contoh teks drama qanaah

contoh teks drama qanaah - Kami akan sampaikan disini contoh teks drama qanaah lengkap sekali sehingga anda bisa mendapatkan contoh teks drama qanaah dini selengkapnya dan tentunya ini akan bisa menjadi contoh teks drama qanaah untuk pertunjukan anda dan tentunya contoh teks drama qanaah ini akan bisa menjadi salah satu prestasi anda disaat anda melakukan Drama dengan teman-teman anda dipentas. Ini adalah salah satu contoh teks drama qanaah terbaik yang bisa kami posting dan bisa menjadi pelajaran yang sangat berguna sekali karena Cerita contoh teks drama qanaah ini sangat menyentuh hati, kocak dan sangat menyenangkan sekali saat dipentaskan dengan teman-teman nantinya.

Untuk itu dapatkan contoh teks drama qanaah ini disini yang kami berikan lengkap sehingga bisa menjadi pertunjukan yang sangat bagus sekali, dan anda akan mendapatkan nilai bagus untuk contoh teks drama qanaah ini, lengkap sekali contoh teks drama qanaah ini dan pastinya kamu semua akan puas dengan contoh teks drama qanaah tersebut, dan untuk untuk itu langsung dapatkan contoh teks drama qanaah dibawah ini yang sobat semua.

Kehidupan Seorang Penarik Becak
karya : Shafira


Di sebuah desa terpencil, ada sebuah rumah yang sederhana. Rumah itu ditempati oleh Bapak Ali, Ibu Fatimah dan ketiga anaknya. Sehari-hari, Bapak Ali bekerja sebagai penarik becak dan Ibu Fatimah bekerja sebagai buruh cuci. Walaupun penghasilan mereka berdua tidak besar, mereka tetapt bersyukur dan tetap berusaha untuk menyekolahkan ketiga anaknya itu.

Suatu hari pada saat Bapak Ali sedang menarik becak, Bapak Ali melihat ada seorang Ibu yang menjadi korban tabrak lari. Bapak Ali akhirnya menolong Ibu itu dan membawanya ke rumah sakit.

Sesaat kemudian, Ibu itu terbangun dan bertanya kepada suster yang memeriksanya. "Suster, siapa orang yang sudah menolong saya?" kata Ibu itu.
"Maaf bu, saya tidak tahu namanya. Tetapi orang itu masih ada di depan. Apa mau saya panggilkan?" tanya suster itu.
"Iya... Tolong panggil dia." pinta Ibu itu.

Suster itu akhirnya memanggil Bapak Ali. Lalu, Bapak Ali masuk ke dalam ruang rawat Ibu itu.
"Apa Bapak adalah orang yang sudah menolong saya?" tanya Ibu itu.
"Iya..." jawab Bapak Ali.
"Terimakasih banyak ya, Pak." kata Ibu itu.
"Iya...sama-sama." jawab Bapak Ali.

Bapak Ali pun akhirnya pulang dan Ibu itu meminta alamat rumah Bapak Ali.

Hari-hari telah berlalu. Tiba-tiba ada seorang Ibu yang mendatangi rumah Bapak Ali. Istri Bapak Ali, yaitu Ibu Fatimah pun membuka pintu rumahnya. 
"Permisi, Bu. Apakah benar ini rumah Bapak Ali?" tanya Ibu itu sopan.
"Iya benar. Ada perlu apa ya, Bu?" jawab Ibu Fatimah.
 "Maaf Bu, bisa Ibu panggilkan Bapak Ali?" pinta Ibu itu.
"Iya... Tunggu sebentar ya, Bu." jawab Ibu Fatimah.
Ibu Fatimah akhrinya memanggil suaminya itu. Bapak Ali keluar dan kaget.
"Ibu, ada apa Ibu datang ke rumah saya?" tanya Bapak Ali.
"Saya hanya ingin memberi uang ini untuk keluarga Bapak sebagai tanda terimakasih dari saya, karena waktu itu bapak sudah menolong saya." kata Ibu itu.
"Terimakasih, Bu. Tetapi waktu itu saya ikhlas menolong Ibu. Ibu tidak perlu memberi apa-apa untuk saya." kata Bapak Ali.
"Ini, Pak. Terima saja." kata Ibu itu.
"Tidak usah, Bu. Terimakasih." jawab Bapak Ali menolak. 
Akhirnya Ibu itu pulang.

Keeskokan harinya, Bapak Ali dan anggota keluarganya duduk dan bersantai di teras rumahnya sambil berbincang-bincang. 
"Ayah, mengapa kemarin uang dari Ibu itu tidak Ayah terima saja. Padahal kan uangnya lumayan banyak." tanya salah seorang anaknya.
"Nak, memang uang Ibu itu lumayan banyak. Tetapi, waktu itu Ayah menolong dia dengan ikhlas. Jadi, Ibu itu tidak perlu memberi imbalan kepada kita." jawab Bapak Ali.

Kemudian Ibu Fatimah melanjutkan pembicaraan suaminya itu.
"Iya, nak. Kalau menolong orang itu harus dengan ikhlas. Lagi pula soal uang itu kita tidak terlalu membutuhkannya. Jadi, kita tidak perlu menerimanya." kata Ibu Fatimah.

Salah satu anaknya mengatakan sesuatu. "Tetapi, Bu. Penghasilan Ayah dan Ibu tidak sebanyak uang yang ingin diberikan Ibu itu." kata salah satu anaknya.
"Iya...memang penghasilan Ayah dan Ibu tidak sebanyak uang yang diberikan Ibu itu. Tetapi, penghasilan Ayah dan Ibu sudah cukup untuk kebutuhan kita seharihari." jawab Ibu Fatimah.
"Iya, benar kata Ibu. Jadi, walaupun Ayah hanya bekerja sebagai penarik becak dan Ibu sebagai buruh cuci, tetapi kita tetap harus mensyukuri dan menerima dengan ikhlas."

Saat ini anda sudah membaca tentang contoh teks drama qanaah yang kami berikan diatas, semoga bisa menjadi info bermanfaat ya, dan jangan lupa baca selengkapnya disini untuk Kumpulan Naskah Drama yang lainnya juga.

Belum ada Komentar untuk "contoh teks drama qanaah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel