Sejarah Ekspedisi Gajah Mada ke Bali

Kali ini saya kisahkan Ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang mengawali Periode III Sejarah Bali (1343-1846).. 

Blog ini memang membagi sejarah Bali menjadi beberapa periode. Periode sebelumnya yakni Masa Pra Sejarah Bali (periode 1) dan Sejarah Hindu Bali (Bali Kuno) yakni di Periode 2 saya upload sebelum ini. Saya juga upload sejarah Bali periode 4, Zaman Penjajahan dan Kemerdekaan. Silakan klik periode sejarah Bali mana yang Anda butuhkan.  

Majapahit Taklukkan Bedahulu
Ekspedisi Gajah Mada ke Bali (1343) dilakukan pada saat Bali diperintah oleh Kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten, dengan patihnya yang gagah perkasa Kebo Iwa dan Ki Pasung Grigis. Caranya menyingkirkan Kebo Iwa lebih dulu. Dibuatlah siasat Raja Putri Tribuwana Tunggadewi mengutus Gajah Mada ke Bali membawa surat persahabatan Majapahit ke Raja Bedahulu. 


Ki Pasung Grigis melakukan penjemputan Gajah Mada di Sukawati. Gajah Mada mengutarakan maksudnya hendak menyampaikan surat kepada sang raja. Ki Pasung Grigis meminta Gajah Mada menunggu persetujuan raja. Ia berangkat menemui raja. Sang raja Bedahulu setuju menerima Gajah Mada dan gembira hatinya menerima surat persahabatan tersebut. 


Kebo Iwa diutus serta ke Majapahit bersama Gajah Mada. Bahkan trik yang dilakukan Gajah Mda di perjalanan pun tidak berhasil membunuh sang patih Bedahulu. Sampai akhirnya kedua patih ini tiba di Banyuwangi. Di Banyuwangi Kebo Iwa diinapkan di rumah pejabat setempat dan Gajah Mada pergi ke istana melaporkan pejalanannya.


Kebo Iwa dijemput oleh petinggi abdi dari Majapahit lain. Di Majapahit Gajah Mada menyambut. Sebagai bukti persahabatan, Gajah Mada menginginkan Kebo Iwa yang terkenal sakti diminta membuat sumur dalam waktu singkat. Menurut Gajah Mad, sumur ini akan bisa jadi sumber kemakmuran rakyat Majapahit yang kekurangan air.

Kebo Iwa menyanggupi. Dibuatlah sumur olehnya. Saat turun ke dalam lubang sumur yang dibuatnya, ia ditimbun batu-batu sampai sumur tersebut tertutup rapat. Gajahmada pun berkata kepada para punggawanya kalau ini harus dilakukan kalau ingin mempersatukan Nusantara. 


Namun ternyata Kebo Iwa bisa menyelamatkan diri. Keduanya bertempur. Kebo Iwa memahami maksud Gajahmada untuk mempersatukan Nusantara dan menyerahkan kesaktiannya. Ia meminta Gajahmada menaburkan bubuk kapur kepadanya. Benar, akhirnya Kebo Iwa tewas. 


Tewasnya Kebo Iwa tak membuat Bedahulu menyerah. Patih Pasung Grigis ganti meminpin pasukan melawan Majapahit. Namun lagi-lagi Pasung Gringis terkena tipu daya Gajah Mada dan menyerah. AKhrnya Majapahit berhasil menaklukkan Bali seluruhnya. Beberapa pejabat dari Majapahit diminta tinggal di Bali untuk menjaga keamanan, di antaranya: Arya Kenceng, Arya Sentong, Arya Beleteng, Arya Kutawaringin, Arya Belog, Arya Binculuk. 


Zaman Gelgel dan Zaman Klungkung


Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan memimpin pemerintahan di Bali karena memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. Setelah Kresna Kepakisan Wafat, digantikan putranya Raden Agra Samprangan. Sayangnya pemerintahannya lemah sehingga akhirnya digantikan oleh adiknya, yakni Dalem Ketut NgulesirOleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai Periode Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460—1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga ia dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan Kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaan. Setelah Dalem Watu Renggong wafat ia digantikan Dalem Bekung (1550—1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605—1686).


Wikipedia melansir, setelah Zaman Gelgel berakhir, masa Kerajaan Klungkung bermula. Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri Periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.

Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.
  • Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung.
  • Kerajaan Mengwi, yang kemudian menjadi Kecamatan Mengwi
  • Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli.
  • Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng.
  • Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar.
  • Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem.
  • Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung.
  • Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.
  • Kerajaan Denpasar,yang kemudian menjadi Kota Madya Denpasar

Belum ada Komentar untuk "Sejarah Ekspedisi Gajah Mada ke Bali"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel