Cerita Empu Jatmika

Alkisah Rakyat ~ Ceritera ini asal mulanya berasal dari negeri Keling. Disana hidup seorang pedagang yang kaya raya. Namanya saudagar Mangkubumi. Isterinya bernama Sitira. Anaknya seorang laki-laki bernama Empu Jatmika. Setelah ia besar kawin dengan Sira Manguntur. Dari perkawinannya ini ia mendapat putera dua orang, masing-masing bernama Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat.


Ketika kedua cucu saudagar ini masih muda remaja, beliau saudagar Mangkubumi jatuh sakit. Semua anggota keluarga dititahkan untuk berjaga-jaga selama 40 hari, siang dan malam. Ketika hampir meninggal dunia, beliau meminta supaya anak dan cucunya datang menghadap. Kepadanya anaknya Empu Jatmika, ia berpesan supaya menjaga sekalian keluarga dengan sebaik-baiknya.

Pesan beliau: "Jangan kikir! Bersikap adil terhadap setiap orang. Dan hendaklah  menerima dan mendengarkan dengan segera tiap-tiap permohonan orang yang datang menghadap!"  Itulah kata-kata terakhir dari saudagar Mangkubumi.

Sebelumnya juga beliau berpesan supaya anaknya pergi merantau keluar negeri. Karena di negeri Keling ini terdapat banyak orang yang suka irihati dan dengki. Anaknya Empu Jatmika harus mencari negeri yang bertanah panas, dan berbau harum. Untuk mengetahui hal itu hendaklah ia menggali tanah yang di datanginya, kira-kira pada tengah malam dan mengambilnya sekepal. Jika telah berhasil menjumpai daerah yang tanahnya memenuhi syarat-syarat itu, hendaklah ia menetap di sana. Karena di tempat itulah ia mendapat rakhmat dan kebahagiaan. Tanaman-tanaman akan hidup subur. Saudagar- saudagar akan datang berdagang. Dan negara terhindar dari gangguan musuh. Jika tanah itu harum tetapi dingin, maka kebahagiaan dan kemakmuran hanyalah sekedar saja. Baik dan buruk ada di dalam keadaan yang seimbang. Jika yang tanah itu berbau busuk dan lagi dingin, maka niscaya negara itu senantiasa ditimpa bahaya. Dan menderita kesukaran yang tidak putus-putusnya.

Setelah berpesan demikian, maka saudagar Mangkubumi menutup mata untuk selama-lamanya. Semua keluarga berdukacita, dan meratapi dengan tangis kesedihan. Untuk mengikuti kebiasaan pada zaman dahulu kala maka upacara pemakaman berlangsung dengan disertai pembagian beribu-ribu lembar kain dan berpuluh-puluh ribu uang yang ditaburkan.

Mengingat akan pesan ayahnya. Empu Jatmika setuju sekali untuk meninggalkan negerinya. Ia menitahkan datang menghadap hulubalang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatahjiwa. Juga Wiramartas yang merupakan seorang ahli bahasa. Wiramartas fasih dalam berbahasa Arab Persi, Melayu, Tionghoa dan lain-lain. Kemudian Wiramartas ditunjuk sebagai kepala dari rencana perjalanan ini.

Tidak lama kemudian, bertolaklah dari negeri Keling, armada yang berlayar dengan dipelopori oleh kapal Si Pribajaksa. Empu Jatmika terdapat dalam kapal pelopor ini. Tidak lama kemudian armada berlabuh di sebuah pulau. Tetapi ternyata pulau itu tidaklah bertanah panas dan harum. Dengan sedikit agalkecewa pelayaran diteruskan. Armada kemudian berlabuh di pulau Hujung Tanah. Sementara berlabuh Empu Jatmika bermimpi. Serasa berjumpa dengan almarhum ayahanda, yang berpesan supaya mendarat di pulau Hujung Tanah. Karena disitulah ia akan menjumpai apa yang dicari.

Pagi-pagi benar pergilah Empu Jatmika dengan empat orang pengiringnya menuju pulau Hujung Tanah. Ia menggali tanah di sana, dan benarlah di sini hawanya panas laksana api, harum sebagai daun pudak. Dengan batu-batu yang dibawa dari negeri Keling. Dimulailah membangunsebuah Candi. Kemudian didirikan pula sebuah istana lengkap dengan balairung, pendopo dan perbendaharaan. Maka dengan suatu upacara di dalam balairung, Empu Jatmika memberikan nama kepada negara baru itu : NEGARADIPA. Ia sendiri menjadi raja di negara ini dengan gelar Maharaja di Candi.

Pada waktu itu terdapat kepercayaan kepada peribahasa : "Siapa yang tidak berdarah bangsawan, tetapi oleh karena kekayaan dapat menjadi Raja, ia akan ditimp oleh bencana. Demikian pula bencana itu akan menimpa mereka yang mengakui orang itu sebagai raja"!. Oleh karena itu Empu Jatmika menitahkan membuat patung dari kayu cendana. Patung inilah yang seolah-oleh diletakkan kekuasaan yang tertinggi. Ahli-ahli tatah mengukir dua buah patung, yang berwujud seorang laki-laki dan seorang perempuan. Patung-patung itu dihiasi dengan seindah-indahnya dan diukup dengan dupa serta wangi-wangian kemudian diletkakan di dalam candi.

Tiap-tiap hari Jumat datanglah raja mengunjungi patung-patung itu. Pada suatu ketika raja menitahkan supaya Hulubalang Arya Megatsari dengan membawa tentara 1.000 orang untuk menaklukkan daerah Batang Tabalong. Batang Balangan, dan Baang Pitap. Dengan kekuasaan tentara yang sama pula, berangkatlah Tumenggung Tatahjiwa ke daerah Batang Alai, Batang Hamandit, dan Labuan Emas. Kedua ekspedisi ini berhasil. Dan semua pemi mpin-pemimpin rakyat  di daerah yang ditaklukkan itu dibawa menghadap kepada raja. Mereka semua diwajibkan tunduk kepada perintah kedua hulubalang. Dan tiap-tiap musim panen haruslah menyerahkan upeti yang jumlahnya telah ditetapkan. Setelah dijamu secara mewah, maka semua pemimpin-pemimpin itupun diperkenankan kembali ke daerah masingmasing dengan perjanjian selanjutnya tidak lagi akan bermusuhan diantara sesama mereka.

Sesudah pemimpin-pemimpin itu kembali ke daerahmasing-masing, maka raja mencurahkan perhatiannya kepada keadaan istana. Segala peraturan, susunan pegawai, upacara istana disesuaikan dengan atau mencontohkan tatakrama Majapahit. Ketika semua peraturan telah tersusun baik, maka Empu Jatmika mengirmkan armada ke negeri Keling. Dibawah pimpinan nakhoda Lampung, guna menjemput keluarga dan harta benda yang berharga, yang masih ketinggalan. Di dalam perjalanan pulang armada ini dilanda angin taufan. Kapal-kapal terserak kesana kemari, sebagian hanyut ke Laut Kidul. Akibatanya banyak anak buah kapal yang tewas. Sisa dari armada itu tiba kembali di Negaradipa dengan selamat. Para nakhoda mendapat hadiah. Diantaranya sebuah pedang yang indah permai.

Pada suatu upacara yang diasanya dilakukan pada tiap-tiap hari Sabtu, Raja memberitahukan kepada Arya Megatsari dan Tumenggung Tatahjiwa, keinginannya untuk mengganti patung-patung kayu yang lambat- laun telah menjadi lapuk dengan patung dari pada gangsa

Ketika itu raja mengetahui bahwa bangsa Tionghoa adalah bangsa yang pandai dan ahli dalam hal pembuatan patung gangsa. Maka beliau memutuskan untuk mengutus Wiramartas menghadap raja Tiongkok dengan membawa bingkisan yang berharga, diantaranya terdapat 10 ekor kera jenis orang hutan. Dengan tidak banyak mendapat kesukaran, utusan di bawah pimpinan Wiramartas itu tiba di Tiongkok. Dan di dalam suatu sidang resmi, Wiramartas mempersembahkan surat dari raja Negaradipa. Seorang pandita Raja Tiongkok membacakan surat tersebut.

Kemudian Raja Tiongkok menitahkan supaya memenuhi permintaan raja Negeradipa. Kemudian beliau masuk ke dalam istana. Setelah musim yang baik tiba, berlayar pulanglah Wiramartas. Dan 40 orang ahli patung dari Raja Tiongkok ikut serta. Selain dari pada itu dikirimkan pula beraneka macam hadiah, seperti tikar permadani, kain sutera, barang-barang porselin dan sebagainya. Wiramartas sendiri medapat hadiah pakaian yang indah dan sebilah pedang Jepang.

Setelah Wiramartas sampai dipelabuhan Negeradipa, maka utusan ini disambut secara meriah. Dalam sidang, Wiramartas menyampaikan laporan dari perjalanan dan membacakan surat dari Raja Tiongkok. Wiramartas dengan pengiring-pengiringnya diberi hadiah, yakni sebagai balas jasa atas menjalankan kewajibannya dengan sangat baik. Kepada Wargasari, bendahara raja, diserahkan semua bingkisan Raja Tiongkok. Sedangkan kepada Arya Megatsari diperintahkan untuk menjaga ahli-ahli senirupa dari bangsa Tionghoa itu.

Di dalam waktu yang singkat, ahli-ahli bangsa Tionghoa itu selesai dengan tugas mereka. Dua patung gangsa yang merupakan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang ukurannya sebesar anak kecil, diserahkan kepada Raja. Raja sangat mengagumi pekerjasan para ahlu itu. Kemudian Raja menitahkan untuk melemparkan patung-patung kayu ke dalam laut, dan menempatkan patung gangsa sebagai gantinya di dalam candi.

Empat puluh pandita dititahkan untuk menjadi patung-patung itu. Di dalam waktu yang tertentu haruslah mereka membersihkan dan menggosoknya dengan pasir halus, agar patung itu jangan berkarat. Kemudian diusap dengan narawastu dan dasapi dengan kemenyan. Tiap-tiap malam Sabtu, haruslah pandita-pandita itu menaburi patung-patung itu dengan bunga melati, cempaka dan bunga pudak.

Di jaman itu Negaradipa termasyhur kemana-mana. Pembentukan negara dan cara pemerintahan mengikuti contoh dari kerajaan Majapahit. Pakaian dan kebiasaan menitu pula pakaian adat dan kebaisaan Jawa. Malah raja tidak lagi menghendaki rakyatnya berpakaian secara Keling atau Melayu. Karena Negaradipa adalah negara yang berdiri sendiri dan haruslah mengambilbentuk yang selaras dan pantas.

Selanjutnya raja memperingatkan rakyatnya, jangankalah menanam lada untuk perdagangan seperti di Sriwijaya. Sebab di tempat tumbuhnya lada, akan terdapat kekurangan bahan makanan. Tumbuh-tumbuhan tidak akanhidup subur oleh hawa panas lada. Negara akan menderita kesukaran dan pemerintahan akan runtuh. Jika orang ingin menanam juga lada, hendaknya jangan lebih dari empat atau lima rumpun yakni sekedar cukup untuk keperluan sendiri. Beberapa lama kemudian Empu Jatmika jatuh sakit. Banyak tabib yang di datangkan. Tapi tidak berhasil. Siang dan malam banyak rakyat yang berjaga-jaga di sekitar istana.

Akhirnya raja menitahkan supaya kedua puteranya menghadap. Juga kedua Hulubalang, Arya Megatsari dan Tumenggung Tatahjiwa. Dengan tegas raja memperingatkan agar supaya kedua puteranya jangan menerima kehormatan untuk menjadi Raja. Sebab bencana dan malapetaka akan selalu menimpa tiap-tiap orang yang menjadi raja, jika ia tidak mempunyai keturunan atau berasal dari kaum bangsawan. Beliau sendiri meletkakan kekuasaan kepada patung-patung karena khawatir ditimpa bencana. Jika beliau mangkat haruslah patung-patung itu dilemparkan ke laut. Sedangkepada putera-puteranya dititahkan mencari Raja manusia dengan jalan Empu Mandastana haruslah bertapa di gunung di dalam gua atau di pohon-pohon besar.

Sedangkan Lembu Mangkurat haruslah bertapa di pusar air yang dalam. Sesudahmemberikan peringatan ini, maka Rajapun mengkatlah. Pemakaman jenazah baginda dilakukan dengan uacara kebesaran. Kemudian oleh Pandita-pandita dilakukan uoacara membuang patung- patung ke dalam laut. Kemudian Empu Mandastana dan Lembu Mangkurat pergi bertapa memenuhi anjuran ayahanda mereka, Empu Jatmika. Dua tahun lamanya mereka hidup mengasingkan diri, dengan mengurangi makan, minum dan tidur. Walaupun demikian, namun yang diharap-harap belum juga tiba, sehingga mereka telah berniat untuk pulang kembali.

Sumber : Lembu Mangkurat (Ceritera Rakyat dari Kalimantan Selatan)
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Empu Jatmika"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel