Anak-Anak Hijau, Cerita Rakyat Suffolk, Inggris

Alkisah Rakyat ~ Saint Martin, sebuah negeri yang tidak memiliki matahari. Penduduknya berkulit hijau, karena kurang mendapat cahaya. Jika ingin bertandang ke Saint Martin, siapkan bekal yang banyak. Letak negeri itu begitu jauh dari permukaan bumi.

Di Saint Martin, hiduplah seorang penggembala bersama dua anaknya. Penggembala sering meminta putra-putrinya tu untuk menjaga ternak mereka. Ternak-ternak biasanya dibawa ke padang rumput agar bisa makan sampai kenyang. Setelah itu, semua dibawah ke sungai untuk minum. Sebelum pulang, si penggembala kecil beristirahat di depan sebuah gua dekat sungai. Lelah juga rasanya menggembala ternak.

Baru saja merebahkan diri, tiba-tiba terdengar suara lonceng dari dalam gua. Jauh di dalam gua sana.

"Kak, ayo kita cari sumber suara lonceng itu," ajak Sang Adik.

"Ayo, tapi jangan lama-lama. Nanti Ayah bisa marah."

Keduanya lalu menyusuri gua. Ternyata gua itu sangat gelap dan malam. Celaka, bagaimana menemukan jalan pulang? Tidak ada jalan lain kecuali mencari sumber suara lonceng.

Setelah lama berjalan, mereka melihat cahaya. ketika cahaya itu didekati, keduanya langsung takjub. Di hadapan mereka terhampar hutan lebat dengan terpaan sinar matahari yang hangat. Di situ juga terlihat beberapa orang sedang mencari kayu bakar. Orang-orang itu langsung menghentikan pekerjaannya ketika melihat dua sosok kecil berkulit hijau.

"Aku lihat kalian baru saja keluar dari 'Lubang Serigala'. Gua yang paling ditakuti oleh penduduk Desa Woolpit. Siapa kalian? Mengapa kulit kalian berwarna hijau?" tanya seorang penduduk.


Kakak-beradik itu hanya bisa terdiam ketakutan. Penduduk desa merasa kasihan melihat wajah takut dan bingung anak-anak hijau. Mereka lalu membawa keduanya ke rumah Tuan Richard. Seorang bangsawan yang baik hati. Sepanjang perjalanan ke rumah Tuan Richard, semua orang keluar dari rumah. Berita tentang kehadiran anak-anak berkulit hijau dan berbicara dengan bahasa asing, telah menyebar cepat. Desa Woolpit yang tadinya tenang seketika heboh.

"Selamat datang di Desa Woolpit," sapa Tuan Richard begitu kakak-beradik dari Saint Martin itu tiba.

Keduanya lagi-lag hanya bisa terdiam. Tuan Richard tampak kebingungan.

"Ah, kalian lapar?" tanyanya.

Tanpa menunggu jawaban dari tamu kecilnya, Tuan Richard menyuruh pelayannya untuk menyiapkan makanan.

Begitu makanan tersaji begitu banyak, wajah Tuan Richard kembali terlihat bingung. Dari semua makanan yang ia suguhkan, hanya kacang polong yang dimakan tamunya. Tapi, tuan itu selalu tersenyum. Ia lalu menyuruh tamu-tamu kecilnya beristirahat. Di hari-hari berikutnya, Tuan Richard bahkan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri.

Seiring dengan waktu pula, kulit hijau kakak-beradik dari Saint Martin itu mulai memudar. Tapi, malang bagi Sang Adik. Ia meninggal karena sakit. Sendiri di tempat asing, akhirnya membuat Sang Kakak mulai beradaptasi. Ia belajar berbahasa Inggris. Ia bahkan menikah dengan bangsawan setempat, dan hidup bahagia.
Pesan Moral :
Menolong orang bisa dilakukan dari hal-hal yang kecil. Meski kecil, bisa jadi besar artinya bagi yang membutuhkan.
Sumber : Google

Belum ada Komentar untuk "Anak-Anak Hijau, Cerita Rakyat Suffolk, Inggris"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel