Tergodek-Godek Dengan Teruntel-Untel

Alkisah Rakyat ~ Ada sebuah cerita. Tegodek-Godek dan Tetuntel-Tuntel. Mereka bersahabat. Tetuntel- Tuntel bertempat tinggal di tepi sungai. Maklulmlah katak. Seekor katak. Dan Tegodek-Godek bertempat tinggal diatas sungai itu. Tempat tinggalnya di tepi hutan. Persahabatan mereka, antara Tegodek-godek dangan Tetuntel-Tuntel, baik sekali. Baik sekali jalan persahabatan mereka. Ada makanan sedikit, sama-sama sedikit. Banyak sama -sama banyak.

Pada suatu hari turunlah hujan lebat. Oleh masyarakat Sasak dinamai belabur dasa. Na, jadi cerita tentang belabur dasa itu, hujan tak henti-hentinya. Hujan lebat benar. Datanglah banjir besar. Na, bertemu dengan banjir besar Tetuntel-Tuntel sangat senang, karena menjumpai hujan. Tegodek-Godek susah sekali. Nah, berundinglah kedua sahabat itu, Tegodek-Godek dengan Tetuntel- Tuntel.

"Kalau demikian Tegodek- Godek, bagaiman cara kita sekarang?"

"O, sekarang begini Tetuntel- Tuntel. Karena sekarang musim hujan marilah kita pergi mencari pohon pisang. Kita tanam, Kita tanam nanti kalau kita sudah memperoleh pohon pisang itu,. Andai kata sebatang, sama-sama sepotong, Andai kata dua, sama-sama sebatang.

"Ah, kalau demikian bagus."

Mereka berangkat pergi ke tepi sungai. Menantikan datangnya banjir, dan pohon pisang yang hanyut. Setelah lama menanti, menantikan pohon pisaang yang hanyut, akhirnya dijumpailah sebatang pohon pisang.
"Na, Tetuntel- Tuntel itu rupanya pohon pisaang, siapa yang akan berenang?"

"A, kamu saja Tegodek-Godek." "A, aku tidak bisa. Karena aku tidak biasa berada di air. Kamu sajalah Tetuntel- Tuntel."

"Kalau demikian, baiklah. Nanti kalau anu, tunggangilah terus jika aku telah sorong, jika aku telah pegang tunggangi terus, ya." Demikian kata Tetuntel- Tuntel."

"A, bagus," jawab Tegodek-Godek. Langsung Tetuntel- Tuntel berenang mengambil pohon pisang, demikian ceritanya. Setelah pohon pisang dipegang.

"Na, dapat, sudah berhasil Tegodek-Godek."

"A, bagus, A, kini bagaimana caranya. "A, sorong, sorong ke tepi, sorong ke tengah, sorong ke tepi, sorog ke tengah.

Demikianlah kata-kata kedua sahabat itu. Tetuntel-Tuntel dan Tegodek-Godek.

"A, Tetuntel-Tuntel lebih baik cara menyorong." "Bagus masih." "A, sorong ke tepi, sorong ke tengah."
Akhirnya mereka tiba di tepi sungai. Di tepi sungai di naikkanlah pohon pisang itu berdua, na,na disanalah tempatnya mereka membagi.

"Na, Tetuntel-Tuntel, sekarang hanya ini. Pohon pisang hanya sebatang, bagaimana cara kita?"

"A, jika demikian,paling baik kita bagi. Siapa yang dapat bagian ujung, siapa yang dapat bagian pangkal."

"A, jika demikian, siapa yang mendapat bagian ujung, siapa yang mendapat bagian pangkal bagus."

A, dipotong menjadi dua bagian pisang itu, ceritanya Tetuntel-Tuntel memperoleh pangkal, Tegodek-Godek mendapa bagian ujung."Kenapa kau mengambil bagian ujung Tegodek-Godek, mana bisa hidup?"

"A, lebih cepat hidup karena telah memiliki daun semua." "A, bagus demikian.

Selanjutnya oleh Tetuntel-Tuntel pisang itu ditanam di tanah. Sedang oleh Tegodek-Godek digantung di pohon asam. A, jadi setelah ditanam kira-kira semingu, mereka saling memanggil, maklum karena berdekatan, antara Tegodek-godek dengan Tetuntel-Tuntel. Rumah mereka berdekatan. Diceritakan Tegodek-Godek memanggil, "O, Tetuntel-Tuntel." "Kuk," jawabnya.

"Bagaimana keadaan pisangmu?"

"A, baru saja mau hidup."

"Aku juga demikian." jawab Tegodek-Godek. Keesokan harinya lagi.

"O, Tetuntel- Tuntel bagaimana keadaan pisangmu?"

"Baru sekali keluar daun."

"Aku menojang," artinya, demikian pula.

A, keesokan harinya Tegodek-Godek bertanya lagi, "O, Tetuntel- Tutentl bagaimana keadaan pisangmu?"

"A, sudah tumbuh daun, baru berdaun dua pelepah." "Saya juga demikian."

Padahal pisang. Tegodek-Godek sudah hampir kering, karena sudah sekian lama, tetapi tetap dikatakannya masih hidup. A, keesokan harinya.

"O, Tetuntel- Tuntel, bagaimana keadaan pohon pisangmu?"

"A, sudah hampir berbunga." "A, aku juga demikian."

"Benarkah demikian Tegodek-Godek?"

"Ya, benar, cobalah lihat," demikian kata Tegoek-Godek. "A, kalau demikian, bagus."

Keesokan harinya, sudah lama ceritanya, sudah tiba masa akhir pisang akan berbunga, bertanyalah lagi Tegodek-Godek.

"O, Tetuntel-Tutentl." "Apa?"

"Bagaimana keadaan pisangmu?"

"O, sekarang ia akan berbunga."

"La, aku demikian juga."

Akhirnya sesudah lama berbunga, cukup umurnya berbunga, bertanyalah ia lagi.

"O, Tetuntel-Tuntel, bagaimana keadaan bunga pisangmu?"

"Sekarang sudah keluar buah. Sudah berupa buah."

"Aku juga demikian, buahnya di atas pohon asam itu."

Tetapi sudah kering rupa pohon pisangnya. Tegodek-Godek membohongi dirinya sendiri. Lagi dia bertanya.
"O, Tetuntel - Tuntel, bagaimana keadaan pisangmu?"

"La, sudah bertandan, sekarang buahnya sudah keluar. Cepat akan tua."

"Aku demikian juga." A, dia bertanya lagi. 

"O, Tetuntel-Tuntel, bagaimana keadaan pisangmu?"

"Sudah tua Tegodek-Godek." "Aku juga demikian."

Na, karena dikatakan sudah tua, ingin sekali Tegodek-Godek. "Apa akal aku sekarang? Pisangku sudah kering.Sedang Tetuntel- Tuntel mau berubah pisangnya. Apa akal agar dapat memakan pisangnya itu?"

A, jadi pohon pisang Tetuntel-Tuntel sudah tua. "A, mari kucoba memanjat." Lalu ia memanjat. A, ketika ia naik, ia turun kembali, maklumlah seekor katak tak dapat memanjat pohon pisang. Demikianlah seterusnya.Akhirnya terlihat oleh Tegodek-Godek.

"Yaoq, apa yang kau kerjakan itu Tetuntel-Tutentel?" "O, aku akan memetik buah pisangku." "Mengapa engkau tidak dapat naik?" "Ya, ketika aku naik, segera jatuh. Ketika naik segera jatuh'

"La, sangat bodoh kamu, nanti aku petikkan. Apa gunanya kita bersahabat. Bukankah kita sama-ama baik, masakan kau tidak percaya." Demikian kata Tegodek-godek.

"A, kalau demikian baiklah, Silakan petikan aku." "Baiklah. katanya.

Lalu turunlah Tegodek-Godek dari pohon asam itu. Lalu menuju ke pohon pisang milik Tetuntel-Tuntel. Kemudian, a, "Marilah aku naik. Tetapi kubiarkan kainku ini. Bawakan kainku supaya aku mudah naik, sukar ke atas."

A, ceritanya sekali ia melompat, maklumlahseekor kera, cepat sekali ia naik keatas, sekali lompat tiba di atas. Setelah tiba diatas.

"La, inilah pisang yang ku ingini. Inilah jadi pisangnya." Lalu dipetiknya pisang itu satu persatu, kemudian dimakannya.

"Yaoq marilah kucicipi Tegodek-godek . Mengapa kau saja yang memakan buah pisangku?"

"La, belum tersa apa-apa," demikian saja. "Yaoq, sampai hatikah  kau Tegodek-godek. Bukanah aku yang empunya pisang itu?"

"Itulah belum terasa apa-apa. Tunggu sajalah aku. Nanti kalau sudah puas, akan kuturunkan semua, setandan in."

Lalu karena lama di atas habislah pisang itu sesisir.

"Mana. mari!"

"O, itu, itu, itu," katanya melemparkan kulit pisang. Setelah diambil oleh Tetuntel-Tuntel  ternayata kulitnya saja.

"Jangan begitu carnya, kurang ajar betul perbuatanmu, Tegodek-godek."

"Mengapa?  Bukankah tadi telah kuberikan?"

"Mana, mari sebiji lagi." Katanya berulang-ulang. Tapi Tegodek-Godek memang sangat kurang ajar. Kalau Tetuntel-Tuntel ingi, dilepmpari dengan kulitnya. Kecewa terus. "A, memang kurang ajar Tegodek-Godek. Tidak layak dijadikan sahabat." A, lalu,

"Sekarang kalau demikian Tegodek-godek, apa sebenarnya maksudmu? Mengapa kau habiskan buah pisangku?"

"Bukannya habis, nanti kan keturunkan untukmu." A, lalu Tetuntel-Tuntel memperoleh kesempatan berlari.

"A, larikan saja, akan kularikan saja kainmu, agar kamu tidak tahun kemana akan mencariku.: kata Tetuntel-Tuntel kepada Tegodek-godek. Dilarikan. Setelah dilarikan itu, ia mencari tempurung. Pada tempurung itu tempatnya menumplekkan kain itu lalu ia bersembunyi.

A, lalu lama ia mencarinya kesana - kemari. "Kemana perginya Tetuntel-Tuntel. Tetuntel -Tuntel ini pisangmu! Bawa kemari kainku!"

Tak ada suara yang menjawab. Laillah, malu aku sekarang telanjang,mkalau begini saja." Kata Tegodek-Godek. lalu sekali lagi ia memanggil dengan keras.

"Tetuntel-Tuntel, ini pisangmu! Bawa kemari kainku!" "Cul!: katanya. "A, itu suaranya."

Padahal tempat suara itu disana juga, dekat sekali, tidak jauh jaraknya antara Tetuntel-Tuntel menyembunyikandiri. Dan ia memangil.

"Tuntel-Tuntel, ini pisangmu, berikan kainku!" "Cul!: katanya.

Karena terlalu lama berputar-putar mencari Tetuntel- Tuntel, ia payah, lalu duduk diatas tempurung. lalu setelah duduk diatas tempurung itu terdengar suaranya memanggil Tetuntel-Tuntel.

"Tuntel-Tuntel, ini pisangmu! Bawa kemari kainku!" "Cul!"

"Na, itu suaranya," Senang si Tegodek-Godek, Tetuntel-Tuntel berpikir di dslam tempurung.

"sekarang kalau aku mengatakan Cul saja, payah dia mencariku. Paling baik kukatakan cul loang ecep. Demikian akan kulakukan, agar disanhgka kemaluannya sendiri yang berkata oleh Tegodek-Godek. Lama-lama tentu dia marah."

"Tetuntel-Tuntel, ini pisangmu, berikan kainku!" "Cul loang ecep."

"Yoaq, bisa dia berkata mengatakan cul loang eceq, dimana tempatnya Tetuntel-tuntel?"

"Cul loang eceq." "Lo, Tetuntel-Tuntel, ini pisangmu, bawa kemari kainku!" "Cul loang eceq."

"Nanti kamu mati olehku kemaluan karena kau yang mengapa selalu menjawab, tak mau diam."

Demikianlah kata Tegodek-godek. Ia berkata lagi. 

"Tetuntel-tuntel berikan kainku, ini pisangmu!" "Cul loang eceq.

"Ayo, aya, nanti mati kamu." diancam akan dipukul kemaluannya, akan dihantam karena dikiranya ia saja yang menjawab. Tetapi tidak diketahuinya. Tetuntel-Tuntel berada di bawah tempurung tempat ia duduk itu, bersembunyi.

Akhirnya, "Tetuntel-Tuntel!" "Cul loang eceq, cul loang eceq", katanya.

"Ini pisangmu, berikan kainku! Aya, ya, ya tetapi kemaluan mau berkata saja. Tuntel-Tuntel!"

"Cul loang eceq."

"Mati kamu sekarang. Sekali lagi kamu bersuara pasti mati kamu!" Lalu dicarikan batu oleh Tegodek-godek. Batu besarnya kira-kira sebesar genggaman tangan.

"Asal kamu menjawab sekali lagi, mengatakan cul loang eceq, pasti kamu pecah olehku." kata Tegodek-godek.

A, lalu dia berkata lagi, "Tetuntel-Tuntel, ini pisangmu, bawa kemari kainku!" "Cul loang eceq," lalu diambilkan batu, segera dipukul kemaluannya. Pok, pingsan segera. Pingsan. Setelah pingsan ia rebah dekat tempurung itu. lalu keluarlah Tetuntel-tuntel.

"Nah, itulah akibatnya siapa yang kurang ajar. Diajak bersahabat dengan baik tidak mau. Sekarang itulah akibatnya, orang yang kurang ajar. Payu tular manuh. Nah, itulah balasan Tuhan kepadaku karena kesabaranku ini. Caraku bersahabat baik, pergi mencari batang pisang berdua secara baik-baik. sekaang tiba-tiba dihabiskan buah pisangku. Sekarang itulah jadi upahmu. Bagaimana akalku sekarang agar ia anu, agar dapat merasakan daging kawannya, oleh kera-kera yang lain semua, yang berada di hutan.

Nah sekarang, lalu dicarinya daging kera yang mati itu. Sahabatnya jadinya. Sesudah diperoleh lalu dibuat menjadi permen, menjadi manisan, daging Tegodek-gidek itu. Lalu ia berjualan manisan, harum manis gula manis, dijual oleh Tetuntel- Tuntel Lalu.

"Harum mani" katanya. "A, marilah membeli harum manis, harum manis," katanya Lalu.

"O, Tetuntel-Tuntel menjual harum manis, marilah kita mencoba membeli." Lalu turunlah kera-kera yang lain. Setelah turun, "A, aku membeli, aku membeli, aku membeli." Laris benar jualan Tetuntel-tuntel. Tegodek-godek ramai membeli .Setelah itu lalu ia berkata.

"A, sekarang jika demikian, enak benar caramu membuatkan aku manisan."

"Nah itu memang baik. Tetapi baru pertama kali aku berjualan. Memang bagus benar harum manisku ini."

Demikianlah jawab Tetuntel-tuntel. "A, silakan membeli ga=harum manis daging kawan. Silakan membeli harum manis daging kawan."

Itu-itu saja yang dikatakan. Karena daging kawan yang dimaksudkan adalah daging Tegodek-godek yang telah mati itu, sahabatnya itu. Demikianlah E, direbut oleh kera-kera yang lain. Setelah direbut oleh kera-kera yang lain, lalu dicari.

"A, mari aku membeli, mari aku membeli."

Akhirnya habis semua harum manis itu. Setelah habis lalu berteriaklah Tetuntel-tuntel.

"La, dia makan daging kawan sendiri, ia makan kawan sendiri."

"Apa sebabnya dia berkata begitu?" "Daging kawanmu yang ku buat jadi manisan. Itulah yang kamu makan." Lalu dikejar oleh kera-kera itu.

E, dibawakan kayu juga, dikejar, Maklumlah seekor katak, lalu ia melompat kedalam sungai, kesana arahnya, lalu diam didalam sungai.

Diceritakanlah lama kera-kera itu menanti, hingga payah menunggu, putus harapan, sedang Tetuntel-Tentul terus tidak muncul lagi.

Nah, berakhirlah persahabatan antara Tetuntel-tuntel dengan Tegodek-godek.

Nah, hingga disini ceritanya. Tamat.......!!! 

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Tergodek-Godek Dengan Teruntel-Untel"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel