Contoh Naskah Drama kemerdekaan

Contoh Naskah Drama kemerdekaan - Kami akan sampaikan disini Contoh Naskah Drama kemerdekaan lengkap sekali sehingga anda bisa mendapatkan Contoh Naskah Drama kemerdekaan dini selengkapnya dan tentunya ini akan bisa menjadi Contoh Naskah Drama kemerdekaan untuk pertunjukan anda dan tentunya Contoh Naskah Drama kemerdekaan ini akan bisa menjadi salah satu prestasi anda disaat anda melakukan Drama dengan teman-teman anda dipentas. Ini adalah salah satu Contoh Naskah Drama kemerdekaan terbaik yang bisa kami posting dan bisa menjadi pelajaran yang sangat berguna sekali karena Cerita Contoh Naskah Drama kemerdekaan ini sangat menyentuh hati, kocak dan sangat menyenangkan sekali saat dipentaskan dengan teman-teman nantinya.

Untuk itu dapatkan Contoh Naskah Drama kemerdekaan ini disini yang kami berikan lengkap sehingga bisa menjadi pertunjukan yang sangat bagus sekali, dan anda akan mendapatkan nilai bagus untuk Contoh Naskah Drama kemerdekaan ini, lengkap sekali Contoh Naskah Drama kemerdekaan ini dan pastinya kamu semua akan puas dengan Contoh Naskah Drama kemerdekaan tersebut, dan untuk untuk itu langsung dapatkan Contoh Naskah Drama kemerdekaan dibawah ini yang sobat semua.

 ADEGAN 1
Pada 14 Agustus 1945 sekitar pukul 13.30 Sutan Sjahrir sedang berada di ruang kerja. Dia sedang menulis sesuatu dan mendengarkan radio.
Penyiar              : “Yaa pendengar setia, kita kembali lagi dalam Kabar Anda. Berita utama, Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada sekutu...”
Sjahrir               : (terkejut) “Apa benar yang kudengar barusan, aku harus memberi tahu Bung Karno dan Bung Hatta!” (berdiri meninggalkan ruangan)

ADEGAN 2
Setelah mendengar berita kekalahan Jepang, Sutan Sjahrir segera pergi ke rumah Moh. Hatta untuk memberitahukan berita ini.
Sjahrir               : (mengetuk pintu) “Assalamualaikum”
Hatta                 : (membuka pintu) “Waalaikumsalam, silakan masuk Sjahrir, maaf rumah saya begitu sederhana”
Sjahrir               : “Ah tidak apa” (masuk bersama Hatta)
Hatta                 : “Silakan duduk” (duduk)
Sjahrir               : “Terima kasih”.(duduk) “Bung Hatta, bagaimana soal kemerdekaan kita Bung?”
Hatta                 : “Bukankah soal kemerdekaan sudah diserahkan pada PPKI ?”
Sjahrir               : “Tetapi menurut saya, bukankah lebih baik kemerdekaan segera dilaksanakan tanpa melalui PPKI?”
Hatta                 : “Apa maksud Bung Sjahrir berkata seperti itu ?”
Sjahrir               : “PPKI adalah bentukan Jepang, jika kita merdeka melalui PPKI, Sekutu akan menganggap Indonesia buatan Jepang. Sebaiknya kita segera memproklamasikan kemerdekaan kita atas nama bangsa Indonesia selagi kita dalam masa vacuum of power.”
Hatta                 : “Vacuum of power?” (bingung)
Sjahrir               : ”Saya mendengar dari radio bahwa Jepang telah menyerah pada Sekutu, itu artinya Indonesia sedang berada dalam kekosongan kekuasaan. Jadi, ini adalah kesempatan yang baik untuk kita memproklamasikan kemerdekaan sebelum sekutu datang.”
Hatta                 : “Saya setuju, tapi apakah Bung Karno sependapat dengan kita? Bagaimana kalau kita hubungi Bung Karno terlebih dahulu?”
Sjahrir               : “Ide yang bagus.”
Hatta                 : (mengambil telepon, dan memencet nomor, menelepon Bung Karno) “Assalamualaikum”
Soekarno           : “Waalaikumsalam, ada apa Bung Hatta?”
Hatta                 : ”Apakah saya dan Sjahrir boleh datang ke rumah Bung Karno guna membahas kemerdekaan kita ?”
Soekarno           : “Tentu saja, saya tunggu kedatangan anda.”
Hatta                 : “Terima kasih, assalamualaikum”
Soekarno           : “Waalaikumsalam”
Hatta                 : (menutup telepon) “Mari kita berangkat.”
Sjahrir               : “Mari” (keluar bersama Hatta)

ADEGAN 3
Sutan Sjahrir dan Moh. Hatta menemui Soekarno di rumahnya untuk memberitahukan tentang kekalahan Jepang. Sjahrir mendesak untuk mempercepat proklamasi, tetapi Bung Karno menolak.
Hatta + Sjahrir  : (mengetuk pintu) ”Assalamualaikum”
Soekarno           : (membuka pintu) “Waalaikumsalam, silakan masuk”
Hatta + Sjahrir  : “Terima kasih” (masuk)
Soekarno           : (duduk) “Duduklah” (hatta dan sjahrir duduk) “Mengapa kalian datang kemari? Ada masalah apa ?”
Hatta                 : “Ada berita penting yang akan Sjahrir sampaikan.”
Soekarno           : “Berita apakah itu Sjahrir?”
Sjahrir               : “Saya dengar jepang telah menyerah pada sekutu. Bagaimana jika kesempatan ini kita gunakan untuk memproklamasikan kemerdekaan agar Indonesia memiliki kepemimpinan baru? “
Soekarno           : “Saya tidak berhak bertindak sendiri, semua itu hak PPKI. Alangkah janggal bila saya mengucapkan kemerdekaan tanpa melalui PPKI yang saya ketuai.”
Sjahrir               : “Tapi Bung...”
Soekarno           : “Maafkan saya Sjahrir, tapi kita memang tidak boleh gegabah.”
Sjahrir               : “Baiklah... kalau begitu kami permisi. Mari Bung Hatta.”
Hatta                 : “Mari.”

ADEGAN 4
15 Agustus 1945, 22.00 di rumah Bung Karno berkumpullah Golongan Muda yang dipimpin oleh Wikana, Soekarni, Darwis dan Chairul Shaleh. Mereka mendesak Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Shaleh               :”Ayo Bung, malam ini juga. Kibarkan revolusi!
Soekarni            :”Kita harus segera merebut kekuasaan Bung!”
Shaleh&Soekarni         :”Kami siap mempertaruhkan jiwa kami Bung.”
Wikana              :(berdiri) “Jika Bung karno tidak bertindak cepat, maka akan ada pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari.
Soekarno           : (berdiri, menghampiri Wikana dan menyeretnya ke pojok) “Potonglah leherku sekarang, tak usah menunggu esok hari!”
Hatta                 : (melerai Soekarno dan Wikana) “Sudahlah tak ada gunanya anda bertengkar. Mari duduk kembali dan bicarakan ini baik-baik.” (Soekarno, Wikana dan Hatta duduk)
Hatta                 : “Wikana, kita tidak boleh gegabah. Lalu, mengapa anda tidak melakukannya sendiri? Mengapa meminta Soekarno melakukannya?”
Wikana              : “Saya hanya mengingatkan Bung, jika kemerdekaan Indonesia tidak dilakukan malam ini, besok rakyat akan membunuh orang-orang yang dicurigai sebagai proBelanda seperti orang-orang Ambon.
Darwis               : “Wikana benar Bung. Lagipula, mengapa kita harus menunggu Jepang memerdekakan kita jika kita bisa mewujudkan kemerdekaan kita sendiri?”
Soekarno           : Kekuatan kita tak sebanding dengan kekuatan Jepang dan Sekutu, kita tidak akan dapat bertahan sendiri setelah merdeka tanpa bantuan mereka.”
Darwis               : “Saya yakin kita bisa Bung, kita bisa!”
Sukarni              : “Benar Bung, mari kita segera laksanakan proklamasi!”
Shaleh               : “Benar bung, cepatlah!”
Wikana              : “Malam ini Bung, malam ini!”
Hatta                 : “Tenang-tenang, ini sudah malam, tak baik anda semua membuat keributan seperti ini”
Soekarno           : “Saya mengerti bagaimana perasan saudara, tapi saya tidak dapat mengabulkan permintaan saudara. Karena saya takut akan ada banyak lagi korban jiwa.”
Pemuda             :”Aaahhhhhh..........”

ADEGAN 5
Setelah usahanya mendesak Golongan Tua gagal,  para pemuda lalu melaksanakan pertemuan di Jalan Cikini 71. Mereka lalu sepakat untuk menculik Soekarno-Hatta dan membawa mereka ke Rengasdengklok.
Soekarni            : “Saudara-saudara, sebagaimana yang telah kita ketahui, Bung Karno menolak untuk segera melaksanakan proklamasi. Lalu apa yang harus kita lakukan ?”
Wikana              : “Kita culik Bung Karno dan Bung Hatta lalu kita desak mereka untuk segera melaksanakan proklamasi.”
Pemuda             : “Culik?”
Wikana              :”Iya, kita bawa keduanya ke suatu tempat dan kita bujuk mereka.”
Shaleh               : “Itu benar, dengan begitu Jepang tidak akan bisa mempengaruhi mereka. Tapi kemana kita akan membawanya?”
Darwis               : “Rengasdengklok!”
Soekarni            :”Rengasdengklok itu luas, dimana kita akan menempatkan keduanya?”
Darwis               : “Saya akan menghubungi Shodanco Subeno untuk hal ini.” (menelepon Subeno)
                          “Assalamualaikum”
Subeno              : “Waalaikumsalam, ada apa Darwis?”
Darwis               : “Kami akan menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk mendesak mereka agar segera melaksanakan proklamasi”
Subeno              : “Apa? Menculik mereka?”
Darwis               : “Iya, dan kami sepakat untuk membawa mereka ke Rengasdengklok, bisakah kau memberikan keamanan kepada kami dan mencarikan kami tempat untuk menyembunyikan Soekarno-Hatta ?
Subeno              : “Tentu, saya akan mengamankan anda semua. Untuk tempat, nanti kita pakai rumah Jiaw Kie Song.”
Darwis               : “Baiklah, Terima Kasih Subeno.”
Subeno              : “Sama-sama” (menutup telepon)
Darwis               : “Subeno setuju dan kita akan ditempatkan di rumah Jiaw Kie Song.
Shaleh               : “Kapan kita akan menculik Bung Karno dan Bung Hatta?
Wikana              : “Secepatnya, besok subuh? Anda setuju?
Soekarni            : “Pukul berapa tepatnya?”
Shaleh               : Pukul 04.00, bagaimana?
Pemuda             : “Setuju!”

ADEGAN 6
Keesokan harinya, 16 Agustus 1945 Pukul 04.00 rombongan pemuda menculik Bung Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok tanpa sepengetahuan Golongan Tua.
Soekarni            : (mengetuk pintu dengan keras) “Assalamuaikum”
Hatta                 : (membuka pintu) ”Waalaikumsalam”
Darwis               : “Mari Bung, Bung Hatta harus ikut kami!”
Hatta                 : “Akan dibawa kemana aku ini ? Lagipula mengapa kita harus pergi ?”
Soekarni            : “Rengasdengklok. Ini sudah menjadi keputusan para pemuda. Selain itu, rakyat akan menyerbu kota.”
Hatta                 : “Apa yang anda bicarakan? Jika itu benar, kita tidak akan bisa melawan karena tentara Jepang di Jawa masih utuh.”
Darwis               : “Ini sudah jadi kesepakatan kami Bung dan anda harus tetap ikut kami ke Rengasdengklok.”
Soekarni            : “Ini demi kebaikan anda Bung.”
Darwis               : “Ayolah Bung, waktumu hampir habis.”
Hatta                 : “Baiklah.”

ADEGAN 7
 Rombongan pemuda juga menculik Soekarno. Soekarno bersedia ikut dengan rombongan pemuda ke Rengasdengklok jika anak dan istrinya diajak pula.
Wikana              : (mengetuk pintu dengan keras) “Bung Karno, Bung Karno!”
Soekarno           : (membuka pintu) “Iyaa, ada apa?”
Shaleh               : “Anda harus ikut kami ke Rengasdengklok”
Soekarno           : “Untuk apa aku ikut dengan kalian?”
Wikana              : “Ini sudah jadi kesepakatan para pemuda Bung, kami akan membawa anda dan Bung Hatta ke Rengasdengklok”
Soekarno           : “Tak sadarkah kalian jika aku memiliki istri dan anak yang masih kecil, bagaimana dengan mereka?”
(Tiba-tiba ada suara tangisan, Fatmawati keluar menggendong Guntur)
Fatmawati         : “Ada apa ini Kangmas? Mengapa banyak orang? Guntur sangat takut mendengar suara kalian.”
Soekarno           : “Nimas, pemuda-pemuda ini akan membawaku dan Hatta ke Rengasdengklok.”
Fatmawati         : “Untuk apa Kangmas?”
Shaleh               : “Untuk menjauhkan Bung Karno dan Bung Hatta dari pengaruh Jepang, Bu.”
Fatmawati         : “Lalu bagaimana denganku dan Guntur? Kalian akan meninggalkan kami?”
Soekarno           : “Benar, aku tidak mau berpisah dengan istri dan anakku. Jika kalian membawaku, kalian juga harus membawa mereka.”
Wikana              : “Baiklah Bung, kami akan membawa anda dan anak istri anda, tetapi kita harus pergi sekarang.”
Soekarno           : “Baiklah.”

ADEGAN 8
Rombongan pemuda yang membawa Soekarno dan Hatta tiba di Rengasdengklok. Bung Hatta telah sampai terlebih dahulu sebelum Bung Karno. Keduanya dibawa ke sebuah ruangan di dalam rumah Jiaw Kie Song.
Hatta                 : “Sebenarnya apa mau kalian sehingga aku dibawa kemari?”
Soekarni            : “Kami ingin anda dan Bung Karno segera melaksanakan proklamasi (melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Hatta)
(Soekarno, Wikana,  Fatmawati masuk ke ruangan)
Hatta                 : “Bung Karno!”
Soekarno           : “Hatta, ternyata kau sudah disini.”
Hatta                 : “Iyaa, mereka membawaku kemari, mereka membawa Fatma dan Guntur juga?”
Soekarno           : “Iyaa Hatta, benar.  Soekarni, ada apa sebenarnya?”
Soekarni            : “Begini Bung, kami ingin anda berdua segera memproklamasikan kemerdekaan kita. Jepang sudah menyerah Bung, ini saat yang tepat untuk kita memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”
Soekarno           : “Mengapa kau begitu mudah percaya kabar itu Karni? Jepang pasti akan memerdekakan kita. Tapi bukan sekarang.”
Wikana              : “Saya tidak setuju dengan itu Bung, kami para pemuda ingin kemerdekaan atas jerih payah kami sendiri, bukan karena hadiah dari Jepang.”
Soekarni            : “Itu benar Bung, bila kita merdeka atas hadiah Jepang, maka kita adalah bentukan Jepang, kita bisa dijajah lagi Bung.”
(Shaleh masuk tergopoh-gopoh)
Wikana              : “Ada apa Shaleh, mengapa kau terengah-engah seperti itu ?”
Shaleh               : “Ada Mr. Soebardjo, dia memaksa masuk ingin menjemput Bung Karno
Wikana              : “Baiklah aku akan keluar untuk menemuinya.” (keluar bersama shaleh)
(Di luar ada Soebardjo)
Soebardjo          : “Wikana, bisakah aku menemui Soekarno dan Hatta ?”
Wikana              : “Untuk apa Anda ingin bertemu mereka, Bung?”
Soebardjo          : “Rapat PPKI batal karena mereka tak ada jadi aku kemari ingin menjemput mereka.”
Shaleh               : “Tidak bisa, anda tidak berhak membawa pulang mereka Bung.”
Soebardjo          : “Mengapa ?”
Wikana              : “Karena kami para pemuda sudah sepakat untuk mendesak mereka agar segera memproklamasikan kemerdekaan.”
Soebardjo          : “Kalau begitu ijinkan aku menemui mereka terlebih dahulu”
Wikana              : “Baiklah, mari masuk.”
(Soebardjo, Wikana, Shaleh masuk menemui Soekarno dan Hatta)
Soekarno           : “Ada apa Soebardjo ?”
Soebardjo          : “Rapat PPKI batal. Selain itu saya ingin menyampaikan bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.”
Soekarno           : “Jadi berita tersebut benar adanya?”
Soebardjo          : “Iyaa benar Bung.”
Hatta                 : “Bukankah saya dan Sjahrir sudah memberitahukan kepada Anda Bung?”
Soekarno           : “Tapi saya belum percaya Hatta”
Wikana              : “Kalau begitu tunggu apalagi? Mari kita memproklamasikan kemerdekaan kita.”
Shaleh               : “Benar Bung!”
Hatta                 : “Iyaa, sebaiknya memang begitu Bung.”
Soekarno           : “Baiklah saya akan menuruti permintaan kalian.”
(Fatmawati menggendong Guntur yang menangis, menghampiri mereka)
Fatmawati         : “Bolehkah kami pulang ? Lihatlah Guntur daritadi menangis terus.”
Soebardjo          : “Benar, bolehkah saya membawa pulang Bung Karno dan Bung Hatta, Wikana?”
Wikana              : “Tidak!”
Soebardjo          : “Saya berjanji akan menjaga mereka dengan taruhan nyawa saya.”
Wikana              : “Apa aku bisa memegang janjimu itu ?”
Soebardjo          : “Tentu saja.”
Wikana              : “Baiklah kalau begitu.”
Soebardjo          : “Terima kasih.”

ADEGAN 9
Sesampainya di Jakarta, 16 Agustus 1945 pukul 24.00 Soekarno mengantarkan anak dan istrinya pulang terlebih dahulu sebelum beliau merumuskan naskah proklamasi bersama para pemuda.
Soebardjo          : “Kita sudah sampai di Jakarta Bung, Mari kita ke rumah Laksamana Maeda untuk membahas proklamasi”
Soekarno           : “Baiklah, tapi tunggu, aku ingin mengantarkan anak dan istriku pulang terlebih dahulu.”
Soebardjo          : “Silakan Bung, kami akan mengantar anda.”

ADEGAN 10
17 Agustus 1945 dini hari. Setelah sampai di rumah Laksamana Maeda yang terletak di Jalan Imam Bonjol nomor 1, Bung Karno pergi menemui Nishimura agar merubah status dan keadaan di Indonesia. Namun Nishimura tidak mau. Sehingga Bung Karno kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan dalam rumah Laksamana Maeda, berkumpullah Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, Ahmad Soebardjo, Soekarni, Sayuti Melik dan BM. Diah untuk merumuskan naskah proklamasi.
Soekarno           : “Saudara-saudara, bagaimana bunyi naskah proklamasi kita ?” (menulis kata “PROKLAMASI” sambil mengejanya)
Soebardjo          : “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.”
Soekarno           : “Baik, sudah saya tulis”
Hatta                 : “Lanjutannya Bung, Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain dilaksanakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Soekarno           : (menulis sambil mengeja)” Jakarta, 17-8-05. Wakil bangsa Indonesia. Yak, sudah selesai, apakah anda semua setuju ?”
Pemuda             : “Setuju”
Hatta                 : “Lalu, siapa yang akan menandatangani naskah ini?”
Soebardjo          : “Bagaimana kalau naskah ini ditandatangani semua yang hadir?”
Soekarni            : “Saya rasa jangan, terlalu banyak. Menurut saya, lebih baik Bung Karno dan Bung Hatta saja yang menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia”
Semuanya         : “Setuju.”
Soekarno           : “Sayuti, tolong kau ketikkan naskah ini.”
Sayuti                :”Siap bung.” (keluar untuk mengetik naskah proklamasi)
Hatta                 : “Kapan kita akan melaksanakan proklamasi?”
Soekarno           : “Menurut saya, tanggal 17 adalah tanggal baik. Sebagaimana Al-Quran diturunkan tanggal 17, selain itu dalam sehari semalam orang Islam sholat sebanyak 17 rakaat. Jadi, bagaimana kalau hari ini, Jumat legi, tanggal 17 Agustus ?”
Soekarni            : “Setuju Bung, lebih cepat lebih baik. Pukul berapa kita akan melaksanakannya?”
Hatta                 : “Pukul 10.00 tepat, bagaimana?”
Semuanya         : “Setuju”
Soekarno           : “Saya akan menyuruh Fatmawati untuk menjahit bendera merah putih, tolong siapkan tiangnya.”
BM. Diah           : “Baik Bung, tapi dimana kita akan melaksanakannya?”
Soebardjo          : “Di rumah Bung Karno!”
Semuanya         : “Setuju”
(Sayuti masuk membawa naskah yang sudah diketik, memberikannya pada Soekarno)
Sayuti                : “Ini naskahnya Bung, silakan ditandatangani.”
Soekarno-Hatta : “Baiklah” (menandatangani naskah)
Hatta                 : “Diah, tolong perbanyak naskah ini dan sebarkan ke seluruh Indonesia.”
BM. Diah           : “Siap bung.” (pergi)

ADEGAN 11
Jumat pagi pukul 10.00, semua orang telah berkumpul di halaman depan rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta untuk mendengarkan pelaksanaan proklamasi. Bung Karno, Bung Hatta, keluar ke serambi depan rumah diikuti Ibu Fatmawati. Bung Karno mendekati mikrofon sebelum membacakan proklamasi dan mengucapkan pidato pendahuluan.
Soekarno           : Saudara-saudara sekalian, saya telah meminta saudara-saudara hadir, disini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di zaman Jepang usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak ada henti-hentinya.Di dalam zaman jepang ini, tampaknya kita menyadarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakikatnya kita tetap menyusun tenaga kita sendiri, tetapi kita percaya pada kekuatan senidiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendirikan dapat berdiri dengan kuatnya, maka kami tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-muka rakyat Indonesia. Permusyawaratan itu telah seiya- sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang waktunya untuk menyatakan kemerdekaan kita. Saudara-saudara ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekat itu. Dengarkanlah proklamasi kami.




PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain di selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Jakarta hari 17 bulan 08 tahun 45
                                                                                    Atas nama bangsa Indonesia

                                                                                                Soekarno Hatta

Demikianlah saudara-saudara ! Kita sekarang telah merdeka ! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita. Negara merdeka, Negara Republik Indonesia merdeka. Kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita ini.

 (Pengibaran Bendera Merah Putih oleh Suhud dan Latief Hendraningrat diiringi lagu Indonesia Raya oleh semua orang yang hadir)



Saudara-saudara sekalian, saya telah meminta saudara-saudara hadir, disini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di zaman Jepang usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak ada henti-hentinya.Di dalam zaman jepang ini, tampaknya kita menyadarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakikatnya kita tetap menyusun tenaga kita sendiri, tetapi kita percaya pada kekuatan senidiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendirikan dapat berdiri dengan kuatnya, maka kami tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-muka rakyat Indonesia. Permusyawaratan itu telah seiya- sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang waktunya untuk menyatakan kemerdekaan kita. Saudara-saudara ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekat itu. Dengarkanlah proklamasi kami.
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain di selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Jakarta hari 17 bulan 08 tahun 45
                                                                                    Atas nama bangsa Indonesia

                                                                                                Soekarno Hatta

Demikianlah saudara-saudara ! Kita sekarang telah merdeka ! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita. Negara merdeka, Negara Republik Indonesia merdeka. Kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita ini.
MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA! Yeeeeyyyy~

Saat ini anda sudah membaca tentang Contoh Naskah Drama kemerdekaan yang kami berikan diatas, semoga bisa menjadi info bermanfaat ya, dan jangan lupa baca selengkapnya disini untuk Kumpulan Naskah Drama yang lainnya juga.

Belum ada Komentar untuk "Contoh Naskah Drama kemerdekaan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel