Cerita Putri Berdarah Putih

Alkisah Rakyat ~ Kisah yang sampai kepada penutur, tersebutlah seorang putri cantik dari marga Simamora di Bakkara yang bernama SI BONTAR MUDAR, yang akhirnya kawin dengan Tuanku Barus.


Dahulukala, Bakkara didiami oleh enam kelompok marga yakni; Sihite, Manullang, Sinambela, Bakkara, Marbun dan Simamora. Keenam marga ini merasa dirinya satu. Setiap awal tahun mereka mengadakan pesta meukul gendang yang disebut pesta gendang mula tahun.Setiap warga nan enam berganti-gantian jadi penanggung jawab pesta itu. Jika marga tertentu mendapat giliran pesta maka segala persediaan seperti, kerbau (kurban yang akan ditambatkan), beras, dan peralatan lainnya, harus ditanggung oleh marga yang bersangkutan. Jadi, setiap anggota marga itu terikat oleh kerjasama, dan iuran dana yang harus ditanggung setiap keluarga mereka. Acara pesta gendang mula tahun ini bertujuan agar Dewa memberi mereka kesuburan dan kemakmuran.

Tersebutlah bahwa marga nan lima lainnya telah mendapat  giliran pelaksanaan pesta gendang, hanya marga Simamoralah yang masih belum. Menjelang hari baik dan bulan baik awal tahun berikutnya, para pengetua marga-marga di Bakkara memberitahu marga Simamora. Karena marga Simamora (Debataraja) yang tinggal di sini jumlah sedikit, lagi pula miskin adanya, maka Sunggu Marpasang Debataraja jadi sedih. Jika giliran tidak dilaksanakan berarti melangar permufakatan dan akan menimbulkan amarah anggota masyarkat banyak.

Suatu hari Sunggu Marpasang mufakat dengan ketiga anak-anaknya, Sampetua,Babiat Naingol dan Marbulang, sekitar dana yang harus mereka sediakan, karena tanpa dana maka pesta itu takkan jadi sama sekali. Jalan keluar mereka mufakat untuk lari malam dari Bakkara agar tidak kena marah kelima marga lainnya. Hari berikutnya, satu demi satu, barang-barang diangkat keluar kampung agar dapat mempermudah perpindahan malam itu. Malam itu setelah semua orang tidur,mereka berangkat bercampur was-was karena takut kalau-kalau bertemu dengan salah seorang penduduk desanya. Sesampai di Gorat Sitonggi (tanah datar di atas Bakkara), tiba-tiba mereka bersua dengan manusia setan bernama Guru Sodungdangon yang kebal segala macam siksaan. Takut mereka menjadi-jadi maut telah menanti malam itu.

"Hendak ke mana kalian malam begini?" tegur Guru Sadungdangon.

"Ah, pak! Kami mau pindah," jawab Sunggu Marpasang dengan nadunggu Marpasang?" kata mereka. Setelah pesta itu selesai maka semua penghuni desa itu kembali ke rumahnya masing-masing.

Pada suatu hari, oleh Sunggu Marpasang terpikir akan rumahnya yang sudah tua. Dan di luar dugaan, Guru Sodungdangon datang bertamu.

"Selamat siang, Pak," tegornya.

"Ya, selamat siang!" "jawab Sunggu Marpasang.

"Nampaknya, Bapak ini termenung memikirkan sesuatu. Apa yang dipikrkan, Pak?" tanyanya.

"Tidak apa-apa Pak," jawab Sunggu Marpasang.

"Baiklah, kalau begitu. Bagaimana,apakah pesta itu sudah terlaksana?" tanya Guru Sodungdangon.
"Sudah, Pak," jawab Sunggu Marpasang.

"Terima kasih atas bantuan Bapak," sambungnya.

"Cukup mariahkah pesta itu?" tanya Guru Sodungdangon melanjutkan.

"Ya, semua orang memuji karena tak kurang sesuatu," jawab Sunggu Marpasang.

"Baiklah, kalau begitu. Apa lagi yang akan kalian perlukan,biar saya sedeiakan," lanjutnya.

"Ah jika mungkin Pak, lihatlah rumah ini sudah tua. Kami berkeinginan menggantinya. Tolonglah, Pak," kata Sunggu Marpasang.

"Oh, begitu, baiklah. Pergilah kalian ke hutan Silemeleme. Disana akan kalian perdapat bahannya yang perlu," katanya meyakinkan.

"Terima kasih Pak," jawab Sunggu Marpasang dengan gembira, Guru Sodungdangon permisi pulang; tetapi Sunggu Marpasang berusaha menahannya.

"Jangan dulu Pak, kita mesti makan dulu Pak," katanya, "Terima kasih, karena ada urusanku yang penting sekali jawab Guru Sodungdangon lalu memberi salam seraya terus pergi.

Beberapa hari setelah pembicaraan itu, Sunggu Marpasang dengan anak-anaknya pergi ke hutan Silemelem. Benarlah  semua bahan bangunan rumah itu sudah tersedia, seperti; kayu, rotan, ijuk dan sebagainya. Tiada berapa lama, Guru Sodungdangon telah sampai ke tempat itu.

"Bagaimana Pak, sudah banyak kalian ambil?" tegurnya.

"Sudah Pak, tetapi bagaimana caranya mengangkat bahan ini ke kampung," keluh Sunggu Marpasang.

"Mudah saja," sahut Guru Sodungdangon.

"Ikatlah semua bahan yang perlu. JIka telah selesai diikat picingkanlah mata lalu bergerak tujuh langkah, nanti segera akan sampai di kampung" katanya. Pesan itu dilakukan Sunggu Marpasang dengan anak-anaknya, maka benarlah, bahan rumah itu telah tiba di Bakkara. Segera, didirikanlah rumah baru pengganti rumah yang sudah tua. Seperti biasanya, rumah baru itu dimasuki dengan cara pesta. Semua sanak famili dan warga desa diundang. Mereka kini jadi bahagia setelah rumah itu berdiri. Beberapa hari kemudian, datanglah Guru Sodungdangon bertamu seraya memberi salam yang disambut dengan hangat oleh Sunggu Marpasang dan keluarganya.

"Beginilah, Pak! Semua permintaan kami telah terkabul. Kini kami bertanya.

"Apakah permintaan Bapak, agar kami berikan?" kata Sunggu Marpasang memulai pembicaraannya. Guru Sodungdangon menerimanya dengan ucapan terima kasih.

"Tak ada permintaan saja, tetapi kalau mungkin, ada sesuatu yang akan saya sampaikan kepada Bapak," sambungnya. 

"Saya sendiri sudah begini tua, tetapi belum menikah. JIka mungkin, sudilah kiranya Bapak menjadikan saya menantu," katanya dengan rendah hati.

"Baiklah kalau demikian, kebetulan ada putri kami seorang yakni Si Bontar Mudar," kata Sunggu Marpasang sengan sungguh-sungguh.

"Jika sudah Bapak kabulkan, orang tua saya akan datang kemari menyerahkan biaya pestanya,"kata Guru Sodungdangon.

"Baiklah," jawab Sunggu Marpasang.

"Kamipun perlu juga mufakat dahulu dengan anak-anakku yang telah berumah tangga."

"Baiklah, Pak, mufakatlah Bapak semua," kata Guru Sodngdangon.

"Kapankah kami datnag untuk mendapatkan kepastiannya?" tanya Guru Sodungdangon.

"Datanglah dalam minggu ini juga," jawab Sunggu Marpasang. "Terima kasih Pak," kata Guru Sodungdangon seraya permisi pulang.

Sunggu Marpasang memanggil semua anak-anaknya; Sametua, Babiat Maingol dan Marbulang, membicarakan lamaran Guru Sodungdangon. Anak pertama dan kedua menyataka setuju kecuali anak ketiga Gaja Marbulang.

"Saya tidak setuju mengawinkan saudaraku dengan manusia setan itu. Benar kita telah diberinya harta dan rumah, tetapi bagaimanalah memberikan Si Bontar Mudar kepada setengah hantu, setengah manusia itu. Lagi pula kakinya pun lain, tak pernah menginjak tanah," katanya.

"Beginilah, anakku, kalau tidak setuju, terserah, tetapi Sibontar Mudar mesti jadi istri Guru Sodungdangon, karena kita telah bermakan budi selama ini," kata ayahnya.

"Kalau begitu pendapatmu, terserah kalianlah! Kalau menurut pendapatku. Sibontar Mudar tak boleh dikawinkan dengan manusia hantu itu. Tetapi, kalau kalian toh mengawinkannya, terserah, saya tak ikut menanggung risikonya," sahut Gaja Marbulang dengan tegas. Demikianlah mufakat itu berakhir dengan pendapat yang tidak seirama.

Satu minggu berselang kembali Guru Sodungdangon datang menagih janji calon mertuanya. Sesampai di rumah, Sunggu Marpasang dihormatinya dengan penuh sopan santun.

"Adapun kedatangan saya, adalah untuk menanyakan bagaimana hasil mufakat Bapak," cetisnya.

"Yah baik, maksud tersebut dapat kami kabulkan," jawab calon mertuanya.

"Jadi, kapan kalian datang bersama orangtuamu?" tanya Sunggu Marpasang.

"Baiklah Bapak yang menetapakan kapan kami datang Pak," jawab Guru Sodungdangon.

"Terserah kepada kalianlah , kaan saja, kami tetap bersedia menerima," jawab Sunggu Marpasang. Mendengar jawaban itu Guru Sodungdangon senang lalu permisi pulang.

Hari berganti hari, malah sudah berminggu-minggu, Guru Sodungdango tak pernah muncul. Ditunggu, hingga satu tahun, tidak juga muncul. Inilah yang membuat Sunggu Marpasang dan keluarga hampir terlupa twerhadap Guru Sodungdangon. Pada suatu hari, satu kerajaan yang dipimpin oleh Tuanku Barus II mengadakan pesta gendang selama tujuh hari tujuh malam untuk memilih istri anaknya Tuanku Barus III. Kepada seluruh rakyatnya diberitahukan agar menghadiri pesta itu, dan para gadis supaya ikut menari. Barang siapa di antara gadis ini dipilih Tuanku Barus III, dialah yang menjadi istrinya. Mendengar pemberitaan itu maka berduyun-duyunlah orang dari desa datang ke sana. Pada hari keenam pesta itu berlangsung sudah hampir semua rakyatnya menari, tetapi tak seorang pun yang terpilih oleh putra raja. Bahkan hingga hari ke tujuh tidak juga terpilih calon istri yang diharapkan. Oleh karena itu Tuanku Barus III berdiri lalu berkata.

"Sampai hari ini pesta ini berlangsung diikuti oleh penari-penari, tetapi saya belum juga bertemu dengan calon istriku. Oleh karena itu saya akan buatkan layang-layang dari kain sutera. Barang siapa nanti dihinggapi layang-layang  itu, bila ia itu seorang gadis, dialah jadi istriku. Kalau kebetulan dari yang yang hadir di sini, saya ucapkan terima kasih. Tetapi kalaupun di mana saja hinggapnya bersiap-siaplah 30 orang mengikutinya lengkap dengan persediaan pesta kawin," katanya. Untuk memenuhi ucapan itu, semua persediaan disiapkan beserta 30 orang pengikut. Segera layang-layang sutera itu diserahkan kepada Tuanku Barus III untuk diterbangkan.

Setelah diterima, beliau berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pencipta.

"Yah, Tuhan Maha Pencipta, sudah tujuh hari tujuh malam berlangsung pesta gendang tetapi belum juga bersua dengan menantu orang tuaku. Sekarang, ya Tuhan, tunjukkanlah siapa yang akan menjadi istriku, yakni gadis yang mendapat layang-layang ini."

Para hadirin di pesta itu terdiam mendengarkan doa anak raja itu ke udara. Mula-mula layang-layang melayang-layang sekitar tempat itu seolah-olah hinggap, para gadis berharap-harap agar dirinyalah mendapat layang-layang itu agar dapat jadi permaisuri raja muda. Tiba-tiba layang-layang itu terbang tinggi. Semua mata hadirin memandang ke atas. Sebentar kemudian layang-layang ini menurun tetapi naik lagi. Hal ini berlangsung hingga tiga kali, kemudian naik lagi lalu layang-layang itu pergi. Melihat situasi itu para penonton pun lari mengikutinya didahului oleh 30 orang pengikut raja muda. Ke mana layang-layang itu melayang ke sanalah TUanku Barus III mengikutinya. Lama kelamaan, mereka tiba  di atasakkara. Karena tempat ini merupakan jurang maka tiba-tiba hilanglah layang-layang itu dari pandangan mata mereka.

Rombongan itu tak tahu dimana tempat hinggapnya. Dengan susah payah mereka menuruni jurang itu, bercampur sedih dan rasa putus asa. Pada suatu tempat dengan rasa kesal mereka berhenti karena haus dan letih. Mareka saling menduga kira-kira di mana tempat jatuhnya layang-layang sutera itu. Kemudian raja muda Marus menunjukkan rasa sedihnya.

"Kalau tidak dapat, bagaimanalah jadinya nasibku nanti?" katanya. Dengan kesal, disuruhnyalah rombongan itu mencarikan ke Bakkara, sedang dia sendiri tetap di tempat itu dengan maksud berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pencipta, untuk mendapatkan petunjuk tentang calon istrinya yang dihinggapi layang-layang itu. Sehabis mendoa, tiba-tiba muncullah seorang gadis yang sedang membawa air dari pancuran. Gadis itu sangat cantik. "Dik! Apakah saya dapat minta tolong?" tegur Tuanku Barus III.

"Karena rupanya, Bang?" sahut Sibontar Mudar.

"Saya sangat haus Dik?!," kata putera raja Barus.

"Kenapa rupanya, Bang?" sahut Sibontar Muda.

"Saya sangat haus Dik!" kata putera raja Barus.

"Kalau mungkin, berikanlah saya barang seteguk air," sambungnya.

"Yah silakan ambil, bang," sahut Sibontar Mudar dengan lemah lembut.

"Terima kasih," kata Tuanku Barus III sambil mengambil air itu, lalu segera diminumnya.

Bagi  putera raja rasa air itu tambah enak, karena disertai dengan tutur bahasa yang lemah lembut dari Sibontar Mudar.

"Abang ini dari mana rupanya?" gadis itu balik bertanya. "Ah, tak dapat lagi kuceritakan, Dik!" Kami ini datang dari Barus. Orang tuaku telah memukul gendang tujuh hari tujuh malam untuk memilih jodohku, tetapi tidak dapat. Akhirnya, kuterbangkan layang-layangku ke udara. Barang siapa yang dihinggapinya atau mendapatkannya, dialah calon istriku. Layang-layang itulah yang kami ikuti dari Barus sampai kemari. Tetapi benda itu turun di sini dan..... tak dapat kami lihat lagi. Kami tak tahu entah siapa yang telah mengambilnya," tutur putera raja Barus.

"Bagaimana rupanya layang-layang itu?" tanya si gadis.

"Dari sutera Dik" jawab si lelaki. Mendengar penjelasan itu, Sibontar Mudar jadi diam dan kebingungan.

"Bagaimana caraku untuk memberitahukannya," kata si gadis dalam hatinya, "jika keberitahukan padanya, jangan-jangan aku disebut pencuri lagi pula apa nanti jawabku," demikianlah kata hatinya. Lama ia termenung memikirkannya dan raut mukanya pun menjadi pucat. Melihat peobahan pada wajah si gadis, putera raja menjadi heran.

"Mengapa jadi termenung, Dik!" kata Tuanku Barus III memecahkan keheningan itu. Sibontar Mudar tambah gugup.

"Bagaimana, Dik, apakah kau tahu siapa yang telah mengambilnya?" desak putera raja. Keadaan memaksa Sibontar Mudar berterus terang.

"Saya tak dapat lagi berkata-kata karena layang-layang itu hinggap pada diri saya waktu mengambil air tadi di pancuran. Inilah layang-layang itu," kata Sibontar Mudar seraya menunjukkannya.

"Terima kasih, Dik! Kaulah calon istriku. Peganglah itu. Apa boleh buat, janji tak dapat dimungkiri. Kini bawalah kami ke rumah orang tuamu. Ada 30 orang yang membawa keperluan pesta perkawinan kita," kata putera raja.

Sibontar Mudar semakin bingung menghadapinya. Dengan suara yang agak serak dan tertahan dia menjawab.

"Apa yang akan saya katakan kepada orang tuaku?"

"Jelaskan Dik, kejadian yang sebenarnya," kata putera raja.

"Bagaimana kalau mereka tidak mau, Bang?" tanya Sibontar Mudar.

"Pasti mau orang tua itu karena kejadian ini adalah kehendak Tuhan Maha Pencipta. Menurut saya, mereka tidak akan menolak! Beritahukanlah bahwa ada 31 orang dan akan menyerahkan segala keperluan pesta kita karena kita harus segera berangkat  ke Barus."

Tak sanggup  Sibontar Mudar menolak kata-kata itu. Sesampai dirumah diberitahukanlah keadaan itu kepada bundanya, kemudian dari ibunya kepada Sunggu Marpasang. Karena itu seluruh keluarga mempertimbangkannya yang kebenarannya kembali dijelaskan oleh Sibontar Mudar bahwa ada seoang pemuda dari Barus bernama Tuanku Barus datang mengikuti layang-layang itu. Siapa yang mendapat layang-layang itu, dialah jadi istrinya. Kebetulan layang-layang tersebut hinggap pada Sibontar Mudar dan sudah diketahui oleh sang pemuda. Pemuda itu berkata bahwa Sibontar Mudarlah calon istrinya." Kemudian kalau kita telah setuju rombongan mereka yang berjumlah 31 orang akan segera datang menyerahkan keperluan pesta dan mereka akan segera berangkat ke Barus bersama putri kita," kata Sunggu Marpasang kepada yang hadir. Sesungguhnya keluarga Simamora ini agak kebingungan juga. Sebaliknya karena telah dikatakan sebagai kehendak Tuhan Maha Pencipta, apa hendak dikata kerena Tuhanlah yang lebih tahu tentang semuanya.

"Bagaimanapun, suruhlah mereka datang ke rumah," katanya. Sebentar kemudian rombongan itu masuk ke rumah dan duduk di atas tikar yang telah dihamparkan lebih dahulu. Kini kedua belah pihak berhadap-hadapan membicarakan kedudukan kejadiannya. Setelah secara ringkas menerangkan keadaan itu maka Tuanku Barus mengakui kebenaran cerita itu.

"Memang benarlah demikian, Pak. Kami ini datang dari Barus, sudah lama saya disuruh kawin tetapi tak kunjung bersua. Malah sudah dipukul gendang tujuh hari tujuh malam untuk memilih calon istriku tapi juga tak bertemu. Pada hari ketujuh pesta gendang itu saya mohon kepada Tuhan Maha Pencipta agar barang siapa gadis yang mendapat layang-layang itu, dialah calon istriku. Kiranya layang-layang itu sampai ke Bakkara ini dan didapat oleh putri Bapak sendiri waktu mengambil air di pancuran. Jadi menurut pendapatku dan kehendak Tuahn, dialah jodohku. Itulah sebab kedatangan kami dan kalau Bapak setuju. Di sini ada kami bawa segala yang diperlukan untuk pesta, dan putri Bapak segera kami bawa," kata Tuanku Barus menjelaskan halnya.

"Baiklah, kalau demikian halnya, tetapi kami akan mufakat dulu," kata Sunggu Marpasang. Ketiga orang putranya dipanggil bersama anggota keluarga terdekat.

"Anak-anakku dan kita semua anggota keluarga. Disini putra raja Barus telah datang meminang adikmu Sibontar Mudar jadi istrinya karena telah mendapatkan layang-layang sutera yang diterbangkan dari Barus. Tetapi kita saling mengetahui bahwa Sibontar Mudar masih terikat janji dengan Guru Sodungdangon," katanya.

"Kalau demikian, kedatangan Tuanku Barus ke mari bukannya dibuat-buat, karena itu kehendak Tuhan. Lagi pula, benar sudah ada pembicaraan dengan Guru Sodungdangon, tetapi sudah berselang satu tahun dia tak kunjung datang. Kami rasa, tak mungkin lagi dengan dia. Dan bukannya kita yang mungkir janji." kata semua anak-anaknya. Putus kata, Sibontar Mudar disetujui menjadi istri Tuanku Barus. Kemudian keluarga Simamora kembali berhadapan dengan rombongan dari Barus.

"Sekarang kami sudah mufakat. Kami telah memeutuskan seperti yang kalian beritahukan kejadiannya, yakni kehendak Tuhan. Sebenanya, sudah ada pinangan Guru Sodungdangon kepada anakku Sibontar Mudar, tetapi sudah setahun lebih dia tak kunjung datang," kata Sunggu Marpasang.

"Kira-kira tak jadi halangan lagi, Pak, karena sudah satu tahun lebih." Kalaupun mereka datang, janjinya telah lewat. Jika dibuatnya alasan lain, kamilah yang akan menghadapinya," kata Tuanku Barus.

"Baiklah kalau demikian. Sekarang bagaimanakah kita perbuat?," kata Sunggu Marpasang.

"Kalau keluarga Bapak sudah setuju, berapa biaya untuk pesta suoaya kami serahkan?" kata Tuanku Barus. Akhirnya, diserahkanlah semua keperluan pesta dalam jumlah yang besar. Selesai pesta itu berangkatlah rombongan besserta Sibonyar Mudar ke Barus. Bukan main indahnya perkawinan itu walaupun sang putri harus berpisah dengan orang tua dan sanak familinya. Berbahagialah pengantin itu, pasangan antara putra raja Barus dengan seorang istri yang cantik jelita.

Tiba-tiba di tengah jalan, rasa bahagia itu berubah waktu rombongan menyeberangi titi di sungai Sibundong. Lewat titi itu datanglah Guru Sodungdangon mencegat.

"Sekarang kita akan bertarung keahlian, karena Sibontar Mudar telah saya pinang dan sudah mengikat janji kawin. Dan kini kau bawa. Sama kau atau sama saya. Kalau saya kalah, jadilah dia istrimu, tetapi kalau kau kalah jadilah dia istriku. Pasanglah segala ilmumu, siapa kita yang lebih jago," kata Guru Sodungdangon.

Kini keduanya mulai bertarung. Guru Sodungdangon manusia hantu tidak juga dapat mengalahkan Tuanku Barus. Pertarungan itu berlangsung lama tetapi satupun  yang kalah, lalu Guru Sodungdangon berkata.

"Kau tidak kalah dan juga tidak menang, berarti, gadis ini tidak untukmu dan tidak untukku. Sekarang pilihlah, kepalanya bagianmu atau badannya, terserah, karena dia calon istri dua orang laki-laki. Agar kita sama-sama mendapat, sepotong untuk kau dan sepotong untuk saya."

"Kalau begitu pendaptmu, terserah. Kau sendirilah yang tidak memenuhi janji, sudah satu tahun lewat. Tetapi karena kau seorang guru maka demikianlah sikapmu. Kalau kau mesti bunuh istriku ini, terserah kau sendirilah yang menanggung dosa. Kalau mesti saya pilih, maka kepalanyalah bagianku," kata Tuanku Barus.

Guru Sodungdangon bertindak sebagai algojo memncung Sibontar Mudar, lalu kepalanya diserahkannya kepada Tuanku Barus.

"Bawalah ini, dan badannya inilah untukku," kata Guru Sodungdangon. Sungguh sedih perasaan Tuanku Barus menerimanya. Kepala Sibontar Mudar digendongnya dilapisi dengan kain sambil berurai air mata, lalu meneruskan perjalanan. Tetapi dengan tak disangka-sangka, kepala itu berbicara.

"Jangan sedih, Bang! Percayalah, kita harus mempunyai turunan. Percepatlah berjalan, sebab badan saya telah dihanyutkannya ke sungai Sibundong. Cepatlah agar badan saya sempat dapat di laut. Dan jika dalam peti mayat yang sangat rapat badan saya dihubungkan dengan kepalaku ini, maka bukanlah peti itu sesudah tujuh hari , tujuh malam lamanya. Saya akan kembali hidup sebagaimana biasa." Kini semakin cepatlah Tuanku Barus dan rombongan berjalan. Tiada berapa lama sebagian rombongan telah tiba di Barus. Kejadian itu diberitahukan kepada Tuanku Barus II. Segera disuruhnya para dukun untuk melawan Guru Sodungdangon dengan kekuatan ilmu. KIranya sebelum mereka bergerak putera raja telah tiba membawa kepala Sibontar Mudar.

Peristiwa itu sungguh mengerikan. Tuanku Barus II sempat menangis meraung-raung setelah melihat kepala menantunya itu. Untuk meredakannya, putera raja membisikkan satu harapan kepada ayahandanya.

"Tak usah terlampau sedih, Pak. Semua dapat terjadi kalau kehendak Tuhan. Suruhlah dibuat peti mayat supaya kita letakkan menantumu ini ke dalamnya, setelah badannya datang nanti dibawa sungai Sibundong."

Peti mayat disiapkan, dan benarlah mayat itu telah dilihat orang di laut. Hal itu segera diberitahukan kepada Tuanku Barus. Rombongan segera pergi ke sana untuk mengambilnya tapi tak dapat. Tuanku Barus pergi juga ke sana dan melihatnya seperti ikan yang hidup. Kemudian mayat itu berkata,

"Kau sendirilah mengambil badanku itu karena tak boleh siap pun menyentuhnya, selain kau," Maka pergilah Tuanku Barus III mengambilnya. Benarlah, ketika air laut itu ditepuk-tepuk dengan jari-jari tangannya tiga kali, datanglah mayat itu seperti yang masih hidup, lalu segera dipeluk dan terus dibawa ke rumahnya. Kepala dan badan mayat itu segera disatukan lalu dimasukkan ke dalam peti mayat. Kemudian peti itu diletkakan di bagian tingkat atas rumah. Setelah tujuh hari tujuh malam, Tuanku Barus membukanya. Dan benarlah Sibontar Mudar hiduplah seperti biasa lalu duduk dan tersenyum. Semua keluarga dan sanak famili jadi gembira maka dipukullah gendang tiga hari tiga malam lamanya untuk memestakan pengantin baru itu. Mereka hidup rukun dan damai serta dikarunaiai Tuhan anak laki-laki dan perempuan. Demikianlah kata cerita, selamatlah mereka dan selamat jugalah kita semua. 

Sumber : Ceritera Rakyat Daerah Sumatera Utara
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Putri Berdarah Putih"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel