Perang Antara Demung Dodokan Melawan Demung Akar-Akar

Alkisah Rakyat ~ Nah, sekarang saya akan bercerita, dengarkan semua ya. Menceritakan cerita tentang buaya. Diceritakan di Song Gigi terdapat seekor Raja buaya yang bernama Yaja Sengara, mempunyai permaisuri brnama I Ratna si Anti.


Diceritakan bahwa I Sri Anti Jaya Sengara mempunyai seekor putri yang sangat cantik bernama Dyah Song Gigi. Karena sudah lama dewasa, demikian diceritakan, ia dilamar oleh raja buaya dari Akar-akar yang bernama Demung Akar-akar. Karena yang melamar sudah tepat, maka lamaran diterima, Ni Dyah Song Gigi diserahkan kepada Demung Akar-akar. Tetapi masih harus menanti hari baik untuk mengambilnya. Sedang hari baik itu masih lama. Itulah sebabnya pernikahan belum dilaksanakan. Nah, biarkan dulu cerita itu. Diceritakan keadaan di Dodokan, dengan rajanya yang bernama I Demung Dodokan. Dialah yang menguasai seluruh buaya sampai ke Menanga Kelikit, Cemara tebel. Celuk Waru. Semua dikuasai oleh Demung Dodokan.

Pada suatu malam. I Demung Dodokan tidur. kemudian bermimpi. Ia memimpikan Ni Dyah Song Gigi, bercengkerama bersama dia di taman, sepanjang hari. Setelah bermimpi demikian, karena dia di taman, sepanjang hari. Setelah bermimpi demikian, karena impian itu sangat berkesan, ia bangun. Setelah bangun ia menjadi gelisah.

"Eh, bagaimana sekarang. Bagaimanapun ia harus dapat bertemu jodoh dengan Ni Dyah Song Gigi."

Setelah pagi tiba, Demung Dodokan tidak menghiraukan sesuatu, ia seggera keluar kamar memanggil penjaga, pelayan yang selalu bertugas jaga di istana.

"Hai, kamu sekalian, kuperintahkan panggil semua Budanda, sekarang. Pertama Tumenggung Cemara Tebel, I Patih Jerangjang, Patih Boroq Bokong dan Patih Tanjung Karang, agar semua datang kemari karena ada hal penting benar yang akan dibicarakan."

"Baik;" tak ada yang lain. "Baiklah kalau hanya itu yang Tuanku kehendaki, hamba menurut segala perintah."
Berangkatlah para utusan membawa surat. Surat itu berbunyi:

"Setelah surat tiba, segera berangkat ke puri untuk berunding." Demikianlah bunyi surat yang ditulis oleh I Demung Dodokan.

Setelah lama berjalan, tibalah para utusan itu dirumah masing-masing. Demung yang dituju. Semua pejabat itu terkejut.

"Beh, tumben tuanku Demung Dodokan memanggil demikian pagi, pasti penting sekali."

Segera, pi...., tergesa-gasa mereka berangkat untuk menghadap Demung Dodokan.

Demung Dodokan tak berpindah-pindah dari tempat menantikan yang dipanggil. Setelah mereka tiba semuanya berkatalah Tumenggung Cemara Tebel.

"Ya. Ratu Dewa Agung, apa gerangan sebabnya, begitu mendadak tuanku memanggil hamba semua. Hamba mohon, ceritakanlah agar hamba maklum."

"O, begini kanda. Tadi malam saya bermimpi. Memimpikan putri Prabu Jaya Sengara yang bernama Dyah Song Gigi. Dialah yang kuimpikan semalam, bersama aku bermain-mani di taman. Nah, itulah yang penting hendak kekemukakan kepada Bapak-Bapak sekalian, dan kakak semua. Niatku hendak meminang sekarang. Siapakah yang patut diutus? Siapakah yang hendak menghadap ayahanda?"

Menjawablah Demung Cemara Tebel. "Begini, Ratu Dewa Agung, lebih baik kirmlah Pepatih Tuanku dan juga Patih Jangkuk, Punggawa Ancar, itu boleh ditambah Arya Jerangjang agar bertiga mereka pergi. Merekalah yang bharus pergi, tetapi keberangkatan mereka harus membawa surat, tanda tangan Tuanku yang akan dipersembahakan kehadapan ayahanda Tuanku di Song Gigi."

"Ya, tepat demikian, Bapak-bapak sekalian, pikiranku pun memang seperti itu."

Tak lama kemudian Demung Dodokan pun menulis surat. Setelah selesai dipanggillah I Patih Jengkuk, Patih Ancar. Mereka datang.

"Nah, inilah sebabnya mengapa aku memanggil kalian. Kalian hendak kusuruh menyampaikan surat untuk Ayahanda si Song Gigi, Prabu Jaya Sengara. Nah di samping surat, kau harus dapat melengkapainya dengan kata-kata.Nah, begitulah maksudku."

"Baiklah, kalau Tuanku memerintahkan hamba yang akan berangkat menghadap ayahanda Tuanku Prabu Jaya Sengara. Sekarang hamba mohon diri."

Segera berangkatlah mereka bertiga. Jadi perjalanan I Patih Jengkuk, Penggawa Ancar, Patih Jerangjang tergesa-gesa sekali. Setelah tiba di keraton. Terdapt penjaga yang sedang betugas menjaga I Arya Yeh Genit, dan I Demung Batu Layar.

Tertegun para utusan itu hendak menghadap raja, mereka memenag harus mengikuti tatacara tertentu.

"Nah, saudara penjaga, permaklumkan saya pada Tuanku Raja, bawah saya utusan Demung Dodokan, akan menyampaikan surat kepada Tuanku Raja."

"Harap diberitahu siapa nama anda, agar mudah saya sampaikan."

"Kalau tidak tahu nama saya, saya adalah Patih Jengkuk ini Penggawa Ancar dan ini Patih Jerangjang. Demikianlah."

"Baik, tunggu di sini. Nanti saya sampaikan kepada Tuanku Raja."

Lalu ia menghadap Raja dan mengahturkan sembah, "Ratu Dewa Agung, ada tiga orang utusan dari Dodokan, utusan putra Tuanku dan membawa surat."

"Baiklah, suruh dai masuk. Keperluannya tentu penting sekali." Lalu penjaga mempersilakan para tamu masuk ke keraton, menghadap raja dan menghaturkan sembah.

"Hamba mohonperkenan Tuanku, Ratu Dewa Agung." "Baiklah, kamu dari mana?"

"Hamba utusan Putra Tuanku, utusan dari Demung Dodokan mempersembahkan sepucuk surat ke hadapan duli Tuanku. Inilah surat itu." "Mari."

"Hatur hamba pada Aayahanda, ialah hamba mohon perkenan, ayahanda sudilah kiranya Ayahanda memperkenankan hamba memohon putri ayahanda Ni Dyah Song Gigi. Telah terlanjur hati hamba, tak dapat dihindarkan lagi."

Prabu Jaya Sengara terdiam.

"Eh, terlambat anakda membawakan ayah surat, karena Demung Akar-akar telah mendahului. Ayah tidak dapat mengemabalikan pinangan Demung Akar-akar, karena sudah ayah terima. 

Umpama ayah akan mengembalikan tentu ayah akan menjadi tertawaan raja-raja semua. Tidak layak seoramg raja akan ingkar pada perkataan. Nah, katakanlah seperti itu kepada tuanmu anakda Demung Dodokan, jangan hendaknya ia kecewa."

"Baiklah Ratu Dewa Agung, jika memang demikian yang Tuanku katakan. Saya sudah pula diserahi tugas untuk menyampaikan surat kepada Tuanku. Kalau Tuanku tidak memperkenankan, tidak berkenan memberikan putri Tuanku pada Gusti hamba Demung Dodokan, akan dimusnahkannya keraton disini semuanya. Biar musnah seluruhnya. Betapa kekuatan I Demung Akar- Akar. Itulah Tuanku."

"Peh, kalau demikian caranya, tak benar begitu. Pikirlah panjang-panjang dahulu."

"Pendeknya hamba menyampaikan demikian, Berkenan atau tidak. Jika berkenan selamat keraton disini. Bila tidak mungkin diperkenankan, hancur kerajaan Tuanku disini. Demikianlah niat putra Tuanku Demung Dodokan. Sekianlah hatur hamba, hamba mohon diri pada Tuanku."

Para utusan itu menerobos pergi karena marah. Karena itu Prabu Jaya Sengara termenung.

"Eh, dinda, kemari dulu. Sri Anti dekatlah pada kanda, begini dinda." "Ya, kanda. Apakah yang kanda akan katakan?"

"Begini, utusan anak kita dari Dodokan, meminta anakmu. Seperti kau ketahui Demung Akar-Akar telah kita terima lamarannya. Jika kita batalkan, bagaimana rupamu, bagaimana rupaku, bukankah kita akan menjadi tertawaan negeri? Demikianlah, bagaimana pikiranmu?"

"Bah, mengapa demikian kanda? Jika itu akan batalkan untuk Demung Akar-Akar, tertawa semua rakyat Tuanku, begitulah.

"Lagi pula bila tidak diberikan kepada Demung Dodokan, akan diperanginya negeri kita."

"Walaupun demikian kanda, pertahankanlah martabat kebesaran diri kanda agar jangan menjadi rusak."

"Nah, jika demikian lebih baik membuat surat sekarang. Beritahukan Demung Akar-Akar diberitahu mendadak tatkala Demung Dodokan menyerang kita, jangan sampai demikian agar jangan kita terlalu dipersalahkan." "Ya, baik juga demikian."

Beh, segera membuat surat, mengirim surat, kalau jaman sekarang apa itu namanya telegram barangkali.

Ei...... tergesa-gesa utusan itu berangkat. Tiba pada Bajul Barong dan tiba pada Demung Akar-Akar.

"Ratu Dewa Agung hamba diperintahkan ayahanda Tuanku." "Tentang apa?"

"Surat ini untuk Tuanku."

"Bah, mengapa begitu. Nah, jika demikian niatnya I Demung Dodokan inilah yang akan membela ayahanda. Seberapa sih kuatnya I Demung Dodokan. Yah, sekarang tunjukkanlah kesetiaanmu semua disini. Pukul kentongan agar semua mengetahui, agar semua berkumpul disini."

Kentongan dipukul. "Tang, tang, tang....hi... berdatangan semua para bangsawan buaya, yang jadi bangsawan, buaya jadinya, bukan bangsawan manusia. E, Patih Barong Biraq, Patih Sorong Jukung, Patih Bajul Barong, Patih Beraringan, semua hadir.

"Ya, tumben saya mendengar kentongan istana." "Begini, agar kamu mengetahui semua. Hal ini marilah berangkat ke Song Gigi dan membawa senjata. Karena tidak boleh tidak pasti akan terjadi perang di Song Gigi dipinang lagi oelh Demung Dodokan. Karena aku telah diberikan, tak layak seorang raja akan ingkar pada perkataan. Itulah yang menyakitkan hati Demung Dodokan, sekarang ayahanda akan diserang."

"Wah, kalau demikian Ratu Dewa Agung, sekarang hamba akan menghadapinya sekuat tenaga. Seberapakah ia memiliki rakyat, seberapa Patihnya ?" Demikianlah jawab I Bajul Barong. Dialah dinding dada Demung Akar-Akar.

Peh, segera laskar berduyun-duyun berbaris, hingga pantai penuh oleh barisan buaya yang menuju ke Song Gigi. Setelah tiba di Song Gigi, terkejut Jaya Sengara, Prabu Jaya Sengara. Dikira yang datang pasukan dari Demung Dodokan.

"Beh, mari kita lihat siapakah itu. Dari Dodokan atau dari Akar-Akar."

"Ratu Dewa Agyng, yang datang adalah putra Tuanku dari Akar-Aakar, hendak menjaga diri Tuanku."
"Nah, kalau demikian berikan ini, bukakan lumbung, berikan mereka sangu, karena lumbung simpananku masih empat, buka semua, bagikan untuk sangu mereka."

Seketika lumbung dibuka. Beh, tak kurang sesuatu. Raja kaya. Sekarang diceritakan utusan dari Dodokan menghadap kepada Demung Dodokan.

"Ratus Dewa Agung hamba sudah menyampaikan surat itu, jawaban ayahanda Tuanku seperti ini.
"Begini, katakan bahwa aku tidak dapat memenuhi, karena sudah terlanjur keserahkan kepada I Demung Akar-Akar." Demikianlah Tuanku. Juga telah hamba tambah dengan kata-kata Tuanku.

"Jika tidak diterima, ananda Demung Dodokan, akan dmusnahkannya negeri Tuanku disini." demikian sembah hamba.

"Jika demikian beritahu semua, semua pemuka beserta rakyatnya agar bersenjata." Karena itu Temunggung Cemara Tebel berkata, 

"Ya, Ratu Dewa Agung, perkenankanlah hamba menyampaikan kata kepada Tuanku. Ingatlah Tuanku, ini sudah terlanjur, siapa lebih dahulu dialah yang berhak. Renungkanlah tenang -tenang. JIka Tuanku akan mempergunakan pikiran marah seperti ini, mudah sekali, tetapi pikirkanlah akibatnya ke belakang. Bila itu yang Tuanku akan jalankan akan Tuanku hancurkan ayahanda Tuanku , peh, tertawa mereka, yang tidak senang pada Tuanku.

Terpikir oleh hamba, itu bukanlah laksana Ratu yang baik. Demikianlah Ratu Dewa Agung. Sadarlah karena Tuanku sudah diakui di negeri ini sebagai orang yang menjalankan Dharma, sentosa dan kurasa, lagi pula tak kurang sesuatu apa. Masakan hanya disana ada wanita cantik. Banyak juga. Nanti hamba yang mencari. Yang mana yang Tuanku kehendaki."

"Bah, kau menjunjung musuh dan merendahkan martabat. Bah, kalau kau takut membela  aku pergilah dari sini." Oleh karena marahnya, diusirlah dia oleh Demung Dodokan. Tetapi karena memang masih namanya, dia tak mau pergi.

"Ya, jika memang demikian Ratu Dewa Agung hamba menurut kehendak Tuanku, tetapi hati-hatilah Tuanku, waspadalah."

Peh, kentongan segera dipukul bertalu-talu. Pi... Demung Kelikit, Patih Celuk Waru, Cemara Tebel hingga Jerangjang. Jangan disebut lagi Jerangjang dan Jangkuk, memang kaum kerabat. Seketika berangkatlah mereka ke medan perang.

Pi..... pasukan itu, Tetpi nasehat si anu, nasehat I Demung Akar-akar, oh siapa namanya, khilaf saya, Menanga Kelikit.

"Begini agar kamu tahu, Agar jangan nanti perabg pengamuk tak menentu. Agar jangan sampai keliru sebab rupa sama. Berilah dirimu tanda. Yang berasal dari Menanga Kelikit, agar memakai kalung ijuk. Tetapi dengan ijuk yang beruban. Kalungi lehermu. Yang dari Baroq Bakong juga berkalung ijuk, ijuk hitam. Agar jelas musuh dan kawan.

Beh semua berkalung ijuk. Yang dari Menanga Kelikit mencari ijuk yang beruban, untuk kalungkan di lehernya. Mereka berjalan. Pertahanan dari utara dari Sombrok. Patih Sombrok berkwan Patih Neninting. Nah, disana I Patih Jangkuk dan Punggawa Ancar sudah berada.

"JIka kamu hendak menghalangi perjalananku, silakan.". Bah, tak berpikir panjang lebar, mulailah mereka berperang.

Pi...., perkelahian buaya itu saling gigit. Cipratan air laut hingga ke darat I....., saling menggulingkan berganti-ganti, matilah Patih Sombrok dibunuh oleh Patih Jangkuk. Beh, marah I Patih Neninting, meh, mengamuk dengan menutup mata, Pi.... siapa saja dekat, I......dilihat oleh Patih Yeh Genit.

"Beh, mengapa demikian," Pi...... direbut oleh Patih Yeh Genit, dihantam Patih Jangkuk, berhamburan darahnya, Patih Jangkuk mati. Punggawa Ancar juga menghantam dari belakang, kena lambungnya, diseruduk, mati.

A........', Ptih Jerangjang, bah, eh, Tanjung maju ke depan. "Peh, demikian caramu berperang, licik tidak jantan namanya, demikian sampai berperang tapi kau melakukan perubatan tidak purasa," bah, ia maju ke gelanggang.

Ramai lagi I,....... hingga diceritakan orang-orang menonton tak tahu sampai anaknya bertukar karena asyiknya menonton. I, .....air laut hingga merah warnanya karena disebabkan oleh darah buaya. Pi, ..... siang, malam perang itu. Tiba-tiba terpisah, menyeruduk I Anu, a......Patih Jerangjang dihantam oleh Patih Neninting, putus lehernya menyebabkan ia tertidur, mati.

Selanjutnya Patih Yeh Genit dihantam oleh Baroq Bokong menyebabkan terjungkal, peh parah benar.
"Nah, sekarang tiba waktunya," I Bajul Barong berdiri, "Beh, mengapa begitu," a...... jadi. "Nanti agar dia tahu, inilah I Bajul Barong, inilah kau akan hadapi."

Bajul Barong maju ke medan perang. I..., disana tanpa tanya, segala yang dekat, I.... hingga menyingkir semua. I Patih Jerangjang mati. Tanjung Karang patah, Baroq Bokong terbelah dadanya saling gigit. Ada yang berlari melapor pada Demung Kelikit.

"Ratu Dewa Agung, rakyat Tuanku habis sudah." "Siapakah musuhnya?" "Itu, si Bujul Barong. Semua dari dinding dadanya I Demung Akar-akar."

"Nah, jika demikian inilah yang akan menghadapinya sekarang. Biar dia tahu rasa."
Diberitahukan I Anu, Celuk Waru, Patih Celuk Waru. Beh, disana mereka berdua. Rakyat dilarang turut serta.

"Biar nyata, nanti agar sesama pemimpin berperang.... Ih, karena pemimpinnya yang maju berperang, rakyatnya merasa malu berdiam diri, maju bersama, hi.... tak keruan musuh dan kawan, siapa dekat, hantam, o.... pertempuran sampai di Song Gigi, lagi kembali ke Selatan, hingga di anu, di Brenyok. Lagi bolak-balik karena banyaknya buaya yang datang. I...., hingga payah berperang.

Tiba-tiba menjerit I Bajul Barong. Karena payahnya, ia menjerit meminta bantuan. Dibantu oleh Patih Barong Biraq, menggantiberperang. Sekali lagi disana saling baku hantam. Peperangan itu berlangsung hingga hampir dekat Bakong, karena didesak oleh Barong Biraq.

Semakin banyak yang datang dari Dodokan. Tumenggung Cemara Tebel berkata.

"Ya, Ratu Dewa Agung, apa kata hamba kepada Tuanku. Nah baik benar sekarang. anak-anak dan rakyat Tuanku habis sudah. Nah, kita apakan sekarang. Sudah saya katakan kepada Tuanku, tetpi Tuanku tidak menyetujui apa yang hamba sampaikan. Sekarang, bagaimana pendapat Tuanku. Setelah melihat anak-anak rakyat jelata, para pelayan serta para pemimpin semua sudah musnah. Yang tinggal hanya I Demung Kelikit dan Celuk Waru apa akal kita sekarang?"

Ah, diamlah. Kita belum kalah. Biarlah mereka mati agar cepat naik ke sorga. Biar tak letih lagi menjadi buaya, biar naik ke sorga. Mereka mati di dalam peperangan memang kurasa, tidak takut akan maut, tidak terikat anak istri, itulah dharmanya kesatria. Yang demikian cepat tertolong, diterima di sorga. Demikianlah sebenarnya agar Bapak mengetahui."

Peh, karena itu Cemara Tebel tidak dapat berkata lagi. Pi,.....peperangan bertambah hebat. Sudah berlangsung tujuh hari. I,... hingga merah padam air laut oleh darah buaya. E,..... orang yang menonton sampai membawa sangu. Anak yang digendong sampai bertukar tidak diketahui. E,..... mereka lupa pada rumah, oleh karena sangat senang menonton peperangan antara buaya itu.

Kian lama peperangan berlangsung, bi...... bergilir maju ke medan perang. Payah Bajul Barong, diganti oleh Barong Biraq. Payah Barong Biraq diganti oleh Bajul Barong. Pih, I Demung Kelikit juga angker. Walaupun dikerubut juga tidak apa-apa. Ia semakin gembira dikerabatmu untuk mengerubuti aku, aku tidak takut, tidak mundur, habiskan!"

Beh, semakin panas Barong Biraq. Panas. Raja dari Kokoq. egera panas. Malu mendengar sesumbarnya.
Mih, semakin dikerubutiDemung Kelikit berperang, semakin pandai ia berlaga, dan tak bisa tersenuth. Sehingga habis rakyat Barong Biraq, habis rakyat Bajuk Barong juga habs. I,.... semakin, nah, jadi sudah lama peperangan berlangsung, mereka sudah merasa payah.

Demung Kelikit payah juga. Bajul Barong juga lelah, karena lama berperang tanpa makan. Tak pernah makan sesuatu. Siang, malam berperang. I,....saling bergumul dan berguling-guling. Jadi sudah sama merasa payah berperang, saking payahnya berperang tak dapat tidur, lagi pula perut lapar, tak pernah disentuh sesuatu. Selama tujuh mala berperang, hingga sama-sama tak mempunyai tenaga.

I,..... berperang berguling-guling, bergilir yang anu. Pertama Barong Biraq yang hancur dadanya. Kedua kali Patih Celuk Waru di hantam oleh Bajul Barong, terlepas tulangnya. Nah, lalu pertempuran satu lawan satu. Bajul Barong dengan I Demung Kelikit. Mih, hingga semalam suntuk. Keesokan harinya dari pagi hingga malam, sampai pagi. I,....... yang berperang sudah sama merasa akan mati, tak merasa akan hidup karena payahnya.

Nah, disaat itu, tak tahu mengapa, serentak saling peluk, lantas banting hingga pada mati. Kepalanya sama-sama pecah. Kepala lawan kepala diadu, tentu sama-sama hancur. Hal ini didengar oleh Demung Dodokan.

"Ratu Dewa Agung, Pepatih Tuanku habis sudah. Yang tua-tua sudah habis." Demikian kata Cemara Tebel.
"Sekarang kakak tak berani membela saya. Tak ada gunanya kakak bangsawan."

I Cemara Tebel malu.

"Mengapa hamba harus takut? Lihatlah pertarungan hamba, saksikanlah!" Tumenggung Cemara Tebel maju ke medan perang. Beh, berduyun-duyun, iringan -iringan mereka berperang. Bi,..... mengalir terus. Disambut oleh Arya Gajah Petak yang bertempat tingal di Sidutan.

Arya Beraringin berhadap-hadapan. Peperangan berlangsung selama 14 hari, belum ada yang kalah atau menang. Bi,.....ikan lain yang tinggal di dalam laut semua mabuk. Tak tahan mencium bau air. Lagi pula air menjadi merah, dan tak pernah tenang. Pih,..... hingga Dewa Baruna tak tahan lagi.

"Apa yang terjadi hingga keadaan seperti ini, anak-anak pada mabuk?"

I,.... saling banting dalam pertempuran itu. Mih, ih, sama-sama terbanting, e.... yang kecil-kecil pada berlari tak menentu. Tak ada yang tahan menahan serangan Cemara Tebel. Sangat angker. Dapat berubah-ubah rupa. Kadang-kadang menjadi kecil lalu menjadi besar, setelah berkali-kali berganti rupa, jaring ditabraknya. Di ikat. Dan ditali. Disampaikan kepada Prabu Jaya Sengara oleh Gajah Petak.

"Ratu Dewa Agung, inilah hasil saya berperang. Ini dia." "Eh, nah, Tumenggung Cemara Tebel ini." "Benar Tuanku." "Jadi bagaimana pikiranmu sekarang?"

"Beginilah soalnya, jika hamba tidak menuruti kehendak putra Tuanku, kena marahlah hamba."

"Lalu bagaimana? Kau ingin mati atau ingin hidup? Kalau ingin hidup, tinggal disini, Katakanlah padaku."

"Terserah Tuanku, keinginan hamba, biarkan hamba masih hidup."

"Nah, jika demikian tinggallah di sini." Dia dimasukkan ke dalam kurungan. lalu terlihat oleh Demung Dodokan. 

"Beh, kok begitu?" Demung Dodokan maju ke medan perang. Bi,......"Siapa yang jantan, siapa yang ingin mampus, ini hadapilah I Demung Dodokan. Biar nyata jantan dan betina sekarang. Ini tiada takut akan mut, tiada tergores oleh apa pun. Siapa berani?"

Nah, Patih Gajah Petak, beh terpaksa, dia menerobos mengeroyok, mi,...... oleh Demung Dodokan digerakkan saja tangannya habis.

I,... dihantam dangan jari saja oleh Demung Dodokan hancur. Oleh karena itu Demung Akar-akar bersiap untuk berperang. Pamit pada Jaya Sengara, pada Ibunda Sri Anti.

"Ya, hamba mohon pamit untuk menghadapi musuh Ayahanda dan Ibu, I Demung Dodokan. Saksikanlah nanti pertempuran hamba. Kalau itu terjadi, ingat jagalah putri Ibu di keraton. Sekarang hamba menghadapi seberapa sih kekuatannya?"

"Nah, baik-baiklah Anakda berjalan." Keluarlah Demung Akar-akar. Beh, disana mereka saling sesumbar.
"Kalau kau tidak tahu inilah orangnya, dari Dodokan yang bernama Demung Dodokan, ingin sekali berhadapan dengan Demung Akar-akar. Katakan cepat-cepat jangan sampai kau mati tak bernama. Agar disambung kekuatannya dan keberaniannya oleh Demung Akar-akar. I Demung Dodokan anak menandinginya."

Peh, marah benar Demung Akar-akar. 

"Beh, seberapa kesaktiannya.Benar ia besar, tetapi belum tentu aku akan kalah. Nah, Demung Dodokan, kalau kau tidak mengetahui, inilah aku Demung Akar-akar. Ini aku seorang diri, aku dilahirkan sendiri oleh ayah dan ibu, tak berteman. Sebabnya aku masih hidup karena memang ingin akan berhadapan dengan I Demung Dodoakan. Demikian sebenarnya apalagi sekarang."

Bih, saat itu pertempuran hebat, bi,.....sedang mereka bertempur saling bergelut dan menggelinding, menghilanglah Prabu Jaya Sengara serta istri dan anaknya. Entah ke mana. Sudah sepi di keraton. Yang tinggal hanya tawanan Tumenggung Cemara Tebel dalam kurungan. I,.....empat belas hari mereka bertempur. Pi,..... sampai mabuk, hingga ke tengah lautan. Hingga mabuk makhluk di keratonkedudukan Ida Batara Wisnu yang bertempat di tengah laut, karena diobrak-abrik.

"Pih, ada apa ini bagaimana .Ada apa hingga sampai begini." A,...... muncullah Ida Batara Wisnu.

"Bah, inilah sebabnya. Apa sebabnya sampai berperang. Siapa yang berperang menyakiti. Bah, ini I Demung Dodokan dan Demung Akar-akar. Kapan akan terjadi kalah menang karena satu keturunan dan sama saktinya."

Na, hingga di sini, muncul Batara Baruna dan berkata pada Batara Wisnu.

"Daulat. Ida Batara, hamba menghaturkan sembah, jika dibiarkan saja demikian, pertempuran antara Demung Dodokan melawan Demung Akar-akar tak akan mengalami kalah menang biarpun berlangsung selama tiga bulan, jika tidak Tuanku yang melerai sekarang, tidak akan bisa. Ini, anak-anak semua mati, mabuk mereka."

"O,......termasuk rumahku terkena gempa setiap hari." Batara Wisnu murka. Kemudian beliau mengheningkan cipta memusatkan pikiran. Melecutke tengah lautan, dari sana menyaksikan. "Adah, e,.... Demung Dodokan, Demung Akar-akar, pulanglah kamu."

Ketika keduanya mendongak terlihat Batara Wisnu berdiri tegak disana. "Pulanglah, bwrhenti bertempur."
Setelah berada dalam perjalanan pulang. Demung Dodokan dikutuk seperti ini.

"Kukutuk I Demung Dodokan agar menjadi pulau." Terjadilah Gili Gede. Sesudah itu ke arah utara, I Demung Dodokan kena kutuk.

"Kukutuk Demung Akar-akar agar menjadi pulau." Menjadilah Gili Terawangan. Begitulah ceritanya. Na, sekarang tawanan itu tinggal dalam kurungan.

"Bagaimana sekarang, bagaimana caranya membuka. Apa yang bisa kupakai membuka?"

Hingga kurus kering dia berada dalam kurungan. Siapa dimintai makanan. Prabu Jaya Sengara hilang. Lama kelamaan kurungan itu hancur. Nah, pada saat itulah ia bisa keluar mencari makanan. Lama kelamaan sehat rasa badannya, hidupnya baik.

"Pih, kemana perginya Ida Nake Agung, Nak Agung Istri tak ada di sini. I Demung Dodokan juga tak ada. I Demung Akar-akar tak ada juga, kemana perginya?"

Sesudah perang berakhir dicarilah mereka, tapu tak bertemu, hilang. Nah, saat itulah I Cemara Tebel berkata.

"Nah, anak-anak, carilah yang bernama Ratna Sri Anti. Carilah dia.Dialah permaisuri Prabu Jaya Sengara, carilah dimana saja. Bila bertemu ajak kemari."

"Ya," beh, lalu dicari. Oleh karena itu kita dinasehati oleh orang tua-tua.

"Bila kita berkawan banyak menyeberangi sungai besar, jangan mengatakan anti tidak boleh, nanti dikira memanggil permaisuri Prabu Jaya Sengara pasti disergap oelh buaya". Demikianlah......!!!!!!!!! 

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Perang Antara Demung Dodokan Melawan Demung Akar-Akar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel