Gua Tempat Laowomaru

Alkisah Rakyat ~ Gua ini terletak di Kecamatan Gunung Sitoli kira-kira 7.200 meter arah Idanogawo, terdiri dari batu-batu yang menyeramkan. Letaknya sebelah kanan arah ke bukit. Disana kita dapat lihat batu-batu itu seperti surga duniawi karena indahnya. Dari atas gua itu nampaklah lautan luas dan pulau-pulau serta beberapa semenanjung seperti: Lambaru, Sabngo dan Turemba.


Orang sering datang melihat gua ini, baik orang dalam maupun orang luar negeri. Menurut cerita orang tua-tua, kisah Gua Lawomaru ini adalah sebagai berikut :

Dahulu kala adalah seorang kuat dan kebal sejak dari kandungan ibunya, tergolong jajaran leluhur orang Nias sekarang ini yakni Sirao. Menururt cerita Sirao ini mempunyai 9 orang anak laki-laki. Salah satu di antaranya adalah ayah dari Laowomary, yang bernama Lahari. Dia ini sangat berbeda dengan saudara-saudaranya karena waktu lahir, pusatnya jadi batu. Setelah Lahari dewasa, iapun kawin dengan seorang gadis cantik bernama Iwowotonasi puteri seorang raja yang sangat besar kuasanya atas tepi pantai dan sekitarnya. Mereka hidup rukun dan damai tidak pernah menyebutkan nama satu sama lain. Mereka tidak pernah saling memaki, selalu berniat menghormati dan selalu seia sekata pergi ke pesta adat maupun mengerjakan pekerjaan. Mereka tidak tamak harta maupun iri pada kerakusan dan harta duniawi. Dan mereka sangat menyayangi anaknya seorang.

Lawomaru menunjukkan tingkah laku yang berbeda dari biasanya. Waktu lahirnya ada 9 helai rambut dikepalanya dan tidak dicukur karena terdiri dari besi atau kawat. Dari hari menjadi bulan, bulan berganti tahun, si anak ini semakin besar pula. Rambut semakin panjang juga seperti rambut wanita. Rambut inilah yang membuat kebal dan memiliki ilmu sihir. Badan dan tulang tidak pernah cidera. Biar apa pun digunakan orang untuk membunuhnya tidak pernah berhasil.

Tetapi karena kekebelannya itu, dia berbuat jahat terhadap orang dan menyalahi kehendak Tuhan. Ia merampas, mencuri dan menyiksa orang, itulah kerjanya sehari-hari. Barang dagangan orang dari seberang dirampasnya.Baik harta maupun emas dirampasnya, orang tidak berkata apa-apa dan tidak berkutik.

Harta dan emas rampasan itu semuanya disembunyikan Laowomaru di dalam gua tadi. Jika ada orang mengerjarnya dia bersembunyi dalam gua ini. Pedagang-pedagang dari Johor menjadi dendam kepadanya, karena barang-barang yang dibeli di Nias pun diambilnya juga. Itulah sebabnya mereka selalu kembali tanpa oleh-oleh. Kemudian mereka mencari jalan untuk membunuh Laowomaru, tetapi tak pernah berhasil. Walaupun ia tertangkap oleh pedagang-pedagang itu, begitu badannya digoyangkan maka lepaslah pegangan orang dari badannya. Walaupun badannya diikat dan dipotong dengan pisau tetapi tidak juga terluka. Biarpun dibakar dengan api, matanya tidak berkedip dan ia tidak mengindahkan siksaan itu sedikit pun. Begitulah setiap hari pedagang atau penduduk negeri bila lintas dari dekat gua itu tidak akan pernah lepas dari gangguan Laowomaru.

Kemudian hari, setelah Laowomaru kawin dengan seorang gadis bernama Sihoi maka perkawinan mereka itu memberi seorang anak laki-laki yang sampai sekarang tak tahu orang siapa namanya karena orang tidak mau tahu dengannya lagi, mengingat kejahatan-kejahatan masa dulu.

Setelah anaknya itu besar, Laowomaru berkata dalam hati,"Lebih baik kekebalan ku ini kuturunkan kepada anakku, agar dia kebal seperti diriku." Rencananya diberitahukannya kepada Sihoi istrinya.... dan istrinya setuju. Pada suatu hari Laowomaru mengundang tetangganya, baik yang senang maupun yang benci, untuk mencari jalan bagaimana caranya memberikan kekebalannya itu kepada anaknya.

Laowomaru memarakkan api dan memanaskan suatu periuk besi yang besar agar melelh seperti madu atau minyak. Segera anaknya dipanggil lalu memasukkan cairan besi itu ke mulut anaknya. Sebelum cairan itu dimasukkannya, lebih dahulu diberikan beberapa syarat yang harus dipatuhi dalam pembicaraan kekebalan itu. Sang anak tak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan pandangannya tetap ke depan, karena setiap pelanggaran syarat berarti maut. Jadi syarat-syarat itu tak boleh dilanggar.

Waktu acara itu berlangsung salah seorang yang dendam kepada Laowomaru, berkata.

"Jika seandainya anaknya itu kebal nanti seperti ayahnya maka siksaa akan lebih berat lagi kepada kita." Kesempatan  itulah mereka gunakan menggoda sang anak agar mengikar syarat -syarat yang telah di tetapkan oleh ayahnya. Sebenarnya sang anak patuh terhadap syarat-syarat itu, orang yang telah dendam itu berkata.

"Hei anak Laowomaru! itu ikan yang besar di laut, sebelah kananmu," Anak itu tidak mau mengindahkannya. Sekali lagi mereka itu berkata.

"Hai! Anak Laowomaru, itu perahu yang penuh dengan emas dan perak" Sang anak terus menoleh, karena pada dugaannya emas dan perak itu benar-benar ada.

Saat itu lehernya segera putus, pada waktu mana cairan besi tinggal sedikit yang belum habis diminumnya. Anak itu pun meninggallah dan sejak itu pulalah Laowomaru tidak punya turunan.

Laowomaru semakin ganas lagi. Dia berkata, "Hanya karena lautan yang membatasi pulau inilah dengan pulau Sumatera," sehingga anakku da[at digoda orang-orang yang mengakibatkan lehernya putus lalu mati." Kemudian ia berkata :

"Biarlah kuhubungkan pulau ini dengan Sumatera." lalu mencari dua orang temannya untuk menarik pulau Nias ke pulau Sumatera. Untuk itu ada syarat-syarat yang harus dilaksanakan yakni, jika langkah sudah dimulai, apapun yang terjadi di tengah jalan, langkah tidak boleh mundur ke belakang. JIka ditarik demikian berarti pekerjaan itu gagal. Kiranya salah seorang temannya itu ada menaruh sakit hati terhadap Laowomaru . Beberapa kilometer itu telah mereka tarik lantas yang sakit hati menarik mundur langkahnya sehingga sejak itu pulau Nias tak tertarik  lagi olehnya. Tanah yang sempat tertarik itu menjadi sebuah tanjung yang kini bernama "Lembaru". Kaki kawannya penarik itupun menjadi pincang. Itulah sebabnya maka pulau Nias tidak pernah bersatu dengan Sumatera. Karena usaha Laowomaru itu gagal, mereka ke darat dengan rasa kesal dan sedih hingga menangis.

Pekerjaan yang gagal itu terbayang kembali dalam pikirannya. Untuk menghilangkan rasa bingung, rasa kesal dan malu, ia mencari jalan keluar, kembali ke pekerjaan semula, yakni mengintip dan merampas harta orang. Sambil mengintai perahu orang sebuah sampan kecil dibuatnya untuk menangkap ikan-ikan besar di laut. Pekerjaan ini dilakukannya untuk menyabarkan hati istrinya yang sedih dan kurus itu. Sejak itulah Laowomaru sering-sering meninggalkan istrinya di rumah.

Suatu waktu, pada malam bulan sabit akan tenggelam di Barat, Laowomaru mengemasi keperluannya  hendak ke laut. Diambilnya peralatan sampannya, pancingnya, benang, umpan ikan, pisau dan kayu )senjatanya). Sesampai di tengah-tengah laut, ia pun mulai memancing. Ada 300 kail dipasangnya kedalam laut.

Kira-kira sepemakan sirih seekor ikan besar kena pancing lalu segera ditariknya, tetapi ikan itu menariknya ke laut. Ada dua kali se[pemakan sirih terjadi tarik- menarik antara  Laowomaru dengan ikan, baraulah dapat ditariknya ke dalam sampannya. Dipukulinya kepala ikan itu agar lemas, barulah diangkat ke atas sampannya. Setelah ikan besar itu didapatnya, gembiranya bukan main, sekaligus teringat akan istrinya yang ditinggal seorang diri di rumah. Ia ingin cepat-cepat pulang agar istrinya tercinta tidak bosan menunggu. Segera segala tali pancingnya digulung, lalu pulang seraya bersiul-siul dengan wajah senyum. Dibayangkannya betapa gembiranya istrinya nanti menerima ikan besar itu di rumahnya.

Kira-kira dua depa lagi tali kailnya yang belum tergulung datanglah ombak besar dari laut disertai sebuah kepala besar seperti kepala ular raksasa. Semakin timbul  kepala ular itu, semain besar pula ombak yang datang. Jika seandainya Laowomaru tidak kuat maka sampan dan segala isinya akan hanyut ke laut. Namun ia tidak takut karena hal itu dianggapnya biasa saj, apalgi ia telah berpengalaman dengan pekerjaan dayung- mendayung. Setelah kepala ular itu dekat, berkatalah kepadanya.

"Hei, Laowomaru! Tolonglah aku sudah capek dan bosan di lautan ini. Sejak kecil hingga besar, kepayahanlah yang selalu kutemui. Setiap hari aku berjalan dari Utara ke Selatan, dari Barat ke Timur, itulah selalu pekerjaanku. Karena itulah aku minta tolong padamu, dan janganlah bertanya sebabnya. Lebih dahulu kuperkenalkan diriku. Namaku Haria. Akulah raja segala ular di dasar lautan ini." Karena itu Laowomaru menjawab.

"Hei, Haria. Pertolongan apakah yang kau kehendaki," katanya.

"Saya ingin tidur, ingin istirahat sebentar. Dan juga saya minta, jika kau mau, aku ingin meminjam sampanmu ini nanti sebagai bantal waktu aku tidur," kata ular itu.

"Selain itu selama aku tidur di atas sampanmu itu nanti, saya harap dengan sangat agar jangan kau tinggalkan aku sendirian. Apakah permintaanku ini dapat kau kabulkan Laowomaru?"

"Hei Haria! Aku akan mengabulkananya dan kusediakan waktu berharga bagimu. Apalagi aku mau pulang menemui istriku yang telah lama kutinggalkan dan menunggu di rumah. Biarlah permintaanmu itu saya kabulkan,tetapi saya sangsi akan diterima, katanya.

"Hei, Laowomaru,katakanlah apa kebimbanganmu itu?"

"Kau, Haria, terlalu gemuk. Kepalamu sebesar gunung lehermu lebih dari 25 pelukan besarnya. Kalau kau baringkan kepalamu di haluan sampan ini, bukan istirahat jadinya, karena badanmu yang besar itu, mungkin akan menenggelamkan sampanku ini ke dasar laut. Hal itu berarti bukan pertolongan bagimu. Guna apa aku menolongmu kalau akhirnya terbenam juga ke dasar laut. Karena itu saya minta agar carilah jalan lain," katanya.

"Memang benar ucapanmu itu. Umurmu sudah lanjut waktu aku di dasar laut, sudah kudengar mkabarmu begitu, bahwa orang -orang yang berada di atas laut ini takut menurunkan sampannya yang akan kubuat jadi bantalku karena leherku yang besar. Aku berterima kasih padamu. Laowomaru karena kau menyediakan sampanmu ini bantalku nanti. Akan tetapi janganlah khawatir leherku ini dapat kukecilkan nanti," katanya. Ular Haria pun mengecilkan leharnya hingga menjadi tiga pelukan lagi, lalu bartanya.

"Apakah ini sudah cukup?"

"Masih kurang, lagi kecilkan lagi! kata Laowomaru. Ular Haria terus menyusutkan lehernya sebesar batang rumbia, lalu bertanya lagi.

"Apakah cukup penyusutan begini?"

"Kamu telah lebih Haria, saya maklum betapa besar kepalamu ini karena penuh sumsum. Kalau boleh, susutkanlah kembali," katanya. Ular Haria kembali menyusutkan lehernya hingga sebesar batang nyiur, lalu berkata.

"Apakah sudah cukup begini?"

"Masih kurang, susutkanlah lagi," kata Laowomaru. Makin disusutkan ular lehernya itu hingga sebesar jari kelingking, lalu bertanya lagi.

"Apakah sudah cukup begini?"

"Sudah, cukup Haria," jawabnya

"Apakah sudah bisa kubaringkan kepalaku di haluan sampanmu ini? Janganlah terlalu bimbang. Perut dan ekorku akan kubiarkan terapung di atas laut nanti," kata ular.

"Ya, boleh. Itu tak jadi soal. Baringkanlah kepalamu diatas haluan sampanku ini. Haria!" Setelah dibaringkan demikian dengan hati-hati sekali Laowomaru mencabut kerisnya lalu memotong leher ular itu sampai putus. Kepala dan badan ular itu dibenamkan ke laut. Darahnya mengucur hingga permukaan laut tadi jadi merah. Jatuhnya kepala ular itu ke dasar laut menyebabkan suara gemuruh yang hebat sekali sehingga Sihoi istri Laowomaru tersentak mendengar di rumahnya.

Setelah ular itu mati, Laowomaru kembali ke gua tempatnya untuk menemui istrinya yang sudah seminggu ditinggalkan. Ia disongsong istrinya hingga ke pintu gua seraya berpelukan karena rindu.  Sesampai di dalam gua sang istri bertanya.

"Apakah yang terjadi dimlaut?" Maka diceritakannyalah segala yang telah terjadi itu. Sihoi jadi heran, kagum dan gembira sekali mendengar ketangkasan dan kehebatan suaminya. Sihoi menyanjung dan meneteskan air mata lalu menuturkan betapa cintanya ia kepada suaminya. Sejak itu Sihoi ingin mengetahui sebab kehebatan suaminya. Dengan bujuk rayu, maka isi dan rahasia kehebatan Laowomaru terbongkar. Dan diceritakanlah unsur penyebab kekuatannya itu. Tetapi dijelaskan bahwa akan berbahaya jika orang lain mengetahuinya, karena itu jangan sampai dituturkan kepada orang lain. Belum pernah Laowomaru menuturkannya kepada siapa sekalipun. Tetapi istrinya berjanji tidak akan membocorkannya.

"Kalau boleh, lain kalilah kuceritajan, istriku," Sebaiknya Sihoi terus-menerus meminta agar diberitahukan saja. Melihat keletihan dan keluhan istrinya akhirnya Laowomaru membeberkan rahasia kekuatannya itu. Istrinya disumpah agar janga membocorkannya, malah akan menyimpannya baik- baik. Laowomaru berkata.

"Di atas kepalaku ini ada sembilan rambut kawat yang tak mampu dicukur. Kalau rambut ini dicabut maka kekuatan saya akan kembali seperti manusia biasa. Itulah sebabnya rambutku ini tak pernah dicukur. Karena kalau rambutku yang sembilan ini hilang, kekuatan saya pun akan hilang. Saya mohon padamu istriku sayang, janganlah rahasia ini sampai diketahui orang lain." Mendengar penuturan suaminya itu Sihoi merasa gembira sekali dan terhibur.

Beberapa bulan berselang datanglah perahu-perahu dengan barang dagangan dari Johor sebanyak lima puluh buah perahu. Para pedagang itu ingin membalas dendam terhadap Laowomaru . Melihat mereka telah datang. Laowomaru menyiapakan diri untuk merampk. Dia terjun ke laut, berenag menetang lalu merampoknya. Harta dan emas yang ada di sana diambilnya dan dibawa lari ke dalam gua tempatnya. 

"Apa hendak dikata," kata pedagang sesama mereka sepeninggal Laowomaru. Kemudian mereka berembuk bagaimana cara membinasakan perampok itu. Putus kata, Laowomaru beserta istrinya harus ditangkap dan diikat kekuatannya. Dia merasa tidak kurang suatu apa dan tak tahu bahwa istrinya telah diikat dalam gua serta disiksa. Akhirnya mereka memaksa agar Sihoi tidak mau buka mulut. Tetapi setelah mendapat siksaan yang menyakitkan sekali dengan cara mencabut semua kuku jari kedua belah tangannya, akhirnya Sihoi membukakan kekuatan suaminya itu. Sihoi lupa akan janjinya bahwa rahasia itu tak boleh dikatakan kepada orang lain. Mendengar rahasia kekuatan itu segera dilepas lalu pergi mendapatkan Laowomaru untuk mencari dan mencabut rambut kawatnya itu. Benarlah setelah rambut kawat itu dicabut maka hilanglah kekuatan Laowomaru. Saat itu juga ia mati, berpisah dari istrinya Sihoi untuk selama-lamanya.

Sampai di sinilah cerita Laowomaru, tetapi gua tempat tinggalnya tetap ada di situ. Kenangan kepadanya tetap menjadi peribahasa orang-orang tua di Nias yang pada mulanya megah tetapi akhirnya redup. Peribahasa itu berbunyi, "Sogneruma bagi Haria," artinya ada kegentingan leher Haria. Ini diucapkan waktu tawar-menawar harga barang. Dan menjadi nasehat utama untuk kaum ibu, "Boro Sihoi wa teala Laowomaru," artinya Sihoi menyebabkan Laowomaru tersiksa, maksudnya wanitalah maka laki-laki mendapatkan siksaan (kesusahan).    

Sumber : Ceritera Rakyat Daerah Sumatera Utara

Belum ada Komentar untuk "Gua Tempat Laowomaru"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel