Asal Mula Nama Sintang

Alkisah Rakyat ~ Sungai Kapuas di propinsi Kalimantan Barat merupakan sungai yang terbesar dan terpanjang. Sungai ini merupakan urat nadi kehidupan rakyat di daerah itu sejak berabad-abad lamanya. Sungai ini menghubungkan daerah pedalaman Kalimantan dengan daerah-daerah pesisirnya. Salah satu kota yang terletak di ujung pedalaman sungai Kapuas adalah Kota Sintang, Kota Sintang terletak diatas tanah jepitan dua buah sungai. Sebelah kanan dengan sungai Melawi dan sebelah kiri dengan sungai Kapuas. Daerah ini disebut juga daerah Tanjung Puri. Dulunya kota Sintang terletak di seberang kanan hilir sungai Kapuas.


Nama Sintang pada mulanya menurut istilh/bahasa suku-bangsa Dayak yang mendiami daerah sungai Kapuas pedalaman, bernama "SENENTANG." Karena sekitar daerah kota itu banyak terdapat anak-anak sungai yang mengalir bentang-mebentang satu dengan yang lainnya.

Daerah Sintang pada mulanya kurang begitu terkenal. Yang terkenal sebenarnya daerah Sepauk. Bahkan lebih terkenal lagi daerah hulu yang bernama gunung "KAJAU." Konon cerita, daerah ini didiami dua orang suami isteri. Kedua orang suami isteri ini mempunyai tujuh orang anak. Sang Bapak bernama SABUNG MENGULUR dan isterinya bernama PUKAT MENGAWANG.

Adapun nama anak-anaknya itu ialah :
  1. Puyung Gana
  2. Belang Pinggang
  3. Suluh Duik
  4. Buku Labuk
  5. Terentang Temanai
  6. Patung Kempat (perempuan)
  7. Bui Nasi
Dari ketujuh anak ini, maka anak yang sulung yaitu Puyung Gana telah meninggal waktu baru saja lahir dari kandungan ibunya. Menurut kepercayaan mereka, Puyung Gana telah berobah menjadi hantu. Walaupun ia telah mati, tapi selalu turut mengetahui dan turut campur dalam kehidupan adik-adiknya. Ia berpribadi yang aneh sekali. Pakaiannya terdiri dari kerumunan monyeik (lebah). Ikat pinggangnya dari ular. Cawatnya dari ular melilit. Alas kakinya dari kura-kura. Tongkatnya seekor biawak. Sugihnya terdiri dari cacing.

Menurut cerita, perkawinan antara manusia dan makhluk halus pernah terjadi. Dan dari antara ketujuh anak itu, hanyalah Putung Kempat (anak yang perempuan) sajalah yang kawin dengan manusia biasa. Tapi tak disebutkan nama salah seorang kepercayaan orang Dayak, semburan Jubata Air ini selalu mengakibatkan penyakit bangkang mulik, atau penyakit kusta.

Konon pula di antara ketujuh anak ini ada seorang yang lahir dengan membawa segenggam nasi sebagai bekal hidupnya. Anak itupun langsung diberi nama BUI NASI. Karena sangat sedikit nasi yang dibawanya itu, maka habislah dalam waktu yang sesingkat. Sedangkan Bui Nasi makin besar dan selalu ingin makan nasi, padahal pada waktu itu nasi sebutirpun tak ada lagi. Tiap hari Bui Nasi merengek-rengek minta nasi untuk dimakannya. Akan hal ini maka orang tuanya sangat gelisah dan pikiran bertambah kusut karena kebingungan. Suatu saat dikala kebingungan, maka orang tuanya berusaha dan memohon kepada Jubata Air agar dapat memberikan petunjuk mengatasi persoalan nasi yang selalu dituntut oleh anaknya Bui Nasi. Dan kedua orang tuanya mendapat bisikan, untuk memenuhi kemauan anaknya. Mereka harus rela mengorbankan jiwa raganya. Kedua orang tua itu kemudian mengundang seluruh anaknya untuk merundingkan penentuan permintaan Bui Nasi.

Setelah berkumpul bapaknya mulai berbicara dengan nada sedih. Iapun tak sampai hati akan  mengorbankan hidupnya. Juga ia tidak mau meninggalkan anak-anaknya. Tapi apa boleh buat. Ia harus menyampaikan kepada seluruh anak-anaknya. Maka Sabung Mangulur memerintahkan anak-anaknya untuk membuatkan sebuah Kepok (lumbung padi yang terbuat dari pada kulit kayu). Apabila kepok telah selesai, kami orang tuamu akan masuk kedalamnya. Kemudian kalian menutupi rapat-rapat. Sesudah tujuh hari, barulah dibuka. Pasti kalian akan melihat berbagai macam ragam bibit. Dan jangan lupa bibit-bibit itu harus ditanam semuanya dan kelak akan berguna untuk keturunan kalian pada masa-masa yang akan datang.

Pesan kedua orang tua kepada ketujuh anaknya itu didengar dan diperhatikan baik-baik. Dan dikerjakan/dilaksanakan oleh semua anak-anaknya. Sesudah tujuh hari, maka anak-anak itu datang melihat dan membuka kepok itu, tempat orang tuanya bersembunyi. Setelah dibuka, maka tampak kedua orang tuanya sudah tidak ada di dalamnya. Yang tampak hanyalah bermacam-macam bibit seperti yang telah dijanjikan oleh kedua orang tuanya sebelum kepok itu dibuat dan ditutup. Mereka menjadi sedih kehilangan orang tuanya, dan sebaliknya juga senang karena mendapat berbagai macam bibit.

Kemudian kakak beradik ini merundingkan untuk mengapakan bibit-bibit tanaman yang berbagai macam itu. Akhirnya mereka sepakat untuk membuka sebidang tanah yang cukup luas untuk menananmnya dengan bibit-bibit itu. Sementara mereka duduk berunding, masuklah Puyung Gana, minta berbicara. Karena keadaannya yang sangat mengerikan saudara-saudaranya, permohonan Puyung Gana ditolak oleh saudara-saudaranya. Pada waktu itu Puyung Gana meminta tanah bagiannya. Dan tanpa pikir panjang, serta dengan emosi yang meluap-luap, Bui Nasi mengambil segumpal tanah, dan dilemparkan ke Puyung Gana, diikuti dengan kata-kata: "Ambillah tanah ini, dan pergilah dari sini"! Perkataan yang kurang enak didengar ini, digunakan oleh Puyung Gana untuk alasan menguasai seluruh tanah di daerahnya, sampai ke hutan-hutan sekitarnya. Maka Puyung Gana pun gaiblah. Karena pertengkaran yang seru ini, lupalah mereka akan membagi tanah pusakanya.

Keesokan harinya, mereka mulai mengerjakan tanah sesuai dengan pesan orang tuanya. Dan berangkatlah mereka ke hutan untuk menebang kayu-kayu guna membuat ladang. Tampak sekali kegembiraan dalam hati mereka akan hasil pekerjaan menebang hutan itu. Nampak hutan kayu yang telah lapang dan terang. Dan pada sore harinya barulah mereka pulang ke rumah mereka. Kegembiraan selalu memenuhi hati dan pikiran mereka.

Selesai makan malam berkumpullah mereka kembali di depan rumah panjang. Mereka duduk berunding bagaimana pekerjaan mereka untuk keesokan harinya. Pagi-pagi benar secara beramai-ramai mereka memikul segala alat perlengkapannya untuk meneruskan pekerjaan mengolah ladang. Dan dari kejauhan mereka mencoba menerka-nerka dimana tempat yang telah dikerjakan mereka kemarin. Mereka heran melihatnya. Ada sebagian yang menyangka mungkin salah mendatangi ladang itu. Kemudian timbul perbantahan di antara mereka. Ada diantaranya yang mengatakan bahwa tempat ini tidak salah. Karena bekas-bekas jejak masih ada. Akhirnya diselidiki secara cermat dan ternyata tempat itu adalah yang telah ditebang pohon-pohonnya kemarin. Timbullah pertanyaan di dalam hati mereka semua. "Kenapa pokok-pokok kayu yang telah ditebang kemarin itu, kini telah tumbuh berdiri kembali!" Keadaan telah kembali semula.

Kembali menjadi hutan rimba. Segala kayu telah berdiri, bersambung, namun demikian tidak mengecewakan mereka. Dan tanpa banyak bicara, ramai-ramai mereka mengayunkan kampak untuk menebang pokok-pokok kayu itu kembali. Bunyi kampak dan derunya kayu-kayu yang tumbang menambah keramaian dalam hutan itu. Dan kayu-kayu itu telah tumbang semuanya. Sementara itu, hari telah sore, dan mereka pun pulang ke rumah panjang mereka. Mereka menjadi senang kembali, karena usaha menebang kayu-kayu itu telah selesai semuanya. Keesokan harinya mereka kembali melihat dan akan meneruskan pekerjaan. Dan dari jauh mereka mengamati tempat yang dikerjakan kemarin itu. Ternyata keadaan pohon-pohon itu telah tumbuh kembali. Dan tanpa banyak bicara, serta banyak pertimbangan, mereka kembali menebang pohon-pohon itu. Pada sore hari, mereka kembali pulang. Keesokan harinya mereka datang, dan didapatinya keadaan seperti sediakala. Akhirnya mereka duduk berunding. Mereka ingin mengetahui apa sebabnya dan bagaiamana caranya untuk mengatasinya. Mereka tetap ingin mengerjakan ladang sesuai dengan pesan kedua orang tua mereka yang kini telah berubah menjadi berbagai macam bibit.

Selain itu mereka bersepakat agar ada giliran menjaga ladang diantara mereka. Kini mereka bekerja lebih giat dari pada hari-hari sebelumnya. Mereka kini mulai bergiliran jaga. Tugas dari yang menjaga ialah mempelajari siapa yang melakukan perbuatan yang aneh dan luar biasa itu. Untuk giliran pertama, yang menjaga ialah si Buku Labu. Sengaja mereka menunjuknya, karena ia seorang yang tak berkaki dan tak bertangan. Maksudnya supaya ia tak boleh lari bila menemui sesuatu yang menakutkan. Ia harus tetap menyaksikan segala sesuatu yang terjadi seperti yang dialami mereka selama ini. Dan perhitungan mereka ini sangat tepat sekali. Pada malam yang pekat, gelap gulita, tiba-tiba datanglah suara yang sangat dahsyat. Suara itu membuat Buku Labu sangat terkejut. Serasa mau terbang dari tempat itu. Tapi apa daya mau merayap, tak bertangan, mau lari tak berkaki. Terpaksa semangat dihidupkan untuk mengatasi ketakutan yang mencekam di malam yang gelap itu. Ia hanya mempasrahkan diri. Menunggu apa saja yang akan terjadi. Tiba-tiba terdengar suara yang lebih menakutkan lagi. "Kas mengkaras, bersambung segala raras"! Mengikuti suara ini, nampak jelas pokok-pokok kayu yang telah ditebang oleh mereka itu mulai berdiri dan bersambung kembali seperti biasanya. Perkataan ini berulang-ulang hingga menjelang pagi.

Dan pada pagi harinya mereka itu datang. Mereka akan meneruskan pekerjaan ladangnya. Dan jauh mereka melihat bahwa peristiwa yang lalu, telah berulang kembali. Kejadian ini tidak pernah mengecewakan mereka. Bahkan sesama mereka berkata bibit sudah tersedia, guna apa kita menghentikan usaha ini. Bukanlah kalau sampai berhasil, akan memberikan manfaat dan kebahagiaan untuk anak cucu kita kelak. Ayolah kita teruskan, ucap salah seorang di antara kakak beradik itu. Maka mereka mulai bekerja dengan giat lagi. Semangat bekerja lebih berapi-api. Di sore hari mereka harus pulang. Giliran terakhir, Bui Nasi yang harus menunggui. Bui Nasi menunggu datangnya malam dengan hati yang berdebar-debar. Apakah ia sanggup bertahan atau tidak. Dan ia mulai menguatkan batinnya dengan berdoa. Bagi Bui Nasi, walaupun apa yang akan terjadi, ia akan melawannya. Dan dalam perlawanan itu, ia berusaha untuk menang. Hari makin gelap. Bui Nasi merasa ngantuk dan ia memejamkan matanya sebentar. Tapi hati Bui Nasi berperang antara kantuk dan tugas. Makin gelap suasana di ladang itu, Bui Nasi menjadi semakin cemas. Tiba-tiba terdengarlah suara yang benar-benar dahsyat. Tapi Bui Nasi tidak takut. Malahan ia marah dan mau mengejar suara yang datang itu. Tanpa diduga-duga, ia berhadapan langsung dengan seorang yang berbadan hitam dan tinggi kekar.

Maka terjadilah suatu pertarungan sengit antara kedua makhluk itu. Segala tenaga gaib dan kesaktian yang dimiliki oleh Bui Nasi dikerahkan untuk menaklukan lawannya itu. Sampai dengan akhir pertarungan, tidak dapat dipastikan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Masing-masing ingin istirahat. Detik-detik istirahat itulah Puyung Gana mengucapkan kata-kata ingin berdamai. Ia menyatakan dirinya bukanlah orang lain. Ialah kakak yang sulung dari ketujuh kakak beradik itu. Ialah yang bernama Puyung Gana. Dia menyatakan bahwa ialah yang juga berhak memiliki pembagian harta terutama pembagian tanah. Ia mengusulkan agar jangan ia ditolak. Jika kalian menolak saya, tidak akan saya memberikan kalian kesempatan untuk membuka ladang dimanapun juga. Puyung Gana memperingatkan, perbuatan melemparkan segumpal tanah dimasa yang lalu. Melemparkan tanah segumpal, baginya telah dijadikan alasan untuk menguasai seluruh tanah. Jadi siapa saja yang akan membuka ladang, harus meminta izin kepada Puyung Gana. Segala perkataan yang diucapkan Puyung Gana, diikuti dan diingat baik-baik oleh Bui Nasi. Dan kini Bui Nasi sadar akan perbuatannya di masa yang lampau. Dialah yang melemparka segumpal tanah kepada kakaknya Puyung Gana. Maka kini setelah keduanya bertemu, Bui Nasi mengakui kesalahannya dengan mengucapkan kata-kata sebagai berikut: "Puyung Gana, mulai sekarang in kami akui engkau sebagai kakak kami yang tertua dan sejati."! Sementara itu ia juga bertanya: "Bagaimana juga caranya supaya mengerjakan ladang dengan mudah?"

Kemudian Puyung Gana sebagai kakak yang tertua menjelaskan sebagai berikut. Katanya: "Harus memperhatikan tiga gugusan bintang." Ketiga gugusan itu adalah sebagai berikut : Bintang tiga tanda mulai mengerjakan ladang. Bintang Lima tanda musim menebang kayu. Dan bintang empat tanda padi dilanda bencana. Mungkin babi, mungkin juga hama. Dan sampai kini penduduk daerah Sintang masih tetap mempercayai tanda-tanda alam ini. Melihat bintang pertama, itu bukan berarti terus langsung membuka ladang. Tapi sebelum membuka ladang harus mengadakan upacara adat terlebih dahulu. Adakan korban, memohon izin kepada rokh-rokh halus. Rokh halus ialah Puyung Gana sendiri. Bahan-bahan untuk korban juga telah digariskan oleh Puyung Gana sendiri. Adapun bahan-bahan itu ialah :
  1. Tujuh buah tajau emas
  2. Tujuh lungkung besi
  3. Tujuh telor ayam
  4. Tujuh ekor babi.
Bahan-bahan itu merupakan suatu peraturan yang mengejutkan Bui Nasi. Dengan spontan Bui Nasi mengucapkan kata-kata tidak sanggup. Ke tidak sanggupan Bui Nasi cukup dimengerti juga oleh Puyung Gana. Kemudian kata Puyung Gana. Syarat-syarat ini bukanlah yang sebenar-benarnya. Saya akan berikan keringanan gantinya antara lain:
  • Tujuh buah tajau emas diganti dengan tujuh buah kerabung (kulit) telur ayam, diisi dengan beras kuning.
  • Tujuh lungkung besi yang harusnya tombak, diganti dengan paku atau bahan besi lainnya.
  • Ayam cukup seekor
  • Babi cukup seekor saja
Seluruh persyaratan ini harus diletakkan berjejer, teratur rapih. Korban ini disebut "persembahan pangkal benih." Untuk meletakkan pangkal benih, penting sekali mendengar bunyi burung. Jika telah mendengar bunyi burung itu suatu tanda yang baik, dan nanti setelah tiga hari saja Puyung Gana akan muncul. Apabila kamu melihat saya berpakaian lengkap seperti biasanya, berarti kamu harus memberi "pendrek" (sajian). Meminta izin dan harus memberikan makanan untuk Puyung Gana. Ini suatu pertanda kamu akan mendapat panen yang memuaskan. Sesudah panen, jangan lupa harus mengadakan pengucapan syukur. Pesta Ucapan Syukur. Hingga sekarang suku-bangsa ini selalu mengadakan pesta ucapan syukur yang hebat. Adakalanya sampai menghabiskan semua hasil panennya. Pesta adat ini dalam bahasa daerah disebut "Pesta Adat Ngumpat Batu Nyapat Tahun."

Anjuran-anjuran  Puyung Gana, diperhatikan semuanya dan dikerjakan oleh anak-anak itu dengan penuh keyakinan. Karena telah dikerjakan dengan sebenarnya, akhirnya mereka telah mendapat hasil yang luar biasa banyaknya. Maka diadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Sementara mereka dalam suasana kegembiraan yang luar biasa ini, turunlah mereka mandi kesungai. Dan bersimburanlah dengan air anak-anak itu. Adat sekarang masih berlaku pada suku ini. Namun demikian karena akhirnya Putung Kempat ditimpa penyakit kusta. Mula-mula hanya terasa gatal pada kulitnya. Penyakit ini sukar sekali obatnya. Dan memang pada waktu itu belum mempunyai obat. Untuk hidup bersama dalam waktu-waktu yang cukup lama tidak mungkin. Mereka takut terjangkit juga penyakit kusta.

Dan kakak beradik itu mencari akal, untuk menyingkirkan Putung Kempat. Akhirnya dicapai kesepakatan untuk membuat sebuah rakit. Putung Kempat didudukkan di atasnya, dilengkapi  dengan segala keperluan hidupnya. Lalu kemudian ia dihanyutkan ke sungai Sepauk. Kakak beradik ini mempunyai sebuah piring pusaka yang amat besar. Dalam piring itulah Putung Kempat didudukkan. Sungguhpun piring pusaka itu besar, tapi kaki Putung Kempat masih terjuntai-juntai menyapu air. Sambil berhanyut, kakinya dengan bau yang merangsang mengundang ikan-ikan untuk datang menjilat luka-luka pada kakinya. Dan lukanya sembuh dengan hasil jilatan ikan selama perjalanan rakit yang berminggu-minggu lamanya di atas sungai Sepauk. Suatu ketika rakit yang ditumpangi oleh Putung Kempat itu terdampar pada sebuah batu besar. Rakit itu tak dapat bergerak beberapa hari lamanya. Sementara ia terdampar dan tak berdaya, datanglah kijang yang mencium serta menjilat bekas dan sisa-sisa luka. Pelanduk pun turut berandil menyembuhkan luka-luka Putung Kempat. Dari kisah inilah penduduk daerah ini tidak suka makan daging Kijang dan pelanduk. 

Dengan tak diduga-duga sama sekali, datanglah banjir dari hulu sungai. Banjir itu menyerang rakit Putung Kempat, membawa dia beralih mengalir lebih ke hilir sungai Sepauk. Disana terpancang sebuah bubuh ikan Aji Melayu. Dan di situlah rakit Putung Kempat tersangkut. Nasib mujur bagi Putung Kempat karena tersangkut pada bubuh ikan Aji Melayu. Pagi-pagi Aji Melayu menuju bubuhnya. Ia heran melihat seorang wanita cantik telah terpancang, bagaikan penunggu bubuh yang setia. Aji Melayu kemudian memberanikan diri mendekati wanita itu. Apalagi ia tahu bubuh itu adalah miliknya. Dan dengan perasaan malu bercampur gembira, Aji Melayu mencoba menyapa wanita itu: "Mengapa sampai terdampar ke bubuh ini?" Maka Putung Kempat menjawab: "Saya diasingkan oleh saudara-saudara saya, karena saya menderita penyakit kusta." Maka Aji Melayu membujuk Putung Kempat untuk dibawa ke rumah Aji Melayu. Aji Melayu menjadi lupa akan bubuhnya yang telah berisi ikan.

Bekas-bekas luka masih nampak pada diri Putung Kempat. Aji Melayu dengan pengetahuan yang ada padanya, berusaha mengobatinya. Dan kemudian ternyata Putung Kempat menjadi sembuh dari penyakit kusta yang telah dideritanya cukup lama itu. Kesembuhan Putung Kempat lebih menambah kecantikan dirinya. Kini kasih sayang Aji Melayu lebih bertambah. Aji Melayu kemudian merencanakan untuk mengawini Putung Kempat. Menurut dugaannya, lamarannya pasti tidak akan ditolak. Apalagi ia merupakan seorang raja kecil di kampungnya itu. Belum lagi dengan kemanusiaannya ia telah menolong mengobati penyakit kusta Putung Kempat. Maka lamaran Aji Melayu pun diajukan, Putung Kempat ketika menerima lamaran ini tidak bersikap masa bodoh. Tapi ia mulai menunjukkan aksinya. Ia ingin mengadakan ujian kesaktian dengan Aji Melayu. Putung Kempat ingin menguji dan mengetahui dengan jelas apakah Aji Melayu benar keturunan raja. Dan Putung Kempat merentangkan tali menyeberangi sungai. Di atas tali terentang ini Putung Kempat memohon dengan hormat agar Aji Melayu berjalan kaki menyeberangi sunagi itu. Sambil berjalan menyeberang dianjurkan harus mungacip pinang. Suatu ujian yang sangat berat buat Aji Melayu. Namun demikian Aji Melayu tidak gagal. Aji Melayu sukses dalam ujian yang maha berat itu.Tempat dimana tali diikatkan, sampai sekarang bernama "lawang tinjau." Dan kini Aji Melayu membalas uji, ingin mengetahui siapakah sebenarnya si Putung Kempat. Dan Ujian inipun dapat dilalui oleh Putung Kempat. Dan akhirnya keduanya mengikat tali kasih berupa hidup sebagai suami-isteri. Dari hasil perkawinan ini kemudian keduanya mendapat seorang anak perempuan. Ia diberi nama "DAYANG LENGKONG."

Aji Melayu adalah seorang yang bijaksana dan berani. Ia menjadi seorang raja kecil dalam daerah Sepauk. Ia seorang raja yang kaya. Kekayaannya tersimpan dalam satu gudang, terisi dalam tujuh buah tajau/tempayan. Konon menurut cerita, kekayaan Aji Melayu sampai kini masih ada sisanya. Batu peninggalan tanda kerajaan Aji Melayu masih terdapat dan masih dipelihara baik oleh rakyat. Mereka menamakannya "Batu Pujaan" atau "Batu Kalbut."  Sampai sekarang masih dapat dilihat kedua batu tersebut. Begitu juga dengan makam Aji Melayu di Nanga Sepauk. Akan halnya Putung Kempat yang telah lama hilang dari saudara-saudaranya, kini telah timbul kerinduan di kalangan saudara-saudaranya untuk bertemu kembali. Tapi dimana mereka akan menemuinya? Di manakah tempat terdampar rakitnya? Apakah Putung Kempat  masih hidup? Hanya saja ada berita-berita angin yang menyatakan bahwa Putung Kempat berada di hilir sungai Sepauk. Maka kelima bersaudara itu berusaha untuk menemuinya. Dalam pikiran mereka, mudah-mudahan Putung Kempat masih hidup. Kemudian datang berita bahwa Putung Kempat telah kawin dengan seorang raja. Hanya ada satu hal yang sulit, yaitu menemui raja Aji Melayu, ipar mereka, tidak semudah menangkap seekor semut putih. Kalau mendatangi Aji Melayu pasti menemui ajal, karena kena racun. Tapi Bui Nasi tidak takut untuk menemuinya.

Bui Nasi mempunyai kesaktian pribadi yang cukup ampuh. Ia dapat mengirim orang-orangan patung atau boneka sebagai pengganti dirinya guna menghabiskan segala racun. Kembalinya orang-orangan itu, membuktikan mereka tidak usah takut masuk ke rumah Aji Melayu. Maka mereka masuk dengan bebas Aji Melayu menjadi kaget melihat lima orang yang tidak atau belum pernah dikenal. Kemudian mereka memperkenalkan diri Aji Melayu mengambil posisi untuk menanyakan dari mana asal mereka. Sesudah mendengar penjelasan dari kelima bersaudara itu, Aji Melayu menyuruh mereka untuk tidur dengan Putung Kempat di atas daun pisang. Dengan syarat daun pisang itu tidak boleh pecah/sobek sedikit juapun. Suatu ujian yang menyakinkan dari Aji Melayu, kalau benar-benar mereka itu bersaudara kandung dengan Putung Kempat. Tantangan ini bagi Bui Nasi tidak menjadi halangan atau rintangan. Dalam perlakuan ini Aji Melayu mengintip dengan tombak dari atas loteng. Ia merencanakan, bila daun pisang itu sobek atau pecah, segera ia menombak mereka. Tapi apa yang terjadi. Sampai pagi hari, daun pisang yang dipakai untuk tidur itu, sedikitpun tak ada yang sobek. Ujian yang berat inipun belum cukup memuaskan bagi Aji Melayu. Ia masih ingin menguji sekali lagi. Aji Melayu curiga terhadap kelima bersaudara yang datang menemui Putung Kempat ini. Dalam hatinya berkata mungkin mereka ini adalah mata-mata musuh, dari Aji Kumbang.

Aji Melayu kemudian menguraikan segala soal permusuhannya dengan Aji Kumbang yang berdiam di Batu Kantuk, sebelah hulu sungai Kapuas, daerah Belitang. Kemudian Aji Melayu mengatakan: "Kalau kiranya Aji Kumbang masih hidup, maka hidupku tidak pernah tenang." Pertahanan Aji Kumbang sangat kuat. Bentengnya terdiri dari aur berduri. Sukar ditembus musuh. Saya telah berulang kali menyerang tapi selalu gagal. Dan untuk meyakinkan saya bahwa kamu enam orang ini bersaudara, tolonglah saya. Kalahkan dan tewaskan Aji Kumbang. Tawaran ini diterima baik oleh kelima orang bersaudara itu terutama Bui Nasi. Segera kelima saudara itu berunding. Selesai berunding, Bui Nasi dengan empat saudaranya berangkat menuju pertahanan Aji Kumbang, serta meninggalkan pesan: "Ingat baik-baik, bila kelihatan berhanyutan bambu aur, kerahkanlah pasukan bantuan Aji Melayu"! Pesan yang membayangkan kemenangan itu tetap diingat oleh Aji Melayu. Maka berangkatlah kelima orang bersaudara itu dengan menyamar sebagai pedagang. Pertemuan mereka dengan Aji Kumbang berlangsung dalam suasana ramah tamah. Aji Kumbang tidak menaruh curiga sedikit juapun. Aji Kumbang adalah seorang yang tamak dan loba harta. Siapa saja pedagang yang datang kedaerahnya, diterima dengan ramah. Pertemuan yang ramah ini, digunakan sebaik-baiknya oleh Bui Nasi untuk memainkan peranan yang penuh dengan siasat. kekayaan emas, intan dan batu permata yang beraneka indah dan lain sebagainya itulah yang menjadi pusat perhatian Bui Nasi untuk membingunkan pikiran Aji Kumbang.

Bui Nasi kemudian berterus terang kepada Aji Kumbang bahwa ia sangat bermusuhan dengan Aji Melayu yang jahat itu. Bui Nasi kemudian menerangkan seluk-beluk persoalan mereka sehingga meyakinkan Aji Kumbang. Akhirnya Aji Kumbang menjadi turut simpati dan siap membantu menyerang bersama Bui Nasi. Mereka menyusun siasat tempur. Semua usul Bui Nasi dituruti oleh Aji Kumbang tanpa pertimbangan dan kecurigaan apa-apa. Bui Nasi mengusulkan agar Aji Kumbang jangan menyesal akan kekayaan yang ada padanya. Sebaiknya harta itu digunakan untuk mengupah rakyat, demi suksesnya penyerangan. Tanpa pikir panjang dan karena yakin serta percaya akan Bui Nasi diserahkannya seluruh emas, perak, intan berlian serta batu permata. Sebaliknya Bui Nasi dengan roman munafiknya menggambarkan dendam kesumat terhadap Aji Melayu. Dan berangkatlah mereka sepasukan diwaktu malam gelap menuju Aji Melayu.

Tapi apa yang terjadi sesudah mereka pamitan dengan Aji Kumbang. Mereka menyimpang ke benteng pertahanan Aji Kumbang. Di sekitar benteng itulah Bui Nasi menghamburkan seluruh harta benda bawaannya. Sengaja supaya rakyat Aji Kumbang memberitahukan kepada Aji Kumbang. Mendengar itu, maka bergeloralah hati Aji Kumbang untuk mendapatkan harta itu, yang sebenarnya adalah hartanya sendiri. Dengan gembira ia memerintahkan seluruh rakyat pergi membongkar mencabut bambu aur berduri untuk mengumpulkan harta benda yang berharga itu. Bambu dicabut dan kemudian hanyut ke sungai Kapuas. Kini bambu pertahanan Aji Kumbang habis dicabut. Aji Kumbang tidak takut lagi terhadap serangan Aji Melayu. Ia percaya dan yakin akan siasat dan janji Bui Nasi. Di lain pihak, Aji Melayu siap siaga menunggu dengan cermat, kapan bambu akan hanyut sebagai kode membantu serangan Bui Nasi untuk menghancurkan Aji Kumbang. Tiba-tiba ia melihat hanyutan bambu tak henti-hentinya. Dan melompatlah ia dari tempat duduknya serta berseru: "Pasukan supaya segera berangkat membantu Bui Nasi."! Serangan yang teratur rapih, menjadikan Aji Kumbang tak berdaya dan tewas tanpa perlawanan. Kemenangan gemilang ini telah cukup meyakinkan Aji Melayu, mengenai kakak beradik Bui Nasi dan Putung Kempat.

Kini mereka jadi hidup bersama, damai dan rukun. Telah sekian lama hidup bersama, dan perasaan rindu pulang ke hulupun timbul lagi. Dan mereka berpamitan pada Aji Melayu. Mereka pulang dengan perasaan gembira sebab telah bertemu dengan Putung Kempat yang telah hidup sehat dan senang dengan seorang raja. Karena gembira yang tak terperikan, setibanya di kampung halaman, langsung dipukulkan gong pusaka. Suara gong pusaka di atas tempat yang tinggi, bergemuruh bunyinya dan menjangkau anak telinga Putung Kempat yang sedang mengandung. Suara gemuruh menderu itu sangat mengejutkan dan mempengaruhi kesehatan Putung Kempat. Ia jatuh sakit. Dalam keadaan sakit itu pula, ia melahirkan puterinya yang pertama. Dayang Lengkong. Sakitnya berlangsung cukup lama dan sukar untuk sembuh. Bermacam-macam cara yang telah dilakukan oleh suaminya. Aji Melayu, tapi semuanya itu sia-sia. Pada suatu hari, Aji Melayu bertanya kepada Putung Kempat, apa mulanya sakit itu. Putung Kempat mengatakan bahwa asal mula ia sakit itu ialah ketika mendengar bunyi Gong Pusaka milik mereka di gunung Kujau. Aji Melayu menjadi sangat marah mendengar jawaban itu, dan ia ingin membalas dendam. Dan berangkatlah ia dengan perahu. Tapi sementara dalam perjalan, timbul kerinduan akan anak-isteri. Apalagi roman muka mereka selalu terbayang. Terpaksa ia memutar kembali pulang ke rumah. Berulang kali peristiwa ini terjadi. Dan pada suatu saat Putung Kempat mengusulkan membuat dua buah patung yang bentuknya sama dengan ia dan anaknya. BIla teringat dan rindu, pandanglah kedua patung itu. Usul ini disetujui.

Akhirnya Aji Melayu sampai juga di puncak gunung Kujau. Ia bertemu dengan Bui Nasi, dan seluruh keluarganya. Pertemuan yang diselumuti emosi balas dendam. Aji Melayu menjadi kehilangan kseimbangan. Ia naik pitam sebelum menjelaskan maksudnya. Bukan merundingkan bagaimana cara mengobati Putung Kempat, tapi pertarungan antara ipar, yang menjadikan Aji Melayu tewas. Sebenarnya Bui Nasi tidak ingin  berkelahi dengan iparnya, tapi karena Aji Melayu terlebih dahulu menyerang. Maka Bui Nasi mendekati meriam pusaka yang bernama "GEGAR SEPETANG." Dengan menembakkan meriam pusaka ini, dunia dibungkus dengan gelap gulita, diikuti petir, halilintar hujan dan banjir yang dahsyat. Sungai Sepauk menjadi meluap airnya. Gong Tengkang jatuh ke sungai Sepauk. Untung tidak hanyut dan hilang. Sampai kini Gong tersebut masih bisa kelihatan jika air surut (surut kemarau). Bagi penduduk sekitarnya, gong itu dianggap keramat. Mayat Aji Melayu dimakamkan di Naga Sepauk.

Sumber : Bunga Rampai Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Barat

Belum ada Komentar untuk "Asal Mula Nama Sintang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel