk Penghulu agar dibimbingnya si Buyung Besar, karena menurut dia Datuk Penghuklulah yang mampu membimbingnya.ang isteri menurut keinginan suaminya. Dalam waktu dua tiga hari, si anak diserahkan mereka kepada Datuk Penghulu. Di sana sang ayah menjelaskan maksud kedatangan mereka seraya memberitahukan keganjilan perangi anaknya itu. Datuk Penghulu tidak keberatan dan berjanji akan mendidik si Buyung Besar dengan baik. Kemudian mereka permisi pulang sedang si anak tinggal bersama Datuk Penghulu.

Setelah beberapa tahun berselang si Buyung Besar pun telah dewasa, perangainya telah jauh berobah. Sekarang ia jadi pendiam dan hanya berbicara kalau orang menyapanya. Hanya sekali-sekali kedengaran nyanyiannya yang dulu itu.

Pada suatu hari Datuk Penghulu menanyakan maksud nyanyian itu kepada si Buyung Besar, apa maksudnya.

"Tak ada apaksa dicari-cari, ada paksa dibuang-buang." Buyung Besar menjelaskan bahwa ia tak tahu artinya dan menyatakan bahwa itulah nyanyiannya setiap hari. Kemudian Datuk Penghulu menanyakan apakah si Buyung Besar mau berniaga keluar negeri. Si Buyung Besar menurut saja segala keinginan Datuk Penghulu. Tetapi si Buyung meminta dibuatkan sebuah kapal untuk dibawa berlayar.

Datuk Penghulu bersedia membuatkan sebuah kapal. Dikerahkanlah semua tukang di tempat itu mengerjakannya. Dalam waktu enam bulan kapal itupun selesailah. seminggu kemudian kapal itu berangkat membawa buah kelapa penuh, dengan bantuan orang-orang kampung. Kapal itu diperlengkapi pula dengan sebuah meriam. sebelum berangkat, malamnya si Buyung Besar lebih dahulu pamit kepada ayah-bundanya untuk menyatakan maksud keberangkatannya serta meminta doa restu keselamatannya selama berlayar. Malamnya setelah minta izin dari Datuk Penghulu, kapal yang berisi buah kelapa itu pun berangkatlah bersama para pembantunya.

Satu malam, dua malam, minggu berganti bulan mereka berada di atas lautan. Suatu hari berkatalah awak kapal kepada si Buyung Besar seraya menunjukkan sebuah pulau. Buyung Besar memerintahkan agar kapal ditujukkan ke sana. Kini mereka sampai pada sebuah negeri. Buyung Besar berkata kepada penduduk negeri itu.

"Hai penduduk kampung, siapa yang hendak membeli barang daganganku ini. Aku membawa buah kelapa." Segera penduduk kampung itu datang bramai-ramai dan berkata bahwa mereka tidak mempunyai uang untuk membayarnya.

"Terang siapa yang ingin mengerjakan buah kelapa ini, saya berikan. Minyak kelapanya ambillah untuk kalian. Sabut-sabut dan tempurungnya isikanlah kembali ke dalam kapal hamba," katanya. Mendengar ucapan demikian itu penduduk kampung sangat gembira dan senang hati.  Beberapa minggu berselang, selesailah pekerjaan mereka itu.

Seluruh sabut-sabut dan tempurung kelapa telah diisikan kembali ke dalam kapal si Buyung Besar. Penduduk kampung itu tak lupa mengucapkan terima kasih kepada si Buyung Besar atas kebaikan hatinya itu seraya memohon agar dibawakan kembali buah kelapa yang lain kalau masih ada.

Kembali metreka berlayar mengarungi lautan menuju kampung halamannya. Berbulan-bulan lamanya mereka di laut barulah sampai di tempat asalnya. Meriam dibunyikan pertanda bahwa mereka telah tiba kembali dengan selamat. mendengar dentuman  itu Datuk Penghulu segera menjumapinya ke tambatan kapal seraya menanyakan kabar Buyung Besar. Buyung Besar menjelaskan kabar baik serta memberitahu bahwa hasil dagangannya itu "pulang pokok saja." Datuk Penghulu tidak ambil pusing walaupun si Buyung Besar yang dimodalinya itu kembali tanpa untung.
Dengan seizin Datuk Penghulu si Buyung Besar pergi menemui ayah-bundanya untuk melepaskan rindu hati yang sudah berbulan-bulan berpisah tetapi hanya satu hari saja. Disana Buyung Besar menceritakan pengalamannya selama enam bulan itu di laut serta menjelaskan bahwa daganagnnya hanyapulang pokok saja adanya. Mereka melihat perobahan anaknya setelah itu. Tabiatnya yang menetak-netakkan kapak ke atas pohon diingatnya lagi. Demikian juga nyanyian yang ganjil didengar itu tak pernah lagi tersembul dari mulutnya.

Besok paginya ia berangkat menuju rumah Datuk Penghulu setelah pamit dari kedua orang tuanya. Ditempat Datuk Penghulu, Buyung Besar menanyakan tentang muatan kapal itu. Tetapi si Buyung Besar menyerahkan kebijaksanaan selnjutnya kepada Datuk. Segera isi kapal dibersihakn, dikeluarkan dari dalam kapal serta-merta menanyakan apakah Buyung Besar ingin lagi berlayar. Buyung mengiakan dengan syarat kalau ada modal lagi dia menyanggupinya. Kali ini yang dibawa adalh padi. Para kuli memuat kapal itu penuh dengan padi, tetapi orangnya telah berganti bukan lagi mereka yang ikut berlayar pertama kali. Mereka itu tak mau lagi karena tidak mendapat gaji dari Datuk Penghulu, Buyung Besar akan berangkat. Tetapi hal itu lebih dahulu diberitahukannya kepada kedua orang tuanya dikampungnya. Disanalah ia tidur malam itu dan baru pagi harinya minta izin dari Datuk Penghulu. Dijelaskan, kalau tak ada halangan ia akan berangkat. Dan Datuk memerintahkan kepada pembantunya agar patuh kepada perintahnya.

Malam itu Bayung Besar bersama pembantu-pembantunya berangkat menuju lautan dengan barang dagangan padi. Pelayaran ini lebih lama dari yang pertama. Akhirnya mereka sampai pada sebuah negeri lain (bukannya persinggahan semula) Buyung Besar berkata.

"Hai penduduk kampung saya ingin berjumpa dengan kalian." Penduduk negeri itu menanyakan akan diri Buyung Besar tentang tujuan mereka datang di temapt itu. Dengan menjelaskan diri dan kedatangannya, ia pun berkata.

"Kalau kalian hendak menumbuk padi yang kami bawa, sikan. Berasnya kami hadiahkan kepada kalian, tetapi segala kulit-kulitnya keluarkan lalu masukkan kembali ke dalam kapal ini," Dengan senang hati penduduk negeri itu bekerja keras menumbuknya.

Setelah dua bulan berlangsung selesailah pekerjaan menumbuk padi itu dan kulitnya pun telah masuk ke dalam kapal Buyung Besar yang baik hati. Mereka mengharapkan Buyung Besar kembali membawa dagangan serupa itu dengan mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati itu. Setelah pamit dari penduduk kampung itu mereka pun kembali berlayar menuju kampung halaman. Antara sesama kuli-kuli itu terdengar ocehan.

"Alangkah bodohnya dan bencinya aku melihat tingkah si Buyung Besar ini. Seenaknya saja memberikan padi-padi  itu kepada orang lain. Kita telah bekerja keras menolongnya, mematuhi segala perintahnya tapi tak diberi apa-apa. Berasnya dikasih sama orang itu dan kulitnya dibawa pulang. Mati aku melihat kebodohan si Buyung Besar ini," begitlah mereka mengeluh melihat tindakan si Buyung Besar ini. Mereka tak berani membantah atau mencela terus terang karena takut kepada Datuk.

Hampir dua bulan mereka berlayar pulang, tibalah kapal itu dengan selamat. Dentuman meriam pun dibunykan tanda mereka telah tiba kembali. Datuk Penghulu menyuruh menterinya melihat siapa yang membunyikan meriam itu. Kiranya ia melihat akan si Buyung Besar telah pulang dari pelayarannya. 

Datuk mendapat berita baik-baik dan jawaban serupa dengan pelayaran pertama yakni, "pulang pokok saja." Datuk hanya menyatakan syukur atas keselamatan mereka dan menekankan agar sedikit demi sedikit Buyung Besar dapat meolong orang tuanya. Selesai berbincang-bincang dengan Datuk Penghulu, Buyung Besar pergi menjumpai kedua orang tuanya.

Diceritakannyalah pengalamannya selama ini di rantau orang, tentang dagangannya dan sambutan penduduk negeri itu terhadapnya.Kedua orang tuanya sangat asyik mendengarkan cerita pengalaman anak tunggalnya itu. Larut malam barulah mereka tidur. Besok paginya, Buyung Besar memberitahukan keberangkatannya berikut seraya memohon doa restu orang tuanya. Dengan seizin orang tuanya, Buyung Besar pergi ke tempat Datuk Penghulu. Datuk berkata.

"Bagaimana Buyung Besar, jadikah kamu berangkat malam nanti? Pandai besi, pandai emas dan perak sudah siap menanti dan segala keperluan telah sedia. Kuli-kuli yang akan bawa berlayar itu tak mau lagi pergi. Keberangkatanmu yang ketiga kalinya ini ditemani oleh tukang-tukang yang mahir membuat segala macam barang, baik ukir-ukiran maupun perabot.

"Sebelum kapal brlayar Datuk Penghulu mengumpulkan semua orang yang akan ikut serta dengan perintah bahwa semua anak-anak kapal dan tukang harus menuruti perintah Buyung Besar dan tak boleh membantah. Siapa yang berani membantah akan dihukum. Jadi sebelum ada perintah Buyung Besar, tidak boleh mengerjakan sesuatu. Selesai perintah Datuk itu kapal pun berangkat.

Setelah beberapa minggu berlayar, sebuah bayangan hitam berada di depan mereka. Juru mudi memberitahukannnya kepada Buyung Besar. dengah perintah Buyung Besar, kapal mereka ditujukkan ke sana. Tiada berapa lama antaranya, sampailah mereka. Rupanya bayangan itu tak lain dari sebuah pulau yang penuh dengan besi. Melihat besi-besi itu, pandai besi bermaksud mulai bekerja, tetapi kerena belum ada perintah mereka tak berani. Perintah Buyung Besar yang ditunggu-tunggu itu tak juga ada, sehingga salah seorang yang di antara mereka menggerutu.

"Kalau perintah itu kita tunggu-tunggu, maka satu minggu inipun kita tungu belaum juga akan bekerja. Karena itu mari kita mulai saja. "Dijawab yang lain. "Yah, tapi belum ada perintah, nanti kita dimarahi."

"Nah, kita dibawa kemari'kan untuk belerja, kurasa dia takkan marah," kata kawannya. Begitulah mereka pun bekerja tanpa perintah Buyung Besar dan membuat barang dari besi menurut keahliannya masing-masing. banyak lemari, kursi, tempat  tidur dan barang lainnya yang sudah mereka kerjakan.Pada suatu hari berkatalah Buyung Besar kepada juru mudi.

"Angkat sauh, pasang layar, kita segera berangkat ke tengah lagi.idak seorang pun dapat membawa barang-barang yang sudah dibuat itu," katanya. Mendengar perintah itu mereka merasa kesal dan gelisah,tetapi tak seorang pun yang berani membantahnya karena membantah berarti masuk penjara. Juru mudi naik kapal. Kapal pun bergerak meninggalkan pulau besi itu menuju ketengah lautan luas. Kira-kira lima hari pelayaran juru mudi menanyakan tujuan  mereka berikutnya. Jawaban Buyung Besar singkat saja, yakni, "Ke tengah," Juru mudi tak berani melanjutkan pertanyaannya selain menunjukkan kapal itu ke tengah lautan kira-kira sebulan kemudian tampaklah di depan mereka cahaya putih bersinar.

Hal itu diberitahukan kepada Buyung Besar dan mendapat perintah agar kapal ditujukkan kesana. Kiranya tabiat Buyung Besar selama pelayaran itu tetap selalu tidak banyak bicara. Kerjanya sehari-harian ialah berjalan  dari buritan ke haluan saja sambil menetak-netakkan kapal kecilnya ke tepi dinding kapalnya.

Tiada berapa lama kemudian mereka sampai ke tempat asal cahaya putih itu yang tak lain adalah sebuah pulau yang penuh dengan perak. Melihat perak itu para tukang tidak dapat lagi menahan diri untuk segera mengerjakannya. Mereka berebutan turun ke darat dan bekerja menurut keahliannya masing-masing. Si Buyung Besar tidak mengacuhkan mereka itu. Ia hanya mondar-mandir saja dari haluan ke buritan kapal sambil menetak-netakkan kapal kecilnya.

Lebih kurang sebulan lamanya mereka berada di pulau perak itu Buyung Besar memerintahkan agar semua mereka yang berada di dart naik kapal dan tak boleh membawa barang-barang yang sudah dibuatnya, karena hal itu tak pernah diperintahkan. Siapa yabg membantah akan dihukum sesuai dengan perintah Datuk Penghulu ketika berangkat. Para pandai perak itu takut membawa barang buatannya masing-masing dan naik ke kapal hampa tangan. Kapal pun bergerak meninggalkan pulau perak menuju ke tengah lautan. Mereka pada diam merenung nasib mereka yang akan terjadi berikutnya.

Sepekan lamanya mereka berlayar, juru mudi menanyakankeadaan mereka kepada Buyung Besar dan kemana tujuan berikutnya. Jawab Buyung Besar tetap singkat, "Ke tengah lautan," dan menegaskan bahwa mereka belum diperintahkan pulang. Kapal pun ditujukkan ke tengah lautan selama berminggu-minggu. 

Pada waktu pagi yang cerah dimana para pekerja masih tidur nyenyak, juru mudi melihat cahaya merah di depan seolah-olah lautan itu terbakar nampaknya. dengan suara keras ia berteriak.

Oh,...... Buyung Besar! Di muka kita ada cahaya merah seakan-akan lautan ini terbakar. pakah kita putar haluan?" Buyung Besar memerintahkan agar cahaya itu dituju terus. Dengan hati yang berdebar-debar juru mudi mengarahkan kapal ke arah cahaya mereka itu. Seisi kapal menjadi cemas dan hanya tahu berdoa kepada Tuhan agar dilindungi dari mara bahaya. Sehari semalam pelayaran sampailah mereka ke tempat itu yang tak lain adalah sebuah pulau yang penuh dengan emas melulu. Kali ini si Buyng Besar memberi perintah kepada semua tukang untuk bekerja membuat apa saja dalam jumlah yang banyak untuk diri masing-masing. Bagi dia diminta dibuatkan sebuah kapal besar sebesar kapalnya dan sebuah peti berukuran satu depa kali dua depa yang kuncinya dari dalam. Mendengar perintah itu mereka mulai membuat kapal seperti yang diinginkan oleh si Buyung Besar. Mereka bekerja dengan tekunnya dalam suasana gembira.

Ringkas cerita, kapal dan peti si Buyung Besar selesai mereka kerjakan serta barang-barang lainnya menurut selera masing-masing. kemudian mereka diperintahkan agar memasukkan barang-barang itu kedalam kapal dan tidak boleh bercampur baur antara barang yang satu dengan yang lainnya. Demikianlah kapal emas itu penuh dengan barang-barang diikatkan pada buritan kapalnya dan tak seorang pun yang boleh menungguinya. Dalam perjalanan pulang, kapak kecil kepunyaan Buyung Besar terjatuh ke dalam lautan. Karena itu Buyung Besar memerintahkan juru mudi untuk menghentikan kapalnya dan membuang sauh. Kepada semua awak kapal ia berkata dan berpesan.

"Tuan-tuan sekalian, kapak saya sudah jatuh ke laut sedangkan saya tak dapt berpisah dengannya. Sebab itu saya akan turun ke laut mengambilnya. Kalau tidak, kapal tidak boleh berangkat sebelum saya kembali ke kapal. walaupun setahun lamanya makanan dan minuman masih cukup untuk dimakan. Sauh ini akan bergoyang tandanya saya akan kembali. Jika tanda itu telah ada maka tariklah sauh ini," katanya sambil menunjukkan kepada tali sauh itu. Selesai berpesan demikian ia pun terjun ke dalam laut. Tinggallah mereka di atas kapal menunggu nasib apa yang  akan terjadi  atas diri Buyung Besar.

Di dasar lautan Buyung Besar tercengang melihat sebuah taman dan istana yang megah. Kiranya istana itu adalah istan Raja Lautan. Di sana tinggal, selain paran pengawal dan hulubalang juga tingal raja lautan suami-isteri bersama puterinya. Ditaman itulah puteri raja itu selalu bermain-main. Waktu kapak kesayangan Buyung Besar jatuh, kebetulan puteri Raja Lautan sedang berada disana. benda yang jatuh itu diambilnya lalu disimpannya dalam biliknya. Tak seorang pun yang mengetahui bahwa tuan puteri mendapatkan kapak itu.

Buyung Besar terus pergi mendapatkan seorang yang sedang menjaga di depan istana. Ia memberi salam lalu bertanya. "Wahai Tuan yang sedang berjaga-jaga, saya ini bernama Buyung Besar dari dunia. Saya datang kemari untuk mencari kapak saya yang jatuh ke dasar laut ini. Tahukah Tuan siapa yang mendapatnya? Saya bersedia menebusnya dengan apa saja," katanya.

"Wahai Tuang yang datang dari dunia. Apa yang Tuan katakan sungguh saya tidak tahu. tetapi ada baiknya kalau hal Tuan saya sampaikan kepada raja kami. Bersabarlah Tuan menunggu di sini sebentar biar hamba sampaikan kepada raja."

Pengawal itu pun pergi menghadap rajanya menyampaikan hal  si Buyung Besar. Raja Lautan memerintahkan agar si Buyung Besar datang menghadap. kemudian Buyung Besar pergi menghadapi raja lalu raja menanyanya.

"Hai orang dunia, apa hajat tuan datang kemari. katakanlah yang sebenarnya, semoga kami dapat membantu." Maka diceritakanlah  hal kapaknya yang jatuh itu. Raja berkata.

"Kalau begitu, istirahatlah dulu agar kukumpulkan rakyat untuk menanyakan siapa yang telah mendapat kapakmu itu".

Hulubalang segera diperintahkan memanggil sekalian rakyatnya kecuali tuan puteri. Kepada hadirin, Raja Lautan bertanya.

"Hai rakyatku sekalian, siapakah di antara kalian yang ada mendapatkan sebuah kapak kecilkepunyaan orang dunia ini?" Tak "Sungguh heran, tak seorang pun rakyat kita yang mendapatkan kapak orang dunia itu, kasihan." Lalu sambungnya, "Tadi tidak kulihat puteri kita, dimana dia? Coba panggil, mana tahu mungkin dia yang mendapatkannya." Sang isteri pun pergi memanggil puterinya ke hadapan raja. Setelah ditanya, puteri raja mengaku bahwa dialah yang mendapatkan kapak itu waktu bermain-main di dalam taman. Diterangkannya bahwa dia tak hadir tadi karena tak dipanggil dan juga tidak ditanya, lalu minta ampun atas kealpaannya itu. Ditegaskannya, kapak itu baru diberikannya setelah mendapatkan tebusan dari orang dunia. Raja menanyakan kehendak puterinya sebagai tebusan itu, dan sang puteri menginginkan diri Buyung Besar. karena itu raja termenung dan tiada lama berselang, hal itu langsung dihadapkan kepada orang dunia. Buyung Besar kembali menyerah dan mengembalikan persoalan itu kepada raja lautan. Baginya tidak ada pilihan lain selain memenuhi permintaan tuan puteri, karena ia sendiri telah menjanjikan untuk meberikan segala apa yang ada padanya. Singkat cerita, raja pun mersmikan perkawinan antara Buyung Besar dengan puteri Raja Lautan. Pesta yang meriah diadakan selama 40 hari 40 malam. Dan selama enam bulan Buyung Besar tinggal di dasar lautan bersama isterinya baru teringat kembali kepada teman-temannya yang berada di atas kapal.

Suatu hari Buyung Besar berkata kepada isterinya, bahwa ia ingin segera pulang ke dunia dimana kawan-kawannya sedang menunggu-nunggu di atas kapalnya. sang isteri tidak merasa keberatan bersama Buyung Besar lalu pergi menghadap raja untuk minta izin pulang ke dunia. Raja tidak keberatan melepas keduanya malah memberi tanda mata kepada menantunya sebentuk cincin dan sebungkah kemenyan sambil berpesan.

"Aku tahu benar bahwa kehiduoan di dunia berbeda disini. Disana penuh dengan dengki dan iri hati. Karena itu anakku cincin ini dapat memberimu makan bila kau kehendaki dan kemenyan ini bakarkah agar engkau terhindar dari bahaya," katanya.

Besoknya, berangkatlah Buyung Besar bersama isterinya ke dunia. Sesuai dengan pesannya kepada teman-temannya di kapal sauh digoyangkan. Gegerlah penghuni kapal melihat tali sauh itu bergoyang. Semua mata tertuju kesana, lalu ditarik oleh  juru mudi. Dan terlihatlah oleh mereka bayangan Buyung Besar dalam air. sesampai di atas kapal, riuhlah teman-temannya dan menanyakan siapa yang melekat di belakangnya itu. Buyung Besar dengan bangga menjelaskan bahwa itu adalah isterinya. Pekerja diperintahkan agar segera membukakan peti emasnya untuk memasukkan isterinya ke dalamnya. semua penghuni kapal itu tercengang dan takjub melihat kecantikan isterinya, tetapi tak berani bertanya lagi karena takut akan ditindak oleh si Buyung Besar. Peti itu disuruh kunci dari dalam oleh isterinya.

Kini mereka berangkat pulang. Tiada berapa lama kemudian, kapal pun sampai di muara. Meriam dibunyikan tiga kali sebagai tanda bahwa mereka telah kembali. Mendengar bunyi meriam itu berbodong-bodonglah manusia datang kesana. Dan tidak ketinggalan Datuk Penghlu. Dari jauh orang ramai telah melihat dua buah kapal di sana. satu diantaranya telah dikenal dan satu lagi sangat mengagumkan karena terbuat dari emas. Karena cahayanya maka warna air sekitarnya berobah menjadi kuning kemerah-merahan. Kemudian turunkah si Buyung Besar lalu disambut oleh Datuk Penghulu diiringi sorak-sorai yang ramai. Keduanya segera bersalaman seraya ditanyai tentang keuntunga dan hal kapal emas itu. Buyung Besar menjawab  bahwa keuntungannya tidak begitu banyak, lalu mempersilakan Datuk naik ke atas kapal emas itu. Datuk sangat mengaguminya dan bangga akan hasil pekerjaan Buyung Besar . Dia hilir mudik di atas kapal emas itu serauya memperhatikan barang-barang dan benda-benda yang terbuat dari emas murni itu. Ia tertarik akan peti emas dan menanyakannya kepada Buyung Besar. Buyung Besar menjelaskan dan mengutarakan pendapatnya untuk membagi hasil pelayaran mereka itu.

Menurut hamba Datuk tidak sukar membaginya. Barang-barang tumpukkan kecil itu dibagikan kepada para pekerja. Yang lainnya yakni kapal emas dan sebuah peti adalah untuk kita. Bagi hamba cukuplah peti yang kecil itu saja," kata Buyung Besar. tetapi datuk sangat tertarik akan peti itu sejak dilihatnya tadi dan ingin mengetahui isinya. Mendengar itu Datuk Penghulu bertanya lagi.

"Sebelum pembagian yang kau usulkan itu, bolehkah aku mengetahui isi peti emas itu?" Buyung Besar tidak merasa keberatan lalu dibukanya dan menyatakan bahwa isinya itu adalah isterinya sendiri. Setelah tiga kali ketukan, terbukalah peti itu dari dalam lalu keluarlah isterinya puteri Raja Lautan.

Melihat kecantikan puteri Raja Lautan itu Datuk Penghulu kagum dan tak dapat berkata-kata. Setelah sadar dari lamunannya, ia pun berkata kepada Buyung Besar.

"Usulan pembagian keuntungan itu tak dapat kuterima. Akulah yang memutuskannya. Kapal emas dan peti emas kuserahkan padamu, sedangkan usterimu itu hendaknya kau serahkan kepadaku," katanya Buyung Besar tidak menduga demikian dan beberapa saat lamanya tak dapat berkata-kata selain menundukkan kepala sambil berpikir-pikir. Akhirnya walaupun dengan berat hati, dia menyetujui keputusan Datuk Penghulu. karena hari sudah mulai malam, orang-orang pun telah pergi meninggalkan muara. Buyung Besar memerintahklan agar awak kapal membagi-bagi barang-barang kecil yang terbuat dari emas itu., dan jangan ada yang lebih, jangan ada yang kurang. Kemudian Buyung Besar bersama Datuk Penghulu pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan pulang itu Buyung Besar terus diam demikian juga isterinya.

Sesampai di istana, Datuk  memerintahkan agar mempersiapkan  kamar untuk puteri Raja Lautan. Dan besok harinya agar para pembantu mempersiapkan pesta selama sepekan untuk menyongsong hari perkawinananya dengan tuan puteri itu. Ia juga memesankan agar Buyung Besar tetap berada di rumahnya dan turut mempersiapkan pesta itu. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu itu. Para undangan datang. Tuang kadhi pun telah siap pula untuk menikahkan Datuk Penghulu dengan puteri Raja Lautan. Keduanya duduk diatas pelaminan karena upacara pernikahan akan segera mulai.

Kemudian Datuk Penghulu turun dari pelaminan untuk melukakan akad nikah, semua pengunjung kagum menyakksikan kecantikan tuan puteri. Mereka memperkatakan betapa malangnya nasib Buyung Besar, dimana isterinya yang cantik harus diserahkan kepada Datuk Penghulu. tetapi yang lain menjawab pula dengan. "Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih" dan itu adalah takdir baginya," ketika akad nikah akan berlangsung, Buyung Besar meninggalkan ruangan itu lalu duduk seorang diri di halaman sembari membakar kemenyan pemberian mertuanya Raja Lautan disertai doa (mantera).

Waktu berlangsungnya akad nikah itu, tiba-tiba Datuk Penghulu berobah pikiran. Ia tak dapat melakukan akad nikah dengan sempurna walau ditunjuki tuan kadhi berulang kali. Malah Datuk Penghulu tak adapat lagi menguasai dirinya lalu berdiri sambil mencak-mencak. Ada kalanya tiarap seperti orang yang berenang. Demikianlah ia untuk beberapa saat lamanya disaksikan oleh orang yang hadir di situ. Dalam keadaan demikian tuan kadhi turun ke halaman menjumpai Buyung Besar. Ia berkata.

"Kiranya cukuplah sudah hukuman yang ditimpakan Tuhan kepada Datuk Penghulu, kuharap ampunilah dia."

Buyung Besar pun tersentak dari lamunannya lalu memandang tuan kadhi seraya berdiri, Buyung Besar berkata.

"Barangkali benar kata Bapak, marilah kita menemuinya ke ruangan."

Terlihatlah oleh mereka Datuk Penghulu sedang dalam kepayahan. Didekatinya Datuk itu seraya meletakkan tangannya di atas kepalanya. Begitu kepala Datuk disentuh Buyung Besar, Datuk Penghulu pun mulai sadar.

Beberapa saat kemudian Datuk Penghulu benar-benar telah sadar, lalu berucap kepada hadirin bahwa ia tidak jadi melangsungkan perkawinannya dengan tuan puteri. Saat itu juga diumumkannya bahwa Buyung Besar dinikahkan dengan puteri Raja Lautan dan saat itu pula ia mengundurkan diri dari jabatan Datuk, seraya menunjuk Buyung Besar sebagai penggantinya.

Demikianlah pesta untuk perkawinan Datuk Penghulu itu beralih menjadi pesta perkawinan Buyung Besar dengan puteri Raja Lautan. Sejak itu Buyung Besar menjadi Datuk dan memerintah negeri dengan adil dan bijaksana. Mereka hidup bahagia demikian  juga masyarakatnya bertambah makmur adanya. 

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Sumatera Utara

Belum ada Komentar untuk "Cerita Si Buyung Besar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel