Cerita Engku Kapalo Batu Kambing

Alkisah Rakyat ~ Negeri Batu Kambing terletak beberapa kilometer di sebelah Utara negeri Lubik Basung, di dalam daerah Kabupaten Agam.Pada masa penjajahan Belanda, negeri ini belumlah maju, penduduknya masih bodoh dan belum beberapa orang yang bisa menulis serta membaca. Disamping kebodohan yang menimpa penduduk kampung ini, merekapun msikin karena hidup mereka hanya bertani dan menakik gatah di ladang.


Negeri Batu Kambing di kala itu diperintahi oleh seorang engkau Kapalo yang sangat kejam terhadap rakyat. Segala tindak tanduknya ditujukannya semata-mata hendak meniliat pada induk semangnya. Tidaklah bisa disangkal lagi bilamana ada perintah dari atasannya berupa rodi dan blasten yang segera pula dilaksanakannya terhadap penduduk. Tidaklah pernah ia berusaha hendak menolong penduduk terlepas dari kesengsaraan serta kemiskinan. Ia tidak pernah berfikir untuk hal-hal yang demikian. Yang difikirkannya setiap hari bagaimana ia beserta anak dan isterinya bisa senang dan tidak diperhentikan jadi penghulu kepala.
Engkau Kapalo ini di samping dirinya yang kejam terhadap penduduk, penjilat, iapun tidak bisa mengendalikannafsunya jika melihat perempuan yang cantik-cantik. Ia tidak akan segan-segan meminta siapa saja yang diinginkan oleh seleranya. Jika perlu ia bisa saja mengawini perempuan-perempuan itu. Baginya jumlah umur tidaklah menjadi halangan.

Karena sifatnya inilah maka isterinya banyak. Perempuan-perempuan yang tidak lagi disenanginya dengan mudah saja dicaraikannya. Ia dengan gampang saja menggantikan dalam waktu yang dekat.

Karena sifat-sifatnya yang buruk itu, maka tak aneh lagi jika penduduk negeri Batu Kambing membencinya. Banyak di antara penduduk yang pergi merantau atau menghilang dari kampung. Mereka berpendapat lebih baik mati di rantau orang dari pada menanggung azab. Karena itulah makanya negeri Batu Kambing bertambah lama bertambah lengang juga. Penduduk kampung banyak meninggalkan kampung tanpa memberi tahu pada engkau kapalo.

Diantara penduduk kampung yang bisa merasakan kesusahan anak negeri adalah seorang tua yang bergelar Pandeka Lebai. Orang tua ini di samping dirinya guru silat dikampung itu, kepandaiannya sangat banyak lahir dan bathin serta berani. Murid-muridnya banyak dan karena itu pula ia disegani oleh penduduk. Kerjanya setiap hari, disamping mengajar murid-muridnya bersilat, ilmu-ilmu kebathinan iapun mengajar anak-anak muda mengaji di surau. Kepada mereka Pakih Lebai tidak lupa mengajarkan hal-hal yang baik serta melarang segala sifat-sifat buruk.

Karena termakannya oleh anak-anak muda di kampung itu segala ajaran Pakih Lebai, maka bertambah besarlah kebencian mereka terhadap engkau Kapalo. Bahkan di antara mereka telah ada pula yang berniat hendak membunuh engkau Kapalo itu walau dirinya nantinya akan menjalani pembuangan atau naik tiang gantungan.

Demikianlah pada suatu hari karena kesengsaraan penduduk semakin menjadi-jadi akibat perbuatan engkau kapalo, maka bermufakatlah beberapa orang murid Pandeka Labai hendak melaksanakan maksudnya.
Selama beberapa hari mereka mempelajari gerak-gerik Engkau Kapalo itu. Mereka tidak lupa mempelajari jam berapa engkau Kapalo itu pulang ke rumah isterinya. Mereka pelajari juga bila engkau Kapalo itu lepas dari semua Hulubalangnya.

Maka tibalah waktu yang ditunggu-tunggu yaitu pada malam hari. Malam itu tidak ada bitang di langit. Engkau Kapalo entah karena sesuatu urusan terpaksa pulang sendirian saja ke rumah isterinya. Murid-murid Pandeka Labai yang sedari tadi mengikutinya dari jauh terus juga mengikuti di belakang.

Setelah engkau Kapalo tiba pada sebuah tempat yang benar-benar lengang, maka mulailah bertindak anak murid Pandeka Labai. Dengan perbandingan yang memang tidak seimbang, dengan mudah saja engkau Kapalo Batu Kambing ini rebah dan bertubi-tubilah kayu dan pisau menghujani tubuhnya.

Setelah nyata-nyata engkau Kapalo yang malangini tidak bernyawa lagi dengan tergelatak maka menghilanglah pembunuhnya.

Esok harinya tersiarlah berita yang mengerikan itu di seluruh pelosok kampung. Tidak adalah penduduk kampung yang merasa kasihan mendengar kejadian yang menimpa engkau kapalo itu. Mereka bergembira walau terpaksa saja dalam hati. Berita pembunuhan itu sampai juga ke telinga Asisten Demang yang berkedudukan di Lubuk Basung dan Demang yang berkedudukan di Maninjau.

Mereka sangat terkejut mendengar berita yang mengerikan itu. Dengan segera pula memerintahkan beberapa orang reserse menyelidiki siapa si pembunuhnya. Berkat kecerdikan dan pengalaman mereka yang telah bekerja berbilang tahun, terbongkarlah nama-nama siapa pembunuhnya itu. Dua orang dari anak buah Pandeka Lebai tertangkap dan seorang lagi sempat melarikan diri. Dan Pandeka Lebai pun di tangkap lantaran dituduh bahwa dialah otak perencanaan pembunuhan itu.

Berdasarkan putusan pengadilan maka terhadap mereka dijatuhkan hukuman mati dengan melalui gantungan. Di antara mereka itu termasuk Pandeka Lebai yang disayangi penduduk. Mereka digantung di sebuah tempat di negeri Batu Kambing juga.

Menurut cerita hukuman yang serupa in, merupakan peristiwa yang pertama kali dilakukan di Mingkabau oleh pemerintah Belanda. Diperkirakan kejadian itu ditahun 1912.

Kejadian ini masih tetap menjadi cerita dari mulut - ke mulut oleh penduduk Batu Kambing hingga saat ini. Bahkan beberapa perkumpulan randai yang ada di daerah Agam mengambil cerita itu untuk dijadikan cerita dalam penampilan randai. 

Sumber : Bunga Rampai Ceritera Rakyat Sumatera Barat

Belum ada Komentar untuk "Cerita Engku Kapalo Batu Kambing"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel