Cerita Nan Gombang Pituanan

Alkisah Rakyat ~ Cerita ini merupakan cerita yang populer di daerah Pesisir Selatan. Ada orang yang berangapan bahwa cerita ini memang terjadi di daerah Pesisir Selatan. Ada juga orang yang beranggapan bahwa cerita ini termasuk mitos/dongeng, tidak masuk di akal manusia, sebab manusia meninggal tidak dikuburkan, diletakkan saja dianjung peranginan rumah gadang. Dan arwahnya tetap hidup dan menjelma kepada anaknya, Sutan Lembak Tuah dan Sutan Pengaduan. Secara ringkas kami kemukakan di sini, jalan cerita Nan Gombang Pituanan. Nan Gombang di sini dianggap orang keramat dan begitu pula orang tuanya. Nan Gombang tidak dimakan peluru, tahan besi tahan ilmu bathin, pandai berperang.

Peluru tiba ditubuhnya berobah menjadi panau, tahan pedang jenawi, pandai pencak silat dan sebagainya. Nan Gombang memerintah sebagai raja di daerah Batang Kapas yang bernama Taluek Sunyi Air Batu. Lawannya yang terkuat Rajo Unge Layang berkuasa di daerah Carocok Tarusan yang bernama waktu itu Kualo Gadueng Intan. Nan Gombang kawin pertama dengan putih Gondam Ganto Sori di daerah Teluk Betung Painan, mempunyai anak seorang yang bernama Sutan Lembak Tuah. Isteri yang kedua Putih Andam Dewi berdiam di teluk Sunyi Air Batu dan mempunyai anak seorang bernama Sutan Pengaduan. Putih Andam Dewi, Putih yang paling Cantik, banyak raja-raja yang meminang, tetapi selalu ditolaknya. Raja yang meminang Putih Andam Dewi adalah Rajoan Ungge Layang yang berkuasa di Taluek Gadueng Intan. Negeri Putih Andam Dewi, Negeri yang dikalahkan oleh Garuda, semua penduduknya mati disambar garuda, kecuali Putih Andam Dewi bersama mandenya.

Garuda tersebut ada dua ekor, Garuda Ambin Anak dan Garuda Gadang, bertempat tinggal di langit. Garuda Gadang ini dapat dikalahkan oleh Nan Gombang berkat ketangkasan Nan Gombang. Sejak itu orang tua atau mande Putih Andam Dewi berutang budi pada Nan Gombang. Karena telah membunuh Garuda Gadang, terjadilah perkawinan antara Nan Gombang dengan Putih Andam Dewi, mendapat anak seorang bernama Sutan Pengaduan. Perkawinan ini tersiar khabar ke negeri Raja Ungge Layang, terjadilah peperangan yang hebat. Dalam peperangan ini, kekalahan di pihak Raja Ungge Layang, sebab Non Gombang Tahan peluru, tahan pedang sehingga banyak serdadu Rajo Ungge Layang yang mati dalam perang tersebut.

Yang jelas tiga buah kapal serdadu Raja Ungge Layang korban dalam perang tersebut. Akhirnya Raja Ungge Layang minta bantuan kepada temannya, Sutan Parendangan, tahan besi, tahan garuda, tahan pahat, tahan ilmu bathin. Terjadilah duel antara Sutan Parendangan dengan Nan Gombang. Kekuatan berbanding sama-sama tahan pedang, kemudian banting membanting juga sama-sama kuat. Terakhir mempergunakan kekuatan bathin seperti, Cindung Permayo, ternyata sama-sama kuat. Perkelahian diteruskan sontang menyontang antara keduanya. Mula-mula Nan Gombang disontang kakinya, setelah dia tidur di tanah, jangankan terangkat kakinya bergerakpun tidak Nan Gombang. Sekarang Giliran Sutan Parendangan untuk disontang oleh Nan Gombang, kaki Sutan Parendangan terangkat ke atas sampai kepalanya. Dalam sekejap mata saja, Sutan Parendangan meninggal dunia, karena tubuhnya telah terbelah dua. Rajo Ungge Layang ada mempunyai adik perempuan yang arif bijaksana ikut membantu kakaknya dalam peperangan sengit tersebut. Adiknya Rena Lawik beranggap bahwa memang Nan Gombang termasuk orang keramat atau orang kuat ternyata serdadu tiga kapal korban olehnya, Sutan Parendangan orang kuat, tahan garudan, tahan besi dapat pula disontang oleh Nan Gombang dan meninggal dunia.

Putih Reno Lawik menasehatkan kepada kakaknya Rajo Ungge Layang, supaya peperangan diteruskan lagi, dengan mempergunakan kekuatan bathin. Yakni rantai Sikilan, rantai, yang mau disuruh pulang pergi untuk membunuh Nan Gombang. Dengan Rantai Sikilan inilah, Nan Gombang dapat dibunuh ketika dia sedang tidur di bawah pohon haru ketinggalan. Waktu itu Putih Andam Dewi sedang hamil. Sebelum Nan Gombang meninggal ada meninggalkan amanat pada isterinya Andam Dewi, amanat tersebut ialah peperangan diteruskan melawan Rajo Ungge Layang, dengan memakai pakaian Nan Gombang. Setelah anak lahir ke dunia berilah nama Sutan Pangduan. Mayat Nan Gombang jangan dikuburkan, letakkan saja dianjung peranginan rumah Nan Gadang, rumah jangan dinaiki oleh Rajo Ungge Layang dan Sutan Pengaduan jangan dibawa harus ditinggalkan di rumah. Amanat ini dipegang teguh oleh Putih Andam Dewi. Andam Dewi memang melahirkan seorang Putra, langsung diberi nama Sutan Pengaduan. Sutan Pengaduan berumur kira-kira tujuh hari, penyerangan dari Raja Ungge Layang datang ke negeri Putih Andam Dewi. Sesuai dengan amanat suaminya, pakaian Nan Gombang dipakainya, pedang jenawi diambilnya.

Rambut yang panjang disembunyikan dalam saluk Perabu Intan/topi kepunyaan Nan Gombang. Seolah-olah bentuk Putih Andam Dewi hampir serupa betul dengan Nan Gombang, terjadilah pertempuran sengit antara serdadu rajo Ungge Layang dengan Putih Andam Dewi. Banyaklah serdadu yang gugur dalam pertempuran melawan Putih Andam Dewi, memang tangkas seperti Nan Gombang bertempur. Serdadu-serdadu tersebut, tidak menyangka bahwa seorang wanita yang berhadapan muka dengannya. Tak disangka-sangka saluk ikat kepala Putih Andam Dewi tanggal/lepas sehingga rambutnya tergerai. Pada waktu itu juga perang selesai dan Putih Andam Dewi mennyerah kalah. Raja Ungge Layang sebagai orang menang ingin kawin dengan Putih Anam Dewi. Sebelum kawin, Putih Andam Dewi meminta beberapa syarat:
  1. Buatkan karando cermin, mempunyai kunci dari dalam tidak terpanjat oleh tupai, makan cukup di dalamnya.
  2. Nantikan burung gagak berbulu putih.
  3. Nantikan alu berpucuk dan lesung berurat.
Ketiga syarat tersebut, dipenuhi oleh Rajo Ungge Layang. Putih Andam Dewi minta permisi sebentar melihat anaknya masih kecil yang sedang tidur di buayan di rumahnya. Putih Andam Dewi meninggalkan amanat pada anaknya, bila besar tuntutlah bela mande. Mande terpaksa pergi dibawa oleh Raja Ungge Layang ke negerinya. Putih Andam Dewi turun dari rumahnya dengan sedihnya, karena berpisah dengan anaknya yang dicintainya. Kemudian Putih Andam Dewi langsung diiringkan oleh Rajo Ungge Layang ke kapal, dan berangkatlah Putih Andam Dewi ke Taluk Gadueng Intan bersama Rajo Ungge Layang. Setiba di sana Putih Andam Dewi dimasukkan ke dalam karando cermin, sebagaimana janji yang telah diperbuat sebelum berangkat dari Negeri Putih Andam Dewi. Berapa tahun kemudian Sutan Pengaduan telah besar ingin mencari mandenya ke negeri Rajo Ungge Layang. Sutan Pengaduan menyamar sebagai buruh/kuli, minta bekerja di negeri Rajo Ungge Layang.


Sesampai di sana pencalangnya merapat ke tepi anggar, kedatangan pencalang tersebut berdatanganlah serdadu-serdadu Rajo Ungge Layang langsung bertanya. Pencalang ini pencalang dagangkah atau pencalang musuh? Jawab Sutan Pengaduan, hamba datang bukan untuk berperang, hanya mencari pekerjaan untuk melampok punggung tidak bersaok. Kalau begitu ikutkan kami, ke istana Rajo Ungge Layang. Sutan Pengaduan berjalan diiringi oleh serdadu Rajo Ungge Layang menuju arah ke istana. Sesampai di istana Rajo Ungge Layang, langsung Sutan Pengaduan menghadap Rajo dan menyembah. Ya Baginda , kedatangan Patik disini,mencari pekerjaan untuk mencari pelampok punggung yang tak bersaok. Mendengarkan itu Rajo Ungge Layang bersedia menerimanya sebagai buruh di perkebunan cengkeh dan kopi kepunyaan Rajo Ungge Layang. Baru saja masuk sebagai buruh langsung diangkat menjadi mandur II. Selama Sutan Pengaduan menjadi mandur II, kuli-kuli yang lain dibiarkan saja bekerja, tanpa ada pengawasan dari Sutan Pengaduan. Mandur II ini tak pernah melihat kuli-kuli bekerja, jadi kuli-kuli tersebut senang dibuatnya. Jika ketahuan oleh mandur I yakni mandur yang paling kejam tentu kuli-kuli ini akan dimarahinya.

Lebih baik kata (kuli-kuli) tersebut menyampaikan persoalan ini kepada mandur I, bahwa mandur II tidak mau bekerja. Pekerjaannya setiap hari tidur-tidur saja dan makan. Setelah persoalan Mandur II ini di ketahui Mandur oleh Mandur I disampaikan kepada Rajo Ungge Layang, dan Rajo Ungge Layang marah langsung memanggil Mandur II, untuk diminta keterangannya. Setelah Mandur II menghadap Rajo, untuk dintai keterangannya. Setelah Mandur II menghadap Rajo, Rajo langsung bertanya. Apa sebabnya mandur I kamu bunuh? Jawab mandur II mandur I terlalu kejam terhadap kuli-kuli. Justru karena itu terjadilah perkelahian sengit antara kami berdua, sama-sama ingin menang dalam perkelahian. Ternyata dia kalah dan langsung patik bunuh. Oleh karena itu Sutan Pengaduan dianggap berani (tangkas) dan pangkatmu dinaikkan menjadi Mandur I. langkah bersarnya hati Sutan Pengaduan pangkatnya naik, menurut anggapannya semula pasti ia berhenti. Setelah Sutan Pengaduan diangkat menjadi Mandur I, kuli-kuli heran mengapa Sutan Pengaduan dinaikkan pangkatnya oleh rajo kita.

Kuli-kuli tersebut, dikumpulkan semuanya oleh Sutan Pengaduan dalam suatu ruangan di sana Sutan Pengaduan berbicara. Tugas kita sekarang perintah dari Rajo yang saya terima, semua batang cengkeh dan batang kopi diterangi dan dibersihkan maksudnya semuanya ditebang, supaya terang dan bersih. Siapa yang menentang, saya bunuh. Kuli-kuli ini karena akut, perintah tersebut harus dipatuhi, jika tidak dibunuh. Semua batang cengkeh, batang kopi ditebangi semua oleh kuli-kuli tersebut. Sekarang perkebunan tersebut, sudah terang dan bersih. Kalian semua pergi ke istana Rajo Ungge Layang untuk meminta gaji kerena perkebunan sudah bersih dan terang. Kuli-kuli tersebut tidak yakin lagi menerima gaji, sebab raja Ungge Layang mengalami kerugian besar. Sutan Pengaduan melaporkan kepada Rajo Ungge Layang bahwa pekerjaannya menerangi kebun sudah selesai. Sekarang bayarlah gaji kuli-kuli Patik.

Rajo mengatakan batang cengkeh dan batang kopi sitebangi semua. Jawab Sutan Pengaduan Patik tidak salah, Raja menyuruh terangi kebun, justru itulah segala batang tersebut patik tebang,suoaya terang dan bersih. Jawab Rajo,yang saya suruh terangi, rumput dalam kebun tersebut, bukan menebangi pohon atau batang. Disini terdaptlah salah pengertian bahasa terpaksa Rajo mengalah. Akhirnya Rajo terpaksa membayar gaji kuli-kuli tersebut dan gaji Sutan Pengaduan. Setelah gajinya dibayar, Sutan Pengaduan minta berhenti bekerja. Ia ingin pulang ke kampung lagi. Sutan Pengaduan minta berhenti bekerja di istana dan perkebunan dia telah mengetahui bahwa, ibunya sedang ditahan dipenjarakan dalam karando cermin, karena tidak mau kawin dengan Rajo Ungge Layang. Pada keesokan harinya Sutan Pengaduan berlayar kembali pulang ke kampungnya. Setiba di rumah, Sutan Pengaduan bermaksud hendak menyabung ayam ke gelangang yang ada di kampungnya. Ayam kecil sebesar balam  tetapi berani tidak pernah kalah dalam perkelahian (menyabung). Sudah pernah menang ayamnya tersebut ketika ia menyabung di negeri Rajo Unge Layang. Ayamnya ini bertarung dengan  ayam Rajo Ungge, besarnya ayam Rajo Ungge Layang tersebut hampir sebesar kambing.

Tetapi anehnya ayam dari Sutan Pengaduan yang kecil sebesar balam menang dalam pertarungan (sabungan) tersebut. Sekarang ayamnya kecil itu untuk kedua kalinya dibawanya ke gelanggang. Sekarang berhadapan ayamnya dengan ayam kepunyaan Sutan Lembak Tuah yang menjadi juara gelanggang waktu itu. Sebagaimana diketahui bahwa Sutan Lembak Tuah ini adalah kakak seayah dengan Sutan Pengaduan, yang ibunya Gondam Ganto Sori. Tetapi Sutan Pengaduan tidak kenal dengan kakaknya tersebut, begitu pula kakaknya tidak kenal dengan adiknya. Dalam perkelahian tersebut ayam Sutan Lembak Tuah kalah, tetapi dia tidak mau membayar wang taruhan berupa mas kepada Sutan Pengaduan. Justru karena itulah terjadi suatu pertengkaran yang sengit dan langsung berkelahi. Orang banyak menonton perkelahian tersebut, karena yang berkelahi sama-sama pendekar. Dalam perkelahian tersebut, ternyata sama-sama kuat, sama-sama tahan pedang, sama-sama tahan ilmu bathin. Terakhir sama-sama menyebut nama bapaknya Nan Gombang Pituanan.

Karena nama bapak sama, barulah keduanya sadar, bahasa dia beradik kakak seayah. Perkelahian selesai, dengan bermanfaat keduanya masih hidup dan ditawan oleh Rajo Ungge Layang do negrinya, mendengar berita adiknya itu, Sutan Lembak Tuah berkata marilah kita jembput mande kita tersebut walauun dengan jalan peperangan, biar kita mati keduanya. Apa gunanya kita hidup, dari pada mande kita ditwan orang. Sekarang kita sudah berdua, marilah kita sesegera mungkin ke negeri Rajo Ungge Layang itu. Besok kita berangkat ke sana, dengan pencalang kita. Sesampai pencalang tersebut di pelabuhan Rajo Ungge Layang, serdadu Rajo Ungge Layang, menahan pencalang tersebut, karena dicurigakan. Kedua pemuda ini ingin bertemu dengan rajo mereka. Serdadu tersebut, langsung memanggilkan rajonya untuk datang ke pelabuhan sebab ada musuh datang dari jauh. Setiba Rajo Ungge Layang di pelabuhan Rajo tersebut berkata, mana orang yang berani melawan saya. Kedua anak muda ini menjawab, kami datang dari jauh untuk berkelahi dengan Rajo, jawab Rajo tanggung-tanggung berkelahi dengan kamu, lebih baik pulang saja ke kampung kalian. Jawab Sutan Pengaduan, selangkah kami turun jenjang rumah telah berniat mencari lawan, tidak berniat lagi akan pulang sebelum rajo kami bunuh.

Kami ini adalah anak dari Nan Gombang Pituanan, ingin menuntut bela dari orang tua kami. Ibu kami Putih Andam Dewi ada disini, ditawan dalam karando crmin, sekarang tolong Rajo keluarkan mande kami tersebut, jika tidak, Rajo kami bunuh. Terjadilah perkelahian sengit, antara Sutan Pengaduan dengan Rajo Ungge Layang. Perkelahian terakhir dimenangkan oleh Pengaduan dan Rajo meninggal dunia. Atas nama rakyat sebagai ganti rajo ditawarkan Sutan Pengaduan sebgai rajo, tetapi Sutan Pengaduan menolak untuk menjadi rajo. Maksud dan tujuan kami datang ke sini bukan berkeinginan untuk menjadi raja, tidak. Cuma untuk menuntut bela bapak kami yang dibunuh oleh Rajo Ungge Layanh dan juga kami ingin menjeput mande kami yang tertawan oleh Rajo Ungge Layang. Izinkanlah kami membawa mande kami pulang ke kampung. Semua rakyat berduyun-duyun datang mengantarkan Sutan Pengaduan bersama mandenya dan Sutan Lembak Tuah ke pelabuhan. Pencalang besar telah disiapkan, untuyk berlayar pulang ke kampung. Setiba di kampung, mande Sutan Pengaduan Putih Andam Dewi merasa syukur, bahwa anaknya dapat menuntut bela. Siapa teman ananda ini, tanya mandenya. Jawab Sutan Pengaduan. Teman saya ini adalah kakak saya yang seayah. Kalau begitu anak isteri yang pertama dari Bapak Sutan Pengaduan.

Pernah dudlu nama ini disebut-sebut kepada mande, bahasa ada kakak Sutan Pengaduan yang bernama Sutan Lembak Tuah. Anak dari Putih Tondam Ganto Sori. Sutan Lembak Tuah ibunya masih hidup dan bermaksud membawa adiknya ke rumahnya, untuk diperkenalkan dengan mandenya. Ajakan ini diterima baik oleh adiknya yang seayah, yang ibunya Putih Andam Dewi. Alangkah gembiranya hati mande Sutan Lembak Tuah anaknya sudah berdua. Demikianlah kira-kira serba ringkas cerita Nan Gombang Pituanan. Cerita ini disadur dari Rabab yang direkam dari Buyung Kopi di Kambang. 

Sumber : Bungai Rampai Ceritera Rakyat Sumatera Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Nan Gombang Pituanan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel