Cerita Balige Raja

Alkisah Rakyat ~ Menurut cerita orang tua-tua kisah Balige Raja Purba adalah kira-kira sebagai berikut :


Pantombohobol mempunyai tiga orang anak, yaitu Tuan Didolok, Raja Pargodung dan Balige Raja. Waktu lahirnya Balige Raja kembar dengan Si Boru Tinandangan, sehingga rupa keduanya mirip dan sama cantiknya. Itulah sebabnya maka anak yang dua ini selalu sama-sama mulai dari kecil hinga besar.

Menanjak ke masa muda-mudi, keduanya berniat untuk membentuk rumah tangga. Melihat keadaan itu, maka berkumpullah keluarga marga Simamora dan memutuskan agar kedua orang ini dipisahkan,dan tidak dibenarkan bertemu muka lagi. Sehingga bagaimanapun usaha keduanya untuk bertemu, tak dapat lagi terlaksana. Oleh karena itu pergilah Balige Raja merantau ketempat lain.

Lama kelamaan, sampailah Balige Raja ke satu hutan yang disebut hutan Sisoding. Di sana dijumpainya seorang perempuan.

"Hai, siapakah engkau ini, manusia? Begitu lama aku ditempat ini, belum pernah seseorang sampai ke mari," katanya. "Akulah, ini ibu," jawab Balige Raja.

"Aku datang ke hutan ini karena tak tahu lagi apa yang kukerjakan. Sudah begitu lama aku dalam pengembaraan untuk menemui saudaraku perempuan Si Boru Tinandangan. Kami telah diusir dari desa, karena kami akan menikah. Sekarangpun, angkatlah aku jadi anakmu," katanya. Mendengar kisah itu, berkatalah Si Boru Daek Parujar.

"Bagaimana caranya mengangkat engkau jadi anakku, sedang aku sendiri belum beruamah tangga."

"Ya, walaupun demikian, jika mungkin jadi anakku, jadikanlah aku temanmu bagai anakmu sendiri,: jawab Balige Raja.

"Oh, kalau demikian, baiklah, tetapi engkau harus menuruti perintahku," kata Si Boru Daek Parujar.

"Ingatlah! Di tempat ini tak ada orang lain. Tetapi sekali sebulan, adik-adikku selalu datang kemari untuk bersiram dipancuran golang-golang sana. Setiap kali mereka datang selalu singah di rumah ini. Karena itu jika engkau mau tinggal di rumah ini kalau mereka datang, bersembunyilah," katanya.

"Ya, ibu, aku akan bersembunyi," jawab Bagile Raja

Benarlah waktu hari bulan purnama, datanglah adik-adiknya dari dunia atas.

"Lihatlah, adik-adikku itu sudah datang. Mereka akan datang nanti kesini. Jadi, bersembunyilah anakku ke dalam hombung itu, sehingga kalau mereka sampai di sini, kau tak terlihat oleh mereka."

"Baik, bu," jawab Balige Raja, lalu masuk ke dalam hombung itu. Tiada berapa lama antaranya, datanglah adik-adiknya itu. Mereka itu tertawa-tawa, tapi tak dapat dilihat Balige Raja. Dari suara itu tahulah dia bahwa mereka itu cantik rupawan semuanya.

Setelah penghuni dunia atas itu pergi, segera ibu angkatnya membuka tutup hombung itu, maka keluarlah Balige Raja, dalam keadaan sesak bernapas penuh keringat. Sejak itu Balige Raja jadi pendiam.

"Ah, tak benar lagi ini. Datang gadis ke rumah ini, tak bisa dicakapi atau pun dilihat. Apa jadinya begini?" pikirnya. Karena itu maka dilobanginyalah hombung itu. Setelah tiba hari bulan purnama berikutnya, dilihatnyalah ketujuh adik-adik ibunya itu sudah datang. Segera pula dia berlari masuk ke dalam hombung.

Sebentar lagi, sampailah gadis-gadis  itu di rumah, sambil bercakap-cakap diselingi tawa yang ramai. Balige Raja siap mengintip dari lobang persembunyiannya. Benarlah gadis nan tujuh itu cantik-cantik semuanya, lebih-lebih yang bungsu itu. Meleleh air liurnya menyaksikan kecantikan gadis-gadis itu, sembari berangan-angan. Setelah gadis-gadsi itu beranjak pergi segera hombung itu dibukakan ibunya. Apa yang dilihatnya, tidak diberitahukannya, karena menurut pikirannya ibunya tak tahu perbuatannya. Sesungguhnya Si Boru Daek Parujar adalah seorang peramal, apa yang dipikirkan Balige Raja dapat diketahuinya.

"Bagaimana, bapa, kenapa engkau termenung?" kata ibunya.

"Bagaimanalah bu. Kadang-kadang, hatiku jadi kesal. Kita hanya berdua saja di sini. Kalaupun ada gadis datang bertamu, tak dapat disapa ataupun dilihat. Apa artinya lagi hidup ini," katanya.

"Benar anakku. Tetapi apa hendak di kata. Ketujuh orang itu adalah putri saudaraku Batara Guru dari dunia atas. Bagaimanalah caranya engkau menegur mereka? Tapi kalau hanya melihat saja bolehlah. Kalau mau lihat buatlah kemah kecil dekat pemandian  mereka itu. Dan jika mereka datang lihatlah dari dalamnya. Tapi awas, jangan ketahuan oleh mereka" kata ibunya.

"Terima kasih, bu," sahut Balige Raja. Besok harinya, kemah kecil itu segera didirikannya. Tiada berapa lama kemudian datanglah ketujuh adik ibunya itu.

Ketujuh gadis-gadis itu membuka pakaian masing-masing. Satu demi satu diamatinya, dari yang sulung hinggga yang bungsu Si Bontar Humilo, cantik bukan main, tertawa-tawa di sana. Mereka tidak tahu bahwa Balige Raja telah melihat tubuh mereka yang telanjang itu dengan jelas. Matanya puas sekali menikmati tubuh  gadis-gadis itu satu demi satu. Tetapi yang bungsu itulah yang paling termakan hatinya.

"Kalau yang bungsu itu, bagaimanapun jalan akan kutempuh asal jadi istriku," tekadnya diam-diam.

Sehabis mandi, mereka segera mengenakan pakaian, lalu terus pergi kepada Si Boru Parujar untuk permisi pulang. Saat itulah Balige Raja meninggalkan kemahnya.

Ibunya jadi tersenyum simpul melihat anaknya. Air mukany berobah karena malu dan angan-angannya yang bukan-bukan itu.

"Bagaimana anakku cantikkah adik-adikku itu?" tanyannya.

"Ya, bu, benarlah cantik-cantik semuany, jawabnya.

"Siapakah yang tercantik menurut hatim?" kata ibunya.

"Yang bungsu itu Bu," jawab Balige Raja.

"Jadi, menurut pikiranmu, bagaimana?" tanya ibunya kemudian.

"Kalau bisa, bu dialah yang menjadi menantumu."

"Eh, bagaimana caramu mendapatkannya? Dia itu adalah puteri  kayangan

"Ya, bu, menurut pendapatku, kalau ibu mau, hal itu dapat terlaksana. Ibu 'kan tahu segalanya. Apa yang dapat kulakukan?" kata Balige Raja.

"Jadi, hatimu telah bulat untuk mempersunting adikku itu?" tanya ibunya.

"Ya, sudah, Bu. Dan inilah, kalau dia tak jadi istriku, lebih baik mati," katanya.

"Kalau begitu, terserah padamu. Kalau mereka datang nan buatkanlah alat pengait. Jika baju humahijang ( baju terbang) itu telah ditanggalkan, kaitlah pelan-pelan dan teruslah berlari agar kamu jangan dilihat. Tetapi sekali-sekali jangan menengok kebelakang," kata ibunya.

Pada bulan purnama berikutnya, Balige Raja pergi ke kemahnya serta membawa alat pengaitnya itu. Tak lama kemudian ketujuh gadis itu telah datang untuk mandi. Sambil bernyanyi-nyanyi diselingi tawa yang kuat, mereka menanggalkan baju. Itu dia, Si Bo Humillo pun telah membuka baju humahijangnya, lalu diletakkan. Balige Raja pun semakin tergiur menikmati tubuh telanjang itu dengan matanya. Sewaktu asyik mandi, mereka terlupa akan bajunya. Saat itulah Balige Raja mengait baju humahijang Sibontar Humillo. Setelah dapat, ia pun segera mengendap-endapmeninggalkan tempat itu. Setelah agak jauh, berlarilah dia. Kiranya waktu berlari itu dia terlihat oleh Sibontar Humillo. Segera diperksanya bajunya, ternyata tak di situ lagi. Tanpa selembar benang ia pun berlari mengejar seraya memanggil-manggil.

"Hei...hei....hei.....!" katanya, karena suara itu semakin dekat, Balige Raja pun menengok ke belakang dan saat itu pula berubahlah ia jadi tunggul serta baju humahijang itu terjepit pada ketiaknya. Sibontar Humillo jadi tercengang sambil menangis. Kakak-kakaknya pun heran melihat adiknya Sibontar Humillo, lalu bertanya.

"Apa yang terjadi?" Sambil menangis diceritakanlah bahwa baju humahijangnya telah hilang dilarikan seorang lelaki. Waktu dikejar, lelaki itu jadi tunggul. Mendengar penjelasan adiknya itu mereka pun jadi ketakutan lalu pergi berlari mendapatkan Si Boru Deak Parujar untuk memberitahukannya. Melihat mereka itu datang berlari Si Boru Deak Parujar jadi heran pula.

"Apa yang terjadi?" katanya. Kejadian itu mereka ceritakan kepada Si Boru Deak Parujar. Segera tahulah bahwa yang mengambil itu tak lain dari adiknya Balige Raja. Kemudian, katanya.

"Apa hendak dikata, adikku. Kalian katakan ada yang mengambilnya tetapi jadi tunggul. Apa yang harus kita lakukan?"

"Ah, Bibi, hari sudah sore, kami pulang dulu, biarlah  Sibontar Humillo tinggal di sini dulu. Dan kejadian ini akan segera kami beritahukan kepada ayah," katanya yang enam itu. Sibontar Humillo terus menangis karena tak dapat kembali ke dunia atas.

Kemudian Sibontar Humillo kembali ditanya Siboru Deak Parujar. 

"Sekarang, bagaimana pendapatmu, adikku? Benarkah kau lihat lelaki yang berlari itu jadi tunggul!"
"Benar, bibi," jawabnya.

"Setelah terlihat olehku dia lari, lalu ketepuk tanganku, serta merta orang itu jadi tunggul," kata Sibontar Humillo.

"Wah adikku. Mungkin anak manusia dia itu. Kalau manusia benar dia, kau ini jadi pembunuh. Kau akan dimarahi abang nanti kerena pekerjaan membunuh itu. Itu pun kalau belum ketahuan oleh teman-temannya. Kalau ketahuan, kita akan mati dibuatnya," kata bibinya. Mendengar kata-kata itu tangis adiknya semakin menjadi-jadi.

"Nah, sekarang hati-hatilah engkau. Barangkali lelaki itu cinta padamu, tapi jadi mati dia kau buat. Aku tak tahu lagi mengatakan," kata bibinya. Sibontar Humillo semakin kuat tangisnya kebingungan. Melihat adiknya demikian itu. Siboru Deak Parujar tadi kasihan.

"Nah, adikku, jika nanti kuhidupkan dia kembali, mungkin kita akan dibunuhnya pula atau mungkin, dengan cara paksa kau dirampas jadi istrinya. Maukah engkau? Menururt perasaanku, dia masih dapat hidup kembali, lebih baiklah kita patuhi apa pun yang dikatakannya. Kalau tak demikian kdmungkinan kita dibunuh. Jadi, katakanlah bagaimana pendapatmu!" katanya kepada adiknya.

"Ah, bergantung kepadamulah, Bibi," kata adiknya.

"Kalau aku, tak tahu apa yang hendak kukatakan," kata Sibontar Humillo.

Setelah demikian akhirnya percakapan keduanya, Si Boru Deak Parujar tambah kasihan melihat adiknya itu, kini dia buka kartu tentang maksudnya yang sebenarnya.

"Begini duduk soalnya, adikku. Karena kata-katamu begitu sedih kuceritakanlah keadaan yang sebenarnya padamu. Di tempat kita ini ada seorang pemuda pendatang. Kulihat rupanya ada memiliki kesaktian yang berasal dari Maha Paencipta. Kukatakan demikian. karena tak seorang pun manusia dapat datang di tempat ini kalau hanya manusia biasa. Dia pernah berkata padaku bahwa dia suka sekali melihatmu. Jadi kalau mungkin, kau jadi istrinya.

Saya juga, dialah yang mengambil bajumu itu. Sekarang kembali kutanya engkau, maukah jadi istrinya? Saya rasa, lebih baik kau terima dia, daripada jadi pembunuh manusia. Sekarang jawablah dengan tegas, adikku," kata bibinya kepada Sibontar Humillo. Mendengar ucapan bibinya itu adiknya jadi termenung seketika. Tetapi setelah dipikirka, barulah diberinya jawaban.

"Aku mau bibi," katanya.

"Kalau demikian, marilah kita pergi ke tempat itu agar kuuji dengan lidi tunggal," katanya kepada adiknya. Sesampai di tempat lelaki itu jadi tunggul, Siboru Deak Parujar melibaskan lidi tunggalnya hingga tujuh kali. Dan... Balige Raja kembali hidup dan sadar akan dirinya.

"Benarkah enhgkau mengambil baju humahijang si Bontar Humillo ini, anakku?" kata Si Boru Deak Parujar. Dengan senyum.

"Benar, Bu," jawabnya.

"Apa dia maksudmu mengambil baju itu?" kata ibunya.

"Agar dia tinggal di dunia tengah ini. Bu, dan mau jadi istriku," jawabnya.

"Oo, kalau begitu, jawablah adikku! Maukah engkau jadi istrinya?" kata bibinya kepada Sibontar Humillo. Tetapu adiknya diam seribu bahasa.

"Wah, kenapa adikku, diam? Jawablah baik-baik!" kata bibinya kepada Sibontar Humillo. Setelah dipikirkan, lalu dijawab.

"Kalau benar dari hati ikhlasnya, aku mau," jawab adiknya.

"Kalau demikian, marilah kita ke rumah, agar kalian menikah," kata Siboru Deak Parujar.

Di rumah. Siboru Deak Parujar memberi berkat kepada anak dan menantunya.

"Nah, sekarang kalian berdua jadi anak dan menantu mulai hari ini. Siapakanlah, tikar tempat kalian tidur!" katanya.

"Terima kasih, ibu," kata Balige Raja.

Setelah pemberkatan itu tikar tempat tidur pun  disiapkanlah. Tetapi saat persispan tempat tidur itu Sibontar Humillo berkata kepada Balige Raja.

"Sebelum kita menikah Bang, dengarkanlah dulu. Ingatlah ini Bang. Kalau Abang benar-benar mencintai diriku, aku mau jadi istrimu. Tetapi sekali-kali tak boleh kau sebutkan bahwa aku ini perempuan terbang-terbang. Kalau kau sebutkan demikian, kita akan bercerai."

"Baik, terima kasih puteri pamanku," kata Balige Raja.

Sehabis mengikat janji demikian itu, hari pun malamlah. Malam itu Balige Raja dan Sibontar Humillo jadi suami isteri.

Menjelang satu tahun lahirlah anak mereka yang pertama seorang anak laki-laki. Kedua suami- isteri itu sangat bahagia. Sehabis tujuh malam, Balige Raja bertanya kepada isterinya.
 
"Siapakah nama anak kita ini kita tabalkan?" katanya. "Jangan dulu kita buatkan namanya. Nenaknyalah nanti yang menentukan." jawab isterinya itu.

"Baiklah, kalau begitu," sahut suaminya.

Setelah tiga bulan umur anak itu mulailah Sibontar Humillo bekerja di ladang, sedang Balige Raja menimang-nimang anaknya itu di rumah. Anak itu sungguh pemarah, karenanya Balige Raja sering marah terhadap anaknya itu.

Suatu hari anak itu lebih galak lagi. Karena tangisnya, maka dibawahlah dia ke ladang agar segera disusukan ibunya. Tetapi walaupun anak itu telah menusu, marahnya tidak juga reda. Bagaimanapun dibujuk rayu anak itu tak mau diam. Balige Raja telah berusaha membujuk anak itu agar mau dia, tetapi tidak berhasil. Karena itu Balige Raja jadi marah. Saking marahnya maka keluarlah kata-kata yang pantang diucapkan.

"Benarlah kau ini anak dari perempuan nan terbang-terbang. Lain sekali yang satu ini," katanya. Sehabis kata-kata itu, anaknya terus diam, seolah-olah tahu dia artinya. Kiranya Sibontar Humillo  tergerak karena darahnya tiba-tiba tersirap. Walaupun dia jauh dari ladang, dia tahubahwa Balige Raja telah melanggar janji, mengucapkan kata-kata pantangan itu. Segera dia kembali ke rumah. Dilihatnyalah anak itu telah tertidur pulas.

"Wah sudah diam dia, ya? Bagaimana caramu membujuknya?" katanya.

"Sebenarnya, tak ada. Tetapi dia terus terdiam dan tidur," kata suaminya.

"Baiklah, marilah kita makan dulu. Biarkanlah dia di situ, lagi pula dia diam," kata isterinya. Sehabis makan, isterinya berkata,

"Sungguh cerah hari ini, ya. Ambilkan dulu tikar agar kita bermandi sinar matahari di halaman ini. Sambil lalu agar kucari kutumu." katanya. Balige Raja segera meletakkan kepalanya dalam pangkuan isterinya. Sambil bercakap-cakap Sibontar Humillo terus mencari kutu suaminya. Kutu yang telah dapat terus dilindas dengan kuku tangannya. Balige Raja meresa bangga dan senang dibuat demikian hingga tertidur di situ. Waktu itulah Sibontar Humillo menarik baju humahijangnya darimketiak suaminya. Setelah dapat, dengan hati-hati dilepaskanlah kepala Balige Raja lalu disandarkan ke atas bantal. Segera baju itu dikenakan lalu dicoba terbang-terbang dan.... memang bisa terbang. Kemudian anaknya ditepuk, lalu berobah jadi sebesar kelereng serta merta dimasukkan ke dalam sanggulnya. Segera dia terbang ke atas bubungan rumah. Dilemparnyalah Balige Raja tepat mengenai badannya.

"Eh, anak bibiku, bangunlah agar kita bicara. Dulu telah kukatakan padamu bahwa sekali-kali tak  boleh kau sebut dirikuy perempuan nan terbang-terbang. Tetapi sekarang telah kau langgar.

Karena itulah maka si buyung itu jadi diam tak menangis lagi. Nah, sekarang anak kita telah kemasukkan ke dalam sanggulku ini, agar nangislah Balige Raja dan mengakui kesalahannya. Tetapi karena janji telah dilanggar maka terbanglah Sibintar Humillo terus ke dunia atas, meninggalkan suaminya yang menangis di bumi. Setelah lenyap dari pandangannya, berlarilah dia menjumpai ibunya Siboru Deak Parujar, Apa jawabnya?

"Kalau kau yang melanggar janji, apa yang hendak kukatakan lagi. Segalanya itu, engkaulah yang bertanggung jawab," katanya. Siang malam Balige Raja terus menangis mengenang isteri dan anaknya.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, demikianlah Balige Raja merasa putus asa. Dan sekali waktu berkatalah dia kepada ibunya.

"Aku tak sabar lagi Bu tidak jumpa dengan menantumu dan cucumu itu. Lebih baiklah aku mati kalau tak berjumpa," katanya.

"Bagaimanalah caranya engkau berjumpa dengan mereka? Baju terbangmu tak ada. Karena itu kau ambillah bajunya itu agar dia tak dapat terbang kembali ke kayangan. Tetapi lantaran kau langgar janjimu, maka baju terbang itu didapatkannya kembali dan dia dapat terbang ke duani atas. Jadi,  tak benar omonganmu itu, anakku. Apa hendak dikata, sabarlah engakau," kata ibunya untuk melunakkan hati anaknya.

"Ah, bagaimanapun, Bu aku tak sabar lagi. Lebih baiklah mati timbang tak berjumpa lagi dengan menantumu dan cucumu itu," kata Balige Raja.

"Kalau begitu, berangkatlah anakku berguru ke tempat yang jauh. Carilah sebuah benda yang panjangnya sejengkal dan besarnya sebesar pangkal lengan. Kalau benda itu dapat, barulah engkau dapat bersua dengan yang kau katakan itu," kata ibunya.

"Baiklah, bu. Aku pergi  dulu mencarinya," kata anaknya. Selama lima tahun Balige Raja mencari benda itu tetapi tidak juga dapat, akhirnya, tersembullah dalam hatinya, "Aduh, tololnya aku ini. Saya rasa, lidah manusia yang dikatakannya itu," pikirnya. Panjangnya sejengkal tetapi besarnya sebesar pangkal lengan. "Hau hira sebesar pangkal lengan, apa pun dapat dikatakan." Yah, memang demikian. Karena ucapankulah maka aku susah," pikirnya.

Dengan demikian jalan pikirannya, pulanglah dia ke tempat ibunya.

"Bu, aku sudah kepayahan mencari benda itu ibu katakan itu, tidak juga bersua. tetapu karena kebodohannnyalah itu. Menururt pengertianku maksud ibu itu adalah lidah," katanya kepada ibunya.

"Aduh anakku, jadi lima tahun kau susah karenanya. Jadi lantaran sudah kau dapat jawabannya, pergilah engkau ke arah Purba (Timur). Di sana akan kau jumpai nanti apa yang kau cari itu," kata ibunya.

"Terima kasih, bu," kata Balige Raja. Maka berangkatlah dia ke arah Timur seperti yang ditunjukkan oleh ibunya. Diselusurinya terus hutan itu hingga tujuh tahun lamanya. Suatu hari, berjumpalah dia dengan seekor ular naga berkepala tujuh.

Dari kejauhan ular itu sudah terlihat olehnya besar sekali. Namun sedikitpun Balige Raja tidak meresa takut. Karena baginya hidup atau mati sama saja.

"He, siapakah engkau manusia yang semakin dekat itu? Apakah matamu tidak melihatku? Apakah engkau ingin lekas kumakan?," kata ular besar itu.

"Ya, Nek, aku tak takut lagi mati. Kau makan pun jadilah. Lebih baik mati daripada begini," jawabnya.

"Wah, kenapa engkau berkata demikian?" kata ular.

"Aku dulu telah menikah dengan puteri pamanku Batara Guru dan telah beranak satu. Tapi karena kuucapkan kata-kata terlarang, maka aku ditinggalkannya. Dan anak itu pun dibawa juga ke dunia atas. Aku telah bosan dalam kehidupan ini," katanya.

"Oh benar juga. Aku dapat menolongmu sampai ke dunia atas. Tetapi kalau engkau kutolong nanti, aku pun harus mati. Lantaran aku sangat kasihan melihatmu, mati pun aku, tak apalah," kata ular itu.

"Untuk itu carilah dulu tujuh ekor belalang dan masukkan kedalam bambu. Jika belalang itu sudah terkumpul, bawalah ke amri agar kujunjung kau ke duani sana," kata ular itu.

"Terima kasih, Nek," sahut Balige Raja. Lalu pergilah dia mencari belalang dan dimasukkan ke dalam bambu serta segera dibawa kepada ular itu.

"Sudah dapat nek, inilah belalang itu," kata Balige Raja.

"Oh, peganglah! Dengarkanlah! Naiklah ke atas kepalaku ini! Belalang yang tujuh itu nanti akan kumakan. Jika kujunjung engkau selama tujuh bulan ini, kau akan sampai ke pangkal pohon Jambu Barus ( semacam pohon ara) dan cepatlah pegang akarnya itu. Dari situlah engkau meneruskan perjalanan ke dunia atas. sekali sebulan kepalaku ini akan jatuh satu, dan jika kepala itu sudah jatuh, berikanlah seekor belalang itu untuk kumakan," kata ular kepadanya.

"Ya, Nek," katanya. Setelah Balige Raja naik ke atas kepala ular besar itu, mulailah ular itu bergerak dan semakin tinggi. Satu bulan berlalu, tanduk ular itu jatuh satu, segera Balige Raja memberikan seekor belalang. Demikianlah berlangsung hingga bulan ke enam.

Memasuki bulan ketujuh, tanduk ular itu tinggal satu lagi. Waktu itu tingginya tak terkira lagi. Menjelang sampai ke dunia atas, tiupan angin pun tambah kencang dan Balige Raja ketakutan sekali.

"Bagaimana ini, tak tahan lagi aku, apakah kita belum sampai ke pohon itu?" kata ular kepada Balige Raja. Mendengar kata-kata itu, Balige Raja tambah ketakutan. Karena itu segeralah dia mendoa kepada Maha Pencipta memohon pertolongan. Sebentar kemudian tercapailah akar pohon itu. Setelah dapat dipegangnya, lemaslah ular itu dan jatuh ke dunia tengah. Berayun-ayunlah Balige Raja pada urat pohin itu dengan rasa gamang.

Selama tujuh hari tujuh malam berada di situ sampailah dia ke dunia atas. Dihadapannya terhampar sebuah dataran yang luas sekali dengan ternak yang banyak jumlahnya. Dia sangat heran melihat dataran yang rata dan ternak yang cantik-cantik itu. Disana terlihat olehnya sebuah gubuk kecil. Ke sanalah ia pergi dan melihat seorang anak-anak kira-kira berumur 12 tahun.

"Siapa namamu, nak?" katanya. "Namaku Si Gontam Laemudo anak dari Balige Raja asal dunia tengah. Ibuku bernama Sibontar Humillo," jawab anak itu Balige Raja jadi gembira sekali seraya dipeluknya anaknya itu.

"Akulah bapakmu yang bernama Balige Raja itu," katanya kepada anak itu.

"Tak lama lagi akan diadakan pesta tujuh hari tujuh malam lamanya untuk memilih siapa yang menjadi suami ibuku. Dan telah diumumkan bahwa siapa yang sanggup mengalahakan anaknya si Gontam Laemudo, itulah yang menjadi bapaknya!" kata anak itu menyambung.
Mendengar keterangan itu maka berkatalah Balige Raja.

"Kalau begitu jangan dulu kasih tahu bahwa aku telah datang ke duani atas ini. Kau akan kuajari dulu bermain silat agar tak seorang pun  mampu mengalahkanmu. Dengan demikian aku pun datanglah melawanmu, agar orang tahu bahwa akulah bapakmu," katanya kepada anaknya.

"Baiklah, kalau begitu," kata si Gontam Laemudo. Rahasia itu disimpannya baik-baik. Hanya satu yang diberitahukan kepada ibunya.

"Tambahlah nasiku bu karena aku merasa lapar bila hari telah jauh siang," katanya . Besok harinya, dibawanya nasi tu dan dia sama-sama makan dengan Balige Raja. Lalu diajarlah si Gontam Laemudo bermain silat. Demikianlah mereka selama kira- kira sebulan lamanya. Tiba hari yang telah ditetapkan, berdatanganlah para penonton dan para pemuda yang pandai bermain silat menghadiri pesta itu. Kemudian terdengarlah pengumuman.

"Barang siapa mampu mengalahkan si Gontam Laemudo, dialah yang menjadi menantu baginda raja sekaligus menjadi suami dari Sibontar Humillo," katanya.

"Demikianlah pesta itu telah berlangsung selama enam hari tetapi tak seorang pun yang dapat mengalahkan si Gontam Laemudo. Bahkan pada hari ketujuh, walaupun masih ada orang yang berani melawan anak itu bermain silat, juga tak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Batara Guru nampak sedih melihat keadaan itu. Maka terdengarlah sekali lagi pengumuman.

"Apakah masih ada yang akan melawan dari hadirin?" katanya. Tak ada lagi yang mampu, karena bagaimanapun pandainya bermain silat, selalu kalah dibuatnya. Sampai tiga kali diserukan.

"Siapa lagi yang akan melawan?" tak seorang pun yang mau melihat situasi yang demikian itu, berlarilah Balige Raja dari luar istana itu, lalu masuk ke tengah-tengah keramaian itu.

"Bagaimana, tuan apakah aku ini amasih boleh melawannya?" kata Balige Raja memohon dengan rendah hati. Orang pun heranlah melihatnya.

"Wah, sedang guru-guru silat sudah dikalahkan, laki-laki yang jelek begini pula yang akan melawannya; mana bisa jadi orang begini?" kata orang banyak itu dalam hati masing-masing. Tapi berkatalah Batara Guru.

"Ya, boleh! Siapa pun boleh. Kalau mau uji kepandaian silat, silakan!" katanya. Segera keduanya mulai berlwan. Orang semakin heran jadinya melihat ketangkasan mereka dan kehebatan cara mainnya. Belum pernah permainan seperti ini dihidangkan orang selama pesta itu berlanghsung. Ada orang sampai ketakutan melihat serunya pertarungan itu. Kadangn-kadang orang banyak itu bertepuk tangan, kadang-kadang jadi ternganga. Sebagian lagi jadi terpesona melihat belati yang ikut dimainkan itu. Demikian mereka hingga letih, tak juga ada yang kalah. Perlawanan ini sungguh ramai dan menegsangkan. Tetapi bagaimanapun kuatnya si Gontam Laemudo, akhirnya kalah juga dia, lalu mengangkat telunjuk ke atas.

"Inilah Bapak kandungku, Balige Raja," katanya. Mendengar ucapan pengakuan anaknya itu Sibontar Humillo, segera berlari mendapatkannya, seraya dipeluknya sambil menangis karena rindu dendamnya.

Maka diumumkanlah segera bahwa menantu raja itu telah dapat dan terus diadakan pesta besar-besaran. Berlangsunglah pernikahan mereka di dunia atas.

Satu hari dikatakan Balige Raja-lah agar mereka pergi ke rumah mertuanya untuk mendapatkan pauseang (harta berharga yang dibawa isteri dan orangtuanya pertanda kasih sayang) yang dimintanya itu adalah segala yang ada di dunia atas dan kilat yang berbentuk burung. Sekembali di rumah dibujuklah isterinya. "Marilah kita kembali ke dunia tengah," katanya.

"Ah, bagaimana jadinya kalau yang berasal dari dunia atas haruslah tetap di dunia atas, yang berasal dari dunia tengah, kembalilah ke dunia tengah. Kalau engkau, permintaanmu telah dikabulkan oleh Maha Pencipta, hingga dapat bersama-sama.

"Kalau demikian, biarlah kuantarkan dulu anak kita si Gontam Laemudo ke dunia tengah, agar ada yang meneruskan turunanku di dunia tengah," kata Balige Raja kemudian.

"Terserah, Bawalah oleh kalian baju humahijang itu agar kalian berangkat," kata Sibontar Humillo. Maka pergilah Balige Raja dan si Gontam Laemudo ke dunia tengah. Waktu mereka hendak pergi turunlah hujan yang amat lebat dan kilat yang menyilaukan. Melihat kejadian itu semua orang jadi tercengang. Lalu berserulah Balige Raja.

"Janganlah kalian mengeluh lagi. Aku ini telah datang ke dunia tengah mengantarkan anakku Balige Sende untuk melanjutkan silsilaku karena aku akan menetap di dunia atas. Inilah pengintaian. Kalau kalian bersatu  hati meminta hujan, akan keberikan, karena hujan itulah pauseang yang kuterima dari mertuaku. Tandanya kalian telah bersatu hati, didirikan satu joro ( tempat memuja Tuhan ) atau (Mulajadi Nabolon bagi orang Batak) tempat memanggil aku. Percayalah, permintaan kalian itu akan kukabulkan. Jadi anakku Balige Sende inilah teman kalian bersatu hati. Di dunia atas, anak ini bernama si Gontam Laemudo. Demikianlah dulu percakapan kita, aku akan berangkat ke dunia atas," katanya.

Demikianlah hingga sekarang ini, Balige Raja tetap tinggal di dunia atas, dan sampai saat ini orang banyak mengingatnya sebagai pengatur hujan. 

Sumber : Ceritera Rakyat Daerah Sumatera Utara
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Balige Raja"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel