Cerita Raja Tonjeng Beru

Alkisah Rakyat ~ Pada zaman dahulu kala, kabarnya ada sebuah kerajaan, yang bernama kerajaan Sekar Kunir. Di kerajaan tersebut memerintah seorang Raja yang gagah perkasa bernama Raja Tonjeng Beru, dengan permaisurinya bernama Dewi Serentung. Dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari, Raja Tonjeng Beru dibantu oleh dua orang Patih. Patih yang pertama bernama Patih Rangga Dundang dan sebagai Patih yang kedua ialah Patih Rangga Nyane. Pada waktu Raja Tonjeng Beru memerintah kerajaan Sekar Kuning, masyarakat seluruhnya dalam keadaan sejahtera, aman dan sentosa. Karen berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa, semua apa saja yang ditanam, tumbuh dengan suburnya, sehingga dapat menghasilkan sandang atau pun pangan yang banyak.

Segala jenis buah-buahan berbuah dengan amat lebatnya, yang sudah barang tentu akan dapat menambah kemakmuran di dalam negeri.Para nelayan pun hidup dengan sejahtera, karena hasil yang diperolehnya sangat cukup. Begitu pula mengenai keamanan dalam negeri, selamanya mendapat pengawasan yang ketat dari Raja. Dengan demikian seluruh rakyat hidup dengan penuh kedamaian lahir maupun bathin. Hal ataupun keadaan yang baik ini dilengkapi pula dengan Raja yang selalu bertindak adil. Setelah beberapa lama Raja memerintah dengan aman sentosa, didampingi oleh permaisuri tercinta Dewi Serentung. Tak seberapa lama kemudian permaisuri pun hamillah. Kabar gembira ini disambut seluruh rakyat dengan perasaan bangga dan penuh pengharagaan. Saat yang dinantikan akhirnya tiba juga, pada suatu hari, setelah sang jabang bayi cukup sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan bundanya, permaisuri Dewi Serentung pun bersalinlah dengan selamat, tidak kurang suatu apap.

Bayi yang dilahirkan adalah seorang bayi perempuan, bakal menjad raja Putri kelak dalam Kerajaan Sekar Kuning. Tersebut pula dalam cerita, bahwa putri baginda Raja sangatlah eloknya. Sejak kecil telah nampak, bahwa kelak putra raja akan menjadi seorang putri yang cantik jelita. Masih bayi saja sudah demikian elokhya. Apalah lagi nanti setelah meningkat dewwsa.Pada masa itu amat sulit untuk dicarikan tandingannya dibawah kolong langit ini. Maka untuk menyambut kelahiran putri pertama ini, Raja mengadakan pesta besar untuk umum selama 7 hari 7 malam. Semua tontonan yang berupa hiburan rakyat yang ada di dalam negeri diundang untuk datang ke pusat Kerajaan Sekar Kuning, untuk bersama - sama bergembira ria.

Dewi Mandalika, demikian nama yang dipilihkan untuk putri raja. Sebuah nama yang indah dan sangat tepat untuk sang putri raja. Nama yang indah untuk seorang putri yang cantik jelita. Dari sehari ke sehari, putri raja makin bertambah besar jua. Segala tingkah laku atau pun tutur kata dari Putri Mandalika tidak ada yang mengecewakan. Pendek kata Kerajaan Sekar Kuning dengan seluruh rakyat, boleh berbangga dengan kehadiran Putri Mandalika ditengah-tengah  mereka. Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, waktu terus berjalan dan berputardengan cepatnya. Konon besarlah sudah Putri Mandalika. Dan sekarang Putri Mandalika telah menjadi seorang putri remaja yang sudah memasuki usia 18 tahun. Pada saat ini datanglah musibah besar yang menimpa  Kerajaan Sekar Kuning. Ayahanda putri Maharaja Tonjeng Beru meninggal dunia dengan tiba-tiba. Dengan meninggalnya Maharaja Tonjeng Beru, keadaan di dalam kerajaan Sekar Kuning menjadi goncang. Kerusuhan dan keributan-keributan kecil di sana sini terjadi.Dalam mengatasi kemelut ini, bertindaklah sang Patih, mencari usaha untukdapat menjernihkan keadaan yang keruh, yang sedang menimpa Kerajaan Sekar Kuning. 

Para Bupati dan para Camat, para Kepala Desa dan tidak ketinggalan pula para pemuka-pemuka masyarakat diundang semua, untuk segera menentukan dan memilih seorang raja sebagai pengganti raja mereka yang telah meninggal dunia. Dalam musyawarah ini dapat diutuskan, bahwa Putri Mandalika adalah pewaris tunggal Mahkota Kerajaan Sekar Kuning. Tak seberapa lama antaranya  Putri Mandalika pun dinobatkan menjadi Raja Putri menggantikan ayahanda raja memerintah di Kerajaan Sekar Kuning. Kita tinggalkan sementara cerita Ratu Mandalika. Kita melihat ke sebelah barat dan ke sebelah timur Kerajaan Sekar Kuning. Di sebelah Barat berdiri pula sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sawing yang diperintah oleh seorang raja putra bernama Raja Johor. Baginda mempunyai dua orang Patih yang bernama Arya Babal dan Arya Tebui. Tersebut pula dalam cerita, bahwa Kerajaan Sawing terkenal sebagai sebuah kerajaan yang sudah mempunyai tata pemerintahan yang sudah teratur. Negeranya kaya dengan segala jeni keperluan hidup, sehingga seluruh rakyatnya hidup engan berkecukupan, baik papan, sandang maupun pangan.

Di sebelah timur Kerajaan Sekar Kuning, berdiri pula sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Lipur dengan rajanya bernama Raja Bumbang. Patihnya yang seorang bernama Arya Tuna dan yang seorang lagi bernama Arya Jange. Raja Bumbang pun masih sebagai seorang raja putra, belum mempunyai seorang permaisuri. Keadaan negaranya hampir-hampir sama seperti dengan Kerajaan Sawing. Suasana dalam kerajaan aman tenteram, raja selamanya bertindak dengan adil, hasil pangan selalu berlipat ganda. Rakyat hidup ditengah-tengah suasana damai, selalu berkasih-kasihan dan saling hormat- menghormati. Pada suatu masa timbullah keinginan Raja Johor untuk mengumpulkan segenap rakyatnya, baik yang mempunyai kedudukan atau pun tidak, dewasa maupun anak-anak. Raja berkehendak mengadakan diskusi umum dan langsung dengan seluruh rakyatnya betapa dan bagaimana tindak-tanduk raja selama memegang tampuk pimpinan di dalam Kerajaan Sawing. Maka setelah siap dan seluruh rakyat hadir, pada suatu pertemuan besar yang direncanakan itu, maka raja pun mulai bersabda.

"Hai rakyatku semuanya! Dalam pertemuan besar yang sangat berarti ini, saya ingin mendengarkan dari kalian, tentanhg kekurangan-kekurangan yang kalian alami selama saya menjadi raja dalam kerajaan ini." Salah seorang di antara yang hadir, meminta izin untuk angkat bicara.

"Daulat Tuanku, Raja Johor! Perkenankanlah hambamu yang daif ini untuk mengeluarkan isi hati di hadapan Tuanku, bahwasanya selama Tuanku memerintah di Kerajaan Sawing ini, tidak ada terdapat kekurangan-keurangan, semuanya dalam keadaan baik dan cukup tanpa ada kesulitan-kesulitan yang berarti."

Raja kemudian bertitah kembali. "Kalau demikian halanya, baiklah. DSekarang cobalah kalian memberikan pendapat tentang kejelekan-kejelekan baik yang menyangkut tentang diriku pribadi sebagai raja mau pun yang menyangkut bidang lain-lain." Daulat Tuanku" sembah seorang lagi dari yang hadir, hina ini ingin mengajukan sesuatu terhadap Tuanku. Namun cacat Tuanku, memang ada menurut pendapat hamba. Hanya satu saja....hanya satu... akan hamba kemukakan secara terus terang. Kekurangan Tuanku, ialah Tuanku belum mempunyai permaisuri yang akan mendampingi Tuanku dalam menjalankan pemerintahan. Karena walaupun bagaimana, kurang tepat rasanya bila seorang raja besar masih tetap jejaka, karena bukankah kita semua, semua makhluk di dunia ini diciptakan Tuhan dalam berpasang-pasangan?" Selanjutnya raja kembali bertitah.

"Segala apa yang telah kalian kemukakan dalam kesempatan ini padaku, saya terima dengan baik. Dan untuk itu saya menyampaikan banyak-banyak terima kasih. Dengan demikian cobalah kalian memikirkan, apakah ada di antara kalian yang pernah mendengar atau pun melihat, tentang seorang wanita yang menurut pendapat kalian pantas untuk calon pemaisuriku. Saya yakin, bahwa di antara kita semua yang berkumpul di tempat ini, pasti ada yang pernah mendengar tentang seorang wanita istimewa, yang cocok untuk dijadikan permaisuri Raja Johor."

Menjawab pula salah seorang di antara yang hadir. "Daulat Tuanku...terlebih dahulu hamba mohon diampuni, Bahwa sepanjang apa yang patik dengar, memang ada seorang wanita yang tepat sekali untuk dipersunting Paduka Tuanku. Wanita tersebut menurut kabar bernama Ratu Madalika, putri dari seorang raja di Kerajaan Sekar Kining, yang sekarang telah meninggal dunia, bernama Raja Tonjeng Beru. Oleh karena Raja Tonjeng Beru telah mennggal dunia, maka beliau digantikan oleh putri beliau. Ratu Mandalika sebagai raja di Kerajaan Sekar Kuning. Sampai sekarang Ratu Mandalika pun belum pernah bersuami, Nah, menurut pendapat patik, Ratu Mandalika sangat tepat untuk menjadi jodoh Tuanku."

"Kalau begitu bagus.....ha....ha...... ha bagaimana renacana selanjutnya Paman Patih?"

"Daulat Tuanku Raja Johor junjungan patik. Bila seandainya segala apa yang telah dikemukakan tadi, brkenan dihati Raja Johor yang mulia, menurut pendapat patik tidak ada kesulitan apa-apa. Patik siap menjunjung titah Tuanku..... Silakan tuanku membuat sepucuk surat buat Ratu Mandalika. Surat itu merupakan surat lamaran. Untuk selanjutnya serahkan saja pada patik yang hina ini untuk melaksanakannya. Dan harus diingat, bahwa rencana ini harus segera kita laksanakan. Waktu satu detik pun tidak boleh kita buang begitu saja."

"Baik, pendapat paman patih tepat sekali. Sekarang juga akan saya buat surat itu dan besok pagi-pagi buta supaya sudah berangkat ke Kerajaan Sekar Kuning. Ratu Mandalika sendiri yang harus menerima surat itu."  Setelah rampung semua rencana, pertemuan besar itu pun segera dibubarkan.

Kita sekarang mengalihkan pandangan kita ke negara bagian timur dari kerajaan Sekar Kuning, yaitu Kerajaan Lipur. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat-saat terakhir, diceritakan persis sama seperti apa yang terjadi di Kerajaan Sawing.

Pertemuan besar pun diadakan. Hasil terakhir musyawarah raja dengan seluruh rakytanya, membuahkan sebuah rencana untuk melamar Ratu Mandalika, putri Raja Tonjeng Beru, di Kerajaan Sekar Kuning, untuk menjadi bakal permaisuri Raja Bumbang, raja di Kerajaan Lipur. Raja Bumbang pun akan segera mengirimkan utusan ke Kerajaan Sekar Kuning buat Ratu Mandalika. Surat  lamaran itu untuk meminta Ratu Mandalika agar bersedia menjadi permaisuri Raja Bumbang. Untuk tugas penting ini, sudah barang tentu jatuh kepada Patih Arya Tuna' dan Patih Arya Jange, yang mendapat kepercayaan dari Raja untuk melaksanakannya.

"Daulat Tuanku.....akan hamba laksanaka tugas ini sebaik-baiknya. Restu baginda hamba harapkan, semoga tidak ada halangan dalam hamba melaksanakan tugas ini."

Adapun ini surat kedua raja Putra, Raja Bumbang dan Raja Johor yang akan dikirimkan kepada Ratu Mandalika, kira-kira sebagai berikut.

"Surat ini adalah merupakan diri hamba datang, ke hadapan Tuanku Putri, untuk menyampaikan isi hati yang telah sekian lama terpendam dalam lubuk hati hamba. Tidaklah berkelebihan apa yang tertulis di dalam surat ini, daripada apa yang terkandung di hati.

Telah sekian lama maksud hati ingin memindahkan bunga yang harum semerbak di Karajaan Sekar Kuning ini ke kerajaan hamba. Dapatkah maksud suci hamba tersebut mendapat imbalan yang sewajarnya dari Tuanku Pujaan Hamba? Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan taufik dan hidayahnya kepada kita semua. Dan Tuhan mudah-mudahan  tetap memberikan pertolongannya dalam hal ini........?

   Demikian sekelumit isi surat kedua raja Putra yang akan disampaikan oleh patih masing-masing kepada Ratu Mandalika. Setelah siap semuanya, maka pada suatu hari pagi-pagi buta berangkatlah Patih Arya Babal dan Arya Tenui dari Kerajaan Sawing bersamaan waktunya dengan kebernagkatan Patih Arya Tuna' dan Arya Jange' dari Kerajaan Lipur.

   Dan tujuan mereka sama pula, yakni Kerajaan Sekar Kuning. Patih Arya Tuna' dan Arya Jange' berangkat dari arah timur, sedang Arya Babal dan Arya Tebui berangkat dari arah barat.

   Diceritakan selanjutnya, bahwa yang terlebih dahulu sampai di Kerajaan Sekar Kunig ialah utusan dari Karajaan Lipur, utusan Raja Bumbang.

   Utusan Raja Bumbang ini, yang tiada lain dari Patih Arya Tuna' dan Arya Jange', disambut oleh Patih Rangga Dundang. Setelah kedua Patih ini saling berhadap-hadapan di batas sebelah luar keraton kerajaan sekar Kuning, maka patih Rangga Dundang menegur tamunya terlebih dahulu.

   "Hai utusan dari manakah datangnya tamu ini. Kelihatannya membawa amanat yang penting juga. Coba beritahukan terlebih dahulu, apakah yang menjadi keperluan utama sampai datang ke negeri Sekar Kuning ini.

   Menjawablah sekarang Arya Tuna' "Saya sendiri bernama Arya Tuna' dan kawan saya ini bernama Ary Jange'. Kami berdua sengaja datang kemari, menjadi utusan dari Raja Bumbang dari Negeri Lipur, untuk menyampaikan surat kepda Ratu Mandalika di negeri Sekar Kuning ini." Jawab Ranga Dundang.

   "O, kalau begitu sangat kebetulan sekali perjumpaan kita ini. Saya adalah Rangga Dundang, Patih Pertama dan utama dalam Kerajaan Sekar Kuning ini. Inilah dia orangnya yang paling dekat dalam istana, merupakan tangan kanan Sri Ratu yang paling terpecaya untuk mengurus dan menyelesaikan segala persoalan yang menyangku istana kerajaan."

   "Terima kasih Rangga Dundang," jawab Arya Tuna' "Bila demikian, perjalanan saya kali ini tidaksia-sia." Maka kedua atau ketiga patih itu saling bersalam-salaman. Kemudian kata Arya Tuna' lagi.

   "Kami mengharapkan pertolongan yang sebesar-besarnya dari Patih Rangga Dundang untuk menemani kami, supaya kami dapat dengan segera berjumpa dengan Ratu Mandalika.

   "Ha......ha.....ha......, baiklah utusan dari Kerajaan Lipur. Mari, sekarang juga kita bersama-sama menghadap Sri Ratu. Semuanya segera berangkat. Rangga Dundang di depan diiringi oleh kedua orang tamunya.

    Setelah sampai di dekat pintu masuk istana, Rangga Dundang mempersilakan tamunya untuk menunggu sebentar. Sri Ratu perlu diberitahu terlebih dahulu, bahwa ada tamu yang akan masuk menghadap.

    Cepat Rangga Dundang masuk ke dalam istana, untuk memaklumkan dan sekaligus meminta izin utusan dari Kerajaan Lipur, Raja Bumbang, untuk masuk menghadap.

    Begitu Sri Ratu melihat Ranggfa Dundang masuk dengan agak tergesa-gesa, Ratu Mandalika segera bersabda. 

    "Hai Paman Patih! Ada apa gerangan, sehingga kelihatannya penting sekali. Cepat ceritakan paman, apa kiranya yang telah terjadi."

    Setelah Patih Rangga Dundang selesai menghaturkan sembah, ia pun berkata.

    "Di luar pintu masuk ada tamu dua orang Sri Paduka. Mereka adalah utusan dari Kerajaan Lipur. Kedua utusan tersebut mhon untuk dapat menghadap sekarang juga."

    "Utusan dari Kerajaan Lipur? Ah, ada apa kiranya ini?'pikir Sri Ratu. Lalu Sri Ratu memerintahkan kepada Patihnya untk membawa kedua utusan itu masuk menghadap, setelah terlebih dahulu mengadakan persiapan seperlunya.

    Tak lama kemudian datanglah kembali Patih Rangga Dundang menghadap Sri Ratu dengan diiringi oleh kedua orang tamunya. Betapa gaya dan lagak kedua utusan kerajaan Lipur itu., tak usah diceritakan. Pokoknya habis-habisan, dengan maksud untuk melambangkan kebesaran Kerajaan Lipur.

    Setelah sampai di dalam, keduanya lalu duduk di halaman istana, sambil menghaturkan sembah kepada Ratu Mandalika.

    "Hai Patih dari kerajaan Bumbang, kedua utusan dari Raja Bumbang, mari naik. Di sini kami dapat menerima kalian." "Kalau itu tidak akan naik," jawab Patih Aryan Tuna.'

    "Oh tidak. Mari silakan naik..... Maka kedua Patih itu pun segera naik, setelah sekali lagi kembali menghaturkan sembah kepada Sri Ratu. Semua pembesara Kerajaan Sekar Kuning turut serta dalam pertemuan ini.

    Setelah kedua utusan menempati tempat duduk masing-masing. Ratu Mandalika pun bersabda'

    "Hai utusa, para patih dari kerajaan Lipur! Sekarang katakanlah kepada kami sekalian yang hadir di tempat ini, apakah yang menjadi keperluan kalian datang ke Kerajaan Sekar Kuning ini?'

    Sengaja kami datang ke Kerajaan Sekar Kuning ini," demikian sembah Patih Arya Tuna." karena oleh Raja kami Maharaja Bumbang dari Kerajaan Lipur, diutus untuk menyampaikan surat ini untuyk Sri Ratu." Seraya mengeluarkan surat tersebut dari tempatnya.

   Surat lamaran dari Raja Bumbang itu segera diterima oleh Ratu Mandalika. Surat itu segera dibuka,langsung dibaca oleh Sri Ratu. Segala apa yang terkandung didalam surat itu, Sri Ratu sudah maklum semuanya. Seketika itu juga menyelianap perasaan malu dalam diri Sri Ratu.

   "Ah," pikirnya. "Kiranya ada juga orang yang menaruh minat pada diriku yang hina ini. Lebih-lebih sekarang telah menjadi kenyataan, seorang Raja besar dari Kerajaan Lipur lagi. Bagaimana sekarang? Apa tindakan yang hendak kulakukan selanjutnya?"

   Setelah berpikir sejenak, berkatalah Sri Ratu, "Hai utusan! Surat Raja Bumbang sudah saya terima. Sekarang baiklah. Untuk selanjutnya tunggu sebentar. Surat ini akan saya balas seketika. Silakan duduk dahulu sambil menikmati hidangan ala kadarnya bersama-sama dengan Patih Rangga Dundang dan pembesar-pembesar kerajaan lainnya.

   "Baik Sri Ratu! Hamba akan menanti disini."  Ratu Mandalika segera masuk ke dalam istana. Setelah berpikir sejurus di dalam ruang kerjanya, Sri Ratu mulailah menulis surat balasan untuk Raja Bumbang. Inilah sekelumit surat balasan Ratu Mandalika, yang disampaikan kepada Raja Bumbang.

   "Maharaja Bumbang yang budiman! Surat Maharaja sudah saya terima dengan selengkapnya. Dan segala apa yang terkandung di dalamnya, baik maksud maupun isinya, saya sudah mengerti secara keseluruhan. Namun apa yang dapat saya utarakan dalam kesempatan ini selain ucapan maaf dan sekali lagi maaf bahwa diri saya yang hina  dina ini tak dapat memenuhi keinginan baginda raja. Hal ini disebabkan tiada lain karena diri saya masih terlalu kecil untuk sampai memikirkan seperti hal baginda raja telah kemukakkan itu.

Memang diri saya ini kelihatannya sudah cukup dewasa, ditambah lagi dengan jabatan saya sebagai Ratu di Kerajaan Sekar Kuning, tetapi lebih jauh saya utarakan saja di sini, bahwa diri saya ini masih belum apa-apa. Umur baru setahun jagung, darah baru setam[uk pinang. Demikianlah saya kira bunyi sebuah pepatah. Dan pepatah itu sangat tepat bila ditujukan kepada keadaan diri hamba ini. Jadi harapan saya, lebih baik baginda raja berpikirlah lebih jauh dahulu dan bersabarlah........

   Setelah surat itu selesai ditulis,lalu dibaca sekali lagi,kemudian dimasukkan ke dalam sebuah amplop, Sri Ratu kemudian keluar menjumpai utusan itu kembali. Selanjutnya surat balasan untuk Maharaja Bumbang di Kerajaan Lipur telah selesai.

   "Nah, ini dia surat itu, dan sampaikan segera kepada Baginda," kata Sri Ratu kemudian menyerahkan surat balasan itu kepada Arya Tuna.'

   Surat balasan itu diterima oleh Arya Tuna' kemudian ia segera mohon diri untuk kembali ke negerinya.

   Tatkala Patih Arya Tuna' dan rya Lange' sedang berada di dalam istana, dan langsung dapat melihat kecantikan Ratu Mandalika, mereka lalu berpikir dalam hati masing-masing.

   "Ah, betapa cantiknya Ratu Mandalika. Apa yang diceritakan orang, memang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tidak dilebih-lebihkan. Memang sangat pantas untuk menjadi jodoh Maharaja Bumbang. Ratu Mandalika hampir tidak mempunyai cacat. Segala tingkah laku, baik tutur kata mau pun sikap baginda semuanya melambangkan keagungan baginda. Pantas saja semua orang tertarik pada Ratu ini."

   Tak lama antaranya datang pula utusan dari Kerajaan  Sawing. Utusan Kerajaan Sawing ini diterima oleh Patih Rangga Nyane. Setelah mereka saling berkenalan, utusan dari Kerajaan Sawing ini yang tiada lain daripada Patih Arya Babal dan Arya Tebui, kemudian diajak masuk menghadap Ratu Mandalika.

   Sangat kebetulan sekali, pembesar-pembesar negeri yang turut serta tadi menerima utusan Kerajaan Lipur, semua masih berada di dalam istana. Sehingga Patih Arya Babal dan Arya Tebui dapat segera masuk menghadap Raja Putri.

   Setelah utusan dari Kerajaan Sawing diterima, maka Arya Babal segera menghaturkan surat itu kepada Sri Ratu Mandalika. Mereka menghaturkan sembah.

   Surat itu diterima oleh Sri Ratu. Langsung saja dibuka dan dibaca. Surat itu pun maksud dan tujuannya sama seperti apa yang telah dikemukakan oleh Raja Bumbang. Singkat cerita surat dari Raja Johor pun segera dibalas oleh Raja Putri.

   Selesai surat balasan ditulis, lalu diberikan kepada utusan. Kemudian kedua utusan itu pun segera meminta diri untuk kembali ke negerinya.

   Maka acara di Kerajaan Sekar KUning selesai sudah. Pembesar-pembesar negeri serta pemuka-pemuka masyarakat semua telah kembali ke tempat kerja masing-masing. Selanjutnya kita mengikuti perjalanan utusan dari Karejaan Lipur.

   Diceritakan bahwa kini ia telah sampai di negerinya. Patih Arya Tuna' dan Patih Arya Jange' langsung pergi menghadap Maharaja Bumbang. Setelah sampai disana, ia segera menyerahkan balasan surat Ratu Mandalika.

   Dengan agak gemetar, Raja Bumbang membuka dan membaca isi surat itu. Setelah selesai surat itu dibaca oleh baginda, maka kelihatan wajah baginda seperti orang terkejut. Hal itu membuat yang hadir di tempat itu menjadi heran. Maka Patih Arya Tuna' lalu bertanya.

   "Ampun Tuanku, kalau boleh dan pantas hamba yang hina ini mengetahui, apa gerangan isi berita yang tercantum dalam surat Ratu Mandalika itu. Apakah surat itu membawa khabar gembira ataukah berita kekecewaan? Hamba mohon supaya baginda menceriterakan seluruhnya kepada kami yang hadir ini, supaya hamba dapat memikirkan jalan keluarnya. Pada pikir hamba, kurang tepatlah rasanya, bila penderitaan itu disimpan saja di dalam hati sendiri." Raja Bumbang kemudian bersabda.

   "Begini, para Patih, begitu pula sekalian pembesar negeri yang sekarang berada di tempat ini. Surat balasan dari Putri Mandalika sudah kita terima. Namun rupanya malang yang menyertai kita. Di dalam surat ini Sri Ratu menyatakan dirinya masih kecil dan belum waktunya untuk memikirkan masalah keluarga. Bagaimana menurut pikiran patih sekarang?"

   "Ampun Tuanku," jawab Patih. "Biarkan saja, tenang saja Tuanku. Kalau hari ini Sri Ratu menyatakan dirinya masih kecil, pada hari esoknya akan pasti beliau makin besar. Jadi, dalam hal ini kita sama sekali tidak perlu kuatir Tuanku."

   "Memang demikian jugalah pikiranku," sabda Raja kemudian. Untuk selanjutnya Patih Arya Tuna' menyambung sembah.     

     "Begini Tuanku, di dalam negeri Tuanku ini, tak terbilang banyaknya orang-orang yang dapat dikatakan pandai. Bisa dalam segala hal Tuanku. Terutama sekarang yang akan kita cari ialah yang paling hebat dalam mengamlakan ilmu gaib atau ilmu bathin. Hamba pikir, tidak salah kalau kita pergunakan  guna-guna dengan maksud untuk mendewasakan sang Putri. Bukankah di dalam negeri ini ada guna-guna yang bernama, Jaring Sultra, ada  si Romtok, ada pula Kao Ngae' Mate Anak dan masih banyak lagi yang lain-lain. Kita hanya tinggal pilih saja, yang mana akan kita pakai. Agar sekali pakai, sudah cukup membuat ia lupa daratan." Raja kemudian bersabda.

    "Perkara itu, Patih berdualah yang akan saya serahkan. Pokoknya, saya hanya tahu beres dan sukses. Bagaimana langkah-langkah  kebijaksanaan yang diambil, itu paman patih lah  yang punya persoalan. Bukankah demikian Paman Patih?"

    Arya Tuna' lalu menghaturkan sembah lagi, "Beres Tuanku, ha...ha....ha, hamba yang akan menyelesaikan masalah ini, mari Arya Jange' kita mulai bersiap-siap dari sekarang."

    Lalu kedua patih itu pun mohon diri kepada raja. Begitu pula halnya dengan Raja Johor. 

    Setelah menerima surat balasan dari Ratu Mandalika, dan setelah selesai dibaca akan segala apa yang terkandung di dalamnya Raja Johor pun hilang keseimbangannya. Raja kelihatan hanya termenung saja, engan keringat dingin membasahi wajah baginda.

    Lalu Arya Babal memberanikan diri menghaturkan sembah, "Ampun Tuanku, kabar apakah gerangan yang termuat dalam surat Putri Mandalika itu? Cobalah tuanku bercerita barang sedikit pada hamba, barangkali hamba dapat membantu untuk meringankan penderitaan bathin Tuanku walau hanya sedikit."

    "Begini Paman Patih," sabda Baginda lesu. "Tentang isi surat balasan dari Ratu Mandalika, saya ceritakan saja secara terus terang padamu Patih berdua, bahwa sekarang ini kita ini dari pihak yang malang. Malang dalam dalam arti Ratu Mandalika belum hendak memikirkan masalah rumah tangga. Demikian saja secara singkat isi surat balasan itu. Dan sekarang bagaimana menurut pikiran Patih?"

    "Kalau demikian halnya," sembah Patih Arya Babal," menurut hemat hamba hal itu tidak perlu menyebabkan Tuanku sakit. Malah, menurut pendapat sementara orang, makin sulit kita mendapatkan sesuatu, barang tersebut nilainya makin tinggi. Tuanku Hamba pikir, terlalu cepat kita mendapatkannya juga, hamba kuatir akan berakibat yang kurang baik." "kalau demikian bagaimana akal kita selanjutnya Paman Patih?"

    "Ampun Tuanku," sembah Patih Arya Babal selanjutnya. "Didalam negeri Tuanku bukan main banyaknya rakyat Tuanku yang tergolong orang-orang besar dan pintar dalam memainkan ilmu guna-guna. Bukti telah banyak menunjukkan Tuanku, bahwa hal itu jarang sekali meleset. Sekali hantam, sudah cukup. Dan sekali lagi hamba mohon diampuni Tuanku, bahwa kalau untuk ratu Mandalika, memang sepantasnya kita berusaha dengan segala daya untuk mendapatkannya. Singkat juga hamba akan ceritakan, bahwa Ratu Mandalika, tidak jauh bedanya dari apa yang hamba lihat, bagi hamba sendiri, demi untuk mendapatkan Ratu Mandalika. Tidak ada halangannya untuk mengorbankan segala apa yang ada, dan untuk hamba demi kebahagiaan Tuanku, biar hamba akan menyeberangi lautan api sekali pun akan hamba laksanakan. Gunung tinggi takkan jadi halangan, lembah curam takkan jadi rintangan dalam hamba mencari ikhtiar, guna mendapatkan Ratu Mandalika."

    Maka untuk waktu-waktu selanjutnya, kedua patih baik dari Kerajaan Lipur maupun Kerajaan Sawing, giat mencari seorang dukun yang paling terkenal, temapt akan meminta jampi-jampinya atau guna-guna. Setelah beberapa lama mereka mencari, masing-masing kini telah memperolehnya.

    Patih Arya Tuna' dari Kerajaan :Lipur akan mempergunakan ilmu yang diberi julukan Jaring Sutra, yang terkenal pada waktu itu mempunyai kekuatan gaib yang sangat luar biasa, sedang Patih Arya Babal dari Kerajaan Sawing akan mempergunakan ilmua yang diberi julukan Utusan Allah, yang keampuhannya sukar dicari bandingannya.

    Jaring Sutra akan dipergunakan melalui sebatang sapu padi yang ditaruh disuatu tempat, yang apabila dapat mengenal salah satu pakaian sang putri, baik kainnya, maupun selendangnya atau pun bajunya, maka sudah tidak ampun lagi. Sang putri pasti akan selalu mengenang dan ingin selalu segera berjumap dengan Raja Putra pujaan hati, untuk segera dapat melepaskan rindu dendam yang membara di dalam hati. Dengan segala macam daya, setelah melalui bermacam-macam rintangan yag hampir-hampir membawa korban jiwa, akhirnya pada  suatu waktu, Arya Tuna' dapat melaksanakan rencananya dengan baik sekali. Tak ayal lagi sejak waktu itu putri sudah mulai pusing memikirkqn gejolak hati yang sedang berkecamuk di dalam kalbu.

    Demikian pula halnya dengan Patih Arya Babal dari Kerajaan Sawing. Ia pun dengan segala tipu muslihatnya setelah ia melalui bahaya-bahaya yang hampir-hampir memisahkan kepalanya dari badannya, akhirnya pada suatu saat dapatlah ia melempar sang Putri dengan tangkai daun pinang yang dibelah menjadi empat bagian.

    Karena hanya dengan melalui daun pinang inilah ilmu Utusan Allah dapat dipergunakan.

    Diceritakan selanjutnya, setelah sang Putri kena dengan lemparan daun pinang ini, sejak saat itu pula Sang Putri sudah tak dapat lagi mengendalikan hati dan pikirannya secara normal.

    Pembicaraan sehari-hari dengan pembesar-pembesar negeri kebanyakkan pulangnya hanya membicarakan Raja Johor di negeri Sawing saja. Dari sehari ke sehari keadaan sang Putri makin parah saja. Kedua Raja Putra, sudah tak dapt dilepaskan lagi dari lubuk hatinya. Ia tak dapat membedakan kepada Raja Putra yang mana ia lebih condong. Sehingga pada suatu saat tatkala Sri Ratu sudah tak sanggup lagi membendung gejolak hatinya, iapun memanggil patihnya.

    Setelah Patih Rangga Dundang dan Patih Rangga Nyane sudah berada di depannya, maka dengan disertai air mata yang deras mengalir, Sri Ratu mengemukakan apa yang terkandung dalam hatinya. Katanya,

    "Paman Patih! Hari ini saya akan berterus terang pada paman, bahwa selama saya menjalani usia sampai pada saat ini hanya pada saat sekarang inilah saya mengalami perasaan yang seperti ini. Sehingg untuk beberapa lagi, kemungkinann penderitaan ini sudah tertahankan lagi, yang mungkin akan berakibat yang sangat besar pada diriku. Cobalah sekarang juga paman patih carikan olebt untuk diriku.Atau bagaimanakah sikap kita baik menurut paman patih sekarang."

   "Paduka Sri Ratu, jungungan seluruh rakyat di negeri Sekar Kuning ini, demikian jawab Patih Rangga Dundang "Hamba tidak dapat memberikan suatu pertimbangan sebelum kami mendengar bagaimana pendapat Sri Paduka trlebih dahulu."

   "Begini paman Patih," jawab Ratu Mandalika selanjutnya Menurut pikiran saya, bagaimana kalau kita undang saja kedua Rajan Putra ke negeri kita. Hemat saya, hanya inilah jalan satu-satunya yang aman dan bijaksana. Kalau pun pikiran saya ini akan mendapat tantangan dari kalian, saya tidak tahu,apa akan jadinya dengan naku."

   Maka jawab patih Rangga Dundang, "Kalau begitu menurut pikiran hamba juga sangat tepat." Surat undangan yang akan ditujukan kepada kedua raja putra pun segera dibuat. Setelah selesai, maka yang satu dikirimkan kepada Raja Bumbang di negeri Lipur, sedang yang satu lagi dikirimkan kepada Raja Johor di negeri Sawing.

   Adapun isi kedua surat undangan itu sama. Dalam surat itu Raja Putri mohon  kepada kedua raja putra, untuk sudi datang ke negeri Sekar Kuning bersama seluruh rakyatnya. Kedua raja putra dimohon kedatangannya pada hari Senin disuatu tempat yang telah ditentukan, dengan harapan selanjutnya mudah-mudahan kedua raja putra tidak ada yang brhalangan untuk datang pada waktu tersebut.

   Selang beberapa lama, tibalah saat yang dinanti-nantikan. Raja Bumbang yang datang dari arah timur akan hadir lengkap dengan seluruh rakyat dan kebesarannya.

   Begitu pula Raja Johor yang datang dari arah barat, juga akan hadir dalam pertemuan itu lengkap dengan seluruh rakyat dan kebesarannya. Maka pada waktu itu, semua penghuni hutan sama menyingkir, memberikan jalan kepada manusia yang sangat banyak jumlahnya itu.

   Seluruh rakyat dari kedua negeri, tak ada yang mau ketinggalan. Mereka semua ingin menyaksikan pertemuan raja mereka masing-masing dengan kekasihnya Ratu Mandalika.

   Setelah siap semuanya, maka kedua raja putra dipersiapkan oleh Patih Rangga Dundang dan Patih Rangga Nyane untuk bertemu dengan Sri Ratu, berhubungan Sri Ratu pun sudah siap akan menerima tamunya. Setelah berhadap-hadapan, Sri Ratu pun segera menegur tamunya. "Kekasihku kedua Raja putra Agung.

   Pertama-tama dalam kesempatan ini hendak saya permaklumlkan bahwasanya kedua Raja Putra sudah sama jatuh hati pada diri saya yang hina ini. Namun sayang beribu sayang, saya belum dapat memenuhi maksud kedua raja putra. Hal ini disebabkan tiada lain karena diri saya ini masih terlalu kecil. Sekarang adapun maksud saya mengyndang kedua raja putra untuk   datang di tempat ini, tiada lain hanya dengan maksud memenuhi Titah Yang Maha Agung. Barangkali memang sudah ditakdirkan, bahwa diri saya ini harus saya persembahkan kepada kedua raja putra.

Dan hal ini pun akan saya lakukan dengan sepenuh hati diiringi dengan keikhlasan yang semurni-murninya. Oleh karenanya, sekali lagi saya mohon dengan sangat hormat, supaya kedua raja saya nanti setelah sampai bulan yang kesepuluh pada tanggal sembilan belas atau tanggal dua puluh.

   Nah, inilah janji saya pada kedua raja putra. Dan pada waktu penyerahan diri saya nanti, saya mohon juga untuk disaksikan oleh seluruh rakyat. Nantikanlah kedatangan saya ditepai pantai nanti. Harapan saya selanjutnya, supaya kedua kekasihku dapat  mempercaya diriku, bahwa saya takkan mungkir janji saya pasti datang pada waktu yang telah saya tentukan tadi. Saya kira sudah tak ada lagi yang patut saya kemukakan dalam kesempatan ini dan sekarang saya persilakan kedua Raja Putra kembali ke negeri masing-masing. Saya ucapkan selamat jalan dan sampai bertemu nanti."

   Kedua raja putra dengan seluruh rakyatnya segera bersiap-siap untuk kembali ke negeri masing-masing. Dan mulai dari saat itu  pula, seluruh rakyat sudah mempersilakan diri masing-masing untuk dapat turut serta nanti menyaksikan penyerahan jiwa raga Ratu Mandalika.

   Lama- kelamaan waktu yang dinanti-nantikan makin dekat juga. Sekarang sudah bulan yang ke tujuh, berikut bulan kedelapan dan sembilan. Akhirnya bulan yang ke sepuluh sudah berada di ambang pintu.

   Tanggalsatu, dua...sepuluh ....lima belas....sampai akhirnya sampailah pada tanggal sembilan belas. Pada tanggal sembilan belas ini, semua rakyat dari kedua kerajaan sudah siap di pantai. Malah ada yang sudah berangkat sejak tanggal sebelas, tanggal dua belas dan seterusnya. Mereka semua ingin menyaksikan penyerahan jiwa raga Ratu Mandalika kepada kedua raja putra.

   Dengan hati berdebar-debar semua rakyat menantikan dngan sabar, bagaimana seorang ratu akan menyerahkan dirinya kepada dua oarang kekasihnya.

   Raja siapa yang akan memperolehnya? Bagaimana kalau seorang raja saja yang dapat memiliki sang ratu? Bermacam-macam pikiran ynag menyelimuti seluruh rakyat. Demikian pula kedua raja putra menjadi bingung juga bagaimana Ratu Mandalika akan dapat memenuhi janjinya.

   Akibat dari perasaan harap-harap cemas ini, seluruh hadirin yang menantikan kedatangan Ratu Mandalika, sama sekali tidak menghiraukan derasnya angin malam atau pun bunyi halilintar yang hampir-hampir membelah angkasa layaknya.

   Tempat berteduh dari hujan yang turun pun tidak disediakan orang. Pikiran dan perasaan hanya tertuju pada kedatangan sang Ratu saja.

   Semalam suntuk tak ada diantara mereka yang berniat untuk tidur. Mereka semuanya selalu bersip- siap di pantai. Ada yang menantikan sambil duduk-dududk ngobrol, ada juga yang berjalan-jalan di sepanjang panatai dan macam-macam tingkah perangai mereka masing-masing.

   Di saat-saat ini, terutama para pemuda -pemudi kebanyakkan menghabiskan waktu mereka dengan berpantun. Segala apa yang terpendam di dalam kalbu, pada saat ini mereka cetuskan melalui pantun. Begitu seterusnya mereka saling ajuk perasaan masing-masing hanya dengan pantun malulu. Sehingga waktu malam sampai fajar menyingsing terasa amat singkat.

   Tiba-tiba mereka melihat sinar di angkasa raya. Mereka semua terkejut. Apakah ini dia Ratu Mandalika yang akan memenuhi janjinya? Betulkah sekarang ini Ratu itu sudah akan datang untuk memenuhi janjinya?

   Mereka saling bertanya pada diri mereka masing-,masing, singkat cerita, Ratu Mandalika yang pada malam itu berdandan dengan amat luar biasa dengan perhiasan-perhiasan selengkapnya, betul-betul dinihari itu datang untuk memenuhi janjinya kepada kedua raja putra.

   Ratu Mandalika hadir di tempat itu dengan mengambil tempat diatas sebuah batu. Cahayanya terang benderang. Tak lama antaranya terdengarlah kata-kata sang Putri dengan jelas.

   "Hai kekasihku, kedua raja putra yang sangat kucintai inilah Ratu Mandalika Nyale, telah datang sekarang akan memnuhi janjinya. Tetapi sebelumnya, terlebih dahulu saya akan bertanya, apakah sudah lengkap yang hadir di tempat ini untuk menyaksikan penyerahan jiwa ragaku?"

   "Sedah lengkap. Kami semua telah hadir di tempat ini, guna turut serta menyaksikan penyerahan jiwa raga  tuan Putri," jawab rakyat seluruhnya dengan serempak.

   "Kalau demikian, baiklah. Sekali lagi saya perkenalkan diri saya, bahwa inilah Ratu Mandalika Nyale yang tidak akan pernah mungkir janji. Dan sekarang terimalah penyerahan jiwa ragaku kepada semua yang hadir di tempat ini. Jadi bukan semata-mata jasadku akan diterima oleh kedua raja putra, melainkan oleh semua rakyat, dari golongan yang paling rendah, sampai yang paling tinggi.

   Juga dri yang paling muda sampai dengan yang paling tua. Yah, saya kira inilah waktunya, dan terimalah........kemudian daripada itu......

   Dengan titah dari yang Maha Agung dan Maha Pencipta pada waktu itu datanglah ombak besar setinggi gunung. Kemudian menelan sang Ratu dari tempatnya berdiri di atas batu tadi.

   Seketika itu juga, jasad sang putri hilang ditelan gelombang dan masuk ke dalam laut. Kejadian itu berlangsung dengan amat cepatnya.

   Setelah kedua raja putra sadar dari apa yang telah terjadi, maka ia pun memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mencari Ratu Mandalika Nyale di dalam laut itu.

Seluruh rakyat pun segera turun ke laut mencari sang putri, Akan tetapi dari sekian banyaknya orang yang turut mancari, tak seorang pun yang menemukannya. Mereka hanya menjumpai binatang berbentuk cacing yang amat banyaknya.

   Binatang apa gerangan ini? pikir mereka,    Karena banyaknya yang mereka jumpai,lalu ada sebagian orang yang mengumpulkanya. Kemudianditaruh pada bakul-bakul dan tempat-tempat lainnya. Ratu Mandalika Nyale sama sekali tidak ada dijumpai mereka. 

   Kemudian binatang yang berbentuk cacing itu dipersembahkan kehadapan raja. Raja memperhatikan binatang-binatang itu dengan seksama. Tak lama kemudian, lalu raja memerintahkan kepada rakyatnya untuk memasak binatang laut itu.

   Perintah raja segera dikerjakan. Dan setelah masak, raja lalu memerintahakan kapeda untuk dicicip. Beberapa orang lalu mencicipi binatang laut itu setelah masak.

   "Wah enak benar, saya tidak pernah menjumpai makanan selezat ini, " katanya. Lalu orang banyak pun turut memakan binatang laut itu. Raja lalu bersabda.

   "Kalau demikian, maka binatang laut yang berbentuk cacing itu adalah penjelmaan dari Ratu Mandalika Nyale. Inilah yang dimaksudkan oleh Sri Ratu bahwa jasadnya akan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

   Konon diceritakan selanjutnya, tatkala Ratu Mandalika Nyale ditelan oleh gelombang laut tadi, maka atas izin Allah Yang Maha Kuasa seluruh jasad sang putri berubah dan menjelma menjadi sejenis binatang, yang sampai sekarang terkenal dengan nama “NYALE”.

   Dan sampai sekarang, nyale yang dapat ditangkap setiap musimnya, warnanya bermacam-macam. Sehingga karena itu, pada waktu penangkapannya, kelihatan cahaya terang benderang dengan areal yang agak luas pula.  Dan sepanjang-panjangnya nyale ini kira-kira sepanjang tali sepatu kedes.

   Maka sampai di sini, selesailah cerita tentang Ratu Mandalika Nyale. Kalau pun terdapat kekuruangan, kami harap diamaafkan.

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Raja Tonjeng Beru"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel