Cerita Ladang Adobala

Alkisah Rakyat ~ Pada jaman dahulu kala di sebuah negeri hiduplah dua orang bersaudara, yang sulung bernama Loku dan yang bungsu bernama Adobala. Mereka berdua hidup sebagai petani. Di samping itu Loku menyadap nira pagi dan petang. Dan Adobala mengisi waktunya pada malam hari dengan memancing ikan di laut. Demikianlah pekerjaan yang mereka lakukan setiap hari dengan penuh saling pengertian. Namun keadaan ini tiba-tiba berubah sama sekali. Kerukunan, kesetiaan dan saling pengertian cepat berubah menjadi suatu tragedi yang tidak dapat didamaikan.


Begini kisahnya: Pada suatu hari Loku meminjam alat untuk memancing ikan dari  Adobala. Loku ingin sekali mencoba bagaimana rasanya memancing ikan di malam hari, sambil berharap bisa memperoleh ikan yang besar untuk dibawa pulang seperti adiknya Adobala.

Pertama-tama yang dibuat Loku ialah memberi umpan pada mata kailnya kemudian dilemparkan pancing ke dalam laut. Ditunggunya dengan sabar sambil memegang tali pancingnya. Tiba-tiba Loku merasa sentakan-sentakan halus pada tali pancing yang dipegangnya. Loku siap untuk menghadapi keadaan yang demikian, malah di dalam hatinya ia berbicara, "Makanlah lekas umpanku itu." Tetapi apa lacur dengan tiba-tiba dirasanya suatu sentakan yang keras sekali dan langsung memutuskan tali pancingnya. Seekor ikan yang besar telah memutuskannya. Harapan Loku menjadi buyar.

Ia menjadi panik serta gelisah. Tali serta pancingnya telah dilarikan oleh ikan. Dengan perasaan malu dan takut ia pulang mendapatkan adiknya. Diceriterakan segala sesuatu yang telah terjadi, tetapi Adobala tidak mau tahu semua itu, ia tetap menuntut pancingnya itu kembali, disertai caci maki yang sangat memalukan. Adobala melarangkakaknya masuk ke dalam rumah. Harus segera malam itu juga pergi mencari pancing yang hilang itu serta sepotong talinya. Loku masih agak lambat sedikit langsung diusirnya. Hancur luluh hatinya mendengar kata-kata dari adiknya itu. Bagaimana jadinya nanti kalau pancing dan sepotong tali pancing itu tidak ditemukannya? Di tengah perjalanan menuju pantai ingatan Loku hnya tertuju pada adiknya yang sangat dikasihinya itu.

Matahari pagi mulai bersinar dengan terang, Loku mulai melanjutkan mencari pancing adiknya. Batu karang di dalam laut itu satu -satu dibaliknya. Pokoknya apa saja yang ditemukan diteliti benar-benar. Bila hari mulai petang, Loku mulai gelisah. Dimana ia harus tidur? Mau pulang ke rumah ia sangat takut sekali kepada Adobala. Satu-satunya jalan ia panjat pohon bakau di tepi pantai untuk tidur di malam hari. Pagi hari tanpa mengisi perutnya ia mulai lagi mencari pancing adiknya. Tiba-tiba dari arah depannya meluncurlah seekor ikan yang besar. Segera Loku mengambil busur serta anak panah dan dibidiknya kan yang besar itu. Tepat benar sasarannya. Ikan itu menggelepar.

Anehnya setelah itu.... di dengar nya salak anjing yang datang dari dasar laut, makin lama makin dekat. Belum semat Loku berbuat sesuatu bermunculan orang dari dalam laut dengan perlengkapan berburu berupa tombak, panah, busur dan parang. Tiba-tiba salah seorang diantaraya berkata kepada Loku: "Hai kawan, apakah kamu melihat seekor babi lari meliwati daerah ini? Anjing-anjing kami kembali dengan badannya berlumuran darah."

"Oh maaf, saya melihatnya. Hanya baru saja saya berhasil memanah seekor ikan besar. Inilah ikannya," jawab Loku dengan sedikit gemetar. "Nah inilah dia yang kami kejar. Kau memang sungguh hebat, orang-orang yang bermunculan dari laut itu melompat-lompat kegirangan." Loku semakin menjadi heran. Ia tidak percaya akan semuanya ini. Apakah artinya ini? Loku bertanya dalam hatinya. Orang-orang yang bermunculan tadi berkata lagi: "Karena kamu yang mematikan buruan kami, maka kamu pulalah yang berhak untuk mendapat bagian yang terbaik serta lebih banyak dari kami. Akan tetapi bukan di sini pembagian itu, melainkan harus dilakukan ditempat kami." Mendengar ini Loku sadar bahwa ia harus mengikuti orang-orang itu masuk ke dalam laut. Oleh karena itu ia berkata kepada mereka katanya: "Hai kawan-kawan saya tak mungkin mengikuti kamu ke dasar laut."

Mendengar ini salah seorang pemimpinnya berkata demikian. "Tak usah takut, ikut saja apa yang kami katakan. Tutup matamu.... buka lagi." Loku mengikuti semuanya. Sewaktu Loku membuka matanya, bukan main herannya, mulutnya ternganga lebar-lebar. Ia melihat suatu pemandangan yang amat indahnya. Suatu panorama yang belum pernah dilihat selama hidupnya. Perjalanan diteruskan menuju sebuah kampung. Lagi-lagi Loku melihat segalanya indah melebihi apa saja pernah dinikmati, dilihat dan dirasakannya di dunia. Disini baru Loku sadar bahwa orang-orang yang mengakaknya itu adalah makhluk-makhluk halus.

Setelah mereka memasuki kampung itu tiba-tiba mereka berkata kepada Loku: "Mari kita bakar hasil buruan ini. Tetapi sebelumnya kami minta pertolonganmu." Setelah itu seorang pemimpinnya mendekati Loku dan berkata: "Raja kami sedang berada dalam keadaan sakit, seluruh mulutnya membengkak. Hal ini berlangsung sejak tiga hari yang lalu sejak ia kembali dari berburu. Barangkali kamu dapat menolongnya." Baiklah! akan saya periksa dahulu tapi maaf, apabila saya tidak dapat menolongnya." Ketika Loku menaiki tangga rumah ia sangat terkejut. Betapa tidak. Tali pancing adiknya yang sedang dicarinya itu terentang menuju ke dalam rumah. Rupa-rupanya orang halus itu tidak dapat melihatnya.

Dengan perlahan-lahan Loku mengambil tali pencing itu dan digulungnya dengan hati-hati sekali. Ia berlagak sebagai seorang dukun yang sedang mengusir roh-roh jahat. Alangkah terkejutnya Loku karena rentangan tali pancing itu berakhir dalam mulut sang Raja yang sedang sakit itu. Melihat begitu kekarnya badan raja itu ia teringat kembali akan sentakan pada tali pancingnya yang begitu keras sehingga tali pancingnya itu putus.

Kemudian Loku mengambil sirihpinang, setelah dikunyah disemburnya beberapa kali pada leher dan bagian lain yang sakit. Sewaktu Loku meminta agar raja itu membuka mulutnya, jelas terlihat pancing adiknya tertancap pada rahangnya. Tanpa buang waktu lagi Loku mencabut mata kail yang berada dalam mulut raja itu. Begitu selesai dicabut, ia langsung menjadi sembuh. Loku keluar dari rumah raja itu sambil memegang erat mata kali itu. Diluar rumah orang-orang halus itu telah siap-siap menyambut Loku. Mereka gembira sekali karena raja mereka telah sembuh dari sakitnya. banyak hadiah mereka persembahkan pada Loku antara lain gading, emas, dan barang-barang berharga lainnya.

Sekali lagi Loku disuruh memejamkan matanya kemudian disuruh membuka kembali. Loku sudah berada di tempatnya semula sewaktu ia bertemu dengan orang-orang halus tadi. Dengan gembira Loku pulang mendapatkan adiknya yang sedang berada dalam kesedihan menyesali perbuatannya, sehingga ia kehilangan kakaknya yang selama itu saling hidup rukun dan damai. Namun kesedihan itu lenyap setelah dilihat kakaknya kembali. Mereka berdua saling bermaaf-maafan. Hidup mereka berdua kembali seperti biasa, masing-masing dengan pekerjaannya.

Pada suatu hari Loku meminta Adobala menyadap lontarnya ia berhalangan. Adobala menerima permintaan kakaknya. Namun apa yang terjadi? Nira yang telah diambilnya, ketika dalam perjalanan pulang bambu yang penuh nira itu terputus talinya. Semua nira yang berada di dalamnya tertumpah. Adobala menjadi takut. Ia sudah mengira apa yang akan terjadi atas dirinya. Pasti kakaknya akan lebih ganas lagi, apabila mengetahui nira dalam bambu sudah tiada. Tentu ia akan membalasnya. Memikirkan semua ini Adobala menjadi bingung. Pulang ke rumah, takut menghadapi kakaknya. Langsung saja menghilang iapun tak berani. Akhirnya Adobala mengambil keputusan untuk pulang saja ke rumah menemui kakaknya. Mungkin ini suatu hukum karma baginya. Tiba di rumah sebelum Adobala menceritakan sesuatu, Loku sudah dapat mengira apa yang sudah terjadi. Ini semua dapat dibacanya dari wajah, dan sepak terjang dobala sewaktu menghadapinya.

Langsung Loku menghujaninya dengan kata-kata yang sangat memalukan dan menyakitkan hati. Malah belum puas lagi Loku mengusirnya sambil bersumpah: "Hai anak keparat, anak setan, pergilah dari rumah ini, engkau tidak akan berdamai dengan saya sebelum nira yang tertumpah itu dapat diambil kembali." Demikianlah kata-kata yang keluar dari mulut Loku terhadap Adobala sambil memegang sebilah parang yang terhunus. Dengan perasaan sedih Adobala pergi meninggalkan kakaknya yang sedang kalap itu. Ia berjalan sambil menangis karena apa yang dibayangkan tadi kini sudah menjadi kenyataan. Tiba di tempat dimana tadi nira tertumpah ia mengorek-ngorek tanah yang basah oleh nira itu dengan harapan kalau-kalau nira tadi masih dapat tergenang. Namun semua harapannya itu sia-sia. Sesudah tanah yang basah itu habis dikoreknya perasaan semakin takut. Masih terngiang-ngiang di dalam telinganya ancaman yang dilontarkan kakaknya: "Akan kubunuh kau bila tak kau temukan kembali niraku yang sudah tertumpah itu." Dalam ketakutan itu akhirnya Adobala mengambil suatu keputusan untuk melarikan diri saja ke hutan untuk menyingkir dari kejaran kakaknya.

Tiba-tiba di dalam hutan ada suatu yang didengarnya: "Hai Adobala, apa yang engkau tangisi?" Adobala terkejut, ia menoleh dan.... yang berbicara tadi adalah sebatang pohon Lua. "Hai kawanku, tolong saya. Saya akan dibunuh oleh Loku kakakku sendiri karena menumpahkan niranya." "Bagaimana caranya saya akan menolongmu?" jawab Lua. Adobala berkata lagi: "Terserah saja padamu. Yang penting saya bisa terhindar dari kejaran kakakku!" "Kalau demikian marilah kita pergi kelangit saja. Disana engkau pasti aman, hidupmu akan menjadi senang. Tanahnya lebih subur dan kau dapat berkebun di sana." Mendengar ini Adobala menjadi heran sambil bertanya kepada Lua: "Bagai mana caranya kita kesana." Lua menjawab: "Gampang sekali, hal itu jangan engkau pikirkan. Yang penting engkau setuju atau tidak. Soal kelangit adalah urusanku."

Sambil berkata demikian, Lua menyuruh Adobala duduk di atas bahunya. "Saya akan menjalar sampai ke langit untuk membawa engkau ke sana." "Dalam sekejap saja Adobala telah sampai kelangit bersama Lua. Setelah itu Lua kembali ke bumi. Beberapa saat sesudah Lua kembali dari menghantarkan Adobala, Loku pun tiba dtempat Lua. Langsung Loku bertanya kepada Lua: "Dimanakah adikku Adobala kau sembunyikan?" "Aku tidak tahu," jawab Lua." Jangan engkau bohong," kata Loku kepada Lua lagi. "Saya tahu engkau telah membawanya ke langit. Kalu tidak akan kubunuh engaku." "Aku tidak sedi membawamu Loku." "Kalau demikian akan kubunh engkau sekarang juga." "Terserahlah padamu."

Sangking marahnya, Lua ditebangnya. Loku...tak dapat ke langit, sebaliknya Adobala sudah tidak ada kemungkinan lagi untuk kembali ke bumi. Dilangit Adobala dengan leluasa membuka kebunnya. Pagar-pagar kebunnya terdiri dari gugusan-gugusan bintang yang terderet itu akan tampak bersinar pada bulan Mei dan Juni. Apabila orang-orang melihat ini makna mereka mengetahui bahwa itulah kebun ladang dari Adobala atau biasa disebut Adobala Neteken. Dan hal ini menandakan bahwa Adobala sedang memetik hasil kebunnya atau sedang panen. Demikian pula orang-orang di bumi bila melihat tanda-tanda itu berarti pula mereka sudah waktunya untuk panen atau mengambil hasil kebunnya.

Sampai kini semua orang di Flores Timur terutama di Kecamatan Wulan Gitang, apabila melihat Adobala Neteken sudah muncul di langit, ini bertanda bahwa musim menuai telah tiba. Mereka mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Lumbung-lumbung mulai dibersihkan, tali-tali pengikut mulai dipersiapkan. Dan tali-tali itu tidak lain adalah  pohon Lua, sejenis tanaman menjalar yang sampai kini banyak terdapat di hutan-hutan Flores Timur. 

Sumber : Ceritera Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Ladang Adobala"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel