Kisah Sitaganbulu

Alkisah Rakyat ~ Menurut cerita dan berita orang tua-tua, tersebutlah seorang raja bernama Raja Ompu Pangisi marga Marbun Lumbun Gaol dari Pollung (Humbang) dengan saudaranya si Taganbulu  (seorang gadis yang lain dari yang lain). 

Sebelum Ompu Pangisi lahir ke dunia, sudah duluan lahir si Taganbulu yang selalu kerdil. Malahan adiknya perempuan telah kawin duluan. Karena kecilnya, maka perempuan kerdil  ini dimasukkan dalam potongan bambu, karena itulah maka namanya disebut si Taganbulu. Demikian jugalah nasib saudaranya Ompu Pangisi. Waktu lahir ke dunia, ibunya meninggal. Bentuknya seperti bola bundar yang disebut gumul (bayi yang bundar seperti bola). Orang yang  mati melahirkan waktu itu tidak dikuburkan, tetapi dibuang ke suatu tempat. Mayatnya dibuang ke sungai Silom bersama bayi gumul tadi. Semua pengantar segera kembali ke rumah dan tak boleh menoleh ke belakang. Sang suami sedih bercampur ngeri karenanya. Tapi apa hendak dikata, itu adalah takdir Tuhan Maha Pencipta. Siang dan malam ayah yang duda ini selalu berurai air mata mengenang isterinya tercinta.


Pada hari berikutnya seorang penangkap ikan pergi ke sungai Silom melihat alat penangkap ikannya. Setelah bubu itu diangkat maka dilihatnyalah sesuatu di dalam, bundar seperti boa. Hatinya jadi heran. Detelah diperiksa, lelaki itu semakin terkejut karena yang bundar itu tsak lain dari gumul manusia. segera bubu itu  dibawa ke rumah, lalu dibukanya di halaman rumah. tetapi karena bayi gumul itu bukan sembarang manusia, tidak juga mati walupun telah dibiarkan begitu terletak. Hal itu terbukti lagi di mana semua ternak lembu dan kerbau tak mau keluar dari kolong rumah sebelum gumul itu diangkat dan diletakkan di atas pematang. Setelah ternak -ternak itu keluar dan sampai di luar kampung, terdengrlah bunyo petir yang keras hingga gumul itu pun pecah serta -merta lahirlah Ompu Pangisi.emilik bubu tadi jadi heran bercampur takut. Karena itu bertanyalah dia ke ana kemari siapa kiranya yang baru meninggal dunia waktu melahirkan. Akhirnya diketahuilah bahwa Ama Raja Dirumana yang berhak atas anak itu. Dijelaskanlah kejadiannya bahwa anak itu didapatnya dari sungai Silom. Setelah kedua pihak saling menerangkan yang sebenarnya, maka bayi itupun diserahkannya kepada Ama Raja Dirumana. Kiranya kehadiran bayi ini kembali rasa dukacita bagi sang ayah yang malang ini. Karena itu dipanggilnyalah anak-anaknya beserta para menantunya. Tak seorang pun diantara ereka yang mau memelihara bayi itu kecuali anak dan menantunya yang keempat, yakni Raja Simamen dan isterinya boru Nainggolan. Boru Nainggolan menerimanya karena dasar kasihan dan cinta manusia, walupun mereka sendiri baru tiga bulan  berumah tangga. Sebenarnya yng paling tepat mengasuh byi itu adalah anak-anak dan menantunya yang lebih tua karena mereka sedang mengusahakan anak kecil. Tetapi kerena mereka tak rela, Boru Nainggolan dengan rela dan kasih sayang menerimanya. Ama Raja Dirumana menyatakan rasa terima kasihnya kepada menantunya yang keempat itu.

"Saya cukup mengerti," katanya, "Kalau anak ini benar-benar mau hidup, maka akan ada jalan untuk memeliharanya katanya lagi. Benarlah, setelah anak itu diterima boru Nainggolan badannya jadi hamil serta dapat menyusukan bayi itu. Karena itu;ah maka bayi itu diberi nama Pangisi, sebab memberi tuah kepada boru Nainggolan.

Lama kelamaan anak itu semakin besar denga suburnya. Pada usia 12 tahun Pangisi telah sanggup menggembalakan ternak orang tuanya (maksudnya abangnya sendiri) Dia rajin bekerja dan hasil kerjanya selalu baik. Semua ternak gembalanya gemuk-gemuk dan beranak banyak. Dan setiap pergi ke padang rumput, Pangisi selalu membawa cangkul untuk mengerjakan sebuah kebun. Abangnya sangat senang melihat tingkah lakunya sehari0hari, hanya belakangan ini agak berkurang karena beberapa ekor ayamnya hilang bila Pangisi sendirian tingal di rumah. Kiranya waktu keluarga itu berada diladang, seorang anak nenek bercerita kepada Pangisi.

"Apakah orang tuamu ini baik-baik terhadapmu?" tanyanya.

"Yah....baik-baik nek, kenapa rupanya?" kata Pangisi ingin tahu.

"Terima kasih, nak. Saya sangka tidak demikian halnya. Karena sebenarnya dia itu bukannya orang tuamu, dia adalah abangmu. Sedang ibumu sudah meninggal dunia waktu melahirkanmu dan dibuang ke sungai Silom sana. Tapi untung, kau ditemukan oleh seorang penangkap ikan lalu dibawanya ke rumah.  Akhirnya engkau diserahkan kepada abangmu ini."

"Ada seorang saudaramu perempuan yang bernama Si Taganbulu yang tak mau besar dan tempatnya di dalam potongan bambu. Jadi orang tua kalian bernama Ama Raja Dirumana," katanya meyakinkan.

"Kalau demikian ceritanya nek, dimanakah tempat pembuangan ibu kendungku itu?", tanya ingin tahu. Akhirnya orang tua itu memberi petunjuk kepada Pangisi. Hatinya jadi sedih dan terus menangis terisak-isak. Hari itu juga Pangisi segera berangkat ke sungai Silom mencari tulang-tulang ibunya. Tulang-tulag yang terkumpul itu digendongnya ke rumah lalu disimpan di bagian atas. Dia bertekad untuk menghormati roh ibunya itu.

Pada suatu hari Pangisi tidak pergi menggembalakan ternak dan tingal seorang diri di rumah. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk memotong seekor ayam untuk disajiakan keatas rumah. Hal ini dilakukan, karena  menurut Pangisi ibunya yang keatas rumah. Hal ini dilakukan, karena menurut Pangasi ibunya yang telah lapar. Hidangan itu disajikan sembari berurat air mata. Demikianlah dilakukannya setiap kali sendirian tinggal di rumah. Dan abangnya jadi curiga terhadap dirinya karena sampai saat ini sudah tiga ekor ayam hilang.

"Kenapa ayam dapat hilang, padahal Pangisi ada di rumah? Dia sendiri adalah orang baik-baik dan lagi pula makanan tidak kurang di rumah. Apa gerangan yang terjadi?", kata abangnya dalam hati, demikian juga kakaknya Si Taganbulu. Hari itu mereka pura-pura pergi ke ladang beserta semua anak-anaknya. Hanya Pangisi yang tinggal seorang firi. hatinya jadi bersorak gemnira karena ada kesempatan memberi sajian kepada ibunya. Sebentar kemudian, seekor ayam ditangkapnya ke bagian atas rumah mereka. Pekerjaan Pangisi ini diamati abangnya sebentar. Waktu Pangasi menghidangkan sajian itu,abangnya beserta keluarganya kembali ke rumah. Tetapi mereka heran Pangisi tak ada disana. Dicarinya kesana- kemari, padahal Pangisi sedang menangis terisak-isak bagian atas rumah itu menyajikan ayam masak dekat tulang belulang ibunya. Abangnya sangat tercengang melihat tingkah adiknya.

"Pekerjaan apa yang kau lakukan ini Pangisi? Pantas ayam hilang," tegur abangnya. Dengan rasa terkejut Pangisi berusaha menjawab abangnya.

Memang benar yang abang katakan itu. Karena ada seorang nenek mengatakan bahwa kau adalah abangku. Sedang ibu kandung kita telah meninggal dunia waktu melahirkan aku, dan mayatnya dibuang ke sungai Silom. Denganm petunjuk itu saya carilah tulang belulang ini walaupun tak dapat seluruhnya, lalu kusimpan diatas ini." "saya kira ibu kita sudah lapar, itulah sebabnya maka ayam itu saya potong untuk makanannya, katanya menjelaskan.

"Aduh! Aku tidak menyangka sebodoh itu engkau selama ini. Maka tulang belulang orang yang meninggal tiba-tiba dibawa kerumah. Kalau mayat ibu kita dibuang adalah karena adat. Kalau tindakanmu ini diketahui orang lain berbahaya, dan kita akan diusir dari kampung ini. Malah waktu mengantarkan mayatnya itu harus cepat dan waktu pulang tak seorang pun berani menoleh ke belakang. Dan ini kau bawa lagi tulang belulangnya ke rumah, apa maksudmu sebebnarnya?" kata abangnya.

"Ah, kalau kalian berpikiran demikian, tak dapat kuterima. Kalau tak boleh begini biarlah saya yang pergi dari kampung ini. Aku tak sudi membuangnya karena dia adalahg ibuku sendiri.," kata Pangisi dengan tegas.

"Jika begitu sikapmu terserahlah, tetapi kau sendirilah yang menanggung resikonya," kata abangnya lagi.

"Baiklah. Kalu kau harus berangkat dari kampung ini, Si Taganbulu harus saya bawa. Ke manapun saya pergi, tulang belulang ibu ini akan saya bawa," katanya.

"Kau boleh pergi asal dengan hati bersihmu, bawalah Si Taganbulu bersama tulang belulang ini. Tetapi kalau belanjanya kurang, datanglah kemari mengambilnya," sahut abangnya. Sesungguhnya abangnya dengan berat dan sedih melepas adiknya pergi, tetapi apa hendak dikata karena Pangisi tak mau membuang tulang belulang itu. Lalu Pangisi pergi dari rumah itu dengan menggendong tulang belulang ibunya dan menyandang kakaknya  si Taganbulu.

Ia terus berjalan dan semakin jauh dari pandangan abangnya beserta keluarganya. Tiada berapa lama, sampailah dia di kebun yang dikerjakannya semasa gembala. segera dibangunnya sebuah gubuk kecil untuk tempat tinggalnya, sepi dari orang banyak. Hidupnya menyedihkan karena makanan pun tak ada. malamnya Pangisi meratapi nasibnya yang malang. Esok harinya setelah matahari terbit, Pangasi pergi ke hutan mencari buah-buahan pengganti makananya. Dalam perjalanan itu terdengarlah auman harimau.angisi terkejut melihat harimau itu, dikiranya dirinya akan jadi  mangsa binatang itu. Saking takutnya dia segare memanjat sebatang pohon. Tetapi harimau itu terus telungkup."Jika harimau ini mau memakanku, tentu dai akan mendekat. Ini lain, dia  tidak  beranjak tetapi terus mengaum. Mungkin dia itu tertelan tulang dan tersumbat dikerongkongannya," pikirnya. Semakin diperhatikan, memang benarlah demiKian adanya Rasa kasihan timbul untuk menolong. "Tetapi kalau kutolong nanti, jangan-jangan aku diterkamnya, lalu dimakan. Kalau aku biarkan demikian tentu dia mati dengan sendirinya. Apa tindakanku sekarang. Ah, ada juga cerita yang mengatakan, bahwa harimau itu bukan sembarang binatang. Biasanya harimau dAtang membuat batas jika orang berselisih perbatasan sawah atau ladang. Baiklah kutolong harimau ini, kurasa dia ingin segera pertolongan," demikian pendapat Pangisi dalam hatinya. Dengan memberanikan diri Pangisi bertanya. "Apakah kau ini tersumbat tulang. Saya kasihani melihatmu, tetapi kalau engkau kutolong, apakah engkau tidak memakan diriku?" katanya. Harimau itu tampak seperti mengangguk. "Tetapi baiklah kita ikat janji lebih dahulu. Kalau engkau kutolong, maukah engkau berkawan denganku?" tanya Pangisi.

Harimau mengaum seolah-olah mejawabnya. "Jika sudah setuju marilah kita ikat janji. "Ikan dari Sabulan istimewa enaknya, siapa melanggar janji deritanya luar biasa, " kata Pangisi kepada harimau. Lalu didekatinya hat=riamu itu," kata Pangisi, serta -merta harimau mengangakan mulutnya. Tulang itu segera dicabutnya dan dia pun pergi.Tetapi harimau terus mengikuti dari belakang kemana saja Pangisi pergi. Demikianlah terus hingga Pangisi kembali ke gubuknya. Malamnya Pangisi tidur, sedang harimau tetap diluar gubuk. Besoknya harimau itu dilihatnya masih disitu juga. "Bah, kau  terus disini, apa yang akan kuberi makananmu sedang aku sendiri tak makan," kata Pangisi. "Pergilah mencari  makanan kita," sambungnya. Mendengar kata-kata itu harimua pergi ke hutan. Demikianlah Pangisi dan Taganbulu tidak kelaparan berkat pertolongan harimau tadi. Pengetahuan Pangisi pun tambah hari tambah banyak, malah telah menjadi seorang datu (dukun) besar di tempat itu.

Pada suatu ketika, mampirlah ke gubuk itu seorang dukun dari Tamba Samosir bernama Datu Parngongo yang akan meneruskan perjalanannya ke Barus. Dia melihat asap api keluar dari sebuah gubuk di padang rumput itu. Disapanya pemilik gubuk itu, tetapi tiba-tiba Datu Parngongo terkejut kerena munculnya seekor harimau yang mengaum keras. Bukan main takutnya hingga dicobanya menjinakkan harimau itu dengan tenaga manteranya, tetapi tidak mampan. Maka sepat-cepat dia bertindak memanggil pemilik gubuk itu. Mendengar suara itu keluarlah Pangisi sambil bertanya. "Siapa itu?" katanya.

"Saya adalah Datu Parngongo mau pergi ke Barus. Saya bermaksud datang ke situ karena saya telah haus, tahun-tahu ada harimau. Harimau apakah itu?" tanya Datu Parngongo.

"Ah, harimauku itu, tak apa-apa itu," sahut Pangisi

"Kalau begitu bolehlah saya masuk?" kata Datu Parngongo

"Ya, boleh silakan masuk," jawab Pangasi. Dalam pembicaraan mereka di gubuk itu Pangisi menanyakan maksudnya ke Barus mencari jodoh atas desakan orang tuanya karena telah lanjut usia belum juga kawin.

"Kalau begitu baiklah, makanlah kita dulu," kata Pangisi.

"Terima kasih iapar, dan kalau mungkin tolonglah masakkan nasi karena saya sudah lapar sejak tadi," kata Datu Parngongo. Waktu datu itu makan, menyanyilah Si Taganbulu dari pokok labu. "Sayalah Si Taganbulu yang duluan lahir, tetapi belakangan diberi." Mendengar merdunya suara itu. Datu Parngongo jadi jatuh cinta. Karena ingin kepastian ditanyalah apa di sekitar itu ada  gadis tinggal.

"Benar ada," kata Pangisi, "Dia adala kakaku," katanya meyakinkan Datu Parngongo.

"Wah, alangkah enaknya nyanyiannya itu saya dengar. Bagaimana, seperti saya katakan saya belum kawin dan sedang mencari-cari, kalau boleh yang menyanyi itulah jadi menantu orang tuaku." desak Datu Parngongo.

"Ah, sudahlah ipar. Kami ini orang miskin dan juga sudah demikian itu nasib kakaku. Tak ada taranya seperti pahitnya penggidupan kami. Jadi tak mungkin itu terjadi, lagi pula ipar adalah seorang raja lagi dukun besar. Bagaimana mungkin kakakku itu jadi isterimu?" kata Pangisi.

"Yah benarlah kataku ini, sudah ada tanda-tanda pada diriku bahwa kakakmu itulah jodohku," kata Datu Parngongo.

"Janganlah berkata mungkin," kata Pangisi merendah diri.

"Ya,betul ipar. Saya ini 'kan bukan sembarang dukun sedang yang akan terjadi dapat saya ketahui. Jadi kalau setuju, dialha menantu orang tuaku,? kata Parngongo meyakinkan Pangisi.

"Kalau begitu, jadilah kakakku itu isterimu. Nah,salamlah tanganku ini agar saya restu perkawinan kalian," kata Pangisi. Kemudian diambilnya SiTaganbulu dari pokok labu lau diserahkan kepada Datu Parngongo.

"Selamatlah kalin, semoga banyak anak dan mudah rezeki," kata Pangisi dengan tulus hati. Datu Parngongo jadi tercengang lalu berkata.

"Benarkah ini kakak ipar, yang pandai bernyanyi itu?"

"Benar, ipar Dialah kakakku yang pandai menyanyi itu," kata Pangisi. Datu Parngongo jadi kebingungan, tetapi karena sudah janji maka dibawanylah Si Taganbulu keTamba (Samosir). Disandingnya tali tempat Si Taganbulu lalu terus berangkat. Belum berapa jauh berjalan, Datu Parngongo berpikir "Kalau ini kubawa terus, tentu aku dicemoohkan orang. Bila kutinggalkan di hutan ini yah, saya termakan sumpah janji. Apa tindakan saya selanjutnya? pikirnya . Setelah lama berpikir demikian, timbuillah pikiran untuk meninggalkan. Bambu itu digantungkan pada sebatang kayu, lalu dia pergi. Tetapi diluar dugaan, harimau datang menghalangi kepergiannya. Datu Parngongo jadi takut dan dengan terpaksa diambilnya lagi Si Taganbulu. "Biar lewat hutan inilah nanti kutingalkan dia," katanya dalam hati.

Jika jauh dari sini kutinggalkan, tentu harimau itu tak dapat datang lagi, pikirnya. Setelah jauh dari tempat tadi menuju Tamba, si Taganbulu ditinggalkannya. Tetapi tiba-tiba sekitarnya telah gelap, sehingga sukar baginya meneruskan perjalanan. Karena keadaan ini terpaksa diambilnya Si Taganbulu kembali.

Segera sekitarnya jadi terang kembali. Akhirnya Datu Parngomgo tiba di Tamba ketika orang tuanya sedang duduk-dudk di halaman rumahnya.

"Mana menantu itu Parngongo?" tegurnya.

"Belum versua Pak," sahut Datu Parngongo. Mendengar permbicaraan itu si Taganbulu jadi geram.

"Jangan mungkiri tentang diriku. Walaupun begini nasibku, kau tidak boleh memungkirinya lagi. Perkawinan kita telah direstui oleh saudaraku, dan kalian telah mengikat janji," katanya dari dalam potongan bambu itu.Datu Parngongo dan orang tuanya jadi tercengang seketika.

"Siapa yang bicara itu?" kata orang tuanya.

"Saya tak tahu lagi, Pak," sahut anaknya serta-merta diperlihatkannya Si Taganbulu itu.

"Bah, apa ini? Manusia bukan, setan bukan. Untuk apa kau bawa ini? kata orang tuanya. "Buanglah itu. Bikin malu," lanjutnya dengan marah. SI Taganbulu jadi meratap dan menangis mendengar gerutu mertuanya. Marahnya tidak tenggung, sehingga Datu Parngongo bermaksud membunuh Si Taganbulu untuk bahan guna-guna.

Suatu hari Datu Parngongo berbicara dengan Si Taganbulu.

"Begini maksudku puteri rajaku. Saya katakan kita menikah tidak mungkin, karena kau berada dalam bambu ini saja. Bagaimana akhir perkawinan begini? Menurut saya, sebaiknya kujadikan saja kau jadi guna-guna; karena dengan demikian kau masih berguna untuk menusia. Jika tidak, apalah artinya kaun hidup di dunia ini?" kata Datu Parngongo. Karena rasa sedih Si Taganbulu menangis mendengarkannya.

"Hari itu kau telah dimintai saudaraku agar tidak menyesal dan tidak akan membunuh aku. Sekarang ku mungkin, mumungkiri janjimu sendiri. Yang kumaksud terserah padamulah hidupku.

Kalau kau harus membunuh aku, terserah. Hanya satu permintaanku, waktu kau membunuh aku tak usah dengan leburan timah cukuplah dengan air mendidih. Tetapi sebelumnya siapkanlah tikar tujuh lapis dengan pembunuhan itu", kata Si Taganbulu kepada suaminya.

"Ya, kalau hal jalan terbaik akan saya turuti, asalkan dirimu rela kubunuh," kata suaminya.

Esok harinya waktu matahari naik, semua peralatan telah disiap. Ke dalam air mendidih itu Si Taganbulu dimasukkan lalu ditutup rapat-rapat. Tiada berapa lama, tempat air mendidih itu meletus dengan suara keras bagaikan petir dan tempat itu gelap seketika. Melihat keadaan itu Datu Parngongo terkejut dan gemetar karena ketakutan. Sebentar kemudian tempat itu berangus terang  dan seorang puteri cantik sedang berdiri di atas tikar nan tujuh lapis dan disekitarnya berkeliaran anak-anak ular belanga disertai mata uang, emas dan perak berserakan. Melihat keadaan itu Datu Parngongo semakin heran penuh haru.

Waktu demikian itu bicaralah sang puteri cantik.

"Lihatlah, Tuhan tidak  akan membiarkan aku meninggal tanpa turunan. Nah sebagian tubuhku jadi ular belanga dan tidak boleh dibunuh oleh turunanku. Sebagian lagi adalah harta berharaga. Sekarang siapkanlah kain putih untuk alas kakiku masuk ke rumah dan pukullah gendang untuk pesta kita!" katanya dengan tenang dan ramah. Datu Parngongo tersenyum tanda kegirangan.

Segera dibuatkanlah kain putih, lalu berjalanlah isterinya yang cantik naik ke rumah. Karena suka cita itu dilakasanakanlah pesta memukul gendang. Diundanglah tetangga dan sanak famili untuk meramaikan pestanya itu. Katena kecantikannya yang istimewa itu, sejak itulah Si Taganbulu mendapat nama julukan. "Si Boru Haraspinillan," artinya, Puteri cantik bagaikan kapas putih bersih yang bercahaya.

Sebaliknya saudaranya Pangisi menangis dan sangat sedih mendengar khabar kakaknya dibunuh Datu Parngongo. Tak tahu dia bahwa si Taganbulu  telah berubah menjadi perempuan cantik. Segera Pangisi dan rombongan serta harimaunya berangkat ke Tamba ( Samosir) untuk berperang dan mebunuh Datu Parngongo. Dengan petunjuk orang di kampung itu tahulah mereka rumah tempat tinggal suara lantang memanggil dari halaman.

"Dirumahkah Datu Parngongo? Turunlah kau ke mari! Kau telah mungkir janji, kau bunuh kakakku. Terkutuklah engkau. Sekarang aku datang menuntut bela kakaku. Si Taganbulu. Apakah aku yang mati atau kau, turunlah ke halamab ini!" kata Pangisi dengan geram sambil menangis terisak-isak. Untuk menghindarkan salah paham, turunlah Si Boru Hapaspilinilian ke halaman.

"Tenanglah saudaraku, jangan bunuh iparmu. Memang saya dibunuh tapi tidak mati karena kehendak Tuhan .Memang wajah saya telah berobah dan namaku sekarang Si Boru Hapaspinilia. Saya sendirilah Si Taganbulu kakakmu itu," katanya melunakkan amarah Pangisi.

"Jangan banyak bicara. Walau jelak kakakku, itu yang berharga bagiku. Walaupun kau ini cantik, tak perlu bagi saya. Sekaranag Datu Parngongolah suruh kemari supaya kubunh karena kau sendiri tak kukenal," kata Pangisi.

"Patang berkata demikian, saudaraku. Saya bicara dengan sebenarnya. Buktinya bahwa saya ini kakakmu, cobakanlah cincin ini kejari-jarimu," kata Si Bru Hapaspinilian seraya diberikannya kepada saudaranya. Benar cnicn itu cocok, tetapi dia masih membatah.

"Tidak, mungkin setelah kakakku dibunuh maka ci cin ini diambilnya. Katakanlah benar cincin ini pemberianku, tetapi setelah kakakku meninggal barulah diberikan padamu. Jadi tak benar engkau Si Taganbulu." kata Pangisi.

"Sekarang  pun tak perlu lagi kata-kata, suruhlah Datu Parngongo kemari suoaya kubunh," katanya lagi.

"Janganlah begitu saudaraku. Kalau tidak yakin dengan cincin ini, ia lagi macis yang saudara berikan cocokkanlah!" kata Si Boru Hapaspinilian. Dicocokkan dengan bagian-bagiannya yang ada, memang cocok.

"Benar cocock, tetapi sama halnya dengan cincin," katanya lagi.

"Jadi apa yang harus saya perbuat agar saudaraku yakin dan percaya, bahwa aku ini kakakmu?" desak Si Boru Haspinilian.

"Baiklah, peganglah harimau ini. Jika benar engkau SI Taganbulu, kau tidak diganggu. Kalau tidak benar kau akan dimakannya maukah engkau ?" tanya Pangisi. "Mau," jawab kakaknya.

Dengan tenang turunlah perempuan itu dari tangga rumahnya lalu didatanginya harimau itu dan dipegang. Benarlah, harimau itu tidak mengganggunya malah menjilat kaki sang puteri cantik.

Melihat kejadian itu, Pangisi menjadi yakin dan percaya  sert-merta dipeluknyalah kakaknya itu sambul menangis tersedu-sedu tanga kegirangan.

"Kalau memang benar, baiklah. Perkiraanku kaka telah tiada. Sekarang tidak saya tuntut lagi Datu Parngongo. Bahagialah rumah tangga kalian," kata Pangisi seraya melepa pelukannya.

"Terima kasih, saudaraku. Biar kupanggilkan iparmu untuk datang bersembah. Datu Parngongo turun lalu menyembah dan menyalami iparnya serta semua rombongan, sembari memohon agar Pangisi sudi mengundang sanak keluarganya untuk menghadiri pesta besar-besaran. Dengan rasa bangga dan gembira Pangisi segera kembali mengundang keluarganya dari Pollung. Tetapi sebagain tak mau, selain dari saudaranya Banjarnahor. Pesta itu dihadirinya dengan penuh rasa senang dan puas, karena begitu besar dan meriah. Demikianlah akhir cerita penuh bahagia hingga turunannya dan selamatlah kita semuanya.

Sumber: Cerita Rakyat Daerah Sumatera Utara

Belum ada Komentar untuk "Kisah Sitaganbulu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel