Cerita Tan Unggal

Alkisah Rakyat ~ Lama sebelum adanya Kesultanan di daerah Kabupaten Sambas, rupa-rupanya telah ada suatu kerajanaan yang diperintah oleh seorang raja yang tidak diketahui siapa nama raja tersebut. Bagaimana besarnya kekuasaan baginda, juga tidak dapat diketahui dengan pasti, hanya disebutkan bahwa baginda mempunyai dua orang isteri yang resmi (isteri muda dan isteri tua) disamping itu masih ada gundik-gundiknya yang lain.


Dari isterinya yang tua, baginda memperoleh seorang putera. Begitu pula dari isteri yang muda, baginda juga memperoleh seorang putra. Nama isteri dan nama putra baginda juga tidak diketahui dengan pasti. Karena perasaan cemburu dan iri hati, isteri muda dapat mempengaruhi baginda dan baginda dengan kejam mengusir isteri tuanya bersama-sama dengan putranya yang masih kecil. Penderitaan batin ini lama sekali dialami oleh isteri tua, sampai anaknya menjadi dewasa.

Setelah putranya dewasa, maka ibunya menurunkan ilmu-ilmu gaib dan ilmu-ilmu sakti kepada putranya itu, karena ternyata isteri tua baginda ini banyak mempunyai ilmu. Hanya saja ilmunya tidak mau digunakannya untuk jalan-jalan yang tidak benar. Putranya semakin hari semakin gagah, ilmu yang dimilikinya pun semakin mantap. Sedangkan isteri muda beserta putranya hidup bersenang-senang dan bermewah-mewah di istana.
Pada suatu hari baginda jatuh sakit. Sakit yang mengkhawatirkan. Semua dukun, ahli mantra maupun tukang tenung dari segala pelosok berdatangan untuk mengobati baginda. Akan tetapi hasil yang diperolah sia-sia belaka, malahan penyakit baginda semakin parah. Oleh baginda dijelaskan bahwa penyakitnya baru dapat disembuhkan apabila diobati dengan air susu orang kayangan.

Untuk mendapatkan air susu orang kayangan ini, pembesar-pembesar istana mengadakan sayembara. Barang siapa yang berhasil mencarikan obat baginda itu, akan diberi hadiah yang besar. Sayembara ini diumumkan kesegenap pelosok dan berita ini terdengar juga oleh isteri tua bersama-sama putranya. Karena ia merasa yakin dengan ilmu yang diturunkan oleh ibunya kepadanya, maka ia mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara itu. Secara diam-diam iapun mulai dengan tugasnya.  

Sedangkan putra raja dari isteri muda, juga tidak mau ketinggalan dalam sayembara itu. Ia pun tangkas dan gagah serta mempunyai ilmu-ilmu yang hebat yang diperolehnya dari orang tuanya maupun pembesar-pembesar istana. Para peserta sayembara masing-masing mulai dengan tugasnya masing-masing memperlihatakan keahliannya dengan ilmu-ilmu yang ada padanya.

Putra raja dari isteri tua berjalan terus sampai akhirnya sampai pada sebuah bukit yang sangat tinggi menghadap ke sungai Sambas dan sekarang dikenal sebagai Gunung Sepuk, yang terpisah dengan Gunung Sebadang oleh jalan Raya Sambas ke Pontianak. Di lereng Gunung Sebadang ini ada sebuah Tasik kecil, berair tenang dan jernih, merupakan tempat rekreasi pada hari-hari libur. Jejaknya ini diikuti terus oleh adiknya, walaupun mereka berdua tidak saling kenal mengenal lagi, karena mereka dipisahkan sewaktu mereka masih kecil dan belum mengerti apa-apa.

Dengan puncak bukit sebagai pangkalan, maka dengan segala kesaktian yang ada padanya, sesuai dengan ilmu yang dimilikinya, muncullah ia keawang-awang menuju kayangan. Kejadian ini diperhatikan terus oleh adiknya yang merasa takjub, heran dan iri hati melihat kehebatan orang aneh ini yang tiada lain adalah abangnya sendiri. Ia semakin kesal ketika dilihatnya ke atas yang terbang itu sudah lenyap dari pandangan, sedangkan ilmu yang dimilikinya tidak sampai kesitu. Ia mulai berpikir "kalaulah bukit ini tempat peluncurannya, tentulah ia akan mendarat di bukit ini juga." Pikirannya ini benar-benar diyakinkannya, sehingga ia memutuskan untuk menunggu saja di bukit itu sampai orang itu turun dari kayangan, tentulah orang itu akan berhasil mencari obat raja dan ia berniat akan membunuh orang tersebut, agar nantinya ialah yang berhasil mencari air susu sebagai obat raja itu yang sudah barang tentu namanya akan menjadi harum dan ia akan disegani oleh semua orang.

Sedangkan orang yang meluncur tadi yaitu saudaranya sendiri sampailah sudah di atas kayangan. Dengan segala kesaktian yang ada padanya ia berhasil memikat hati seorang putri kayangan yang akhirnya diakhiri dengan perkawinan. Perkawinan ini dilakukan juga di atas kayangan. Setelah sekian lama ia bergaul, akhirnya ia memperoleh seorang putra. Pada kesempatan inilah ia mengambil air susu isterinya kemudian dimasukkannya ke dalam garung (ruas bambu atau tabung) Belum sampai setahun umur anaknya, iapun berkata kepada isterinya bahwa ia akan turun ke bumi untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit. Permintaannya ini tentu saja dikabulkan oleh isterinya dengan perjanjian bahwa ia tidak akan lama turun ke bumi.

Maka ia meluncurkan lagi dari kayangan menuju ke bumi, dan menuju bukit tempat peluncurannya (pangkalannya) dahulu. Begitu ia menginjakkan kakinya ke bumi (puncak bukit), secara tiba-tiba ia diserang lalu dibunuh oleh adiknya sendiri yang telah lama menunggukan kehadirannya. Matilah ia seketika, dan adiknya merasa puas karena apa yang direncanakannya dan diduganya semula ternyata menjadi kenyataan. Dengan bangga, sambil meninggalkan tubuh abangnya yang tergeletak di tanah iapun pulang membawa garung air susu putri kayangan, dan di tengah jalan ia membayangkan betapa hebatnya namanya dikalangan masyarakat kelak. Sampai di istana ia disambut oleh pembesar-pembesar istana dengan tempak sorak yang riuh rendah dan benar-benar meyakinkan bahwa yang dapat mencari obat raja adalah putra raja sendiri. Ketika garung air susu akan dibuka, ternyata tak satu orang pun diantara yang hadir, dapat membuka tutup garung itu. Semua alat telah dicoba untuk membukanya, namun hasilnya sia-sia belaka dan keadaan ini sampai beberapa hari lamanya.

Disamping itu putri kayangan merasa gelisah karena sudah sekian lama suami yang dicintainya belum kembali. Hal ini diberitahukannya kepada orang tuanya. Oleh orang tuanya, segala penjuru dilihatnya dengan segala kesaktian yang ada padanya. Akhirnya ia melihat kearah sebuah bukit, di sana dilihatnya sesosok tubuh yang telah menjadi mayat, lalu diamatinya secara sungguh-sungguh ternyata adalah mayat menantunya. Hal ini tidak segera diberitahukannya kepada anaknya, tetapi dengan ilmu gaibnya ditiupkannya angin ke arah mayat tadi, sehingga mayat yang tergelatak itu kembali hidup seperti biasa.

Begitu mayat itu hidup kembali, ia terus mencari garung air susu kesana-kemari, tetapi ternyata tidak ada. Tanpa pikir panjang diteruskannya perjalanannya ke istana. Di istana ia melihat orang-orang dalam keadaan gelisah untuk membuka tutup garung itu. Ketika itu iapun maju, diambilnya garung itu dan dibukannya dengan mudah sekali tutup garung itu, kemudian air susunya dipersembahkannya ke hadapan raja yang masih sakit parah itu. Akan tetapi raja tidak mengenal lagi siapa dia, padahal putranya sendiri. Iapun diberikan hadiah yang cukup besar. Akan tetapi mertuanya dan isterinya di kayangan merasa heran apa sebabnya, ia tak datang lagi. Keheranan ini berubah menjadi kemarahan yang luar biasa. Karena panas hati yang tidak tertahan lagi, maka tanpa pikir panjang cucunya yang masih terlentang itu ditendangkannya ke bumi dan terjepit kedalam serumpun bambu. Bertepatan dengan tertendangnya bayi tersebut ke bumi, hujan pun turun seketika, walaupun matahari tetap bersinar dengan terangnya.

Dalam keadaan hujan panas yang menyeramkan bulu roma itu, sepasang tukang kayu miskin, secara kebetulan sedang berada ditengah hujan lebat, jauh dari pondok tempat mereka tinggal. Karena hujan panas yang tiba-tiba saja turun dengan tergesa- gesa suami isteri tukang kayu tadi mencari-cari tempat berteduh di bawah kayu yang rindang. Seketika mereka mendapatkan tempat berteduh, terdengarlah oleh mereka suara tangis bayi disela-sela tetesan air hujan di atas tanah dan dedaunan. Sepasang makhluk Tuhan tadi saling berpandangan sambil memasang telinga sebaik-baiknya.

Setelah mereka saling meyakinkan bahwa yang terdengar itu adalah benar-benar suara tangis bayi, lalu mereka berdua berusaha menuju kearah tangis tersebut walau dengan perasaan takut-takut. KIra-kira dua belas langkah dari tempat perteduhan mereka, jelaslah sudah tempat bayi yang menangis tersebut, yaitu dalam serumpun bambu liar yang tumbuh dengan suburnya dan banyak pohon-pohonnya seakan-akan jeriji ranjang kecil tempat bayi-bayi diletakkan dirumah-rumah bersalin. Dengan hati-hati sang suami tukang kayu menebang beberapa pohon bambu tadi, agar bayi tersebut dapat diangkat tanpa mengenai pohon bambu yang bermiang itu.

Alangkah terharu dan gembira pasangan tukang kayu mendapat bayi laki-laki yang sehat dan kuat, karena sudah tujuh tahun mereka berumah tangga belumlah dikurniai Tuhan keturunan. Bagaikan mendapat durian runtuh, begitulah wajah kegembiraan mereka berdua. Dengan senang hati si suami membuka bajunya yang sudah compang-camping itu untuk dipakai menyelimuti sang bayi. Sambil menunggu redanya hujan panas mereka bergantian menggendong bayi itu, disertai timang kesayangan. Sesampai di pondok mereka, secepatnya si isteri tukang kayu menyerang air ke tungku untuk memandikan bayi dengan air panas. Kepada tetangga mereka atau kepada siapa saja pasangan tukang kayu itu berjumpa, mereka ceriterakanlah kegembiraan mereka mendapatkan si jantung hati. Ketika sampailah sudah umur sianak untuk disunat atau dikhitankan, dipanggillah dukun atau bilal dan beberapa orang tetangga yang dekat untuk meramaikan khitanan tersebut. Tetapi alangkah heran dan sedikit kecewa kedua orang tua angkat anak tersebut, karena ternyata bahwa si anak tak dapat dikhitan karena tak termakan besi atau kebal. Dan karena peristiwa tersebut anak angkat mereka itu diberi nama "TAHAN (TAN) UNGGAL," artinya "Si tunggal" yang tahan besi atau kebal.

Setelah Tan Unggal dewasa, ia memiliki sifat yang tangkas, berani tak kurang pula sifat kejamnya terhadap makhluk. Pernah pada suatu ketika, Tan Unggal menjadi naik darah dan begitu marahnya, yaitu ketika ia berjalan-jalan mengusir burung pipit atau gelatik yang makan padi huma orang tua angkatnya. Disemak-semak sekitar huma tersebut kebetulan sepasang burung kubuk sedang membawa anak-anaknya yang baru belajar terbang. Burung kubuk itu berbunyi: "kulup, kulup, kulup." Mendengar suara itulah Tan Unggal naik pitam karena dikiranya burung kubuk itu menghina atau memperolok-olokannya, dengan mengatakannya "Sikulup" (orang yang tak bersunat/khitan) Kemana burung itu terbang terus dikejar dan dicaci makinya. Sampai jauh ke dalam semak burung itu terus dikejarnya, tanpa merasa lelah. Barulah ketika kakinya tersandung kayu dan lututnya terjatuh diatas batu, ia tersadar dari kekalapannya. Ia berhenti merenungkan kebodohannya dan kemudian pulang ke rumahnya. Konon, bekas kedua lututnya terjatuh masih ada bekasnya, sampai sekarang di Kampung Sejangkung (Kabupaten Sambas).

Oleh karena ia selalu menjadi hakim sendiri, dan selalu melakukan hukum rimba terhadap masyarakat di daerahnya, akhirnya ia menganggap dan menjadikan dirinya sebagai pengguasa (raja) di daerah itu. Masyarakat tidak berani untuk menentangnya, karena siapa melawan berarti mati. Kekejamannya tidak terbatas pada siapa saja, laki-laki ataupun perempuan, orang tua ataupun anak-anak. Istrinya tidak hanya satu, resmi maupun tidak resmi tidak dapat untuk dihitung. Rakyat melarat selalu diliputi oleh rasa takut, cemas dan khawatir, tetapi tidak ada daya untuk menghadapinya. Begitu pula pembesar-pembesar istana, timbul rasa benci dan dendam terhadap kekuasaan Tan Unggal yang tanpa batas dan tanpa perikemanusiaan ini. Jangankan rakyat kecil, pembesar sekalipun kalau salah sedikit akan menerima hukuman mati. Dari perkawinannya yang pertama Tan Unggal memperoleh seorang putri yang sangat cantik yang bernama Dare Nandung. Kecantikannya ini tidak saja tertarik atau memikat pembesar-pembesar istana akan tetapi Tan Ungal sendiri merasa tertarik akan kecantikan anaknya ini, ditambah lagi karena keahlian Dare Nandung menenun kain dari serat nenas. Pekerjaan inilah yang dilakukannya setiap hari. Dari perkawinannya yang kedua Tan Unggal memperoleh seorang putra yang tampan dan gagah bernama : Bujang Nadi. Pergaulan antara Dare Nandung dan Bujang Nadi, melibatkan mereka dalam suatu kisah asmara yang tak terlukiskan betapa indahnya. Peristiwa ini berjalan terus, kisah cinta antara kedua insan semakin hari semakin memuncak.

Melihat sikap Dare Nandung yang demikian itu, ditambah lagi dengan laporan dan fitnah dari pembesar-pembesar istana yang iri hati dengan Bujang Nadi, maka Tan Unggal memutuskan untuk  memisahkan anaknya, agar mereka tidak dapat saling berjumpa lagi, ringkasnya Tan Unggal berusaha untuk memutuskan hubungan kasih sayang antara Dare Nandung dan Bujang Nadi itu. Maka iapun memerintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk mengasingkan Dare Nandung ke sebuah bukit untuk dipenjarakan disana. Melihat kejadian ini, Bujang Nadi tidak tinggal diam, ia langsung menemui Tan Unggal untuk menanyakan apa sebabnya Dare Nandung dipenjarakan tanpa ada salahnya sedikitpun, dan apa sebabnya seorang tua sampai hati memenjarakan anaknya sendiri tanpa ada pengawal seorangpun di sana. Usul dan pertanyaan serta dakwaan Bujang Nadi ini disambut Tan Unggal dengan hati panas dan kepala panas. Marahnya bukan main kepada anak muda yang berani mendiktenya dan berani memberikan khotbah dihadapan para pembesar istana itu. Tindakan Bujang Nadi dianggap oleh Tan Unggal sebagai suatu tindakan penghinaan yang tiada taranya.

Pertengkaran antara bapak dan anak, diakhiri dengan adu otot di halaman istana yang disaksikan oleh para pembesar istana. Semua jenis senjata tajam telah dicoba oleh keduanya, tetapi mereka sama-sama tangkas dan sama-sama cekatan, malahan mereka sama-sama merasa heran apa sebabnya kekebalan mereka sama. Dengan kekuatan tenaga dalamnya. Tan Unggal dapat menangkap Bujang Nadi, karena tenaga ini memang tidak dipunyai oleh Bujang Nadi. Kemudian Bujang Nadi dipenjarakan pada suatu tempat terpencil.

Sementara itu Dare Nandung telah dapat menyelesaikan beberapa helai kain tenunan dari serat nenas, walaupun pekerjaan ini dilakukannya dengan perasaan tertekan didalam penjara. Tiada lain ingatannya hanya pada kekasihnya Bujang Nadi. Di dalam penjara, Bujang Nadi juga selalu mengenangkan kekasihnya Dare Nandung. Dari penjara-penjara ia mendapat kabar angin, bahwa Bujang Nadi dalam waktu yang tidak lama lagi akan dibunuh, karena Tan Unggal merasa tidak puas dengan memenjarakannya begitu saja. Dengan segenap kekuatan yang ada padanya, ia berhasil melarikan diri dari penjara, langsung menemui kekasihnya Dare Nandung yang juga masih meringkuk dalam penjara. Ia berhasil lagi mengeluarkan Dare Nandung dari dalam penjara, lalu keduanya melarikan diri ke sebuah bukit yang sangat jauhnya. Mereka bekerja keras membuat tempat perlindungan, siang dan malam hari dari kepingan-kepingan batu yang besar-besar.

Mendengar berita hilangnya Bujang Nadi dan Dare Nandung, maka Tan Unggal semakin meluap marahnya, para pengawal maupun pembesar diperlakukannya dengan kejam, begitu pula tindakannya terhadap rakyat, karena ia menuduh para pengawal dan pembesar bekerja sama dengan tawanannya itu. Kekejamannya terhadap rakyat dapat dilihat dari perlakuan-perlakuannya yang diluar batas perikemanusiaan anatara lain:
  1. Orang yang sedang hamil tua disuruhnya mendorong sampan dari tebing yang dangkal menuju sungai, sehingga tidaklah mengherankan banyak perempuan yang melahirkan dengan terpaksa.
  2. Sedangkan orang laki-laki dijadikannya sebagai galangan untuk perahunya atau galangan untuk mendorong perahunya kelaut.
  3. Laki-laki dan perempuan disuruh menumbuk tepung atau padi dalam keadaan tak berbusana.
  4. Orang-orang perempuan disuruh mengupas padi satu persatu untuk membuat beras dengan ancaman tidak boleh patah.
Kekejaman - kekejaman diatas hanya sebagian saja dari sekian praktek-praktek yang dilakukannya terhadap rakyat. Pencarian terhadap Bujang Nadi dan Dare Nandung dilakukan terus siang dan malam, tanpa henti-hentinya. Segala pelosok dikepung pengawal-pengawal dipaksa terus supaya jangan beristirahat sebelum menemukan sasaran. Tindakannya ini membuat pengawal dan pembesar istana menaruh dendam terpendam yang pada suatu waktu nanti akan terbalas. Akhirnya sasaran yang dicari, dapat diketemukan disebuah bukit di dalam sebuah lobang/gua berlapis batu yang sangat dalam. Kebetulan pada waktu itu Bujang Nadi dan Dare Nandung sama-sama berikrar dan berjanji sebagai berikut:

Berkata Bujang Nadi, "Seandainya wajah wanita tidak secantik adik, aku tidak akan kawin. Aku tidak akan kawin dengan orang lain, kalau tidak dengan adik." Berkata Dare Nandung. "Akupun demikian juga, seandainya tidak ada pemuda yang setampan abang, aku tidak akan kawin. Aku tidak akan kawin kalau tidak dengan abang."

Perkataan kedua insan itu terdengar oleh seseorang pengawal yang sedang mencari dan kebetulan memang iri hati kepadanya sehingga langsung dilaporkannya kepada Tan Unggal. Bukan main marahnya Tan Unggal mendengar hal ini, dan ia meyakinkan dengan pasti bahwa Bujang Nadi dan Dare Nandung telah berbuat serong dan keduanya harus dijatuhi hukuman yang setimpal. Untuk itu Tan Unggal memerintahkan agar pembantu-pembantunya menguburkan hidup-hidup Bujang Nadi dan Dare Nandung dalam satu lobang. Keputusan ini harus dilaksanakan segera, walaupun kedua insan itu adalah anaknya sendiri. Sebelum dikuburkan, Bujang Nadi dibekalinya seekor ayam jantan, sedangkan Dare Nandung dibekalinya alat untuk menenun kain. Kemudian keduanya dimasukkan ke dalamn kurungan emas, lalu ditanam hidup-hidup di dalam tanah. Kuburannya sampai sekarang masih ada di Sebedang (ada juga yang mengatakan di daerah Tebas). Yang pasti kuburannya berada di daerah Kabupaten Sambas.

Empat puluh hari (ada yang menyebutkan 7 hari) setelah dikuburkan orang masih mendengar kokok ayam dan bunyi orang menenun kain dari dalam kuburannya. Untuk membalas dendam terpendam, para pembesar mencari akal untuk menyingkirkan Tan Unggal. Para pembesar istana mengabarkan kepada Tan Unggal bahwa negerinya Tan Unggal menyuruh mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi kemungkinan itu. Tan Unggal mengajak pembesar-pembesarnya untuk meninggalkan istana saja, untuk mengungsi ke daerah yang aman. Atas permintaan pembesar-pembesar itu, demi keselamatan Tan Unggal, maka rajanya disuruh masuk saja ke dalam sebuah peti besi, biarlah pembesar-pembesar itu nanti yang membawanya berlayar, mencari daerah yang aman. Permintaan ini diterima langsung tanpa dipikirkan lagi oleh Tan Unggal karena ia sendiri merasa cemas dan gelisah. Sampai di muara Kota Bangun peti besi yang berisi Tan Unggal itupun dilemparkan ke laut oleh pembesar-pembesarnya. Peti itu terus tenggelam ditelan lautan dan air disekitarnya bergelombang hebat dan berputar-putar dengan putaran yang mengerikan. Demikianlah kisah rakyat tentang Tang Unggal yang sangat kejam itu, akhirnya ia sendiri mati tertipu dengan kekejaman juga seperti apa yang telah dilakukannya terhadap makhluk lain.

Menurut ceritanya, kuburan Dare Nandung dan Bujang Nadi pernah akan digali dimasa pemerintahan Jepang. Usaha ini gagal karena baru 1 (satu) meter menggali petir, guntur dan angin ribut yang sangat hebat turun dengan seketika. Disitu memang pernah diketemukan tali sabut yang besar yang diduga adalah tali bekas mengulurkan peti Bujang Nadi dan Dare Nandung waktu mereka di tanam. Begitu juga pada tahun 1963, pernah juga akan dicoba penggaliannya hasilnya sia-sia belaka, karena selalu menghadapi rintangan-rintangan yang hebat dari alam. Sampai sekarang ini masyarakat Kabupaten Sambas masih meyakinkan bahwa kuburan Dare nandung dan Bujang Nadi terdapat di sekitar sebedang dan air yang berputar-putar di muara Kota Bangun adalah bekas tenggelamnya Tan Unggal. Akan tetapi kesemuanya itu masih merupakan tanda tanya dan masih diragukan kebenarannya, karena sampai sekarang ini satu orangpun belum dapat membuktikannya dengan pasti.

Sumber : Bunga Rampai Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Barat
 

Belum ada Komentar untuk "Cerita Tan Unggal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel