Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang

Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang - Kami akan sampaikan disini Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang lengkap sekali sehingga anda bisa mendapatkan Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang dini selengkapnya dan tentunya ini akan bisa menjadi Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang untuk pertunjukan anda dan tentunya Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang ini akan bisa menjadi salah satu prestasi anda disaat anda melakukan Drama dengan teman-teman anda dipentas. Ini adalah salah satu Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang terbaik yang bisa kami posting dan bisa menjadi pelajaran yang sangat berguna sekali karena Cerita Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang ini sangat menyentuh hati, kocak dan sangat menyenangkan sekali saat dipentaskan dengan teman-teman nantinya.

Untuk itu dapatkan Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang ini disini yang kami berikan lengkap sehingga bisa menjadi pertunjukan yang sangat bagus sekali, dan anda akan mendapatkan nilai bagus untuk Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang ini, lengkap sekali Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang ini dan pastinya kamu semua akan puas dengan Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang tersebut, dan untuk untuk itu langsung dapatkan Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang dibawah ini yang sobat semua.

Kisah " Telaga Warna " dalam Naskah Drama

Tokoh Drama:

1.    Prabu Suwartalaya
2.    Ratu Purbamanah
3.    Gilang Rukmini
4.    Penasehat
5.   Tukang Perhiasan
6.   Rakyat

Narator:
Dikisahkan pada zaman dahulu kala, di Jawa Barat terdapat sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Kutatanggeuhan yang  dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana yaitu Prabu Suwartalaya dan Ratu Purbamanah. Rakyatnya hidup tenang, makmur, tenteram, damai dan sejahtera. Namun Sayangnya, Prabu Suwartalaya dan Ratu Purbamanah belum dikaruniai seorang anak. Sehingga, ini menjadi kegelisahan sang Prabu Suwartalaya dan Ratu Purbamanah.

Adegan 1


Ratu Purbamanah:

(sedang murung dan menangis)

Prabu Suwartalaya:

Sudahlah dinda. Jangan murung dan menangis terus. Kalau dinda bersedih terus seperti ini, kanda jadi ikut bersedih.

Ratu Purbamanah:

Gimana dinda ga akan bersedih kanda, sudah bertahun-tahun kita berumah tangga tapi belum dikaruniai seorang anak.

Penasehat:

Baginda, supaya Ratu Purbamanah tidak sedih terus bagaimana kalau mengangkat seorang anak saja baginda. Barangkali bisa mengurangi kesedihan Ratu.

Ratu Purbamanah:

Tidak! Aku tidak mau punya anak angkat!

Prabu Suwartalaya:

Iya, penasehat.

Akupun juga tidak setuju jika mengangkat seorang anak. Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat.

Narator:

Ratu Purbamanah masih terus menangis

Prabu Suwartalaya:

Sudahlah dinda jangan menangis terus. Kanda akan berusaha lagi. Kanda akan pergi ke hutan untuk bertapa agar kita cepat dikaruniai seorang anak.

Ratu Purbamanah:

Baiklah kalau begitu. Jika memang kanda harus pergi ke hutan untuk bertapa, Baiklah kanda. dinda juga turut berdo’a. hati-hati kanda.

Narator:

Pergilah Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di hutan, sang prabu terus menerus berdo’a agar dikaruniai anak.

Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu Purbamanahpun mulai hamil. Seluruh rakyat senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.

Sembilan bulan kemudian, Ratu Purbamanah melahirkan seorang putri.

Adegan 2:

Ratu Purbamanah:

(menggendong seorang bayi)

Prabu Suwartalaya:

Putri kita cantik ya, Dinda. Dan kelihatannya sangat lucu.


Ratu Purbamanah:

Iya Kanda. Kita harus bersyukur akhirnya kita dikaruniai seorang anak.

Prabu Suwartalaya:

Iya dinda. Putri kita ini juga manis, dan sangat menggemaskan!

Oleh karena itu, bagaimana kalau kita beri nama Gilang Rukmini?

Gimana dinda setuju tidak?

Ratu Purbamanah:


Dinda setuju setuju saja kanda.

Narator:

Sesaat raja dan ratu sedang berbahagia, datanglah penasehat kerajaan.....

Penasehat:

Ampun baginda. Ini dari rakyat, mengirimkan beraneka hadiah untuk putri baginda. Mereka turut bersuka cita dan mengucapkan selamat atas kelahiran putri baginda.

Prabu Suwartalaya:


Terima kasih, Paman

Narator:

Tak hanya keluarga istana yang berbahagia, rakyat  turut berbahagia mendengar kabar tersebut.

Sayangnya, Gilang Rukmini tidak diasuh secara baik oleh Prabu Suwartalaya dan Ratu Purbamanah. Gilang pun tumbuh menjadi gadis yang manja dengan sifat-sifat yang kurang baik. Dia tak segan berkata kasar untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Walaupun begitu, baik Prabu Suwartalaya, Ratu Purbamanah, dan rakyat sangat mencintainya.

Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis remaja tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.

Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan.

Adegan 3

Prabu Suwartalaya:

Pak, tolong buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku.

Tukang perhiasan:

Dengan senang hati, Yang Mulia.

Narator:

Ahli perhiasan itu lalu bekerja dengan sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri Raja.

Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu Purbamanah datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.

Adegan 4


Rakyat-rakyat :


(teriak dan bertepuk tangan)

Horeee!! horeeee!! Horeeee!!! Raja dan Ratu telah datang!

Rakyat 1:

Wuaaah cantik sekali ya, putri Prabu Suwartalaya.

Rakyat 2:

Iya. Aku jadi iri melihatnya.

Narator:

Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. Kemudian...

Prabu Suwartalaya:

Putriku tercinta Gilang Rukmini, hari ini hari ulang tahunmu. aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak.

Narator:

Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. Kemudian...

Gilang Rukmini:

Aaahh!! Kalung apa ini?! Kalung ini jelek! Aku tak mau memakainya! (kalung dilempar)

Rakyat:

Haaahhhh??? Kalung indah terbuat dari emas permata itu di lempar begitu saja oleh putri. Sungguh ku tak menyangka putri baginda berbuat seperti itu.

Narator:

Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai. Seluruh rakyat yang hadir terkejut. Tak seorangpun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba Ratu Purbamanah  menangis melihat perilaku putrinya. Rakyatnya pun mengikuti menangis melihat Ratu Purbamanah menangis. Akhirnya, semua pun  meneteskan air mata, hingga istana basah oleh air mata mereka.

Ratu Purbamanah:

(menangis)

Narator:

Tiba-tiba muncul mata air dari halaman istana. airnya keluar sangat deras yang makin lama makin banyak.

Rakyat 1:

Haaahh?? Ada air! Air! Air!

Rakyat 2:

Hahhh? tiba-tiba air ini membentuk kolam kecil!

Rakyat 3:

Bukan! Ini banjir! Banjir! Banjiir! Banjiiir! Banjiirr!

Narator:

Setelah kejadian tersebut, rakyat berteriak teriak kebingungan, panik, ketakutan dan......

Tiba-tiba  Istana pun dipenuhi air bagai danau. Lalu danau itu makin besar dan menenggelamkan istana. Kemudian........, terciptalah sebuah danau yang sangat indah.

Nama danau itu kini dikenal orang sebagai Telaga Warna. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun, orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri Gilang Rukmini yang tersebar di dasar telaga.

Saat ini anda sudah membaca tentang Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang yang kami berikan diatas, semoga bisa menjadi info bermanfaat ya, dan jangan lupa baca selengkapnya disini untuk Kumpulan Naskah Drama yang lainnya juga.

Belum ada Komentar untuk "Contoh Naskah Drama nusantara 7 orang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel