NAMA MARGA KETURUNAN CINA DI INDONESIA DAN DUNIA

Nama Marga Keturunan Cina adalah nama yang diekspresikan dengan karakter Han (Hanzi). Nama ini digunakan secara luas oleh warga negara Republik Rakyat Tiongkok, Republik Tiongkok, Hong Kong, Makau dan keturunan Cina di negara-negara lainnya.
Nama Cina biasanya terdiri dari 2 karakter sampai 4 karakter, walaupun ada yang lebih dari 4 karakter, namun umumnya nama seperti itu adalah mengambil terjemahan dari bahasa lain sehingga tidak dianggap sebagai nama Cina.
Nama Cina mengandung marga dan nama. Marga Cina diletakkan di depan nama, biasanya 1 sampai 2 karakter; nama mengikuti marga.

Xingshi ditulis dalam Hanzi
Namaku Agatha Nicole Tjang, atau Agatha Nicole Chang, atau Agatha Nicole Zhang, atau Agatha Nicole Thio, atau Agatha Nicole Tio, atau Agatha Nicole Theo, atau Agatha Nicole Teo, atau Agatha Nicole Tjong, atau Agatha Nicole Zhao, dan nama yang diberikan leluhurku adalah Ie Lien ZhangZhāng liánlián ; 张连连), Marga (Hanzi: 姓氏, hanyu pinyin: xingshi) yang secara internasional yang digunakan adalah Zhang (张 (Zhang)) dan penulisan marga Tjang sendiri secara romanisasi yang di ekspresikan atau di sesuaikan dengan penulisan alphabet Indonesia; penulisan marga secara latin/roman bisa saja berbeda-beda karena tidak ada aturan baku yang mengaturnya secara khusus tetapi semua adalah sama masih satu garis keturunan (silsilah).
  • Bingung ? sama dong......!!! Nicole juga masih bingung, makanya Nicole coba telusuri walau nantinya tidak sempurna, tapi inilah penelusurannya.
Marga-marga Cina merupakan marga yang digunakan orang Cina. Marga (Hanzi: 姓氏, hanyu pinyin: xingshi) biasanya berupa satu karakter Han (Hanzi) yang diletakkan di depan nama seseorang. Ada pula marga yang terdiri dari 2 atau bahkan 3 sampai 9 karakter – marga seperti ini disebut marga ganda (Hanzi: 復姓, hanyu pinyin: fuxing). Marga Cina juga diadopsi oleh suku-suku minoritas yang sekarang tergabung dalam entitas Cina. Marga dalam suku-suku minoritas ini biasanya berupa penerjemahan pelafalan dari bahasa suku-suku minoritas tadi ke dalam Hanzi. Penggunaan marga di dalam kebudayaan Cina telah mempunyai sejarah selama 5.000 tahun lebih.

ASAL USUL
Sejarah marga di dalam kebudayaan Cina bermula dari 5.000 sampai 8.000 tahun yang lalu sewaktu masyarakat Cina masih bersifat matrilineal. Pada masa itu, marga diwariskan dari garis ibu, itu yang menyebabkan marga-marga pertama dalam kebudayaan Cina banyak yang mempunyai radikal perempuan (女).

Dua karakter xing (姓) dan shi (氏) yang membentuk arti marga sebenarnya berbeda dalam penggunaanya. Seiring bertambah kompleksnya struktur sosial masyarakat Cina, xing merujuk kepada marga dan shi merujuk kepada klan.

Bila xing muncul pada masa 8.000 tahun yang lalu, maka shi baru muncul pada masa pemerintahan Huangdi (Hanzi: 黃帝, bahasa Inggris: Yellow Emperor). Klan (shi) ini sedikit berbeda dengan marga (xing), bertambahnya jumlah penduduk yang mempunyai marga yang sama kemudian menjadikan beberapa keluarga yang sama marga menginginkan adanya pembedaan garis keturunan lagi. Dari sinilah muncul pembedaan klan dalam marga yang sama. Jadi, shi adalah satu marga kecil dalam marga. Dalam satu marga dibagi lagi atas beberapa klan menurut garis keturunan yang berbeda.

EVOLUSI dan KOMPOSISI MARGA
Di zaman dahulu, menurut catatan literatur kuno ada peraturan bahwa nama seorang anak biasanya baru akan ditetapkan 3 bulan setelah kelahirannya. Namun pada praktiknya, banyak yang memberikan nama sebulan setelah kelahiran sang anak, bahkan ada yang baru diberikan setahun setelahnya. Juga ada yang telah menetapkan nama terlebih dahulu sebelum kelahiran sang anak.

Di zaman Dinasti Shang, orang-orang masih menggunakan nama dengan 1 karakter. Ini dikarenakan mereka belum mengenal marga dan juga karena jumlah penduduk yang tidak banyak.

Sebelum zaman Dinasti Han, biasanya nama Cina hanya terdiri dari 2 karakter yang terdiri dari 1 karakter marga dan 1 karakter nama. Namun setelah Dinasti Han, orang-orang mulai memiliki sebuah nama lengkap yang terdiri dari 3 karakter (1 karakter marga dan 2 karakter nama pribadi - yang terdiri dari 1 karakter nama generasi dan 1 karakter nama diri) selain daripada nama resmi mereka yang 2 karakter itu.

Di zaman Dinasti Jin, orang-orang baru memakai nama dengan 3 karakter seperti yang kita kenal sekarang.

Nama menjadi sebuah hal yang penting bagi seseorang dipengaruhi oleh pemikiran Konfusius tentang pentingnya penamaan bagi penonjolan karakter seseorang.

Pada kasus-kasus yang sangat langka, seseorang dapat memiliki nama dengan lebih dari tiga karakter :
  • Dua karakter marga (seperti Sima, Zhuge), satu karakter generasi, dan satu karakter nama diri. Contoh: Sima Xiangru
  • Satu karakter marga dan tiga karakter nama. Contoh: Hong Tianguifu (anak dari Hong Xiuquan)
  • Nama marga suku minoritas yang mengadopsi nama Cina. Contoh: suku Manchu yang menguasai dinasti Qing menggunakan marga Aisin Gioro; kaisar dinasti Qing terakhir bernama Aisin Gioro Puyi (enam karakter)
Menurut catatan sejarah, jumlah keseluruhan marga Cina sekitar 12.000 buah marga. Marga dengan karakter tunggal mencapai 5.000 buah, marga ganda mencapai 4.000 buah dan sisanya adalah marga antara 3 karakter sampai 9 karakter.

Namun marga yang masih digunakan sampai sekarang hanya berkisar antara 3.000 lebih marga. Marga tunggal mencapai 2.900 buah sedangkan marga ganda hanya 100 marga. Marga dengan 3 karakter ke atas sangat jarang ditemui. Selain itu banyak pula marga yang telah punah.

Komposisi marga di masyarakat Cina sangat tidak merata. Sekitar 100 marga yang paling banyak diketemukan mencakup 87% dari jumlah penduduk Tiongkok.

Tingkatan Marga
Di zaman dulu, marga-marga tertentu mempunyai tingkatan lebih tinggi daripada marga-marga lainnya. Pandangan ini terutama muncul dan memasyarakat pada zaman Dinasti Jin dan sesudahnya. Ini dikarenakan sistem Men Di yang serupa dengan sistem kasta di India. Pengelompokan tingkatan marga ini terutama juga dikarenakan oleh sistem feodalisme yang mengakar zaman dulu di Tiongkok. Ini dapat dilihat pada zaman Dinasti Song misalnya, Bai Jia Xing yang dilafalkan pada masa tersebut menempatkan marga Zhao yang merupakan marga kaisar menjadi marga pertama.

Pada masa sekarang tidak ada pengelompokan tingkatan marga lagi di dalam kemargaan Cina. Bila beberapa marga didaftarkan maka biasanya diadakan pengurutan sesuai dengan jumlah goresan karakter marga tersebut.

Munculnya berbagai macam marga antara lain karena:
  • Menggunakan lambang-lambang suku-suku kuno, misalnya 马 (ma, kuda), 龙 (long, naga), 山 (shan, gunung), 云 (yun, awan)
  • Menggunakan nama negara, misal: Qi, Lu, Wei, Song
  • Menggunakan daerah kekuasaan, misal: Zhao, yang mendapatkan daerah kekuasaan di kota Zhao.
  • Menggunakan gelar jabatan, misal: Sima (menteri Perang), Situ (menteri tanah dan rakyat), Sikong (menteri PU)
  • Menggunakan nama pekerjaan, misal: Tao (keramik), Wu (dukun/tabib)
  • Menggunakan tanda dari tempat tinggal, misal: Ximen (gerbang barat), Liu (pohon yangliu), Chi (kolam)
Marga Cina di suku-suku minoritas
Marga Cina juga digunakan oleh suku-suku minoritas di Tiongkok dan Taiwan. Ini dikarenakan suku-suku minoritas tadi menerima pengaruh dari kebudayaan Han yang membawa marga. Banyak suku-suku minoritas yang kemudian juga membawa marga Han, dengan karakter Han. Pada mulanya, mereka juga menggunakan marga suku masing-masing dengan mencari nada pelafalan yang lebih kurang sama dengan marga Cina yang umum.
  • Suku Hui: Marga Ma
  • Suku Miao: Marga Dao
NAMA MARGA KETURUNAN CINA DI INDONESIA
Marga Cina di Indonesia terutama ditemukan di kalangan suku Cina-Indonesia. Suku Cina-Indonesia walau telah berganti nama Indonesia, namun masih banyak yang tetap mempertahankan marga dan nama Cina mereka yang masih digunakan di acara-acara tidak resmi atau yang bersifat kekeluargaan.

Diperkirakan ada sekitar 300-an marga Cina di Indonesia, data di PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) mencatat ada sekitar 160 marga Cina di Jakarta. Di Singapura sendiri ada sekitar 320 marga Cina. Atas dasar ini, karena daerah asal suku Cina di Indonesia relatif dekat dengan Singapura maka dapat diambil kesimpulan kasar bahwa jumlah marga Cina di Indonesia melebihi 320 marga.

Marga Cina di Indonesia mayoritas dilafalkan dalam dialek Hokkian (Minnan). Hal ini tidak mengherankan karena mayoritas keturunan Cina-Indonesia adalah berasal dari Provinsi Fujian (Provinsi Hokkian).

Suku Cina-Indonesia sebelum zaman Orde Baru rata-rata masih memiliki nama Cina dengan 3 karakter. Walaupun seseorang Cina di Indonesia tidak mengenal karakter Han, namun biasanya nama Cina di Indonesia tetap diberikan dengan cara romanisasi. Karena mayoritas orang Cina di Indonesia adalah pendatang dari Hokkian, maka nama-nama Cina berdialek Hokkian lebih lazim daripada dialek-dialek lainnya.

Di zaman Orde Baru, di bawah pemerintahan Suharto, warganegara Indonesia keturunan Cina dianjurkan untuk mengindonesiakan nama Cina mereka dalam arti mengambil sebuah nama Indonesia secara resmi. Misalnya Liem Sioe Liong diubah menjadi Soedono Salim. Walaupun demikian, di dalam acara kekeluargaan, nama Cina masih sering digunakan; sedangkan nama Indonesia digunakan untuk keperluan surat-menyurat resmi.

Namun sebenarnya, ini tidak diharuskan karena tidak pernah ditetapkan sebagai undang-undang dan peraturan yang mengikat. Hanya tarik-menarik antara pendukung teori asimilasi dan teori integrasi wajar di kalangan Cina sendiri yang menjadikan anjuran ini dipolitisir sedemikian rupa. Anjuran ganti nama tersebut muncul karena ketegangan hubungan Republik Rakyat Tiongkok dengan Indonesia setelah peristiwa G30S. Tahun 1966, Ketua Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB), Kristoforus Sindhunata menyerukan penggantian nama orang-orang Cina demi pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa.

Seruan ini mendapat kecaman dari kalangan orang Cina sendiri dan cemoohan dari kalangan anti-Cina. Yap Thiam Hien secara terbuka menyatakan bahwa nama tidak dapat menjadi ukuran nasionalisme seseorang dan ini juga yang menyebabkan nasionalis terkemuka Indonesia itu tidak mengubah namanya sampai akhir hayatnya. Cemoohan datang dari KAMI dan KAPPI yang pada waktu itu mengumandangkan nada-nada anti-Cina yang menyatakan bahwa ganti nama tidak akan mengganti otak orang Cina serta menyerukan pemulangan seluruh orang Cina berkewarganegaraan RRT di Indonesia ke negara leluhurnya.

Ganti nama ini memang merupakan satu kontroversi karena tidak ada kaitan antara pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa dengan nama seseorang, juga karena tidak ada sebuah nama yang merupakan nama Indonesia asli. Marga yang lazim di kalangan Cina-Indonesia semisal:
  • Cia/Tjia (Hanzi: 謝, hanyu pinyin: xie)
  • Gouw/Goh (Hanzi: 吳, hanyu pinyin: wu)
  • Kang/Kong (Hanzi: 江, hanyu pinyin: jiang)
  • Lauw/Lau (Hanzi: 劉, hanyu pinyin: liu)
  • Lee/Lie (Hanzi: 李, hanyu pinyin: li)
  • Oey/Ng/Oei (Hanzi: 黃, hanyu pinyin: huang)
  • Ong (Hanzi: 王, hanyu pinyin: wang)
  • Tan (Hanzi: 陳, hanyu pinyin: chen)
  • Tio/Thio/Theo/Teo (Hanzi: 張, hanyu pinyin: zhang) di Indonesia "Tjang".
  • Lim (Hanzi: 林, hanyu pinyin: lin)
  • Hoan / Hwan (Hanzi: 范, hanyu pinyin: fan)
Daftar ini masih belum lengkap. Daftar ini diurutkan berdasarkan pinyin. Karakter yang menggunakan koma berarti ada lebih dari satu macam karakter untuk pinyin yang sama. Karakter dengan tanda garis miring berarti di sebelah kiri adalah Hanzi tradisional, dan di sebelah kanan Hanzi sederhana.
Marga Cina
Dibaca
Ejaan Latin Hokkian, Hakka, Tiociu, Konghu, dan bahasa lainnya
Pengindonesiaan
欧阳/歐陽 (Oūyáng)
O Yang
Auwjong
Ojong, Dikra
(Ān)
An
Anadra, Andy, Anita, Ananta
, (Bái)
Pai
Pekasa, Pekerti, Peris
(Cài)
Jae
Tjoa
Cahyo, Cahyadi, Tjohara
(Cao)
Cao
Tjo
Cokro, Vonco
, (Chéng)
Jheng
Seng
Sengani
(Chen)
Jen
Tan, Tjhin
Tanto, Tanoto, Tandiono, Tanzil/Tansil, Tanasal, Tanadi, Tanamal, Tandy, Tantra, Tanizal, Tantomo, Tandjung/Tanjung, Tanu- (Tanutama, Tanusaputra, Tanudisastro, Tanuwijaya, Tanusudibyo, Tanubrata, dll.)
/ (Deng)
Teng
Tenggara, Tengger, Ateng
(Guo)
Kuo
Kwee, Kwik
Kartawiharja, Kusuma/Kusumo, Kumala
(Han)
Han
Han
Handjojo/Handaya/Handoyo/Handojo, Hantoro
(Hé)
He
Ho (Hokkian), Ho (Hakka), Ho (Konghu)
Honoris, Hendrawan, Hengky
(Hong)
Hung
Ang
Anggawarsito, Anggakusuma, Angkiat, Anggoro, Anggodo, Angkasa, Angsana
(Huang)
Huang
Oei, Oey
Wibowo, Wijaya, Winata, Widagdo, Winoto, Willys, Wirya, Wiraatmadja , Winarto, Witoelar, Widodo, Wijonarko/Wijanarko
(Jiang)
Ciang
Kang/Kong
Kangean
(Li)
Lhi
Li, Lie, Lee
Lijanto/Lianto, Liman, Liedarto, Lievai, Lienata
(Liang)
Lhiang
Nio
Liangani, Liando, Liandow/Liandouw
(Lin)
Lhin
Liem, Lim
Halim/Alim, Salim, Liman- (Limanto, Limantoro, Liemantika, dll.) Lim- (Limputra, Limianto/Limijanto, Limawan, Liemena, dl..), Mulialim, Linus, Linnus
/ (Liu)
Lhiu
Lau, Lauw
Mulawarman, Lawang, Lauwita, Lawanto, Lauwis
(Lu)
Lhû
Liok, Liuk
Loekito/Lukito, Loekman/Lukman, Loekali
()
Liw
Loe, Lu
Loekito/Lukito/Lukita, Luna, Lukas, Loeksono
/ (Luo)
Loo
Ro, Loe, Lou, Loo, Luo
Lolang, Louris, Rowi, Rosiana, Rowanto, Rohani, Rohana, Samalo, Susilo
(Quán)
Jhiwyen
Kuanna
(Shi)
Shi
Sie
Sidjaja, Sidharta, Sieputra
司徒 (Situ)
Sê Dhu
Sieto, Szeto, Seto, Siehu, Suhu
Lutansieto, Suhuyanli/Suhuyanly
(Su)
Su
Souw, So, Soe
Soekotjo, Soehadi, Sosro, Solihin, Soeganda, Suker, Suryo/Surya/Soerjo
(Wang)
Whang
Ong, Wong
Ongko- (Ongkowijaya, dll.), Wangsa- (Wangsadinata, Wangsapoetra, Wongsojoyo, dll.), Waskito, Radja, Sasongko
(Wen)
Whên
Oen, Boen, Woen
Bunjamin, Budiman, Gunawan, Basiroen, Wendi, Unang, Wiguna, Boennawan
(Wei)
Whei
Gwie, Goei, Ngoei
Wijaya, Widjaja, Gunawan
/, , , , , (Wu)
Whu
Go, Gouw, Goh, Ng
Gono, Gondo, Sugondo, Gossidhy, Gunawan, Gozali, Govino, Gotama, Utama, Widargo, Wurianto, Sumargo, Prayogo
(Xu)
Xiw
Kho, Khouw, Khoe
Kosasih, Komar, Kurnia, Kusnadi, Kholil, Kusumo, Komara, Koeswandi, Kodinata
()
Xiw
Djie, Tjhie, Chi (Hakka), Chee, Swee, Shui (Tiociu, Hokkien), Tsui (Konghu)
Dharmadjie, Christiadjie
(Xie)
Shie
Cia/Tjia
Tjiawijaya, Tjahyadi/Cahyadi, Sudarmadi, Tjiawi/Ciawi
/ (Yang)
Yang
Njoo, Nyoo, Njio, Injo, Inyo, Jo, Yo, Yong
Yongki, Yoso, Yohan, Yuwana, Yudha
(Ye)
Ye
Yap/Jap
Japhar, Djapri/Japri
(Zeng)
Ceng
Tjan, Tsang
Tjandra/Candra-, (Tjandrakusuma/Candrakusuma)
(Zhang)
Chang
Thio, Tio, Chang, Theo, Teo, Tjong
Setyo/Setio, Sulistio, Sutiono, Santyoso
(Zheng)
Cheng
Te, The
Teddy, Tedyono, Suteja, Tedja/Teja- (Tedjokumoro, Tejakusmana, Tejarukmana, Tejawati, dll.)
(Zhou)
Chou
Tjio, Tjioe
Tjokro/Cokro- (Cokroraharjo, Cokrowijokso, dll.)
(Zhū)
Chu
Tjoe
Zulkifri, Zuneng
{belum
dikelompokkan)
Djiaw, Gan, Hoo,
Keng, Pek, Poo,
Siauw, Sie, Siem, Sim, Shim, Shen,
Tjun, Tjiam, Tong

Masih banyak lagi marga-marga lain yang dapat ditemui. Salah satu fenomena umum di Indonesia adalah karena marga dilafalkan dalam dialek Hokkian, sehingga tidak ada satu standar penulisan (romanisasi) yang tepat. Hal ini juga menyebabkan banyak marga-marga yang sama pelafalannya dalam dialek Hokkian kadang-kadang dianggap merupakan marga yang sama padahal sesungguhnya tidak demikian.
  • Tio selain merujuk kepada marga Zhang (張) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Zhao (趙).
  • Ang selain merujuk kepada marga Hong (洪) dalam Mandarin, juga merupakan dialek Hokkian dari marga Weng (翁).
Sekarang ini, biasanya untuk memudahkan orang yang memiliki nama Cina juga memiliki romanisasi dari lafal nama Cina mereka ataupun memiliki nama Barat. Sistem romanisasi yang paling baku dan paling banyak digunakan sekarang ini adalah sistem Hanyu Pinyin. Tata cara penulisan nama Cina dalam bentuk romanisasi yang paling sering digunakan saat ini adalah dengan memisahkan antara suku-kata marga dan nama.
  • Mao Zedong; Mao adalah marga 1 karakter, Zedong adalah nama 2 karakter
  • Jiang Zemin; Jiang adalah marga 1 karakter, Zemin adalah nama 2 karakter
  • Sima Yi; Sima adalah marga 2 karakter, Yi adalah nama 1 karakter
  • Auwjong Pengkoen (dialek Hokkian); Auwjong adalah marga 2 karakter, Pengkoen adalah nama 2 karakter
Ada pula penulisan dengan tata cara penulisan nama Barat, di mana nama pemberian ditulis terlebih dahulu dan nama keluarga mengikuti di belakang. Nama keluarga di Barat dapat disamakan dengan marga di kalangan Cina.
Zemin, Jiang; Zemin adalah nama pemberian, Jiang adalah nama keluarga (marga)
Nama barat berikut ini disertai oleh marga Cina di belakang nama Barat tersebut sesuai dengan kaidah penamaan di Barat yang menempatkan nama keluarga di belakang nama pemberian.
  • James Soong Chuyu; James adalah nama Barat, Soong adalah marga Cina, Chuyu adalah nama Cina
  • Jacky Cheung; Jacky adalah nama Barat, Cheung adalah marga Cina dalam dialek Kantonis
Menurut sebuah studi oleh Li Dongming (李栋明) yang dipublikasikan dalam artikel "Marga" (姓) dalam Majalah Dongfang (东方杂志) (1977), urutan marga Cina paling umum adalah:
Urutan 1-10, yang mencakup hampir 40% pemilik nama Cina di dunia:
  • Li 李
  • Wang 王
  • Zhang 張/张,
  • Zhao 趙/赵,
  • Chen 陳/陈,
  • Yang 楊/杨,
  • Wu 吳/吴,
  • Liu 劉/刘,
  • Huang 黃/黄,
  • Zhou 周
Urutan 11-20, yang mencakup lebih dari 10% pemilik nama Cina di dunia:
  • Xu 徐,
  • Zhu 朱,
  • Lin 林,
  • Sun 孫/孙,
  • Ma 馬/马,
  • Gao 高,
  • Hu 胡,
  • Zheng 鄭/郑,
  • Guo 郭,
  • Xiao 蕭/萧
Urutan 21-30, yang mencakup hampir 10% pemilik nama Cina di dunia:
  • Xie 謝/谢,
  • He 何,
  • Xu 許/许,
  • Song 宋,
  • Shen 沈,
  • Luo 羅/罗,
  • Han 韓/韩,
  • Deng 鄧/邓,
  • Liang 梁,
  • Ye 葉/叶
Urutan 31-45, yang mencakup hampir 10% pemilik nama Cina di dunia:
  • Fang 方,
  • Cui 崔,
  • Cheng 程、
  • Pan 潘,
  • Cao 曹,
  • Feng 馮/冯,
  • Wang 汪,
  • Cai 蔡,
  • Yuan 袁,
  • Lu 盧/卢,
  • Tang 唐,
  • Qian 錢/钱,
  • Du 杜,
  • Peng 彭,
  • Lu 陸/陆
  • Fan 范
Silsilah kekeluargaan marga Cina dari pihak Ayah

Silsilah kekeluargaan marga Cina dari pihak Ibu
Sekarang tahu sudah Nicole silsilah marga-nya walaupun kata kakekku/Engkong ada masih bagian-bagian penelusuran yang masih kurang, tetapi paling tidak sebagian kecilnya sudah Nicole tahu daripada tidak sama sekali kan ? Bagi yang tertarik boleh download artikel ini.


AGATHA NICOLE TJANG

Belum ada Komentar untuk "NAMA MARGA KETURUNAN CINA DI INDONESIA DAN DUNIA"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel