Cerita Datu Kandibata

Alkisah Rakyat ~ Kata yang empunya cerita dahulu kala tersebutlah sebuah cerita yang bernama Datu Kandibata. Di tepi sungai Lau Biang ada;ah sebuah kampung yang sangat terkenal, yaitu kampung Kandibata. Adapun sebabnya maka kampung Kandibata itu terkenal ialah karena di kampung itu ada sebuah rumah tangga tempat sepasang suami usteri yang keduanya Datu Besar. Mereka mempunyai 2 (dua) orang puteri yang sangat cantik yang tertua bernama Si Beru Tandang Karo dan yang bungsu bernama Si Beru Tandang  Meriah.


Datu Kandibata dan isterinya sering dipanggil, orang untuk mengobati orang yang sakit. Karena Datu inilah sebetulnya maka kampung Kandibata terkenal sampai ke Tanah Alas, Tanah Deli, Tanah Toba terus Tanah Simalungan.

Muridnya banyak, pusaka dan tongkatnya pun sangat banyak, begitu juga oabat-obatan dan segala jenis minyak di dalam guci-gucinya. Dia sangat pintar dapat meramalkan apa saja, dan mengetahui waktu yang bagaimanapun. Apa yang diucapkannya terus menjadi kenyataan. Ada pun bila disentuhnya "bertunas," katanya, terus bertunas. Manusia pun jika baru empat malam dikuburan jika bangkainya masih sempurna, "hidup," katanya terus hidup. Oleh karena itu semua orang menghormatinya, baik rakyatnya, maupun datu-datu, apa lagi prajurit dan raja-raja besar. Tetapi ada sedikit kelemahan Datu Besar ini, yaitu ia sangat tamak akan uang.

Pada suatu hari di tanah Alas berjangkit penyakit cacar. Semua rakyat raja tanah Alas sudah terkena penyakit cacar. Oleh karena itu raja Alas mengirim utusan ke Kandibata memanggil Datu Kandibata yang trkenal pandai mengobati segala macam penyakit itu. Utusan raja Alas itu membawa prajurti sebanyak dua belas orang. Sampai di Kandibata terus didatanginya rumah Datu Kandibata.

"Apa maksudmu datang ke rumah Datu ini?" kata salah seorang muridnya bertanya kepada utusan raja Alas itu.

"Aku adalah utusan raja Alas, dan aku hendak berbicara dengan Datu karena  kata raja kami, hanya Datu inilah yang sanggup mengobati penyakit cacar yang sedang hebat-hebatnya melanda tanah Alas. Kalau mengenai upah berapa pun dimintanya akan kami bayar; entah dia meminta emas, suasa, entah perak, semuanya akan kami penuhi. Begitulah raja kami dari tanah Alas."

"Kalau begitu , baiklah akan kesampaikan kepada Datu," kata murisnya. Diberitahukan muridnya itulah semua yang dikatakan oleh utusan raja Alas itu kepada Datu Kandibata.

Maka disuruhnyalah muridnya itu memanggil utusan raja Alas ke pertapaannya. Maka berbicaralah mereka. Kata Datu Kandibata.

"Sebelum engkau datang aku sudah mengetahui bahwa sekarang ini lagi hebat-hebatnya penyakit cacar melanda tanah Alas. Penyakit itu datang dari tanah Singkel, seperti angin berembus suaranya datang."

"Benar Datu," kata utusan raja Alas itu. 

"OLeh karena itu aku harus bermufakat denga isteriku ibu Si Beru Tandang Karo apakah akan ke sana atau tidak, karena aku pun tahu raja Alas sangat kaya," katanya.

Maka disuruhnyalah muridnya memanggil isterinya kerumah. Setelah isterinya datang diceritakannyalah semua apa yang dikatakan oleh utusan raja Alas itu.

"Aku sangat takut, kalau-kalau kesini pun akan datang juga penyakit cacar itu, jangan-jangan nanti anak kitapun kena pula pada waktu kita di tanah Alas' kata isterinya.

"Kalau begitu, iar kubaca dahulu pustaka," kata Datu Kandibata kepada isterinya. Diambilnyalah pustaka lalu dibacanya.

"Benar, kelak setelah kita sampai di tanah Alas akan berjangkit penyakit cacar  dari tanah Alas ke tanah Karo omo. Anak kia pun akan kena dan berbahaya pula. Tapi walupun begitu, jangan takut karena walau nanti ia mati dapat dihidupkan kembali," katanya kepada isterinya.

"Aku sangat takut, tapi walaupun demikian, terserah kepadamu, asal saja jangan sempat kita mendapat malu kelak, anak kita mati gara-gara kita mengejar uang ke tanah Alas," kata isterinya.

"Jangan takut, orang yang telah mati pun dapat kuhidupkan," katanya. Lalu katanya kepada  salah seorang muridnya.

"Panjatlah pohon beringin tunggal itu lalu dipanggil Datu lah angin puting beliuang, maka jatuhlah murid itu kebatu, terus mati hancur semua tulangnya. Lalu disuruhnya angin berhenti, "Bangun engkau." Muridnya itu terus bangun. Setelah dilihatnya oleh isterinya peristiwa itu maka mereka pun sudah sepakat akan berangkat ke tanah Alas bersama utusan raja Alas keesokan harinya.

Malam harinya dipanggilnya semua saudara-saudaranya beserta murid-muridnya, lalu dipesankannya agar selama mereka berada di tanah Alas, entah bagaimana nanti keadaan kedua anaknya entah sakit, atau sedikit saja pun panas badannya supaya diseluruh muridnya memanggil mereka ke tanah Alas. Mendengar pembicaraan itu menangislah kedua anaknya lalu katanya. "Entah kita tidak akan bersua lagi jika penyakit cacar itu berjangkit ke sini ayah, entah inilah perjumpaan kita yang terakhir ibu," kata kedua anaknya sambil menangis.

"Aku Datu besar, ibumu juga datu Besar anakku, apa yang kau takutkan walaupun kami pergi ke tanah Alas, siapa pun tidak ada yang berani berbuat jahat kepadamu, jangankan manusia, binatang di hutan, hantu keramatpun takut melihat kami. MUridku pun banyak yang akab menjaga kamu berdua."  

"Walaupun begitu ayah sekiranya kami mati kelak hendaknya di hadapan ayah dan ibu, begitlah permintaan kami. Mimpiku pun buruk ayah," kata si Beru Tandang Karo

"Mengenai itu sudah kuketahui   anakku, tapi yang bersama engkau itu,"  kata Datu Kandibata kepada isterinya, lalu dijawabnya.

"Ah, aku juga merasa seperti ada bau mayat pada sirih ini. Saya pikir lebih baik kita tidak usaha berangkat,"katanya, seraya menitik air matanya.

"Jangan takut," kata  Kandibata.

"Kami pikir, abang lebih baik jangan berangkat karena ia sangat tamak akan uang.

Setelah beberapa hari dia di tanah Alas, datanglah 3 (tiga) orang muridnya memberitahukan bahwa ke tanah Karo pun sudah berjangkit penyalit cacar.

"Datu, sekarang penyakit cacar sudah berjangkit di Tanah Karo, Si Beru Tandang Meriah pun kena dan sangat parah.Sudah kami obati, tetapi bukan bertambah baik malah bertambah parah," kata ketika muridnya itu.    "Kalau begitu pulang kita," kata isterinya.

"Tidak, jangan takut. Seandainyapun ia mati dapat kuhidupkan kelak. Pulanglah kamu dan bawa uang ini sesumpit kamu seorang. Besok akan keberitahukan pada raja Alas agar disediakannya dua orang prajurit untuk mengantarkan kamu," katanya.

Setelah itu beberapa hari kemudian datang pula saudara isterinya tiga orang, lalu salah seorang berkata.

"Bang pulanglah Abang besok ke Kandibata, penyakit anak kita itu bertambah parah setiap hari. Kami takut mereka akan mati kalau Abang tidak ada di situ. Kalaupun mereka mati agar dihadapan Abang, karena mereka selalu menangis." katanya.

"Jangan takut Dik, pulang sajalah kamu besok. Tidak selamanya seperti ini enaknya mencari uang. Cuma seandainya mati anak kita itu kuburkan nanti di antara pohon beringin dengan tempatku bertapa supaya siapa pun tidak ada yang berani menganggunya, baik manusia, baik hantu keramat maupun hantu-hantu. Besok kamu bawa uang ini sekarung seorang dan yang mengantarkan kamu akan kuminta dua belas orang prajurit raja Alas ini," kata Datu itu.

"Tidak, jangan engkau bersedih," jawabnya. Menangislah isterinya. Begitulah disuruhnya saudara isterinya itu pulang dengan membawa uang sekarung seorang diantarkan dua belas orang prajurit raja Alas.

Setelah saudara isterinya itu sampai di Kandibata, datang pulalah saudaranya tiga orang katanya.

"Pulanglah Abang dahulu penyakit anak kita itu bertambah parah selalu, sekarang bergerak pun mereka tidak sanggup lagi. Kalau masih lama Abang pulang, bagaimanapun kita akan berpisah dengan mereka."

"Tidak, pulang sajalah kamu besok. Cuma kalau anak kita ini mati besok, buat nanti kuburannya agak tinggi di antara pohon beringin tunggal dengan pertapaanku. Kalau kamu pulang besok bawalah uang ini sekarang seorang," katanya.

"Karena uang maka kita tidak pulang. Mati pun nanti anak kita itu tidak lihat lagi karena mengejar uang," kata istrinya menangis sambil memukuli tubuhnya.

"Jangan engkau menangis, Orang mati pun dapat kuhidupkan kembali," kata Datu Kandibata.

Keesokan harinya pulang pulalah saudaranya itu membawa uang sekarung seorang diantarkan oleh prajurit raja Alas. Tapi sebelum pukul sepuluh sudah datang utusan anak kampung memberitahukan bahwa si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Maeriah sudah mati.

"Datu, Si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Meriah sudah meninggal," katanya.

"Kalau begitu cepat engkau pulang besok bawa uang ini sekarung untuk biaya penguburannya. Katakan kepada murid--muridku suaya diaturnya kuburannya, mayatnya suoaya dibalut dengan kain putih dan dimandikan dengan air jeruk purut," jawab Datu itu.

"Anakku, anakku, rupamu [un tidak sempat lagi kulihat karena ayahmu tamak uang......ni......ni," menangis ibu si Beru Tandang Karo.

"Diamlah engkau, nanti akan hidup juga kembali," kata Datu Kandibata menghibur isterinya.
Menjelang si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Meriah mati, mereka sangat sedih, tiada henti-hentinya air matanya menitik, mengingat ayah-ibunya mengejar uang ke tanah Alas. Mereka sangat sedih, pada waktu napasnya hendak putus, katanya.

"Tak lama lagi dunia ini akan kutinggalkan, di makah engkau ayah, dimanakah engkau ibu.....," kata si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Meriah. Orang yang melihat pun sedih semuanya.

Setelah meningal dunia maka dibuatlah pesta penguburananya. Apa yang dipesankan Datu Kandibata mengenai cara-cara penguburan si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Meriah dilaksanakan oleh saudara-saudaranya, semoga mereka dapat lagi hidup kelak pikir mereka. Datu Kandibata dan isterinya sudah berbulan-bulan di tanah Alas.

Setelah itu si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Meriah dikuburkan, hantunya terus menangis di atas kuburan, mereka sangat sedih. Sedih hatinya berpisah dengan ibu-bapaknya. Tapi karena tamaknya ayahnya kepada uang, mereka mati pun ayahnya tidak juga datang. "Barangkali sudah lupa ayah dan ibu kepada kami," kata hantunya menangis.

Karena mereka terus  menangis maka terdengarlah suara mereka itu kepada Keramat Gunung Sibayak yaitu Keramat Batu Marlunglung dan Keramat Batu Ernala, mereka sangat kasihan. Akhirnya berkatalah ia kepada pesuruhnya katanya.

"Coba tanya apa sebabnya mereka menangis sepanjang hari. Sungguh sedih mendengar ratapan mereka itu."

"Boleh...." kata pesuruhnya. Maka berangkatlah ia bersama beberapa orang kawannya mendatangi hantu si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Meriah. "Mengapakah engkau menangis sepanjang hari anakku," kata pesuruh itu.

"Tak terlukiskan lagi apa sebabnya, bibi yang belum kukenal Ibu mereka pergi kami disini pun sakit pula. Sudah sering ayah dan ibu dipanggil ke tanah Alas, tapi sekali pun mereka tidak datang. Kembali semua yang memanggil. Sekali lagi pun berbicara bersama ayah dan ibu, tapi sampai sekarang ini sudah sampai setahun, kubur kamipun tidak filihatnya entah satu pun mereka tidak akan kembali lagi...... ui.....ui., jawabnya sambil menangis.

"Jangan menangis anakku.... apakah gerangan halangannya maka ia tak datang-datang?" tanya pesuruh itu.

"Karena mengejar uang. Semua orang yang memanggilnya uang itulah yang diberikannya, entah berapa banyak uang itu sudah diperolehnya sebagai upahnya mengobati orang tak tahulah kami sampai-sampai ia lupa melihat kami. Katanya sebesar tulang sisir saja pun tulang kami tinggal, kami dapat dihidupkannya kembali, begitulah katanya kepada yang menjemputnya," kata si Beru Tandang Karo.

"Kalau begitu, anakku kami ini pesuruh Keramat Gunu g ibayak. Marilah sama-sama kita pergi ke sana, anggaplah dia sebagai pengganti ibumu. Lagi pula ayah dan ibumu sudah tidak perduli kepadamu," kata pesuruh itu. Lama mereka berpikir. Akhirnya kata si Beru Tandang Karo.

"Kalau begitu katamu bibi, baiklah! Engkaulah sekarang yang kami anggap sebagai orang tua kami." Maka pergilah mereka mendatangi Keramat Gunung Sibayak. Sampai di atas terus diceritakan pesuruh itu bagaimana yang sebenarnya kehidupan kedua gadis itu.

"Kalau begitu anakku, tinggallah di sini. Apa kehendakmu akan kepenuhi, pemandianmu, pemandian si Banggal-banggal. Siapa pun tidak akan berani menganggapmu, karena aku keramat yang mendiami Gunung Sibayak ini." Menangislah si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Meriah karena senangnya pikirannya. 

"Jangan menangis anakku! Akulah orang tuamu yang mengasihimu. Berapa orang pesuruh yang ku kehendaki akan kusediakan. Berapa orang yan kau kehendaki membawa tapak sirihmu akan kusediakan. Pakaian bagus juga dapat kau pilih dan kalau engkau mau berkeramas jeruk puruk dapat tiapa hari diambil pesuruhmu," kata orang tua itu. Akhirnya diamlah mereka.

"Pergi ambil semua tulang-tulangnya lalu simpan di mana tidak dapat dilihat oleh manusi," kata Keramat Gunug Sibayak kepada pesuruh. Tandang Karo dan si Beru Tandang Meriah, dibukanyalah kuburan itu lalu diambilnya seluruh tulang-tulangnya. Dan setelah diperolehk=nya semua tulang-tulang si Beru Tandang Karo dan si Beru Tandang Meraih, terus dibawanya ke atas Gunung Sibayak lalu disimpannya siapapun tidak ada yang mengetahuinya lagi.

Setelah itu berpestalah keramat Gunung Sibayak bersama seluruh rakayatnya, karena sangat bergembira memperoleh dua orang anak gadis yang sangat cantik parasnya. Bergendanglah mereka tujuh hari tujuh malam lamanya. Semua pedagang yang selalu lewat menuju tanah Deli keheranan dan mereka ketakutan karena hanya suara gendang yang terdengar, orangnya tidak tampak.

"Bagaimanapun pasti keramat Gunung Sibayah yang bergendang itu," pikir mereka.

Datu Kandibata di tanah Alas sudah mengetahui hantu anaknya sudah diambil keramat. Oleh karena itu katanya kepada isterinya.

"Besok kita pulang karena hantu anak kita sudah diambil keramat." Maka pada malam itu juga ia minta diri kepada raja Alas. Lalu diceritakannyalah apa sebabnya maka ia pulang.

"Kalau begitu baiklah engkau pulang dan upahmu besok akan kusediakan; orang yang akan mengantarkan engkau pulang besok akan kupersiapkan," kata raja Alas. maka keesokan harinya berangkatlah Datu Kandibata yang terkenal ke Barat dan Ke Timur, ke tanah Deli ke tanah Alas, ke tanah Toba sampai ke tanah Simalungun itu. Berangkatlah ia bersama isterinya diiringkan oleh pemikul upahnya dan prajurit yang mengantarkannya ke kampung Kandibata. Raja Alas pun sangat senang memberangkatkan Datu Kandibata karena seluruh rakyatnya telah sembuh waktu itu.ia merasa sangat besare jasa Datu Kandibata kepadanya dan kepada seluruh rakyatnya.

Setelah dalam beberapa hari dalam perjalanan, kira-kira pukul sepuluh sampailah ia di pohon beringin tunggal, dan tidak berapa lama lagi ia berjalan sudah dilihatnya kuburnan yang sudah terbuka.

"Pastilah ini kuburan anak kami itu," pikirnya, tapi tidak ada yang berani berbicara. Ibu si Beru Tandang Karo terus menangis.

"Anakku.... anakku Beru Tandang Karo, Beru Tandang Meriah, aku datang anakku, sambutlah aku dan ayahmu anakku!". Mendengar suara orang menangis, maka berdatanganlah orang kekuburan itu. Tapi setelah semua sampai disitu dilihatlah kuburan itu sudah terbuka, apa pun tidak ada lagi. Dicari tulang-tulang, sebesar tulang sisir pun jadilah, tapi jangankan sebesar tulang sisir sebesar lada pun tak ada lagi. Datu Kandibata dan isterinya terus menghemoaskan tubuh, tapi semuanya telah sia-sia tak ada gunanya. Sia-sia Datu besar, sudah sia-sia topi putih ditopikan, sia-sia berbaja datu, sia=sia pustaka bersumpit-sumpit, sia-sia banyak obat dan minyak.

Seperti biasa berangkat pulalah pedanga memikul barang dagangannya ke Tanah Deli melalui Penatapan lalu mereka  meletakkan sirih di situ. Pada waktu mereka meletakkan sirih itu mereka mendengar suara orang bernyanyi. "Hai Paman,pamanku pemikul ke tanah Deli, kasihilah aku, adikku selalu menangis kubujuk pun ia tak mau diam karena itu tolonglah bawakan main-mainan adikku ini," kata suara itu.

"Boleh Bibi, tapi bagaimana caranya kami memberikannya nanti, karena rupamu tak tampak hanya suaramu yang dapat kami dengar,: kata pedagang itu.

"Tidak mengapa itu Paman, aku tahu kalau kamu besok lewat, aku akan bernyanyi seperti ini disini menina bobokan adikku."

"Baiklah Bibi kami akan berangkat moga-moga kami beruntung agar samapai niatmu itu besok," kata pedagang itu, maka berangkatlah mereka ke tanah Deli untuk berdagang. Sampai di tanah Deli benarlah mereka beruntung. Maka dibelinyalah main-mainan yang dipesankan itu. Setelah sampai di Penatapan lalu berserulah ia.

"Ini Bibi yang tak tampak, pesanmu semalam."

"Tinggalkan saja di situ Paman, nanti akan kuambil," katanya terdengar suaranya tak tampak.

"Jika kamu besok pergi lagi ke tanah Deli Paman dan pada waktu pulang kamu akan menjumpai bambu tiga potong di sini. Hanya kamu bertiga nanti yang melihatnya, orang lain tidak.

Bawalah nanti bambu itu baru dibuka. Sekali ini Paman tolonglah bawakan cocang-cocang adikku, warna kuning dan warna perah," kata suara itu lagi. Ketika mereka kembali, dibawanya pula apa yang dipesan oleh suara itu.

"Ini Bibi pesanmu semalam, mainan adikmu itu," kata pedagang itu.

"Letakakan di situ Paman. Bawalah bambu itu yang kujanjikan semalam, sebatang kamu seorang. Ingat setelah empat malam baru dibuka." Pedagang itu mengambil bambu itu lalu pulanglah mereka. Seorang terus membuka bambu itu, isinya setelah lipan seorang lagi setelah dua malam dibukanya pula, isinya setelah lipan setengah emas; yang seorang lagi setelah pas empat malam baru dibukanya isinya emas semuanya. Karena sangat gemnira bambunya berisi emas, maka terus didatanginya temannya yang dua orang lagi.

"Bagaimana, apa isi bambumu dahulu," katanya.

"Aku, terus kubuka, isinya lipan," kata yang seorang.

"Aku setelah dua malam baru kubuka, isinya setengah lipan setengah emas," kata yang seorang lagi.

"Aku setelah pas empat malam baru kubuka, isinya emas semua."

"Kalau begitu kapan lagi kita ke tanah Deli kawan?' kata kawannya yang dua orang lagi.

"Besok sajalah kita pergi," kata yang seorang lagi.

Keesokan harinya berangkat pulalah mereka membawa dagangan ke tanah Deli. Sampai di Penatapan diletakkannya pulalah sirihnya lalu berseru.

"Ini kami persembahkan sirih Nek," kata mereka. Terus dengar pula suara.

"O, Paman yang lewat; 'kan beruntung kamu bertiga" kata suara itu.

"Beruntung Bibi, bagus yang kau berikan itu," kata mereka serentak.

"Paman kasihanilah kami, adikku selalu memangil ayah dan ibu kami; aku juga sangat rindu kepada mereka. Ayah dan ibu kami Datu besar di Kandibata. Tolong sampaikan pesan ini kepadanya. Anaknya si Beru Tandang Karo di Lau Debuk-debuk di pemandian Batang Sibonggal-bonggal, dia mandi-mandi di situ, sambil menina -bobokkan adiknya, begitulah katakan kepadanya Paman!" "Boleh Bibi," kata pedagang itu serentak.

"Kami sering mendengar  suara orang bernyanyi di Penatapen Ayah dan ibuku Datu besar di Kandibata, kata suaranya, tapi orangnya tidak tampak," kata pedagang itu kepada Datu Kandibata.

"Kalau begitu besok sama-sama kita kesana," kata Datu Kandibata. Maka pada keesokan harinya berangkatlah Datu Kandibata dan isterinya beserta ketiga pedagang itu ke Panapaten. Sampai di situ pedagang itu terus mempersembahkan sekapur sirih lalu berseru.

"O,... bibi, ini pesanmu semalam; ayah dan ibuku Datu Besar, katamu semalam, ini sudah kami bawa mereka."

"Bawa ke mari," kata si Beru Tandang Karo. Hanya suara yang terdengar, rupa tak tampak.

"Ibu.... dimanakah engkau selama ini maka baru sekaranag ini engkau datang? Sudah hancur tulang-tulang kami itu ibu?

Dimanakah engkau selama iniayah, maka tidak kau lihat kami pada waktu kami sakit parah, baru sekarang engkau datang....ui.....ui..," sepeerti suara si Beru Tandang Karo didengarnya tapi ruoanya tak tampak. Didengarnya pula suara si Beru Tandang Meriah.

"Ayah...ayah...ibu...., rupanya kita tak bisa lagi berjumpa, kami takkan bisa lagi menjadi manusia karena kamu mengejar duit...., rupanya tak ada lagi tulang-tulang kami itu sebesarmenir pun...ui.....ui. Kami juga ingin menjadi manusia kembali ayah...ibu, tapu rupanya tak bisa diubah apa yang telah terjadi... ui....ui....ui. Kamu yang bersalah, kami yang menderita," bunyi ratapannya.

"Kami juga sangat merindukanmu ayahku, ibu....ui....ui, tapi apa hendak dikata kami takkan bisa menjadi manusi lagi ayah ,ibu sekali ini ayah akan mendapat malu, ibu Datu terkenal ayah datu besar. Sekali ini sudah sia-sia engkau bertopikan kain putih, sudah sia-sia engkau berbajukan baju datu, biar  bagaimanapun kami takkan bisa lagi menjadi manusia, karena tulang-tulang kami itu sudah hancur di dslam kawah Gunung Sibayak. Sudalah ibu, sudhlah ayah, sudah demikian suratan tangan kami, sudah takdir ayah dan ibu,.... ui.... ui. Ibu kalau kamu hendak melihat rupa kami, dan jika kamu ingin agar oleh-olehmu itunkami makan, engkau buatlah batas antara kita yaitu tenda kain putih karena kita tak bisa lagi berdekatan. Jika rupa kami sudah tampak nanti, pandanglah kami jangan pegang. Jangan sekali-kali engkau sentuh kami, karena bila engau sentuh kita akan berpisah, engkau tidak akan melihat rupa kami lagi," kata suara itu.

"Baik anakku," katanya. Maka diletakkannnyalah semua oleh-olehnya, kue, pisang, nasi beserta lauk pauknya.

"Ini oleh-oleh kami itu anakku, tunjukkanlah rupamu itu kata ibunya. Maka ditunjukkanlah rupanya dan tampaklah mereka menikmati hidangan itu.

"Makanlah di oleh-oleh ayah dan ibu kita ini," kata si Beru Tandang Karo kepada adiknya si Beru Tandang Meriah. Maka mereka berdua dengan lahapnya. Melihat rupa kedua anaknya mereka tak sabar lagi lalu dipeluknya kedua anaknya itu, runtuhlah tenda itu apa pun tak ada lagi, hanya hidangan itu yang tinggal sedikitpun tidak berkurang. Rupa terus tak tampak lagi, hanya suara yang terdengar. Kata suara itu, "Sudahlah ibu sudahlah ayah, pulanglah kamu, kami pun akan pulang, apa boleh buat inilah sebagai contoh kepada manusia. Gara-gara mengejar uang anak sakitpun tidak dipedulikan.'

"Jangan begitu anakku," katanya sambul terus mengikuti suara itu. Hanya suara saja yang terdengar, rupa tak tampak lagi. Akhirnya sampailah mereka di kaki Gunung Sibayak. Di situ hanya suara angin lagi yang terdengar seperti orang menangis bertambah lama bertambah tinggi ke atas Gunung Sibayak; akhirnya suarapun tidak ada lagi terdengar.

"Dimanakah kamu anakku, marilah ke mari agar kita bercakapa-cakap," panggil mereka. Tak ada lagi terdengar apa pun. Maka dihempaskan ibu Beru Tandang Karo dirinya lalu menjerit.

"Anakku Beru Tandang Karo, anakku Beru Tandang Meriah, entah ku bunuh diriku baru dapat kita berjumpa." Dilemparkan Datu Kandibata topinya, dibuangnya semua obat-obatnya, dipecahkannya semua guci-guci tempat minyaknya. Pada tempat ia membuang obat-obat dan minyak-minyaknya itu tanah terus gundul, semua tumbuh-tumbuhan terus kering dan apa pun tak tumbuh lagi di situ. Dinamakanlah tempat itu "Pertektekan" (tempat memotong, karena pada tempat itulah semua obat- obatan, minyak dan ilmunya dibuang dan dihancurkannya. Semua binatang kalau melewati tempat  itu akan mati, tapi manusia tidak.

Sampai sekarang pun masih banyak tulang-tulang binatang di situ dan tanah itu tetap gundul sampai sekarang ini.

Sumber: Cerita Rakyat Daerah Sumatera Utara

Belum ada Komentar untuk "Cerita Datu Kandibata "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel