Cerita Tejaum-Jaum

Alkisah Rakyat ~ Di sebuah desa yang bernama Desa Sekar Katon, konon seorang laki-laki dan seorang perempuan, tengah melangsungkan upacara akad nikah mereka, dengan disaksikan oleh penduduk desa tersebut. Mereka berjanji untuk bersama-sama membangun sebuah mahligai rumah tangga bahagia yang didasakan atas paduan cinta- kasih mereka yang telah dibina sejak bertahu-tahun yang lampau, bermodalkan cita-cita murni yang telah disepakati mereka berdua. Rumah tangga yang mereka idam-idamkan rupanya sekarang telah menjadi suatu kenyataan. Harta benda mereka tidak punya banyak. Yang ada hanya sekedar untuk menjamin hidup sederhana saja. Dengan penuh keyakinan disertai kemauan yang keras, akhirnya sampai juga mereka pada suatu saat di mana sang isteri kini sedang hamil tua. Beberapa hari lagi tentu akan lahir seorang bayi buah idaman hati mereka, lambang ikatan suci antara mereka suami-isteri.


Pada suatu ketika, dengan izin Allah Swt, sang isteri melahirkan seorang bayi  Yah..... bayi perempuan, yang telah dipilihkan nama tepat yaitu Pariya. Setelah lahir sang bayi perempuan ini, maka seolah-oleh bayi ini mengerti akan gejolak hati kedua orang tuanya dalm menyambut kelahirannya, dan Periya tidak banyak bertingkah. Tidak pernah ada gangguan kesehatan yang berarti yang pernah menimpa dirinya. Periya selalu dalam keadaan sehat. Badannya dari sehari ke sehari terus saja brtambah besar, sehingga akhirnya dengan tiada terasa Periya  telah memasuki usia kira-kira 10 tahun. Disaat ini dengan tiada diduga sama sekali, meninggallah ayah Periya. Seorang ayah yang sangat dicintai oleh Periya dan yang mencintai Periya pula secara bukan alan kepalang. Berselang beberapa tahun kemudian, meninggal pula ibu Periya, bunda tersayang yang mencintai Periya sepenuh hati, tanpa mengharapkan balas barang sedikit pun.

Peristiwa-peristiwa yang dialami Pariya membuatnya makin dewasa dalam berpikir, berbuat dan bertindak. Sekarang sadarlah ia bahwa dirinya sudah menjadi seorang yatim piatu. Harta pusaka sekedarnya, yang ditinggalkan kedua orang tuanya, dipeliharanya dengan teliti dan cermat. Begitu pula usaha- usaha dari almarhum kedua orang tuanya, dilanjutkan olehnya dengan baik. Setelah ayahnya meninggal dan setahun ibunya meninggal, diceritakan bahwa ibunya pernah meminjam sebatang jarum pada adiknya. Jadi pada bibi Periya.ada waktu itu ibu Periya sangat membutuhkan jarum untuk menjahit baju yang akan dipakai Periya, karena pakaian Periya yang lain masih basah. Maklumlah pada waktu itu sedang musim hujan dan kebetulan pula hujan turun sejak pagi, ditambah lagi dengan kehidupan mereka yang tidak terlalu baik. Jarum yang dipinjam pada bibi Periya belum dikembalikan, ibu Periya sudah meninggal dunia. Periya menjadi bingung. Ia kini hidup sebatang kara. Setelah ibu tercinta meninggal dunia menyusul mendiang ayahnya maka serasa putus tali tempat bergantung, terbang tanah tempat berpijak.

Hari ketiga setelah ibunya meninggal ia peringati sebagaimana mestinya, hari yang ketujuh, kesembilan, hari yang ke empat puluh, yang ke seratus, semuanya diperingati sebagaimana kebiasaan yang berlaku di kampungnya. Setelah semuanya itu brlalu, maka pada suatu hari datanglah Bibi Periya ke rumah Pariya. Setelah sampai, Bibi langsung saja meminta kepada Periya jarum yang telah dipinjam oleh mendiang ibunya beberapa bulan yang lalu.

"Hai, Periya! Mana jarum yang telah dipinjam mendiang ibumu dulu? Coba carikan dimana ibumu menaruhnya!"

Dengan agak kebingungan Periya pun menjawab.

"Oh Bibi..... saya sendiri tidak tahu dimana ibu menaruh jarum yang dipinjamnya dulu iru, Ibu tidak pernah memberitahukannya kepada saya dimana jarum itu beliau taruh."

"Justru itulah kamu harus mencarinya sekarang. Bibi yakin bahwa jarum Bibi dahulu itu masih ada di rumah ini. Kalu kita tahu dimana jarum itu ditaruh ibumu, itukan namanya mengambil. Tetapi karena kita belum tahu dimana ditaruh ibumu dahulu, maka kamu harus mencarinya sekarang."

Bibi, saya kira pekerjaan itu sangat sulit. Bayangkan saja, bagaimana kita harus mencari benda sebesar jarum di dalam rumah yang seluas ini." Dengan nada agak keras, Bibi Periya menjawab. "Cari saja Periya, biar bagaimanapun sulitnya. Itulah tanggung jawabnya, kau adalah anak satu-satunya mendiang ibumu."

"Bibi.... bukankah Bibi adik kandung ibuku. Sampai hati Bibi bertindak begitu terhadap diri anakda yang selemah ini."

"Hai Periya..... bahwasanya engkau adalah anak saudaraku, itu tak dapat disangkal lagi. Kau adalah anak saudaraku dan kau Periya berhak sepenuhnya memanggil Bibi sekarang ialah tidak pernah kita persoalkan. Yang jadi persoalan sekarang ialah masalah jarum. Jarum yang dipinjam mendinag ibumu dahulu itu soalnya. Jadi hanya soal jarum saja. Yang lain-lain tidak ada."

"Soal jarum yang dipinjam mendiang ibuku sangat sulit dicarikan, bibi. Saya kira tak seorang pun di antara kita yang akan sanggup memikul tugas, mencari jarum di dalam rumah yang sebesar ini. Kalau menurut pikiran saya mustahillah kita akan berhasil menemukannya. Bagaimana kalau kita merundingkan jalan keluarnya, bibi?"

"Jalan keluar katamu Periya? Kita tak akan merundingkan jalan keluarnya. Bibi tetap pada pendiria, pinjam jarum, kembali jarumpula. Itu saja, habis perkara. Carilah jarum itu sampai dapat."

Setelah termenung sejenak, Periya menjawab, "Bagaimana kalau saya ganti jarum Bibi itu dengan kerbau satu kandang?"

Bibi menjawab;  "Tidak bisa."

"Bagaimana kalau dua kandang?"

Bibi menjawab lagi. "Tidak bisa."

"Nah, bagaimana kalau tiga kandang? Biar habis semua harta bendaku untuk mengembalikan jarum Bibi."

"Tidak bisa," jawab Bibi, "sekali lagi, yang dipinjam dahulu, jarum, kembalinya harus jarum  pula."

Periya seketika itu juga langsung menangis tersedu-sedu. Sampai hati benar Bibi memikulkan tugas yang begitu berat pada diriku. Apakah yang harus keperbuat sekarang? Dimana aku akan minta pertolongan? Dari siapa aku akan dapat mengharapkan pertolongan? Siang dan malam, pagi dan sore, Periya tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya tertuju dan terpusat pada bagaimana cara untuk dapat menemukan jarum kepunyaan Bibi. Makan tak pernah, minum pun hampir tak pernah juga, Bibi memberikan waktu hanya tiga hari saja, "Ya Allah...... Ya Tuhanku! Limpahkanlah pertolongan-Mu kepada hamba-Mu yang lemah ini. Keluh kesah tak habis-habisnya keluar dari mulut Periya.

"Akan saya tanyakan pada ibu?.....Oh.... dimanakah ibu? Bukankah ibu telah meninggal dunia? Mungkinkah saya ini  harus berbicara dengan kuburan?"

Kadang-kadang keluh kesahnya diiringi dengan ratapan yang diucapkan dengan tidak sadar.

"Oh.......... Oh  bapa,....... Dimanakah ibu menaruh jaurm Bibi. Nanda akan mengantikan dengan kerbau dua kandang, tiga kandang.....Namun tidak juga.

Yang dipinjam jaurm dan kembalinya harus jarum pula."

Demikianlah terus menerus ratapan yang keluar dari mulut Periya, Siang dan malam dengan tidak mengenal lelah.

"Oh ibu....., Oh bapa........, Dimanakah ibu menaruh jarum Bibi, 

Nanda akan menggantikan derngan kerbau dua kandang, Tiga kandang, Namun tidak juga."

Yang dipinjam jarum dan kembalinya harus jarum pula. Pada suatu saat, Periya dengan tidak menyadari dirinya, sudah keluar dari rumahnya. Ia berjalan dan berjalan terus tanpa arah dan tujuan yang pasti. Berjalan asal berjalan saja, menurutkan arah yang ditentukan oleh mata kaki saja. Ratap dan tangis karena mengandung kesedihan yang amat sangat, tidak putus-putusnya. Setiap oang yang berpapasan dengan Periya, turut berduka cita melihat hal anak yatim piatu yang sedang sengsara, memikirkan tugas berat yang sedang dipikulkannya. Akan tetapi apakah yang mereka dapat berikan itu merupakan bantuan terhadap Periya? Selain doa, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa akan tetap memelihara si Periya dan menunjukkan jalan yang dapat ditempuh olehnya.

"Oh ibu,.......... oh bapa, dimanakah ibu meneruh jarum Bibi.

Nanda akan menggantikan dengan kerbau dua kandang, tiga kandang, Namun tiga juga. Yang dipinjam jarum dan kembalinya harus jarum pula." Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang! Tuhan akan tetap melindungi hamba-Nya yang edang menderita, selama hamba-Nya itu tetap berjalan di atas jalan yang telah ditentukan-Nya. Tuhan mendengar dan Tuhan akan menjawab permohonan yang disampaikan secara ikhlas. Tuhan akan menunjukkan kekuasaannya, sehingga kalau ini sudah terjadi, maka yang mustahil menurut akal manusia, bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. Demikian pula yang terjadi atas diri Periya yang sedang menderita. Tuhan berkenan membukakan Hijab baginya, sehingga Periya seakan-akan sudah berada di alam lain. Di hadapannya terbentang sebuah jalan yang lurus sekali, lebar bersih yang dikiri kanannya dibatasi oleh pagar. Jalan ini terbentang di hadapannya dan Periya mengambil keputusan untuk mengikuti jalan ini sampai dimana saja,.... sambil mengeluarkan ratapannya.

"Oh ibu,...... oh bapa..... Dimanakah ibu meneruh jarum Bibi.

Nanda akan menggantikan dengan kerbau dua kandang, Tiga kandang , Namun tidak juga.

Yang dipinjam jarum dan kembalinya harus jarum pula."

Periya terus berjalan menelusuri jalan tadi dengan tidak menghiraukan letih dan dahaga. Sampai pada suatu ketika, tibalah Periya di suatu tempat dimana ia seolah-olah mendengar ada orang yang memanggil namanya.
"Hai Periya anakku!"

Demikianlah suara yang terdengar oleh Periya, sehingga dengan gerakan spontan Periya pun berbalik menghadap ke arah suara itu datang. Sangat terkejut Periya melihat orang yang duduk di hadapannya.

"Oh,.... ibu..... ibu,...... berbahagialah sekali rasanya nanda dapat berjumpa dengan ibu. Nanda sedang dalam kebingungan yang amat sangat. Tetapi.... bukankah ibu telah meningal? Bagaimana kita dapat berjumpa kembali sekarang ini?"

"Benar katamu Periya. Ibu memang telah meninggal dunia. Dan kamu sekarang sedang berada di rumah ibu. Bukan di rumah kita yang dahulu. Sekarang, katakanlah Periya, apa maksudmu sampai datang ke tempat ini."

Sambil memeluk ibunya dengan mesra, Periya menceriterakan kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapinya.

"Ibu.... bukankah ibu dahulu pernah meminjam jarum pada Bibi? Dan bukanlah jarum itu belum ibu kembalikan sampai akhirnya ibu meninggal dunia?"

"Benar! Ibu pernah meminjam jarum pada bibimu. Sekarang segeralah kembalikan jarum itu pada Bibi. Jarum itu ibu simpan pada segulung benang, yang ibu sisipkan pada atap di depan pintu rumah kita. Cobalah cari di tempat itu! Kamu pasti akan menjumpainya."

"Oh, ibu... baiklah...akan nanda cari dan segera akan nanda kembalikan pada bibi. Tetapi sekarang, bukanlah hari telah hampir malam? Bolehkah nanda menginap di rumah ibu dan besok pagi nanda kembali ke rumah nanda sendiri Oh... itu bapa datang pula. Nanda mohon supaya nanda diizinkan menginap disini."

Begitulah, maka Periya pun menginap di rumah ibunya di alam lain itu. Semalam suntuk mereka tidak pernah memejamkan mata. Mereka bercakap-cakap terus untuk melepaskan rindu dendam masing-masing. Ibu, bapa, serta anaknya itu memang saling cinta - mencintai, sehingga tidak mengherankan apabila mereka tidak beringsut dari pertemuan mereka bertiga.

Walaupun bagaimana..., namun waktu untuk berpisah antara Periya dengan kedua orang tuanya akhirnya tiba juga. Di pagi itu ibunya dengan sikap yang bijaksana menerangkan kepada Periya, bahwa pagi-pagi itu Periya harus segera pulang.

"Periya! sekarang tibalah waktunya kita akan berpisah lagi. Pulangk]lah sekarang juga dan segera kembalikan jarum Bibimu itu. Dan ini sebagai tanda bahwa engkau telah datang ketempatku. Bawalah sekuntum kembang ini, dan pergunakanlah di mana yang baik menurut pikiranmu.

Periya diberi sekuntum bunga oelh ibunya. Sekuntum bunga istimewa yang amat indah, mempunyai daun mahkota sebanyak lima helai. Dengan gembira sekali Periya menerima bunga itu. Sambil memperhatikan bunga itu, ia pun bertanya kepada ibunya.

"Ibu, kalau boleh nanda tahu, bunga apakah namanya ini?"

Ibu diam tiada menyahut. Sekali lagi Periya bertanya, "Bunga apa ini namanya, ibu?"

Ibunya tetap juga diam seribu bahasa. tetap diam seolah-olah tidak mendengar pertanyaan anaknya.

Sekali lagi Periya bertanya dengan tidak putus asa. "Ceriterakanlah  padaku ibi, bunga apakah yang ibu berikan kepada nanda ini?"

Sekarang barulah ibunya mau memberikan jawaban, "Bunga apa..." dan bersamaan dengan diucapkannya kata.

Apa itu, itu Periya hilang lenyap seketika. Mereka berada kembali di alamnya masing-masing. Ibu Periya sudah berada di alamnya sendiri karena bukanlah ibi Periya memang sudah meninggal dunia? juga Periya kembali ke dunianya sendiri karena memang Periya masih hidup dan belum pernah mati.

Periya masih termangu-mangu di tempatnya. Ia belum hendak beranjak dari tempatnya. Peristiwa itu sangat menggoncangkan perasaannya. Ditangannya masih tergenggam sekuntum bunga pemberian ibunya, sedang ibunya dengan tiba-tiba lenyap dari pandangannya. Kesadaran dan kekuatannya berangsur-angsur pulih kembali. Ia segera bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Langkahnya dipercepat dan diperpanjang. Pikirannya sekarang tertuju kepada jarum bibinya. Mungkinkah benar apa yang diucapkan oleh ibunya itu? Syukur kalau benar! Kalau tidak benar, bagaimana? Apa akan jadinya? Demikianlah pikiran Periya di sepanjang jalan. Selalu diliputi kebimbangan dan keragu-raguan. Sedang kembang pemberian ibunya tetap masih berada di tangannya. Singkat ceritara, sampailah Periya di rumahnya. Begitu sampai, ia pun segera menuju ke pintu muka. Ia mendongak sebentar, kemudian tangannya mencari sesuatu di tempat itu., tepat sekali...ia menemukan segulung benang. Benag yang digulung pada daun pandan dan di sanalah jarum yang dicari-carinya dicocokkan oleh ibunya begitu ibunya selesai menjahit dahulu.

Rencana Periya berikutnya, ialah mengembalikan jarum itu kepada bibinya. Dengan berlari-lari Periya pergi kerumah Bibinya. Sampai di sana segera ia memamnggil bibinya.

"Bibi...ini Periya datang akan mengemabalikan jarum yang dipinjam oleh ibuku dahulu. Periya sudah menemukannya kembali."

"Oh, Periya, benarkah kamu sudah menjumpai jarum itu?"

"Ya, benar, bibi, Periya te;lah pergi menanyakannya pada ibu. Dan inilah jarum bibi. Terimalah bibi."

Bibi menerima jarum itu dari Periya. Setelah diteliti dengan saksama, ternyata bahwa jarum memang benar jarum yang dipinjam oleh ibu Periya dahulu selanjutnya ia pun bertanya kepada Periya.

"Periya, benarkah kamu telah bertemu dengan ibumu?"

"Benar bibi, Periya tidak berbohong." 

"Periya, bagaimana mungkin kita yang masih hidup ini dapat berjumpa dan berbicara dengan orang yang sudah mati? Berkatalah yang benar Perita!"

Periya kemudian menceriterakan segala pengalamannya, sejak pertemuannya dahulu dengan bibinya, sampai ia mengembara dengan tak tentu arah dan tujuannya. Bertambah heran bibinya tatkala Periya menceriterakan pula bahwa ia dapat berjumpa dengan ayahnya, lalu menginap di rumah ibunya.

"Baik, Periya, kalau memang benar demikian, cobalah tunjukkan bukti padaku, bahwa semua semua ceriteramu yang tadi benar."

Periya lalu mengeluarkan sekuntum bunga pemberian ibunya pagi tadi, disaat mereka akan berpisah. Kembang itu diteliti oleh bibi dan paman, yang juga turut hadir di tempat itu. Hampir-hampir meloncat kedua biji mata mereka suami-isteri tatkala mereka melihat betapa indahnya kembang yang dibawa Periya itu.

"Kembang apakah ini? Benar kamu dapat berjumpa dengan mendiang kedua orang tuamu?"

Tak lama antaranya, tersiarlah berita ke seluruh pelosok desa bahwa Periya pernah dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya yang telah menibggal duni, dan kini Periya memiliki sekuntum bunga yang indah sekali. Banyak penduduk kampung yang datang mengunjungi Periya, untuk mendapatkan penjelasan, bagaimana asal mulanya, sehingga Periya mengalami peristiwa yang habat itu. Semua diceriterakan Periya dengan zebenarnya tak ada yang ditambah atau dikurangi, bahwa hal itu terjadi akibat dari pinjaman jarum yang belum dikembalikan. Tentang kembang yang bermahkotakan lima helai itu, tak putus-putusnya mereka memandang keindahan bunga itu. Banyak yang menawarkan untuk dibeli atau ditukarkan dengan benda-benda lain. Akhirnya oleh Periya ditukarkan juga. Helai bunga yang pertama ditukarkan dengan satu kandang kerbau, yang kedua dengan satu kandang sapi, yang ketiga dengan satu kandang kambing yang lainnya dengan sawah, kebun dan rumah.

Dengan telah tertukarnya bunga kepunyaan Periya tadi, menjadilah Periya kini orang yang berpunya, yang memungkinkan Periya hidup dengan berkecukupan. Periya yang sejak kecil hidup dengan kekurangan, sekarang telah menjadi seorang yang kaya raya. Untuk hari-hari berikutnya, Periya tidak perlu lagi terlalu membanting tulang untuk memenuhi keperluan hidupnya. Lebih-lebih kini, umur Periya sudah akan menginjak remaja puteri. Perhatian orang banyak tertuju kepada dirinya. Semuanya itu dia peroleh berkat kesabaran, ketekunan serta keyakinan dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada hamba-NyaKarena nama  PERIYA.... semua orang akan PRIHATIN..., kini menjadi orang yang terhormat akibat dari jarum yang dipinjam.... ditinggalkan mati sebelum dikembalikan.

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Tejaum-Jaum"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel