Pasang Kodong To Lolon Bage

Alkisah Rakyat ~ Dalam sebuah dusun yang agak terpencil tempatnya dari desa, tinggallah sepasang suami-isteri yang sudah agak lanjut usianya. Mreka dikenal sebagai Kakek dan Nenek Katok. Mereka dinamakan Kakek Katok dan Nenek Katok, karena cucunya yang terbesar, seorang anak alaki-laki, bernama Katok. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, kedua suami-isteri yang sudah agak lanjut usianya ini, hanya memasang pukat. Pekerjaan ini dilakukan mereka sejak mereka masih muda. Barangkali memang sudah digariskan jalan rezeki mereka melalui pekerjaan ini, hasil yang diperolehnya senantiasa mencukupi untuk kebutuhan hidup mereka sekeluarga. Bahkan dari sehari ke seharian dapatpula mereka menyimpan sekedarnya, sehingga agak terjaminlah hidup mereka di hari tua.


Kalau Katok tadi dikatakan cucunya, maka diceritarekan pula bahwa ayah Katok telah meningal dunia, semenjak Katok masih kecil. Kini Katok hidup sangat sederhana. Ia hidup bersama ibunya. Hidup yang sangat sederhana ini, ditambah lagi dengan keadaan kesehatan ibu Katok yang kurang memuaskan. Hanya sebentar keadaannya cukup baik, tetapi tidak lama kemudian sakit lagi. Demikian berlangsung dalam wakti yang lama. Pada suatu waktu ibu Katok menderita sakit yang agak mengkhawatirkan. Tetapi berkat kesabaran dan ketabahannya juga, ia tertolong dan selamat. Sebagaimana kebiasaan orang yang pernah menderita sakit yang agak parah, setelah sembuh ia biasanya makan lebih banyak, lebih sering dan lebih kuat. Hal seperti ini dialami pula oleh ibu Katok.

Pada suatu hari, berkatalah ia kepada anaknya, "Hai, anakku Katok! Cobalah pergi kepada kakekmu dan mintakan ibu ikan hasil tangkapannya. Ibu sangat ingin makan lauk ikan. Satu atau dua ekor,saya kira memadailah sebagai pengobat selera ibu." Dengan tidak pikir lagi, berangkatlah Katok ke rumah Kakeknya. Sesampainya di sana, kebetulan sekali kakeknya baru pulang dari mengambil pukatnya. Dilihat sendiri oleh Kato,betapa banyak ikan yang didapat kakeknya. Berkatalah Katok kepada kakeknya, "Kakek, saya datang kemari karena disuruh ibu. Ibu menyuruh saya untuk untuk minta kepada kakek, ikan barang seekor dua ekor. Ibu ingin sekali makan lauk dengan ikan." Segera kakeknya menjawab, "Enak sekali kamu Katok, kemari untuk minta ikan hasil tangkapanku. Kakek baru dapat setelah berusaha payah. Sekarang kamu datang ke mari hanya untuk meminta ikan."

"Kalau pun seekor dua ekor tidak ada, biar sepotong jadilah"." kata Katok selanjutnya.

Kakeknya menjawab lagi. "Biar sepotong pun tidak ada. Semua ikan ini akan dijual nenekmu kepasar."

Selanjutnya Katok meminta, "Kalau sepotong tidak ada, kakek, saya kira biar kepalanya saja, saya akan terima juga."

"Wah.... kepalanya itu tempat otaknya, Katok. Ikan tanpa kepala saya kira tidak sempurna. Harganya pasti akan jatuh. Pendeknya pulanglah segera dan beritahu ibumu, bahwa ikan dari kakek tidak ada. Habis perkara.

"Begini kakek," jawab Katok selanjutnya. "Kalau kepalanya juga tidak ada, biar ekor-ekornya pun jadilah."
Kembali kakeknya berkata, "Kamu rupanya belum tahu Katok, bahwa pada ekor ikan itu pusat nikmatnya kita memakan daging ikan. Sekarang seperti sudah kakek katakan tadi, pulanglah kamu. Beritahu ibumu, bahwa ikan dari kakek tidak ada."

Karena segala usaha dijalankan dan semuanya tidak berhasil, maka pulanglah Katok dengan tangan hampa. Ditengah perjalanan tak habis-habisnya ia mengumat betapa kikirnya kakeknya itu. Ya.... apa boleh buat. Ia tak habis-habisnya berpikir, bagaimana akal agar memperoleh seekor ikan untuk ibunya.

Sesampainya di rumah, ia langsung menceritakan kepada ibunya, bahwa seekor ikan pun tidak diberi oleh kakek. Diceritakannya pula, bahwa sebenarnya ikan pendapatan kekeknya pagi itu cukup banyak. Hal itu disaksikannya sendiri. Tetapi apa hendak dikata. Kakeknya memang termasuk orang yang kikir sekali. Menjawablah ibunya dengan tenang, "Ya.... Katok anakku, memang keterlaluan kakekmu itu. Tetapi biarlah. Kita harus selalu bersabar. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan mendapat rezeki. Sekarang berusahalah kamu, bagaimana supaya mendapatkan ikan, hasil usaha sendiri."

"Baiklah ibu. Bersabarlah dan doakanlah."

Diceritakan pula selanjutnya, bahwa ayah Katok mempunyai seorang adik laki-laki, yang sampai sekarang ini belum juga menikah. Dia senantiasa hidup membujang dan lekatlah nama pada dirinya gelar jejaka tua.

Paman Katok ini mempunyai keahlian dalam anyam-menganyam. Semua alat-alat dapat dikerjakannya seperti membuat bakul, kipas, sendok daripada tempurung dan lain-lain alat keperluan sehari-hari.

Pada suatu hari, datanglah Katok ke rumah pamannya. Setelah sampai di sana, bertanyalah ia pada pamannya.

"Paman! Dapatkah paman membuat pukat?"

Pamannya menjawab, "Kenapa tidak? Apakah kamu ingin mempunyai pukat?"

"Memang, saya ingin sekali mempunyai pukat biar hanya sebuah. Tolonglah paman buatkan. Apakah yang harus saya sediakan, paman?"

Pamannya menjawab, "Sediakan saja bambu barang dua ruas. Carilah bambu yang ruasnya agak panjang. Nanti paman tolong buatkan."

"Baik paman. Terima kasih sebelumnya. Saya pulang dulu mencari bambu itu."

Cepat-cepat Katok lari pulang ke rumahnya. Di sana ia mencari bambu yang baik untuk dijadikan pukat. Setelah dapat ia segera kembali ke rumah pamannya. Bambu itu segera diserahkannya, dan waktu itu juga mulailah pamannya membuat pukat untuk Katok.

Tak lama kemudian datanglah Katok menanyakan apakah pukatnya sudah selesai. Dijawab oleh pamannya bahwa pukat itu belum selesai.

"Pergi main-main dulu keana, sebentar lagi pasti jadi," kata pamannya. Katok pun pergi bermain-main di samping rumah pamannya. Tetapi hatinya sudah tak bisa berpisah dengan pukat yang sedang dibuat oleh pamannya. Dengan tak sabar, datanglah ia kembali ke rumah tempat pamannya sedang bekerja.
"Sudah jadi paman? katanya.

"Belum," jawab pamannya. "Tinggal sedikit lagi. Bermain-main saja kamu disana dahulu. Sebentar lagi, kamu boleh datang mengambilnya."

Dengan agak kesal, kembalilah Katok bermain-main. Pikirannya makin tidak tenang juga, mengingat matahari sudah hampir tergelincir. Dia sangat khawatir, jangan-jangan pukatnya sampai petang juga tidak selesai.

"Besok saja kita selesaikan. Sekarang tinggal bahagian dalamnya saja," kata pamannya.

Berkatalah Katok, "Kalau hanya bahagian dalamnya saja yang belum selesai, biarlah saya bawa pulang. Akan saya coba memasangnya nanti malam."

"Bagaimana mungkin dapat tertangkap, Katok, kalau belum dibuatkan penghalang supaya ikan itu tidak dapat keluar. Akan sia-sia juga pekerjaanmu itu." demikian penjelasan pamannya.

Tapi keterangan itu tidak digubris oleh Katok. Ia minta kepadanya pamannya, supaya ia diizinkan untuk memasang pukatnya nanti malam. Akhirnya pamannya mengalah juga.

"Bawalah sekarang, Katok," kata pamannya. "Tetapi besok pagi kamu harus membawanya kemari lagi, untuk saya selesaikan."

"Baik, paman," kata Katok sambil menerima pukatnya. Dari rumah pamannya, ia langsung berlari ke rumah kakeknya, untuk mengajak kakeknya bersama-sama memasang pukat.

"Ya, tunggu sebentar," kata kakeknya. "Saya berkemas- kemas dahulu.

Katok menunggu kakeknya mengemasi pukatnya, yang sangat banyak itu. Ada kira-kira seratus buah banyaknya. Pantas banyak saja ikan yang ditangkap kakeknya. Setelah kakeknya selesai mengemasi pukatnya, berangkatlah mereka bersama-sama menunju ke sawah. Disanalah kakeknya sering memasang pukatnya. Sesampainya disana, Katok memperhatikan terlebih dahulu bagaimana cara orang memasang pukat. Setelah dia mengerti,pergilah ia zendiri ke suatu tempat yang dianggapnya baik untuk memasang pukatnya. Setelah siap semuanya dan pukat sudah diikatkan, datanglah kakek menegurnya.

"Hai Katok, jangan pasang pukatmu di sini. Tempat ini akan kepergunakan."

"Kalau disini tidak boleh, dimana saya akan pasang pukat ini?" tanya Katok.

"Pasanglah disana," kata kakeknya sambil menunjukkan kesuatu tempat. Katok pun pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh kakeknya itu.

Setelah siap emua dan tali pun sudah diikatkan, datanglah kakeknya sambil berkata.

"Hai Katok! Pukatmu jangan dipasang di tempat ini. Tempat ini akan keperginkaan."

"Dimana  pula saya boleh memasang pukat ini., kakek? Disini tidak boleh, disana tidak boleh juga," kata Katok dengan nada yang agak kesal.

"Pasang saja pukatmu di atas pohon asam itu," kata kekeknya sambil menunjuk ke sebatang pohon asam, yang letaknya tidak jauh dari tempat itu. Katok menurut saja perintah kakeknya. Pergilah ia mendekati pohon asam itu,. Sampai disana dipanjatnya pohon asam itu, lalu mencari ranting yang baik untuk mengikat pukatnya. Setelah semua selesai, dengan rasa puas turunlah ia.Semenjak itu, semenjak ia turun dari pohon asam memasang pukatnya dia sudah mereka-reka, apa gerangan isi pukatnya besok pagi. Setelah memandang sekali lagi keatas pohon asam dimana pukatnya terikat, ia pun mengajak kakeknya untuk pulang. Semalam suntuk Katok tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya terpusat pada pukatnya melulu. Semalam suntuk kepalanya menjadi panas, gelisah terus menerus mengenangkan hari esok. Apa gerangan yang akan tertangkap oleh pukatnya. Sebentar-bentar ia menjenguk keluar, untuk melihat kalau hari sudah agak terang.

"Ah....., masih juga gelap," katanya. "Panjang nian malam ini. Ataukah  siang memang tak akan kunuung tiba?"

Sebentar lagi keluarlah ia menjenguk. Bukan main gelapnya diluar. Terpaksa ia kembali lagi berbaring di atas tikarnya. Akhirnya terang datang juga, sedang gelap pergi tanpa membekas. Cepat-cepat Katok lari ke rumah nenek dan kakeknya. Kebetulan kakeknya juga baru saja bangun dan akan segera pergi mengambil pukatnya. Belum sampai Katok di halaman rumah kakeknya, ia sudah ditegur kakeknya. "Hai, Katok! Mari kita segera pergi mengambil pukat kita. Mudah-mudahan banyak pula rezeki kita hari ini.

"Baik kakek, " katanya. "Mari kita berangkat segera. Saya pun sudah tak sabar lagi. Saya ingin segera mengetahui apa gerangan isi pukatku."

Keduanya berangkatlah ke sawah, dimana mereka memasang pukat mereka kemarin. Setelah sampai di tempat. Katok segera memanjat pohon asam tempat ia mengikat pukatnya kemarin. Kakeknya tertawa saja di dalam hati, sambil berkata sendiri.

"Katok anak bodoh. Mana mungkin pukat akan mengena kalau dipasang di atas pohon  asam. Barangkali nanti jin atau siluman akan jadi isinya."

Kakek itu asyik mengumpulkan pukat yang letakknya bertebaran. Katok pun telah sampai di atas pohon asam itu. Makin dekat ia ke tempat pukatnya, debar jantungnya makin menjadi- jadi. Setelah dekat benar, jelas dapat didengarnya suara kersak-kersik di dalam pukatnya.

"Ah..... tahu ras. Pukatku mengena. Alhamdulillah makbul juga doa ibuku."

Untuk menjaga supaya isi pukatnya tidak dapat keluar, cepat-cepat ditutupnya mulut pukatnya. Kemudian ia turun dengan sangat berhati-hati, supaya isi pukatnya jangan terlepas. Setelah sampai dibawah, ia pun segera mengeluarkan isi pukatnya. Ternyata isinya  sebangsa burung pipit, yang bulunya berwarna kuning. Jadi pukatnya berisi sebangsa burung yang kecil, disebut Kecial Kuning. Sangat mengherankan juga, karena burung itu dapat bercakap-cakap sebagai manusia biasa. Setelah burung tertangkap dan tak mungkin melepaskan diri, berkatalah burung itu kepada Katok.

"Hai Katok! Lebih baik lau lepaskan saya. Badan saya sangat kecil, daging saya tidak seberapa. Takkan cukup  buat kamu berdua dengan ibumu. Lepaskan saja saya."

"Mana mungkin aku akan melepaskan kamu," kata Katok. "Kamu kuperoleh setelah berpayah-payah sejak kemarin. Kalau untuk berdua dengan ibuku dagingmu tidak mencukupi, biarlah untuk ibuku sendiri."

"Begini Katok," kata Kecial Kuning selanjutnya. "Akan besar sekali faedahnya. Jika kamu mau melepaskan aku. Akan kubayar jasamu ini, dengan apa saja yang kau ingini. Kalau kau tidak percaya., cabutlah buluku barang selembar. Kemudian bakarlah. Turuti kemana nanti berjalan asapnya. Dan kamu akansampai di tempat tinggalku. Disana nanti kamu boleh minta apa saja yang kamu ingini."

Setelah berpikir dan menimbang-nimbang kata Kecial Kuning itu, akhirnya Katok percaya. Akhirnya ia pun berkata.

"Baiklah Kecial Kuning, akan kelepaskan engkau. Semoga benar engkau akan dapat membalas budi."
Seketika itu juga dilepaskanlah burung itu. Ia segera kembali kepada kakeknya, dan mereka pulang bersama-sama. Begitu ia datang, begitu kakeknya bertanya.

"Hai katok! Apakah ada isi pukatmu hari ini? Gembira sekali aku melihat kamu. Berapa isinya, Katok? Adakah cukup untuk engkau berikan kepada ibumu?"

Sambil berjalan pulang Katok menjawab, "Sebenarnya pukatku ada isinya, kakek Isinya seekor burung."
"Tepat," kata kekeknya memotong. "Masakan ada ikan di atas pohon asam.

"Burung itu," kata Katok menyambung jawabannya tadi,"sudah saya lepas kembali."

"Sudah kau lepas kembali?" kata kakeknya. "Berbahagia benar engkau. Pukat berpayah-payah dipasang, isinya ada, dilepaskan kembali. Benar-benar bodoh engkau ini Katok. Kalau kekek yang mendapatnya, tak ada tawaran lagi."

"Ah..... biarlah kakek. Saya rasa akan lebih besar manfaatnya."

"Terserahlah," kata kakeknya. "Harus kau ketahui, bahwa ini bukan salahku."

Mereka terus berjalan dan sampailah mereka ke rumah masing-masing. Begitu sampai di rumah, ibu Katok segera bertanya kepada anaknya.

"Bagaimana Katok? Adakah pukatmu berisi barang seekor?"

"Begini ibu, isinya memang ada tadi. Tetapi seekor burung."

Lalu Katok menceritakan seperti apa yang ia ceritakan kepada neneknya tadi. Ditambahkan oleh Katok, bahwa burung itu akan membalas budinya dengan apa saja yang ia kehendaki. Sebagai bukti, dikeluarkannya selembar bulu burung yang disebutnya tadi. Seraya ia bertanya kepada ibunya.

"Apakah ibu mempunyai mereng dari ketan hitam?"

"Ada," kata ibunya. "Di dalam dapau kemarin dulu ibu taruh. Coba kamu cari disana."

Katok segera mencarinya. Setelah dapat, ia segera membakarnya dan membakar bulu burung tadi. Seketika itu juga ia merasa berada di alam lain/ Kini ia sedang berjalan menuruti asap bulu burung tadi. Kemana asap itu bergerak, kesana pula ia mengikutinya. Akhirnya ia sampai pada suatu tempat, dimana seorang-orang tua tiba-tiba datang menghampirinya, sambil berkata.

"Hai Katok! Engkau sebentar lagi akan sampai di kerajaan Kecial Kuning. Sesampai disana nanti, engkau akan ditawari  bermacam-macam barang. Tetapi barang-barang itu jangan kau pilih satu pun. Lebih baik kau minta seekor kuda saja. Dan pilihlah diantara kawanan kuda itu yang paling buruk. Nanti adaalah diantara kawanan kuda itu yang paling buruk. Nanti ada seekor kuda yang hampir tidak dapat berjalan. Ia sangat payah mengikuti temannya berjalan. Nah, pilihlah kuda itu. Dengarkah kamu, Katok?"

Sehabis berkata demikian tiba-tiba hilanglah orang tua tadi. Dengan penuh keheranan, Katok mencari kesekelilingnya. Tetapi memang orang tua tadi telah menghilang. Betul seperti kata orang tua tadi. Sebentar kemudian sampailah  ia pada sebuah desa. Agak ramai juga orang di tempat itu.

"Ha......."kata Katok. "Barangkali inilah desa Kecial Kuning. Baiklah aku tanyakan dimana rumah Kecial Kuning itu pada orang-orang di sini."

Pada waktu itu lewatilah seorang yang tegap sekali di hadapan Katok. Orang ini selain memelihara kumis dengan agak panjang, dadanya penuh pula ditutupi bulu. Katok segera menegur orang ini.

"Paman, bolehkan saya bertanya, dimana rumah Kecial Kuning?"

Mendengarnama Kecial Kuning disebut oleh sembarang orang, bangkitlah marah orang tadi. Dengan mata melotot, ia menghadapi Katok, sambil berkata dengan bertolak pinggang.

"Hai anak kecil! Tutup segera mulutmu. Apakah kamu tidak tahu, bahwa yang bernama Kecial Kuning itu, adalah raja ditempat ini. Dan...... aku ini adalah Patiknya."

Karena marahnya,lalu diikatnya tangan Katok, lalu ditambatkan pada sebatang pohon. Patih segera menghadap raja Kecial Kuning.

"Ampun tuanku. Patik menjadi marah mendengar nama Tuan diremehkan orang. Segera Patik ikat anak itu, dan patik tinggalkan diluar."

"Cepat kamu bawa anak itu masuk menghadap," perintah Raja Kecial Kuning akan memenuhi janjinya. Kamu boleh pilih boleh sebut apa saja yang kau inginkan dari padaku. Lihatlah benda-benda di sekitar tempat ini."

"Ampun Tuanku Raja." Sembah Katok. "Tak satu pun diantara barang-barang di tempat ini yang berkenan di hati hamba."

"Kalau begitu apa yang kamu kehendaki Katok? Apakah kamu menghendaki padi?"

"Ampun Tuanku," sembah Katok kembali. "Padi juga hamba tidak inginkan."

"Kalau begitu apakah yang kau kehendaki Katok? Segeralah sebut, biar kudengar."

"Sekali lagi ampun Tuanku, hamba hanya menginginkan seekor kuda."

"Kuda? Dan hanya seekor?"

"Benar Tuanku. Permintaan hamba hanyalah seekor kuda. Lain dari itu tidak ada."

Raja kemudian bersabda.

"Baik kalau demikian. Hai seluruh rakyatku, kumpulkanlah sekarang juga segenap kuda yang ada diseluruh negeri. Kumpulkan semua dialun-alun sebelah selatan."

Rakyat segera mengumpulkan semua kuda yang ada didalam negeri mereka. Setelah terkumpul semua, keluarlah Katok untuk memilih seekor di antara kuda yang banyak itu. Kebetccunya, akhirnya terdengar pulaulan dilihatnya seekor kuda seperti apa yang diucapkan oleh orang tua yang datang dengan tiba-tiba tadi. Tetapi kuda itu berada di tempat paling belakang. Memang dialah kuda yang paling buruk dan kurus di antara sekian kuda yang ada di tempat itu. Dengan tidak ragu-ragu, Katok memilih kuda yang jelek dan kurus itu. Orang-orang yang hadir di tempat itu semuanya keheran-heranan, mengapa sampai kuda yang demikian itu yang menjadi pilihannya. Kenapa tidak memilih si Belang misalnya, atau si Merah yang sudah terkenal itu. Setelah kuda hitam yang kurus itu diberikan kepada Katok ia pun segera minta izin untuk pulang. Setelah mengucapkan banyak-banyak terima kasih, ia pun berangkat. Katok segera pulang dengan perasaan puas dan bangga atas kudanya yang hitam itu.

Sesampainya di rumah, kuda itu akan berak. Dihentikan oleh Katok persis didepan rumahnya. Sungguh heran dan ajaib yang menjadi kotoran kuda itu bukan kotoran biasa, tetapi ringgit-ringgit yang terbuat dari perak. Kotoran kuda itu, yang terdiri dari ringgit perak, segera dikumpulkan oleh Katok, dibantu oleh ibunya yang segera datang karena mendengar sorak kegembiraan anaknya. Telah beberapa kali kudanya berak, namun kotorannya tak pernah berubah. Selain ringgit perak saja yang jadi kotorannya.

Rezeki yang jatuh pada cucunya, akhirnya terengar pula oleh kakek dan nenek Katok. Pada suatu hari disuruhlah nenek Katok datang ke rumah Katok untuk menadah kotoran kuda yang terdiri dari ringgit perak itu. Betul yang menjadi kotoran kuda itu tetap ringgit perak itu. Betul yang menjadi kotoran  kuda itu tetap ringgit perak, tetapi setiap yang jatuh ke bakul nenek Katok, disapu kembali oleh kuda itu dengan ekornya. Setelah selesai, tinggal hanya tiga ringgit saja. Jadi yang dapat dibawa pulang oleh neneknya hanya tiga ringgit itu saja. Sesampai di rumah, segera ia menceritakan kepada kakek Katok tentang peristiwa yang dilihat dan dialaminya. Kake Katok agak kecewa nampaknya, sehingga ia bertekad untuk membawa kuda kepunyaan Katok ke rumahnya. Benar saja. Setelah ia menyediakan makan yang cukup banyak untuk kuda itu, ia pun menyuruh nenek Katok untuk meminjam kuda itu sebentar.

Katok memberikan kuda itu kepada neneknya. Lalu kuda itu dibawa neneknya ke rumah kakeknya. Sesampai disana kuda itu segera diberi makan secukupnya. Setelah kelihatan tanda-tanda kuda itu mau berak, tikar un disediakan untuk menuduh kotoran kuda atau ringgit perak itu. Tetapi apa lacur. Sekarang yang menjadi kotoran kuda itu, kotoran biasa yang baunya lumayan juga. Karena jengkelnya, kakek Katok segera mengambil kayu yang cukup besar, lalu dipukulnya punggung kuda itu. Saking sakitnya, kuda itu segera mengambil langkah seribu, langsung pulang ke negeri Kecial Kuning. Setelah Katok mengetahui kudanya sudah lari pulang ke negerinya Kecial Kuning, ia pun segera menyusulnya. Dan sampai disana, ia melaporkan bahwa kudanya telah lepas. Segera Kecial Kuning memerintahkan rakyatnya untuk mencari kuda itu kembali. Setelah sapat, kua itu pun dibawa pulang oleh Katok.

Sesampai di rumah, kembali lagi kuda itu menghasilkan ringgit perak sebagai kotorannya. Akibatnya, kekayaan Katok sekarang sudah tak ada yang  dapat mengimbanginya. Dialah orang yang paling kaya di desa itu. Kakeknya hanya melihat dengan penuh iri hati kepada cucucnya yang sekarang telah menjadi orang yang paling kaya. Pamannya, yang membuatkan Katok pukat untuknya, juga diberi hadiah yang besar oleh Katok. Demikianlah, berkat kejujuran dan keikhlasan serta kecintaannya kepada ibunya, Katok dapat mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Tentang kakeknya, tepat seperti kata pepatah" Rezeki Elang, takkan didapat oleh musang." 

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Pasang Kodong To Lolon Bage "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel