Cerita Datu Jeleng

Alkisah Rakyat ~ Inilah sebuah ceritera yang berjudul Datu Jeleng. Dalam ceritera ini akan dikisahkan seorang raja yang miskin. Hal ini ganjil sekali bagi seorang yang mempunyai gelar Raja. Raja ini bergelar Raja Miskin, karena memang demikianlah keadaannya. Raja ini miskin dalam harta benda, iskin pula dalam rakyat dan hamba sahaya. Keadaan seperti ini jarang kita dapati. Pada umumnya seorang raja banyak mempunyai harta kekayaan. Dalam memerintah baginda selalu didampingi oleh seorang permaisuri yang cantik jelita, bertempat tinggal dalam sebuah istana yang megah, penuh  bertatahkan emas, intan dan permata lainnya.


Maka bagi Datu Jeleng semuanya itu tidak ada . Yang menjadi harta bagi Datu Jeleng, hanyalah seekor kuda yang bulunya belang, Kuda itu menjadi tunggangan tetap Datu Jeleng kemana pun baginda pergi. Selain dari itu Datu Jeleng menempati sebuah ruamah yang  sudah bobrok, hampir-hampir tiada berdinding dan hampair  hanya beratapkan langit saja. Sebagai tempat tinggal, Datu Jeleng memilih sebuah desa yang biasa disebut Desa Munggil. Maka sering pula Datu Jeleng dipanggil orang dengan sebutan Datu Munggil. Dikisahkan dalam ceritera, Datu Jeleng mempunyai seorang sahaya yang dekat sekali hubungannya dengan Raja. Sahaya itu bernama Aman Dumaweng. Sahaya inilah yang selalu mendampingi beliau, baik dalam keadaan suka, lebih-lebih lagi di dalam keadaan susah.

Pada suatu hari dipanggillah Aman Dumaweng menghadap  Raja. Setelah Aman Dumaweng datang di hadapan raja, bersabdalah Raja.

"Hai Aman Dumaweng! Sebagaimana kamu ketahui sendiri segala persediaan makanan dalam rumah ini sekarang sudah habis. Oleh karena itu, aku bermaksud untuk pergi meminta bahan pangan ke negeri lain."

"Kenapa Tuan Hamba akan pergi meminta?" jawab Aman Dumaweng.

"Ah, Aman Dumaweng! Yang pasti kita harus pergi meminta bantuan kepada orang yang terbilang kaya. Maka sudah kuputuskan  untuk pergi meminta bantuan Raja Lambe."

"Baik, TUanku," sembah Aman Dumaeeng. "Sekarang begini Aman Dumaweng, aku berangkat lebih dahulu ke desa Lambe. Aku akan menunggang kuda kesayanganku si Belang. Kamu berangkat kemudian."

Maka bersiap-siaplah Datu Jeleng untuk berangat ke Desa Lambe, Dengan singkat diceriterakan bahswa tidak seberapa  lama Datu Jeleng di tengah perjalanan, sampailah baginda di Dasan Lambe. Begitu beliau dilihat datang oleh penduduk Dasan Lambe, segera ia disambut dengan segala hormatnya. Setelah si Belang ditambatkan orang, dan sesudah tempat penerimaan tamu dipersilakan orang, di persilakanlah Datu Jeleng untuk masuk ke rumah orang yang terbilang kaya di Dasan Lambe itu. Maka berkatalah yang empunya rumah.

"Ampun Tuanku! Hamba sangat terkejut dengan kedatangan Tuanku ke tempat hamba ini.Apa gerangan yang menjadi keperluam Tuanku, sehingga Tuanku berkenan datang ke pondok hamba yang buruk ini?"

"Memang benar, : titah Datu Jeleng. "Kedatanganku ke tempat ini memang mengandung suatu maksdu, yang telah lama kurencankan. Sebagaiman kalian maklum, keadaanku selalu dalam kekurangan. Aku adalah seorang raja yang miskin. Maka kedatanganku kemari, dengan maksud tiada lain hanyalah untuk meminta bahan pangan sekedarnya. Namun sebelum itu saya berharap supaya disiapkan terlebih dahulu makanan. Tanaklah nasi dengan tong yang besar, karena sebentar lagi ada tamu yang akan datang menyusul kedatanganku kemari?"

"Baik, Tuanku." Maka segeralah seisi rumah itu menanak nasi dengan sebuah tong yang besar, seperti yang dipesankan oleh Datu Jeleng tadi. Begitu pula lauk pauknya disiapkan pula. Setelah siap semua, maka tepat pada saat itu datanglah Aman Dumaweng di Dasan Lambe itu.

Setelah memberi hormat sebagamana mestinya, Aman Dumaweng dipersilakan orang untuk naik ke rumah, dimana Datu Jeleng juga sedang berada.

"Hai paman! Berikanlah Aman Dumaweng ini makan terlebih dahulu, karena orang inilah nanti yang akan membawa bahan pangan yang akan paman berikan."

Seketika itu juga dihidangkan makanan yang sejak tadi dipersiapkan. Bukan main gembira hati Aman Dumaweng menerima makanan yang sudah siap itu. Apa lagi karena keadaan. Maka  segeralah ia makan dengan lahapannya. Ia tidak pernah menengok kiri atau pun kanan. Ia makan dengan segala nikmat dan lahapnya. Sudah beberapa kali nasinya ditambah, namun Aman Dumaweng masih saja terus makan dengan enaknya. Nasinya asal sudah berkurang sedikit, ditambah lagi. Begitu seterusnya. Lama kelamaan habislah nasi yang satu tong itu. Barulah Aman Dumaweng memandang ke sekelilingnya. Ia merasa sangat puas ketika itu.

"Ampun Tuanku," kata orang yang punya rumah, "Akan hamba tanya terlebih dahulu sahaya Tuanku ini, berapa kekuatannya memikul, untuk membawa padi nanti pada waktu pulang."

"Baik, coba tanyalah sendiri," titah Datu Jeleng. "Hai Aman Dumaweng! Sanggupkah kamu memikul 20 ikat padi?"

Aman Dumaweng tiada menyahut. "Bagaimana kalau 40 ikat?" Ia diam saja. "60 ikat bagaimana?" Diam juga. "80 ikat sanggup?" Aman Dumaweng tetap tidak menyahut. "bagaimana kalau 100 ikat?" Begitu seterusnya ditanyakan, sampai mencapai bilangan 200 ikat. Barulah sekarang Aman Dumaweng menyahut dengan sangat halusnya. "Sedikan saja sebatang bambu yang besar, dan bersihkan dari ujung sampai pangkalnya, untuk alat pemikul," Ini berarti bahwa Aman Dumaweng sudah setuju bilangan 200 ikat itu. Maka segera pula orang menyiapkan bambu, dan menurunkan padi sebanyak 200 ikat itu, untuk dibawa pulang ke Dasan Munggil.

"Baik," kata Aman Dumaweng. Segera pula ia bersiap-siap. Maka berkatalah Aman Dumaweng, "Tolong kalian bantu aku menaikan ke atas pundakku saja."

Beramai-ramailah penduduk Dasan Lambe membantu Aman Dumaweng. Lima belas orang dari sebelah kiri, lima belas  orang dari sebelah kanan, jadi jumlahnya 30 orang semuanya. Setelah dibantu menaikkan padi ke atas pundaknya, maka berlari-lari anjinglah  Aman Dumaweng membawa 200 ikat padi itu. Sedikit pun tiada kelihtan berat beban itu baginya. Semua orang memandang dengan keheranan yang tiada habis-habisnya. Tak seberapa lama antaranya, diceriterakan bahwa sampailah sudah Aman Dumaweng di Dasan Munggil, disusul oleh Datu Jeleng yang datang dengan menunggang kuda si Belang. Setelah beristirahat sejenak, bertitahlah Datu Jeleng, "Nah Aman Dumaweng! Sekarang agak longgar perasaanku sudah. Padi sudah ada. Apa saja yang menjadi kehendakmu, lampiaskanlah. Kamu boleh tumbuk padi sesukamu, sudah itu kamu boleh pula menanak nasi sekuatmu, boleh makan sepuasmu. Kalau kamu ingin ikan daging, tukarlah dengan beras; kalau kamu ingin ayam, tukar pula dengan beras; pokoknyasemua carilah di sini saja semuanya."

Setelah menerima perintah demikian, segeralah Aman Dumaweng bekerja dengan lincahnya.Semua disiapkan dalam jangka waktu yang singkat, lengkap segala-galanya. Datu Jeleng segera dipersilak untuk santap. "Hidangan telah siap Tuanku, hamba persilakan Tuanku untuk bersantap sekarang juga."

"Baik Aman Dumaweng, hidangan apakah yang sudah kamu siapkan untuk hari ini ?" "Entah Tuanku, pokoknya hari ini hidangan yang hamba telah sediakan, adalah hidangan yang cukup istimewa." Sedang asyik-asyiknya Datu Jeleng santap, berkatalah Aman Dumaweng.

"Barangkali Tuanku, untuk lebih sempurna lagi hidangan ini untuk esok harinya, alangkah baiknya jika ikan Tuna kita tangkap, Tuanku." 

"Ah, kamu ini macam-macam saja Aman Dumaweng. Disana pula kita akan dapat memperoleh ikan Tuna?"

"Ada.... Tuanku. Di sana.... didalam sumur di dalam rumah. Sekarang tentu ikan Tuna itu sudah besar, karena lama sekali hamba pelihara dia di dalam tempat itu."

"Bagaimana akal untuk menangkap ikan YTuna itu?" kata baginda.

Gampang tuanku. Kita dapat ,menangkapnya dengan kail. Pada mata kail, kita pasangkan ayam panggang seekor, dan satu sisir pisang hijau yang besar-besar, dan jajan dari beras ketan. Nah itulah syarat - syaratnya. Hanya tiga macam saja. Kalau ada yang kurang, pasti tidak bisa tertangkap."

"Kalau demikian, baik kita coba untuk mengakapnya besok. Kamu sediakan saja segala keperluan untuk itu."

"O, beres. Tuanku. Bukankah itu semua dapat hamba tukar dengan padi yang masih ada. Tuanku? Yang pasti, semua persediaan dapat diambil dari padi itu."

Betul saja. Pada esok harinya, Aman Dumaweng sudah siap dengan segala perlengkapannya. Segera ia menghadap Datu Jelkeng. Segala persiapan sudah selesai, Tuanku. Silakan Tuanku membawanya nanti belakangan. Hamba berangkat terlebih dahulu untuk mempersiapkan tempat, Tuanku mengail nanti. Jadi sekarang hamba mohon diri untuk berangkat lebih dahulu." "Ya, kamu boleh berangkat lebih dahulu, aku akan datang menyusul. Ingat, kita mengail pada sumur di dalam taman. Sampai disana, ia segera masuk ke dalam sumur. Ia membuat sebuah lubang tempat persembunyian dekat dadsar sumur di sebelah samping. Dari atas orang tidak mungkin dapat melihatnya. Aman Dumaweng diam-diam dalam lubang itu. Dari sanalah ia menantikan kedatangan Datu Jeleng yanga akan segera datang untuk memancing ikan Tuna. Tiada berapa lama kemudian, datanglah Datu Jeleng di tempat itu. Baginda menengok ke kiri dan ke kanan, tapi tak seorangpun yang tampak. Heran juga pada pikirnanya. Kemana pula Aman Dumaweng ini. Seketika itu juga ia memanggil -manggil.

"Aman Dumaweng....!" Tetapi keadaan sepi, tiada yang menyahut. "Ah, kemana saja dia. Barangkali kurang keras," pikir Datu Jeleng.

Sekali lagi Baginda berteriak dengan sekeras-keras suaranya. "Aman Dumaweng....!" Sama saja seperti tadi. Tak seorang pun yang menyahut. Memang kurang ajar betul Aman Dumaweng ini. Kemana dia pergi tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Sekali lagi dia berteriak. "Aman Dumaweng...., dimana kamu hai Aman Dumaweng...!" Ah, memang dia tidak ada di sekitar tempat ini, pikir Datu Jeleng. Akan halnya Aman Dumaweng, walaupun dia mendengar namanya terus dipanggil, tapi dia tetap diam seribu bahasa,tak ingin ia diketahui tempat persembunyiannya.

Datu Jeleng tetap berputar-putar di dalam taman, mencari -cari sumur yang dimaksudkan oleh Aman Dumaweng kemarin. Sebuah sumur yang dimaksdukannya itu. Baiklah akan kucoba memancing ikan Tuna di sini. Sekarang mulailah Datu Jeleng mempersiapkan segala sesuatunya. Pertama-tama akan dipakai sebagai umpan, ialah panggang ayam yang sangat besar itu. Setelah dikaitkan pada mata kail, perlahan-lahan ia menurunkan kail itu ke dalam sumur. Begitu kail sampai di dalam sumur terbelalak mata Aman Dumaweng  melihat panggang ayam itu. Sedikit demi sedikt ditariknya tali kail itu ke pinggir sumur. Panggang ayam itu dibukanya, dan dimakannya di tempat itu juga. Bersih, tak ada sisanya sedikit pun. Sampai dengan tulang-tulangnhya bersih sama sekali. Tak lama kemudian, ditariknyalah tali kail itu. Merasa ada tarikan. Datu Jeleng segera menarik kailnya. Disangkanya kailnya sudah mengena, namun belum apa-apa. Umpan sekarang diganti giliran pisang hijau yang jadi umpannya.

"Sekali ini kaiku pasti mengena," pikir Datu Jeleng.

Kail pun segera diturunkan atau dimasukkan ke dalam sumur. Aman Dumaweng, demi melihat pisang satu sisir menari-nari lewat di hadapannya, matanya berkilat-kilat. Ingin segera ia hendak menerkam pisang itu, tetapi untuk sementara waktu, nafsunya masih dapat ditahannya. "Ah sabar dahulu," katanya. "Takkan lari gunung dikejar." Berselang beberapa saat, tali kail yang dipegang Datu Jeleng ditariknya perlahan-lahan ke tepa. Setelah pisang itu dibuka dari mata kail, ia pun menghabiskan pisang itu.

Seperti tadi, tali kail itu ditariknya, yang dibalas oleh  Datu Jeleng dari atas sumur, dengan tarikan yang lebih keras lagi, dengan harapan mudah-mudahan kali ini kailnya mengena. Tetapi apa lancar, tak ada apa-apa yang didapatinya.

"Sial benar," kata Datu Jeleng. "Tetapi sekali lagi, pasti akan dapat juga."

Jajan yang dibuat dari beras ketan itu segera mendapat giliran untuk diturunkan. Setelah dimasukkan kedalam mata kail. Datu Jeleng segera mengulurkan tali kailnya ke dalam sumur. Kali ini Datu Jeleng tidak menunggu tali kailnya ditarik lebih dulu baru ia menariknya. Tetapi begitu kailnya tiba dibawah, tali kail itu segera ditariknya kembali. Sehingga Aman Dumaweng yang baru saja mulai memegang jajan itu tidak sempat menarik tangannya kembali sewaktu tali kail itu ditarik Datu Jeleng. Dengan demikian maka terkenalah tangannya, dan tak kuasa ia untuk membukanya kembali. Saking sakitnya, iapun berteriak-teriak dari dalam sumur,. "Ampun.....ampun.....hamba yang berada didalam sumur.... ampun....!"

"Haram jadah kamu Aman Dumaweng!" teriak Datu Jeleng. "Kiranya kamulah yang menajdi ikan Tuna itu. Pasti sudah kenyang pula kamu memakan apa-apa yang menjadi umpan kailku tadi. Pantas buncit benar perutmu."

"Ampun tuanku.... hamba hanya masuk kedalam sumur, sekedar untuk menggiring ikan Tuna itu, supaya kail Tuanku cepat mengena."

"Pandai benar kamu berbohong, Aman Dumaweng, tetapi sedikit pun aku tak percaya. Sekarang marilah kita pulang saja. Lain kali kamu tidak boleh berbuat seperti ini lagi."

Datu Jeleng dengan diiringi oleh Aman Dumaweng pulang kerumah. Sesampai di rumah, Datu Jeleng terus bersabda,

"Hai Aman Dumaweng, seperti kamu lihat sendiri, atap rumah ini sudah hampir tak ada. Sekarang musim hujan akan segera datang. Bagaimana, apa kamu tidak pernah menyabit alang-alang di kebun?"

"Ampun Tuanku, memang hamba pernah menyabit alang-alang di kebun tempo hari, tetapi hamba belum lagi mengikatnya, Tuanku."

"Kalau demikian, baiklah. Besok pagi, kamu beranhgkat saja duluan kekebun. Disana nanti kamu ikat alang-lang itu, untuk dapat kita bawa pulang. Kamu satu ikat dan untuk aku satu ikat."

"Baik, Tuanku," sembah Aman Dumaweng. Keesokan paginya, Aman Dumaweng cepat-cepat pergi ke kebun, untuk mengikat alang-alang yang akan dipergunakan menjadi atap oleh Datu Jeleng. Setelah selesai ia mengikat satu ikatan alang-alang yang cukup besar, lalu ia memasukkan dirinya ke dalam alan-alang itu. Ia diam dan tak berani bergerak sedikit un. Selang beberapa lama, Datu Jeleng tiba pula di kebun itu. Dia hanya melihat alang-alang satu ikat saja. Lain dari itu tidak ada lagi.

"Ah, kemana lagi setan Aman Dumaweng itu." kata Datu Jeleng, "Masak ia sudah membawa alang-alang satu ikat pulang. Kalau seandainya benar demikian, dimana pula aku berselisih jalan tadi?"

Namun demikian, dicobanya pula untuk memanggil Aman Dumaweng, kalau-kalau ia sedang berada tak jauh darti tempat itu.   

"Aman Dumaweng.......Aman Dumaweng...... Aman Dumaweng...!" Sepi tak ada yang menyahut. Dengan tak berpikir panjang lagi, ikatan alang-alang itu diangkat Datu Jeleng untuk dibawa pulang. "Wah.... bukan main beratnya." Tetapi walu demikian, dipaksanya juga untuk dapat sampai  kerumah. Nafas Datu Jeleng sudah tak teratur lagi, karena beban yang demikian beratnya. Keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Sampai di halaman, ikatan alang-alang itu pun dibanting dengan kerasnya oleh Datu Jeleng. Seketika itu juga terdengarlah teriakan dari dalam ikatan alang-alang itu.

"Ampun Tuangku..... hamba disini......ampun....!" "Setan....jadah.... anak haram..... pantas saja demikian beratnya alang-alang yang kupikul tadi. Kiranya ada anjing di dalamnya." Demikian sabda Datu Jeleng sambil bertolak pinggang. Mata melolot hampir-hampir akan keluar bija matanya karena menahan marah yang amat sangat.

"Ampun tuanku.....hamba masuk tadi ke dalam ikatan alang-alang itu, karena hamba dikejar oleh babi. Kalau saja ikatan alang-alang itu tak ada, entah apalah jadinya dengan hamba ini. Mungkin hamba sudah habis dimakan babi."

"Kalau kamu takut pada babi, bawalah keris. Sudahlah." sabda Datu Jeleng. "Besok kalau kamu mau ke kebun lagi, jangan lupa membawa keris. Tetapi untuk besok, aku yang lebih dahulu datang ke sana. Kamu masak nasi dahulu di sini dan kalau sudah siap, barulah kamu berangkat ke kebun."

"Baik tuanku," kata Aman Dumaweng dengan hormatnya.Pada hari esoknya, pagi-pagi benar Datu Jeleng sudah berada di kebun. Sebagaimana yang telah direncanakan semula, begitu selesai ia mengikat alang-alang, ia pun segera memasukkan dirinyake dalam ikatanalang-alang itu. Ia bermaksud hendak membalas dendam ke pada Aman Dumaweng.

Setelah berada di dalam ikatan alang-alang itu berkatalah ia di dalam hatinya. "Untuk kali ini, tahu rasa kamu Aman Dumaweng. Kalau kemarin aku yang memikul kamu pulang, sekarang giliranmu untuk memikul aku pulang. Rasakan sekarang pembalasanku." Tak berapa lama kemudian, datanglah Aman Dumaweng ke tempat itu. Begitu sampai, ia menoleh ke kir dan ke kana. Tak seorang pun tampak di dalam kebun itu, selain dari satu ikat alang-alang yang sudah diikat dengan eratnya. Rupanya inilah alang-alang yang harus aku bawa pulang, pkirnya. Kemana Datu Jeleng? Kemarin aku disuruh membawa keris ini kemari. Tak seekor babi yang tampak di sekitar tempat ini. Jadi untuk apa aku membawa keris ini? Ia memanggil-manggil di kebun itu.

"Datu......Datu.....!" Tak ada terdengar jawaba. "Datu......!".

"Ah sepi saja," pikirnya. "Ataukah Datu sudah pulang? Dimana pula aku berselisih jalan tadi? Kalau demikian, barangkali baik juga aku menghunus keris ini. Bagaimana rupanya sehingga keris ini dikatakan sangat bertuah?"  Sambil berkata demikian, dihunusnyalah keris itu, dekat dari ikatan alang-alang.

"Hai," katanya setelah keris itu terhunus. "Sudah karata benar keris ini. Sudah berapa lama tak pernah dipergunakan? Baiklah! Sambil membersihkan keris ini, akan kucoba bagaimana keampuhannya pada alang-alang ini saja." katanya sambil bersiap untuk menikamlan keris itu pada ikatan alang-alang yang dekat disisinya.

Seketika itu, terdengarlah teriakan dari dalam ikatan alang-alang itu. "Tahan Aman Dumaweng...... aku berada disini." Teriak Datu Jeleng. "Memang benar kamu ini adalh orang yang tak tahu diri. Setan,.... hampir  saja aku ditikam dengan keris ini."

"Astagfirullah......"kata Aman Dumaweng gugup. "Untung saja hamba dapat menahan tangan hamba . Kalau tidak, entah apa yang terjadi, Berarti hamba ini membunuh Raja hamba sendiri. Ampun Tuanku....!"

"Ya Aman Dumaweng, sekarang baiklah kita mengikat satu ikatan lagi alang-alang. Maksudnya supaya kita dapat sama-sama membawa satu ikat.

Keduanya lalu bekerja mengikat alang-alang. Setelah selesai keduanya lalu pulang membawa beban masing-masing satu ikat alang-alang. Begitu sampai di rumah, keduanya bersiap- siap untuk mengatapi rumah Datu Jeleng yang sudah hampir tidak beratap lagi. Beberapa wkatu kemudian, bersabda pula Datu Jeleng ke pada Aman Dumaweng. "Aman Dumaweng.... sebenarnya aku yang lebih mengetahui dimana terdapat ikan Tuna yang banyak." Jawab Aman Dumaweng. "Dimana gerangan yang dimaksudkan Tuanku?" "Disana, pada sumur yang sebelah Utara. Tetapi sekarang kamu yang kan memancingnya. ku akan berangkat terlebih dahulu, untuk menyiapkan tempat."

"Apa yang harus hamba siapkan sebagai umpannya. Tuanku?" Jawab Datu Jeleng, "Sediakan saja pisang goreng yang cukup banyak. Ikan Tuna itu pasti akan tertangkap."

"Baik, Tuanku! Tuanku berangkat saja lebih dahulu, sementara hamba menyiapakan umpan-umpannya."

Datu Jeleng segera berangkat ke kebun, sambil membawa linggis. Sampai di sana, ia segera masuk ke dalam sumur, dan membuat lubang tempat persembunyian di samping dekat dasar sumur itu. Setelah selesai, ia lalu bersembunyi terus di tempat itu sambil menunggu kedatangan Aman Dumaweng. Akan halnya Aman Dumaweng yang sedang mempersiapkan umpan-umpan yaitu pisang goreng, begitu sibuknya ia membuat pisang goreng, begitu pula ia menyikat habis pisang goreng yang dibuatnya. Sehingga begitu selesai ia membuat bersamaan dengan itu, habis pulalah pisang goreng yang dibuatnya. Aman Dumaweng menjadi kebingungan. Apa yang akan jadi umpannya sekarang? Walau demikian berangkat jugalah Aman Dumawenga, menyusul Datu Jeleng ke kebun. Ia hanya membawa kail saja. Di tengah jalan ia terus berpikr, apa yang akan jadi umpannya. Kebetulan dekat tempat itu, ada seekor anjing yang sudah mati, kira-kira tiga hari yang lalu. Jadi keadaannya sekarang sudah sangat busuk.

"Baiklah bangakai anjing inisaja yang akan kupakai sebagai umannya. Mask dengan pisang goreng saja baru Ikan Tuna itu mau makan." Sambil berpikir demikian, dibawanyalah bangakai anjing yang seudah membusuk itu ke dalam kebun. Damai di dekat sumur itu, lalu bangkai anjing itu dilemparnya ke dalam sumur.

Datu Jeleng sangat terkejut mencium bau yang bukan min busuknya. Hampir-hampir tidak tahan ia berada di dalam sumur itu. Ia pun berter    iak dari dalam sumur.

"Aku berada di dalam sumur ini Aman Dumaweng..... setan.... mengapa bangkai anjing yang kau lepamparka...... Betul-betul kamu ini setan yang berujud manusia..... kurang ajal betul....!"

"Ampun Tuanku....., hamba tidak mengira, kalau Tuanku yang berada di dalam sumur ini.....sekali lagi ampun tuanku.”

"Tidak.....memang kamu ini manusia penjelma iblis....."Datu Jeleng naik dan keluar dari dalam sumur.

Sesampainya di atas, ia berkata di dalam hatinya, "Jadi aku ini belum dapat membalas sakit hatiku terhadap sahayaku sendiri. Tetapi ingat Aman Dumaweng, kamu harus tetap waspada, nanti suatu waktu pembalasanku pasti terima." Maka ceritera Datu Jeleng yang mempunyai seorang sahaya Aman Dumaweng yang banyak tingakahnya, kita akhiri sampai disini. 

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Datu Jeleng "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel