Cerita Puteri Tunjung Buih

Alkisah Rakyat ~ Pada suatu malam Lembu Mangkurat bermimpi. Di dalam mimpinya seolah mendengar suara almarhum ayahandanya. Beliau menganjurkan suoaya Lembu Mangkurat membuat rakit-rakit dari 14 batang pohon pisang saba dengan berlangit-langit kain putih. Di empat sudut digantungkan mayang menguarai. Lembu Mangkurat haruslah pula berpakaian dan berdestar kain putih. Pada tengah malam sambil membakar dupa, haruslah ia berhanyut ke hilir sungai dengan tidak menaruh gentar,bila sendainya bertemu dengan buaya, ikan dan ular besar. Jika ia dengan rakitnya sampai di Lubuk Bergaja, maka rakit itu akan berputar di pusar air. Kalau pusar air ini menjadi tenang kembali, ia kan melihat muncul sebuah buaih raksasa. Dan dari dalam buih ini akan terdengar suara perempuan yang berbicara kepadanya. Perempuan inilah yang akan menjadi Raja puteri negara"!


Pada keesokan harinya, Lembu Mangkuratpun berbuat seperti petunjuk yang didapat di dalam mimpin. Dengan rakit yang memenuhi syarat sepeerrti yang dikehendaki, iapun berhanyut ke hilir. Dengan tidak merasa takut sedikit juapun, walaupun sepanjang jalan bertemu dengan buaya, ikan dan ular-ular besar.Akhirnya ia melihat sebuah buih yang bercahaya-cahaya timbul ke permukaan air. Suatu suara yang lembut-lembut serta merdu bertanya: "Lembu Mangkurat, apakah yang engkau perbuat disini?"! Lembu Mangkuratpun menjawab: "Hamba mencari seorang Raja untuk memerintah di Negaradipa"! Suara itu kedengaran lagi. "Lembu Mangkurat, aku, adalah Raja Puteri, PUTERI TUNJUNG BUIH yang engkau cari"! Lembu Mangkurat terus  berjanji mempersembahkan Candi sebagai istana. Tetapi Puteri Tunjung Buih menolok tinggal di sana. Karena di situ pernah diletkakan patung-patung yang dijadikan berhala. Ia meminta supaya membangun sebuah mahligai. Sebagai tiangnya haruslah diambil 4 pohon batang batulis dari gunung Batu Piring. Mahligai itu haruslah selesai dikerjakan di dalam satu hari. Selanjutnya empat puluh orang gadis haruslah pula menyelesaikan selembar kain kuning yang panjangnya 7 meter dan lebarnya 2 meter. Kain itu akan digunakan oleh puteri sebagai selendang, jika ia bepergian.

Setelah mengetahui hal ini semuanya, maka Lembu Mangkuratpun segera memberitahukan peristiwa ini kepada kakanda Empu Mandastana. Rakyat dilarang melayari sungai tersebut sebelum puteri naik ke mahligai. Empat orang patih mendapat perintah untuk mengambil 4 pohon batang batulis. Dan benarlah, pada hari itu juga selesailah.Laksana diciptakan mahligai yang diminta, sedang keempat puluh orang gadis dapat pula memenuhi kewajibannya yang dipikulkan kepada mereka membuat selembar  kain langgundi. Dengan suatu upaca kebesaran, berangkatlah Lembu Mangkurat menjemput sang PUTERI TUNJUNG BUIH, dengan diiringi oleh 40 orang gadis yang berpakaian kuning. Dengan khidmat kain kuningpun dipersembahkan kepada  PUTERI TUNJUNG BUIH.

Bercahaya-cahaya, gilang-gemilang keluarlah Puteri dari dalam buih, berpakaian rapih dan berselendang kain kuning yang dibuat oleh para gadis. Dan dengan diiringi oleh rakyat, berangkatlah Puteri menuju mahligainya. Hanya 40 orang gadis pengiring yang diperkenankan tinggal bersama Puteri. Maka kini Puteri Tunjung Buih pun menjadi raja di Negaradipa. Di dalam wujudnya, pemerintahan diserahkan kepada kebijaksanaan Lembu Mangkurat, walaupun ia adalah adik dari Empu Mandastana. Dan ia pulalah yang memberikan keputusan-keputusan yang penting di dalam soal yang bertalian dengan urusan negera.

Pada suatu hari Lembu Mangkurat menghadap raja Puteri Tunjung Buih, dengan maksud menanyakan apakah Raja Puteri tidak akan memilih seorang suami. Dengan tegar Raja Puteri menjawab: "Bahwa ia hanya akan kawin dengan seorang laki-laki yang yang diperolah dengan ciptaan bertapa"! Jawaban ini menimbulkan kesukaran yang tidakmudah untuk dipecahkan. Dan dengan agak kemalu-maluan Lembu Mangkurat memohon diri pulang. Adapun Empu Mandastana  berputera dua orang, yang wajah mereka laksana pinang dibelah dua. Seorang bernama Bangbang Sukmaraga dan seorang lagi bernama Banbang Patmaraga. Tiap-tiap hari kedua anak muda itu bermain di sekitar mahligai Raja Puteri Tunjung Buih.

Banyak anak gadis yang jatuh cinta kepada kedua anak muda ini. Mereka menjalin pantun dan menggubah seloka untuk menyatakan kerinduan mereka. Ketika Raja Puteri Tunjung Buih melihat kedua anak muda itu, maka diketahuinyalah bahwa kedua anak itu adalah puter-putera  dari Empu Mandastana. Sekedar untuk memberi hadiah sebagai tanda kebangsawanan hatinya, maka Raja Puteri Tunjung Buih memberi sekuntum bunga Nagasari kepada  mereka. Bunga yang pada waktu itu belum ada yang tumbuh di Negaradipa. Tetapi malang, tepat pada ketika itu paman mereka Lembu Mangkurat lewat disana. Dengan gusar dan cemburu ditanyakan apa yang mereka perbuat di sekitar istana itu. Kemudian ia melarang kepada kedua putera kakanya itu untuk datang bermain-main di dekat tempat kediaman raja. Karena Lembu Mangkurat berpendapat, nanti kalau sampai Raja Puteri ingin bersuamikan salah seorang dari kemenakannya, sehingga kelak ia sebagai paman akan menyembah anak kakaknya sendiri. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyingkirkan kedua anak muda itu, yang adalah anak-anak kakaknya sendiri.

Maka pada suatu hari dengan alasan bersama-sama akan pergi mencari ikan, ia mengajak kedua kemenakannya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga ke hulu sungai. Kedua anak itu menuruti saja ajakan paman mereka. Namun sebelum berangkat, mereka telah bermohon dan menyatakan selamat berpisah kepada ayah dan bunda mereka. Hal inilah yang kemudian menjadi pangkal kecurigaan. Menjelang keberangkatan, Bangbang Sukmaraga menanam sebatang pohon kembang melati disebelah kanan dari pintu rumah, sedangkan adiknya Banbang Patmaraga menanam sebatang kembang merah di sebelah kiri, seraya berkata: "Jika daun-daun ini rontok berguguran, maka itulah tandanya kami berdua kakak beradik mati dibunuh oleh paman Lembu Mangkurat"!

Dengan berbaju putih, mereka pergi ke perahu, sedangkan Lembu Mangkurat telah datang terlebih dahulu menunggu mereka. Maka bersama-sama mereka berdayung ke hulu sungai hingga sampai di Batang Tabalong. Dan disinilah kedua anak kakaknya itu dibunuh. Lembu Mangkurat menjadi keheran-heranan setelah mengetahui bahwa mayat Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga hilang lenyap seketika itu juga. Tempat pembunuhan ini sampai sekarang masih bernama Lubuk Badangsanak. Sedang Empu Mandastana dengan isterinya yang sedang dalam keadaan cemas dan khawatir, tiba-tiba datanglah sejoli burung merak. Yang jantan hinggap di pangkuan Empu Mandastana dan yang betina dipangkuan isterinya.

Maklum akan tanda-tanda ini, berdebar-debarlah hati Emu Mandastana dan isterinya. Dan seolah-olah tahulah mereka bahwa kedua putera mereka telah mati dibunuh. Dengan serempak mereka berdua berdiri menengok pohon-pohon yang ditanam oleh puter-puternya. Ketika melihat pohon-pohon itu, maka berliang-linanglah airmata mereka karena daun-daun pohon itu  satu demi satu berguguran. Segera mereka mengambil keputusan untuk mengikuti nasib kedua puteranya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setibanya mereka kembali di Candi, maka Empu Mandastana menikam dirinya dengan sebuah keris Keling yang bernama Lading Malela.

Beberapa hari kemudian barulah Lembu Mangkurat mengetahui akan kematian kakaknya. Ia menanyakan kepada semua pengiring dimanakah mereka paling akhir melihatnya. Tetapi walaupunsudah diselidiki saksama, orang-orang tidak dapat juga menjumpai Empu Mandastana dengan isterinya. Sambilmenduga apa yang mungkin terjadi, Lembu Mangkurat pergi menuju ke Candi. Di sini ia menjumpai kedua sosok tubuh yang telah menjadi mayat, terbaring tenang lakana tidur, sedang keris terletak di samping masing-masing. Disekelilingnya tampak banyak burung yang mati bergelimpangan karena terbang melangkahi kedua mayat yang keramat itu.    
     
Dan Lembu Mangkurat memerintahkan pengiring-pengiringnya membuang  ke dalam laut kedua mayat itu serta tanah -tanah tempat mayat itu terbaring. Di tempat itu kemudian terdapat sebuah telaga yang sampai sekarang dinamakan Telaga Raha. Konon jika ada seorang yang dianggap bersalah dan dibunuh, maka kelihatan air Telaga Raha selama dua puluh empat jam berwarna ke merah-merahan.

Demikian pula halnya dengan sungai yang berhulu dari gunung  Batu Piring, gunung tempat mengambil Batang batulis guna tiang mahligai Puteri Tunjung Buih. Sa,pai sekarang sungai ini masih terkenal dengan nama Sungai Darah.

Sumber : Lembu Mangkurat (Ceritera Rakyat dari Kalimantan Selatan)
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Puteri Tunjung Buih"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel