Cerita Bija Lempe

Alkisah Rakyat ~ Ini adalah cerita tentang Bija-bija Lempe zaman dulu. Diceritakan, tentang Bija-bija Lempe yang tinggal si Sumbawa, di kampung Bawo, Kebun Geranta namanya. Mula-mula Bija-bija Lempe ini ditakuti atau disegani oleh Dewa Mas Samawa yang memerintah Sumbawa waktu itu.Takut kalau-kalau mereka akan mefebut kekuasaan Dewa Mas. Oleh sebab  itu pada suatu hari ia memerintahkan semua Sarian Penggawa (pankat pada waktu itu,pen) untuk membunuh setiap laki-laki turunan Bija-bija Lempe itu.
Demikianlah. Pada suatu petang, seorang keluarga Bija Lempe melahirkan seorang bayi laki-laki. Betapa terkejutnya sang bidan ketika melihat bayi keluar itu adalah seorang laki-laki. Segera bidan itu menyuruh oang untuk membawa lari bayi itu ke Tungkup. Namun Sarian Penggawa mengetahui juga hal itu dan menyuruh orang mencarinya. Kalau dapat agar dibunh. Orang yang mencari bayi itu melewati pula Tungkap. Disana mereka mendengar tangis orang bayi. Mereka masuki rumah di mana bayi itu berada. Mereka dapati bayi itu sedang disembunyikan, dipeluk oleh ibu susunya.Orang itu bertanya pada ibu susu itu siapa bayi itu. Ibu susu itu terkejut dan takut sehingga ia tidak dapat menjawab seketika. Ia menangis. Dua tiga kali ia ditanya baru bisa menjawab. Ia menjawab.


"Anak ini adalh anak kalian juga yang sedang ku urus."

Orang itu tidak jadi membunuh anak itu sebab mereka juga lebih menyayangi dan menyukai anak itu. Malah disuruh agar dibawa lari menuju ke arah timur. Di bagian timur tanah Sumbawa juga tersiar kabaar tentang kedatangan anak itu. Di Ngali ( kecamatan Moyo Hilir sekarang) ada seorang yang bernama Ngampo. Ngampo menyuruh orang mencari bayi itu, disuruh membuntuti, disuruh song-song kedatangannya. Orang yang dicari ini tidak berani melewati sawah sebab mereka melihat amat banyak orang di sana. Mereka mendaki sebuah bukit. Sawah di mana bayi itu dilarikan sampai sekarang disebut "orang baselong", artinya sawah  dimana mereka tidak sempat bertemu, yaitu pertemuan orang yang mencari dan  orang yang dicari (yang membawa lari bayi itu). Di perbukitan itu mereka ketakutan juga akhirnya. Mereka mencari daun pisang untuk membungkus bayi itu agar dikira bungkusan daun sirih atau bungkusan kiriman, dan tidak disangka ada anak manusia di dalamnya.

Kemudian mereka turun dari perbukitan itu dan mencoba menunju ke Ngali. Mereka bertemu dengan banyak orang. Karena ketakutan jangan-jangan diketahui lagi, mereka mendaki lagi sebuah bukit yang lain. Di sana mereka sembunyi. Bukit tempat mereka bersembunyi ini sampai sekarang dinamakan "unter  panebis", artinya bukit dimana bayi itu disembunyikan sambil dibungkus dengan daun pisang. Orang-orang yang disuruh oleh Ngampo menemukan mereka di perbukitan itu. Begitu melihat bayi itu dibungkus dengan daun pisang, dengan segera mereka membungkusnya dengan kain. Salah seorang di antara mereka diutus untuk menyampaikan pada Ngampo bahwa bayi itu sudah diketemukan. Ngampo segera memerintahkan orang di desa itu untuk menyongsong kedatangan bayi itu. Mereka membawa semacam tandu ( lujung) dan payung yang berwarna kuning.

Orang-orang Ngali menamakan pula perbukitan itu sebagai "unter sepoyong" artinya bukit dimana sang bayi dibungkus. Orang yang menyongsong dan yang disongsong bertemu diujung perbukitan itu oleh sebab itu ujung perbukitan itu dinamakan "poto ujung" artinya ujung perbukitan di mana bayi diangkat dengan lujung. Kemudian bayi itu dibawa melelui tengah sawah. Karena panas matahari, payung yang dibawa dibuka untuk memayungi bayi itu. Sampai sekarang sawah  yang dilalui itu dinamakan "orang payung kuning" artinya sawah payung kuning. Setibanya di desa Ngali, mereka tidak langsung memasuki desa, tapi disuruh langsung ke sebuah mata air di bagian sebelah timur desa. Dan di situlah berkumpul semua orang yang menyongsong dan yang disongsong. Mereka semua mufakat untuk menamakan tempat itu "ai alu" artinya air songsong.

Dari sumber mata air itu mereka meneruskan perjalanan ke Saberis dan bayi itu lalu disembunyikan dulu di sebuah perbukitan. Di situ tak ada yang berani memasang api untuk memasak makanan. Mreka takut diketahui oleh orang-orang yang masih berusaha membunuh bayi itu. Namun bagaimanapun nasi harus dimask untuk makan. Untuk itu mereka menuju ke perbukitan yang agak rendah. Perbukitan itu dinamakan "unter usuk artinya perbukitan di mana api dinyalakan.

Tersebut pula sebuah perbukitan di mana Ngampo menyuruh orang-orang mengintai kalau-kalau ada orang datang atau orang jalan. Perbukitan ini disebut "olat gemit" artinya bukit pengintai. Orang-orang yang mengintai ini, pada waktu pulang mengambil jalan lain dan tidak boleh menceritakan persoalan itu kepada orang yang ditemui di jalan. Mereka harus berbohong. Kini anak itu besar di Ngali, sudah bisa memakai kain sendiri dan sudah memakai kopiah. Tapi kekhawatiran masih saja meliputi hati Ngampo. Ia menyuruh anak itu memanggil dia dengan kata "kaki" (artinya nenek) dan bukan dengan kata "papin" sebagaimana biasanya orang di Ngali. Anak itu bernama Bujir.

Pada suatu hari tersiar berita bahwa Pangeran Gagak dari seberang akan datang ke Sumbawa untuk merebut kekuasan. Pangeran ini dikenal sebagi pangeran yang sudah pernah bertapa dan bisa menghilang, kuku-kukunya dilapisi dengan sarung dari besi. Dewa Mas Samawa memanngil semua rakyatnya. Mreka disuruh berjaga-jaga, mengamat-amati kedatangan Pangeran Gagak. Waktu itu datang tibalah dan ternyata Pangeran Gagak sudah berada di Sumbawa. Tak ada seorang pun yang tahu jalan mana yang ditempuhnya dan bagaimana caranya tiba. Pada saat itu Ngampo dan Bujir juga ikut serta datang ke Sumbawa Senja hari itu Ngampo dan Bujir duduk-dududk didepan pintu ketika tampak Pangeran Gagak menuruini sebuah tangga dan akan meliwati pintu dimana Ngampo dan Bujir duduk. Ngampo, begitu melihat Pangeran Gagak menggeser kerisnya ke belakang. Ketika pintu terbuka Bujir menghunus keris Ngampo dan seketika menikam Pangeran Gagak.

Dikatakan dalam cerita ini bagaimana bekas tikaman yang dilakukan oleh Bujir ini, sebagai "sepaola tama sagutis ola lis", artinya ketika masuk keris itu tidak begitu besar bekasnya tapi ketika dicabut tampak seperti dirobek. Orang-orang melihat bahwa Pangeran Gagak sudah mati. Kini mereka berebutan mau mengaku sebagai orang yang membunuh Pangeran Gagak. Mereka teringat ucapan Dewa Mas Samawa, bahwa siapa yang membunuh Pangeran Gagak akan dikawinkan dengan putrinya, tidak peduli apakah orang itu badannya anjing sepotong dan babi sepotong. Tampaknya pertengkaran mereka tidak akan mereda, bahkan mungkin menjadi-jadi, ketika salah seorang yang hadir disitu berkata.

"Memang demikianlah ucapan Dewa Mas Samawa, tidak berubah tapi cobalah perhatikanbagaimana bekas tikamannya. Karena melihat bekas tikamannya yang khas, maka cara itu tentulah dilakukan oleh Bija Lempe. Hanya Bija Lempe yang bisa melakukan tikaman seperti itu. Dan juga kuku, sarung kuku besi melakukan tikaman seperti itu. Dan juga kuku, sarung kuku besi Pangeran Gagak tidak ada. Jadi siapa yang menyimpan sarung kuku tersebut dialah yang membunuh Pangeran Gagak. Mendengar ucapan itu, maka bubarlah orang-orang itu, pulanglah mereka ke rumahnya masing-masing, karena malu dan sakit hati. Tak ada bukti dan tanda-tanda lainnya pada mereka. Sementara itu Dewa Mas Samawa melihat bekas tikaman pada tubuh Pangeran Gagak. Ia merasa curiga bahwa anak kecil yang duduk di belakang Ngampo itu tentulah Bija Lempe. Dewa Mas Samawa bertanya pada Ngampo.

"Hei Ngampo siapa anak yang duduk di belakang itu?"   

Ngampo tidak dapat segera menjawab dengan segera. Ia merasa khawatir dan susah. Ditanya sampai dua tiga kali, baru bisa menjawab samnil menghunuskan kerisnya.

"Inilah ludah yang sudah kita buang itu." Di ujung ucapannya, katanya, ditambahkan kata "ya" (dalam bahasa Sumbawa "ao") dan itulah sebabnya sampai sekarang ada satu desa di Kecamatan Moyo Hilir sekarang ini dinamakan desa Kika artinya orang-orang yang meng-"ya"kan dirinya.

Konon orang -orang di desa itu adalah keturunan dari Ngampo ini. Dewa Mas Samawa berkata lagi kepada Ngampo, "Baiklah Ngampo, kini peliharalah baik-baik anak ini, bawa dia ke ngali. Nanti kalau dia sudah besar barulah ku ambil kubawa ke Sumbawa." Anak ini pun dibawa pulang kembali oleh Ngampo, ke Ngali. Waktu pun berganti sudah dan Bujir sudah menjadi dewasa, menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah dan Ngampo menerima pesan dari Dewa Mas Samawa agar Bujir dikirim ke Sumbawa. Ngampo memanggil semua orang-orang tua desa untuk mengabarkan kepindahan Bujir dan pada suatu hari yang sudah ditentukan keberangkatan itu dilakukan. Sebelum berangkat, sempat Bujir meninggalkan pesan pada Ngampo sebagai berikut:

"Nenek, ini pesanku padamu. Kalau sekiranya nanti keturunanku berbuat jahat kepada keturunan selanjutnya dari nenek, maka bila turunanku masuk laut mereka akan disambar oleh buaya, kalau ke gunung akan diterkam oleh ular, mereka akan terkikis pelan-pelan seperti air mengikis tebing, hanyut seperti jagung dibawa banjir, porak poranda seperti pohon bambu di pendakian Mama." Kemudian bujir menyambung lagi.
"Demikian pula sekiranya turunan Ngampo berbuat jahat terhadap turunanku, maka ke laut turunan Ngampo akan disambar buaya, bila ke gunung akan diterkam ular, mereka akan terkikis pelan-pelan seperti air mengikis tebing, hanyut seperti jagung dibawa banjir, porak-poranda seperti pohon bambu di pendakian Mama."

Kemudian Bujir dan Ngampo menaiki kudanya menuju Sumbawa. Kini Bujir hidup di Sumbawa. Pada suatu hari ia turun bermain-main dengan teman-teman sebayanya di Lemang Lunyuk (Lapangan Lunyuk). Tepat pada saat itu Dewa Mas Samawa melihat seekor burung elang terbang melayang-layang di atas Lenang Lunyuk. Dia memerintahkan pada seorang Ponggawa untuk mengambil senapan dan memberikannya pada pemuda-pemuda yang sedang bermain di bawah sana. Tak seorang pun dari pemuda-pemuda itu yang berani menerima senapan itu. Lalu senapan itu diberikan pada Bujir. Diterimanya dan seketika itu pula Bujir menembak burung elang itu. Burung elang itu jatuh di depan mereka. Tak berapa lama Bujir tinggal di istana Dewa Mas Samawa ia pun dikawinkan dengan putri Dewa Mas Samawa. Perkawinan ini konon kabarnya ramai sekali, diperlambangkan dengan ucapan dalam bahasa Sumbawa yang berbunyi, "kesat ai saberang, pere rebu sa lenag." Artinya, kering air satu sungai dan rumput-rumput di sebuah lapangan habis rebah (karena diinjak oleh orang).

Setelah Bujir kawin, dia tinggal di Kampung Bawa di lapangan Keban Garanta di dekat sebuah anak sungai, anak sungai ini (yang dalam bahasa Sumbawa di sebut "kokar") sampai sekarang disebut "kokar pamiso ne" artinya, anak sungai tempat mencuci kaki. Sebanya disebut demikian, katanya adalah karena bila Bujir dan turunannya selanjutnya akan menaiki rumahnya meliwati anak sungai itu, mereka selalu mencuci kakinya dulu sebelum masuk ke rumah. Dengan demikian tamatlah cerita ini.Orang-orang tua di Sumbawa, selalu menutup ceritanya dengan kata-kata puitis nadanya, Tu samele ayam numpe, ayam nara ode, bu tumpu mo sanga ra ode.

Sumber : Cerita Rakyat Daerah Nusa Tenggara Barat

Belum ada Komentar untuk "Cerita Bija Lempe"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel