Asal-usul Si Ngekek Lovebird di Indonesia

Tentu kita tahu, sekarang Lovebird sedang naik daun. Tidak hanya di antara peternak burung yang asli, namun para peternak unggas lain, misalnya, kini juga ramai-ramai memelihara burung ini. Terutama bila burung tersebut berasal dari keturunan yang ngekeknya panjang. Saat ini banyak lomba ngekek digelar. Nilai ekonomis lovebird sedang menjulang membuat banyak orang beternak.  Sesungguhnya apa itu lovebird dan bagaimana sejarahnya?

Lovebird atau burung cinta termasuk satu dari sembilan jenis spesies genus Agapornis (dari bahasa Yunani "agape" yang berarti "cinta" dan "ornis" yang berarti "burung"). Ukurannya 13 sampai 17 cm dengan berat 40 sampai  60 gram. Lovebird berasal dari alam luar Afrika: Namibia, Angola, Tanzania, Kenya, Mozambik, Malawi, Zimbabwe, Victoria, Zambia, Eritrea, Ethiopia dan Madagaskar. Mereka hidup di lubang-lubang pohon atau di gua-gua di Afrika sana.

Mengapa Dinamakan Lovebird? Karena sepasang burung cinta akan duduk berdekatan dan saling menyayangi satu sama lain. Sifatnya monogami di alam bebas. Umur hidup rata-eata 10 sd 15 tahun.

Di Indonesia burung ini ditangkar berpasangan atau dijadikan hiasan dalam sangkar.Sungguh menyalahi sifat aslinya yang gemar berkoloni. Maka dari itu, sebaiknya peliharalah lovebird secara bersama-sama agar tidak mudah mati.

Oh ya, orang Indonesia memang sangat menggemari burung. Mereka memanfaatkannya sebagai hiasan ataupun dilombakan, baik fisik maupun suaranya. Tak heran kalau burung-burung di alam bebas yang bisa berkicau kini sudah jarang kita temui di habitatnya. Kini mereka banyak kita temui di rumah-rumah penghobi.
Orang Indonesia senang dengan hal-hal baru. Termasuk barang-barang dari luar negeri. Lovebird masuk ke Indonesia, di tahun 1995, jumlahnya masih sedikit dan murah harganya. Lovebird dianggap sebagai burung hias, belum ada lomba kicauan khusus lovebird. Lovebird kemudian dijadikan burung master untuk burung kicauan.Tahun 2000-an harganya melambung tinggi.Per ekor warna hijau standard bisa mencapai 10 juta rupiah saat itu. Sehingga banyak sekali yang menangkarkannya.

Di Indonesia, burung lovebird dinikmati dari segi suaranya.Makin panjang ngekeknya, harganya makin  tinggi.Penampilan fisik tidak terlalu diperhatikan. Beda jauh dengan para peternak lovebird di luar negeri yang hanya ada kontes kecantikan. Burung lovebird dinikmati dari segi fisik, seperti warna bulu yang cantik, menawan, rapi dan variatif. Serta bentuk tubuh yang montok. Para peternak di sana benar – benar menomor satukan penampilan fisik si lovebird.

Bahkan aturan kontes di luar negeri sangat ketat. Jika ada peternak yang ingin mengikuti kontes, maka burung yang diikutkan kompetisi harus berasal dari penangkarannya sendiri.
Oh ya, lovebird slaty, Misty, Parblue, Biola pertama dikembangkan di luar negeri.Para peternak luar negeri benar – benar memahami ilmu genetika. Mereka tidak asal dalam hal menyilangkan lovebirdnya. Itulah mengapa mereka sangat ahli dalam menciptakan warna – warna baru yang sangat menawan.

Sampai sekarang, banyak jenis lovebird yang tercipta seperti:Albino, Lutino, Agapornis roseicollis, Agapornis pullaria, Agapornis personata, Agapornis lilianae, Agapornis nigrigenis, Agapornis fischeri, Agapornis taranta, Agapornis cana, Agapornis swinderniana, Lovebird Pastel, Lovebird Cobalt, Lovebird Batman, Lovebird Merah, Lovebird Albino, Lovebird Olive, Lovebird Parblue, Lovebird Blorok, Lovebird Halfsider, Lovebird Australian Cinnamon, Slaty, Misty, Biola.Peternak Indonesia menjadi konsumen/ penikmat hasil silangan peternak luar negeri.

sumber

Belum ada Komentar untuk "Asal-usul Si Ngekek Lovebird di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel