KISAH ABO MAMONGKUROIT

ABO MAMONGKUROIT adalah seorang lelaki miskin yang tinggal bersama istrinya di sebuah hutan di daerah Sulawesi Utara, Indonesia. Pada suatu hari, istrinya diculik oleh sesosok raksasa pemakan manusia.

∞∞∞


Alkisah, di sebuah hutan di daerah Sulawesi Utara, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Sang Suami bernama Abo Mamongkuroit, sedangkan istrinya bernama Putri Monondeaga. Walaupun hidup miskin, sepasang suami-istri itu senantiasa hidup saling menyayangi. Ke mana pun pergi, mereka selalu bersama dan saling membantu. Setiap hari mereka mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Mereka juga memelihara beberapa ekor ayam yang akan dijual ke pasar untuk menambah penghasilan. Rupanya, hidup serba kekurangan membuat Abo Mamongkuroit berniat untuk pergi merantau.

Pada suatu hari, Abo Mamongkuroit menyampaikan niatnya tersebut kepada istrinya.
 “Istriku! Setiap hari kita bekerja seperti ini, tapi hasil yang kita peroleh terkadang tidak cukup untuk makan sehari-hari. Kalau Adik tidak keberatan, bolehkah Abang pergi merantau untuk memperbaiki nasib kita?” pinta Abo Mamongkuroit kepada Istrinya.
Mendengar permintaan suaminya, Putri Monondeaga terdiam. Dalam hatinya, ia merasa keberatan. Jika suaminya pergi merantau, maka ia akan tinggal sendirian di tengah hutan.
  • “Bagaimana dengan aku, Bang?” tanya Putri Monondeaga dengan wajah sedih.
  • “Adik di sini saja. Kalau Adik ikut serta, siapa yang akan merawat ayam peliharaan kita,” jawab Abo.
Setelah mempertimbangkan perkataan suaminya, Putri Monondeaga pun mengurungkan niatnya untuk ikut serta.
“Baiklah kalau begitu, Bang! Abang boleh pergi merantau asalkan tidak terlalu lama,” kata Putri Monondeaga merelakan suaminya pergi merantau, walaupun dengan berat hati.
“Iya, Istriku. Abang akan segera pulang,” janji Abo kepada istrinya.
Pada malam harinya, Putri Monondeaga segera menyiapkan bekal berupa ketupat, telur rebus, dan beberapa helai pakaian untuk suaminya. Saat matahari mulai terbit di ufuk timur, Abo Mamongkuroit pun bersiap untuk berangkat merantau. Walaupun dengan berat hati, ia terpaksa harus meninggalkan istrinya seorang diri di tengah hutan. Perpisahan itu sangatlah berat bagi pasangan suami-istri itu. Sebab, sejak menjadi pasangan suami-istri, barulah kali ini mereka akan berpisah. Rasa haru pun menyelimuti hati keduanya. Tak terasa, Putri Monondeaga meneteskan air mata. Demikian pula Abo Mamongkuroit, air matanya keluar dari kelopak matanya karena tidak tahan menahan rasa haru melihat istrinya menangis.
  • “Sudahlah, Istriku! Abang berangkat dulu. Jaga diri Adik baik-baik! Abang berjanji tidak akan lama di perantauan,” Abo Mamongkuroit berpamitan sambil mencium kening istrinya.
  • “Iya, Bang! Hati-hati di jalan!” ucap Putri Monondeaga melepas kepergian suaminya sambil melambaikan tangan.
Setelah suaminya hilang dari pandangannya, barulah Putri Monondeaga masuk ke dalam gubuknya. Sejak itu, ia pun hidup sendirian di tengah hutan. Hatinya terasa sangat sepi. Jika biasanya ia pergi mencari kayu bersama suaminya, kini ia harus berangkat sendirian. Demikian pula jika memberi makan ayam peliharaannya, ia harus melakukannya seorang diri, tanpa  ditemani lagi oleh suaminya.

Keesokan harinya, ketika sedang memberi makan ayam peliharaannya, tiba-tiba Putri Monondeaga dikejutkan oleh suara menggelegar yang menegurnya.
“Hai, Putri Monondeaga! Sedang apa kamu sendirian di situ?” tanya suara itu.
Ketika menoleh ke arah sumber suara itu, Putri Monondeaga melihat sosok raksasa pemakan manusia berdiri tegak tidak jauh dari tempatnya duduk. Raksasa yang bernama Brengos itu tinggal di sekitar hutan. Sudah banyak penduduk yang melintas di hutan itu telah ditangkapnya untuk dijadikan santapan. Kini, giliran Putri Monondeaga yang akan dijadikan santapannya.
  • “Ampun, Tuan Raksasa! Jangan makan aku!” pinta Putri Monondeaga dengan perasaan takut.
  • “Jangan takut, Monondeaga! Aku tidak akan memakanmu, asalkan kamu mau ikut bersamaku,” kata si Brengos.
Putri Monondeaga pun tahu bahwa jika ia ikut bersamanya, suatu saat raksasa itu pasti akan memakannya. Maka, ia pun berusaha menenangkan hatinya dari rasa takut dan segera mencari cara untuk menghidar dari niat jahat raksasa itu.
“Baiklah, Brengos! Aku bersedia ikut bersamamu, tapi jangan hari ini. Aku ingin mencuci rambut dulu, karena sudah sebulan lebih aku tidak mencucinya. Sebaiknya besok saja kamu ke sini menjemputku,” kata Putri Monondeaga.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, si Brengos memenuhi permintaan Putri Monondeaga. Kemudian ia langsung pergi dengan penuh harapan bahwa esok hari dia pasti akan mendapatkan Monondeaga. Sementara itu, Putri Monondeaga semalaman tidak bisa tidur. Ia bingung memikirkan alasan apa yang akan disampaikannya besok kepada si Brengos.
“Ya, Tuhan! Seadainya Abang Abo ada di sini, tentu hal ini tidak akan terjadi padaku,” keluh Putri Monondeaga dalam hati.
Keesokan harinya, ketika hari mulai petang, si Brengos datang dengan wajah berseri-seri, karena sebentar lagi akan mendapatkan makanan lezat. Sementara Putri Monondeaga masih kebingungan, karena belum mendapatkan alasan yang tepat agar si Brengos tidak membawanya pergi.
  • “Hei, Monondeaga! Aku datang ingin menagih janjimu yang kemarin,” kata si Brengos.
  • “Maaf, Brengos! Bagaimana kalau besok saja kamu menjemputku, karena aku belum mandi,” pinta Putri Monondeaga yang kedua kalinya.
Pada awalnya, si Brengos tidak mau lagi mendengarkan alasan dari Putri Monondeaga. Namun karena Putri Monondeaga terus membujuknya, akhirnya ia pun memenuhi permintaan Monondeaga. Ia pun pulang dengan tangan hampa. Demikianlah, setiap hari Putri Monondeaga menyampaikan alasan demi alasan kepada si Brengos untuk mengulur-ulur waktu sampai suaminya kembali dari perantauan. Namun, dari hari ke hari, suaminya tak kunjung datang dari perantauan.

Pada hari berikutnya, Putri Monondeaga benar-benar kehabisan akal. Ia sudah tidak menemukan lagi alasan yang akan disampaikan kepada Brengos. Ketika hari menjelang petang, si Brengos datang hendak menjemputnya.
  • “Ya, Tuhan! Tamatlah riwayatku. Aku akan mati ditelan si Brengos,” ucap Putri Monondeaga dalam hati dengan gusar.
  • “Hei, Monondeaga! Apalagi alasanmu? Ayo ikut aku!” ajak si Brengos dengan suara menggelegar.
  • “Tunggu sebentar, Brengos! Aku mau menyisir dulu rambutku,” bujuk Putri Monondeaga.
Ketika Putri Monondeaga sedang menyisir rambutnya, tiba-tiba si Brengos langsung membopongnya. Rupanya, si Brengos sudah tidak sabar lagi ingin membawanya pergi.
“Tolong...! Tolong...! Lepaskan aku!” teriak Putri Monondeaga sambil meronta-ronta.
Berkali-kali Putri Monondeaga mencoba hendak melepaskan diri, namun apa daya ia tidak sanggup melawan kekuatan si Brengos. Sesampai di rumahnya, si Brengos langsung memasukkan Putri Monondeaga ke dalam kandang besi yang berada di kolong rumahnya. Di dalam kandang itu terdapat beberapa orang warga lainnya yang siap untuk dijadikan santapan si Brengos bersama istrinya. Setiap hari, mereka menyantap satu orang warga.

Selama dalam kurungan, Putri Monondeaga selalu tampak murung memikirkan nasibnya. Ia juga memikirkan suaminya kelak setelah pulang dari perantauan pasti akan mencarinya. Ia senantiasa berdoa agar suaminya dapat menemukannya sebelum tiba gilirannya dimakan si Brengos.

Satu minggu kemudian, Abo Mamongkuroit kembali dari perantauan. Ia membawa oleh-oleh dan uang untuk istri tercintanya. Setibanya di depan gubuk, ia segera memanggil-manggil istrinya.
“Istriku! Abang pulang... !” teriak Abo.
Berkali-kali Abo memanggil istrinya, namun tidak mendapatkan jawaban. Dengan perasaan cemas, ia segera masuk ke dalam gubuknya. Betapa sedih hatinya ketika ia mengetahui gubuknya kosong. Ia pun segera mencari istrinya di sekitar gubuk.
“Istriku! Kamu di mana..!?” teriak Abo memanggil istrinya.
Oleh karena tidak mendapat jawaban dari istrinya, muncullah bermacam-macam dugaan dalam pikirannya.
“Jangan-jangan istriku dimakan binatang buas, atau hanyut terbawa arus sungai,” pikirnya dalam hati.
Abo Mamongkuroit pun segera berlari menuju ke arah sungai. Sesampainya di tepi sungai, ia tidak menemukan sedikitpun tanda-tanda bahwa istrinya hanyut terbawa arus sungai. Akhirnya, dengan niat dan tekad yang kuat, ia memutuskan untuk mencari istrinya sampai dapat.

Keesokan harinya, setelah menyiapkan bekal seperlunya, berangkatlah Abo Mamongkuroit mencari istrinya. Sudah sehari semalam ia berjalan menyusuri hutan belantara tanpa mengenal lelah. Setiap orang yang ditemukannya, ia menanyakan keberadaan istrinya dan tak seorang pun yang mengetahuinya. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mencari istrinya.

Pada hari kedua, Abo Mamongkuroit melanjutkan pencariannya. Ia kembali menyusuri hutan belantara itu. Ketika akan menyeberangi sebuah sungai, ia melihat sebuah rumah besar yang berdiri tegak di tepi sungai. Dengan pelan-pelan, ia melangkah mendekati rumah itu. saat berada di halaman rumah itu, tiba-tiba ia dihadang oleh sesosok raksasa yang bertubuh kekar. Dia adalah si Brengos pemilik rumah itu.
  • “Hei, siapa kamu? Berani-beraninya kamu datang kemari!” tanya si Brengos.
  • “Aku Abo Mamongkuroit. Aku kemari sedang mencari istriku, Putri Monondeaga,” jawab Abo Mamongkuroit.
Mendengar jawaban itu, tentu si Brengos tidak mau begitu saja menyerahkan Putri Monondeaga kepada Abo.
  • “Hei, Abo Mamongkuroit! Kamu boleh membawa pulang istrimu, asalkan kamu mampu melawanku adu betis,” tantang si Brengos.
  • “Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan. Aku terima tantanganmu,” jawab Abo Mamongkuroit.
  • “Ha... ha... ha... ! Rupanya kamu punya keberanian juga melawanku. Memangnya kamu sanggup melawanku?” tanya si Brengos dengan nada sombong.
  • “Coba saja kalau berani!” tantang Abo Mamongkuroit.
Akhirnya, pertandingan adu betis pun tidak terelakkan lagi antara si Brengos dan Abo Mamongkuroit.

Pertandingan sengit itu disaksikan oleh para tawanan dan istri si Brengos. Si Brengos memulai pertarungan dengan menyerang, sedangkan Abo Mamongkuroit bertahan dengan memasang kuda-kuda. Si Brengos menyerang dengan tendangan ke arah betis Abo secara bertubi-tubi. Anehnya, bukan Abo yang terpelanting karena diserang, tapi justru si Brengos yang terpelanting jauh.
“Menyerahlah, hai Raksasa tengik! Aku lebih kuat daripada kamu. Buktinya, kamu tidak sanggup merobohkanku!” seru Abo Mamongkuroit.
Mendengar ucapan Abo itu, si Brengos naik pitam. Dengan sekuat tenaga, ia langsung melayangkan sebuah tendangan keras ke arah betis Abo. Tapi, lagi-lagi dia sendiri yang terpelanting jauh. Akhirnya, ia berpikir untuk bertahan dan Abo yang menyerang. Dia pun segera memasang kuda-kuda dengan sekuat-kuatnya, sementara Abo bersiap-siap untuk menyerang. Ketika si Brengos telah siap, Abo Mamongkuroit segera melayangkan sebuah tendangan keras ke arah betis si Brengos. Apa yang terjadi ? 
Si Brengos terpelanting jauh ke atas pohon dan jatuh terhempas di tanah. Seketika itu pula, si Brengos mati.

Istri Brengos yang menyaksikan kejadian itu segera mengambil sebuah pisau yang sangat tajam, lalu mengibas-ngibaskannya ke arah Abo Mamongkuroit. Rupanya istri Brengos tidak menyadari bahwa Abo Mamongkuroit memiliki ilmu silat yang tinggi. Ia pun mendapat pukulan keras dari Abo Mamongkuroit, sehingga terlempar jauh dan tergeletak di tanah tak berdaya. Maka matilah kedua raksasa itu.

Setelah itu, Abo Mamongkuroit segera membebaskan istrinya dan beberapa warga lainnya yang dikurung di bawah kolong rumah si Brengos, dan menyuruh mereka kembali ke kampung masing-masing untuk menjalankan kehidupan seperti biasanya. Abo Mamongkuroit pun segera mendekati istrinya dan mengajaknya pulang. Sejak peristiwa itu, mereka pun hidup bahagia, karena tidak ada lagi yang berani mengganggu. Demikian pula para warga di sekitar hutan itu, mereka dapat keluar masuk hutan dengan perasaan aman dan tenteram.

*****
Demikianlah KISAH ABO MAMONGKUROIT dari daerah Sulawesi Utara, Indonesia. Kisah ini tergolong dongeng, karena kisah ini tidak pernah terjadi. Kisah ini mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah keburukan sifat sombong dan angkuh. Sifat ini tercermin pada keangkuhan si Brengos yang menganggap enteng Abo Mamangkuroit, karena merasa tubuhnya lebih besar dan berotot dari pada tubuh Mamongkuroit.
Namun, tanpa disadarinya ternyata Abo Mamangkuroit memiliki kesaktian yang tinggi. Akibatnya, dia pun mati terkapar tak berdaya melawan Mamongkuroit.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

Belum ada Komentar untuk "KISAH ABO MAMONGKUROIT"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel