Cerita Sang Santoana

Alkisah Rakyat ~ Tersebutlah sebuah cerita tentang Sang Santoana dan sang Merak. Diceritakan bahwa pada suatu hari datanglah sang Merak dari tanah seberang. Kedatangannya adalah untuk mengejar Sang Santoana. Santoana sebagai burung jantan sedang sang Merak betinanya.


Di suatu tempat ketika sang Merak mengejar sang Santoana, ia dilihat oleh sang Bangorasang. Di situ mereka berdua bertemu Kata Bangorasang.

"Apa maksud kedatangan sang Merak ke tanah Sumbawa ini?"

"Aku datang untuk mencari sang Santoana." Kata Bangorasang lagi.

"Ketika itu maksudmu, yaitu mencari sang Santoana, maka yang kau cari itu adalah aku ini."

"Kalau memang kau sang Santoana, maka kaulah yang kukejar-kejar itu." kata sang Marek.

Alkisah maka kawinlah kedua burung itu, yaitu sang Santoana dan sang Merak. Jadi usaha sang Mereka mencari sang Santoana ( ayam hutan) tak berhasil, sia-sia, dan menurut kata cerita nanti pada akhirnya mereka juga akan bertemu.

Dari hasil perkawinan ini keluarlah sebutir telur besar yang menetaskan apa yang di Sumbawa disebut dengan "bertog". Sang anak besar adalah keinginan dari kedua orang tuanya untuk menggunting rambut serta melubangi telinga anaknya (lubang untuk anting-anting). Maksud ini disampaikanlah pada semua burung yang sempat dikumpulkan. Dalam pertemuan itu dicarikan hari baik, bulan baik, Berkata yang Bangorasang.

"Hari apa yang baik kira-kira untuk anak kita agar dapat digunting rambutnya."

"Hari apa saja boleh, terserah pada bagaimana persediaan kita saja."

"Kalau begitu pada hari Jumat saja"

Begitulah, pada hari Jumat berkumpullah semua burung untuk menghadiri upacara gunting rambut tersebut. Dalam pada itu, berkatalah burung "pio pingan."

Sebelum kita membaca doa segala, perlu kita ketahui bahwa masih ada seorang teman kita yang belum hadir disini."

Berkata burung pio, "Tinggal sang Santoana," jawabnya

Dan pada saat itu datanglah sang Santoana dengan segala gayanya karena dia dikenal sebagai burung yang sangat tampan dan gagah. Dan tampaklah bahwa sang Santoanalah sebenarnya pasangan yang cocok untuk sang Merak.

Begitu sang Santoana menginjakkan kaki pada anak tangga untuk naik ke atas rumah berkatalah ia.

"Kalian yang hadir di tempat ini, dengarlah pantunku (lawas)

Mendengar itu serta merta burung gagak berkata, "Ya," katanya, "dengarlah dan kita tundalah dulu pembacaan doa, kita dengar sang Santoana berpantun." (Dan inilah pantun Sang Santoana)

"Lihatlah, marilah pandang,

Walau dududk hanya dipinggir

Namun cocock saja baginya."

Mendengar itu tunduklah sang Bangorasang karena merasa malu. Kemudian burung yang disebut "pio pingan" pun berpantun.

"Berkatalah sang "pingan" ini

Sekedar menyongsong malunya teman

Hanya karena tidak diberi tahu."

Burung gagak tidak mau ketingalan berpantun.

"Begitu pula dengan sang hitam ini

Walaupun dirinya memang telah dipersilakan.

Duduk di pinggir dan yang tampak cuma kuluknya."

Kakaktua berpantun.

"Bulunya putih bak susu

Tempatkan diri di pinggir dulang

Agar gampang dihirup."

"Jangankan untuk dihirup, di pandang saja kita sudah muak

Dia yang kumal seperti ingus."

Pada saat itu beterbanganlah semua burung yang hadir di tempat itu. Yang tinggal cuma burung merak. Dan burung Bangorasang yang dari tadi menunduk karena malu kini mulai bergegas.

Begitu ia akan terbang, sempat ia berpantun

"Biar pun sari telah diambil

Asal kulitnya tidak remuk, Masih bisa meliwati laut."

Sang anak juga malu.Ia berpantun sebagai berikut;

"Malam telah larut, sayangku,

"Bertong" berkotek di ujung subuh. Mengingat nasib yang menimpa diri."

Sehabis berpantun sang anak tadi terban, dan itulah sebabnya sampai sekarang "bertong" ini mempunyai semacam jambul (seperti kakak tua). Sang Merak berpantun lagi.

"Biar pun sari telah diambil

Asal kulitnya tidak remuk, Masihbisa meliwati laut."

Dan pada saat itu ia pun terbang, pulang kembali ke negerinya di tanah seberang.

Jika ia tidak terbang kembali maka tentulah sampai sekarang di Sumbawa akan terdapat burung Merak itu.

Sang anak yang ditinggalkan betapa malunya melihat peristiwa itu. Saking malunya, ia menggali tanah dan menimbunnya dengan ranting-ranting kayu kering dan dalam timbunan itu ia menyimpan telurnya seperti yang dilakukan pula oleh generasi-generasi berikutnya.

Anak ini malu, mengingat nasib yang menimpa diri, katanya karena malu.

Dan jambul yang terdapat di kepalanya  tidak ia buang dan sampai sekarang semua "bertong" berjambul.

Dan cerita ini tamatlah. 

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat

Belum ada Komentar untuk "Cerita Sang Santoana "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel