Cerita Kolo Bian

Alkisah Rakyat ~ Dalam sebuah kampung yang bernama We-Kto-Talaka tumbuhlah sebuah pohon beringin besar tepat di depan istana dari raja Malaka. Daunnya sangat rindang. Pohon beringin itu biasa disebut dengan nama Hali Malaka.


Suatu ketika hinggaplah seekor ayam betina pada salah satu cabang beringin itu. Ayam betina itu dikirim oleh Nai Maromak atau Yang Mahakuasa ke dunia ini. Bertepatan pula pada waktu itu raja sedang berjalan-jalan menghirup udara segar di bawah pohon beringin tersebut. Setelah dilihatnya ayam betina itu, raja Malaka langsung mengambil sumptnya untuk menyumpit ayam betina itu. Sementara raja mencari-cari tempat yang cukup baik untuk menyumpitnya, tiba-tiba raja mendengar suatu suara yang mengatakan: "Hai tuan raja Malaka, janganlah engkau membunuh saya dengan sumpitmu, sebaiknya marilah kita mengadakan perundingan lebih dahulu." Kemudian ayam betina itu menruskan pembicaraannya demikian. "Tuan raja jangan memubunh saya, oleh karena saya ini adalah utusan dari Yang Mahakuasa datang ke dunia ini untuk menghadap tuang raja." Setelah itu raja Malaka menjawab: "Apa yang harus saya perbuat untuk membantumu?" Balu ayam betina itupun menyahut: "Saya khusus diutus kemari untuk melahirkan bagimu seorang putra yang berbintang dan 'berbulan'"

"Kalau memang benar demikian maksud kedatangan itu, saya sangat berterima kasih dan disambut dengan tangan terbuka. Turunlah segera dari atas pohon itu dan marilah kita sama-sama berdua pergi ke istana."

Setelah mendengar kata-kata dari raja Malaka tersebut, ayam betina itupun langsung terbang kebawah untuk menemui sang raja. Sesampainya di tanah ayam betina itu segera berubah menjadi seorang puteri yang amat cantik sekali. Tanpa membuang waktu lagi, raja langsung mendekatinya seraya menggandengnya membawa masuk kedalam istana. Sejak saat itu juga resmilah sang putri menjaga isteri raja Malaka.

Tiba saat yang baik bagi raja itu menanyakan sehalus-halusnya asal-usul dari isterinya itu. Raja memulai pembicaraannya "Isteriku yang budiman, bolehkah saya mengetahui lebih mendalam tentang asal usulmu yang sebenarnya?" "Baiklah," jawab isterinya. "Saya ini berasal dari Nai Maromak. Kemudian raja bertanya lagi: "Siapakah namamu yang sebenarnya?" Dijawab oleh isterinya: "Saya bernama Liu Rai Kolo Bian. "Kalau memang demikian bahwa engkau adalah sungguh-sungguh seorang Maromak, maka nanti engkau harus membuktikannya dengan anak yang akan lahir dari rahimmu itu benar-benar mempunyai tanda bintang dan bulan." Lalu isterinya menjawab: "Sungguh benar anak yang kulahirkan nanti akan mempunyai tanda bintang dan bulan." Dengan senang hati raja melanjutkan pembicaraannya: "Semoga anak yang sangat kudambakan itu akan terwujud, namun apabila di kemudian hari idamanku itu tidak menjadi kenyataan, maka ini berarti; isteriku yang tercinta, terpaksa engkau harus kubunuh karena ini suatu penghinaan bagiku."

Hampir setahun sudah raja Malaka dan Kolabian hidup sebagai suami -isteri. Seorang putra yang sangat dirindukan hampir menjadi kenyataan. Sang ratu hanya menanti hari yang baik untuk melahirkannya.

Tiba-tiba pada suatu hari raja berkata kepada isterinya, katanya: "Kolobian isteriku yang baik kini tiba saatnya mengadakan suatu perjalanan yang jauh. Maksudnya ialah seperti biasanya tiap-tiap tahun saya mengadkan kunjungan kerja ke seluruh wilayah pemerintahan untuk melihat dari dekat bagaimana peri kehidupan dari rakyat yang sesungguhnya secara langsung. Satu-satunya pesan yang saya tegaskan lagi ialah, apabila anak yang akan dilahirkan nanti  seorang putera dan mempunyai tanda bintang dan bulan, maka peliharalah ia baik-baik sampai saya kembali, akan tetapi bila tidak mempunyai tanda demikian ini berarti bahwa ajalmu sudah tiba, hanya menantikan saatnya kedatanganku kembali, untuk mencabut nyawamu."

Setelah berpesan demikian, berangkatlah raja bersama pengawal-pengawalnya untuk selama dua bulan. Tidak lama setelah keberangkatan raja, maka Liurai Kolo BIan melahirkan seorang putra yang tampan serta mempunyai tanda-tanda bulan dan bintang. Oleh karena raja tidak berada di tempat maka isterinya meminta bantuan kepada seorang dukun, tetangga dekatnya. Dukun tersebut bernama Ina Bei Takan Baukau. Pada waktu dukun itu datang membantu ia membawa seekor anak anjing jantan yang baru saja dilahirksn. Begitu bayi itu keluar langsung dukun menyembunyikan bayi ajaib itu dan menggantikannya  dengan anak anjing yang dibawahnya tadi.

Liurai Kolobian ibu dari bayi tersebut tidak mengatahui akan hal itu, karena pada waktu dukun menyembunyikan anaknya dan menukar dengan anak anjing ia belum sadar, atau belum siuman kembali. Ketika ia sadar dilihatnya hanya seekor anak anjing yang ada disampingnya. Mengenai nasib bayinya itu oleh si dukun tadi dimasukkan ke dalam sebuah botol dan dibawanya ke dalam hutan lalu digantungnya pada sebatang pohon. Walaupun bayi itu tidak siberi makan tetapi ia semakin hari semakain bertambah besar karena ia termasuk bayi ajaib.

Liurai Kolobian sejak ia melahirkan dan mengetahi bahwa anaknya itu tidak sesuai dengan jnajinya, maka iapun sangat takut sekali kepada suaminya. Sudah genap dua bulan lamanya, raja Malaka pun kembali ke istananya. Dalam perjalanan pulang yang dipikirkannya tidak lain hanya istetinya yang cantik serta anaknya yang tampan serta mempunyai tanda bulan dan bintang. Tetapi semua harapannya itu buyar setibanya sang raja Malaka di istananya.

Yang dihadapinya kini hanyalah seorang wanita yang  bermuram tengah menyusui seekor anak anjing. Rajapun bertanya kepada isterinya: "Inikah bayi yang engkau janjikan itu?" Lui Rai Rolo Bian tidak menjawab sepatah katapun. Ia diam seribu bahasa.Tanpa ampun lagi Raja Malaka menghunus pedangnya dan sekali ayunkan kepala isterinya terpisah dari tubuhnya. Liu Rai Kolo Bian mati sudah. Jenasahnya dimakamkan di muka pintu istana bagian selatan atau Odamatan Lor. sesudah peristiwa pembunuhan itu raja sehari-harian duduk sendirian di bawah pohon beringin yang rindang dan besar itu sambil memikirkan nasibnya.

Pada suatu hari Bei Busa dengan Bei Asu, keduanya adalah suami - isteri sedang berjalan-jalan di dalam hutan. Tiba-tiba mereka melihat sebuah botol yang sedang tergantung pada sebatang pohon yang besar. Bei Busa berkata kepada Bei Asu suaminya demikian.

"Cobalah engkau panjat pohon itu dan amatilah baik-baik apakah gerangan yang terdapat di dalam botol itu?" "Baiklah, jawab Bei Busa. Segera dipanjatnya pohon itu dan bukan alang kepalang senangnya karena di dalamnya terdapat seorang bayi yang tampan, lagi pula mempunyai tanda-tanda bintang dan bulan.

Botol tersebut diturunkan dan diletakkan di bawah sebuah pohon waru. Tiap-tiap hari Bei Busa dan Bei Asu datang melihatnya.Bayi tersebut semakin hari semakin besar dan akhirnya pecahlah botol itu dan keluarlah bayi tersebut dari dalam botol itu. Bayi tersebut bernama Laun Kiak. Setiap hari Bei Busa dan Bei Asu pergi mencari nafkah sedang Laun Kiak menunggu di bawah pohon waru itu. Laun Kiak dari hari ke hari semakin bertambah besar.

Pada suatu hari ada beberapa anak kecil yang sebaya dengan Laun Kiak brmain-main di lapangan luas sambil menunggang sebatang pohon waru sebagai kuda-kudaan. Mereka mengajak Laun KIak untuk bermain bersama-sama akan tetapi Laun Kiak menjawab; "Saya tidak mempunyai Kabau ai kfau los. Dijawab oleh kawan-kawannya; "Mintalah pada ayahmu!" "Mana bisa, karena ayahku seekor anjing sedang ibuku seekor kucing." Sambil berkata demikian Laun KIak kembali ke tempat tinggalnya dibawah pohon waru. Setelah ia tiba langsung saja diberitahukannya kepada Bei Asu dan Bei Busa bahwa kawan-kawannya mengajaknya untuk bermain kuda-kudaan. Saya tidak turut serta karena tidak memiliki kuda-kudaan tersebut. Pada hal saya ingin sekali untuk turut serta dalam perlombaan kuda-kudaan yang pelaksanaannya tinggal dua hari lagi. Saya  sudah mendaftarkan diri sebagai peserta dalam perlombaan tersebut. Bei Busa dan Bei Asu bingung mendengarkan keluhan dari Laun Kiak. Dalam kebingungannya itu mereka meminta saran dari Laun Kiak, katanya: "Bagaimana caranya agar kami dapat memperoleh permainan tersebut?" Lalu Laun Kiak menjawab: "Adalah lebih bijaksana  apabila kamu berdua pergi menghadap kepada Yang Mahakuasa dan meminta sebilah pedang dari padanya."

Mendengar saran ini Bei Busa dan Bei Asu berunding. Keputusannya ialah bahwa Bei Asu yang ditugaskan untuk pergi ke Yang Mahakuasa dialam atas untuk meminta sebilah pedang.

Setibanya di sana langsung saja Yang Mahakusasa bertanya: "Hai Asu Kase, mengapa kau datang kemari?" Lalu Asu Kase menjawab, "Ada sesuatu masalah yang akan kami sampaikan kepada Yang Mahakuasa." "Masalah apa itu? Katakanlah segera," "Saya datang ke mari karena disuruh oleh Laun Kiak untuk memohonkan sebilah pedang dari Yang Mahakuasa, gunanya untuk memotong sebatang pohon waru yang akan dibuat menjadi kuda-kudaan. Karena tinggal dua hari lagi Laun Kiak akan turut serta dalam perlombaan lomba kuda-kudaan."

Pada saat itu juga Yang Mahakuasa menyuruh Bei Busa Kase untuk mengambil pedang tersebut dengan cara menggigitnya dan langsung saja kembali ke Raiklaran. Setibanya di bumi pedang tersebut diserahkannya kepada Laun KIak. Laun KIak menerimanya dan langsung pergi memotong sebatang waru dan dibuatnya kuda-kudaan. Setelah selesai dibuat, pedang tersebut diserahkan kembali kepada Bei Asu untuk disimpan baik-baik.

Hari yang dianti-natikan tibalah. Kawan-kawan si Laun Kiak sudah berkumpul semuanya di lapangan. Sementara itu datanglah Laun Kiak dengan membawa kuda-kudaannya. Mereka langsung mengadakan pertandingan dengan berlari-lari mengelilingi lapangan luas itu.

Kebetulan sekali pada saat itu raja Malaka sedang duduk-duduk di bawah pohon bringin di muka istannya. Ia memperhatikan benar-benar anak-anak yang sedang berlari-lari melewatinya itu. Ini disebabkan karena salah seorang dari anak-anak itu mempunyai keanehan. Karena pada dadanya terdapt tanda "matahari," pada pundaknya terdapat tanda "bintang," dan pada dadanya terdapat tanda "bulan."

Setelah melihat ini maka raja Malakapun memanggil anak tersebut: "Hai anak yang baik caobalah datang mendekat." Anak tersebut datang mendekatinya. "Apa sebabnya tua memanggil aku?" Raja langsung saja bertanya; "Siapakah namamu?" Lalu dijawab oleh anak tersebut: "Saya bernama Laun KIak." Raja melanjutkan pertanyaannya: "Dari manakah engkau memperoleh tanda -tanda pada dahi,pundak, dan dadamu itu?" Laun Kian menjawab: "Semua itu adalah kepunyaan sendiri tidak diberikan oleh siapa-siapa.Dan saya ingin menukarkan dengan suatu benda." "Benda apa itu? Raja bertanya lagi sambil mengusulkan agar Laun Kiak mau menukarkannya dengan seekor kuda.

Kemudian Laun Kiak menjawab, "Apapun yang akan tuan berikan tidak akan saya terima kecuali tulang belulang dari seorang manusia yang telah menjadi kering." Tulang belulang yang dimaksudkannya tidak lain adalah tulang belulang dari ibunya Liau Rai Kolo Bian.

Raja pun setuju dan besok harinya, tukar-menukar akan dilaksanakan. Pada saat itu juga raja memerimntahkan para hambanya untuk menggali kubur dari isterinya dan semua tulang belulangnya diambil tanpa ketinggal satupun.

Keesokan harinya Laun Kiak kembali bermain-main dengan kawan-kawannya dilapangan luas itu. Mereka melewati istana langsung menuju ke sungai seolah-olah kuda-kudanya,itu telah haus dan harus diberi minum. Anehnya, kuda-kudaan kawan-kawannya tidak minum air benar-benar tetapi kuda-kudaan dari Laun Kiak minum air seperti kuda yang sebenarnya.

Selesai memberi minum maka pulanglah mereka dengan mengendarai kudanya masing-masing. Tiba i depanm istana rajapun memanggil Laun Kiak, katanya: "Hai Laun Kiak tulang belulang yang engkau inginkan itu sudah tersedia." Mendengar hal ini Laun Kiak langsung saja masuk ke dalam istana untuk melihatnya. Perasaan Laun Kiak memang benar ini adalah tulang belulang ibunya. Tanpa membuang waktu lagi, segera ia menanggalkan tanda-tanda yang ada padanya dan menyerahkannya sendiri kepada raja Malaka. Tulang belulang ibunya dibungkus baik-baik dan dibawanya ke tempat tinggalnya di bawah pohon waru.

Setibanya di sana disimpannya baik-baik. Kepada Bei Busa dan Bei Asu dimintanya agar menyusun tulang-tulang itu sebagaimana mestinya. Tanpa disadri oleh mereka tiba-tiba saja tulang belulang itu sudah berubah menjadi seorang wanita yang amat cantik parasnya. Yang tidak lain adalah ibu kandung dari Laun Kiak sendiri yaitu Rai Kolo Bian. Selang beberapa lama raja Malaka mendengar bahwa isterinya telah hidup kembali dan ia bermaksud akan merampasnya kembali dari Luan Kiak. Akan tetapi segala usahanya mengalami kegagalan. Akhirnya Laun Kiak mengambil suatu keputusan yaitu sebaiknya diadakan perang tanding saja di antara mereka berdua. Siapa yang menang dialah yang akan menguasai Liu Rai Kolo Bian itu.

Hal itu disampaikannya kepada raja Malaka dan disetujuinya. Namun sebelum perang tanding dilaksanakan Laun Kiak pergi menghadap kepada Yang Mahakuasa di alam atas untuk meminta persetujuan dan nasehat atas keputusan yang telah diambilnya itu. Akan tetapi sebelum Laun Kiak berangkat ia berpesan kepda ibunya katanya: "Sekarang saya akan pergi mendapatkan Nai Maromak atau Yang Mahakuasa dan apabila bapak datang menjemput itu tak boleh menurutinya walaupun dengan kekerasan sekalipun. Yang ibu harus lakukan ialah mengambil sebutir telur ayam, buatlah sebuah lubang di tanah, masukkanlah telur itu ke dalamnya dan duduklah di atasnya."

Setelah berpesan demikian, berangkatlah Laun Kiak. Ibunya langsung saja melaksanakan pesan anaknya itu. Pada waktu ia duduk di atasnya telur itu pecah dan dari dalamnya muncullah seekor ayam janyan. Ayam jantan itu langsung terbang, bertenger di atas pohon beringin yang besar di depan istana raja, sambil berkokok:"Kokorekoooo, Laun Kiak mane, sei mai malo funa atu mal lai. O inan feto ikun tama at ona, Kolo Bian feto ikun tama ata ona." Artinya: "Kokorekoooo, Laun Kiak pemuda Laun Kiak, cobalah engkau datang kemari menengok ibumo Kolo Bian. Feto Ikun yang berada dalam keadaan bahaya." Setibanya Laun Kiak langsung saja ia menghadap Nai Maromak atau Yang Mahakuasa itu dan laporkan segala sesuatu yang perlu dilaporkan antara lain, tentang pembunuhan Kolo Bian, kemudian ia berusaha untuk menghidupkannya dan akhirnya hendak dirampas kembali oleh raja Malaka. Karena saya tidak setuju terpaksa saya mengumumkan perang tanding kepada raja Malaka yang tidak lain adalah bapakku sendiri.

Sementara Laun Kiak berbicara dengan Yang Mahakuasa terdengar olehnya kokok ayam dari bumi seperti tersebut di atas tadi. Laun KIak cepat-cepat minta diri dan langsung pulang ke bumi. Perang tidak terelakan lagi antara Laun Kiak dengan bapaknya. Berjam-jam, berhari-hari tetapi tidak ada satupun yang mengalami kekalahan. Akhirnya Laun Kiak dan raja Malaka sama-sama menyetujui untuk menghadap kepada Yang Mahakuasa yaitu Nai Maromak untuk menyelesaikan pertikaian mereka berdua. Namun di alam ataspun masalahnyapun diselesaikan dengan perang tanding. Bapaknya yaitu raja Malaka mengalami kekalahan. Tetapi Laun Kiak tidak membunuhnya hanya mengupas jenggot bapaknya unmtuk ditempelkan pada hulu pedangnya. Bapaknya, kemudian disuruh kembali ke Raiklaran atau ke bumi. Menurut kepercayaan rakyat dimana ceritera ini diambil, pedang yang pada hulunya ada tertempel jenggot raja Malaka itu, hingga kini masih tersimpan dengan bai di Uma Lae Tua atau rumah adat di Weoe, kecamatan Malaka Barat Kabupaten Belu. Sedang Laun Kiak kemudian kembali menjemput ibunya di bumi dan dibawa ke alam atas, kepada Yang Mahakuasa dan di sana Laun KIak menikah dengan tujuh orang puteri atau feto hitu.

Sumber : Ceritera Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur

Belum ada Komentar untuk "Cerita Kolo Bian"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel