Cerita Puti Jailan

Cerita Puti Jailan ~ Kaba Puti Jailan adalah suatu kaba (sastra lisan) yang sangat digemari oleh rakyat/penduduk di daerah Pasaman Bagian Barat, kaba ini adalah cerita legenda yang terjadi di Pasaman Barat pada masa dahulu kala yang mengandung nasehat-nasehat terhadap pemuda - pemudi dan terhadap orang tua yang mempunyai sifat-sifat tamak akan kekayaan dan kekuasaan. Kaba ini sampai saat sekarang belum sempat disalin orang ke dalam buku, sehingga kaba ini berkembang hanya dari mulut - ke mulut saja.
Satu-satunya orang yang betul-betul dapat mengabakan kaba ini hanyalah bapak Matsadin gelar Si. Kebetulan berasal dari Simpang Tonang Pasaman, yang pada saat inii telah berumur 58 tahun. Beliau mulai berumur 15 tahun yaitu 43 tahun yang lalu telah mulai menjadi tukang kaba, dari satu tempat ke tempat lain dalam daerah Kabupaten Pasaman, sehingga kaba Puti Jailan ini telah hafal diluar kepala sebaik-baiknya bagi beliau, kaba ini dikabakan diiingi dengan pukulan gendang yang sekaligus dipukul oleh tukang kaba sendiri.


Akan tetapi sekarang ini bapak Matsadin tersebut di atas telah memusatkan perhatiannya kepada bidang agama, sehingga sudah 13 tahun lamanya beliau tidak mau lagi berkaba ini. Namun demikian atas permintaan kami Kepala Seksi Kebudayaan Kantor Departemen P dan K Kabupaten Pasaman, [ada tanggal 23 Januari 1976, beliau masih berkenan memperdengarkan kaba Puti Jailan itu, khusus untuk kepentingan pengumpulan data satra lisan Minangkabau di daerah Kabupaten Pasaman. Demikianlah bapak Matsadin St. Kelebihan mengabakan kab Puti Jailan, yang ringkas ceritanya sebagai brikut:

Pada masa dahulu kala di daerah Pasaman Bagian Barat tersebutlah seorang puteri yang cantik jelita bernama Puti Jailan, anak Tuanku Rajo Mudo, ibunya bernama Puti Lindung Bulan, tatkala masa Sikabau bernama Air Bangis, belum Sikilang dan Maligi, Sasak belum Mandiangin pun belum, belum Tiku dan Pariaman. Puti Jailan masa itu telah berumur 14 tahun, cantiknya bukan alang kepalang, sulitlah Raja' akan jodohnya, sulitlah Sutan kan kawannya di dalam nagari masa itu. Puti sepantun bulan empat belas, parasnya bak bulan penuh, rambut panjang mayang terurai, gigi berkilat gewang kaca.

Tersebutlah pada masa itu, Puti Jailan merasa sunyi sendirian, dilihat teman kiri-kanan, teman sama sepermainan, umumnya telah berjunjungan, timbullah sunyi dalam hati sehingga sering bermenung diri. Melihat keadaan yang demikian mufakatlah Tuanku Rajo Mudo bersama dengan Puti Lindung Bulan, ditanya Puti Jailan, disusuri disiasati, apakah sebab suka bermenung, diatas anjung peranginan, apakah ada yang tidak senang, apa tersekat dalam hati, apa terkalang pada lidah.

Menjawab Puti Jailan tentang itu, bahwa ia suka bermenung, lain tidak karena sunyi, memikirkan nasib badan diri, dilihat teman sama besar semua sudah berjunjungan, jika sirih sudah berjunjung, dilihat burung joli - berjoli, tapi malang nasib diri, kecil bernama Puti Jailan, besar bernama Tuo Rando. Mendengar jawaban anaknya, Puti Lindung Bulan ikut merasakan, apa dimaksud anak kandung, namun demikian adanya, ibu menghibur anak kandung, memberi nasehat sepenuhnya, tidak mudah orang bersuami, tak mudah orang bertompangan, mestilah tahu dibasa -basi, tahu diadat dan limbago, tahu perkakas yang di dapur, pandai memasak dan menggulai, demikian nasehat bunda kandung. Setelah membujuk menasehati, ibu turun ke tengah rumah dari anjung peranginan, menemui Tuanku Rajo Mudo, menyampaikan keadaan Puti Jailan.

Mendengarkan hal yang demikian, Tuanku Rajo Mudo bermenung diri, habis menung timbul pikiran, disuruh datang Bujang Selamat, kumpulkan ninik dengan mamak, serta penghulu dengan andiko, kerahkan semua rakyat nagari, kita berhelat beramai-ramai. Dipencang gelanggang masa itu, tujuh hari tujuh malam, karena maksud hati Tuanku Rajo Mudo, mencarikan jodoh Puti Jailan. Selesai orang memancang gelanggang, undangan dilayangkan, kiri- kanan, hilir mudik tiap nagari, tak ada Raja yang terlupa, tak ada Sutan ketinggalan. Semua orang ke gelanggang, yang kecil datang dalam dukungan, yang tua datang dengan tongkat, si buta datang dengan bimbingan, ramai gelanggang bukan kepalang, semua permainan ada di dalam, mulai dari putar dadu sampai kepada sabung ayam, sirih menjadi sarap balai, ranting kemuning di halaman, pautan kuda Raja-raja, pautan kuda Sutan-sutan. Tujuh hari gelanggang ramai, Puti Jailan asyik di anjung, asyik menyuji menarawang, asyik bertenun tiap hari.

Sebanyak itu tamu datang, tidak satupun berkenan di hatinya, baik Raja maupun Sutan, semua tak ada yang tak salah, macam-macam salah cacadnya, ada yang rendah terlalu rendah, ada tinggi menjulang amat, jikok kuning terlalu kunyit, ada yang putih terpalu pucat, yang hitam sepantun bak kuali. Timbul khawatir ayah kandung, kenapa anaknya sedemikian, lalu ditanya disiasati, tujuh hari gelanggang ramai, Puti Jailan asyik di anjung, malu rasanya ayah kandung. Selesai tanya Puti menjawab, mungkin ayah ada terlupa, mengundang Tuanku Malin Panjang, sebab selama gelanggang ramai, beleiau tak kunjung tampak-tampak, apakah mungkin beliau sakit, ataukah surat tidak sampai.

Setelah diingat dipikiri, memang terlupa ayah kandung, tapi apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur, minyak habis sambal tak enak, akan diundang masanya habis, kita Tuanku sama Tuanku, malu rasanya dalam hati pulangkan saja pada anak, cara apa akan diambil, terserah pada Puti Jailan, panggillah Tuanku Malin Panjang. Timbul pikiran Puti Jailan, tepat jam dua belas tengah mala, disuruh bakar kemenyan putih, dibaca doa dengan mantera, dipasang pakasih dan petunjuk, dipasang pitunang nabi Daud, terhadap Tuanku Malin Panjang. Konon kabarnya masa itu, di rumah Tuanku Malin Panjang, teat jam du belas tengah malam. Tuanku Malin Panjang, tersebut tidur, bau harum merangsang hidung, timbul gelisah dalam diri, badan menghempas kiri-kanan, hiungga mengherankan isi rumah, adik-adiknya semua datang,bernama Puti Nan Batujuh.

Kepada Puti Nan Batujuh, berkata Tuanku Malin Panjang, sedang tidur nyenyak di atas anjung, rasa ada yang membangunkan, bau harum bukan kepalang, sehingga mulai saat itu, timbul keinginannya untuk merantau, meninggalkan kampung dan halaman, ingin turun waktu itu juga, jam dua belas tengah malam, begiru makbulnya doa Puti Jailan. Karena dilarang tidak terlarang, Puti Nan Batujuh tidak kuasa, disampaikan kepada ibu kandung, namun demikian ibupun susah, anak kandung tidak terlarang, dilepas anak dengan tangis, dibekali dengan sebentuk cincin, dibiarkan turun tengah malam, hilang di dalam gelap gulita, brjalan sendiri anak kandung. Lambat laun di perjalanan, sekira jam empat dini hari sampailah Tuanku Malin Panjang, di halaman rumah Puti Jailan, duduk bermenung di bawah sopo, menunggu hari hendak siang. Hari pagimatahri terbit, Puti Jalian bangun dari tidur, tegak di pintu atas anjung, terhajat hati melihat ke bawah, ada orang duduk bermenung di bawah sopo di halaman rumah.

Ayah bunda diberi tahu, mereka turun ke halaman, meminta orang itu naik kerumah, sebab kalau ditilik dibandingkan, orang itu nampaknya tampan, membayang turunan baik- baik tidaklah orang sembarangan, mungkn turunan Raja-raja. Namun Tuanku Malin Panjang, tidaklah mudah diajak naik, dengan span merendahkan diri, dia adalah dagang sansai. Oleh Tuanku Rajo Mudo, tetap diajak dibawa naik, buruk nampaknya duduk di halaman, baiklah di rumah berhandai-handai, sambil menanti nasi masak, begitu adar Raja-raja. Demikian pada masa itu, Tuanku Malin Panjang pergi menurut, naik ke rumah Puti Jalian, duduk berhandai di tengah rumah, dengan Tuanku Rajo Nudo, sementara Puti Jailan di dapur, memasak nasi dengan gulai untuk di santap bersama tamu. Dari pembicaraan selama itu, tahulah Tuanku Rajo Mudo, bahwa tamunya pagi itu, adalah Tuanku Malin Panjang, turunan Raja-raja jua, tidak salah mata memandang Puti Jailan, dengan makrifat dalam hati.

Selesai makan dengan minum, lalu Tuanku Tajo Mudo, menyampaikan maksud dalam hati, ingin mengawinkan Puti Jailan, dengan Tuanku Malin Panjang. Mulanya Tuanku Malin Panjang, tidak menerima begitu saja, dicoba merendah-rendahkan diri, basa basi rang muda-muda, meskipun hati sudah berkenan. Kata putus rundingan sudah, dikarang janji masa itu, dipegang tanda timbal balik, cincin Tuanku Malin Panjang, pemberian ibu waktu berangkat diserahkan pada Puti Jailan, sebagai tanda persetujuan. Untuk hari perkawinan, pinta Tuanku Malin Panjang, diundur dulu tiga bulan, karena maksud nak berlayar, mencari bekal untuk kawin, berlayar ke laut perairan luas. Pinta dapat kehendak berlaku, Puti Jailan pun setuju, tapi diikat dengan sumpah, agar tak mungkir timbal balik, selama masa tiga bulan.

Janji diikat sumpah dibuat, jika Tuanku Malin Panjang, mungkir janji selama itu, karamlah dia di lautan, kalau Puti Jailan mungkir janji, menjadi ungko siamang putih, penghuni ulak rantau Pasaman akan memakan pucuk simantung, akn meminum air dibungkul, demikian bunyi persumpahan. Beralih kaba tentang itu, dialih kepada Rajo lain, bernama Tuanku Cewang Langit, tersebut kabar masa itu, berdiri di pintu Cewang Langit, terdengar berita langgam dunia, Puti Jailan memancang gelanggang, mencari Rajo kan jodohnya. Tujuh hari gelanggang ramai, namun tak dapat kan jodohnya. Dipanggil Elang Burung Laut, diajak pergi menerbangkan, pergi ke rumah Puti Jailan, nun di luhak langgam dunia. Dipakai baju serba putih, kain pinggang bugis halus, disisip keris berhulu emas, naik ke punggung Elang Laut, terbang tingi menyisi awan menuju rumah Puti Jalian. Kira sebulan di perjalanan, menukik Burung Elang Laut, nampaklah luhak langgam dunia, tampaklah rumah Puti Jailan, burung hingga tengah halaman, turun Tuanku Cewang Langit, tengah hari masa itu, sedang sunyi orang di kampung,duduklah Tuanku Cewang Langit di bawah sopo di halaman, duduk bermenung seorang diri.

Tersebut pula Puti Jailan, duduk di anjung peranginan, pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan, pandangan jatuh ke halaman, tampak ada orang duduk, di bawah sopo di halaman, sungguh tampan dipandang mata, heran hati melihatnya, lalu dipanggil dayang-dayang, diberi tahu ayah kandung, beserta Puti Lindung Bulan, disongsong Tuanku Cewang Langit, disuruh naik ke atas rumah, diberi minum dengan makan, sambil bercakap berhandai-handai dengan Tuanku Rajo Mudo. Selesai makan dengan minum, bdrtanya Tuanku Rajo Mudo, siapa gerangan anak muda dari mana hendak ke mana, adakah maksud dalam hati, makanya datang tengah hari. Menjawab Tuanku Cewang Langit, dia datang dari langit, datang keluhak langgam dunia, ingin melihat dunia ramai sunyi di dalam perhatian, ingin menghibur-hibur hati. Lorong kepada asal diri, nama Tuanku Cewang Langit, turunan Raja di atas angin, turun ke luhak langgam dunia, ingin mencariteman hidup, teman bergaul tiap hati.

Mendengar kabar demikian, tertarik hati tuan rumah, baik Tuanku Rajo Mudo,begitu pula Lindung Bulan, ayah bunda Puti Jailan. Tanpa dipikir dimenungkan, putus tekad dalam hati, Raja datang Raja menanti, bertemu jodoh Puti Jailan, lebih Raja dari Raja lebih Sutan dari pada Sutan, orang keramat hidup-hidup, lups Tuanku Malin Panjang, lupa sumpah dengan janji, dipinang Tuanku Cewang Langit, untuk jodoh Puti Jailan diminta kawin secepat mungkin, takut kumbang terbang jauhm burung terlepas dari sangkar. Tersebutlah Tuanku Cewang Langitr, pinangan diterima masa itu, pucuk dicinta ulam tiba, besar sungguh dalam hati, dapat mempersunting Puti Jailan. Untuk menikahkan Puti Jailan, kata putus rundinglah sudah, Puti Jailan diberitahu, tentang putusan ayah bunda, untuk mengawinkan masa itu dengan Tuanku Cewang Langit. Puti Jailan menyanggah ayah, beserta Puti Lindung Bulan, diingatkan janjin dengan sumpah dengan Tuanku Malin Panjang, sumpah nan bukan alang kepalang, mungkin sumpah berat hukumnya, menjadi ungko siamang putih, penghuni ulak rantau Paaman, hidup di hutan rimba raya.

Namun Tuanku Rajo Mudo, mendengar bantahan Puti Jailan, marahnya bukan alang kepalang, begitu pula bunda kandung, marah kepada Puti Jailan, kalau  dibantah pandai mereka, putus beranakmasa itu, akan diusir Puti Jailan, sebab membuat malu sja, malu kepada Cewang Langit, Tuanku keramat hidup-hidup, Tuanku turunan raja-raja. Mendengar marah ayah bunda, Puti Jailan menyerah saja, asal tak menyesal kemudian, ingatlah janji dengan sumpah, sumpah dibuat timbul balik, dengan Tuanku Malin Panjang. Lalu dipanggil iman katik, dihimbau ninik mamak, dijemput segera  angku kadhi, akan mengawinkan Puti Jailan, dengan Tuanku Cewang Langit. Gembira Tuanku Rajo Mudo, dapat menantu anak Raja, pandang anak pandang menantu, alangkah jodoh keduanya, angku kadhi mengambil tempat, dibacakan katubah nikah, ucap katubah satu kali, tersenyum Tuanku Cewang Langit, diucap katubah dua kali, tersenyum Puti Jailan, diucap kabul tiga kali, lalu terpekik Puti Jailan, memekik sekali lagi, melompat Puti ke atas pagu, tiga kali ia memekik, melompat sampai di atas limau manis, terus melompat ke atas kayu, kayu besar di belakang rumah. Melihat keadaan demikian, lalu memanggil bunda kandung, turunlah nak turunlah sayang, pulanglah nak ke atas anjung, malu kita dipandang orang, mari pulang oi nak sayang.

Menjawab Puti Jailan, janganlah bunda mengikuti hamba, beginilah senang hati bunda, sejak tadi hamba katakan, sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna, pulanglah bunda ke rumah kita, hamba kan terus masuk hutan, kita tidak sebangsa lagi, hamba menjadi binatang hutan dimakan sumpah malah kiranya, menjadi ungko siamang putih, hamba penghuni rantau Pasaman, begitu kan senang hati bunda. Habis hari berganti pekan, habis pekan berganti bulan, telah dua bulan kan lamanya, Puti Jailan di dalam hutan, melompat-lompat di atas kayu, dari dahan  ke dahan lain, bunda mengikuti dari bawah, begitulah nasib tiap hari. Akhirnya sampai di tepi pantai, diatas pohon kayu besar, membobob sekali Puti Jailan, memanggil kepada ibu kandung, tapi ibunya diam saja, turun ke bawah Puti Jailan, dilihat ibu telah mati, mati bersandar di kayu besar, penuh dihinggapi langau hijau.

Menangis memekik Puti Jailan, nasib buruk bunda kandung, mati di jeguk langau hijau, mau dikubur tidak berdaya, timbul pikiran masa itu, dicari tanah yang berlekung, diseret bunda ke tempat itu, ditimbun dengan daun-daun, lalu melompat ke atas kayu, membobob tanda sedih hati. Dari atas kayu besar, pandang jauh dilayangkan, pandang dekat ditukikkan, tampaklah jauh di lautan, sebuah pencalang menuju pantai, membobob lagi Puti Jailan, tambah laju pencalang datang, makin lama makin dekat, lalu turun Puti Jailan, disonsong pencalang ke tepi pantai, dilihat tepat diawasi, siapa gerangan dalam pencalang, makin dekat jelaslah sudah sama-sama pandang memendang, kiranya Tuanku Mali Panjang, turun Tuanku Malin Panjang, tegak tertegun Puti Jailan, menangis meraung minta maaf, minta ampun minta tobat, nasib buruk menimpa dirinya, karena menurutkan ayah bunda, melanggar sumpah dengan janji, Tuhan murka atas hamba-Nya, inilah jadinya badan diri, menjadi ungko siamang putih, penghuni ulak ranah Pasaman.

Mendengar kabar nan bak kian, kesal Tuanku Malin Panjang, marah nan bukan alang kepalang, diambil langkah balik surut, naik pencalang tukar haluan, laju menuju laut lepas, kencangnya tidak kepalang tanggun, membawa hati yang hancur lulu, dihajat pulang untuk kawin, kiranya tunangan diambil orang, pencalang hilang di kaki langit, tinggi menangis Puti Jailan, menangis menghempas-hempaskan diri, nasi telah menjadi bubur, akibat rakus ayah bunda, badan diri menganggungkan, ibu mati tunangan pergi, badan menjadi binatang rimba, daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah, dihempaskan diri sambil menangis, memekik-mekik sendirian, didekat kuburan bunda kandung, dihempaskan kepala ke batu besar, sekali dua cukup ketiga, kepala pecah tubuhpun lemah tergeletak di samping mayat bunda, mati bersama bunda kandung, habis riwayat Puti Jailan.

Sumber : Bunga Rampai Ceritera Rakyat Sumatera Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Puti Jailan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel