Kisah Baleo Mahato

Alkisah Rakyat ~ Sebelum kita sampai kepada cerita Baleo Mahato itu, marilah kita sejenak berkunjung ke bekas tempat pertepaannya. Nun jauh di hutan Mahato yakni kira-kira 30 kilometer di sebelah Timur desa Sipagabu terletaklah pusaranya. Kalau kita berjalan lurus ke Timur dari desa ini, kita harus menempuh jalan sejauh 15 kilometer barulah sampai di sebuah padang rumput yang datar bagai tikar terhampar nan indah dipandang mata.


Padang datar ini diselang-selingi oleh tumpukkan hutan-hutan kecil yang juga turut memperindah pemandangan di sini. Padang rumput inilah yang mengingatkan kita kembali kepada seseorang dulunya yakni Baleo Mahato, karena di tempat inilah didirikannya mendersah (Madrasah) mesjid tempatnya bertapa. Disinilah kita jumpai bekas-bekas peninggalannya berupa sendi-sendi pertapaan mesjid dan batu-batu tempat membasuh kakinya. Sebagian orang mengatakan bahwa setiap pemburu yang datang ke padang ini kalau sedang kehujanan, di sanalah mereka berhenti seraya berkata.

"Mari kita pergi ke mandersah." Mereka tidak akan basah kuyup kalau berteduh di atas batu bekas-bekas sendi-sendi mandersah itu. Selain itu, bekas tempat mandersah ini digunakan orang juga sebagai tempat ziarah dan bernazar.

Sejauh 15 kilometer dari Padang Mandersah ini, melalui Gonting Balangan, Sibuibui dan Maranti Pangedapan, sampailah kita ke tepi hutan Mahato, yakni tempat pusara dan pertapaan Baleo Mahato yang keramat itu. Menurut berita orang yang sengaja menziarahi Baleo Mahato itu, haruslah lebih dahulu berhenti di Maranti Pangedapan ini untuk melakukan hening cipta dan berdoa. Tempat inilah sebagai pintu gerbang masuk ke kawasan pertapaan dan pusara keramat itu.

Di hutan itu mengalir sebuah sungai kecil yang juga disebut Aek Mahato (air sungai). Agak ke hulunya terdapatlah mata air Mahato. Jika kita menyusuri sungai Mahato itu hingga ke hulu, sampailah kita ke satu tempat dimana tumbuh sebuah pohon yang amat besar lagi ganjil, karena tak tentu ujung pangkalnya, menjurai ke dalam sungai. Disinilah dulunya mata air Mahato yang keramat itu berada. Pohon besar yang aneh ini dulunya berasal dari satu kayu kecil yang digunakan oleh Baleo Mahato sebagai tempat sangkutan pakaiannya setiap kali mandi disitu. Di sekitar mata air inilah, tempat pusara dan pertapaannya itu berada. Di tempat ini orang harus berhati-hati dan waspada, untung kalau-kalau akan bersua dan dapat petunjuk.

Siapakah Baleo Mahato itu? Baleo Mahato sebagaimana dia digelari orang, pergi meninggalkan Sipagabu untuk mengasingkan diri dengan maksud bertapa pada masa tuanya. Tetapi sebelumnya, dia digelari orang Baleo Basurat Batu (Bertulis)  seorang penyebar agama Islam yang aktip dan Sipagabu dan sekitarnya.

Sebenarnya agama Islam telah masuk di sana sebelum Baleo Mahato datang. Tetapi orang tertarik kepadanya karena memiliki ilmu Tauhid dan Tasawuf. Dan menurut berita orang-orang tua, Baleo ini berasal dari Aceh. Sebagian mengatakan asalnya adalah dari Minangkabau. Demikian giatnya Baleo ini menyebarkan ajaran agama Islam di Sipagabu, cara dan bentuk mengajarnya bermacam ragam sehingga orang tertarik masuk agama Islam. Cara itulah yang dipraktekkannya di dalam  maupun diluar Sipagabu.

Pada suatu waktu, raja-raja dan sekalian orang terkemuka di desa ini dikumpulkannya. Disana dijelaskan dan dianjurkan bahwa adat kebesaran raja-raja dan upacara  raja-raja dulunya adalah bertentangan dengan dan dilarang oleh agama Islam. Upacara seperti marranjo, memasang mejan dan sebagainya itu adalah dilarang agama.

Sedang Baleo asyik-asyiknya memberi penjelasan dan anjuran itu, tiba-tiba terdengarlah suara ribut dari siamang di tepi desa itu. Segera suara siamang yang ribut itu dicegahnya dengan suaranya yang kuat. Binatang siamang itu pun lari pontang-panting semuanya. Sejak itulah hingga sekarang tak pernah lagi kedengaran suara siamang di hutan sebelah Timur desa Sipagabu ini. Dan sejak itu pulalah raja-raja di desa Sipagabu dan sekitarnya tak pernah lagi melaksanakan upacara marranjo (acara rintangan kepada pengantin laki-laki) dan mejan. Segala mejan-mejan yang pernah didirikan di desa itu pada kuburan-kuburan segera dibongkar lalu diganti dengan batu biasa atau batu pulut.

Karena itulah maka di Sipagabu tak dijumpai lagi mejan di atas kuburan orang mati. Sejak itulah ajaran Baleo selalu diterima  dihati orang walaupun sesungguhnya di dada para raja-raja masih membatu adat-istiadat dan kepercayaan lama. Karena kejadian itulah maka Baleo ini digelari orang menjadi Baleo Basurat Batu. Semua dukun-dukun jahil yang berdiam di desa Sipagabu dan sekitarnya dapat ditundukkannya, hingga menjadi dukun yang taat menjalankan agama Islam.

Pada suatu masa,  Baleo Basurat Batu pergi merantau meninggalkan desa Sipagabu. Ia pergi ke Aeknabara untuk bertanding dengan dukun terkenal bernama Datu Bilang Dibata. Dukun ini memiliki ilmu kebathinan yang tangguh juga dan dikenal orang banyak di desanya maupun sekitarnya. Waktu mereka berjumpa, Baleo Basurat Batu mengajak Datu Bilang Dibata untuk meninggalkan agamanya dan masuk agama Islam. Datu Bilang Dibata jadi geram mendengarnya lalu berkata.

"Aku mau masuk agama Islam kalau engkau dapat melebihi atau mengalahkan ilmu kesaktianku." Segera Baleo Basurat Batu menjawab.

"Kalau begitu keinginan dukun, mari silakan kita bertanding kesaktian," katanya mengajak. Saat itu pertarungan kesaktian antara keduanya pun berlangsunglah. Segala ilmu kesaktian yang mereka miliki dikeluarkan untuk mematahkan lawannya. Tetapi satu demi satu dapat diatasi oleh Baleo Basurat Batu. Akhirnya Baleo Basurat Batu berkata.

"Cobalah dukun, minum air buah kelapa yang tinggi itu, tetapi engkau tak boleh beranjak dari tempat dudukmu. Kemudian tunjukkanlah buktinya bahwa air buah kelapa itu telah dukun minum," katanya.

Segera Batu Bilang Dibata membacakan manteranya. Mulutnya komat-kamit, matanya melotot ke arah buah kelapa itu seraya tangannya dengan tegang menunjuk buah kelapa tadi. Tetapi hasilnya tak ada. Karena itu sang dukun memohon agar Baleo saja yang mencobanya. Lantas Baleo berkata.

"Telah selesai ku minum." Untuk membuktikan kebenaran ucapannya itu maka salah seorang menyaksikan pertarungan kesaktian kedua jago mentera itu disuruh memanjat pohon kelapa itu untuk mengambil buah yang ditunjuk tadi. Buah itu dikupas, dan ..... tampaklah airnya sudah kosong sama sekali. Malahan salah satu mata buah kelapa itu telah mempunyai lobang kecil. Keadaannya seperti baru saja diminum orang. Kemudian berkatalah Baleo Basurat Batu.

"Bagaimana, apakah dukun telah mengaku kalah?" Dengan suara merendah Datu Bilang Dibata menjawab.

"Ya, aku mengaku kalah atas keunggulan ilmu yang kau miliki."

"Kalau begitu, sesuai dengan janji kita tadi, dukun harus masuk agama Islam dengan rela," kata Baleo Datu Bilang Dibata memenuhi janjinya dan hari itu juga ia menjadi penganut agama Islam bersama anak-cucunya.

Pada hari tuanya, Baleo Basurat Batu merasa bosan dan benci akan kehidupan duniawi. Inilah yang membuatnya bertekad mengasingkan diri dari desa untuk bertapa. Mula-mula dia pergi ke hutan sebelah Barat Sipagabu yakni di kaki pegunungan Bukit Barisan. Di sana didirikannya sebuah mesjid dan terus beramal disitu. Tempat itu masih kurang aman dan kurang sunyi baginya karena seringkali terdengar suara-suara siamang. Tak lama kemudian diputuskannyalah untuk pindah. Tetapi bekasnya sampai sekarang masih ada di situ. Demikian juga batu yang dipahatnya sebagai tempat air untuk memasuh kakinya. Batu ini sekarang ditempatkan orang menjadi tangga mesjid di Sipagabu.

Kemudian Baleo Basurat Batu mencari tempat di sebelah Timur yaitu di Padang Mandersah. Disini pun serupa dengan di tempat semula masih kurang sunyi baginya. Lalu pindahlah ia ke tengah rimba raya arah  ke Timur Padang Mandersah. Rimba ini kelak dikenal orang dengan nama hutan Mahato. Tempat ini cukup  nyaman dan sunyi baginya dan diputuskan untuk tinggal di situ. Disinilah Baleo tinggal selama bertahun-tahun lamanya, seorang diri. Sampai dengan usianya yang amat tua beliau hidup di tengah rimba itu hingga meninggal dunia.

Konon waktu Baleo akan meninggal dunia, raja-raja dari Sipagabu dan sekitarnya serta murid-muridnya hadir di situ menyaksikannya. Mereka masih sempat bersama-sama Baleo mengucapkan zikirullah sebelum menghembuskan nafas. Dalam iringan suatu zikirullah itulah Baleo meninggal dunia. Kemudian jenazahnya dikuburkan oranglah di situ yakni di dasar mesjidnya sesuai dengan wasiatnya sendiri.

Kemudian hari orang datang ke sana ziarah dan bernazar untuk meminta ajaran dan atau petunjuk. Sejak itulah beliau digelari orang Baleo mahato (dari kata: Maha tahu Maha Tobat). Ada juga orang yang menceritakan bahwa sebelum Baleo Mahato meninggal sempat juga dia berkata kepada raja-raja. Sipagabu dan murid-muridnya, "Sekali pun aku kelak tidak kamu lihat lagi di tempat ini dengan nama Tuhan, kamu dan orang yang suka akan dapat petunjuk dari aku."

Demikianlah kisah dari Keramat Baleo Mahato yang sedari dulu selalu diziarahi orang, semasih hidupnya maupun makamnya.

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Sumatera Utara

Belum ada Komentar untuk "Kisah Baleo Mahato "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel