2 Versi Asal Mula Kristen dan Khatolik di Indonesia

Ada dua versi terkait dengan masuk dan menyebarnya Agama Katolik dan Kristen di Indonesia. Versi pertama, abad ke-16, yakni saat penaklukan Portugis di Malaka, Kemudian berlanjut ke pulau-pulau bagian Timur Indonesia, Katolik dan Kristen pun masuk di Indonesia. Ini versi yang umum. Versi kedua, agama Katolik sudah ada pada abad ke-7 M dan berakar di Sumatra Utara lalu menyebar ke daerah lain, termasuk Jawa. Begini penjelasan kedua versi ini.

Versi I: Gold Glory, Gospel
Setelah membaca surat dari Rui de Araujo, satu dari 19 orang Portugis yang ditahan di Malaka, April 1511, Gubernur Portugis kedua di India yakni Alfonso de Albuquerqueberlayar dengan belasan kapal menuju Malaka, pelabuhan dagang penting. Tak butuh waktu lama, ditaklukkan Malaka. Setelah Malaka tahluk, mereka bergerak ke Timur, ke kepulauan rempah-rempah. Mereka tiba di Banda, menuju Maluku, dan Ternate. 

Di Ternate, Portugis membangun benteng. Di Maluku, sekelompok pendeta Katolik yang datang bersama Antonio Galvao, kemudian jadi pemimpin Portugis di Maluku, memulai kerja misionaris untuk menyebarkan agama Katolik. Tidak hanya di Ambon, bahkan Halmahera, Ternate dan Tidore pun kerja misionaris boleh dikatakan berhasil. 

Pelopor agama Katolik di wilayah Timur Indonesia adalah Franciscus Xaverius dari Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis. Xaverius telah menerjemahkan doa-doa utama agama Katolik dan sepuluh perintah Allah ke dalam versi bahasa Melayu. Xaverius terkenal jujur dan baik, juga suka membantu kesulitan yang dialami rakyat.

Monopoli menimbulkan perlawanan dari kerajaan-kerajaan lokal, terutama Aceh, yang membuat misi tak bisa menyebar ke wilayah barat. “Misi itu menciptakan rintangan bagi dirinya sendiri. Ketika hegemoni Portugis dan Spanyol di kawasan itu berakhir, awal abad ke-17, gereja Katolik pun kehilangan pelindung dan wilayah,” tulis Jan Bank dalam Katolik di Masa Revolusi Indonesia sebagaimana ditulis oleh historia.id.

Kedatangan Portugis ke wilayah Timur tak lepas dari mandat Paus Alexander VI yang melalui Perjanjian Tordesillas membagi belahan dunia di luar daratan Eropa. Sisi lainnya, Barat, diserahkan kepada Spanyol. Kedua negara ini bertemu di Maluku dan menyelesaikan persoalan lewat Perjanjian Saragossa sehingga masing-masing bisa tetap mengambil rempah.

Portugis sesungguhnya menyembunyikan jalan ke Nusantara yang penuh rempah. Namun akhirnya terkuak dengan adanya buku Itinerario karya Jan Huygen van Linshoten, pengelana dan pedagang Belanda, pada 1595. Perusahaan Belanda, Compagnie van Verre, telah memnberangkatkan ekspedisi ke Nusantara  dipimpin Cornelis de Houtman. 

Pada 1596, mereka mendarat di Pelabuhan Banten. Kunjungan pertama tak berhasil. Dikirim lagi ekspedisi bisnis pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Mereka diterima dengan tangan terbuka oleh penguasa Banten. Mereka kembali ke negerinya dengan muatan penuh, sementara kapal lainnya meneruskan perjalanannya ke Maluku. Setelah terbentuk Kongsi Dagang Belanda (VOC), mereka melakukan monopoli dagang, bahkan menguasai Nusantara.

VOC mendukung penyebaran Protestan dan mulai mengambil jemaah Katolik di kawasan timur Indonesia. Cuma di wilayah Flores Katolik berkembang. Protestan sendiri, selama masa VOC, mengalami masa kejayaan. Kedatangan Portugis dan Belanda ke Nusantara tidak hanya mencari rempah-rempah tapi juga kejayaan dan menyebarkan agama Kristen. Istilahnya dikenal dengan gold, glory, gospel.

Kelompok penyebar agama Protestan dinamai zending. Tokoh-tokoh zending Belanda di Indonesia, antara lain Dr. Nomensen, Hernius, dan Sebastian Danchaerts. Kegiatan mereka antara lain:
  1. Mendirikan NZG atau Nederlandsch Zendeling Genootschaap, organisasi penyebaran agama Protestan ke seluruh Indonesia.
  2. Mendirikan sekolah-sekolah yang mendukung penyebaran agama Protestan
  3. Menyebarkan agama Protestan di wilayah Tapanuli, Talaud, Maluku, dan Timor.

Versi II: Persebaran dari Sumatra Utara
Pada 1969, J. Bakker SJ menulis di majalah Basis. Dinyatakan agama Katolik sudah ada abad ke-7 M dan berakar di Sumatra Utara kemudian menyebar ke daerah lain, termasuk Jawa. Dari sumber-sumber Islam, dia meyakini Katolik datang dari India Selatan.Santo Thomas mengabarkan Injil hingga India Selatan. Dari Indoa Selatan dan lewat perdagangan, Katolik menyebar ke Sumatra Utara. Gereja Katolik mulai muncul di Tapanuli sebelum tahun 600 oleh saudagar dari India Thomas Christians.

J. Baker mendasarkan teorinya pada tulisan ilmuwan Islam bernama Shaykh Abu Salih al-Armini, yang menulis semacam ensiklopedi berjudul Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana’is wa’l-Adyar min Nawahin Misri w’al Iqtha’aihu berisi daftar gereja dan pertapaan di Mesir dan wilayah Timur lainnya. 

Abu Salih menyebut Fansur, tempat asal kamper. Di situ ada sekelompok Kristen Nestorian dan gereja yang dipersembahkan kepada Maria. Di antara sumber-sumbernya, Abu Salih menggunakan Kitab Nazm al-Jawhar karya Sa’id bin al Batriq tahun 910 dan terdapat sejumlah peristiwa dari abad ke-7.

Menurut Bakker, ‘Fansur’ disejajarkan ‘Pansur’, wilayah dekat Baros di Tapanuli. Dia juga menulis penyebutan Kristen Nestorian dari Abu Salih sesungguhnya yang tepat adalah Katolik.

AJ Butler MA FSA mereview terjemahan BTA Evetts atas karya Abu Salih ke dalam bahasa Inggris, berjudul The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Sahlih, The Armenian, menjelaskan kata Fahsur memang tertulis dalam manuskrip aslinya. Namun, kata ini mestinya ditulis Mansur, sebuah negara di zaman kuno di barat laut India, di sekitar Sungai Indus. Mansur adalah negara utama yang terkenal di antara orang-orang Arab dalam hal komoditas kamper.

Adolf Heuken SJ yang menulis Christianity in Pre-Colonial Indonesia juga mendukung Butler. “Kecuali catatan singkat Abu Salih, tak ada informasi lebih lanjut tentang Kristen di Fansur/Barus,” tulis Heuken, termuat di A History of Christianity in Indonesia karya Jan Sihar Aritonang dan Karel A. Steenbrink.

Di luar perdebatan itu, sesungguhnya, Barus tempat yang menarik. Ia dianggap kota kuno yang terkenal di Asia sejak sekira abad ke-6. Pada 1995, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient melakukan penelitian menggali situs Lobu Tua di Barus. Hasilnya,“di zaman Lobu Tua, Barus merupakan tempat perdagangan antarnegara yang mungkin didirikan pertengahan abad ke-9 M oleh pedagang dari India Selatan atau Sri Lanka. Dalam waktu singkat, mereka didatangi pedagang-pedagang dari Timur Tengah, yang juga mencari kamper,” tulis Claude Guillot dkk. dalam Barus: Seribu Tahun yang Lalu.

Terkait kemungkinan adanya sekelompok masyarakat Nestorian di Barus, Claude Guillot dkk menyebutkan perlu bukti arkeologis setelah situs Barus yang mendahului Lobu Tua berhasil ditemukan. “Jika ternyata benar, maka didapatkan bukti bahwa satu jaringan yang sebagian beragama Nestorian menghubungkan Baru dengan Teluk Persia lewat Sri Lanka dan pantai Malabar, khususnya Quilon.”

Tetap Mengizinkan Penginjilan
VOC akhirnya bangkrut. Namun Pemerintah Hindia Belanda tetap mengembangkan Protestan. Atas inisiatif pemerintah kolonial, orang-orang Protestan digabung dalam satu organisasi Gereja Protestan di Hindia Belanda. Pemerintah mensubsidi gereja dan menggaji para pendeta. Demi kepentingan politik, pemerintah mengizinkan penginjilan ke daerah-daerah.

Pada tahun 1800 rohaniawan Katolik Roma datang kembali dengan resmi ke Pulau Jawa. Delapan tahun kemudian, rohaniawan Katolik dari Belanda juga datang. Adanya misionaris ganda sempat menjadi sumber konflik di Majelis Rendah Belanda sehingga ditetapkan pembagian wilayah kerja.Sesudah ada peraturan izin masuk para misionaris ke Hindia Belanda ditetapkan, misi pun dapat dilaksanakan lagi. Sejak tahun 1859 kaum Yesuit dari Negeri Belanda juga dilibatkan dalam kegiatan itu,” tulis Jan Bank.

Berbagai badan zending, baik Protestan maupun Katolik ikut serta dalam misi. Menurut Th van den End dan Aritonang dalam “1800-2005: a National Overview”, di antara tahun 1800-1900 ada sekitar 15 badan zending yang bekerja di Hindia Belanda. Mereka mendirikan sekolah dan rumah sakit untuk  penginjilan. Mereka juga menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah.

Sejak kedatangannya, teologi yang berkembang di Nusantara masih didominasi teologi Barat. Pada abad ke-19 mulai ada pemikir-pemikir teologi, prototeolog, yang menggabungkan kekristenan dengan budaya lokal seperti Paulus Tosari dan Sadrach. Kemudian menguat setelah berdirinya seminari dan sekolah tinggi teologi.

Pada abad ke-20, para penginjil Katolik dan Protestan mulai mengubah paradigma untuk lebih bisa diterima masyarakat.

Wilayah-wilayah tradisional Kristen di Indonesia misalnya Tanah Batak, Nias, Mentawai, pedalaman Kalimantan, Minahasa, Poso, Tana Toraja, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Maluku dan Papua. 


Tapi agama Kristen dan Katolik juga menyebar di Jawa, Berdasarkan portal-ilmu.com, di Jawa agama kristen menyebar di Blambangan dan Panurukan, Jawa Timur. Agama Katolik dari sini juga mulai menyebar ke wilayah barat Pulau Jawa, antara lain Semarang, Yogyakarta, dan Batavia.

Di Jawa Timur, Kristen berkembang di Mojowarno dan Ngoro, dekat Jombang. Di Jawa Tengah, kristen mulai berkembang di Kebumen, Wonosobo, Magelang, Ambarwa, Cilacap, Salitiga, Banyumas, Purworejo, Probolinggo.

Di Jawa Barat, pusat penyebaran Kristen, berada di daerah Bogor, Sukabumi, dan Lembang atau Bandung. Tanggal 7 Oktober 1861, Tapanuli menjadi pusat kegiatan keagamaan, melalui organisasi Huria Kristen Batak Protestan atau HKBP di Sipirok.

Di Sumatra Utara masyarakat batak yang menganut Kristen, di antaranya di Angkola Sipirok, Tapanuli Selatan, Samosir, Sibolga, Buluh Hawar di Karo, Kabanjahe, Sirombu, dan Kepulauan Nias.

Belum ada Komentar untuk "2 Versi Asal Mula Kristen dan Khatolik di Indonesia "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel