Inan Macan Kurus Dait Inan Sampi Kurus

Alkisah Rakyat ~ Tersebutlah pada sebuah hutan, seekor induk macan yang badannya sangat kurus sedang mencari makan. Ia sangat lapar karena sejak pagi-pagi belum juga mendapatkan rezkinya, Walau haya sedikitpun. Maka berjalanlah induk macan ini dari utara menuju ke selatan. Begitu pula seekor induk sapi, yang badannya juga sangat juga sangat kurus sedang berjalan mencari makan di hutan tersebut, dengan arah yang berlawanan dengan induk macan tadi. Jadi induk sapi ini berjalan dari selatan menuju ke utara. Setelah beberapa lama mereka berjalan, maka pada suatu hari bertemulah mereka di tengah hutan tersebut. Mereka saling pandang, dengan keheran- heranan di dalam hati masing-masing, apa sebab maka badan masing-masing begitu kurus. Induk macan terlebih dahulu membuka pembicaraan. "Hai saudaraku! Mau kemana engaku ini, dan mengapa sampai sedemikian kurus badanmu? Bukankah didalam hutan ini masih banyak makanan yang sesuai dengan seleramu?"


Menjawab induk sapi, "Begini saurada! Baru sekaranglah aku tahu bahwa badanku termasuk bilangan kurus. Kalau badanku ini engkau katakan kurus, aku pun heran juga mengapa badanmu juga sedemikian kurusnya." Berkatalah induk macan. "Ya, badanku juga kurus. Kalau begitu kita sama. Kita sama-sama sudah tua, sama-sama kurus. Sekarang baiklah kita jalin persudaraan saja. Sejak sekarang kita harus saling tolong menolong, bantu membantu dalam setiap kesulitan yang kita hadapi. Mulai sekarang, tidak ada diantara kita yang makan sendiri. Sedikit atau banyak makanan yang kita dapat harus kita bagi dua. Pendeknya sekarang, kita sudah bersaidara." Diceriterakan pula tentang seorang raja yang bernama Raja Ambara Madya. Pada suatu hari, timbul keinginan sang Raja unutk pergi berburu. Maka diperintahkanlah kepada seluruh rakyat untuk menyertai Raja dalam perburuan nanti. Segala keperluan disiapakan orang, seperti: jaring, anjing, bekal seperlunya dan lain-lainnya. Setelah siap semuanya, maka pada suatu hari yang menurut perhitungan jatuh hari baik, berangkatlah Raha Ambara Madya bersama seluruh pengiringnya menuju ke hutan.

Setelah sampai disana, jaring segera dipasang. Orang-orang berpencaran, sambil memperhatikan sasaran masing-masing. Dalam waktu singkat, banyak binatang buruan yang btidak didapat. Banteng, rusa, dan babi juga sudah banyak yang tertangkap. Tetapi induk macan  dan induk sapi lepas dari perburuan, karena tempat mereka bersembunyi agak di pinggir hutan. Mereka tidak bersama-sama dengan kawanan binatang-binatang lainnya. Semua orang yang turut dalam perburuan ini, merasa sangat puas, karena dalam waktu singkat, mereka telah memperolehsekian banyak binatang buruan. Mereka benar-benar termasuk bilangan orang yang sedang mengalami langkah kanan. Di tengah-tengah perburuan ini deceriterakan bahwa Raja Anbara Madya beristirahat diatas sebuah gunung, masih termasuk wilayah hutan ini juga. Pada waktu Raja sedang beristirahat, timbul keinginan Raja untuk buang air kecil. Maka diatas sebuah batu yang agak besar, yang mempunyai lekukan yang agak besar diatasnya, kencinglah raja. Air kencing Raja ini tergenang sampai waktu agak lama, sehingga akhirnya dijumpai oleh induk macan dan induk sapi.

Setelah Raja puas berburu, pulanglah Raja dengan segenap pengiringnya. Kembalilah segenap ini hutan berkeliaran kesana- kemari mencari makan dengan bebasnya. Termasuk pula dua saudara, induk macan dan induk sapi, kembali berkeliling mencari makan dengan bebasnya pula. Bahaya yang mengancam mereka sudah tak ada lagi. Pada suatu hari sampailah induk macan pada tempat dimana Raja Ambara Madya pernah kencing. Segera pula ia memanggil induk sapi, "Hai, induk sapi! Cepatlah kemari. Disini aku menemukan air. Kurasa cukup untuk kita minum berdua." Cepat, tanpa berpikir panjang, induk sapi pun datang mendekat. Setelah samapi ditempat itu, berkatalah induk sapi,  Benar katamu, induk macan! Kebetulan sekali, aku sangat haus. Mari kita segera minum. Untuk adilya mereka minum bergiliran. Induk macan seteguk, disusul oleh induk sapi seteguk. Kemudian induk macan lagi, lalu induk sapi. Begitulah seterusnya sehingga habis air kencing Raja diminum oleh kedua binatang ini. Setelah kedua induk binatang yang sama-sama kurus ini meminum air kencing Raja,maka dengan amat mengherankanbadan kedua binatang itu menjadi gemuk, sehingga induk macan dan induk sapi yang dahulunya kurus itu, sekarang telah menjadi induk-induk biantang yang sehat dan gemuk.

Kemudian induk macan dan induk sapi pun buntinglah, setelah cukup waktunya, maka pada suatu malam, yaitu pada malam senin induk macan pun melahirkan anaknya pula. Anak kedua induk binatang ini sangat istimewa sekali. Induk macan bukan melahirkan macan , induk sapi pun tidak melahirkan sapi. Tetapi anak kedua induk binatang itu ialahmanusia. Kedua =duanya melahirkan anak laki-laki manusia. Tetapi cara perawatan induknya masing-masing seperti merawat anak binatang yang sebenarnya. Sehingga manusia yang berindukkan binatang ini sudah dapat berjalan dan berlari. Sekarang mereka sama mencari makan sendiri. Anak-anaknya mencari buah-buahan yang terdapat di dalam hutan itu sebagai makanannya. Setelah kedua anak binatang ini agak besar, mereka bermain-main ketempat yang agak jauh. Makin lama makin jauh juga. Sehingga pada suatu hari, sampailah  mereka pada suatu perkampungan. Sampai disana, betapa terkejutnya mereka. Disan mereka melihat mahkluk yang berjalan dengan dua kaki, seperti halnya mereka. Mereka makin mendekat. Mereka mendengar orang-orang ditempat itu berbicara satu sama lain. Setelah hari menjelang sore, cepat-cepat mereka pulang ke tempat induk mereka ditengah hutan. Setelah malam tiba, mereka menceriterakan kepada induknya masing-masing pengalaman-pengalaman mereka sehari tadi. Induknya menceriterakan juga, bahwa itulah yang dinamakan manusia, yang jenisnya sama dengan kamu. Dengan merekalah sepantasnya kamu bergaul.

Esoknya, berangkatlah mereka lagi ketempat perkampungan kemarin. Sekarang mereka menjumpai penduduk kampung itu sedang berkumpul di suatu tempat yaitu pada suatu telaga yang tidak terlalu besar. Menururt keterangan penduduk setempat, telaga itu berisi ikan yang amat banyak. Kalau untuk dimakan saja, tak mungkin habis oleh penduduk di tempat itu. Maka mereka pun bermaksud untuk mengeringkan telaga itu. Maksudnya supaya dapat dengan mudah mengambil isinya. Tetapi kenyataannya, sudah tiga hari mereka bekerja, dengan hasil yang masih kosong. Jangankan akan menjadi kering, sedikitpun air telaga itu tidak berkurang. Sekarang datanglah anak-anak yang masih kecil ini, seraya bertanya, "Paman, bolehkah saya bertanya: Apa gerangan yang sedang dikerjakan orang ditempat ini?" "Kami akan mengeringkan telaga ini, hai anak kecil."

"Kalau itu yang kalian inginkah, telaga ini tidak akan kering biarpun berapa hari kalian bekerja dan biar berapa saja teman kalian mengerjakannya. Di bawah telaga ini terdapat mata air yang cukup besar."

"Ha.........pintar sekali engkau, hai anak kecil. Lebih baik engkau minggir saja. Engkau hanya menghalang-halangi kami bekerja."

Sekali lagi saya katakan bahwa telaga ini tidak mungikin kering. Akan sia-sia sajalah pekerjaan kalian."

Senja hari datang kembali: Anak macan dan anak sapi segera bersiap-siap untuk pulang kembali ke hutan. Di sana induk mereka menantikan kedatangan mereka.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka datang lagi ke perkampungan itu. Didapatinya penduduk kampung itu sedang giat bekerja, melanjutkan pekerjaannya yang belum juga mendatangkan hasil.

"Ayo, bagaimana? Akan keringkah telaga ini oleh kalian? Tidak benarkah seperti apa yang telah saja katakan kemarin?" sapa anak-anak itu.

"Kalau memang telaga ini dapat 'kering' saya kira kemarin pun sudah kering. Sekarang apakah yang kalian inginkan? Kalian ingin melihat telaga ini kering dengan seketika?"

"Memang itulah yang kami kehendaki, hai anak kecil."

"Kalau demikian, baiklah. Bersiap-siaplah kalian! Sekarang juga akan habis, semua isinya naik kedarat. Tak seekor ikan pun yang akan tertinggal di dalam." Kemudian anak macan dan anak sapi menghentakkan kakinya tiga kali di pematang telaga itu. Seketika itu juga, berhamburanlah isi telaga itu ke darat. Orang-orang kampung itupun sibuk mengumpulkan ikan yang muntah dari dalam telaga itu. Berhari-hari hanya itulah yang mereka kerjakan. Mereka menjualnya kepasar-pasar namau ikan itu tak juga habis-habisnya. Maka dalam waktu singkat seluruh isi kampung itupun menjadi kaya.

Pada suatu waktu berundinglah segenap ini kampung itu, untuk memberi tanda jasa kepada abak kecil, yang telah menyebabkan mereka menjadi kaya semuanya. Berkatalah salh seorang di antara yang tertua dari penduduk kampung itu. "Menurut pikiransaya, anak yang masih kecil ini banyak sekali memberikan jasa kepada kita sekalian. Oleh karena itu kita semua berhutang budi kepadanya. Bagaimana kalau kita berikan saja kepada anak kecil itu keris pusaka kita yang satu-satunya ini, beserta dengan selembar kain bagi setiap anak kecil itu? Adakah menurut  pikiran kalian pantas kita lakukan?"

"Saya setuju, saya setuju.........! jawab yang lainnya.

Maka diberikanlah kepada anak macan dan anak sapi itu, masing-masing selembar kain dan sebilah keris yang mempunyai lekuk tiga. Setelah benda-benda tersebut diterima oleh anak macan dan anak sapi itu, pulanglah mereka, kepada induknya ditengah hutan. Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan tenteram. Pada suatu hari berkatalah anak macan kepada anak sapi, "Hai saudaraku anak sapi! Cobalah sekarang kita menentukan siapa diantara kita ini yang lebih tua. Supaya kita saling memanggil dengan sebutan kakak dan adik. Apa yang akan kita tempuh untuk menentukan hal tersebut?"

"Akh, kalau begitu pikiranmu, baiklah! Begini saja. Sekarang kita bergumul, kita mengadu kekuatan. Siapa yang kalah, dialah yang ,menjadi adik, dan yang menang berhak dipanggil kakak. Apakah kau setuju?"

"Tepat sekali.....aku setuju," kata anak macan. Bersamaan dengan itu, masing-masing menyiapakan diri untuk segera mengadu kekuatan. Mereka akan bergumul dan mengadu kekuatan.

Pertarungan ini akan berkahir dengan panggilan kakak. Tetapi yang menang dan penggilan adik kepada yang kalah. Tetapi ternyata keduanya sama-sama kuat, sama-sama lincah dan sama-sama gesit. Mereka saling membanting, yang rebah dan yangterpeleset silih berganti, sehingga sulit akan menentukan siapa diantara mereka ini yang akan memenangkan pergulatan ini. Namun anak sapi rupanya memang memiliki tenaga yang lebih kuat dari pada lawannya. Pada suatu saat, anak macan sudah terdesak sedemikian rupa dan akhirnya anak macan pun menyatakan diri menyerah.

"Hayi......! Bagaimana..? Masih mampukah adik menandingiku?" kata anak sapi. "Aku mengaku kalah dan kaulah hai anak sapi yang berhak dipanggil kakak. Mulai saat ini, aku akan memanggil kakak padamu."

"Selanjutnya mulai sekarang kita membuat nama untuk diri kita masing-masing."

"Apakah itu akan ada manfaatnya?" tanya anak macan. 

"Menurut pikiranku, nama juga memang sangat perlu. Setujukah kau adikku, jika aku sendiri, anak sapi, sekarang bernama Banteng Raga. Sedang kau anak macan kuberi nama Remong Malela."

"Saya setuju dan sangat puas mendengar kedua nama tadi." 

"Sekarang begini hai adikku Remong Malela. Aku mempunyai eencana yang agak hebat untuk kita laksanakan selanjutnya."

"Bagaimana rencanamu itu, kakak Banteng Raga?"

"Begini.....! Dengarkan baik-abik! Kamu tahu sendiri bahwa kita ini adalah bangsa manusia. Sudah pasti, bahwa manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada makhluk lainnya. Ibu kita adalah binatang. Ibuku seekor sapi dan ibummu adalah seekor macan. Bukankah ini sangat memalukan jika seandainya orang banyak nanti mengetahuinya? Ah.....aku pikir, kita akan sangat malu. Oleh karena itu maka aku bermaksud untuk membunuh saja ibu kita itu. Bagaimana? Baikkah itu menurut pikiranmu?"

"Yang baik menurut pikiran kakak, akan adik turuti saja. Tetapi kalau seandainya rencana ini akan kita laksanakan maka saya usulkan supaya ibumulah yang trlebih dahulu kita bunuh. Bagaimana pikiran kakak?"

"Boleh...... ibu siapa saja. Yang penting, jangan ada yang ingkar janji."

Setelah perundingan mereka selesai, berangkatlah mereka mencari induk sapi yang sedang asyik beristirahat di rumahnya. Mendekatlah Banteng Raga kepada ibunya; Bagaimana pun hatinya bergetar juga mengingat rencana yang akan segera dia laksanakan. Namun semuanya itu dapat dia atasi. Selanjutnya dia pun berkata.

"Hai ibuku yang sangat ku sayangi! Sepanjang pendengaran anakda, ibuku termasuk yang mempunyai kekuatan yang lumayan juga. Benarkah itu ibu?"

"Memang benar, anakku," jawab induk sapi itu.

"Kalau memang benar demikian, anakda ingin membuktikannya. Setujukah ibu?"

"Baik kamu boleh membuktikannya sekarang juga. Segeralah cari tali yang kuat."

Banteng Raga segera mencari akar-akar yang kuat. Diikatnya keempat kaki ibunya kuat-kuat. Setelah selesai, disuruhnyalah ibunya membuka ikatannya. Dengan tidak terlalu sulit, sambil mengerahkan tenaganya, tali itu ditarik: seketika itu juga ikatan tali itu pun putus dan terlepaslah ia dari ikatannya.

"Hebat, memang hebat! Ibuku memang benar-benar kuat. Sekarang aku yakin. Bagaimana kalau kita coba sekali lagi, ibu?" kata Banteng Raga.

"Jangankan sekali, dua tiga kali pun boleh," kata ibunya berbangga. Banteng Raga segera mencari akar-akar yang lebih kuat lagi. Segera ia ikatkan akar-akar yang lebih kuat lagi.Segera ia ikatkan akar-akar itu dengan kuatnya di kaki ibunya. Setelah siap lalu disuruhnya ibunya membuka ikatan itu. Induk sapi segera mengerahkan kekuatannya. Sekali, dua kali, tidak juga dapat putus ikatannya. Malahan ikatannya makin bertambah kuat.

"Sekali lagi bunda," kata Banteng Raga.

Dicoba sekali lagi, hasilnya kosong lagi.

"Tidak kuasa bunda membuka ikatannya, anakku. Tolonglah nanda bukakan."

"Benarkah bunda tidak dapat?" kata Banteng Raga.

"Ya, memang bunda tidak dapat. Ikatannya terlalu kuat."

"Baik kalau demikian. Sekarang dengarlah permohonan nanda. Begini: nanda memang bermaksud untuk membunuh bunda sekarang. Nanda mengharap kerelaan bunda dunia dan akhirat. Hal ini terpaksa nanda lakukan kerena nanda malu mempunyai ibu seekor binatang seperti bunda ini. Apa akan kata orang nanti jika seandainya mereka tahu, bahwa nanda adalah anak dari seekor binatang. Bukankah hal seperti itu sangat memalukan nanda sendiri?"

"Kalau itu yang nanda inginkan, lakukanlah. Demi kasih= sayangku padamu, anakku, bunda rela mengorbanknan apa saja demi kebahagiaanmu kelak. Mudah-mudahanlah kamu selamat dan menjadi manusia yang berguna.

Setelah mengheningkan cipta sejenak, Banteng Raga pun mengambil sebuah batu yang besar. Batu itu diangkatnya tinggi- tinggi, lalau batu itu dibantingkannya persisi diatas ubun-ubun ibunya. Induk sapi itu [un mati seketika itu juga. Setelah induk sapi itu mati, sekerang giliran induk macan.

"Hai Remong Malela! Sekarang adalah giliran ibumu. Mari mkita cari dia."

"Ah... tidak! Aku sangat sayang pada ibuku. Tak tega aku membunuhnya."

"Kita tidak boleh ingkar janji, Remong Malela. Bagaimana pun beratnya tugas ini, ibumu pastimkita bunuh. Ayo, segera kita mencarinya."

Induk macan sedang beristirahat dengan enaknya. Datanglah anaknya bersama Banteng Raga. Induk macan pun segera ditipu oleh anaknya. Sehingga induk macan kini sudah terikat dengan amat kuatnya.

"Cobalah bunda buka," kata Remong Malela.

Setelah ternyata bahwa induk macan tidak dapat membuka ikatannya, berkatalah anaknya, Remong Malela.

"Sebenarnya nanda bermaksud membunuh bunda, karena nanda malu mempunyai ibu seekor binatang. Jadi lebih baik nanda membunuh buda sekarang. Kuharapkan kerelaan bunda yang sedalam-dalamnya."

Induk macan pun tidak banyak bicara. Ia menyerahkan nasibnya sepenuhnya di tangan anaknya. Maka Remong Malelal pun segera mengambil sebuah batu yang besar. Dengan sekali hantam, pecahlah kepala induknya. Induk macan pun mati seketika itu juga.

Setelah kedua ibunya, induk macan dan induk sapi mati, Banteng Raga serta Remong Malela berangkat menuju desa, meninggalkan hutan tempat kelahirannya. Di tengah jalan, mereka menjumpai orang-orang sedang menumbangkan sebatang pohon asam yang besar sekali. Anak-anak ini segera bertanya untuk apa mereka menebang pohon asam itu. Orang-orang itu menjawab.

"Semalam Puteri Raja Awang Madya yang bernama Puteri Ismayawati meninggal dunia. Untuk selamtannya, maka kami ditugaskan untuk mengambil kayu api. Oleh karena itu, maka kami tebang pohon asam ini.

"Kalau demikian, mari saya bantu, supaya cepat selesai." Ujung pohon adam itu dipegangnya kuat-kuat, lalu dibelah, kemudian dipotong-potong sampai merupakan kayu bakar.

Mereka menggunakan tangan saja. Dalam waktu yang singkat selesailah pekerjaan itu. Orang-orang itu hanya memandang dengan mulut ternganga saja. Tak seoorang pun yang sanggup mengeluarkan kata-kata, melihat kesatian anak kecil itu. Kemudian seorang di antara mereka, lari pulang menghadap Raja. Ia menceriterakan kesaktian anak kecil itu. Raja segera memerintahkan supaya anak kecil itu dibawa menghdap. Banteng Raga bersama Remong Malela kemudian dibawa menghadap. Setelah sampai di hadapan Raja, maka Raja pun bersabda.

"Hai anak kecil, siapakah nama kalian dan dari mana kalian datang?"

"Ampun Tuanku!" sembah anak kecil itu. "Hamba ini bernama Banteng Raga, sedang teman hamba ini adalah adik hmba bernama Remong Malela. Adapun asal hamba ialah dari tengah hutan."

Kemudian Raja bersabda lagi. "Begini anak kecil! Kami dengan seluruh isi kerajaan Awang Madya sedang berduka cita, dengan meninggalnya puteri kami ssatu-satunya, semalam. Yaitu Puteri Ismayawati."

"Ampun Tuanku! Bagaimana bisa sampai puteri Tuanku meninggal dunia? Bagaimana caranya beliau mati?"

"Mati ya mati, sudah. Puteriku sudah tidak bernapas lagi."

"Bolehkah hamba melihatnya sebentar saja, Tuanku?"

"Boleh!" sabda baginda Raja.

Lalu Banteng Raga dibawa orang ke tempat mayat Puteri Ismayawati. Banteng Raga memperhatikan mayat itu dengan teliti. Lalu ia menyuruh orang mengambil air sedikit. Setelah air dibawakan, ia pun mencelupkan kerisnya ke dalam air itu. Seketika itu juga air mendidih. Kemudian Banteng Raga memercikkan air itu ke wajah Tuan Puteri. Sungguh mengherankan! Mata Tuan Puteri kelihatan berkedip-kedip, seolah-oleh Tuan puteri sedang berbaring. Seterusnya Banteng Raga menyiramkan sisa air itu ke tubuh Tuan puteri. Lebih mengherankan lagi, seketika itu juga Puteri Ismayawati bangun, sambil berkata "Wah, enak benar tidurku kali ini."

Gemparlah sekarang di dalam istana. Puteri Ismayawati yang sudah mati semalam sekarang telah hidup kembali. Berita itu segera disampaikan kepada Raja. Bukan main gembiranya Raja mendengar kabar itu. Pesta berkabung atas kematian puteri Raja, sekarang diubah menjadi pesta suka ria. Pada waktu itu juga Banteng Raga didududkkan dengan Puteri Ismayawati, dan sekaligus dinobatkan menjadi Raja, menggantikan ayahanda Raja Awang Madya. Dengan demikian maka Banteng Raga kini sudah menjadi Raja di kerajaan Awang Madya. Tentang adiknya, emong Malela, karena sudah merasa tidak kerasan tinggal di negara Awang Madya, minta izin kepada kakaknya untuk melanjutkan perjalanannya ke negeri lain.

Walaupun dicegah dengan segala macam cara, namun Remong Malela tetap bersikeras juga. Hanya permohonannya agar supaya keris pemberian isi kampung dahulu itu diperkenankan kakaknya. Maka pada suatu hari berangkatlah Remong Malela mengembara, setelah ia meninggalkan sekuntum bunga kepada kakaknya sebagai pertanda, apakah ia dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, ataukah ia sedang menemui kesulitan-kesulitan.

Setelah beberapa Remong Malela mengembara, maka pada suatu hari sampailah ia di suatu desa yang cukup besar. Tetapi alangkah herannya ia, karena desa itu sangat sepi. Tidak seorang pun yang menampakkan diri.
"Kemana gerangan isi desa ini," pikir Remong Malela. Ia pun segera menuju ke pusat kota, lalu memukul tog-tong atau kentongan. Maka terdengarlah orang berteriak-teriak.

"Hai anak kecil, cepat masuk ke dalam gua, karena garuda sebentar ;agi pasti datang." Ia pun segera menuju ke tempat orang yang berteriak tadi, lalu bertanya, "Ada apa gerangan, sampai kalian pindah ke tempat ini?"

"Cepat masuk ke dalam gua dahulu, hai anak kecil. Harus kamu ketahui, bahwa desa ini sekarang sedang diserang oleh garuda yang amat ganas. Beberapa orang di antara penduduk desa ini, telah menjadi korbannya. Itulah sebabnya kami sekarang bersembunyi di dalam gua ini. Kami takut menjadi korban berikutnya."

"Apakah pasti garuda itu akan datang lagi hari ini?"

"Saya kira garuda itu pasti datang," jawab orang di dalam gua itu. "Lebih-lebih karena tadi sudah didengarnya bunyi kentongan."

"Kalau begitu, baiklah. Tenanglah kalian dan bersabarlah." Tak lama kemudian, hari menjadi gelap seketika. 

Walaupun pada waktu itu hari masih kira-kira pukul dua belas. Sinar sang surya terhalang oleh sayap garuda-garuda yang datang ke tempat itu untuk mencari mangsanya.

Kedatangan garuda-garuda itu disambut Remong Malela dengan gagah berani. Keris sudah terhunus sejak tadi. Begitu Remong Malela keluar, langsung disambar oleh garuda. Tetapi perut garuda dirobeknya dengan keris. Ia dapat keluar, tetapi ditelan lagi oleh garuda yang lainnya. Perut garuda itu dirobek lagi...dapat keluar... ditelan lagi....kemudian ditelan lagi.... dapat keluar. Begitu seterusnya, sehinga habislah garuda -garuda itu semuanya, menemui ajalnya di ujung keris Remong Malela. Bangkai bertumpuk laksana gunug, darah pun mengalir  menganak sungai. Sekarang tinggal Raja garuda saja lagi. Raja garuda segera datang menyerang Remong Malela. Serangan ini disambut dengan gagah berani oleh Remong Malela. Remong Malela dapat ditelan oleh Raja garuda. Perutnya segera dibelah dari dalam. Raja garuda  juga menemui ajalnya. Tetapi malang bagi Remong Malela. Ia tertindih oleh kapak Raja garuda yang sebesar satu lembar pagar. Hal ini  menyebabkan ia tidak berdaya sama sekali. Akhirnya ia juga meninggal dunia pada waktu itu.

Banteng Raga yang senantiasa mengikuti perjalanan adiknya dengan mempergunakan bunga ya ng ditinggalkan adiknya sebagai petunjuk, melihat bunga itu sekonyong-konyong menjadi layu. "Alamat tidak baik," pikirnya. "Pasti adikku dalam keadaan bahaya." Maka ia pun segera memerintahkan rakyatnya untuk mencari Remong Malela. Rakyatnya ada yang dikerahkan menuju ke utara, ke selatan, ke timur dan ke barat. Yang mencari ke jurusan utara dapat mencium bau yang tidak enak. Hal itu segera dilaporkan kepada Raja. Raja memerintahkan untuk terus mencari ke jurusan utara. Benar, tidak jauh dari tempat itu, bertumpuk bangkai garuda. Mereka terus mencari sampai ke tengah-tengah bangkai itu. Di sana mereka menjumpai bangkai Remong Malela ditindih oleh kapak yang bukan main besarnya. Banteng Raga segera mencari keris pusaka yang dibawa adiknya. Setelah didapat, dengan keris itu pula ia menghidupkanadiknya, seperti ia menghidupkan Puteri Ismayawati dahulu.

Karena jasa-jasanya telah berani menentang maut untuk melenyapkan bahaya yang setiap waktu melanda kota itu maka oleh semua penduduk, Remong Malela dinobatkan seketika menjadi Raja di tempat itu. Rakyat di sana sudah tidak mempunyai pilihan lain. Hanya Remong Malela lah yang paling pantas menjadi Raja mereka. Setelah Remaong Malela menjadi Raja, maka ia memerintah dengan penuh keadilan. Kerajaan menjadi aman sentosa, nasib rakyat diperhatikan sampai hal yang sekecil-kecilnya. Rakyat hidup dengan diliputi rasa aman damai dan tidak kekerungan sesuatu apapun. Demikian pula halnya Raja Awang Madya yang sekarang telah digantikan oleh Banteng Raga. Di bawah pemerintahannya, kerajaan menjadi makmur. Hasil pertanian berlimpah-limpah dari tahun ke tahun. Dan Banteng Raga selalu memerintah dengan penuh keadilan. Demikianlah cerita “ANAK MACAN KURUS DAIT ANAK SAMPI KURUS,” yang dua-duanya telah berhasil menjadi raja, berkat sikap kepahlawanan mereka.

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Inan Macan Kurus Dait Inan Sampi Kurus"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel