Cerita Datu Brumbung

Alkisah Rakyat ~ Pada zaman dulu hiduplah dua orang Datu (bangsawan) bersaudara. Karena nasib yang malang seorang di antaranya meninggal dunia dan meninggalkan seorang putra bernama Lalu Ino Kripan Kertapati. Begitu Lalu Ino Kripan Kertapati ini besar semua harta yang ditinggalkan oleh ayahnya habis, dipakai oleh pamannya. Di dorong oleh jiwa mudanya ditambah lagi habisnya harta peninggalan orang tua, ia bermaksud untuk merentau, membuang diri dan hanya ditemani oleh bayangannya saja.


Namun dalam pengembaraannya ini ia sempat membawa serta dua buah tombak masing-masing bernama "bangka kludan dan senuk lingkung" serta sebuah keris bernama "kalamesana". Dalam pengembaraannya ini diperjalanan ia bertemu dengan dua orang. Mula-mula dengan seorang yang keranjingan judi sedang yang seorang lagi keranjingan candu. Kedua orang ini menyerahkandiri pada Lalu Ino Kripan Kertapati, minta diajak kemana Lalu Ino Kripan Kertapati pergi ke situ mereka menunju.Seolah-olah ada semacam sumpah di antara mereka. Sekiranya Lalu Ino masuk ke dalam air, mereka pun ikut masuk bila beliau masuk ke dalam api mereka pun akan ikut. Kedua tombak yang dibawa oleh Lalu Ino diberikan kepada kedua orang itu.

Mereka terus berjalan, mendaki gunung dan menuruni ngarai dan lembah. Ketika pada suatu hari mereka mendengar kokok ayam. Lalu Ino Kripan Kertapati menyuruh orang yang keranjingan judi itu pergi ke desa tempat ayam berkokok itu untuk mencari sesuap nasi dan air sesendok. Ketika orang ini tiba di desa itu, ia melihat orang main judi. Timbul lagi niatnya untuk main judi. Ia kalah dan tombak pemberian Lalu Ino di gadaikan si situ. Untuk kedua kali Lalu Ino menyuruh orang yang pecandu itu agar pergi ke desa itu mencari sesuap nasi dan air sesendok. Disana ia bertemu dengan orang yang sedang mengisap candu. Ia ikut mengisap candu di situ dan lupa pesan Lalu Ino. Lalu Ino Kripan Kertapati melanjutkan perjalanannya tanpa kedua orang itu dan tiba dipinggir laut. Ia bingung bagaimana akan menyeberang. Di pinggir laut itu kebetulan tumbuh sebatang pohon beringin di situ Lalu Ino berkata.

"Kalau aku keturunan orang yang selalu berbicara benar, maka wahai pohon beringin jadilah sebuah perahu." Pada saat itu juga pohon itu berubah menjadi sebuah perahu dan dengan perahu itu Lalu Ino menyeberangi lautan. Setelah tiba di seberang kembali Lalu Ini mengucapkan kata-katanya sebagai berikut:

"Kalau aku keturuanan orang yang selalu berbicara benar wahai perahu kembalilah menjadi sebuah pohon beringin." Saat itu juga perahu tadi berubah lagi menjadi sebuah pohon beringin. 

Tapi timbul masalah lagi bagi pohon beringin itu.ADanya perdebatan antara akar dalam tanah dengan akar udra, yang mempertahankan dirinya sebagai bagian yang ada di dslam tanah. Itulah sebabnya sampai sekarang akar itu turun ke bawah dan ingin masuk ke dalam tanah. Diseberang laut itu terletak negeri-desa Menenang namanya. Semua penduduk desa lari karena takut pada seekor burung yang dalam bahasa Sumbawa di sebut "Pio Bri" (burung hantu). Satu-satunya manusia yang ada di desa itu, ialah Lala Memenang, beserta neneknya yang sudah tua. Ke empat inilah Lalu Ino menuju dan disana ia minta nasi Makanan diberikan, dan sudah itu ia sempat pula pula pura-pura tidur. Sementara itu sang nenek pergi mengambil air ke kali yang agak jauh letaknya. Pada saat ituLalu Ino bangun dan pindah tidur ke tempat Lala Memenang. Kepalanya diletakkan di atas paha Lala tersebut. Hal ini terlihat oleh nenek tua itu sepulangnya dari mengambil air. Ia marah dan menunjuk Lalu Ino sebagai orang yang tidak tahu adat, dan barangkali memang demikiankeadaan orang yang akan disambar oleh "pio bri" itu. Tolong ambilkan buah jeruk".

Dari balik jendelanya Lala Memenang memetik buah jeruk yang dimaksud dan memberikannya pada Lalu Ino. Dengan buah jeruk yang sudah dibelah, Lalu Ino "Menyompang" kerisnya yang bernama "kalamesana" dan sudah itu ia siap menanti "pio bri" datang menyerang. Tikaman Lalu Ino mengenai bawah sayap burung itu dan mati seketikaDan rakyat pun berdatangan pulang ke desa kembali besar kecil, tua muda, laki-laki, perempuan dan semua rakyat yang kembali itu mufakat untuk mengawinkan Lalu Ino dengan Lala Memenang. Syahdan di suatu tempat ada seorang Datu (bangsawantinggi) yang bernama Datu Brumbung. Ia mempunyai hidung yang besar. Saking besarnya sampai bisa masuk seekor kucing ke dalam hidung itu, sedang telingnya sebesar tampi. Isterinyasebanyak sembilan puluh sembilan orang.

Konon, semua isterinya ngidam ingin makan udang besar. Datu Brumbung memanggil Bandar Kepala Pelabuhan dan menceritakan kepada Bandar itu tentang isterinya dan rencananya untuk berangkat mencari udang besok. Keesokan harinya mereka berangkat dengan kapal. Dalam pelayaran ini mereka sempat bertemu dengan dua orang berturut-turut. Dan kedua orang ini ditembak oleh Datu Brumbung, karena tidak dapat menunjukkan tempat yang banyak udangnya di kali itu. Pada perjumpaan dengan orang yang ketiga Datu Brumbung mendapat jawaban yang memuaskan hatinya, karena dapat menunjukkan tempat yang banyak udangnya. Dengan orang yang ketiga ini Datu Brumbung agak curiga karena suaranya seperti suara saudaranya yang sudah mati.

Tempat yang banyak udangnya itu terletak dilubuk di mana Lala Memenang mengambil air. Mereka pun sibuk mencari udang di tempat itu. Dan memang di situ banyak sekali udang. Sementara mereka sibuk menangkap udang, orang yang menunjukkan tempat itu sibuk memintal seuntai rambut. Saking panjangnya rambut itu, setelah digulung menjadi sebesar telur bebek. Datu Brumbung sempat kaget melihat panjangnya rambut itu dan mencari keterangan siapa yang empunya rambut itu.

Kebetulan pada saat itu datanglah nenek Lala Memenang mengambil air dan nenek tua itu menjelaskan pada Datu Brumbung bahwa memang benar rambut itu adalah rambut cucunya. Dibenarkan pula bahwa cucunya sudah dikawinkan tapi menurut penilaian nenek ini suami Lala Memenang tidak cocock untuknya, paling cocok kalau kawin dengan Datu Brumbung. Semula niat Datu Brumbung memerangi desa itu dan merebut Lala Memenang, tapi dicegah oleh Bandar. Lalu siasat kedua diambil. Dua buah delima (gasal) dikirim melalui nenek tua itu. Yang satu berwarna ungu untuk Lalu Ino dan yang putih untuk Lala Memenang.

Firasat mengatakan pada Lalu Ino bahwa buah delima itu beracun, namun ia ingin memakannya karena malu, "malu karena kami sama-sama besar," kata Lalu Ino. Demikianlah ia membagi buah delima itu dan seketika ia jatuh pingsan dan dikira sudah mati. Hanya udara racun itu telah terisap olehnya. Lala Memenang dibawalah oleh Datu Brumbung. Tapi sebelum dibawa sempat Lalu Ino berpesan. Pesannya, "letakkan tiga batang rokok, satu pinggan air dan satu batang korek api diatas kepalaku." Sementara itu dua orang yang pernah menjadi pengikut Lalu Ino, sang penjual dan pecandu, menyadari dirinya dan bergegas mencari Lalu Ino. Mereka dapati Lalu Ino di desa Memenang sudah "mati."

Dengan air yang ditinggalkan oleh Lala Memenang mereka siram ke kepala Lalu Ino, lalu  Lalu Ino bangkit. Lalu Ino, menceritakan semua pengalamannya dan ingin menuntut balas merebut lagi isterinya dari tangan Datu Brumbung. Ingin perang tapi dicegah oleh kedua temannya itu. Siasat lain dicari. Ketiganya menyamar sebagai orang Buton yang pecah perahunya dan tiba di kebun Ina Bangkal. Kebdetulan Ina Bangkal ini kerjanya adalah membuat kembang dari kertas untuk disunting oleh isteri Datu Brumbung. lalu Ino dan kawannya tinggal di situ untuk sementara dan membantu pekerjaan membuat kembang kertas. Pada suatu kesempatan Lalu Ino menulis surat dan meminta Ina Bangkal menyampaikan pada Lala Memenang yang kini menjadi isteri Dartu Brumbung.

Dalam surat itu Lalu Ino menjelaskan bahwa ia kini masih hidup. Kalau mau bertemu, buatlah rencana pergi makan-makan ke Labuhan. Dan untuk pergi kesana minta pada Datu Brumbung untuk dibuatkan"Pedati terbang". Pedati terbang ini hanya Lalu Ino yang bisa membuatnya. Tak ada orang lain. Demikianlah, Lala Memenang (yang selema ini tidak bisa diajak bicara oleh Datu Brumbung dan anas biji matanya kalau mendekati Lala Memenang) menyampaikan rencananya pada Datu Brumbung. Alangkah gembiranya Datu Brumbung mendengar permintaan Lala Memenang.

Tapi satu masalah. Tak seorangpun di negeri itu yang bisa membuat pedati terbang ini. Datu Brumbung bertanya pada Bandar.

"Apa sudah tidak ada orang lagi di negeri ini?"

Di jawab oleh Bandar.

"Ada, tapi orang Buton tiga orang."

Ketiga orang ini disuruh panggil oleh Datu Brumbung. Lalu Ino menyanggupi untuk mebuat pedati terbang itu dan mengajarnya besok pagi. Mendengar ucapan dan suara Lalu Ino, Datu Brumbng curiga lagi. Sebab suaranya persis benar dengan suara anak saudaranya yang sudah meninggal .Dan anak saudaranya itu hilang ketika main-main di sungai. Dipersilakan Lalu Ino pergi menghadap ke Lala Memenang. "Anggaplah Lala Memenang itu sebagai bibimu." kata Datu Brumbung. Pada kesempatan pertemuan itu. Lalu Ino Kripan Kertapati meminta pada Lala Memenang agar besok pagi disediakan sebuah kuali, timah satu kilo, dan dua orang dayang-dayang. Keesokan harinya, siap seduah pedati terbang ini di depan rumah Datu Brumbung. Kuali, timah, dua orang dayang-dayang Lalu Ino, Lala Memenang dan dua orang teman Lalu Ino lagi, naiklah ke atase  pedati terbang itu.

Begitu Datu Brumbung naik, pedati terbang itu miring dan  tidak bisa naik. Hal itu memang diusengaja oleh Lalu Ino agar Datu Brumbung itu tidak ikut dengan pedati itu. Akhirnya Datu Brumbung berkuda ke Labuhan. Kita ambil pendeknya, makan-makan di Labuhan selesailah dan mereka semuanya bersiap-siap untuk pulang kembali. Pedati terbang sudah siap dan muatan sudah naik. Ingin pula Datu Brumbung mencoba naik pedati terbang ini. Ingin tahu bagaimana rasanya. Tapi begitu ia naik, pedati terbang miring. Dicobanya beberapa kali, tapi tetap juga miring. Akhirnya ia pun pulang berkuda ke desanya. Tapi sempat ia berpesan pada Lalu Ino, "Jangan terlalu tinggi terbangnya sebab sekarang sudah sore. Dan bibimu itu tidak begitu biasa naik pedati terbang."

Pedati itu pun terbanglah. Tepat di atas kepala Datu Brumbung pedati terbang ini merendah dan menyambar destar Datu Brumbung. Sestarnya miring oleh angin. Hal ini terjadi beberapa kali. Dan setiap kali sempat Datu Brumbung berkata.

"Bukan main, bibi dan kemenakan tahu sekali cara menghibur hati."

Demikianlah akhirnya mereka tiba dim desa Datu Brumbung. Tapi pedati terbang ini tidak mau turun, terbang berkeliling di atas rumah Datu Brumbung. Ketika terbang agak rendah, Datu Brumbung maju untuk menjemput isterinya. Tapi belum lagi ia sampai ke pesawat, pedati itu terbang lagi. Bandar jengkel dan mengatakan pada Datu Brumbung bahwa Lalu Ino yang berada di atas pedati terbang itu sedang mengejek dan menantang dia. Datu Brumbung marah dan mengambil senapannya yang bernama "tamuan kunyit" dan menembak pedati terbang itu. Pedati itu miring sedikit karena kena pelor senapan Datu Brumbung. Pada saat itulah Lalu Ino memasak timah yang dibawa. 

Begitu tepat di atas kepala Datu Brumbung timah yang sudah mendidih itu dituang dan kena telinga Datu Brumbung. Hangus sebelah. Datu Brumbung menyatakan perang. Dan sebelumnya ia mengirim surat lebih dulu pada Lalu Ino yang menyatakan bahwa ia ingin berperang. Peperangan terjadi diluar desa. lalu Ino memberi perintah pada dua orang temannya tentang siasat perang. Sang penjudi akan mengambil langkah dari kanan ke kiri sedang sang pencandu dari kiri ke kanan, dan mereka akan bertemu di tengah. Siasat ini dijalankan dan berjatuhanlah rakyat Datu Brumbung. Mati Tinggalkan Datu Brumbung dengan beberapa orang pengikutnya yang masih sisa.

Ada keinginan kedua orang tadi untuk menghabisi Datu Brumbung dan pengikut-pengikutnya tapi dicegah oleh Lalu Ino Kripan Kertapati Datu Brumbung adalah bagian Lalu Ino, bulan bagian mereka berdua. Kalau tadi Lalu Ino sudah sempat menonton bagaimana mereka berdua bertempur, maka sekarang giliran mereka berdua menonton bagaimana Lalu Ino menghabisi Datu Brumbung. Lalu Ino dan berhadapan dengan Datu Brumbung. Keris pusaka ayahandanya yang bernama "kalamesana" dicabut dan menghadang Datu Brumbung. Ketika Datu Brumbung datang menyerang, tepat Lalu Ino menikam dada Datu Brumbung. Datu Brumbung mati berdiri seketika. Demikianlah desa itu hidup aman dan damai dengan matinya Datu Brumbung.

Adapun isteri-isteri Datu Brumbung yang berjumlah 99 orang, pulanglah ke rumah masing-masing. Lalu Ino Kripan Kertapati pun hidup dengan aman damai dengan isterinya Lala Memenang.
Dan cerita ini pun berakhirlah...........!!!!

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat

Belum ada Komentar untuk "Cerita Datu Brumbung"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel