Cerita Rakyat Cindelaras, Jawa Timur

Cerita Rakyat Cindelaras, Jawa Timur
Cindelaras adalah sebuah cerita rakyat yang berasal dari Provinsi Jawa Timur

Secara singkat, Cindelaras adalah seorang pemuda tampan yang lahir dan dibesarkan oleh ibunya di tengah hutan. 

Sebenarnya Cindelaras adalah putra dari Raden Putra, seorang raja kerajaan Jenggala.

Ibunya mendapatkan fitnah dari selir sehingga harus terusir dari istana.

Beruntung, Cindelaras memiliki seekor ayam jantan petarung yang tak terkalahkan.

Melalui ayam jantannya itulah, ia dapat bertemu kembali dengan ayahnya, Raden Putra, raja kerajaan Jenggala. 

Nama Tokoh dalam Cerita Cindelaras

Sebelum mengetahui jalan ceritanya, berikut ini nama-nama tokoh dalam cerita Cindelaras.
  1. Cindelaras memiliki sifat baik, cerdas dan pantang menyerah.
  2. Raden Putra raja kerajaan Jenggala yang memiliki sifat baik, tegas tetapi mudah dibodohi.
  3. Permaisuri memiliki sifat baik hati, cerdas, dan penyabar
  4. Selir memiliki sifat tidak puas dengan kekdudukannya, selalu iri pada permaisuri dan pendengki
  5. Tabib Istana memiliki sifat cinta duniawi, memfitnah permaisuri demi imbalan harta.
  6. Patih Kerajaan Jenggala memiliki sifat baik hati, bijaksana dan cerdik.
  7. Ayam Jantan milik Cindelaras memiliki sifat tangguh dan pemberani.

Ringkasan Cerita Cindelaras

Berikut ini adalah ringkasan cerita atau rangkuman dari cerita rakyat Cindelaras.

Cindelaras adalah seorang anak laki-laki yang lahir dan dibesarkan di Hutan oleh Ibunya. 

Sebenarnya Ibu Cindelaras adalah seorang Permaisuri yang di usir karena difitnah telah meracuni Selir Kerajaan Jenggala.

Selir bekerjasama dengan tabib istana untuk memfitnah permaisuri.

Oleh karena itu, Cindelaras kemudian pergi ke kerajaan Jenggala, dengan maksud untuk menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Ayahnya, Raden Putra, raja kerajaan Jenggala.

Di kerajaan Jenggala, ayam jago Cindelaras banyak memenangkan pertandingan sabung ayam yang membuat Raden Putra penasaran ingin mengadu ayam jago Cindelaras dengan ayam jago miliknya.

Cindelaras setuju mengadu ayam jagonya dengan ayam jago Raden Putra dengan syarat, jika kalah dia bersedia dipancung, dan jika menang dia minta setengah kekayaan Raden Putra. 

Cindelaras berhasil memenangkan pertandingan adu ayam.

Cindelaras kemudian menyampaikan kepada Raden Putra mengenai fitnah selir dan tabib istana kepada ibunya.

Patih kerajaan membenarkan pernyataan Cindelaras.

Raden Putra terkejut dan sangat marah kepada selir dan tabib istana.

Akhirnya, Selir dan tabib di beri hukuman oleh Raden Putra dengan cara diasingkan. 

Raja segera memerintahkan prajuritnya untuk menjemput Permaisuri di Hutan.

Sang Permaisuri dan anaknya Cindelaras, akhirnya hidup berbahagia di istana Kerajaan Jenggala. 

Masih ingin mengetahui kisah lengkap Cindelaras? Lanjutkan membaca!

Fitnah Selir Pada Permaisuri

Alkisah, Raja Kerajaan Jenggala yang bernama Raden Putra, mempunyai dua orang istri cantik jelita. 

Istri pertama adalah Sang Permaisuri yang berhati baik, sedangkan istri kedua Raja Jenggala adalah Sang Selir yang sayangnya ia memiliki sifat iri dan dengki. 

Sang Selir selalu iri pada Sang Permaisuri. 

Selir raja tidak puas dengan kedudukannya saat ini. 

Apalagi dari seorang tabib ia mendapat kabar bahwa permaisuri kini tengah mengandung, yang tentu saja kelak akan menjadi putra mahkota kerajaan Jenggala. 

Ia takut kalau posisinya di mata Raden Putra akan tersisih. 

Ia memiliki rencana jahat untuk menyingkirkan Sang Permaisuri dari istana agar perhatian Raden Putra hanya tercurah padanya.

“Akulah yang seharusnya menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri dari istana.” pikir sang selir.

Diam-diam selir raja menyusun sebuah rencana jahat. 

Dalam menjalankan aksinya, Sang Selir bekerja sama dengan seorang tabib. 

Jika rencananya berhasil, maka si tabib dijanjikan akan diberi hadiah istimewa. 

Sang Selir kemudian berpura-pura sakit. 

Ketika Raden Putra bertanya pada tabib perihal sakit sang selir, si tabib membuat pernyataan palsu bahwa Sang Selir telah diracun oleh  Permaisuri.

“Wahai tabib, sakit apa yang diderita oleh istriku?” tanya Raden Putra kepada tabib.

“Ampun Paduka. Beliau sakit karena memakan makanan yang mengandung racun.” jawab tabib.

“Kurang ajar! Siapa yang berani meracun selir wahai tabib? Tahukah Engkau siapa pelakunya?” tanya Raden Putra.

“Ampun Paduka. Hamba tidak bermaksud lancang. Permaisurilah yang telah meracun selir.” tabib membuat kesaksian palsu.

Raden Putra hampir tidak percaya mendengar perkataan tabib bahwa Sang Permaisuri telah bertindak jahat meracuni Sang Selir. 

Akhirnya Raden Putra memerintahkan patihnya untuk membuang Sang Permaisuri ke hutan. 

Tidak cukup hanya mengusir, Raja juga memerintahkan untuk membunuhnya setelah sampai di hutan. 

“Hai Patih! Permaisuriku telah berbuat jahat dengan meracuni selir. Bawalah permaisuri ke hutan. Jika telah sampai di hutan, maka bunuhlah ia.”

“Baik Paduka. Hamba laksanakan.” jawab Patih.

Permaisuri Diasingkan Ke Hutan Rimba

Patih berfikir bahwa tidak mungkin wanita seagung permaisuri melakukan kekejian untuk meracun selir. 

Justru patih curiga bahwa sang selir telah memfitnah permaisuri untuk menyingkirkannya dari istana. 

Patih Kerajaan Jenggala merasa Sang Permaisuri tidak bersalah namun mau tidak mau ia harus menuruti perintah Raden Putra. 

Segera Sang Patih membawa Sang Permaisuri untuk diasingkan di hutan.

“Maaf Gusti. Hamba tahu Gusti tidak bersalah. Tapi hamba harus melaksanakan titah Paduka Raja.” kata sang Patih.

“Lakukan saja tugasmu wahai Patih! Aku rela menerima hukuman ini.” jawab permaisuri.

Setibanya di hutan, Sang patih tidak membunuh Permaisuri, malahan ia membuatkan sebuah rumah untuk tempat tinggal bagi permaisuri. 

Sang Patih juga mencarikan makanan yang cukup untuk beberapa hari sementara permaisuri belum mengenal hutan itu. 

Permaisuri sangat berterima kasih kepada patih.

Untuk mengelabui titah raja, Sang Patih menangkap seekor kelinci, kemudian disembelihnya kelinci tersebut. 

Kemudian ia mengusapkan darah kelinci pada keris pusakanya sebagai bukti pada Raja Jenggala bahwa ia telah membunuh Permaisuri.

“Hamba tinggalkan Gusti di tengah hutan. Hamba akan mengaku kepada raja bahwa hamba telah membunuh Gusti. Keris berlumur darah ini sebagai buktinya.” kata sang Patih.

“Terima kasih Paman Patih atas bantuanmu. Aku tidak akan melupakan kebaikan Paman Patih.” kata Permaisuri pada Patih Kerajaan.

Sepeninggal Patih Kerajaan, Sang Permaisuri tinggal sendiri di tengah hutan. 

Saat itu Permaisuri dalam keadaan tengah mengandung. 

Hari demi hari dilalui oleh permaisuri dengan berat di hutan. 

Dalam keadaan hamil, ia harus mencari makan dan melindungi diri dari berbagai ancaman binatang buas.

Kelahiran Cindelaras

Seiring berjalannya waktu, akhirnya Sang Permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki tampan. 

Ia memberinya nama Cindelaras. 

Dengan penuh kasih sayang, sang permaisuri merawat Cindelaras sehingga menjadi anak yang cerdas dan tangkas.

Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak laki-laki tampan lagi tangkas. 

Sejak kecil ia telah terbiasa bergaul bersama hewan-hewan di hutan. 

Hewan-hewan tersebut menjadi dekat dan menurut pada perintahnya.

Cindelaras sangat menyayangi ibunya. 

Setiap hari ia mencari makan di hutan untuk menghidupi dirinya dan ibunya. 

Namun Cindelaras tidak habis pikir kenapa seorang wanita seperti ibunya tinggal di tengah hutan tanpa kerabat dan keluarga. 

Dan ada satu hal lagi yang sangat mengganjal pikirannya, siapakah ayahnya?


Ayam Cindelaras

Pada suatu hari, seekor burung rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam didekat Cindelaras. 

Telur tersebut kemudian diambil oleh Cindelaras. 

Ia mengeramkannya pada seekor ayam hutan betina sahabatnya. Tiga hari kemudian, telur menetas.

Cindelaras merawat ayam tersebut baik-baik hingga tumbuh menjadi seekor ayam jago kuat lagi kekar. 

Paruhnya runcing dan kokoh. 

Kedua kakinya terlihat kekar dengan kuku-kuku runcing tajam. 

Ada satu hal aneh dari ayam jago milik Cindelaras adalah suara kokoknya. “Kukuruyuuuuk....Tuanku bernama Cindelaras, rumahnya di tengah hutan rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya adalah Raden Putra.”

Cindelaras merasa heran mendengar suara kokok ayamnya. 

Ia tahu betul bagaimana cara berkokok seekor ayam jantan. 

Tidak ada ayam yang bisa berbicara seperti ayam miliknya tersebut. 

Cindelaras yakin ayamnya bukanlah ayam sembarangan. 

Dan kata-kata ayam jagonya itu seakan menjawab sebuah pertanyaan besar yang selama ini mengganjal hatinya, siapakah ayahnya? Benarkah ayahnya bernama Raden Putra?

Ia kemudian menanyakan perihal kokok ayam tersebut pada ibunya. 

Ibu Cindelaras kemudian menceritakan kejadian yang menimpa mereka. 

Sang Permaisuri mengatakan bahwa Cindelaras adalah anak Raden Putra, Raja Kerajaan Jenggala. 

Ibunya juga menceritakan bahwa ia terusir ke tengah hutan karena mendapat fitnah dari Selir Raden Putra.

“Cindelaras anakku. Ayahmu adalah Raden Putra, raja Kerajaan Jenggala. Ibu mendapat fitnah dari selir, sehingga ibu harus diasingkan ke hutan.” kata permaisuri.

Cindelaras Pergi Ke Istana Kerajaan Jenggala

Setelah mengetahui asal-usul dirinya, Cindelaras lantas meminta izin ibunya untuk pergi ke istana. 

Ia ingin membersihkan nama ibunya dari fitnah Selir Ayahnya. 

Ia membawa serta ayam jago miliknya. “Ibu, Cindelaras minta izin untuk pergi ke istana kerajaan Jenggala. Cindelaras ingin membersihkan nama baik ibu dari fitnah selir.” kata Cindelaras.

“Baiklah. Hati-hatilah Nak dalam setiap langkahmu. Ibu doakan agar Engkau selalu mendapatkan keberuntungan dalam perjalanan menuju istana kerajaan Jenggala.” kata permaisuri.

Di tengah perjalanan menuju istana Kerajaan Jenggala, Cindelaras bertemu beberapa orang tengah mengadu ayam. 

Melihat Cindelaras membawa seekor ayam jago, mereka menantangnya untuk mengadu ayam. 

Namun Cindelaras menolaknya karena tidak memiliki taruhan.

“Hai anak muda. Sepertinya Engkau memiliki ayam jago yang tangguh. Mari kita mengadu ayam.” kata seorang pengadu ayam.

“Ah tidak. Bagaimana aku bisa mengadu ayam jagoku melawan ayam kalian, sementara aku tidak memiliki taruhan.” Cindelaras menolak ajakan mereka karena tidak mau berjudi dan juga tidak ingin ayamnya terluka.

“Kalo begitu, taruhannya adalah dirimu sendiri. Jika engkau kalah, engkau harus bekerja padaku. Tapi jika engkau menang, aku akan memberimu banyak harta. Bagaimana setuju?” kata si pengadu ayam.

Sebenarnya Cindelaras ragu-ragu untuk mengadu ayam jagonya. 

Tapi ayam jago miliknya meronta-ronta, terlihat seperti memintanya untuk menerima tantangan tersebut. 

Akhirnya Cindelaras bersedia menerima tantangan para pengadu ayam. “Baiklah, Aku menerima tantangan kalian.”

Ketika ayam jago miliknya diadu melawan ayam lain, hanya dalam beberapa gebrak saja ayam jago milik Cindelaras dapat mengalahkan musuhnya. 

Satu-persatu ayam milik para pengadu dapat dengan mudah dikalahkan oleh ayam jago Cindelaras. 

Hasilnya, Cindelaras mendapat banyak uang dari adu ayam. 

Sudah tidak terhitung berapa banyak uang dan perhiasan yang diperoleh Cindelaras dari adu ayam yang diikutinya.

Dalam waktu singkat, kehebatan ayam jago Cindelaras tersebar ke seantero negeri. 

Sejumlah penyabung ayam berpendapat hanya ayam milik Prabu Raden Putra saja yang mampu menandingi ayam Cindelaras.

Kabar ayam Cindelaras akhirnya sampai juga ke telinga Raden Putra. 

Sang raja Jenggala merasa penasaran dengan Cindelaras dan ayam jantannya. 

Raden Putra ingin mengadu ayam miliknya melawan ayam jago Cindelaras. 

Ia kemudian memerintahkan prajuritnya untuk mencari Cindelaras beserta ayam jagonya dan membawanya ke istana untuk pertarungan adu ayam.

“Hai para prajurit! Aku dengar ada seorang anak muda yang memiliki ayam jago yang tangguh. Panggilah anak itu kemari. Aku ingin mengadu ayam jagoku dengan ayamnya.” kata Raden Putra.

Singkat cerita, Cindelaras berhasil ditemukan oleh para prajurit kerajaan. Para prajurit membawanya ke istana Kerajaan Jenggala untuk bertemu Raja Jenggala.

“Engkaukah yang bernama Cindelaras pemilik ayam jago tangguh? Maukah engkau mengadu ayam milikmu melawan ayam jago milikku?” tanya Raden Putra.

“Hamba bersedia Gusti Prabu.” kata Cindelaras. Ia mengetahui bahwa Raja Jenggala di hadapannya adalah ayahnya.

“Kalo begitu apa taruhanmu?' tanya Raden Putra.

“Taruhannya, jika ayam jago hamba kalah, hamba serahkan nyawa hamba pada Gusti Prabu. Tapi jika ayam jago hamba menang, hamba meminta separuh wilayah Kerajaan Jenggala. Hamba harap Gusti Prabu tidak tersinggung dengan tawaran taruhan hamba.” ujar Cindelaras.

“Baik. Mari kita mulai duel ayam jago kita. Bersiaplah engkau untuk dipenggal oleh algojo kerajaan seusai pertarungan.” kata Raden Putra.

Pihak istana kemudian menyiapkan pertarungan kedua ayam jago tersebut di alun-alun istana. 

Rakyat Jenggala berduyun-duyun ingin menyaksikan pertarungan ayam. 

Tidak sedikit diantara rakyat melakukan taruhan mendukung ayam jago milik Cindelaras atau milik Raden Putra.

Ayam Jago Cindelaras Mengalahkan Ayam Jago Raden Putra

Tibalah kedua ayam jago tersebut saling dihadapkan di alun-alun istana. 

Ayam jago milik Cindelaras terlihat kalah besar jika dibandingkan dengan ayam jago milik Raden Putra. 

amun ayam jago Cindelaras nampak tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. 

Dimulailah pertarungan kedua ayam dengan diiringi sorak-sorai rakyat yang menonton.

Meski bertubuh lebih kecil, ayam jago milik Cindelaras nampak sangat tangguh. 

Ayam tersebut mampu membuat ayam jago milik Raden Putra kepayahan. 

Patukan paruh juga tendangan kakinya sangat kuat dan bertenaga. 

Berkali-kali ayam jago miliki Raden Putra jatuh terpental. 

Serangan-serangan balasan dari ayam jago Raden Putra begitu mudahnya ditangkis.

Melihat kenyataan ini, Raden Putra mulai cemas. 

Ia khawatir ayam jago miliknya akan kalah. 

Tentunya Ia khawatir akan kehilangan separuh wilayah kekuasaannya. 

Kekhawatiran Raden Putra akhirnya menjadi kenyataaan. 

Tidak lama kemudian ayam jago miliknya berkaok-kaok kemudian lari meninggalkan arena pertarungan. 

Nampaknya ia sudah tidak sanggup melawan ketangguhan ayam jago milik cindelaras. 

Para penonton yang mendukung ayam Cindelaras bersorak-sorai gembira.

Raden Putra merasa terkejut hingga lemas tubuhnya. 

Walaupun masih belum bisa menerima kekalahannya ayam jagonya, namun ia sebagai Raja Jenggala harus menjaga kehormatannya. 

Ia harus menepati janjinya. Sang Raja harus rela menyerahkan separuh wilayah kekuasaan Kerajaan Jenggala pada Cindelaras.

Setelah selesai bertarung, mendadak ayam jago Cindelaras berkokok. “Kukuruyuk....Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah hutan rimba, atapnya daun kelapa, ayahandanya adalah Raden Putra...”.

Raden Putra keheranan dengan ayam jago Cindelaras. “Cindelaras, benarkah apa yang dikatakan ayam jago milikmu itu?” Tanya Raden Putra.

“Benar paduka. Menurut ibu hamba yang sekarang berada di hutan rimba, Hamba adalah anak Gusti Prabu. Ibu hamba adalah Permaisuri Paduka yang diasingkan ke hutan saat tengah mengandung. Beliau difitnah oleh Selir. Percayalah Gusti Prabu, Ibu Hamba tidak bersalah.” kata Cindelaras.

Melihat kejadian tersebut Sang Patih Kerajaan segera menghadap Raden Putra. 

“Ampun Gusti Prabu. Hamba tidak melaksanakan titah Gusti Prabu untuk membunuh Sang Permaisuri. Karena hamba tahu Sang Permaisuri hanyalah korban fitnah Sang Selir. Ia bekerja sama dengan seorang tabib untuk menyingkirkan permaisuri dari istana, dan pemuda bernama Cindelaras ini adalah benar anak Gusti Prabu.” kata Sang Patih Kerajaan.

Sang Permaisuri Kembali Ke Istana Kerajaan Jenggala

Mendengar pengakuan Cindelaras dan penjelasan Patih kerajaan, Raden Putra menjadi sangat marah. Ia segera memangil Sang Selir dan tabib.

“Wahai istriku dan tabib. Benarkah kalian berdua telah bersekongkol untuk memfitnah permaisuri?”

Di hadapan Raden Putra, akhirnya mereka mengakui perbuatan jahat mereka. 

Keduanya memohon ampun pada Sang Raja Jenggala. 

Raden Putra tidak dapat memaafkan mereka berdua. 

Raja Jenggala segera menjatuhi hukuman mati bagi si tabib, sementara Sang Selir dijatuhi hukuman dengan diasingkan ke hutan rimba. 

Akhirnya terbongkarlah kejahatan Sang Selir dan tabib.

Raden Putra segera memerintahkan para prajuritnya untuk menjemput Sang Permaisuri di hutan pengasingan. 

Sang Permaisuri dan anaknya Cindelaras, kini hidup berbahagia di istana Kerajaan Jenggala. 

Kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan.


Pengarang Cerita Cindelaras

Siapa pengarang cerita Cindelaras?

Cerita tentang Cindelaras berkembang di tengah masyarakat Jawa Timur. 

Disampaikan secara lisan, turun-temurun, bersifat tradisional, memiliki banyak versi, dan tidak diketahui siapa yang pertama kali membuatnya.

Sekilas Mengenai Kerajaan Jenggala

Berdasarkan catatan sejarah, kerajaan Jenggala adalah sebuah kerajaan yang berdiri sekitar tahun 1042, dan berakhir sekitar tahun 1130-an. 

Diperkirakan lokasi pusat kerajaan ini sekarang berada di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. 

Pusat pemerintahan kerajaan Jenggala terletak di Kahuripan. 

Nama Jenggala sendiri diperkirakan berasal kata "Hujung Galuh". 

Hujung Galuh terletak di daerah muara sungai Brantas yang diperkirakan kini menjadi bagian kota Surabaya.

Beberapa orang raja yang diketahui memerintah Jenggala antara lain:
  • Mapanji Garasakan, tahun 1044.
  • Alanjung Ahyes, tahun 1052.
  • Samarotsaha, tahun 1059.
Adanya Kerajaan Jenggala/Janggala muncul dalam naskah-naskah sastra yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, misalnya Babad Tanah Jawi dan Serat Pranitiradya.

Keberadaan kerajaan Jenggala tidak bisa lepas dari kerajaan Kahuripan yang didirikan oleh Airlangga setelah keruntuhan kerajaan Medang Mataram. 

Ia memiliki gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa. 

Nama Airlangga sangat terkenal dalam berbagai cerita rakyat Indonesia. 

Ayah Airlangga bernama Udayana, seorang raja Kerajaan Bedahulu (Bali) dari Wangsa Warmadewa. 

Sedangkan Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah. 

Jadi Airlangga masih keturunan kerajaan Medang (Wangsa Isyana). 

Ia memerintah kerajaan Kahuripan yang berpusat di kota Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan (selanjutnya pindah ke kota Kahuripan, lalu pindah lagi ke kota Daha) dari tahun 1009 hingga 1042. 

Menurut prasasti Terep, kota Kahuripan didirikan oleh Airlangga tahun 1032.

Pada tahun 1042 Airlangga melepaskan jabatan raja dan memilih hidup menjadi seorang pendeta dengan gelar kependetaan Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana. 

Namun putri mahkota Airlangga yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi, menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa. 

Maka timbullah perebutan kekuasaan antara kedua putra Airlangga yang lain, yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.

Airlangga lalu memutuskan untuk membagi kerajaan Kahuripan menjadi dua kerajaan. 

Maka terbentuklah dua kerajaan baru. 

Kerajaan di sebelah barat disebut Kadiri dan berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. 

Sedangkan kerajaan di sebelah timur disebut Jenggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan. 

Meski demikian, kedua putranya tetap saja melakukan perang saudara untuk saling menguasai. Baca juga Cindelaras dalam Bahasa Inggris.

Referensi:
  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
Baca juga cerita rakyat Jawa Timur lainnya:

      Belum ada Komentar untuk "Cerita Rakyat Cindelaras, Jawa Timur"

      Posting Komentar

      Iklan Atas Artikel

      Iklan Tengah Artikel 1

      Iklan Tengah Artikel 2

      Iklan Bawah Artikel